
KULIAH FARMASI
RUMAH SAKIT
POKOK BAHASAN :
KOMPUTERISASI DI RUMAH SAKIT
SUB POKOK BAHASAN : KOMPUTERISASI FARMASI
KLINIK
Pada awal penggunaan komputer
dalam dunia kesehatan khususnya di rumah sakit, komputer hanya digunakan
sebagai alat bantu dalam patient billing (pengelolaan data pasien)
maupun untuk inventory control. Komputer praktis tidak berperanan
dalam pelayanan klinik terhadap pasien.
Seiring kemajuan pemrograman
maka lama-kelamaan orang mualai memikirkan pemakain komputer untuk membantu
mendiagnosis pasien, mengukur tekanan darah psien dan hal-hal lain yang
tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Perubahan konsep pelayanan
farmasi dari drug oeriented menjadi patient oriented
yang membawa konsekuensi bertambahnya kerja dan tanggung jawab seorang
farmasis menyadarkan farmasis bahwa komputer akan sangat membantu pekerjaannya
dalam mencek interaksi obat, memberikan informasi cara pemakaian obat,
mencegah terjadinya salah obat dan keracunan obat dan sebagainya.Maka mulailah
orang membuat dan mengkomersialkan software-software yang mahal yang berisi
informasi lengkap tentang obat yang beredar dan digunakan pada saat itu.
Contoh sotware tersebut misalnya :
-
Drug Information Fulltext
yang berbentuk CD ROM, berisi informasi obat-obat yang digunakan di USA.
-
Kinetics, yaitu
program untuk menentukan penyesuaian dosis pada penderita dengan gangguan
ginjal
-
Drug Master Plus,
yaitu program untuk skrining obat yang ada pada resep untuk mencari ada
tidaknya interaksi diantara komponen-komponen resep tersebut.
Meskipun penggunaan software terebut sangat membantu
kecepatan mencari informasi (dibandingkan dengan cara manual dalam melihat
pustaka di buku), banyak kendala yang dihadapi para pemakainya. Beberapa
kendala pemakaian software jadi adalah:
-
Ketidaksesuaian dengan obat yang ada di Indonesia
-
Adanya perbedaan kriteria penilaian dan kebijakan
obat antara Indonesia dengan tempat dimana software tersebut dibuat
-
Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris sehingga
mempersulit pemakai yang tingkat penguasaan Bahasa Inggris-nya rendah
-
Software tersebut harga beli atau langganannya relatif
mahal
Cara yang lebih baik namun juga tidak mudah adalah
dengan merancang sendiri. Sayangnya kemauan farmasis dan kemampuan farmasis
dalam merancang dan membuat program masih rendah, mengingat kurangnya bekal
ilmu tersebut diberikan pada pendidikan formal yang diikutinya. Sekurang-kurangnya
seorang farmasis dapat mengkomunikasikan alur program yang diinginkan agar
diperoleh tujuan pemrograman yang diharapkannya kepada seorang programmer.
Dengan kondisi demikian maka programmer dapat membuatkan program
yang baik dan dapat digunanakan dalam membantu tugas farmasis dalam pelayanan
yang berorientasi pasien.
kembali
ke menu....
Kembali
ke Pharmacy Lecture Hall