Make your own free website on Tripod.com

Pharmaceutical Journal

Majalah Farmaseutik Volume 1, (1997), Number: 3

Article 1. (number of pages: 8; original language: indonesian)

KINETIKA DAN MEKANISME TRANSPOR GRISEOFULVIN MELALUI MEMBRAN LIPID* KINETICS AND TRANSPORT MECHANISM OF GRISEOFULVINE VIA LIPIDIC MEMBRANE

Muhammad Amroni (Bagian Farmasetika, Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada)

ABSTRAK

Suatu obat yang praktis tidak larut dalam air sering-kali memberikan bioavailabilitas yang terbatas, karena proses absorpsi obat dalam siluran cerna dan mengalami first-pass effect. Suatu cara untuk menghilangkan first -pass effect dan keanekaragaman absorpsi yang berkaitan dengan saluran cerna serta memperbaiki pelaksanaan pemberian obat adalah dengan pemberian obat secara trans-dermal. Penelitian ini ingin mempelaari mengenai kinetika dan mekanisme transpor obat yang sangat sukar larut dalam air yaitu griseofulvin di dalam medium bufer fosfat pH 6,0 melewati membran lipid (isopropil miris-tat). Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan membran millipore yang diimpregnasi dengan isopropil miristat untuk permeasi sebagai potongan membran lipid buatan. Penentuan konsentrasi griseofulvin dalam sampel media dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 296 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa difusi griseo-fulvin melewati membran lipid mengikuti kinetika orde nol dan koefisien permeabilitas membran yang diimpregnasi dengan isopropil miristat harganya semakin naik sesuai dengan naiknya temperatur percobaan, serta didapatkan energi penghalang difusi sebesar 5,4 kkal/mol.

--------------------------------------------------------

Article 2. (number of pages: 5; original language: indonesian)

PERBANDINGAN SIFAT FISIS TABLET YANG DIBUAT DENGAN PEMBAWA GRANUL AVICEL PH 102 DAN GRANULATUM SIMPLEK DALAM SISTEM CAMPURAN INTERAKTIF*

Iskandarsah*, Sri Sulihtyowati**, A. Fudholi**, Noorma Rosita***, Dewi Isadiartuti*** *(Jur.Farmasi FMIPA, UI, **Fak.Farmasi UGM, *** Fak.Farmasi Unair)

ABSTRAK

Dilakukan perbandingan antara Avicel PH 102 dan Granulatum simplek sebagai pembawa dalam sistem campuran interaktif deksametason, yaitu dengan membandingkan antara tablet cetak langsung yang dibuat dengan bahan pembawa granul Avicel (formula 1) dan tablet cetak langsung dengan bahan pembawa Granulatum simplek (formula 11). Berdasarkan memperhatikan kekerasan, kerapuhan, waktu hancur dan keseragaman bobot serta keseragaman kadar, terlihat bahwa tablet formula I masih lebih baik dibanding tablet formula II terutama pada kerapuhan yaitu 0,07±0,02% untuk tablet formula I dan 0,31±0,03% tablet formula II serta waktu hancur yaitu 14,75±2,77 detik tablet formula I dan 53,00±12,58 detik tablet fonnula II. Kedua formula menghasilkan tablet dengan kadar obat yang homogen (CV < 5%). Dari sifat fisis tablet yang diamati, Avicel masih lebih baik dibanding Granulatum simplek sebagai bahan pembawa untuk tablet yang dibuat dengan cetak langsung.

--------------------------------------------------------

Article 3. (number of pages: 7; original language: indonesian)

FORMULASI PIL SERBUK CAMPURAN SIMPLISIA NABATI TINJAUAN TERHADAP WAKTU HANCURNYA*

Sri Sulihtyowati Soebagyo, Achmad Fudholi dan Siti Sundari (Fakultas Farmasi UGM)

ABSTRAK

Waktu hancur pil serbuk campuran simplisia nabati yang tidak memenuhi persyaratan merupakan permasalahan yang sering dihadapi perubahan jamu tradisional. Beberapa faktor yang mempengaruhi waktu hancur diantaranya formulasi termasuk proses pembuatannya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut telah dilakukan penelitian yang dititikberatkan pada pencarian beberapa alternatif formulasi pil yang ditekankan pada macam dan konsentrasi bahan penghancur, bahan pembasah pil, cara pencampuran dan pengeringannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian : 10% Primojel sebagai bahan penghancur; musilago tepung 5% sebagai bahan pengikat; PEG 400 5% dari jumlah musilago tepung sebagai bahan pembasah; waktu pencampuran selama 10 menit dalam mesin pengaduk dan pengeringan pil di almari pengering pada suhu 45°C selama 29 jam menghasilkan pil yang dapat memenuhi persyaratan waktu hancur tanpa timbul jamur selama penyimpanan 6 bulan.