|
|
Puisi
Seindah madah tersusun kata membawa rasa mengungkai makna....
|
|
Koleksi Puisi I :
Suatu Permulaan
|
|
|
|
Koleksi Puisi II :
Mencari Jalan Diri
|
|
|
|
Koleksi Puisi III :
Kembara Cinta
|
|
|
|
Koleksi Puisi IV :
Diari Perantau - Ketika rindu bertamu, Kasih pun berputik.
|
|
|
|
Koleksi Puisi Bahasa English
|
|
 |
 |

YANG JATUH DAN REBAH ITU ADALAH ANAK WATAN MU
Di setiap detik perjalanan
hidupnya tersekat pada rongga nafsu
malam baginya suatu mimpi
siang baginya suatu penyeksaan
merah matanya
lesu tubuhnya bagaikan dimamah kepayahan
bergetar tangannya menggapai
mencari ketenangan yang menghancurkan.
Wahai anak-anak watan!
Mengapa dibiarkan senyum iblis di setiap langkahmu
kemenangannya mengocak ruang fikirmu
Mengapa laluan itu yang menjadi pilihan?
Mengapa ketenangan itu yang menjadi santapan?
Katakan DADAH itu bukan penawar
DADAH itu bukan pemberi ketenangan
DADAH itu bukan santapan keimanan
Ia adalah racun yang tersembunyi
Ia adalah duri yang menusuk pedih.
Wahai anak-anak watan!
Bantu dan bimbinglah mereka
Meski tidak terdaya mengawal diri
dengan tubuh yang lesu dan tangan yang bergetar
sambut dan genggamlah jari-jari itu
tadahkan doa memohon restu keampunan
agar langkah yang sumbang,
masih bisa dihayunkan
sederap penuh sedar.
Jangan dibiarkan bunga-bunga bangsa itu layu dan gugur
dari jambangan yang segar dan bumi yang subur
kerana yang jatuh dan rebah itu adalah anak-anak watanmu
yang masih punya harapan utk hidup beribu tahun
bercitakan kebahagiaan dan kecemerlangan wawasan.
ISZ (ISMAH HARUN)
SEK.BER.PEN. LABUAN
Hasil Penulisan Puisi Terbaik
Peringkat Negeri Sabah dan Kebangsaan
Anjuran PEMADAM - Kempen Anti-Dadah
APRIL 1993
|


RINDU MATAKU
Hari semakin tua
namun mataku masih mencari sesuatu
betapa hebatnya derita ini
rindu mataku memandang matamu
Mataku menangis
menanggung beban ini
rindu yang menikam kalbuku
menghiris dan terluka
Andai nanti
mataku mati
janganlah matamu menangisi mataku
cukuplah andai rindu mataku
berbalas dengan pandangan nur
dari mata mu.
SMKL 94
|
Generasi
Hai orang tua
dengarkan lah...
suara naluri ini.
Kami, generasi muda
amat berbeda dari kamu,
tenaga yang masih gagah
usia yang masih mentah.
Hai orang tua,
janganlah...
kami disamakan dengan zaman mu.
Kami punya zaman yang lebih maju - teknologi.
Janganlah...
kami dipinta mengulangi
masa kegemilangan usia muda mu.
Sesungguhnya masa itu
tidak bisa ditahan,
tidak mungkin berulang.
Ia akan tetap berlalu, ia pasti meninggalkan kita.
Kami punya cita-cita kami sendiri
yang kami genggam penuh azam dan berani.
Kami tidak perlu ditakutkan
oleh adat yang menekan kebebasan diri
oleh pantang yang memusnahkan kepercayaan hati.
Hai orang tua.
Inilah....
suara hati kami generasi muda,
-bukan meninggi diri
-bukan belajar kurang ajar
-bukan membelakangi adat yang disanjung
-bukan melanggar pantang yang dijunjung;
agar kalian tahu,
kami punya keinginan - punya pilihan,
untuk hidup berdiri sendiri.
19/07/94
No.21,SEC WPL
|


KITA ADALAH PEJUANG WAWASAN
Kita adalah pejuang wawasan,
golongan muda yang hidup dari seberkas sinar kebebasan,
bernaung di bawah satu kubah,
satu dunia yang maha saujana;
di sekelilingnya sains dan teknologi memenuhi ruang
dan kita….
tidak seharusnya berpeluk tubuh mengikat diri
lalu menangisi kealpaan lalu dalam tangis-tangis sumbang.
Wahai anak-anak watan!
Mari kita analisa kesilapan diri dari kamus kehidupan,
kita cari erti sedar dari makna keinsafan,
kita petik daun semangat dari pohon keberanian.
Ini negara kita yang kita miliki,
negara yang penuh berbudaya serta rahmat di atas segalanya.
Jangan nanti dimiliki dan dikotori lagi oleh ideologi kuning
setelah bertahun-tahun kita pertahankan.
Hari ini,
mari kita bertekad maju dan bersemangat padu,
menentang badai dan menongkah arus.
Hari ini, akan kita teruskan visi kita
-visi agung perdana kita
-visi untuk memajukan bangsa
-visi untuk membangunkan negara tercinta.
Anak-anak generasi!
Meski nanti ada suara-suara sumbang yang tahu mengeji,
jangan sesekali menoleh
atau akur pada janji-janji kosong dan memesong,
kerana di hadapan kita masih ada yang harus kita genggam,
di hadapan kita masih ada yang harus kita cari
di hadapan kita masih banyak janji yang harus dipenuhi.
Biarlah pencarian itu berkerat rotan berpatah arang…
namun mengeluh, Tidak sekali!
Akan kita genggam cita kita.
Akan kita terokai timbunan nota-nota.
Akan kita tempuhi segalanya
Demi mercu jaya!
Wahai anak-anak genarasi,
Awan gemawan yang mengisi rahsia langit,
akan tetap tersenyum dan memberi laluan,
untuk kita terbang mengejar pelangi pagi
serta tidur dan menari di atas matahari,
namun…
kita masih punya batas,
kita adalah milik pencipta.
Segalanya adalah ketentuannya.
Segalanya adalah restu dan rahmat-NYA
“KUN FAYAKUN”
itu lah kehendaknya.
ISZ (ISMAH HARUN)
UKM KAMPUS SABAH
JOHAN PEKIMA UKM
SEK. ALAM SHAH (SAS)
KUALA LUMPUR
28 OCT 1995
|
|


Sebuah Perjalanan
Perjalanan ini
sebenarnya masih jauh,
kalaupun dihitung
suria terbit lalu mentari tenggelam,
dan terbit kembali
tiada siapa yang dapat meramalkan.
Sepanjang perjalanan ini
belantara kasih dan pertaruhan
lautan dugaan dan pengorbanan
akan kau lalui
akan kau renangi
Namun bagimu,
berbekal jampi petua orang tua mu
mendukung bebanan wawasan mu
segalanya akan kau tepis
akan kau tangkis
dengan semangat waja
dengan iman yang tak mungkin luluh
dari hati mu yang hangat berdarah.
Perjalanan ini,
waktunya masih panjang
atau mungkin hanya sekejap
di hadapan sana
mungkin impian mu yang bakal menjadi kenyataan
seakan-akan melambai
seperti sudah bisa dicapai
mungkin maut sedang menanti
bakal meragut nyawamu - dan kau tidak bisa lari
atau mungkin masih jauh lagi...
siapa yang bisa meramalkan.
National Park
Mt Kinabalu
Menggilan Hostel 21/05/96
|
Kepura-puraan?
Aku tidak mampu lagi berdusta
menelan kepahitan yang sudah lama
tersimpan di ruang kehidupan ini
lalu,
menyulam bebenang kasih
di hamparan permaidani kepura-puraan.
Aku juga sudah tidak bisa
mengucapkan kata-kata kesabaran
yang telah tercabar oleh keegoan mu
dan dipertaruhkan oleh kejujuran
yang sering tergadai di gelanggang kehidupan.
National Park
Gunting Lagadan
22/04/96
|
Sangkar Kerinduan
Dari daerah sepi ini,
ku laungkan suara kerinduan
menongkah angin rakus yang meniup
layangan kasih ku - lalu terkapar mati
di tanah gersang.
Ku kirimkan salam rindu
pada malam yang pekat
agar mereka tahu - setiap kerdipan bintang itu
adalah cinta kasih dari ku
anakanda yang jauh di perantauan...
Tapi sayang,
laungan ini tidak bersahut
mungkin tersasar jauh
mungkin suara ini tidak sampai
kerana aku terlalu kerdil di tanah ini
atau mungkinkah...
kerana malam tidak selalu berbintang...
Kini, tinggallah insan kerdil ini
menghitung hari dalam rindu yang membusung
menunggu tika kan pulang - melepas rindu ini
yang terperuk dalam sangkar batasan waktu
dalam butir-butir tanah yang sepi...
PM(UKM)KP, N9
30/06/96
|
Sungai Kehidupan
Hidup ini ibarat sungai
akan sentiasa mengalir
penuh berliku.
Dunia ini
yang dusta sering menjadi benar
dan sering dipertahankan.
Kenyataan hanyalah
suatu imbasan dari impian
di dalam cermin hati dan naluri
Sesungguhnya,
kehidupan ini akan tamat jua
tetapi yang tinggal
ialah kepercayaan dan kejujuran
pada hati sebening air
yang mengalir di sungai yang tenang.
Rumah YS,KL
29/07/96
|
Hikayat Cinta
Dulu,
kau pernah bertanya
mengundang sekeping hati ini,
untuk menjaid milik mu.
Dan aku
hadir bersama harapan
agar kau tidak mempersiakan diriku.
Pernah juga kau bertanya
apa aku tidak menyesal memenuhi permintaan mu?
Lantas aku tersenyum,
dan kau tahu ertinya.
Tapi,
seperti dongengan rakyat,
si pengail dan puteri bongsu
yang telah hilang baju lelayangnya,
itulah dirimu dan diriku
dan aku tahu noktahnya di sini.
Kini,
kau kembali
membuka tirai Hikayat Malim Deman,
mencari kekasih yang telah dikecewakan,
Kau memujuk hati ini agar menjadi milikmu,
lantas aku bertanya,
kemanakah cinta mu selama ini?
Aku tahu,
penyesalan itu ada di rongga dada mu.
Hati ini berbisik,
"untuk apa menyesali cinta yang tak pasti
kerana hari ini ia akan kembali
esok ia akan pergi...
hilang dalam kekesalan yang tak sudah..."
PM(UKM)KP,N9
29/09/96
|
Segalanya Di Sini
Mulanya di sini,
ku ciptakan sejarah hidupku sendiri,
melontar jauh angan-angan
yang terlekat di mindaku.
Mulanya di sini,
ku catatkan sejarah hidupku yang teragung
dari segumpal cita-cita yang tergenggam
dari segunung azam yang terbuku
dalam hati yang masih berdarah - bernyawa
Mulanya di sini,
ku pahatkan kenangan silam ku
biar menjadi arca
agar menjadi tatapan generasiku
biar menjadi pengajaran buat mereka
Mulanya di sini,
ku warnakan masa depan ku
biar menjadi seni yang indah
agar menjadi jejak generasi ku
biar menjadi khazanah di minda mereka.
Mulanya di sini,
ku padamkan bnoda hitam ku
agar hidup ku menjadi berkat
biar apa jua halangannya
biar luka kaki melangkah
biar pedih hati merasa
agar aku bisa tabah
menelan kepahitan - merasa kemanisan.
Mulanya di sini,
ku teruskan catatanku
menghadapi hari-hari muka,
kerana langkah ku
tetap kan bermulan di sini.
28/04/97
|
Hakikatnya Kau Telah Berjanji
Ketika bumi ini
masih ingin dibelai
oleh jari-jari perkasa
ketika ia masih perlu disirami
keringat usaha mu,
Kau tinggalkannya
dengan langkah yang berani
dengan membawa azam yang membara
meninggalkan halaman mu
melupakan kerinduan
demi sebuah tanggungjawab.
Kau tidak akan menoleh
walau suara-suara sumbang itu membingitkan
kerana di hadapan
ada sesuatu yang akan kau genggam
penuh azam dan berani.
Tapi tanpa kau sedar,
dalam keazaman itu, hati telah berjanji
janji pada tanah ini:
bahawa kau akan pulang
- bersama maruah bangsa mu
- bersama harapan dan kemegahan bumi mu
dan ini...perlu kau tunaikan.
Kamsis Tun Hussein Onn
UKMBangi
28/05/97
|
ANDAINYA..
Adakah keterlaluan bagimu
andainya aku sering memandang mu,
dan terlalu berani membalas renungan mu,
walaupun hakikatnya
jarak kita terlalu jauh
untuk ku pastikan pada siapa senyuman itu.
Adakah kau akan tersalah tafsir
andainya aku sering senyum melihatmu,
dan aku berani mengusik mu
hingga di suatu ketika
bisa ku lihat rona merah di wajah mu.
Adakah terlanjur
andainya ku katakan
aku mengagumi mu dalam diam
dan aku ikhlas untuk menjadi
teman mu......
Suaikenal PERMIS
Pusanika/3F-203
UKMBangi
08/06/97
|


 |
KENANGAN SEMUSIM
Dulu,
seruling itu masih berlagu senandungnya
masih berbunyi irama mendayu-dayu
menjadi teman anak muda
menjaga sawah di sore sepi.
Alunannya,
menghiburkan hati
anak-anak desa
di tepian petak-petak rezeki
bertemankan sang lintah penunggu sawah.
Panas mentari,
bukan lagi perit yang menggigit liang-liang kulit
lalu memaksa perahan keringat
berlumba-lumba menuruni tubuh berjasa.
Pernah,
di tanah ini
ada pohon yang subur - juga jambangan yang segar,
ada jari terluka mengalirkan darah
lalu menjadi rencah semaian harapan.
Gurauan senda kedengaran
anak-anak ingusan berlari-lari
mengejar pepatung terbang tinggi agar tidak bisa dicapai
dan kaki-kaki kerdil tersadung batas
lalu meninggalkan tanda kenangan zaman itu.
Kalau dulu,
sepat dan puyuh menjadi mainan
percikan air yang bening
menjadi hiburan - menjadi keperluan,
tapi kini,
sungai ibu telah cemar tubuhnya,
tiap lekuk tebingnya menyimpan derita
alur kesengsaraan
mengalir lesu - keruh
angkara tunjakan gergasi permodenan.
Desaku
kini kau diam sepi
kenangan usang zaman gemilang mu
kian hilang dilitupi hutan batu.
Pipit-pipit seakan sudah tidak sudi lagi mampir
sambil mencuri-curi rezeki yang hilang
tertimbus bitumen-bitumen kemewahan.
Yang pastinya
sang mentari dan rembulan pun
seperti sudah malu
menyinarkan cahayanya
lantaran keegoaan neon dan keangkuhan debu kota.
Tanah mu,
sudah tidak semesra dulu
gersang dan kusam
hanya mencerminkan wajah kehampaan,
tubuh-tubuh yang pernah berjasa juga sudah tua
pasrah dalam pelukanmu.
Suara anak-anak ingusan pun..
kini sudah matang
bergema penuh semangat membawa laungan wawasan.
Lalu mencari haluan yang asing
dan mencipta sejarah baru masing-masing.
Hanya…….
senandung rindu ku
semakin bergema di segenap hati dan naluri
namun apakah iramanya
masih merdu mendayu-dayu….
|
 |
 |
|
|
|
 |
|
|
ISZ HERDINE
COM Z/K3G-310
UKM Bangi, Selangor
15 SEPT 1997
8:54 pm
|
SEBUAH KUNJUNGAN HORMAT
|
Pagi ini,
resah sekali
nafas yang seharusnya ku hembus nyaman,
rakus ku tarik kembali.
Aku tidak pasti
apakah aku harus berdiri
atau harus sahaja aku duduk
menghitung gelisah di hujung jari.
“Sengketa itu bukan milikmu…” - pesan ayahanda.
Kata azimat penguat semangat;
yang terputus akan ku jalin kembali
yang keruh akan ku jernihkan.
Namun gelisah bertandang jua
menyapa sepi yang tercipta
dari kedinginan nafsu untuk bermesra.
Bukan apa-apa
hanya ghairah ku mulai hilang
mengenang sengketa silam.
Sesekali,
resah ini bermain-main
ditembok hati yang keras `berbatu';
berulit-ulit dalam khayalan siang.
Apakah mungkin,
kunjungan hormat ku ini,
bisa menghilangkan duri sengketa
menyatukan dua budaya yang jauh berbeza….
Oh Tuhan!
aku berserah pada Mu.
ISZ HERDINE
Kota Kinabalu
10 MEI 1998
11:00 am
|
|
|


Dendam Terlerai
Semarakkan lah
api kecintaan ini,
saat tapak ku berpijak,
mula kaki ku melangkah
hati telah mula berbicara;
-pada alam yang sering ramah
-pada ruang yang terbentang luas.
Bicaranya adalah
tentang rindu
tentang kasih
lalu melupakan dendam dan sumpah.
Turunkanlah
hujan rahmat MU
kerana berkat MU
tanah ini seperti sudah mencintai ku
dan telah ku buang amarah ini
jauh dari hati,
yang tinggal kini,
hanya jiwa yang menginsafi kesilapan lalu.
Maafkan lah aku wahai alam.
Kini,
mentari mu akan ku nanti
dan malam mu
pasti tidak sunyi lagi…
ISZ HERDINE
Bengkel KEMAS P148
Kg. Jawi-jawi
Kota Belud, Sabah
11 MEI 1998
5:15 am
|
Perpisahan Sementara
Pergilah dengan tenang pemuda pemudi ku
kerana jalan mu masih jauh.
Usahlah dirisaukan aku
yang hanya menanti disini.
Usia kita juga masih muda
belum nyanyuk
untuk mengenang simpang ke rumah
sesama kita.
Malam ini,
tidurlah dengan lena pemuda pemudi ku,
kerana esok kita akan mengembara lagi.
Menuju arah yang berbeza.
Insya Allah,
ada jodoh, ada rezeki,
kita berjumpa kembali di titik yang sama.
ISZ HERDINE
UKM Bangi, Selangor
191098
|
Satu Perjalanan dan Kenangan
Perjalanan ini,
terasa sangat memilukan
Sayang aku hanya duduk di sini,
memandang alam ku yang semakin jauh.
Kesesakan kota, ku tinggalkan
dan lambaian pepohon kehijauan
menyambut ku dengan mesra.
Hati siapa
tidak akan sejuk
merenung dedaunan
dan mengusapi tanah lembap
yang mengalirkan sari zat kesyukuran yang tidak terhingga.
Namun,
hati siapa pula
tidak akan pilu
meninggalkan insan tersayang
yang mengatur helaian
kenangannya sendiri-sendiri.
Sg.Manik, Tlk.Intan,Perak
Parit 12B
23/10/98
|
Menjejak Diri
Ku aturkan satu persatu
jejak-jejak ku
agar mereka tidak tersesat menjejaki ku
Mereka tidak akan tersungkur
andai berwaspada
kerana setiap jejak ku adalah nyata.
Ku susunkan jua
mimpi-mimpi ku
agar lena tidurku
agar igauku tidak berlarutan
kerana hidup ini perlu kewarasan
bukan hanya menjejaki diri
dalam mimpi yang panjang.
Teluk Intan
25/10/98
|
SEBUAH KEGAGALAN
Aku tidak pernah merasa
kecewa di curangi seorang kekasih,
kerana aku masih belum dimiliki.
Aku juga tidak pernah berduka
terhadap sebuah kematian yang seharusnya memilukan,
kerana aku masih perlu untuk hidup.
Tetapi kini,
segalanya bercelaru,
entahkan kecewa - aku tidak pasti
entahkan bersedih - aku tidak tahu
Berbondong rasa
yang mungkin jauh lebih dahsyat
kerana aku telah gagal
menghadapi KEGAGALAN!
D204, Kjg Utama
Oct 98
|
Perpisahan Di Hujung Rindu
Kita bakal berpisah,
setelah bertemu di hujung resah,
sambil mengutip kembali
pecahan kaca
untuk di karang menjadi permata.
|
|
Kita juga bakal terpisah
setelah sampai takdir NYA
menggapai kembali
amalan yang tertinggal
dan doa-doa yang panjang
menghembuskan resah,
menghanyutkan dosa jauh ke mana…
|
|
|
Namun,
apakah mungkin?
Kita juga bakal ketemu kembali,
setelah perpisahan di hujung rindu.
|
ISZ HERDINE
D204, Kajang Utama
251198
|
Mencari Jalan Diri
Di senja sepi ini,
aku berdiri
merenung pepohon alam,
yang semakin suram warnanya
pabila langit merah menjemput malam bertamu.
Kesekian kali,
ku nikmati keindahan warna daun senja,
dan daun kering berguguran
ditiup angin lalu berterbangan jauh
berserakan menutupi bumi
tempat ku berpijak.
Adakah aku akan terus di sini?
Untuk menikmati semula
daun pagi yang segar
atau
harus ku ucapkan “Selamat Tinggal”
pada malam terakhir ini
untuk terus mencari
jalan diri di lembaran baru.
ISZ HERDINE
31 Dis 98 - 01 Jan 99
|
Kejutkan Aku!
Kejutkan aku!
Kejutkan aku dari mimpi itu!
Kejutkan aku!
Aku tidak mahu melihatnya!
Kejutkan aku!
Aku tidak mahu lemas!
Kejutkan aku!
Aku rasa terhimpit!
Kejutkan aku!
Kerana aku tidak ingin terus lena
walau mata ku pejam
terbaring di ranjang yang luas
dan bukan di tengah lautan.
KDT 21.WPL
28/02/99
|
LEMBARAN HARI
Lembaran hari akan gugur jua
melayang satu persatu
bersama coretan pagi yang cerah
menutupi lakaran malam yang sepi.
Sesungguhnya
menghitung hari yang panjang,
menduga ketabahan
sering tercabar oleh rasa
tanpa fikir - bisa saja putus asa.
Merenung minda yang semakin tua,
ternyata mengundang keluhan
terhembus resah menghadapi esok
menyesali semalam yang berlalu.
Lembaran hari akan tetap begitu
gugur melayang bersama keluhan dosa dan pahala
entah apa-apa sahaja
tanpa sedar,
kita mungkin tidak sempat,
menghitung hari
hingga lembaran terakhir.
KDT 21 WPL
05/03/99
|
PENANTIAN
Penantian
dalam himpitan resah
jiwa terus terlonta-lonta
ingin terus mengejar
bayangan dibalik kabus tengahari
rupanya panas yang ku nanti
menyapu kabus bersama bayangan.
impian ku hampir musnah...
Di hujung senja
bersama kesegaran wudhu
ku panjat kan doa
agar hati ku bisa tabah
menghadapi segalanya
dalam penantian.
KDT 21 WPL
12/04/99
|
Takdir
Allahu Akhbar, Allahu Akhbar!
DIA menentukan rezeki itu ada di mana-mana
di hutan belantara
mau pun di perut kota.
ALHAMDULILLAH
syukur ku kepada NYA
takdir yang tertulis,
memang payah
memang panjang
namun aku pasrah.
KUN FAYAKUN
maka jadilah segalanya!
22/04/99
|
Keberangkatan ku
(Ketika kaki melangkah, aku sudah tidak menoleh lagi. Selamat tinggal.)
Keberangkatan ku,
tidak perlu ditangisi
tidak ada yang perlu dikesali.
Langkah yang ku jejak
bukan asing lagi
kerana aku sudah biasa
pada jalan itu.
MH2609
LBU - KUL
22/04/99
|
|
|
Cinta Yang Mati
Ku semadikan cinta ini
di sebalik kabus pagi
yang dingin menusuk kalbu
dan ku cari kesegaran embun
untuk ku hidupkan semula jiwa ku
yang hampir mati
kerana aku tidak mahu
ia terkubur sepi
lalu menyesali perjalanan
hidup ku yang ku persiakan
di pentas percintaan
yang tiada penghujungnya.
Ku coretkan juga sebuah kenangan
di mentari senja
yang mengizinkan malam bertamu
menutup cerita disiang hari.
Pasti,
ku teruskan jua coretan ini
buat menjadi nisan
pada cinta yang telah ku semadikan.
ISZ HERDINE
UKM BANGI
04071999
|
|
|
Sebuah Kerinduan
Aku menjadi semakin rindu
rindu menatap wajah mu
senyuman - dan mendengar suara mu
dan merindui kehadiran mu
berdiri di sisi ku
atau duduk di samping ku.
Aku rindu pada segala kasih yang tercurah
namun apa daya yang ada...
semuanya kini jauh
jauh ku tinggalkan dalam kenangan
yang terlipat rapi di lembaran sejarah ku
bersama cinta yang tersimpul rapi
dan hanya yang satu itu
telah ku berikan kepada mu.
C017, Kjg
20/08/99
|
KESETIAAN?
Ketika ombak
masih menyapa kekasihnya,
dan rerama terbang menghisap madu;
Ketika pohon yang rendang
masih memberikan teduhan
dan kumbang pun
masih setia pada kembang mewangi.
Aku di sini,
telah terbakar - meluluh
di pancar keterikan kepuraan-puraan dunia
dan terus ketandusan
setelah dipermainkan kesetiaan.
21/08/99
|
KESAL KU
(Buat sahabat ku M.K.M)
Maafkan lah aku kawan
telah terlalu lama
kita tidak berbicara;
aku yang membisu di sini
bukan melupai nilai persahabatan;
hanya mencari ruang
buat ku mengemis peluang
untuk menyatakan segala kesalan.
Maafkan aku kawan,
bicara ku yang lalu,
amat biadap ku rasakan;
meski tidak kau berkata
namun sesekali dingin bayu dari desa ku
membawa bahang yang panas di kota ku.
Sekali ini,
maafkan aku kawan,
tidak akan ku ungkit kembali cerita lama - yang semestinya melukakan
Hanya...
harapan ku
izinkan aku menyiram kembali
pepohon persahabatan dengan sari mawar
diiringi keikhlasan
agar kembali segar dan mekar
dan semoga kita bisa berbicara lagi.
01/09/99
kjg utama.
|
Pedih?
Keresahan
-rasanya hati ini seperti dilambung tinggi
lalu jatuh terhempas ke bumi.
-jantung pun seakan terhenti seketika
bagai tersiram air batu dari kutub utara.
Kepiluan
-rasanya hati ini dihiris sembilu
lalu disimbahi cuka - Aduh!perit!
-jantung pun seakan kaku
bagai tercabut dari rongga dada.
Keresahan dan kepiluan
adalah kesumat pedih
yang tiada penghujung...
selagi ada amanat
yang belum tertunai.
10/09/99
Sg.Buloh
|
HARAP MAAF
Resah,
sesekali berpaling
mencari ruang
meminta izin
untuk menyisipkan sepuluh jemari
di celah telapak tangan.
Bimbang
sesekali halkum tergerak-gerak
memaksa tekak
merasa kekeringan
dari suara mati - bisu
meski lidah hampir terangkat
menutur kata
kemaafan!
D204
Oct 99
|
KESUMAT RINDU
|
Rasakanlah
dengan sukma mu
dan rasakan jua dengan getar bicaranya...
dari mana kesepian itu
saat ia mula mencengkam pigiran hatimu
memercikkan resah dari tasik kerinduan
yang entah siapa menciptanya....
-adakah diri sendiri
-atau kerana TakdirNYA
Tika saling mengejar waktu
resah itu sering bertandang
menyapa sepi di dada hari
yang semakin tua
seperti lagu lama
dendangan perawan desa.........
namun....
dapatkah ku rasakan
tanpa dirimu merasakan
bahawa kesumat rindu itu
sebenarnya kita bersama yang menciptanya....
Rasakanlah....sayang
batasan waktu dan perjalanan
peredaran masa dan bumi
membezakan benua
tidak mungkin
mengizinkan kita untuk menyusun
harapan dan impian
merelakan kita menyulam rasa
dipermaidani kehidupan
tanpa keikhlasan
tanpa kejujuran...
ketulusan persahabatan
antara diri ku dan diri mu....
Isz
|
|
|
|
|
 |
Salam dari Gunung
|
 |
Di sini,
dalam kedinginan subuh
yang seharusnya menggigit tulang temulang;
Di kaki gunung ini,
ku cari wajah mu,
wajah yang pernah ku kenali
wajah yang pernah ku kasihi dalam mimpi yang sepi
kerana dirimu sahabat yang paling sejati.
Dalam kabus pagi
embun yang mula membasahi hujung rerumput
dan bersatu bersama air sungai yang mengalir
turut membasahi hujung jemari ku,
di sini aku terasakan kedinginan hati yang sering rindu
merasakan kehangatan bicara mesra
gurauan tawa suara sahabat ku.
Di waktu begini,
seperti selalu aku masih setia menanti
dalam kesabaran,
mengatur kenangan yang semakin pudar;
dan juga aku masih terus menulis
dalam kesamaran,
mengungkap kata yang tak terungkap oleh zahir,
hanya batin meneriak
tanpa suara menitipkan salam rindu
dari persinggahan pergunungan ini
buat mu sahabat ku.
Isz Herdine
Ulu Bendul, K.Pilah
(G. Angsi)
|
|
 --SECERAH SENYUM--
KU SUSUNKAN KATA-KATA
MESKI TIDAK INDAH BAHASANYA
NAMUN DALAM BICARA
TETAP ADA RASA
TETAP ADA MAKNA.
KU PERSILAKAN
NAMA MU DATANG BERTAMU
-KETIKA MALAM KU MASIH PEKAT
-DAN TIKA FAJAR KU SEMAKIN TAMPAK
DI KAKI LANGIT
LALU KU SAMBUT SALAM ANDALUSIA MU
DI DALAM REDHA.
KU BENTANGKAN
SELENDANG QALBU
UNTUK KAU TERKA WARNA DI SEBALIKNYA
APA KAH JINGGA ATAU MERAH?
ATAU MUNGKIN SAJA INDAHNYA PELANGI.
KU POTRETKAN
PERJALANAN INI
DENGAN BINGKAI ALAM
YANG HIJAU, YANG BIRU..ATAU MUNGKIN.....
WARNA SENJA MU YANG LARA..
ATAU WARNA SENJA KU DI MANITOBA...
DAN TELAH KU PILIH
DI TEBING PASIR INI..
MENANTI JALUR SINAR YANG TIDAK PASTI
NAMUN TETAP KU NANTI
UNTUK KU NIKMATI PAGI YANG CERAH..
SECERAH SENYUMAN
GADIS RANTAUAN
YANG PULANG KE PANGKUAN........
ISZHARDINE
K.U
|
AKAD
Dia bersila rapi
menanti penuh debar
sesekali manik jernih merenik di dahi,
cuma sekelumit kenyakinan
dan kekuatan iman
dia tetap bersila rapi
berdoa penuh harap
agar segalanya lancar
saat dia melafazkan...
"Aku terima nikahnya...."
01/11/99
Bangi
|
IRAMA KEMERIAHAN
Kelopak kelopak kelopak
Jantung jantung jantung
Kelopak kelopak kelopak
Jantung jantung jantung
Kelopak kelopak
Jantung jantung
Berbalas balas meriah
menaikkan suatu irama
Si dara seperti bunga
bibir tersenyum ibarat kelopak mawar merah
Teruna berdebar jantung
melangkah penuh pasti
menjeling dara di sisi.
Kelopak Jantung
Kelopak Jantung
Irama terus berbunyi.......
Taman Kajang Utama
02/11/99
|
ABDI SEORANG ISTERI
Aku mencintai mu,
dari hujung rambuut
hingga ke hujung kaki mu,
Ku abadikan kesetiaan,
kecintaan ku
hanya untuk mu.
Ku rela
laksanakan - tunaikan
perintah mu
Namun
tunjukkanlah
bimbinglah
diriku menuju jalan ke Syurga
wahai suami ku....
K.U KL
|
Kenangan Abadi
Detik-detik yang di lalui
adalah sebuah cerita yang panjang
sebuah perhitungan yang tiada kesudahan.
Mengumpan kasih dan kesabaran
menjejak impian dan kenangan
untuk kita sama-sama menuju
ke kota harapan
yang pernah kita impikan.
Mimpi kita sama,
begitu juga cita dan cinta kita
Hanya...
takdir kita berbeza
aku masih berdiri di sini,
sedang dirimu kini lena dirahap bumi.
Detik-detik yang akan ku lalui
masih sebuah cerita yang panjang
masih suatu perhitungan yang tiada kesudahan.
Cuma kasih ku kini kian pilu
dan semoga ketabahan ku
menguatkan jejak ku
untuk mencari penawar kasih
agar jejak-jejak yang pernah kita lalui
masih subur kasih nya....
dan kenangannya adalah abadi.
03/11/2000
Tmn Kjg Utama.
("Dia telah pegi...dan aku masih di sini, semoga kasih sayang nya abadi di jiwa ku........")
|
DUKA SANG PECINTA
Sang pecinta,
yang luka hatinya
menatap suram mentari
di hujung senja
ketika langit merah terbakar
bakal hangus dan legam
membawa bersama keperitan
yang terbit di dada malam
dalam mimpi nya yang payah.
Sang pecinta,
yang luka hatinya
membiarkan bunga di taman hatinya tetap memuncup
embun malam masih membasahi rerumput rasa
meskipun ceria mentari pagi
menerangi semesta alam.
Sang pecinta,
yang luka hatinya
akan terus berduka
Betapa berat dukanya
melihat dunia merampas cinta miliknya.
Meski bukan abadi,
namun dia pasti
cinta itu tiada lagi.
|
TAARUF
Siapa nama?
Umur berapa?
Asal mana?
dan sebagainya....
Ia telah bermula
mungkinkah
ada selanjutnya?
(Bila kembara ku bermula....maka ku kenali berbagai wajah.....Selamat Datang! Semoga Berjaya)
|


 DARI SEBUAH KOTA
(Karya dan Idea Asal Abang Safrizal; Olahan oleh Ismah - Puisi ini adalah hak cipta terpelihara bersama oleh penulis puisi ini, Saudara Safrizal Kabir dan Saudari Ismah Harun)
Di sebuah kota,
Longgokan bebatu berserakan
Setiap retakan menceritakan sebuah kisah
Kisah tentang perang
Yang meriwayatkan tiap titisan darah
Memercik dalam keperitan
Mengalir dalam kelesuan.
Di bumi itu,
Api jihad marak menyala
Membakar semangat
Yang tidak pernah kenal erti menyerah
Apa lagi melangkah undur berundur
Azam tergenggam kukuh
Mara menapak teguh
Demi kasih dan cinta Illahi
|
|
 |
|
|
Kini,
Kita semakin jauh
Mencipta sejarah baru
Maju melangkah laju
Berlumba-lumba mengejar matlamat
Yang entah apa nilainya
Entahkan apa nikmatnya
Sedang kejahilan membakar hangus keimanan.
Semakin hanyut
Di bawa arus kemodenan
Di mamah budaya yang merosak fikiran.
|
 |
 |
 |
|
Wahai saudaraku,
Di manakah makna kasih sayang?
Jika cinta yang dicari hanya tuntutan nafsu
Bila keduniaan menjadi ukuran budi
Sedangkan masih ada menderita kelaparan
Dan bertegang urat sehingga lidah terjelir kekeringan
Menuntut hak yang baqa
-yang bukan milik kita.
Atas nama apakah perjuangan hidup ini?
Jika makna sejahtera telah hilang ertinya;
Bila bumi yang di pijak,
Terasa panas dan berduri
Dan kebatilan masih mengaburi pandangan yang celik
Memesong minda yang cerdik.
|
 |
Saudara ku;
Semarakkan lah obor jihad mu
Meski bukan menghunus pedang di medan perang
Walaupun tidak mencemar tangan dengan darah
Apa lagi memijak bebatu di gelanggang pertarungan.
Namun,
Dengan nama pencipta mu dan pencipta ku
Lafazkan lah keazaman ini
Penuh semangat dan berani
Menjadi pemimpin
yang bukan hanya pada nama
bukan pada kuasa
juga bukan dengan janji yang memesong
tetapi
Berdiri teguh bukan angkuh
Bersuara lantang bukan lancang
Berseru lembut bukan sayup
Menggenggam api menjadi bara!
|
|
 |
Bangkit lah saudara ku!
Sambut dan pimpinlah mereka yang lemah
Berilah cahaya pada kegelapan
Agar langkah yang pincang
Masih bisa di hayun penuh kesedaran
Dan di segenap sudut,
Mawaddah terasa kesegarannya
Bersulam keimanan dan ketaqwaan
Mencipta ukhuwah di bumi sejahtera
Menuju jalan di redhai Allah
Seperti kisah dari sebuah kota lama.
|
Safrizal .K. & Ismah .H
(Risz)
22 March 2001,
Cairo-Egypt / Manitoba-Canada
|
|


Rasakanlah Getar Ini
(Di suatu petang di pertemuan terakhir)
Rasakan lah getaran hati ini
setiap denyutan nadi nya adalah ucapan cinta
Cinta hanya untuk mu...kekasih ku
Mengalir hangat meresapkan kerinduan..
pada detik pertemuan
detik melafazkan kata hikmat ini
ketika debaran dada mengundang resah gelisah
malam seperti semakin panjang..
dan siang serasa semakin sunyi.
Hanya rindu yang akan terus membara
mengajar kita untuk saling percaya
dan terus setia untuk bersama selamanya....
Tenangkan lah...
tenangkan lah debaran ini kekasihku...
seperti tenangnya tasik yg membiru..
dan bisikkan hangat cinta mu..
tiupkan nafas kasih mu...
agar diriku dapat lena..
dalam ingatan atas kasih sayang mu.
Isz Hardine
15 April 2001
Winnipeg, MB-Canada
|
|
|
|
|
 |
|
SUATU PENGERTIAN
Maafkan aku,
apakah kurang adab ku
ketika ku buka pintu kamarku
kau cuma berdiri tanpa ku persila
untuk kau lalui kamar sepi ini.
Apakah silap tingkah ku?
bila rayuan mu ku sambut dingin
dan titipan cinta terbiar sepi
lalu membiarkan dirimu melangkah pergi
tanpa teriring sendu di hati
Maafkanlah aku
kalau memang lembut bicara ku
kau salah tafsir
hanya ku pinta pengertian mu,
kasih ku hanyalah wangian
yang mengiringi perjalanan
meniti persahabatan.
16 Nov 2001
Plaza Arizona, MB Canada
|
Keseimbangan
dalam hidup
sesuatunya seringkali
mengimbangi
seperti wujudnya adam
bertemankan hawa
atau
3 kati beras
bersama secebis kesyukuran
mungkin juga sekelumit kasih sayang
terbalas secangkir harapan.
dalam hidup ini
ke mana pun ku tuju
arah bertentangan itulah keseimbanganku
menyusuri jalan
yang menduga kewarasan
serta keadilan ku....
25 December 2001
Howard Johnson Hotel
Ellice Ave Canada
|
CUMA AKU
takdir ini memang payah
namun aku pasrah
kerana rezeki buat ku
hanya aku yang bisa mencuba
bukan atas belas sesiapa
melainkan DIA
sampai di sini,
langkah kita arahnya berbeza
di depan ku belum tentu permata
namun tetap ku gilap
hingga terpancar cahaya....
KLIA 2001
|
MUSIM CINTA KU
Pergi mu
seperti hilangnya
musim bunga yang indah
terik mentari
seakan membakar kewarasan ku
tanpa pamit kau berlalu
mengukir seribu tanda tanya
dan meninggalkan aku
ketika rindu bertamu di kalbu
lalu membiarkan aku
melalui ruang hidup
yang serasa panjang
seperti siang
ketika malam yang cuma sepertiga hari.
Kenangan bersama mu
seperti musim luruh yang tiba
dingin menerpa jiwa
salju kerinduan mula terasa
keindahan mekar sudah tiada
cuma dedaun layu yang setia
menemani perjalanan ku
bersama warna merah senja
Namun...
kau tidak pernah juga kembali
menyapa aku di sini
yang setia menanti
salji nan putih
seperti warna yang mati
begitu juga kah hati mu
dingin dan kaku?
30/12/2001
Manitoba, Canada
|
-MARAH?-
Marahkah dikau?
tika ku sebut namamu bertalu
lalu kau palingkan wajah
hanya rona merah menghiasi pipimu.
Marahkah dikau?
tika ku pujuk rajuk mu
di ambang senja
di tebing pasir itu,
sedang kau terus ebrlalu
tanpa pamit dari ku.
Masih marahkah dikau?
tika dari kejauhan
ku lihat susuk mu,
lalu ku hampiri
meramahi kedinginan mu
sedang ku lihat
mata mu sudah tersenyum
menyapa ku.
Regina,Saskatchewan
Canada
01/01/2002
|
Pencarian
Mencari erti diri
seperti pelayaran kapal di lautan
segenap perairan kau layari
ketika ribut di hadapan melanda
kau telah pun bermula
dan mahu tidak
kau sudah tidak bisa berpatah.
|
CERITA MESIN TAIP TUA
.......................
k a - ha da p an aya h- bonda t e r -c h en ta (ssreetttt ting!)
S e m u g a s en t i a s a g umb i r a d a n s eh a t s a n t o s a . (ssreetttt ting!)
A n akn da di- sini seh a t s e ha t s a h j a. A n a k nda b a r u b e l i m esin ta i p (ting! ssreeettt)
mo d e r n. S em u ga per cho baan i n i ba k a l m e m u d a h k a n ay ah me m-b a ch a- n y a. (ssreeettt ting!)
|
Aduh!
aku tidak bisa lagi
meriwayatkan kisah mesin taip tua
kerana zaman ku
serba mudah
dengan teknologi serba mewah
|
-Opera-
aku terpana
mendengar gemersik suara
remang roma turut menari
siulan seruling memuncak pilu......
di suatu nota
hati ku menangis
tika suara semakin habis
mendayu duka
sebuah cerita cinta yang luka....
03/04/2002
Faculty of Music
U.of M Canada
|
Rahsia Hati
di sebalik tirai kalbu
kita berteka teki
mencari makna kasih
dan kesetiaan
saling menguji kesabaran
sedang jiwa kian tidak keruan.
Masihkah begitu?
tika pertemuan di hujung waktu
tiada mengizinkan
untuk saling menduga
siratan kalimah
dan gemalai bicara
sedangkan rahsia ini
masih tersimpan rapi
jauh di lubuk hati.
Apakah kita dapat meneka?
agar kita dapat tersenyum
dan tertawa
saat terucap
kalimat keramat.
22 April 2002
Wardlaw Ave.
|
-Adakah?-
rupanya
aku masih belum terlewat
untuk menyapa kesepian
dan merawat kelukaan mu
cuma
aku ingin pastikan
adakah peluang
untuk ku huni hati mu
lebih lama lagi?
April 2002
Wardlaw Ave.
|
DIALOG
aku bertanya?
kau bertanya?
kau bertanya?
aku menjawab
aku menjawab
kau membidas
kau membidas
aku menyimpul
kau bertanya lagi
aku menjawab lagi
kau membidas lagi
aku cuma mengalah
aku tidak kuasa
berdialog begini.
23/04/2002
|
Bicara Internet
kita bicara lagi
lewat tarian jemari
di papan kekunci.
mengungkap bisu
madah indah
pinjaman syair pujangga
memandang rasa
penuh nikmat
menusuk di sukma.
kita berilusi
di layar impian
bersama detik
yang terus berlari
sedang kita masih terpaku
di tapak sendiri.
kita bicara lagi
akan janji esok hari
pertemuan tanpa wajah
kerana jasad jauh terpisah
walhal mungkin
antara kita
cuma bertentangan jendela.
24/04/2002
Wardlaw.Ave
|
Katakan lah
Kenapa berteka teki?
Di tirai malam dikau menyapa
dan mengajak ku bercerita
dalam senda tawa
kau berlipur lara
dongeng cinta sang putera
Malim Deman kau hikayatkan pula
sedang wataknya
sengaja kau cipta
dari nama kita berdua.
Kenapa berteka teki?
Sedang aku bukan puteri
dan kau bukan putera sakti
aku bukan perasan sendiri
kerana aku memang pasti
maksud tersirat di hati mu
katakanlah...
sampai bila harus aku menanti...
April 2002
Wardlaw. Ave
|
-Kenangan Si Anak-
ibu,
masihkah ingat
di lorong ini
aku pernah bertatih
dan semua orang memerhati
ketabahan mu
memimpin ku
meski seribu langkah ku jatuh tersungkur.
ibu,
masih ku ingat
ketika kekasih mu bepergian
dalam dakapan mu
kau sisipkan harapan mu di dalam mimpi-mimpi ku
dan dalam dodoian mu,
kau riwayatkan nasihat
doa penguat semangat
pendinding anasir jahat.
ibu,
akan tetap ku ingat
di suatu ketika aku meniti kedewasaan
langkah ku mula perlahan
jiwaku hampir longlai
kau tetap bersama
tabah mengiringi
mengajarku mengenal duri dan liku
dari kamus penghidupan mu.
ibu,
kini aku teringat
kenangan hidup di lorong ini
lipatan sejarah ku buka kembali
dan aku turut mengajar untuk bertatih
dengan versi ku sendiri...
26 April 2002
Wardlaw Ave.
|
-Kenangan Si Anak 2-
ayah,
akulah si kecil itu
yang berdiri merenung laut
dan bertanya kisah si duyung
lalu kau berceritera
si duyung sudah jadi manusia
ingin ku cari dia di mana.
ayah
akulah gadis itu
yang melangkah titian cinta
dan bertanya tentang jejaka
lalu kau berkilah
duniaku belum layak bercinta
aku tersenyum bersahaja
menyirat rahsia usikan jiwa.
ayah,
akulah anakmu
yang kau suapkan dari kepayahan mu
dan memayungi ku dengan kasih sayang
kini,
kedewasaan ku
mengajar aku makna keperitan mu
dan menginsafi kejahilan ku
walau tiada lembut bicara kau curahkan rasa
namun,
aku mengerti
pada wajah dan sinar mata
aku lah puteri... ukiran jiwa mu.
26 April 2002
Wardlaw. Ave.
|
Senja lara desa perbukitan
di perbukitan ini,
senja nan lara
dan tangisan alam yang lebat
menyaksikan sebuah duka
dari gadis desa.
di dadanya sayu menghiba
di jiwanya terasa kontang
di hatinya pedih tersayat pilu
namun tiada airmata
tiada tangisan bergema
saat menerima berita
kekasih telah pergi selamanya.
di perbukitan ini,
dalam senja yang masih lara
dan alam yang tetap menangis
seorang gadis desa
telah menyerah pasrah
yang pergi tak kembali
yang hidup pasti mati
ini lah ketentuan Illahi.
MDC
04/05/2002
|
-Sepi seorang aku-
sepi sang pantai
tidak berpenghuni
namun kekasihnya
masih setia menyapa
memukul mesra
mencipta irama
damai dan sentosa
sepi seorang aku?
menyeru sayu nama mu
di angin lalu
bersama merah mentari senja
namun kekasih ku
masih belum menjelma
cuma aku tetap setia
dan aku semakin cemburu
pada pantai dan ombak
yang sentiasa bersama.
Whiteshell,MB
april 2002
|
Nyanyian Sepi
Dengarkan lah..
bukan dengan telinga
kerana sehingga saat ini,
hanya naluri dan belaian sukma mu
bisa mengerti
nyanyian sepi
yang berlagu di jiwaku
dan menyusup ke jiwa mu
dan kitalah
pencipta lagu itu.
Adakah kalian mendengar juga?
cuba lah......
April 2002
MB,Canada
|
SETIA SEORANG PERINDU
usai sudah perjalanan ini
tika aku seorang perindu
setia menanti mu
di pelabuhan sepi ini.
lalu pada camar ku titipkan pesan
pada mentari merah ku sampaikan salam
pada bayu malam ku bisikkan rindu
bahawa aku masih tetap menunggu
walau kembara kasih
belum ku temui penghujung nya
namun kini telah ku tahu
kepulangan mu
membawa semula harapan ku
yang hampir punah
dan sehingga kini
aku masih cinta pada mu.
MDC-KBJ
April 2002
|
ELEGI SEORANG TUA
Saat ombak semakin tenang
menyapa lemah pesisir pantai,
mentari semakin malu di kaki langit
melarik garis di langit senja,
dan tika rentak semakin perlahan
itulah petanda
bahawa dia seorang tua.
Sesiapa pun tidak punya masa untuknya
kini dia tidak perlukan sesiapa
kerana tarinya semakin lemah
melalui simpulan pertalian kehidupan
meski kenal seribu wajah
namun akhirnya
dia seorang tua
tetap ditinggal sepi sendirian.
MDC
04 May 2002
|
DIARI PUISI
Kalau kau baca
dari bait kata-kata
yang sering ku cipta
mungkin kau mengerti akan sebuah makna.
Dari sebuah cerita
ku ciptakan rembesan rasa
dari kalbu dan sukma
untuk kau tafsirkan gelora jiwa.
Aku mungkin berkilah
dengan dongengan dan kisah
namun kau tidak pernah marah
malah aku lah yang resah.
Bacalah bait-bait puisi ku
itulah luahan atma ku
atau kau masih tidak mahu tahu
bahawa aku pun cinta pada mu.
KBJ-MDC
21 May 2002
|
Lamaran
Sekian lama dia membisu
sekadar menjadi pemerhati
kini dia tampil menghampiri
menghulur bingkisan
menyentuh jemari
sebagai tanda
diriku telah dia miliki.
August 2002
|
Sebuah Arca
Dari sudut ini,
ku perhatikan wajah mu
yang tenang dan kaku.
Aku mohon pengertian;
-dosa apakah yang telah kau lakukan?
lantaran kau di bunuh
demi menghapus dosa orang lain.
-jasa apa pula kau taburkan?
setelah menyeksa diri mu
di kaki mu mereka sujud.
Sedangkan pada siapa kau sujud?
kalau bukan pada DIA
yang ku abdikan diri ku.
Wardlaw Ave.
MB, Canada
|
PEMERGIAN
Di hamparan ini,
ku kucup kening mu
betapa adanya sendu
buat hati yang semakin pilu
kerana sebelum sempat ku raih tangan mu
belum puas ku terokai cinta mu
kau telah pergi dahulu....
Oct 2002
H.Ec, U.of M
Canada
|
Leave Me Then....
If it is wrong to love you..
then I will send my heart
far away...
so that; I won't learn to hate you...
I am sorry
I just can't stop loving you
I am sorry because I can't make it
I can't hate you for I love you
I can't forget you for I do cares about you...
then
I will walk away from you
so that you will have a chance
to love somebody
without me
not with me
nor my shadow..
ISZ HERDINE
06 Nov 99
Selected as the top 15 from the International Poetry Contest in Washington DC-2001
(Terpilih sebagai antara 15 puisi terbaik dalam Pertandingan Puisi Antarabangsa di Washington DC-2001)
|
( I didn't write this poem but I love it very much...so I want to share something that I love with you all...)
But You Didn't
Remember the time you lent me your car
and I dented it?
I thought you'd kill me,
but you didn't.
Remember the time I forgot to tell you the dress was formal;
and you came in jeans?
I thought you'd hate me,
but you didn't.
Remember the time I flirt with other boys;
just to make you jealous;
and you were.
I thought you'd drop me,
but you didn't.
There were plenty of things you did to put up with me,
to keep me happy, to love me
and there are many things I want to tell you
when you returned from Vietnam,
but you didn't.
by MERRILL GLASS
|
I Love You 
Is this what they called madness?
That what I called love?
Or shall I recall
Every moment we share
To find and search
-Which word;
-Which time;
-Which place;
Proved our love
or I just let it be
for I Love You too
and I can't deny it.
Isz Herdine
15 December 2000
Sedaya College, Cheras KL
|
I Want To Surrender
All these time
I tried to survive
to see you smile and even to hear your laugh
to touch the warm and the kindness you gave
I always want to be myself
that stand before you
and show you how much I care
to prove my love.
But, who ever knows?
The sun doesn't always shine
for the future are not always mine.
I know you are there
where you're belong
and wait for me, to get together.
But, I am still standing here
surfer for the love I've lost
and you're there, lies peacefully
not feeling the pain
nor wipe the tears again.
I want to surrender
letting the blood ran out of my body
and even my soul will not feel the pain
also this breathless body
would never know how hurt it was
to lost the love that i'll never gain again.
Wardlaw Ave.
14 February 2002
|
|