Make your own free website on Tripod.com

Pelestariaan Keanekaragaman Hayati- Masalah-Masalah Kritis untuk Negara-Negara Kecil yang Sedang Berkembang

 

Graham Baines

 

Supaya berhasil dan bertahan lama, pelestarian keanekaragaman hayati harus menjadi bagian yang sangat penting dari pembangunan ekonomi dan sosial. Memang tidak mudah menerapkan cita-cita tersebut. Keperluan-keperluan Timor Lorosa’e mungkin lebih baik dipenuhi dengan serangkaian langkah-langkah jangka pendek, dan strategi yang lebih panjang dan terinci baru dibentuk sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang didapat dari fase pertama tersebut. Berdasarkan kesamaan dengan negara-negara Kepulauan Pasifik, ada beberapa masalah penting yang diajukan sebagai dasar pembicaraan.

 

Keanekaragaman hayati terdiri dari banyak tanaman dan binatang yang memberi dasar bagi kehidupan. Beberapa tanaman dan binatang ini digunakan langsung oleh manusia untuk makanan, obat-obatan, pakaian, dan perumahan. Yang lain bermanfaat secara tidak langsung, misalnya binatang kecil dan bakteri di lapisan tanah membuat tanah subur; pohon hutan memperlambat jatuhnya hujan, dan membantu air masuk tanah dan mengalir ke sungai-sungai kecil. Pelestarian alam adalah bagian dari pembangunan. Kata “melestarikan” kebetulan berarti “memakai sumber daya alam secara hemat”.

 

Keanekaragaman hayati Timor Lorosa’e sudah sangat berkurang. Tidak realistis untuk mengharap bahwa semuanya yang sudah hilang dapat dikembalikan lagi, tetapi sebagian mungkin dapat direstorasi. Pelestarian alam tidak hanya termasuk “daerah terlindung”, tetapi apabila berhasil, konsep pelestarian keanekaragaman hayati harus terlibat dalam suatu program pembangunan berkelanjutan, didukung oleh proses perencanaan yang bersifat keikutsertaan masyarakat. Pernah diusulkan bahwa Timor Lorosa’e seharusnya pertama menekan pada 1) dukungan terhadap intervensi untuk pemakaian dan pengurusan keanekaragaman hayati tanah dan laut oleh masyarakat pedesaan, dan sementara itu, 2) melaksanakan strategi yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup yang menuntun dan mengurus pembangunan perkotaan dan industri.   

 

Langkah-langkah pertama sebaiknya adalah:

 

-         Menghadapi kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat dalam pemakaian konsep keanekaragaman hayati;

-         Berusaha supaya kecenderungan berkurangnya keanekaragaman hayati dan sumber daya alam diperlambat;

-         Menegakkan kecenderungan pemakaian sumber daya alam tanah dan laut yang bersifat berkelanjutan;

-         Memperkenalkan cara-cara untuk melindungi sumber-sumber air dan penampungan air;

-         Menjamin supaya pembangunan industri dan perkotaan direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan metode-metode “best-practice” yang mencegah kerusakan sumber-sumber alam di tanah dan di laut;

-         Memperkenalkan jenis-jenis binatang dan tempat-tempat yang bersifat keanekaragaman hayati;

-         Membuat penelitian mengenai keadaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati, dan hak-hak dan hubungan masyarakat setempat terhadapnya;

-         Mengambil ciri-ciri kuatnya pengelolaan dan pengetahuan tradisional terhadap sumber daya alam.

 

Keperluan-keperluan pelestarian alam tidak disebut secara terinci di daftar tadi. Beberapa kebutuhan tersebut akan muncul di tahap pertama, dan bisa ditangani dengan diberlakukannya beberapa strategi perlindungan yang sederhana. Pelestarian alam akan menjadi bagian yang sangat penting dari strategi-strategi jangka waktu pendek dan menengah, yang akan diperkembangkan di kemudian hari.

 

Di negara-negara kepulauan Pasifik, keanekaragaman tidak bisa dianggap terpisah dari keanekaragaman budaya. “Sejak lama dasar kepulauan Pasifik adalah hubungan di antara peseorangan, suku, dan lingkungan hidup”.[1]

 

Ada beberapa persoalan yang harus ditangani pemerintahan Timor Lorosa’e yang juga terlihat di negara-negara kepulauan kecil yang lain. Dari pengalaman negara-negara tersebut, dapat disimpulkan bahwa masalah-masalah kritis termasuk:

 

  1. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan-kebutuhan pembangunan ekonomi tanpa lebih merusak lagi lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati.
  2. Memperbarui potensi tempat-tempat tanah dan laut yang sudah rusak, supaya bisa digunakan untuk menghasilkan sumber daya alam, memelihara proses-proses ekologi penting, dan mempertahankan keanekaragaman genetika.
  3. Memelihara kualitas lingkungan tanah dan laut supaya tetap menghasilkan sumber daya alam yang dibutuhkan untuk menjamin kehidupan yang layak bagi semua warga negara.
  4. Memahami dan menghargai pentingnya keanekaragaman hayati genetika, jenis-jenis binatang, dan ekologis.
  5. Mencari cara yang baik untuk mencocokkan sistem-sistem hak pemilikan tanah dan laut yang tradisional dengan kerangka pembangunan masyarakat dan pembangunan nasional. Sementara itu, memanfaatkan pengetahuan dan cara tradisional dalam pendekatan pembangunan yang baru, yang mengambil sifat baiknya tradisi, diperkuat dengan penegtahuan dan cara-cara moderen.

 

Ada tanda-tanda bahwa Timor Lorosa’e mempunyai kesempatan untuk mendirikan dan mengikuti jalan pembangunan berkelanjutan- akan tetapi, kesulitan-kesulitannya memang banyak. Berdasarkan pengalaman di tempat lain, ancaman keberhasilan dalam bidang pembangunan berkelanjutan datang dari tekanan untuk mencari untung dengan cepat tetapi tidak bersifat berkelanjutan dari sumber daya alam, dan juga dari ketidaktahuan tentang nilai dan peran keanekaragaman hayati dalam pembangunan. Selama tahun 60-an dan 70-an beberapa negara-negara kepulauan Pasifik menyadari akan pentingnya keanekaragaman hayati. Keberhasilannya dalam pengelolaan keanekaragaman hayati kurang dari yang diharapakan. Walaupun demikian, ada beberapa contoh pelestarian keanekaragaman hayati dari negara-negara tersebut yang mungkin bermanfaat di Timor Lorosa’e.



[1] S. Siwatibau, 1990. Intervensi di Pertemuan ke18, Majelis Umum, PBB.