Eksposisi Kitab Raja-Raja yang Pertama
oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.
I Raja-raja 11:1-43
‘Kemurtadan’ Salomo
1) Pembicaraan tentang dosa Salomo sudah dimulai pada 1Raja
10:
·
1Raja
10:14-25,27 - ia mengumpulkan emas dan perak.
·
1Raja
10:26,28-29 - ia mengumpulkan banyak kuda dan kereta.
Dan sekarang dalam 1Raja 11,
ia mempunyai banyak istri.
Ay 3: Salomo mempunyai 700
istri dan 300 gundik (semua ini mungkin merupakan bilangan hasil pembulatan).
Ada seorang yang bercerita
kepada temannya tentang Salomo yang mempunyai 700 istri dan 300 gundik. Dan ia
lalu mengatakan bahwa Salomo memberikan istri-istrinya makanan-makanan yang
mewah. Temannya menyela: ‘Aku tidak peduli ia memberi istri-istrinya makanan
apa. Makanan apa yang Salomo sendiri makan?’.
Dari banyaknya istri ini Adam
Clarke sudah mengatakan: bagaimana orang seperti itu bisa saleh? Jaman sekarang
kita tidak menganggap seorang kristen sebagai saleh kalau ia mempunyai istri
kedua. Lalu bagaimana dengan orang yang mempunyai 1000 istri / gundik?
Adam Clarke: “Was it possible that such
a person could have any piety to God, who was absorbed by such a number of
women? We scarcely allow a man to have the fear of God who has a second wife or
mistress; in what state then must the man be who has one thousand of them?” (= ) - hal 426.
Pulpit Commentary:
“The
polygamy was but a part of his worldliness, like chariots, gold, &c.” (= Polygamy hanya
merupakan satu dari keduniawiannya, seperti kereta kuda, emas, dsb.) - hal 220.
Pulpit Commentary juga mengatakan (hal 220) bahwa
istri-istri dari bermacam-macam negara / bangsa itu dimaksudkan untuk membuat
dirinya lebih termasyhur. Jadi disini jelas ada kesombongan.
Adam Clarke: “We may endeavour to excuse
all this by saying, ‘It was a custom in the East to have a multitude of women
...’”
(= Kita bisa berusaha untuk mencari alasan untuk semua ini dengan mengatakan:
‘Itu merupakan kebiasaan / tradisi di Timur untuk mempunyai banyak perempuan) - hal 426.
Clarke juga mengatakan bahwa ada orang yang mengatakan
bahwa di antara para istri itu ada diperistri sebagai tindakan politik,
sehingga hanya statusnya saja sebagai istri, tetapi Salomo tidak pernah
berhubungan sex dengannya.
Bagaimanapun juga, dan apapun alasannya, semua ini
bertentangan dengan Ul 17:14-17 - “‘Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan kepadamu
oleh TUHAN, Allahmu, dan telah mendudukinya dan diam di sana, kemudian engkau
berkata: Aku mau mengangkat raja atasku, seperti segala bangsa yang di
sekelilingku, maka hanyalah raja yang dipilih TUHAN, Allahmu, yang harus
kauangkat atasmu. Dari tengah-tengah saudara-saudaramu haruslah engkau
mengangkat seorang raja atasmu; seorang asing yang bukan saudaramu tidaklah
boleh kauangkat atasmu. Hanya, janganlah ia memelihara banyak kuda dan
janganlah ia mengembalikan bangsa ini ke Mesir untuk mendapat banyak kuda,
sebab TUHAN telah berfirman kepadamu: Janganlah sekali-kali kamu kembali
melalui jalan ini lagi. Juga janganlah ia mempunyai banyak isteri,
supaya hatinya jangan menyimpang; emas dan perakpun janganlah ia kumpulkan
terlalu banyak”.
2) Yang
menjadi tekanan dari dosa Salomo dalam 1Raja 11 ini bukanlah banyak
istri, tetapi ‘banyak istri asing’.
Di atas sudah dikatakan bahwa pernikahan Salomo dengan
para istri asingnya, hanyalah bertujuan politik. Tetapi ay 1,2b mengatakan
bahwa Salomo mencintai para istri tersebut, dan apapun alasannya ia menikahi
para istri asing tersebut, tindakannya itu tetap bertentangan dengan larangan
Tuhan dalam ay 2a: “padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada
orang Israel: ‘Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah
bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada
allah-allah mereka.’”.
Bandingkan dengan:
· Kel 34:12-16 - “Berawas-awaslah, janganlah kauadakan perjanjian dengan penduduk negeri yang kaudatangi itu, supaya jangan mereka menjadi jerat bagimu di tengah-tengahmu. Sebaliknya, mezbah-mezbah mereka haruslah kamu rubuhkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, dan tiang-tiang berhala mereka kamu tebang. Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu. Janganlah engkau sampai mengadakan perjanjian dengan penduduk negeri itu; apabila mereka berzinah dengan mengikuti allah mereka dan mempersembahkan korban kepada allah mereka, maka mereka akan mengundang engkau dan engkau akan ikut makan korban sembelihan mereka. Apabila engkau mengambil anak-anak perempuan mereka menjadi isteri anak-anakmu dan anak-anak perempuan itu akan berzinah dengan mengikuti allah mereka, maka mereka akan membujuk juga anak-anakmu laki-laki untuk berzinah dengan mengikuti allah mereka”.
· Ul 7:1-5 - “Apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau ke dalam negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, dan Ia telah menghalau banyak bangsa dari depanmu, yakni orang Het, orang Girgasi, orang Amori, orang Kanaan, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus, tujuh bangsa, yang lebih banyak dan lebih kuat dari padamu, dan TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka. Janganlah juga engkau kawin-mengawin dengan mereka: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anakmu laki-laki; sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari padaKu, sehingga mereka beribadah kepada allah lain. Maka murka TUHAN akan bangkit terhadap kamu dan Ia akan memunahkan engkau dengan segera. Tetapi beginilah kamu lakukan terhadap mereka: mezbah-mezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis”.
·
2Kor 6:14-18 - “Janganlah kamu merupakan
pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab
persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah
terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara
Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan
orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita
adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam
bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan
menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu. Sebab itu: Keluarlah kamu
dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan
janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan
menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan anak-anakKu
perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.’”.
Matthew Poole: “possibly Solomon might
think himself too wise to be drawn to idolatry by his wives” (= mungkin Salomo mengira
dirinya sendiri terlalu bijaksana untuk ditarik kepada penyembahan berhala oleh
istri-istrinya) - hal 679. Bdk. 1Kor
10:12 - “Sebab
itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan
jatuh!”.
Pulpit Commentary:
“Satan
hath found this bait to take so well that he never changed since he crept into
Paradise” (= Setan mendapati bahwa umpan ini begitu manjur sehingga ia tidak
pernah menggantinya sejak ia masuk ke dalam Taman Firdaus) - hal 221.
3) Mentoleransi
penyembahan berhala oleh para istri asing tersebut di negaranya.
4) Pada
masa tuanya Salomo tertarik kepada penyembahan berhala dari para istri asing
tersebut, dan bahkan ia mendirikan kuil bagi berhala-berhala tersebut.
Ay 3-8: “Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga
ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. Sebab pada
waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada
allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN,
Allahnya, seperti Daud, ayahnya. Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi
orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon, dan
Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan sepenuh hati
mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya. Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit
pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah
timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. Demikian
juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang
mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka”.
Ada beberapa hal yang perlu dibahas tentang hal ini:
a) Dosa
selalu menarik kita makin lama makin dalam!
b) Ia
jatuh pada masa tua.
Pulpit Commentary mengatakan (hal 221) bahwa Salomo mati
pada sekitar 60 tahun (ada yang mengatakan 58), jadi ‘masa tua’ bukan berarti
sangat tua. Mungkin itu terjadi pada usia 50-55 tahun.
Matthew Poole: “as having now reigned nigh
thirty years, when it might have been expected that age should have cooled his
lust, and experience have made him wiser and better, and when probably he was
secure as to any such miscarriages; then God permitted him to fall so
shamefully, that he might be to all succeeding generations an example of God’s
severity, and of the folly, and weakness, and wickedness of the wisest and best
men, when left to themselves” (= setelah memerintah hampir 30 tahun, dimana bisa diharapkan
bahwa usia seharusnya telah mendinginkan nafsunya, dan pengalaman membuatnya
lebih bijaksana dan lebih baik, dan pada saat ia mungkin merasa aman berkenaan
dengan kegagalan apapun; pada saat itulah Allah mengijinkan ia jatuh secara
begitu memalukan, sehingga bagi semua generasi setelahnya ia bisa menjadi
contoh dari kekerasan Allah, dan contoh dari kebodohan, kelemahan, dan
kejahatan dari orang-orang yang paling bijaksana dan yang terbaik, pada saat
mereka dibiarkan pada diri mereka sendiri)
- hal 679.
c) Sampai
sejauh mana kemurtadan / penyembahan berhala yang dilakukan oleh Salomo?
Adam Clarke mengatakan bahwa Salomo betul-betul murtad
sejauh mungkin.
Adam Clarke: “He seems to have gone as
far in iniquity as it was possible” (= Kelihatannya ia telah pergi / berjalan di
dalam dosa sejauh hal itu memungkinkan)
- hal 427.
Clarke juga mengatakan bahwa ada hal-hal yang memperberat
dosa Salomo:
·
Salomo adalah orang yang
diberi kebijaksanaan oleh Tuhan, dan mempunyai banyak pengetahuan. Bdk. Luk
12:47-48.
·
Allah telah 2 x menampakkan
diri kepadanya (ay 9).
·
Allah telah memperingatkan
dia untuk tidak melakukan dosa ini (ay 10
bdk. 9:3-9 3:14).
Adam Clarke: “Solomon deserved more
punishment for his worship of Ashtaroth than any of the Sidonians did, though
they performed precisely the same acts. The Sidonians had never known the true God; Solomon had been fully acquainted
with him” (= Salomo layak mendapat hukuman lebih banyak untuk
penyembahannya terhadap Asytoret dari pada orang-orang Sidon, sekalipun mereka
melakukan hal yang persis sama. Orang-orang Sidon tidak pernah mengenal Allah
yang benar; Salomo telah mengenalNya sepenuhnya) - hal 427.
Tetapi kebanyakan penafsir tidak sependapat dengan Adam
Clarke.
Barnes (hal 178) mengatakan bahwa Salomo tidak pernah
betul-betul murtad.
Poole (hal 679) mengatakan bahwa kemurtadan Salomo bukan
berarti bahwa ia berubah pikiran tentang Allah, tetapi bahwa ia menjadi dingin
/ suam. Juga ia mengijinkan dan bahkan membangun kuil-kuil berhala, dan mungkin
kadang-kadang ikut secara lahiriah dalam upacara-upacara berhala.
Pulpit Commentary:
“The
text does not limit Solomon’s polygamy to the time of old age, but his
idolatrous leanings. I say ‘leanings’ for it is doubtful to what extent
Solomon himself took part in actual idolatry” (= Text ini tidak
membatasi polygamynya Salomo pada masa tuanya, tetapi membatasi kecondongan
penyembahan berhalanya. Saya mengatakan ‘kecondongan’ karena diragukan sampai
sejauh mana Salomo sendiri ikut serta dalam penyembahan berhala yang
sungguh-sungguh) - hal 221.
Alasannya:
1. Tidak
pernah dikatakan Salomo ‘served’ [= melayani / beribadah; Ibrani: dbafA (ABAD)] allah lain, suatu ungkapan / istilah yang selalu
digunakan untuk penyembahan berhala. Bdk. 1Raja 16:31 22:53 2Raja 16:3 dan sebagainya.
2. Kalau
ia memang menyembah berhala, maka dosanya lebih besar dari pada dosa Yerobeam
(12:29). Lalu mengapa selanjutnya bukan dosa Salomo, tetapi dosa Yerobeam, yang
selalu dijadikan patokan dari kejahatan, seperti dalam 1Raja 15:34 16:2,19,26,31 22:53 dan sebagainya?
3. Kata-kata
‘tidak
dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN / mengikuti TUHAN’ (ay 4,6) menunjukkan bahwa Salomo tidak sepenuhnya
meninggalkan Tuhan.
4. Kalau
ia betul-betul murtad, bagaimana mungkin dikemudian hari kehidupannya,
bersama-sama dengan kehidupan Daud, masih tetap dijadikan teladan?
2Taw 11:17 - “Demikianlah mereka memperkokoh kerajaan
Yehuda dan memperkuat pemerintahan Rehabeam bin Salomo selama tiga tahun,
karena selama tiga tahun mereka hidup mengikuti jejak Daud dan Salomo”.
Salomo memang ikut membangun kuil, dan itu jelas salah,
tetapi ia tidak pernah betul-betul ikut menyembah berhala. Perhatikan ay 7-8,
yang menunjukkan bahwa Salomo hanya membangun kuilnya, tetapi para istri asing
itulah yang mempersembahkan korban kepada berhala / dewa mereka.
Pulpit Commentary:
“It was
not actual idolatry. True, Solomon built altars, but he built them for his
wives (vers. 7,8).” [= Itu bukan betul-betul penyembahan berhala. Memang benar
bahwa Salomo membangun altar-altar / mezbah-mezbah, tetapi ia membangun
altar-altar / mezbah-mezbah itu untuk istri-istrinya (ay 7,8)] - hal 223.
Pulpit Commentary:
“the
distinction, so far as the sin is concerned, between this and actual idolatry
is a fine one. It is not implied, however, that Solomon ever discarded the
worship of Jehovah” (= Mengenai dosa yang dipersoalkan, perbedaan antara dosanya
ini dan penyembahan berhala yang sungguh-sungguh, merupakan perbedaan yang
tipis. Tetapi bagaimanapun text itu tidak menunjukkan bahwa Salomo pernah
membuang penyembahan kepada Yehovah) -
hal 222.
d) Problem
ay 33: apakah ayat ini menunjukkan bahwa Salomo betul-betul jatuh ke dalam
penyembahan berhala?
Ay 33 ini adalah ayat satu-satunya yang seolah-olah
menunjukkan bahwa Salomo betul-betul jatuh ke dalam penyembahan berhala secara
pribadi.
Ay 33: “Sebabnya ialah karena ia telah meninggalkan Aku dan
sujud menyembah kepada Asytoret, dewi orang Sidon, kepada Kamos, allah orang
Moab dan kepada Milkom, allah bani Amon, dan ia tidak hidup menurut
jalan yang Kutunjukkan dengan melakukan apa yang benar di mataKu dan dengan
tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturanKu, seperti Daud, ayahnya”.
Tetapi sebetulnya belum tentu, karena ay 33 ini salah
terjemahan. Terjemahan Kitab Suci Indonesia diambil dari LXX / Septuaginta (=
Perjanjian Lama yang sudah diterjemahkan ke bahasa Yunani) yang dalam seluruh
ayat ini menggunakan bentuk tunggal. Bandingkan dengan terjemahan KJV di bawah
ini.
KJV: ‘Because that they have forsaken me, and have
worshipped Ashtoreth the goddess of the Zidonians, Chemosh the god of the
Moabites, and Milcom the god of the children of Ammon, and have not
walked in my ways, to do [that which is] right in mine eyes, and [to keep] my
statutes and my judgments, as [did] David his father’ (= Karena mereka telah meninggalkan Aku, dan
telah menyembah Asytoret dewi orang Sidon, Kamos dewa orang Moab, Milkom dewa
bangsa Amon, dan telah tidak berjalan dalam jalanKu, melakukan apa yang benar
di mataKu, dan memelihara hukum-hukumKu dan penghakimanKu, seperti yang
dilakukan oleh Daud, bapanya).
Jadi KJV menterjemahkan hampir seluruh ayat itu dalam
bentuk jamak, kecuali bagian terakhir dari ayat itu.
Pulpit Commentary:
“But the
plural is to be retained, the import being that Solomon was not alone in his
idolatrous leanings; or it may turn our thoughts to the actual idolaters - his
wives - whose guilt he shared. The singular looks as if an alteration had been
made to bring the words into harmony with the context, and especially with the concluding words of
this verse, ‘David his father.’” (= Tetapi bentuk jamak itu
harus dipertahankan, maksudnya adalah bahwa Salomo tidak sendirian dalam
kecondongannya pada penyembahan berhala; atau itu bisa mengarahkan pikiran kita
kepada penyembah-penyembah berhala yang sesungguhnya - istri-istrinya - dengan
siapa ia ikut bersalah. Bentuk tunggal kelihatannya seakan-akan suatu perubahan
telah dibuat untuk mengharmoniskan kata-kata ini dengan kontext, dan khususnya
dengan kata-kata penutup dari ayat ini, ‘Daud, bapanya’) - hal 236-237.
Saya sendiri beranggapan bahwa kata-kata ‘mereka meninggalkan Aku’ tidak bisa diterapkan kepada istri-istri asing tersebut,
karena mereka belum pernah mengenal / mengikut Tuhan. Jadi itu harus diterapkan
kepada Salomo dan istri-istrinya yang bukan orang asing / penyembah berhala.
Demikian juga dengan kata-kata pada bagian akhir ay 33
itu - ‘telah tidak berjalan dalam jalanKu, melakukan apa
yang benar di mataKu, dan memelihara hukum-hukumKu dan penghakimanKu’. Ini semua hanya berlaku untuk Salomo dan istri-istrinya yang bukan orang asing /
penyembah berhala, dan tidak berlaku untuk istri-istri asing Salomo.
Kalau demikian, maka bisa juga diambil kebalikannya,
yaitu dengan menerapkan kata-kata ‘telah menyembah’ hanya kepada para istri asing
tersebut, dan tidak kepada Salomo.
Salomo memang mungkin sekali ikut
dalam upacara / kebaktian penyembahan berhala itu, tetapi jelas bahwa hatinya
tidak sungguh-sungguh mempercayai berhala-berhala tersebut. Dengan kata lain,
ia hanya ikut secara lahiriah. Bandingkan dengan Naaman dalam 2Raja 5:17-18
yang meminta ijin kepada Elisa untuk ikut sujud menyembah kepada dewa Rimon
(secara lahiriah). Saya berpendapat tindakan itu salah, dan Elisa juga salah
dalam memberikan ijin, tetapi itu tetap bukan merupakan suatu kemurtadan.
Jadi, demikian juga dengan tindakan Salomo. Kalau ia secara lahiriah ikut
menyembah dewa-dewa istri-istrinya, itu jelas merupakan suatu kompromi yang
bersifat dosa, tetapi itu bukan merupakan kemurtadan yang sungguh-sungguh.
e) Kejatuhan
Salomo ini menunjukkan kebenaran dari larangan Tuhan bagi bangsa Israel untuk
menikah dengan bangsa asing yang adalah penyembah berhala.
Pulpit Commentary:
“‘the
defection even of Solomon from God through the influence of his strange wives
is one of the best justifications’ of the commands of Exod. 34:12-16; Deut.
7:2-4, &c.” (= ) - hal 221.
Illustrasi:
tentang keharusan memakai seat / safety belt (= sabuk pengaman), atau helm.
Mungkin ini tidak menyenangkan, tetapi peraturan itu dimaksudkan untuk
menjauhkan kita dari bahaya.
5) Sebagai
hajaran terhadap dosa-dosa ini, Tuhan melakukan beberapa hal:
a) Tuhan
membangkitkan beberapa lawan bagi Salomo (ay 14,23,26).
Ay 14: ‘seorang lawan’. Kata
Ibraninya adalah NFAWA (SATAN), karena
memang kata ‘setan’ artinya adalah ‘adversary’ (= musuh).
Ay 23 menggunakan kata yang sama, dan ay 26,
sekalipun tidak menggunakan kata tersebut, tetapi jelas bahwa maknanya sama.
Jadi ada 3 lawan bagi Salomo.
Bdk. 1Raja 5:4 yang menunjukkan bahwa pada saat
Salomo taat kepada Tuhan, dikatakan bahwa ‘tidak ada lawan’ baginya, dan kerajaannya aman, dan tidak ada malapetaka.
Tetapi awas, jangan hal ini diberlakukan secara umum,
khususnya pada jaman Perjanjian Baru. Perhatikan bahwa Daud, pada saat ia taat
kepada Tuhan, mempunyai banyak lawan. Juga Yesus banyak dimusuhi. Dan Kitab
Suci berkata bahwa seorang murid tidak lebih dari pada gurunya.
b) Tuhan
mengoyakkan kerajaannya menjadi 2, dimana anak Salomo yaitu Rehabeam, hanya
mendapat 1 suku, yaitu Yehuda (ay 11,13,29-32).
Pemberian satu suku kepada anak Salomo, yaitu Rehabeam,
dimaksudkan untuk menjaga jalur Mesias.
Adam Clarke: “The line of the Messiah
must be preserved. The prevailing lion must come out of the tribe of Judah: not
only the tribe must be preserved, but the regal line and the regal right” (= Garis / jalur dari
Mesias harus dijaga. Singa yang menang harus datang dari suku Yehuda: bukan
hanya suku itu yang harus dijaga, tetapi garis dan hak kerajaan dari suku itu) - hal 427.
Tentang ay 13b: ‘oleh karena hambaKu Daud dan oleh karena
Yerusalem yang telah Kupilih’, Clarke
memberikan komentar sebagai berikut:
“As David was a type of the
Messiah, so was Jerusalem a type of the true Church: therefore the old
Jerusalem must be preserved in the hands of the tribe of Judah, till the true
David should establish the New Jerusalem in the same land, and in the same
city”
(= Seperti Daud merupakan type dari Mesias, demikian juga Yerusalem merupakan
type dari Gereja yang benar: karena itu Yerusalem yang lama harus dijaga di
tangan dari suku Yehuda, sampai Daud yang sejati mendirikan Yerusalem yang baru
di negeri yang sama, dan di kota yang sama)
- hal 427.
c) Tidak
ada sukacita dan damai seperti yang terlihat dari kitab Pengkhotbah yang
menyatakan segala sesuatu sebagai sia-sia.
d) Kelihatannya
Salomo dengan 700 istri dan 300 gundik itu hanya mempunyai 1 anak, yaitu
Rehabeam (kecuali kalau anak-anak yang lain tidak diceritakan oleh Kitab Suci).
Kalau ini benar, sukar dibayangkan bahwa ini bukan hukuman / hajaran Tuhan.
Bandingkan dengan Maz 127:3 - “Sesungguhnya, anak-anak
lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu
upah”.
Pulpit Commentary:
“Many a
poor man hath a houseful of children by one wife, whilst this great king hath
but one son by any houseful of wives” (= Banyak orang miskin yang mempunyai anak
serumah penuh dari satu istri, sementara raja yang besar ini mempunyai hanya
satu anak laki-laki dari istri serumah penuh) - hal 238.
Apakah Salomo akhirnya bertobat dari dosa-dosanya ini?
1Raja 11 ini ditutup dengan cerita tentang kematian Salomo, tanpa menceritakan
sedikitpun tentang pertobatannya.
1) Pandangan
Adam Clarke: Salomo tidak pernah bertobat sampai akhir hidupnya, dan ia binasa
dalam dosanya (tidak diselamatkan).
Adam Clarke: “This dismal account has a
more dismal close still; for, in the same place in which we are informed of his
apostasy, we are informed of his death, without the slightest intimation that
he ever repented and turned to God” [= Cerita yang menyedihkan ini mempunyai
penutup yang lebih menyedihkan; karena di tempat yang sama (pasal yang sama) dimana kita diberi
informasi tentang kemurtadannya, kita juga diberi informasi tentang
kematiannya, tanpa petunjuk sedikitpun bahwa ia pernah bertobat dan berbalik
kepada Allah] - hal 433.
Adam Clarke: “It is true that what is
wanting in fact is supplied by conjecture; for it is firmly believed that ‘he
did repent, and wrote the book of Ecclesiastes after his conversion, which is a
decided proof of his repentance.’” (= Memang benar bahwa apa yang dalam faktanya
tidak ada disuplai oleh suatu dugaan; karena dipercaya secara teguh bahwa ‘ia
memang bertobat, dan menuliskan kitab Pengkhotbah setelah pertobatannya, yang
merupakan suatu bukti yang nyata / pasti tentang pertobatannya’) - hal 433.
Adam Clarke: “I am sorry I cannot
strengthen this opinion; of which I find not the shadow of a proof” (= Saya minta maaf bahwa
saya tidak bisa menguatkan pandangan ini; tentang mana saya tidak bisa
menemukan bayangan dari bukti) -
hal 433.
Clarke lalu memberikan beberapa hal untuk menentang
pandangan tersebut:
a) Kitab
Pengkhotbah sekalipun berbicara tentang banyak kesia-siaan tetapi sama sekali
tidak berbicara tentang kesia-siaan dari penyembahan berhala, yang merupakan
dosa / kemurtadan Salomo.
b) Kitab
Pengkhotbah tidak menggunakan kata-kata dari orang yang bertobat dari dosa yang
hebat / kejatuhan yang dalam, karena sama sekali tidak ada pengakuan dosa di
dalamnya dan sama sekali berbeda dengan Maz 51, yang merupakan doa pengakuan
dosa dari Daud.
c) Diragukan
bahwa Salomo menulis kitab Pengkhotbah, karena dalam beberapa bagian terlihat
bahwa itu berasal dari jaman sesudah Salomo (Clarke, hal 434).
d) Terhadap
pandangan yang mengatakan bahwa Salomo merupakan type dari Kristus dan karena
itu ia pasti selamat, Clarke mengatakan:
·
ia tidak menganggap Salomo
sebagai type dari Kristus.
·
seandainya ia memang type
dari Salomo, itu tidak membuktikan pertobatan / keselamatannya, karena ular
tembaga yang jelas merupakan type dari Kristus (Yoh 3:14-15), akhirnya
dihancurkan karena disembah (2Raja 18:4).
Adam Clarke: “Typical persons and
typical things may perish as well as others; the antitype alone will infallibly
remain”
(= Orang-orang atau hal-hal / benda-benda yang merupakan type bisa binasa
seperti yang lain; hanya anti typenya saja yang tertinggal secara mutlak) - hal 434.
Adam Clarke: “there seems every evidence
that he died in his sins. ... there is not a single testimony in the Old or New
Testament that intimates he died in a safe state” (= kelihatannya ada setiap
bukti bahwa ia mati dalam dosa-dosanya. ... tidak ada satupun kesaksian dalam
Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa ia mati dalam
keadaan selamat) - hal 434.
Adam Clarke: “That awful denunciation of
Divine justice stands point blank in the way of all contrary suppositions: ‘If
thou forsake the Lord, he will cast thee off for ever,’ 1Chron. 28:9. He did
forsake the Lord; and he forsook him in his very last days; and there is no
evidence that he ever again clave to him” (= Ancaman yang mengerikan
dari keadilan Ilahi berada secara langsung di jalan dari semua anggapan yang
bertentangan: ‘Jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk
selamanya’, 1Taw 28:9. Ia memang meninggalkan Tuhan; dan Ia meninggalkannya
pada hari-hari terakhirnya; dan tidak ada bukti bahwa ia pernah berpegang
kepadaNya lagi) - hal 434.
1Taw 28:9 (kata-kata Daud) - “Dan engkau, anakku Salomo,
kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepadaNya dengan tulus ikhlas dan
dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat
dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi
jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya”.
Adam Clarke: “Reader, let him that
standeth take heed lest he fall; not only foully but finally. Certainly,
unconditional final perseverance will find little support in the case of
Solomon. He was once most incontrovertibly in grace. He lost that grace and
sinned most grievously against God. He was found in this state in his old age.
He died, as far as the Scripture informs us, without repentance. Even the
doubtfulness in which the bare letter of the Scripture leaves the eternal state
of this man, is a blast of lightning to the syren song of ‘Once in grace, and
still in grace;’ ‘Once a child, and a child for ever.’” (= Pembaca, siapa yang
menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh; bukan
hanya jatuh secara buruk, tetapi jatuh pada akhirnya / sampai akhir. Jelas
bahwa ketekunan akhir yang tidak bersyarat tidak menemukan dukungan dalam kasus
Salomo. Bahwa ia pernah berada dalam kasih karunia merupakan sesuatu yang tidak
dapat dibantah. Ia kehilangan kasih karunia itu dan berdosa secara sangat
menyedihkan terhadap Allah. Ia didapati dalam keadaan ini pada masa tuanya. Ia
mati, sejauh yang Kitab Suci informasikan kepada kita, tanpa pertobatan. Bahkan
keragu-raguan dimana huruf-huruf telanjang dari Kitab Suci menyerahkan keadaan
kekal dari orang ini, merupakan suatu ledakan petir bagi nyanyian ... (?)
‘Sekali dalam kasih karunia, dan tetap dalam kasih karunia’; ‘Sekali seorang
anak, dan seorang anak selama-lamanya’.)
- hal 434.
Alasan lain yang dipakai untuk menunjukkan bahwa Salomo
tidak bertobat adalah: seandainya ia bertobat, ia pasti akan menghancurkan
kuil-kuil yang ia bangun, tetapi kenyataannya semua itu masih ada setelah
kematiannya. 2Raja 23:13 - “Bukit-bukit pengorbanan yang ada di sebelah timur Yerusalem di
sebelah selatan bukit Kebusukan dan yang didirikan oleh Salomo, raja Israel,
untuk Asytoret, dewa kejijikan sembahan orang Sidon, dan untuk Kamos, dewa
kejijikan sembahan Moab, dan untuk Milkom, dewa kekejian sembahan orang Amon, dinajiskan
oleh raja”.
Poole menafsirkan ini bukan sebagai apa yang didirikan
oleh Salomo, karena itu sudah dihancurkan pada saat ia bertobat, tetapi lalu
diatasnya didirikan lagi oleh orang lain, di tempat yang sama, dan untuk
penggunaan yang sama, sehingga disebut dengan nama Salomo.
Matthew Poole: “not the same individual
altars; which doubtless either Solomon upon his repentance, or some other of
Josiah’s godly predecessors, had taken away long before this time; but other
altars built by Manasseh or Amon, which because erected by Solomon’s example,
and for the same use, and in the same place, are called by his name” (= ) - hal 768.
Catatan: Memang di
antara jaman Salomo dan jaman Yosia yang melakukan apa yang tertulis dalam
2Raja 23:13 ini, ada jaman Yehu, yang menghancurkan semua berhala, kecuali
anak lembu yang dibuat oleh Yerobeam (2Raja 10:26-29). Maka adalah aneh kalau
bukit-bukit yang didirikan oleh Salomo belum dihancurkan dan bertahan sampai
jaman Yosia.
2) Penafsir-penafsir
lain kelihatannya tidak ada yang setuju dengan Adam Clarke. Hampir semua
beranggapan bahwa Salomo bertobat dan diselamatkan.
a) Pertama-tama
saya ingin membahas usaha pembunuhan oleh Salomo terhadap Yerobeam
(ay 40). Mengapa ini perlu dibahas? Karena kalau Salomo ingin membunuh
Yerobeam karena nabi Ahia menubuatkan Yerobeam akan mengambil 10 suku dari
anaknya, maka ini menunjukkan bahwa Salomo berkeras dalam dosanya.
Ay 40 - “Lalu Salomo berikhtiar membunuh Yerobeam, tetapi Yerobeam
bangkit dan melarikan diri ke Mesir, kepada Sisak, raja Mesir, dan di Mesirlah
ia tinggal sampai Salomo mati”.
KJV: ‘Solomon sought therefore to kill Jeroboam. And
Jeroboam arose, and fled into Egypt, unto Shishak king of Egypt, and was in
Egypt until the death of Solomon’ (= Karena itu, Salomo
berusaha untuk membunuh Yerobeam. Dan Yerobeam bangkit, dan lari ke Mesir,
kepada Sisak raja Mesir, dan ada di Mesir sampai kematian Salomo).
Adanya kata ‘therefore’ (= karena itu) di sini
menyebabkan orang menganggap bahwa Salomo mau membunuh Yerobeam, karena nubuat
Ahia. Tetapi sebetulnya kata itu tidak ada, dan Salomo mau membunuh Yerobeam
karena pemberontakan Yerobeam dalam ay 26. Pemberontakan Yerobeam jelas
merupakan sesuatu yang salah karena sekalipun Ahia menubuatkan bahwa Yerobeam
akan menjadi raja, tetapi Ahia secara explicit juga mengatakan bahwa Salomo
masih akan bertakhta seumur hidupnya (ay 34).
b) Matthew
Poole menganggap Salomo bertobat dan diselamatkan. Alasannya:
1. Matthew
Poole: “We
read nothing of the repentance of Adam, Noah, after his drunkenness, Lot,
Samson, Asa, &c.; shall we therefore conclude they were all damned? The
silence of the Scripture is a very weak argument in matters of history” (= Kita tidak pernah
membaca tentang pertobatan Adam, Nuh, setelah ia mabuk, Lot, Simson, Asa, dsb;
apakah karena itu kita akan menyimpulkan bahwa mereka semua dihukum? Diamnya
Kitab Suci merupakan suatu argumentasi yang lemah dalam persoalan-persoalan
sejarah) - hal 682.
2. Poole
menambahkan bahwa kalau ia bertobat, dan Kitab Suci tidak menceritakan sehingga
ada keraguan tentang nasib akhirnya, maka itu menjadi sesuatu yang membuat
takut orang-orang kristen sehingga tidak sembarangan berbuat dosa.
3. Bahwa
ia bertobat bisa terlihat secara implicit dari bagian setelah Salomo mati,
dimana jalannya dan jalan Daud digabungkan menjadi satu sebagai teladan.
2Taw 11:17 - “Demikianlah mereka memperkokoh kerajaan Yehuda dan memperkuat
pemerintahan Rehabeam bin Salomo selama tiga tahun, karena selama tiga tahun mereka
hidup mengikuti jejak Daud dan Salomo”.
4. Kitab
Pengkhotbah yang ditulis oleh Salomo setelah pertobatannya, menunjukkan
pertobatan tersebut.
Pulpit Commentary:
“We need
not attempt to solve the purely speculative question as to whether he ever
recovered from his fall; his later writings suggest at least the hope that
it was so” (= Kita tidak perlu mencoba untuk menyelesaikan pertanyaan yang
sepenuhnya bersifat spekulasi berkenaan dengan apakah ia pernah pulih dari
kejatuhannya; tulisan-tulisannya pada masa belakangan sedikitnya menunjukkan
harapan bahwa ia memang pulih / bertobat)
- hal 231.
Keil & Delitzsch:
“Whether
Solomon turned to the Lord again with all his heart, a question widely
discussed by the older commentators ... cannot be ascertained from the
Scriptures. If the Preacher (Koheleth) is traceable to Solomon so far as the
leading thoughts are concerned, we should find in this fact an evidence of his
conversion, or at least a proof that at the close of his life Solomon
discovered the vanity of all earthly possessions and aims, and declared the
fear of God to be the only abiding good, with which a man stand before the
judgment of God” (= ) - hal 182,183.
Catatan: terhadap
point a dan point b dari argumentasi Clarke diatas yang mengatakan bahwa dalam
kitab Pengkhotbah tidak disebutkan tentang kesia-siaan dari penyembahan
berhala, dan juga tidak ada pengakuan dosa / permintaan ampun, saya ingin
mengingatkan saudara akan pertobatan dari penjahat di kayu salib. Bukankah juga
tidak diceritakan bahwa ia mengaku dosa, minta ampun dsb? Tetapi tetap ia
dianggap betul-betul bertobat!
Matthew Poole: “And therefore we have
reason to conclude that Solomon did repent, and was saved” (= Dan karena itu kita mempunyai
alasan untuk menyimpulkan bahwa Salomo memang bertobat, dan diselamatkan) - hal 682.
c) Bagaimana
tentang kata-kata Daud dalam 1Taw 28:9?
1Taw 28:9 - “Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan
beribadahlah kepadaNya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN
menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau
mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau
meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya”.
Mungkin Daud sengaja memperkeras kata-katanya, untuk
membuat Salomo lebih sungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan.
d) Saya
sendiri ingin menambahkan satu hal lagi yang mendukung keselamatan dari Salomo,
yaitu 2Sam 7:12-16 (kata-kata Tuhan melalui nabi Natan kepada Daud) - “Apabila umurmu sudah genap
dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka
Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan
mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi namaKu (ini jelas menunjuk kepada
Salomo) dan
Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi
Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan kesalahan, maka
Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang
diberikan anak-anak manusia. Tetapi kasih setiaKu tidak akan hilang dari
padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari
hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di
hadapanKu, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.’”.
Kata-kata ‘kasih setiaKu’
diterjemahkan berbeda-beda:
KJV: ‘my mercy’ (= belas kasihanKu).
RSV: ‘my steadfast love’ (=
kasih setiaKu).
NIV: ‘my love’ (= kasihKu).
NASB: ‘My lovingkindness’ (=
kebaikan dari kasihKu).
Dalam tafsirannya tentang bagian ini Adam Clarke berkata:
“he shall have affliction,
but his government shall not be utterly subverted. But this has a higher
meaning. ... His house shall be a lasting house, and he shall die in the throne
of Israel, his children succeeding him; and the spiritual seed, Christ,
possessing and ruling in that throne to the end of time. The family of Saul
became totally extinct; the family of David remained till the incarnation” (= ia akan mendapatkan
penderitaan, tetapi pemerintahannya tidak akan ditumbangkan sepenuhnya. Tetapi
bagian ini mempunyai arti yang lebih tinggi. ... Keluarganya akan ada
selama-lamanya, dan ia akan mati di takhta Israel, keturunannya
menggantikannya; dan benih / keturunan rohani, Kristus, memiliki dan memerintah
di takhta itu sampai akhir jaman. Keluarga Saul punah secara total; keluarga
Daud tetap ada sampai inkarnasi) - hal
325.
Saya berpendapat bahwa ia menghindari kata-kata dari text
ini, dan menujukannya hanya untuk keadaan jasmani dari Salomo, dan
menerapkannya secara penuh untuk Yesus Kristus.
Memang dalam text tersebut ada bagian-bagian yang
ditujukan kepada Kristus, tetapi bagian yang saya garis bawahi dari text itu
tidak mungkin ditujukan kepada Kristus, karena berbicara tentang ‘kesalahan’ dan ‘hukuman Tuhan baginya’.
Itu hanya bisa diterapkan / ditujukan kepada Salomo.
Tentang hal ini Clarke (hal 327) mengatakan bahwa
kata-kata ‘to commit iniquity’ (= melakukan kejahatan) bisa
diterjemahkan ‘to suffer for iniquity’ (= menderita untuk kejahatan).
Juga ia berpendapat bahwa kata ‘iniquity’ (= kejahatan) bisa
diterjemahkan ‘punishment’ (= hukuman). Jadi, ia lalu mengubah kata-kata
‘if he commit iniquity’ (= ) menjadi ‘even in his suffering for
iniquity’ (= bahkan dalam penderitaannya untuk kejahatan).
Juga kata-kata ‘Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan
dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia’ diartikan oleh Clarke sebagai menunjuk kepada
penderitaan Kristus dalam memikul dosa / hukuman kita (bdk. Yes 53:4-5). Dengan
demikian, menurut Clarke, bagian ini cocok untuk Mesias.
Adam Clarke: “if the Messiah be the
person here meant, as suffering innocently for the sins of others, Solomon
cannot be” (= jika sang Mesias adalah orang yang dimaksudkan di sini, yang
menderita secara tak bersalah untuk dosa-dosa orang-orang lain, maka tentu
bukan Salomo yang dimaksud) - hal 327.
Tetapi terjemahannya ini:
·
sepanjang yang saya ketahui
tidak didukung oleh terjemahan Kitab Suci manapun, bahkan tidak oleh Living
Bible ataupun Good News Bible.
·
menjadi sangat tidak cocok
dengan kontext, yang mengkontraskan Salomo (yang sekalipun berdosa, tetapi
tidak ditinggalkan oleh Tuhan) dengan Saul (yang ditinggalkan Tuhan karena
berdosa).
Adam Clarke menambahkan lagi:
“Many have applied these
verses and their parallels to support the doctrine of unconditional final
perseverance; but with it the text has nothing to do; and were we to press it,
... the doctrine would most evidently be ruined, for there is neither proof nor
evidence of Solomon’s salvation” (= Banyak orang yang menerapkan ayat-ayat ini
dan ayat-ayat paralelnya untuk mendukung doktrin dari ketekunan akhir yang tak
bersyarat; tetapi text itu tidak mempunyai hubungan dengan doktrin itu; dan
seandainya kita mau memaksakannya, ... doktrin ini justru akan hancur, karena
tidak ada bukti dari keselamatan Salomo)
- hal 325.
Keil & Delitzsch:
“It is
very obvious, from all the separate details of this promise, that it related
primarily to Solomon, and had a certain fulfilment in him and his reign. ...
But in his old age Solomon sinned against the Lord by falling into idolatry;
and as a punishment for this, after his death his kingdom was rent from his
son, not indeed entirely, as one portion was still preserved to the family for
David’s sake (1Kings 11:9 sqq.). Thus the Lord punished him with rods of
men, but did not withdraw from him His grace” [= Adalah sangat jelas,
dari semua detail-detail yang terpisah dari janji ini, bahwa itu secara
terutama berhubungan dengan Salomo, dan mempunyai penggenapan tertentu dalam
dia dan pemerintahannya. ... Tetapi pada masa tuanya Salomo berdosa terhadap
Tuhan dengan jatuh ke dalam penyembahan berhala; dan sebagai hukuman untuk ini,
setelah kematiannya kerajaannya disobek dari anaknya, memang tidak seluruhnya,
karena satu bagian masih ada pada keluarga tersebut demi Daud (1Raja 11:9dst). Demikianlah
Tuhan menghukumnya dengan rotan dari manusia, tetapi tidak menarik kasih
karuniaNya darinya] - hal 346.
Kelihatannya Keil & Delitzsch ini menganggap bahwa
kata-kata ‘kasih
setiaKu tidak akan hilang dari padanya’
hanya menunjuk pada fakta bahwa Salomo tetap menjadi raja sampai mati, dan
demikian juga dengan keturunannya sampai jaman Yesus berinkarnasi. Tetapi saya
berpendapat bahwa kata-kata itu tidak mungkin hanya mempunyai arti jasmani /
duniawi saja. Adalah aneh untuk mengatakan bahwa Tuhan tidak menjauhkan kasih /
kasih setiaNya dari Salomo, tetapi Salomo masuk neraka.
Cerita
tentang ‘kemurtadan’ Salomo ini tidak menunjukkan bahwa orang percaya yang
sejati bisa murtad dan terhilang / binasa, karena:
·
Salomo tidak betul-betul
murtad secara total. Bdk. Mat 24:24 - “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan
mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya
mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga”. Kata-kata ‘sekiranya mungkin’ jelas
menunjukkan bahwa itu tidak mungkin terjadi.
·
Salomo akhirnya bertobat
dan diselamatkan.
-AMIN-
email
us at : gkri_exodus@lycos.com