| Agustus 1998 |
| Prakata |
| Senin | Selasa | Rabu | Kamis | Jumat | Sabtu | Minggu |
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 9 | ||||
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 / 31 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |

WebmasterBulan ini bangsa Indonesia akan kembali memperingati hari kemerdekaannya,
yang kali ini sudah memasuki tahun yang ke-53. Tentu peringatan kemerdekaan
tahun ini akan punya suasana yang sangat berbeda, paling tidak yang memimpin
peringatan kemerdekaan negara Indonesia ini bukan lagi orang yang sudah
30 tahun lebih memimpin. |

Bersaksi Dalam Penderitaan "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena
merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." |
Tanggal : 1 Agustus 1998 Bacaan : 1 Ptr. 3:13-17 Refleksi : Kebanyakan orang baru bersaksi, jika telah ditolong oleh Tuhan. Tapi jika berada dalam penderitaan memperlihatkan sikap hidup bersungut-sungut, dan menyalahkan Tuhan. Adakah kita tetap bersaksi baik dalam suka maupun dalam duka! Doakan Bersama : Mengucap syukur senantiasa meski ditengah krisis moneter yang harus dihadapi, agar dapat mengalami arti dicukupi Bapa untuk kebutuhan secara materi, jasmani dan rohani. |
Petrus mempersiapkan orang Kristen di wilayah Asia kecil dalam menghadapi
situasi yang semakin sulit. Mereka sedang mengalami situasi yang sulit dan
akan semakin sulit lagi di kemudian hari. Mereka difitnah bahkan akan diadili.
Difitnah dan diadili karena imannya sudah merupakan penderitaan tersendiri,
apalagi sampai dipenjarakan dan dihukum mati. Dengan situasi demikian apa yang hendak mereka lakukan? Petrus menasehatkan agar mereka jangan takut dan gentar. Melainkan kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Percayalah sungguh-sungguh kepada Kristus. Ia adalah Tuhan yang berkuasa. Dan nampakkanlah kepercayaanmu itu dalam hidup sesehari. Dengan cara demikian kamu bersaksi dihadapan orang lain dan di depan pengadilan. Kamu harus bersaksi sehingga mampu meyakinkan orang lain akan kebenaran imanmu. Bagaimana mereka harus melakukan itu? Dengan jalan mempertanggungjawabkan pengharapan dengan sikap lemah lembut, hormat dan hati nurani yang murni. Dengan hidup saleh dan sikap sopan. Dalam persekutuan nilai-nilai iman itu nampaknya dipelihara baik, tetapi ketika hidup di luar gereja maka nilai-nilai lain yang berlaku. Disinilah tantangan yang kita hadapi saat ini, khususnya mempersiapkan anak-anak warga jemaat dengan iman yang mantap memasuki kenyataan dunia sekitarnya. Tiap orang Kristen hendaknya mampu hidup saleh dalam Kristus sekalipun mendapat tantangan yang serius, dengan hidup yang penuh pengharapan. Dunia makin modern membuat manusia makin bergantung pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dimanakah tempat bagi Tuhan? |

Masih Ada Yesus "Allah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau
dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau, sebab itu dengan yakin
kita berkata Tuhan adalah penolongku. Aku tidak akan takut." |
Tanggal : 2 Agustus 1998 Bacaan : Ibr. 13:5-6,8 Refleksi : Salib adalah tanda kehadiran Allah dalam hidup kita yang paling gelap, termasuk dalam penderitaan terberat sekalipun. Doakan Bersama : Keadaan hukum di Indonesia dapat ditegakkan dan aparat penegak hukum diberi kekuatan untuk tidak melakukan perbuatan tercela tetapi dengan berani menyatakan kebenaran. |
Ada seorang wanita tua yang hidupnya sangat kaya, tetapi setelah kekayaannya
habis dan jatuh miskin, kenalan, saudara, dan orang-orang yang dahulu dekat
dengannya satu per satu mulai meninggalkannya. Wanita ini sangat kecewa,
putus asa, dan kehilangan pengharapan, sebab ketika ia membutuhkan pertolongan
ia ditinggalkan oleh semua orang. Tak lama kemudian ia pun meninggal karena
tidak sanggup menghadapi penderitaan yang ada. Ketika kita berada dalam penderitaan dan kesulitan hidup yang berat, mungkin kita juga mengalami dan merasakan seperti yang dialami oleh wanita dalam cerita di atas. Kita merasa tidak ada yang dapat menolong kita. Tetapi lupakah kita bahwa "masih ada Yesus". Inilah seharusnya yang menjadi pengharapan bagi kita. Walaupun salib Kristus adalah tindakan Allah masuk dan tinggal dalam suatu suasana yang mengerikan, namun hal itu membuat Allah dapat bekerja dan tinggal di tengah-tengah dosa dengan kasih dan anugerahNya. Allah masuk ke tengah-tengah pusat penderitaan dan menetap sebagai juruselamat dan juru sembuh. Allah tidak hanya sanggup memelihara kita dari luka yang disebabkan oleh dosa dan kematian, tapi Ia juga bangkit dalam kemenangan. Ia telah menyatakan kemenangan untuk mengalahkan apapun. Ia berjalan menguatkan dan menyertai kita setiap hari. Yang menjadi pertanyaan, pada saat kita mengalami masalah percayakah kita bahwa masih ada Yesus yang dapat menolong kita? Peganglah janjiNya, bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Ia hanya menguji kita untuk sementara waktu. |

Hati Ku "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat
apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." |
Tanggal : 3 Agustus 1998 Bacaan : 1 Sam. 16:1-13 Refleksi : Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Ams. 4:23). Doakan Bersama : Aparat keamanan agar diberi keberanian, kekuatan, hikmat, dan kebijaksanaan di dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk mengamankan segenap rakyat Indonesia. |
Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, perkataan 'hati'
mengandung pengertian: pusat kehidupan seseorang secara mental, emosi dan
rohani. Hati adalah bagian terdalam dari pribadi seseorang. Hati mencerminkan
siapa sebenarnya orang itu. Sebagai pusat mental, hati mengetahui,
memahami, merenungkan, mempertimbangkan, dan mengingat. Pusat emosi,
hati adalah letak sukacita, keberanian, rasa sakit, kegelisahan, keputusasaan,
kesedihan dan ketakutan. Sebagai pusat moral, Allah menguji hati,
melihat hati, menyelidiki hati, dan menguduskan hati. Alkitab menjelaskan
bahwa seseorang mungkin memiliki hati yang tak berTuhan, hati yang memberontak.
Tetapi, seseorang dapat pula memiliki hati yang baru karena mengalami kelahiran
kembali di dalam Allah. Oleh karena itu, ketika Samuel sedang mencari pengganti raja Saul di antara anak-anak Isai, Allah menjelaskan bahwa raja baru akan dipilih, bukan berdasarkan penampilan luar, melainkan atas dasar kualitas dalam yang dimilikinya. Ketika Allah memandang Daud pada hari ia akan diurapi untuk menjadi raja atas bangsa Israel, Allah melihat seorang yang berkenan dihatiNya seorang laki-laki yang memahami siapa Allah sebenarnya, Tuhan mendapati Daud sebagai seorang manusia yang memiliki hati yang pecaya, penuh ucapan syukur, benar, terbuka, berharap, hati yang menyukai hukum Allah dan rendah hati serta hati yang bergantung kepadaNya. Inilah sebabnya Allah memilih Daud untuk menjadi raja Israel di masa depan. Pada hari ini ketika Allah melihat hati Anda, apakah Allah juga mendapati hati Anda sebagaimana yang dimiliki Daud? Atau sebaliknya? |

Kepemimpinan Yang Benar "Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera
berlimpah sampai tidak ada lagi bulan!" |
Tanggal : 4 Agustus 1998 Bacaan : Mzm. 72:1-20 Refleksi : Kepemimpinan yang berhasil adalah kepemimpinan yang tidak mengandalkan kekuatan, kemampuan dan kepintarannya sendiri melainkan kepemimpinan yang mengandalkan dan bersandar pada pimpinan dan pertolongan Tuhan. Doakan Bersama : Pertumbuhan rohani dan kehidupan pribadi umat Kristen dalam hal doa, saat teduh, PI, dan persekutuan. |
Mazmur 72 adalah mazmur yang sering dinyanyikan umat Israel khususnya dalam
ibadah pelantikan seorang raja yang baru di angkat. Umat memohon kepada
Allah agar raja yang baru dikaruniakan kemampuan "khusus" untuk
mengatur dan menjalankan pemerintahannya, agar tercipta suatu kehidupan
yang damai sejahtera. Oleh sebab itu dalam Mazmur ini, terungkap harapan-harapan umat bagi sosok seorang raja. Pribadi seorang raja yang setia pada keadilan dan kebenaran yang bersumber dari Allah, menjadi modal utama mencapai damai sejahtera. Untuk itulah Yesus Kristus datang ke dunia ini. Dialah satu-satunya pribadi sempurna dari sosok seorang raja. Raja yang tidak mengorbankan orang lain demi kedamaian dan kesejahteraan bagi diriNya. Malah sebaliknya mengorbankan diriNya dan mengaruniakan damai sejahteraNya bagi semua orang. Ia menjadi pembenar bagi semua orang yang bertobat dari dosa dan hanya "lewat pembenaranNya" ada damai sejahtera yang sejati. Sebagai persekutuan orang yang 'dibenarkan' oleh Kristus, apakah yang telah dan harus kita lakukan sebagai bukti bahwa ada kelimpahan damai sejahtera yang diberikan Kristus kepada kita? Adakah kita membela hak orang lemah (miskin, tertindas, dan tak berdaya). Adakah kita memberi keadilan tanpa memandang bulu? Adakah kita bertanggung jawab dalam menggunakan kewenangan yang dipercayakan pada kita, khususnya bila kita seorang pemimpin? Marilah kita menata diri sebagai gereja, yang membagikan kelimpahan damai sejahtera Yesus Kristus bagi dunia ini. |

Keuatan Ditengah Kelemahan "... cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah
kuasaKu menjadi sempurna." |
Tanggal : 5 Agustus 1998 Bacaan : 2 Kor. 12:7-10 Refleksi : Penderitaan bisa menghancurkan seseorang dan bisa pula membuat seseorang makin bertumbuh. Iman Kristen tidak meniadakan kesulitan dan tidak melupakan penyertaan Allah. Doakan Bersama : Berbagai masalah yang kita alami kiranya semakin membawa kita (lebih) ke dalam jalan-jalanNya, supaya rencana Tuhan terlaksana melalui hidup kita. |
Kebesaran dan keagungan iman seseorang tidak ditentukan seberapa banyak
cobaan dan kesulitan hidup yang menimpanya, namun bagaimana sikap menghadapinya. Orang yang kerdil jiwanya berharap tidak ada kesulitan dan cobaan dalam hidupnya, sebaliknya jiwa orang besar menyadari dan menerima fakta bahwa hidup selalu ada kesulitan dan cobaan yang harus ditundukkan bila ingin menjadi kuat dan berhasil. Kita bisa melihat teladan hidup Rasul Paulus, kesetiaan pelayanannya tidak perlu diragukan lagi, bahkan ia sering mendoakan untuk kesembuhan penyakit orang lain, namun penyakitnya sendiri tidak bisa sembuh meski ia sudah berdoa dengan sungguh-sungguh sampai 3 kali (ay.8). Paulus tidak menjadi bersungut-sungut apalagi menyalahkan Tuhan namun dengan sikap yang agung ia menerima dengan rela dan senang hati. Paulus menyadari bahwa dalam kelemahan dan kesulitan seberat apapun ia makin dikuatkan oleh penyertaan dan janji-janji Tuhan (ay.9). Yang harus diingat tatkala kita menghadapi kesulitan adalah Allah yang kita percaya jauh lebih besar daripada apa yang kita pikirkan, Ia jauh lebih baik daripada yang kita bayangkan. Masalah utama yang kita hadapi adalah kita tidak dapat mengenal Allah sebagaimana keberadaanNya. Hari ini peganglah janji Allah yang pasti dan tidak berubah. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok, namun kita tahu siapa yang menguasai hari esok. "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai engkau tidak akan dihanyutkan." (Yes. 43:2). |

Duduk Diam Di Kaki Tuhan "Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, itulah yang kuingini: diam
di rumah Tuhan seumur hidupku, menyaksikan kemurahan Tuhan dan menikmati
baitNya." |
Tanggal : 6 Agustus 1998 Bacaan : Luk. 10:38-42 Refleksi : Allah menghendaki persembahan diri kita sebelum persembahan pelayanan kita. Doakan Bersama : Gereja-gereja Tuhan diseluruh dunia, kiraya Tuhan terus membangun mereka dalam kebenaran FirmanNya. |
Dr. Archibald D. Hart, dalam bukunya "Habits of the Mind"
(Kebiasaan Pikiran), mengisahkan tentang seorang pendeta yang mendapat serangan
jantung beberapa tahun yang lalu. Ia adalah seorang pendeta yang dinamis
dan karismatis. Ia menganggap bahwa hal-hal "besar" saja yang
penting, seperti berkhotbah dihadapan orang banyak dan mencapai tujuan besar.
Dia mengabaikan hal-hal kecil, seperti mengambil waktu istirahat, menikmati
liburan, atau melewatkan waktu untuk santai dan mencium harumnya bunga. Diperlukan serangan jantung bagi pendeta ini untuk benar-benar mengguncang prioritasnya. Ketika ia terbaring sakit, ia menemukan Tuhan kembali. Ia menemukan kebenaran teologis yang besar: Tuhan lebih dulu tertarik pada pemujaan kita dan hanya setelah itu kebaktian kita. Pengejaran akan hal-hal "besar" dalam pelayanannya sebagai pendeta, bukan pencarian akan Tuhan (dan itu ada perbedaannya), adalah apa yang nyaris menewaskannya. Hal yang sama seringkali menjadi masalah kita. Kita sering terlalu disibukkan oleh "pelayanan untuk Tuhan" sampai kita melupakan yang terpenting: "duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya." Kita sering kali menjadi Marta yang kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara dan melupakan bagian yang terbaik dari Allah. Kita melakukan kekeliruan dengan berpikir bahwa Allah lebih mengutamakan pelayanan kita daripada pemujaan kita; bahwa Allah mengutamakan hal-hal "besar" daripada pencarian akan Tuhan. Bagi Tuhan hanya satu yang perlu: "duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya." |

Berapa Lama Lagi, Tuhan! "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan,
dan bertekunlah dalam doa!" |
Tanggal : 7 Agustus 1998 Bacaan : Hab. 1:2-4 Refleksi : Mengapa kita berdoa, dan apa saja yang kita doakan? Doakan Bersama : Gerakan Sembako yang dilaksanakan kiranya boleh terus dipakai Tuhan untuk menolong orang-orang yang betul-betul membutuhkan. |
Ketika kehidupan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, maka orang
mulai bertanya: Mengapa Tuhan membiarkan saya menderita? Kalau dia adalah
seorang yang beriman, biasanya dia akan berdoa supaya Tuhan menolong dia
lepas dari masalah atau penderitaan yang sedang dihadapi. Tapi ketika masalah
terus berlarut-larut, maka akan bertanya: Berapa lama lagi Engkau biarkan
penderitaan ini Tuhan? Reaksi seperti itu menunjukkan betapa manusia terperangkap dengan kelemahan kedagingannya, kelemahan keegoisannya. Manusia selalu cenderung menolak pengalaman yang tidak menyenangkan, dan kadang secara tidak disadari bahkan memperalat Tuhan untuk itu. Pergumulan nabi Habakuk mengungkapkan beberapa aspek kebenaran tentang doa permohonan manusia dan misteri rencana Allah yang tidak terjangkau. Habakuk melihat kehidupan umat yang tidak mencerminkan kebenaran sebagaimana seharusnya. Sebagai umat pilihan, bangsa Israel seharusnya hidup sesuai hukum yang telah Allah berikan melalui Taurat, tetapi yang terjadi justru sebaliknya; umat hidup secara liar. Yang kuat menindas yang lemah, kejahatan merajalela, sampai kedamaian tidak ada lagi karena hukum ditunggangi demi kepentingan pribadi atau kelompok. Habakuk melihat kenyataan seperti itu dan dia berdoa demi kepentingan dan kebaikan umat. Dan nampaknya cukup lama Habakuk berdoa kepada Tuhan. Menghadapi kondisi yang tidak menentu dan penuh ancaman seperti belakangan ini, berapa banyak orang Kristen yang berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan? |

Jawaban Tuhan Yang TakTerduga "Sebab sesungguhnya, Akulah yang membangkitkan orang Kasdim,
bangsa yang garang dan tangkas itu, yang melintasi lintang bujur bumi untuk
menduduki tempat kediaman, yang bukan kepunyaan mereka." |
Tanggal : 8 Agustus 1998 Bacaan : Hab. 1:5-11 Refleksi : Gereja Tuhan yang sedang terus berdoa untuk kondisi kehidupan negara dan bangsa, harus mengerti kebenaran ini, yaitu Allah punya rencana yang tidak bisa dipaksakan untuk diubah supaya kita cepat lepas dari kesusahan. Doakan Bersama : Karakter kita sebagai orang Kristen agar setiap hari mau diubah oleh Tuhan sendiri untuk menjadi semakin indah sehingga menjadi kesaksian hidup dan memuliakan Tuhan. |
Dengan motivasi yang benar dan beban yang berat Habakuk berdoa dan terus
berdoa, tapi sepertinya Tuhan belum juga menjawab. Dan ketika jawaban Tuhan
datang, jawaban itu justru lebih mengejutkan lagi karena jawaban Tuhan adalah
persis kebalikan dari yang dia harapkan. Tuhan bukan saja tidak meluluskan permohonannya, bahkan Dia akan melakukan tindakan yang akan membuat umat lebih sengsara lagi. Tuhan akan membangkitkan bangsa Kasdim atau bangsa Babel untuk semakin menindas mereka. Ini adalah jawaban yang secara manusia tidak masuk akal. Yahweh menekan dan menindas umatNya sendiri dengan memakai tangan bangsa lain adalah hal yang bertentangan dengan logika agama manapun ada pada waktu itu. Pada zaman itu orang percaya bahwa dewa atau ilah yang mereka sembah, secara otomatis menjadi semacam pelindung bagi umat yang menyembah. Demikian juga Yahweh sudah terbukti selama ini sebagai Allah yang melindungi bangsa Israel. Mereka percaya bahwa ketika umat terdesak dan menderita, lalu berseru kepada nama Allah, maka Allah akan menolong menyelamatkan mereka, dan ini telah berkembang menjadi semacam rumusan teologis yang salah. Jawaban Allah kepada Habakuk mengajarkan bahwa Allah tidak harus menjawab seperti yang diminta. Permintaan doa yang benar sekalipun, tidak selalu akan mendapat jawaban; "Ya". Bukan karena Habakuk salah berdoa, tapi karena Allah mempunyai rencana yang lebih tinggi dari kemampuan Habakuk untuk menjangkaunya. |

Ujian Kasih "Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita
orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah." |
Tanggal : 9 Agustus 1998 Bacaan : Rm. 5:6-11 Refleksi : Jikalau Yesus dapat menghancurkan tembok-tembok yang menghalangi Ia menyatakan kasihNya kepada kita, pantaskah kita untuk tidak melakukan seperti apa yang telah Ia lakukan? Doakan Bersama : Pakar ekonomi agar diberi hikmat oleh Tuhan, sehingga mereka dapat memperoleh jalan keluar yang terbaik untuk memulihkan ekonomi Indonesia. |
Kasih yang sering dilakukan saat ini, yaitu kasih yang dinyatakan kepada
orang-orang yang berasal dari latar belakang yang sama atau yang baik kepada
kita. Mengapa? Sebab ini adalah hal yang termudah untuk dilakukan. Namun
yang menjadi pertanyaan yaitu apakah ini yang dimaksud dengan kasih yang
diajarkan oleh Tuhan Yesus? Rm. 5:6-11 menyatakan bahwa pada waktu kita
masih berdosa, hidup bertentangan dengan kehendak Allah, namun semua itu
tidak menjadi tembok penghalang untuk kasih Yesus dicurahkan bagi kita. Kasih orang Kristen harus seperti apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Kasih memang perlu diuji, ia harus dapat mengalahkan tembok-tembok kebencian, permusuhan, rasialisme, latar belakang sosial, dll. Kita memang perlu menguji apakah selama ini, kasih kita kepada orang lain telah melewati tembok-tembok pemisah yang ada, ataukah hanya sebatas ruang lingkup atau sistem yang sama dengan kita. Yesus adalah satu-satunya manusia yang memang dapat melakukan kasih dengan sempurna. Ia membuktikan kemenanganNya atas ujian dalam hal menyatakan kasih kepada siapa pun dan dari latar belakang apapun. Memang kita tidak akan dapat persis melakukan seperti apa yang telah Yesus lakukan, tapi sebagai anak Tuhan kita perlu memulai untuk mencoba dari tempat di mana kita berada, atau ditengah-tengah lingkungan masyarakat yang berbeda dalam berbagai segi kehidupan dengan kita. Sudahkah kita mencobanya? Jika sudah, berarti kita telah berhasil dalam ujian untuk menyatakan kasih Allah yang telah kita terima kepada orang lain. |

Janji Dari Allah "Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi
kasih setiaKu tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damaiKu tidak
akan bergoyang, firman Tuhan, yang mengasihani engkau." |
Tanggal : 10 Agustus 1998 Bacaan : Yes. 54:1-10 Refleksi : Mungkin kita sering dikecewakan oleh sesama kita, tapi jangan putus asa dan kecewa sebab Yesus Kristus tidak pernah mengecewakan Anda, yakinlah! Doakan Bersama : Pertobatan oknum-oknum yang memicu kerusuhan agar terus dipelihara oleh Tuhan, dan boleh menjadi kesaksian bagi yang lainnya. |
Janji manusia sering tidak dapat ditebak. Kadang tepat, tapi kebanyakan
ingkar. Lalu bagaimana dengan janji Allah? Layakkah disebut ingkar? Mari
kita melihat beberapa catatan bagaimana Alkitab menjawabnya. Nabi Yesaya memaparkan bahwa Allah konsisten dengan perjanjian yang ditetapkanNya semula. Terbukti ketika Allah pernah mengadakan perjanjian dengan manusia, bahwa Ia tidak akan menyatakan murkaNya lagi sekalipun tidak setia, "Perjanjian damaiKu tidak akan goyang..." (ay.10) Kesetiaan Allah harus diimbangi dengan kesetiaan manusia. Di sini janji Allah merupakan suatu tuntutan bagi manusia untuk setia. JanjiNya akan dialami hanya oleh mereka yang setia kepada Allah. Bacaan ini menggambarkan bagaimana sisa Israel yang setia kembali ke Yerusalem. Sekalipun Yerusalem telah hancur, namun mereka meyakini bahwa perjanjian Allah akan membawa suatu pemulihan dan berkat (ay. 1-3). Mereka ternyata menjadi alat Tuhan untuk meneruskan karyaNya sampai menjadi nyata di dalam karya Kristus Yesus. Janji Allah berarti harapan mereka. Sebaliknya mereka yang ingkar tidak akan pernah mengalami perjanjian Allah. Janji itu juga berlaku buat kita sekarang. Bahwa senantiasa mengadakan perjanjian dengan umatNya. Allah menyatakan diri dan manusia meresponi apa yang Ia perbuat. Allah berbicara, manusia mendengar, Ia memerintahkan manusia menjalankan. Peristiwa sesudah Pentakosta mengingatkan kepada kita bahwa janji Allah terbukti. Roh Kudus jadi pembimbing di tengah-tengah hidup orang pecaya. Ia sudah menetap dan sedang bekerja dalam hati kita. Mari kita renungkan kembali karyaNya bagi hidup kita. |

Harga Keberanian "Karena Yohanes pernah menegornya, katanya; Tidak halal engkau
mengambil Herodias." |
Tanggal : 11 Agustus 1998 Bacaan : Mat. 14:1-12 Refleksi : Saat kita berpegang kepada kebenaran sesungguhnya kita sudah komitmen berseberangan dengan kejahatan, kepalsuan dan ketidakadilan. Doakan Bersama : Orang-orang yang sakit, kekurangan, mencari pekerjaan, dan bermasalah agar tidak undur iman dan tetap bersandar pada Tuhan. |
Herodes termasuk raja yang jahat, bahkan kelakuannya cenderung tidak normal
dan sadis. Ia menenggelamkan adiknya Salome di sebuah kolam di Yerikho karena
dengki. Ia membunuh istrinya Mariamne (orang yahudi). Tidak hanya itu. Ia
juga membunuh mertuanya, iparnya, sehingga seorang komentator menulis tentang
dia: "Dipandang dari sudut agama, ia adalah seorang Yahudi; Dari sudut
ras maka ia adalah seorang Edom; Dari sudut kesetiaan kepada negara, maka
ia adalah orang Romawi. Ia sesungguhnya adalah raja setan dan bermuka banyak." Bisa saudara bayangkan, raja seperti itulah yang ditegur Yohanes Pembabtis dalam perikop kita di atas. Herodes sangat menjaga gengsi, kehormatan dan kebanggaannya di muka umum. Perhatikan bagaimana ia harus menepati janjinya kepada putri Herodias demi tamunya? (ay.9). Maka betapa marahnya dan murkanya Herodes saat ditergur masalah pribadinya oleh Yohanes. Tetapi Yohanes berani. Berani bukan berarti adu fisik. Berani bagi Yohanes adalah menyatakan dan menegakkan kebenaran. Bagi Yohanes, Herodes telah berdosa dengan mengambil adik iparnya sendiri sebagai istrinya. Keluarganya saja dibunuh apalagi hanya seorang Yohanes? Maka Yohanespun dihabisi. Harga keberanian Yohanes begitu mahal, yaitu kepalanya sendiri, dan Yohanes tahu resiko itu. Tetapi bagi Yohanes kebenaran adalah di atas segalanya. Dan saat kita berpegang demikian maka kita harus sadar bahwa kita terus menerus berada di dalam resiko yang sama dengan Yohanes Pembabtis Beranikah kita demikian? |

Ulang Tahun "Dan kepala Yohanes itupun dibawa orang di sebuah talam, lalu
diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya." |
Tanggal : 12 Agustus 1998 Bacaan : Mat. 14:1-12 (lanjutan) Refleksi : Marilah kita meminta agar Tuhan memberikan kita hati yang penuh kepekaan agar jangan sampai dinilai oleh Tuhan sebagai orang yang menari-nari di atas penderitaan orang lain. Doakan Bersama : Penduduk di pedesaan yang mengalami kesulitan karena meningkatnya harga barang-barang sehingga mereka hidup penuh kekurangan. |
Pernahkah anda merayakan ulang tahun anda atau menikmati perayaan ultah
siapapun? Bagaimana kesan anda setelah menikmatinya? Biasanya semarak dan
banyak sukacitanya. Tapi bicara sukacita. Itupun subjektif. Tergantung siapa
yang menikmati sukacita itu. Hal yang sama terjadi saat Herodes merayakan ultahnya. Tentu ada sukacita di sana. Apalagi yang merayakan adalah seorang raja. Saudara bisa membayangkan kemewahan acara itu. Namun, sukacita bagi Herodes belum tentu sukacita bagi umat Kristen waktu itu. Saudara bisa bayangkan, hadiah untuk WIL-nya saja pada waktu ia merayakan ultahnya adalah kepala seorang manusia. Bahkan kepala seorang yang dikatakan Yesus sebagai orang yang paling besar yang pernah dilahirkan oleh seorang manusia dalam dunia ini (Mat.11:7). Herodes menari-nari di atas penderitaan orang percaya. Itulah salah satu ciri khas ultah orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Habibie pernah dikritik oleh kelompok Mochtar Pakpahan karena merayakan ultahnya di tengah-tengah penderitaan rakyat saat ini. Koran Jawa Pos 17 Juli yang lalu memberitakan bagaimana keluarga mantan Presiden Soeharto bersenang-senang di atas penderitaan warga sekitar Tapos selama puluhan tahun. Dikarenakan tanah mereka dirampas dengan paksa. Itu perbuatan-perbuatan orang yang tak ada kasih. Tapi pernahkah kita terjerumus dalam hal yang sama. Mungkin dalam skala yang lebih kecil. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak punya kuasa, uang, nama, pekerjaan; atau karyawan, pembantu kita? Bagaimana kita memperlakukan mereka? |

Mengasingkan Diri "Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ,
dan hendak mengasingkan diri... untuk berdoa seorang diri." |
Tanggal : 13 Agustus 1998 Bacaan : Mat. 14:13-23 Refleksi : Apakah kita sudah menjadi budak kerja; budak pelayanan; budak kepopuleran sehingga kita lupa kapan untuk keluarga; kapan untuk Tuhan? Doakan Bersama : Keluarga, sahabat, kerabat, dan rekan kerja anda yang belum percaya kiranya Tuhan membuka jalan dan memakai anda sebagai penyalur berkat dan keselamatan bagi mereka. |
Serial silat yang mengisahkan perjuangan orang China melawan penjajahan
Jepang di RCTI "Fist of Fury" mengisahkan bagaimana seorang wakil
Jepang Okinawa di daratan Tiongkok yang buta terhadap gengsi, kedudukan
dan kehormatan, yang mengakibatkan ia tega membunuh istri dan anaknya demi
semua itu. Ia orang yang tidak bisa menempatkan karir dengan keluarga. Ia
tergila-gila dengan kebanggaan/ketenaran pribadi. Akhirnya, iapun mati dalam
kebodohannya. Tuhan Yesus waktu itu sudah terkenal, namanya dikenal dimana-mana dan orang selalu mengharapkan pelayanannya. Tetapi Yesus bukan budak ketenaran, budak pelayanan. Ia tahu kapan ia harus melayani orang lain; kapan harus melayani keluarganya; kapan harus melayani murid-muridnya; kapan harus bersama-sama dengan BapaNya tanpa seorangpun menggangguNya. Berita duka tentang kematian Yohanes Pembabtis ditanggapi Yesus dengan satu hati yang kuat untuk berdoa seorang diri pada BapaNya (ay.23). Inilah beda orang rohani dengan tidak. Orang yang tidak rohani biasanya akan marah dan tidak bisa mengontrol emosi, depresi, menyalahkan Tuhan, atau orang itu tidak peduli sama sekali dan terus mencari kepopuleran. Berbeda yang Yesus lakukan (besok kita bahas bahwa dengan memberi makan lebih 5000 orang bukan karena Yesus tidak peka). Ia tahu bahwa duka; pergumulan yang Ia hadapi dalam pelayanannya hanya dapat diatasi bila persekutuan dengan BapaNya terpelihara dengan baik. Itulah sebenarnya yang harus kita lakukan. Datang kepadaNya. |

Kebutuhan Atau Kasih? "Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya,
maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan...dan Ia menyembuhkan mereka
yang sakit." |
Tanggal : 14 Agustus 1998 Bacaan : Mat. 14:13-21 Refleksi : Saat kita belajar melakukan kasih yang keluar dari kebutuhan kita yang mendesak, maka sesungguhnya Tuhan sedang mempersiapkan berkat yang melebihi kebutuhan yang sebelumnya kita kesampingkan itu. Doakan Bersama : Orang-orang percaya yang mengalami penganiayaan di negara-negara yang menolak Injil agar kuasa salibNya menjadi sumber kekuatan dan penghiburan untuk tetap bertahan dalam Dia. |
Kebutuhan Yesus yang paling utama setelah mendengar kematian Yohanes Pembabtis
adalah mengasingkan diri dari orang banyak. Namun kebutuhan utama Yesus
itu tidak menghapuskan kepekaanNya kepada orang banyak. Bagi Yesus kebutuhan
memang harus dipenuhi tetapi dapat ditunda demi sesuatu yang lebih penting
dan berharga. Itulah yang dilakukan Tuhan Yesus. Ia mengesampingkan kebutuhan pribadiNya, "egoisme"Nya. Kasih Yesus lebih besar dari kebutuhanNya. Kasih pada orang banyak itu menggerakkan hatiNya. Bukan untuk kepopuleranNya, karena waktu itu Yesus memang sudah bermaksud mengasingkan diri. Namun, kita melihat akibat kasih yang keluar dari pengorbanan kepentingan diri sendiri. Kasih yang keluar dari hati, yang sebenarnya Ia pun membutuhkan perhatian khusus dari BapaNya saat itu. Benar perkataan Yesus bahwa Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Ingat peristiwa murid-murid yang mencari roti, namun Yesus melayani perempuan Samaria dengan mengatakan, "MakananKu adalah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku." (Yoh.4:34). Padahal yang dibutuhkan Yesus waktu itu adalah makanan jasmani. Namun, kasihNya untuk keselamatan perempuan itu jauh lebih besar dari sekadar kebutuhanNya yang bisa ditunda. Dalam perikop kita, kasih Yesus itu berdampak luar biasa. Mujizat yang besar terjadi. Bahkan dengan makanan yang berkelimpahan. Marilah kita belajar mendahulukan kasih ilahi itu kepada orang lain, maka kita akan melihat berkat yang berkelimpahan. |

Tenanglah, Jangan Takut! "Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah!
Aku ini, jangan takut!" |
Tanggal : 15 Agustus 1998 Bacaan : Mat. 14:22-32 Refleksi : Pernahkan kita mengenali Tuhan kita sebagai hantu dan sebaliknya; tawaran-tawaran dari hantu (setan) kita anggap dari Tuhan. Mintalah Tuhan memberikan petunjukNya. Doakan Bersama : Para pemimpin Kristen, lembaga Kristen, Yayasan Kristen, LSM , dan ormas-ormas Kristen untuk senantiasa bersatu, bergandengan tangan, saling mendukung, dan saling mendoakan. |
Siapapun yang mengalami peristiwa yang dialami oleh para murid dalam perikop
kita ini pasti akan merasakan hal yang sama, ketakutan. Saudara bisa bayangkan
jam tiga pagi, dengan udara yang dingin, dengan perahu yang sedang diombang-ambingkan
angin sakal, tiba-tiba muncul sesosok tubuh dari kejauhan. Bukankan itu
menambah ketakutan mereka? Apalagi Sang Guru yang selalu membawa suasana
damai dikala mereka kebingungan, secara fisik tidak bersama-sama dengan
mereka. Ini membawa kekuatiran tersendiri. Namun, sesungguhnya Yesus tidak pernah sedetikpun meninggalkan mereka (walaupun secara fisik, ya) dan Yesus tidak pernah bermaksud menakut-nakuti mereka seperti anak kecil. Tidak. Benar, Yesus membiarkan mereka sementara waktu untuk mengetahui reaksi iman mereka. Hal itu perlu untuk menguji sampai sejauh mana kedewasaan iman para murid waktu itu. Tetapi Yesuspun tidak membiarkan mereka terus larut di dalam ketakutan. Bagi Yesus ada waktu para murid belajar bergantung pada Tuhan tanpa kehadiranNya secara fisik. Dan ada waktunya menampakkan diriNya. Setelah Yesus disalah kenal oleh para murid, segera Yesus mengoreksi kesalahan mereka. Dan koreksi itu membawa ketenangan kepada para murid. Tuhan tidak akan membiarkan kita mengalami penderitaan sampai membuat kita tidak mengenal Dia. Kalau Ia memang mengasihi kita maka Tuhan akan menolong kita pada waktu yang tepat. Dan disitulah ketakutan berubah menjadi ketenangan. |

Kerukunan "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara
dia, bersama dengan rukun!" |
Tanggal : 16 Agustus 1998 Bacaan : Mzm. 133:1-3 Refleksi : Apakah kita selama ini, lebih banyak berteori daripada praktek? Jadilah teladan dalam sikap dan perkataan dan jauhilah omongan yang kosong. Doakan Bersama : Mohon Tuhan memelihara semangat pelayanan kita sebagai anak-anak Allah di tengah-tengah semakin sibuk dan sulitnya tantangan hidup. |
Kita sering berbicara tentang kerukunan dalam masyarakat maupun kerukunan
keluarga. Pertanyaan mendasar ialah kerukunan itu di mulai dari mana? Siapa yang harus memulainya? Mzm. 133, hendak mengingatkan bahwa kerukunan itu suatu tindakan dan perbuatan keteladanan yang di mulai dari atas. Mengapa? Kerukunan itu laksana minyak yang disiram di kepala Harun sampai kejanggutnya (ay.12) dan bagai embun dari gunung Hermon (ay.13). Bacaan kita menegakkan bahwa kerukunan harus dicontohkan dari atas. Bukankah orang tua harus memberikan contoh yang benar kepada anak-anaknya? Bila para pemimpin tidak rukun satu dengan yang lain akan membawa akibat perpecahan. Di dalam gerejapun wajib membina kerukunan itu. Bukan hanya dalam ceramah dan khotbah. Bukan hanya menuntut warga gereja untuk melakukannya. Tetapi harus lebih banyak dicontoh oleh para gembala dan pemimpin. Lalu apa manfaatnya bila kerukunan itu terbina dengan baik? Apa hubungannya memberikan contoh dan teladan dalam hal terciptanya kerukunan? Ayat 3b mengatakan "Kesanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan untuk selamanya." Begitulah pesan Mazmur bagi kita. Bahwa kerukunan itu adalah tindakan yang dicontohkan dari atas, mulai dari keluarga, masyarakat dan gereja. Kehidupan damai dalam relasi-relasi yang harmonis itu di mulai dari bapa dan ibu, para pemimpin dan gembala, supaya anak-anak memahami dan memberlakuan kerukunan. Maka akan dianugerahkan berkat dan kehidupan oleh Tuhan. Kebaikan dan kekuatan yang menggerakkan pembaharuan akan diberikan oleh Tuhan. |

Kesetiaan "Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya
itu, ketika tuannya itu datang." |
Tanggal : 17 Agustus 1998 Bacaan : Mat. 25:14-30 Refleksi : Orang yang setia dengan pekerjaan yang nampaknya "kecil", adalah orang yang membuktikan dirinya sebagai hamba yang setia. Doakan Bersama : Sikap kita sebagai orang Kristen di dalam beribadah agar benar-benar mempunyai hati yang takut dan hormat kepada Tuhan. |
Ada kisah tentang seekor kucing yang hidup selama bertahun-tahun dengan
tuannya. Waktu berlalu, hingga sang kucing akhirnya menjadi tua dan tidak
setangkas dahulu. Suatu saat kucing berpikir bahwa ia telah tua dan lamban
sehingga mungkin tidak dibutuhkan lagi oleh tuannya, akhirnya sang kucing
pun lari meninggalkan tuannya. Seperti kucing dalam cerita di atas, sering kali kita berpikir bahwa untuk melayani Tuhan, kita harus melakukan perkara-perkara yang besar. Kita harus tampil di depan umum, berkhotbah, memimpin pujian, atau melakukan tugas-tugas yang nampaknya besar barulah kita mau setia melayani. Hal-hal yang nampaknya "kecil" seringkali kita abaikan. Ternyata konsep dan tindakan seperti itu tidak sesuai dengan prinsip pelayanan yang ada dalam Alkitab. Firman Tuhan justru mengajarkan supaya dalam pelayanan sekecil apapun kita harus setia (ay. 21). Kita memang tidak boleh setia hanya dengan pekerjaan yang besar, karena seharusnya tolok ukur kesetiaan dalam melayani Tuhan sama sekali tidak bergantung pada ukuran yang seringkali kita pakai. Penilaian Tuhan lebih dari sekedar ukuran kualitas dan kuantitas, tapi juga melihat hati, dan motivasi. Mari kita belajar untuk setia di dalam melayani Tuhan, sekalipun pekerjaan yang diberikan hanya dalam ukuran "pekerjaan belakang layar" tetapi ingat firman Tuhan sendiri berkata "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik dan setia; engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar." (ay. 23) |

Hidup Dalam Pengampunan "Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar
merdeka." |
Tanggal : 18 Agustus 1998 Bacaan : 1 Yoh. 3:19-24 Refleksi : Hidup di dalam pengampunan adalah hidup didalam Kristus. Doakan Bersama : Minta keberanian untuk menyatakan kebenaran di lingkungan masing-masing agar terang Tuhan dapat terpancar melalui setiap orang Kristen. |
Banyak orang yang mengaku percaya kepada Kristus seringkali tidak hidup
di dalam pengampunan yang sesungguhnya. Mereka "percaya" bahwa
Kristus telah mengampuni mereka, namun hati nurani mereka tidak dapat memaafkan
diri mereka sendiri. Hal ini membuat mereka terus menerus dikejar oleh masa
lalu mereka dan mereka tidak dapat hidup di dalam kemerdekaan Kristus yang
sebenarnya. Sesungguhnya mereka tidak hidup dalam kepercayaan yang tenang
melainkan dalam kekuatiran yang merisaukan. Salah satu penyebab dari hal ini mungkin adalah karena kita tidak mengerti makna pengampunan yang sesungguhnya dan menganggap bahwa dosa kita terlalu banyak, terlalu kotor dan terlalu najis untuk diampuni oleh Allah. Satu anggapan yang keliru dan tidak alkitabiah. Mengenai hal ini, Yohanes mengingatkan kita pada beberapa pokok kebenaran: 1. Kita berasal dari kebenaran. Ketika kita mengaku percaya kepada Kristus, kita terhisap dalam kematian dan kebangkitan Kristus sehingga kita menjadi satu di dalam Kristus. Kita dilahirkan kembali di dalam kebenaran Kristus sehingga dapat dikatakan kita berasal dari kebenaran. 2. Allah lebih besar dari hati kita dan mengetahui segala sesuatu. Hati nurani yang menuduh kita bukanlah yang terpenting. Yang terpenting adalah kasih Allah, dan Ia mengetahui segala sesuatu. Ia mengetahui motivasi dan tindakan kita. Namun lebih dari itu, Ia mengetahui bahwa kita adalah milikNya. Inilah yang paling penting, bukan kebimbangan kita. |

Mengapa Tuhan Ijinkan "... Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan
kebaikan bagi mereka yang mengasihi dia..." |
Tanggal : 19 Agustus 1998 Bacaan : Rm. 8:18-30 Refleksi : Sesulit apapun penderitaan hidup hanyalah sementara. Sedang pengharapan yang Tuhan sediakan adalah bersifat kekal. Karenanya kita perlu mengarahkan dan memikirkan perkara yang di atas bukan hanya yang di bumi. Doakan Bersama : Adanya kebebasan pers di Indonesia supaya yang benar dapat dinyatakan sehingga menjadi sarana media informasi yang bertangggung jawab. |
Mengapa Tuhan tidak meluputkan orang Kristen dari penderitaan? Mengapa orang
Kristen sering menjadi mangsa dari kebiadaban dunia ini? Dan masih banyak
lagi pertanyaan yang mungkin berada di benak kita dan terasa sulit untuk
bisa kita mengerti. Sejak dunia jatuh dalam dosa, kekacauan terjadi dan orang Kristen pun tidak lepas dari cobaan dan penderitaan. Penderitaan bisa menimpa kita baik karena kelalaian kita ataupun maksud jahat orang lain. Satu hal harus kita ingat, apapun yang menimpa kita itu sudah seijin Tuhan yang kadang tidak dapat kita mengerti dan terima. Dibalik semuanya itu ada rencana Tuhan untuk mempersiapkan kita menjadi orang yang lebih murni dan kuat yang bisa menjadi saluran berkat bagi sekeliling kita (Rm. 8:28). Bila kita melihat situasi di negara kita, adakah harapan bagi orang percaya? Kepada siapakah kita harus menaruh harapan terhadap hari esok? Adakah jaminan dari pemerintah yang bisa menenangkan hati dan pikiran kita? Apapun penderitaan yang saat ini sedang menimpa kita, janganlah tawar hati dan merasa kita sudah habis. Dalam kesedihan dan penderitaan yang terdalampun Roh Kudus ikut membantu kita dalam doa yang tak terucapkan. Rasul Paulus mengingatkan bahwa pengharapan dan kemuliaan yang akan kita terima nanti adalah bersifat kekal dan tidak dapat dibandingkan dengan penderitaan hidup kita di dunia yang sementara ini (ay. 18). Yang harus kita lakukan adalah tetap bertekun dalam doa dan lebih giat melalukan tugas-tugas sebagai duta Kerajaan Surga, memberitakan Injil bagi banyak orang yang membutuhkan selama hari masih siang. |

Misteri Sejarah "Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah
heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam
zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceritakan." |
Tanggal : 20 Agustus 1998 Bacaan : Hab. 1:2-11 Refleksi : Tuhan sedang mendisiplin, memurnikan gerejaNya dengan memakai tangan orang-orang durhaka yang tidak takut kepada Dia, Dia juga sedang bekerja menggenapi rencanaNya atas bangsa dan negara Indonesia ini. Doakan Bersama : Anak-anak di seluruh dunia agar dapat mengatasi godaan seperti: obat-obat terlarang, tindakan kriminal, dan perbuatan amoral. |
Kehidupan sebagai umat Allah adalah kehidupan yang penuh dengan pergolakan
dan kesulitan, pencobaan dan konflik. Dan salah satu masalah yang harus
dihadapi oleh umat adalah kondisi dan situasi sejarah yang membingungkan.
Pergumulan Habakuk membuka pemahaman baru tentang misteri sejarah. Gereja telah hadir ratusan tahun di Indonesia ini, itu berarti gereja telah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Bukan hanya itu, kehadiran gereja di negara ini seharusnya menjadi penentu arah dari sejarah bangsa. Tuhan kita adalah Tuhan atas sejarah, yang berdaulat, yang mengendalikan sejarah, yang bekerja dalam konteks sejarah. Ajaran Alkitab bukanlah semata-mata tentang keselamatan manusia secara pribadi atau tentang hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan saja. Memang Alkitab menekankan masalah itu, tapi kita juga tidak seharusnya mengabaikan berita Alkitab bahwa Tuhan berkepentingan dengan sejarah, bahkan dengan dunia. Yang menjadi masalah dengan kita adalah kita sering melihat masalah hubungan Tuhan dengan ciptaanNya ini secara sempit, bahkan kita lebih sering hanya melihat masalah dan urusan kita pribadi saja. Kita tidak memahami pesan Alkitab secara jelas, bahwa Allah berkepentingan dengan dunia dan sejarahnya, dan Dia memakai gereja sebagai alatNya untuk menggenapi rencanaNya yang besar. Orang Kristen harus memahami bahwa Tuhan punya rencana yang lebih besar, bahwa Ia sedang bekerja, merajut sejarah gereja dalam suatu bangsa dan sejarah bangsa itu sendiri. Dan hari ini, Dia sedang mengerjakan keduanya di negara ini. |

Urapan Roh Allah "Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh Tuhan atas Daud.
Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama." |
Tanggal : 21 Agustus 1998 Bacaan : 1 Sam. 16:1-13 Refleksi : Adakah hari ini Anda dipenuhi Roh Kudus atas roh-roh penghulu dunia? Bukalah hatimu dan ijinkanlah Yesus tinggal didalamnya! Doakan Bersama : Berdirinya partai-partai baru, bukan malah memecah belah bangsa ini, tetapi mengakomodasikan segenap aspirasi rakyat Indonesia. |
Di dalam Perjanjian Lama, kita sering kali membaca tentang Roh Allah berkuasa
atas seseorang yang dipilih Allah untuk tugas tertentu, khususnya agar mereka
dapat bernubuat dan menyampaikan firman Allah bagi bangsa Israel. Misalnya,
ketika Allah memilih Bezaleel untuk membangun Tabernakel di padang pasir
dan Allah mengurapinya secara khusus dengan RohNya. "Berfirmanlah
TUHAN kepada Musa: Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari
suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan
pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, untuk membuat
berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak, dan tembaga; untuk
mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja
dalam segala macam pekerjaan." (Kel. 31:1-5) Dan Musa sendiripun
termasuk salah seorang yang telah menerima urapan khusus dari Roh Allah
(baca Bil. 11:16-17). Demikian pula yang diperbuat Allah ketika Ia mengurapi
Daud sebagai raja untuk menggantikan Saul. Sehingga pada saat kita membaca
ayat 13, firman Allah dengan jelas memberitahukan hal itu kepada kita. "Sejak
hari itu... berkuasalah Roh Tuhan atas Daud." Di dalam Perjanjian Lama, Allah memberikan RohNya hanya kepada orang-orang tertentu yang dipilih untuk melayani Dia sebagai nabi dan pemimpin khusus. Tidak demikian halnya dalam Perjanjian Baru. Perjanjian Baru, Yesus berkata kepada para pengikutNya, "Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran..." (Yoh. 14:16-17) |

Berguna Dan Bermanfaat "Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang... Kejarlah keadilan,
ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan." |
Tanggal : 22 Agustus 1998 Bacaan : 1 Tim. 6:6-16 Refleksi : Sudahkah aku mempergunakan pemberian Tuhan dalam hidupku menurut kehendakNya? Doakan Bersama : Para orang tua agar memberikan waktu dan perhatian dalam kebenaran kepada anak-anaknya dengan lebih bertanggung jawab. |
Oleander, adalah tanaman perdu yang paling sesuai untuk dijadikan sebagai
tanaman hias sepanjang jalan, karena tidak memerlukan banyak air dan perawatan
yang khusus. Tanaman itu akan menjadi tinggi dan melebar, serta memperindah
pemandangan dan melindungi rumah-rumah pribadi yang ada di sepanjang jalan.
Tanaman ini indah, kokoh, berguna, tetapi mengandung racun yang mematikan.
Keseluruhan tanaman oleander akan membawa kematian bila orang tidak waspada.
Adalah tidak aman untuk memakai kayu bakar dari cabangnya, karena asapnya
mengandung racun yang berbahaya. Kalau demikian kita mungkin berpikir, jahatkah tanaman oleander itu? Sesungguhnya tanaman ini merupakan pemberian Tuhan yang indah dan berguna, bila dipakai dengan cara yang tepat. Seperti oleander itu, semua pemberian Tuhan adalah baik, indah, dan bermanfaat. Akan tetapi keindahan, talenta, kepintaran, uang, kekayaan, bahkan kasih bila kita salah menggunakannya akan menimbulkan kejahatan. Pemberian yang indah itu akan menjadi racun, bila kita memakainya tidak pada tempatnya atau tidak semestinya. Ia dapat menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bila kita pakai untuk memperoleh kuasa atau kesombongan pribadi dalam menguasai semua ini untuk diri sendiri. Satu hal yang tidak boleh kita lupakan bahkan harus kita ingat bahwa setiap pemberian Tuhan harus dipakai sesuai dengan maksud pemberianNya dan jangan sampai kita berpikir bahwa setiap hal yang nampaknya "baik" bisa kita gunakan sesuai dengan keinginan diri sendiri. |

Tuhanku Lebih Mulia "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan
Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya." |
Tanggal : 23 Agustus 1998 Bacaan : Flp. 3:1-16 Refleksi : Adakah selama ini, kita lebih mengagungkan karier, jabatan, pangkat dan lain-lain lebih dari Yesus? Ingat, jangan sampai kebanggaan itu menjadi berhala bagi kita! Doakan Bersama : Pelaksanaan Sidang Umum MPR agar sesuai dengan waktu dan kehendak Tuhan dan dapat terlaksana dengan baik. |
Membaca dan merenungkan surat Paulus kepada jemaat di Filipi mengingatkan
kita dengan pengalaman Paulus dan Silas sewaktu di tangkap, disesah, oleh
tentara Romawi tanpa diadili. Kemudian tentara Romawi terkejut dan melepaskan
mereka karena status mereka sebagai warga negara Romawi (Kis. 22:23-29).
Sebagai warga negara, mereka mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan.
Tidak dapat dihukum tanpa diadili lebih dulu. Tidak boleh diancam untuk
mendapatkan suatu pengakuan, kalau diperlakukan tidak adil oleh pemerintah
setempat, ia berhak naik banding kepada kaisar. Surat Paulus kepada jemaat di Filipi dengan tegas menyatakan statusnya dalam masyarakat Yahudi. Ia disunat pada hari kedelapan (bnd. Luk. 2:21; Im. 12:3), suku Benyamin, orang Ibrani asli. Dalam pendirian terhadap hukum taurat, ia orang Farisi, menjalankan taurat ia tidak bercacat. Tetapi kata Paulus semuanya itu dianggap rugi karena pengenalan kepada Kristus. Maksudnya semua kebanggaan tentang status sosial di dalam masyarakat yang menjadikan kita sombong, congkak dan merasa lebih berharga dari orang lain tidak ada artinya dibanding dengan memperoleh keselamatan di dalam Kristus. Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara seorang terpelajar, mempunyai pangkat/jabatan/kedudukan dalam masyarakat dan dihormati? Kalau hal itu menjadikan saudara merasa berharga dan akhirnya menjadi berhala bagi saudara. Hati-hati! Banyak orang Kristen meninggalkan imannya demi jabatan, status dalam masyarakat. Ingat! Karena yang menjadikan kita berharga bukan status sosial tetapi keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus. |

Jurang Pemisah "... berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang
empunya Kerajaan Allah... Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena
dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan." |
Tanggal : 24 Agustus 1998 Bacaan : Luk. 16:20-25 Refleksi : Orang yang tidak memperlakukan orang lain "berbeda", adalah orang yang menggali jalan hidupnya menuju rumah Bapa yang kekal. Doakan Bersama : Keluarga, kesehatan jasmani dan rohani para pemerintah, agar dapat menjalankan roda pemerintah dengan jujur dan setia. |
Sangat menyedihkan jika dalam persekutuan anak-anak Tuhan, ada blok yang
sangat dalam antara si kaya dan si miskin. Sesungguhnya jurang pemisah terbesar
di antara mereka yaitu status dan kedudukan sosial. Apakah ini yang dimaksud
dengan persekutuan orang Kristen, persekutuan anak-anak Tuhan? Dalam cerita mengenai Lazarus dan orang kaya, Yesus tidak pernah memberitahu siapa yang menggali jurang yang terbentang di antara mereka, setelah mereka mati. Tetapi yang pasti bukan Allah. Mengapa? Karena Allah sebenarnya telah mengutus AnakNya untuk menjembatani jurang itu. Bahkan mereka yang disebut 'pencinta uang', Ia pun siap untuk mati. Sebenarnya jurang itu telah tergali jauh sebelum orang kaya itu mati. Ia mulai menggali dari rumahnya ke tempat tinggal yang kekal. Ia menggali dengan kepalanya dipalingkan dan genggaman yang ketat, dengan canda, serta pilihannya. Saat ini ada begitu banyak Lazarus-Lazarus yang duduk di dalam gereja. Apakah selama ini perlakuan kita terhadap mereka persis seperti orang kaya yang memandang dengan "tidak sedap" pada saat ia melihat Lazarus? Jika di hati Yesus (bnd. Luk. 6:20,21) ada tempat yang selalu tersedia untuk orang miskin, budak, yang terluka, yang terlupakan, yang terhina, apakah di hati kita masih ada tempat yang utuh untuk memandang mereka sebagai sesama saudara seiman, sebagai teman di dalam Tuhan? Mari kita berusaha hidup sebagai satu persekutuan dalam Tuhan, sebagai saudara seiman yang tidak pernah membeda-bedakan orang lain, sehingga sama sekali tidak ada jurang yang nantinya terbentang di antara kita. |

Siapa Anda Sesungguhnya? "Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi
anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya." |
Tanggal : 25 Agustus 1998 Bacaan : Ef. 2:1-10 Refleksi : Pemahaman Anda tentang siapa Anda menentukan apa yang Anda lakukan. Doakan Bersama : Negara-negara di dunia yang mengalami berbagai masalah, agar dapat diselesaikan dengan hati yang bijaksana dan terus bersandar pada pimpinan Tuhan. |
Jawaban apa yang akan Anda berikan jika pertanyaan,"Siapa Anda sesungguhnya?"
diajukan pada Anda? Jika pertanyaan itu diajukan pada saya, saya mungkin
akan menjawab,"Jimmy Lucas". "Bukan, itu nama Anda. Siapakah Anda?" "Oh, saya mahasiswa SAAT." "Bukan, itu status Anda." "Saya Warga Negara Indonesia." "Itu negara tempat Anda tinggal." "Saya orang Protestan." "Itu denominasi pilihan Anda." Saya juga bisa mendeskripsikan kondisi fisik saya. Tetapi segi-segi fisik dari saya itu juga bukanlah saya. Tanpa lengan, jantung atau ginjal saya, saya tetaplah saya. Jadi, siapa saya ini lebih daripada sekedar apa yang Anda lihat. Kita cenderung untuk menilai dari apa yang dapat kita lihat atau apa yang kita lakukan. Jika kita ditanya hal-hal yang berkaitan dengan iman kita, maka kita biasanya menyebut doktrin yang kita anut, denominasi pilihan kita atau peranan kita di Gereja. Kita seringkali berpendapat bahwa siapa kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan. Siapa kita tidak ditentukan dari apa yang kita lakukan. Sebaliknya, pemahaman kita mengenai siapa kita menentukan apa yang kita lakukan. Pengertian kita tentang siapa kita sesungguhnya merupakan dasar yang penting bagi struktur kepercayaan atau keyakinan kita, penting untuk pola tingkah laku kita sebagai orang Kristen. Identitas yang benar dari orang percaya tidak didasarkan pada apa yang dilakukannya atau apa yang dimilikinya, tetapi pada "siapa dia" di dalam Yesus Kristus. |

| Penyerahan Diri "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu..." ( Rm. 12:2 ) |
Tanggal : 26 Agustus 1998 Bacaan : Rm.12:1-8 Refleksi : Bertekad: Mengikuti Allah dengan segenap hati saya. Juga bertekad: tidak peduli orang lain melakukannya atau tidak, saya akan terus melakukannya (Jonathan Edwards). Doakan Bersama : Daerah-daerah dan suku-suku terasing yang belum terjangkau oleh peradaban, mohon Tuhan mengirim pekerjaanNya agar mereka boleh mendengar Injil. |
Di tengah masyarakat yang mengagungkan usaha untuk mempertahankan hidup,
kata penyerahan diri seolah-olah menjadi momok yang menakutkan. Pikiran
itu membuat merinding banyak orang yang hidup tanpa penyerahan diri. Pasangan
muda-mudi coba-coba memasuki pernikahan dengan menyusupkan jalan pintas
untuk meloloskan diri. Suami istri menunda kelahiran anak mereka untuk mempertahankan
kebebasan pribadi dan pilihan-pilihan mereka. Anak-anak menemukan diri mereka
menjadi korban ayah dan ibu mereka yang mencoba mengejar kebebasan pribadi
mereka. Penyebab atau akar dari semua ini adalah keegoisan dan keduniawian yang merangkak masuk, suatu keinginan untuk menjadi Kristen, tetapi hidup seperti orang bukan Kristenbukan dalam bidang-bidang yang jelas-jelas amoral, melainkan dalam gaya hidup. Pengumpulan harta benda, kedudukan, kekuasaan, dan keberhasilan mulai merasuki orang-orang Kristen yang mulai menghargai semua itu. Sesungguhnya, keinginan untuk hidup seperti orang bukan Kristen itu merupakan satu bentuk penyerahan diri juga. Hanya saja penyerahan diri yang berbahaya dan memakan korban. Penyerahan diri kepada dosa yang membuat kita terjebak dalam satu sistem yang tidak dapat kita lepaskan, kesia-siaan. Orang Kristen yang tidak ingin hidup dalam kesia-siaan adalah orang yang menyerahkan diri kepada Allah. Ia berhenti memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari yang patut dipikirkannya dan mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup. Ia menolak menjadi serupa dengan dunia ini dan mengakui ketuhanan Kristus dalam hidupnya. |

| Mengapa? "...tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya." ( Hab. 2:4b ) |
Tanggal : 27 Agustus 1998 Bacaan : Hab. 1-3 Refleksi : Iman yang dewasa adalah iman yang terus mempercayai Allah di dalam ketidakmengertiannya. Doakan Bersama : Orang-orang yang menjadi korban pemerkosaan, agar Tuhan memberikan damai sejahtera di hati mereka, mengampuni dan semakin mendekatkan diri pada Tuhan. |
Dalam sebuah acara retreat, seorang peserta bertanya kepada saya,"Jimmy,
mengapa Allah membiarkan orang Kristen menderita di tengah-tengah krisis
seperti ini? Mengapa Allah berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa ketika
kejahatan merajalela dimana-mana, seolah-olah Ia menyetujui kejahatan itu?"
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sangat sulit saya jawab, karena terus
terang, saya pun mengajukan pertanyaan yang sama dan belum mendapatkan jawabannya. Ketika saya kembali kepada Alkitab, saya mendapati bahwa Habakuk pun, pernah mengajukan pertanyaan yang sama. Ia berseru, "Penindasan!" namun Allah seolah-olah tidak mendengar dan membiarkannya melihat kelaliman. Apakah Allah membisu? Apakah Ia kehilangan kuasaNya? Atau apakah Ia menyetujui segala bentuk kejahatan terjadi di muka bumi? Allah kemudian menjawab Habakuk, bahwa Ia sedang mengerjakan sesuatu yang sangat sulit dimengerti oleh Habakuk, untuk menyatakan kemahakuasaanNya di muka bumi. Bahwa Ia adalah Allah segala keadilan dan kebenaran yang akan menghukum segala jenis kejahatan dengan cara yang sulit untuk dimengerti. Dan bahwa Ia adalah Allah yang mengasihi dan akan memulihkan umatNya. Apakah Habakuk mendapatkan jawaban yang ia inginkan? Tidak! Tetapi ia merasa lega karena ia tahu, ia dapat terus mempercayai Allahnya. Saya pun belum mendapatkan jawaban yang saya inginkan. Namun, saya akan mengambil sikap seperti Habakuk, terus mempercayai Allah, bahwa Allah baik dan bahwa Ia sedang mengerjakan sesuatu untuk kebaikan umatNya. |

Muda Tetapi Matang (1) "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.
Jadilah teladan bagi orang-orang percaya..." |
Tanggal : 28 Agustus 1998 Bacaan : Dan 1:1-21 Refleksi : Keyakinan dan pemahaman kepada Allah yang benar seseorang dapat dilihat dari bagaimana orang tersebut menerima segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya sebagai rencanaNya tanpa curiga kepada Nya. Doakan Bersama : Kualitas dan kuantitas kesaksian gereja
dalam masyarakat luas. |
Daniel dan kawan-kawannya dibawa ke Babel, pada tahun ketiga pemerintahan
raja Yoyakim. Saat itu Daniel diperkirakan berusia 14 tahun. Raja Yoyakim
adalah putra raja Yosia, salah satu raja Yehuda yang baik dan melakukan
apa yang benar dimata Tuhan. Ia mengadakan pembaharuan bagi bangsa Yahudi
kembali ke rumah Tuhan dan membaca kembali kitab Taurat (II Raj. 22-23).
Pada masa inilah Daniel dibesarkan dan berkesempatan belajar Taurat Tuhan
sampai ia berusia 11 tahun. Tetapi berbalikan dengan kehidupan raja Yoyakim. Ia melakukan apa yang jahat dimata Tuhan (II Raj 23:37). Namun pemerintahan raja Yoyakim dibawah kendali Firaun Nekho, raja Mesir (II Raj 23:34). Mereka harus membayar upeti kepada Firaun dan rakyat harus membayar pajak. Juga penggantian nama dari Elyakim menjadi Yoyakim. Tindakan ini merupakan tindakan pelecehan dan penghancuran karena semua ini merupakan upaya untuk menghilangkan identitas dan menjatuhkan semangat patriot bangsa. Dengan situasi demikian tidak menutup kemungkinan adanya larangan untuk bangsa Yahudi membaca Taurat Tuhan dan kehidupan mereka sangat sengsara. Disini kita bisa melihat bahwa Daniel dibesarkan dua kondisi yang berlawanan. Tetapi yang menarik disini kondisi yang demikian tidak menggeser keyakinannya akan Allah. Terlihat dari sikap Daniel tidak pernah menunjukkan pemberontakan. Ketika Tuhan menyerahkan bangsanya dijajah oleh kerajaan Mesir, sampai Tuhan menyerahkan raja Yoyakim kepada raja Babel (ay.2), yang dampaknya adalah Daniel dan kawan-kawannya harus menjadi tawanan. |

Muda Tetapi Matang (2) "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.
Jadilah teladan bagi orang-orang percaya..." |
Tanggal : 29 Agustus 1998 Bacaan : Dan 1:1-21 Refleksi : Ukuran Kematangan rohani seseorang ditentukan oleh bagaimana sikap
dan tindakannya ketika ia diperhadapkan pada tantangan, dan berketetapan
sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Pengertian doa yang benar sesuai dengan Firman Tuhan dan kerinduan berdoa bagi semua orang. |
Pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya ketika kita pindah rumah?
Mungkin tidak mengenakkan dan sulit. Karena kita harus beradaptasi lagi,
baik dengan suasana lingkungan, tetangga, dsbnya. Belum lagi harus berpisah
dan harus meninggalkan orang-orang sudah dekat dengan kita dan suasana lingkungan
yang sudah cocok. Daniel bukan saja mengalami perasaan yang sulit dan asing ketika ia harus meninggalkan negerinya dan dibawa ke negeri Babel, tetapi juga mengalami perasaan takut yang dalam. Ini bisa dimengerti dengan kemudaan usianya dan menjadi tawanan di negeri asing. Sekalipun kita bisa memikirkan bahwa nampaknya Daniel sepertinya sudah dipersiapkan untuk menghadapi kesulitan tersebut oleh Tuhan, melalui latar belakang kehidupannya. Seperti mendapatkan bekal kerohanian yang dipupuk pada waktu bangsa Yahudi dibawah pemerintahan raja Yosia dan dilatih untuk hidup menderita pada waktu pemerintahan oleh raja Yoyakim. Upaya Nebukadnezar, raja Babel, sebagai taktik khusus untuk menanamkan orientasi Babel, seperti mengajarkan bahasa dan budaya Babel, memakan santapan raja yang sudah persembahkan kepada Dewa (ay.5) dan penggantian nama (ay.7). Sebenarnya semua ini merupakan juga suatu tekanan yang sangat berat bagi Daniel dan kawan-kawannya. Tetapi yang menarik disini adalah Daniel dan kawan-kawannya tidak terpengaruh dan berketetapan untuk tidak menajiskan diri mereka. Ini semua menunjukkan suatu kematangan rohani. |

Muda Tetapi Matang (3) "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.
Jadilah teladan bagi orang-orang percaya..." |
Tanggal : 30 Agustus 1998 Bacaan : Dan 1:1-21 Refleksi : Sejauh mana kedekatan Anda dengan Allah saat ini?Dan sejauh mana ketaatan Anda untuk mencari dan hidup dalam kehendakNya? Doakan Bersama : Lembaga-lembaga pendidikan Kristen dan staf pengajar Kristen agar menjadi kesaksian nyata dalam membina kerohanian untuk kiprahnya bagi negara. |
Pada kondisi saat ini banyak orang dari keturunan Tionghoa di Indonesia
mengalami dilema, yaitu untuk memutuskan meninggalkan atau tetap bertahan
di negeri ini. Ketika orang-orang tersebut mengambil keputusan untuk meninggalkan
negeri ini, itu merupakan suatu keputusan yang bisa dimengerti. Melihat
dampak dari peristiwa-peristiwa yang menakutkan dan menyedihkan sehingga
menimbulkan trauma yang dalam bagi orang mengalami secara langsung maupun
yang tidak langsung. Dan ketika kita memilih untuk tetap tinggal, kita diperhadapkan
pada masalah yang lain yaitu tidak adanya jaminan yang pasti dari pemerintah.
Sebaliknya, meninggalkan negeri ini juga merupakan masalah, karena tidak
ada kepastian hidup yang lebih baik. Dilema ini juga dialami Daniel dan kawan-kawan, ketika mereka mengalami paksaan untuk memakan santapan dari raja yang sudah dipersembahkan kepada dewa Babel (ay. 5). Dengan demikian mereka sadar ada konsekuensi yang akan diterima jika mereka tidak menaati perintah raja. Pada saat mereka mengatasi dilema tersebut, mereka mengambil jalan keluar yang kreatif, dimana mereka meminta kepada pemimpin pegawai istana untuk mencoba membandingkan perawakan mereka dengan orang-orang yang makan dari santapan raja. Tindakan kreatif mereka menandakan bahwa kemauan mendekatkan diri kepada Tuhan dan untuk mencari kehendak Tuhan. Sebelum kita mengambil keputusan untuk meninggalkan atau tetap berada negeri ini, kita perlu mendekatkan diri untuk mencari kehendak Tuhan terlebih dahulu. |

Muda Tetapi Matang (4) "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda.
Jadilah teladan bagi orang-orang percaya..." |
Tanggal : 31 Agustus 1998 Bacaan : Dan 1:1-21 Refleksi : Apakah yang Anda percayai menjadi dasar landasan untuk perilaku, watak, dan jalan hidup Anda Doakan Bersama : Program bebas dari KKN kiranya boleh benar-benar dilaksanakan dengan sepenuh hati dan bersandar hanya kepada takut akan Tuhan. |
Daniel adalah orang yang tekadnya bulat dan mantap. Tidak ada penyimpangan,
penyelewengan, atau yang membuat ia takut untuk mengabdikan dirinya kepada
Allah. Kepercayaannya kepada Allah menjadi landasan hidupnya dan keputusan-keputusannya. Larry Kerychuk, direktur pelayanan internasional kepada para atlet, ia mempunyai seorang kakek yang memiliki apa yang mirip dengan Daniel. Kakek dari Larry Kerychuk berdinas dalam ketentaraan Rusia pada Perang Dunia I. Hubungannya dengan Kristus dibangun atas dasar pengalaman pribadi rohani yang kaya. Hatinya dipenuhi oleh cinta kasih kepada Yesus Kristus. Hasratnya menyala-yala untuk berbagi dengan setiap orang yang dijumpai. Kapten yang mengepalai kesatuan kakek Larry tersebut menjadi sangat gusar melihat kakek itu terang-terangan bersaksi tentang Yesus kepada para pasukan. Akhirnya, karena jengkel dan bencinya, kaptennya tersebut mengikat kakek itu pada sebuah pohon, mengacungkan sebuah meriam kearahnya dan menyuruh berjanji untuk berhenti berkotbah tentang Kristus kalau tidak mau dihancurkan. Kakek itu dengan penuh iman dan tabah hati, berkata "Tembakkan! saya tidak akan berhenti". Kapten itu tidak jadi menembak, tetapi menjebloskan ke penjara. Setelah 4 tahun kakek ini dibebaskan dan pergi ke Kanada. Di sana ia mewartakan dengan begitu giat. Berselang beberapa tahun kapten tersebut pindah ke Kanada. Salah satu kawannya mengajak untuk mengikuti pertemuan.Ia terperanjat setelah mengenali pengkotbah, orang yang pernah dianiayanya. Akhirnya berlutut dan berpelukan sebagai saudara dalam Kristus. |


husen@hotmail.com