Make your own free website on Tripod.com

BAMA

 

 

 

M A J A L A H   O N L I N E

Tentang Bama

Perang Troya yang Sebenarnya

 

Begitu terkenalnya legenda perang Troya, hingga tak habis-habisnya menjadi inspirasi film dan novel selama puluhan tahun. Bahkan film Brad Pitt terbaru, Troy,  pun berharap mendulang sukses film pendahulunya. Tetapi benarkah perang seru itu pernah terjadi?

 

Siasat menunggangi atau menyelundup ke daerah lawan sering disebut sebagai siasat kuda Troya. Istilah itu berasal dari kisah peperangan Troya. Kisahnya sendiri berasal dari Epos Yunani kuno, Iliad dan Odyssey. Epos Iliad dan Odyssey adalah puisi panjang gubahan Homer atau Homerus. Penyair buta ini berasal dari kota Chios dan Smyrna di Ionia, sebuah negara kota di Yunani kuno.

Semula Homer dianggap benar-benar menjadi saksi mata peperangan Troya yang terjadi sekitar tahun 1180 SM. Namun belakangan, diketahui bahwa Homer hidup tiga abad setelah peperangan itu. Ia hidup pada sekitar tahun 900 sampai 800 SM. Rupanya kisah itu terus dituturkan dari mulut ke mulut hingga tiga abad kemudian. Homer menggubahnya menjadi puisi yang lembut dan indah. Hebatnya dua epos itu kemudian menjadi sumber inspirasi dalam bidang drama, sastra, agama, pendidikan dan strategi peperangan. Alexander Agung begitu tergila-gila padanya hingga ia selalu meletakkan kedua kitab itu di bawah bantalnya kemanapun dia pergi. Konon, ia pernah bersumpah di reruntuhan makam Achilles, pahlawan Yunani kuno dalam perang Troya. Xerxes, raja dan panglima tertinggi bangsa Persia kuno bahkan pernah mengorbankan 1000 ekor sapi di reruntuhan Troya sebelum menyerang Yunani.

 

Benar-benar ada

            Hingga kini, Iliad dan Odyssey dinggap sebagai puncak kesusasteraan Yunani Kuno. Tapi pertanyaannya adalah, Apakah Troya benar-benar ada? Sebagian besar orang menganggap Troya hanya isapan jempol Homer, tidak lebih dari dongeng pengantar tidur. Untunglah ada beberapa ilmuwan seperti Heinrich Schleimann yang yakin bahwa  babad itu sebenarnya berdasarkan kisah nyata.

Berbekal petunjuk babad Iliad dan Odyssey, Schleimann berhasil menggali reruntuhan kuno di Bali Dagh, Hisarlik di dekat Dardanella, Turki pada tahun 1870. Reruntuhan itu diyakininya sebagai Kota Troya. Tapi bukan hanya satu kota Troya yang ditemukannya, melainkan sekaligus sembilan. Letaknya saling bertumpukkan. Rupanya setiap kota didirikan di atas reruntuhan kota yang lain yang lebih tua umurnya. Di lapisan kota ke-dua, Schleimann menemukan bukti-bukti penyerbuan dan kebakaran. Schleimann semakin yakin bahwa kota di lapisan inilah yang sebenarnya dimaksud sebagai Kota Troya dalam Iliad. Sayangnya bukti terbaru justru menunjukkan bahwa Troya versi Homer sebenarnya Kota Troya yang berada di lapisan ke-tujuh. Kota Troya di lapisan ke-dua ternyata umurnya lebih tua 1300 tahun.

Pada penggalian tahun 1873, Schleimann menemukan seratus buah barang termasuk perhiasan, kalung, anting, pedang dan mangkuk perak dan tembaga. Schleimann menamakannya sebagai harta karun Raja Priam. Priam adalah raja Troya menurut legenda Iliad. Setelah keberhasilannya penemuan Troya, Schleimann meneruskan penggalian di Yunani. Misinya adalah menemukan reruntuhan pasukan penakluk Troya. Pada tahun 1876, ia berhasil menggali benteng kuno Mycenae di dekat dataran Argos. Di sebuah gundukan kecil, Schleimann menemukan kerangka wanita dan pria. Prianya memakai sebuah topeng emas, sedangkan pasangannya memakai perhiasan emas. Di dekat kerangka keduanya, ditemukan senjata yang terbuat dari perunggu. Kuburan kuno itu juga dihiasi lukisan-lukisan yang menggambarkan pertempuran dan perburuan lengkap dengan lukisan pasukan yang membawa senjata dan perisai. Schleimann percaya bahwa kuburan itu berasal dari masa perang Troya. Sayangnya lagi-lagi dugaan Schleimann keliru. Ternyata kuburan kuno itu berasal dari masa 1600-1500 tahun yang lalu, ratusan tahun sebelum perang Troya dimulai.

Bagaimanapun juga Schleimann telah berhasil memotivasi rekan-rekan dan penerusnya untuk menyingkap lebih dalam rahasia perang Troya. Willem Dorpfeld, Carl Blegen dan Manfred Kaorfmann, adalah sebagian ilmuwan yang meneruskan tradisi Schleimann. Pada tahun 1988, Kaorfmann menggali Kota Troya dari lapisan ke-empat. Berbeda dengan Schleimann, obsesi Kaorfmann bukanlah menemukan Troya a la Iliad dan Odysses. Ia hanya ingin mempelajari lebih jauh tentang tradisi Troya sendiri, baik sebelum atau setelah peperangan yang terkenal itu.

 

Dihancurkan musuh

Penggalian lebih teliti di setiap lapisan reruntuhan Troya ternyata menghasilkan banyak kemiripan. Hampir di setiap lapisan ditemukan sisa-sisa kehancuran. Di lapisan ke-enam, para ilmuwan menemukan sisa-sisa gempa bumi. Akibat penemuan itu, sempat terbersit keyakinan bahwa Perang Troya yang dikisahkan Homer bisa saja merupakan perlambang dari gempa. Alasannya, kuda yang menjadi simbol kuda Troya, juga merupakan simbol Poseidon (dewa gempa Yunani Kuno).

Di lapisan ke-tujuh ditemukan bukti-bukti kehancuran akibat peperangan. Tapi yang menjadi misteri, siapa yang menyerang dan menghancurkannya? Lapisan ini diyakini diluluhlantakan pada tahun 1230-1180 SM. Orang-orang Yunani nampaknya sulit dijadikan kambing hitam. Alasannya, saat itu Peloponnese di Yunani sedang hancur atau dihancurkan oleh penyebab yang belum diketahui. Bagaimana mungkin orang-orang Yunani menghancurkan Troya di saat negerinya sendiri dilanda bencana. Tapi mungkin saja Pelopones terlanda gempa saat pasukan Yunani menyerang Troya. Atau daerah ini ditaklukkan musuh saat tentara Yunani sibuk menyerbu Troya. Pengerahan pasukan terus-menerus dalam jumlah besar ke Troya mengakibatkan kevakuman yang mungkin dimanfaatkan oleh musuh-musuh lamanya untuk menghancurkan daratan Yunani.

 

Orang-orang Archaea

            Studi arkheologi sudah membuktikan bahwa Troya memang benar-benar ada. Tapi apakah kisahnya sama persis dengan yang dituturkan dalam Iliad dan Odysses? Sulit memang mengetahui kisah yang sebenarnya. Seperti kebanyakkan epos klasik, Iliad dan Odysses sepertinya adalah kisah pujian kepahlawanan yang dibubuhi dengan berbagai mitos dan dongeng dewa-dewi Yunani Kuno. Nilai sejarahnya sendiri menjadi kabur. Meskipun berdasarkan kisah nyata, nampaknya sulit sekali menelusuri kebenarannya karena rekaman sejarahnya hanya dilakukan secara lisan. Apalagi Homer hanya mendengarnya  dari kisah yang diceritakan oleh orang-orang sebelumnya. Semasa hidupnya, benteng-benteng besar, istana megah, kereta kuda, dan prajurit-prajurit bersenjata dari perunggu dan perisai a la perang Troya, sudah lama hilang.  Kota Troya yang diceritakannya pun telah lama menjadi puing.

            Penduduk Yunani yang manakah yang menyerang Troya? Menurut Homer, para penakluk Troya adalah kaum Archaea. Kaum archaea adalah orang-orang Yunani dari zaman perunggu. Saat itu teknik menempa besi belum lagi ditemukan. Senjata-senjata perangnya dibuat dari perunggu. Senjata-senjata yang mirip dengan yang digunakan dalam perang ini pernah ditemukan oleh Schleimann di Mycenae, Yunani.

Bisa dipastikan bahwa kaum Archaea yang menyerang Troya adalah para pejuang dan perompak dari Yunani Tengah dan Selatan. Orang-orang ini dikenal sebagai prajurit pemberani. Nama Archaea sendiri pernah disebut-sebut dalam hieroglif di kuburan Pharaoh Ramesses III di Medinet Habu, Thebes, Mesir. Orang-orang Archaea menguasai Laut Aegea pada abad ke-13 dan 12 SM. Ketika daratan Yunani menjadi terlalu padat, mereka menyebar ke seluruh Laut Tengah. Namun akhirnya mereka terdesak oleh invasi bangsa-bangsa dari Utara yang lebih maju dengan budaya pembuatan besinya.

            Orang-orang archaea yang menyerang Troya kemungkinan adalah orang-orang dari masa Mycenea (1600-1100 SM). Setelah tahun 1100 SM, kebudayaan dan kota-kotanya dihancurkan oleh para penyerang yang hingga kini masih misterius. Akibatnya Yunani menjadi terisolir. Mereka juga kehilangan budaya berniaga dan tulis menulis hingga tahun 750 SM. Masa-masa itu dikenal sebagai masa kegelapan karena ketiadaan catatan tertulis. Tetapi kisah-kisah kepahlawanan tetap diceritakan melalui puisi-puisi panjang dan legenda. Masa kegelapan berakhir saat Yunani dikuasai orang-orang Doria. Kisah-kisah kepahlawanan yang diceritakan secara lisan, kembali dituliskan. Pada masa itu pulalah, Homer menuliskan epos Iliad dan Odysses.

 

Perebutan Rute Dagang

            Pertempuran yang sebenarnya antara kaum Troya dan Archaea mungkin adalah perebutan pengaruh di Dardanella. Pada masa Yunani kuno, Yunani bukanlah satu negara yang kuat dan solid. Topografinya yang berbukit-bukit menjadikan Yunani menjadi negara-negara kecil (negara kota). Masing-masing dengan raja yang sekaligus menjadi imam agama dan panglima perang. Negara-negara ini hanya bersatu saat memerangi Troya. Pada tahun 1190 SM, gabungan negara-negara  maritim ini  mengirimkan ekspedisi ke Asia Minor (Asia kecil) untuk menguasai rute dagang di Laut Hitam.

Bagaimanapun juga, lokasi Troya memang sangat strategis. Kota itu terletak persis di tengah-tengah persimpangan lalu lintas perdagangan dari Barat ke Timur dan dari Selatan ke Utara. Pada masa kuno, para pelaut manapun yang melalui selat Dardanella menuju Laut Hitam harus menunggu angin baik. Mereka terpaksa menurunkan barang-barangnya ke daratan selama masa penungguan itu. Tempat yang paling tempat untuk menunggu datangnya angin adalah di Port Besik, pelabuhan utama Troya. Karena letaknya yang strategis itulah, Troya selalu menjadi rebutan.

Pertempuran Troya akhirnya menjadi inspirasi cerita-cerita legenda yang dituturkan secara lisan dan dituliskan kembali dalam Iliad dan Odysses. Bedanya, dalam kisah itu, misinya bukan memperebutkan perang dagang, melainkan membebaskan Helen, permaisuri Theseus, yang diculik oleh Paris, putra mahkota Troya. “Homer telah mengubah motif penyerangan itu secara mengagumkan. Homer menggambarkan orang-orang Yunani sebagai orang Arya barbar yang pergi berperang untuk membebaskan seorang wanita!”, ujar H.G. Wells dalam The Outline of History. Rupanya rute dagang memang sama menariknya dan memesonakannya dengan wanita cantik.

 

Tentang Bama

Copyright©2004 Bama Online