
SEbagian besar anggaran suatu rumah sakit
digunakan untuk pengadaan obat dan alat-alat kesehatan yang digunakan di
rumah sakit tersebut. Kondisi ini menuntut profesionalisme kerja farmasis
yang bertanggung jawab dalam pengeloaan inventory agar tidak terjadi kebocoran
barang yang dapat merugikan kelangsungan hidup rumah sakit tersebut.
Pada awalnya pengelolaan inventory dilakukan
secara manual dengan menggunakan kartu stok maupun kartu stelling serta
catatan pemasukan dan pengeluaran barang yang ada di gudang induk maupun
gudang satelit. Cara ini mepunyai kelemahan rendahnya ketelitian dalam
kontrol kondisi real barang yang ada di gudang. Pencatatan seringkali tidak
dilakukan meskipun barang telah dikeluarkan atau barang datang sehingga
kebocoran barang menjadi cukup besar kemungkina terjadinya.
Setelah dikembangkannya program-program pengelolaan
inventory, beberapa rumah sakit yang memandang kebocoran barang sebagai
hal yang serius mulai menerapkan program tersebut. Dengan berbasiskan
LOTUS, D-BASE, BASIC atau bahasa lain, dibuat orang program
yang dapat melaporkan kondisi inventory dengan baik. SEtelah berkembang
program under WINDOWS, maka pengelolaan inventory ini dapat
dilakukan dengan program yang tampilannya lebih menarik, dan yang terpenting
lebih mudah dan akurat pengoperasiannya. MS Acces, MS Exell,
Fox-Pro yang dikombinasikan dengan bahasa pemrograman VISUAL
BASIC digunakan untuk mengelola suatu database obat dan alat kesehatan.
Dengan database yang baik
dan pemrograman yang sesuai maka selain kontrol barang menjadi lebih ketat,
pelaporan barang juga menjadi lebih mudah. Obat yang tergolong OKT, Narkotik
dan OGB harus dilaporkan setiap bulan pada instansi yang berwenang. Dengan
menggunakan database yang baik dapat dibuat suatu program yang dapat digunakan
untuk membuat laporan ketiga macam obat tesebut secara terpisah tanpa harus
mengetik ulang ataupun menghitung stok yang tersisa atau stok yang terpakai.Pengeluaran
barang dan pemasukan uang melalui resep juga dapat diketahui setiap bulannya
dengan menyediakan kolom harga satuan pada database yang dibuat.
Meskipun handal program-program
ini tetap menuntut kedisiplinan dan kepatuhan operator untuksenantiasa
memasukkan perubahan jumlah barang pada program tersebut. Dengan demikian
faktor pembinaan sumber daya manusia juga sangat menentukan bermanfaat
tidaknya program pengelolaan inventory yang dioperasikan. Keberadaan jaringan
komputer baik secara LAN maupun intranet sangat membantu meningkatkan kedisipilnan
operator, mengingat atasan mereka dapat mengontrol kerja mereka setiap
saat. Jaringan komputer ini juga memungkinkan kepala instalasi dapat mengontrol
inventory setiap saat dari kantornya.