Desember 1997

Prakata

 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
1 2 3 4 5 6 7
8 9

10

11

12

13
14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

husen@hotmail.com

Natal Masa Kini...

Kita sudah memasuki bulan Desember 1997. Di gereja sudah terasa kegiatan-kegiatan untuk mem-persiapkan Perayaan Natal tahun ini. Di rumah pun orang sudah mulai memasang pohon Natal dan mendengarkan lagu-lagu Natal dari kaset atau CD. Pusat-pusat perbelanjaanpun tidak ketinggalan. Kita me-lihat aksesoris natal sudah banyak dipasang baik di da-lam gedung ataupun di luar gedung. Toko-tokopun tidak ketinggalan menampilkan nuasa Natal. Semuanya itu tentu membawa semaraknya Natal. Tapi kalau kita ber-tanya dalam hati, adakah di sana Yesus yang lahir dua ri-bu tahun yang lalu? Atau, itu sekadar membius kita agar terhanyut dengan suasana Natal konsumeristik, yang maknanya, yach, pokoknya senang-senanglah... "Jangan terlalu sakral dan serius dong," itu kata mereka.
Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu saya diundang melayani satu perayaan Natal satu kelompok pemuda di Jakarta. Acaranya diadakan di kawasan Puncak, Jawa Barat. Acara Kebaktian Natal berlangsung cu-kup hikmat. Tetapi alangkah kagetnya saya. Kenapa? Karena baru saja kotbah selesai, langsung diputar lagu dangdut. Kemudian, mereka mulai berdangdut ria. Tiba-tiba lagu berganti dengan musik disko. Merekapun ber-disko ria. Tetapi yang lebih celaka adalah beberapa wa-nita mendatangi saya yang bengong melihat acara, me-minta saya berdisko dengan mereka. Saya kaget, karena apa? Karena, sudah tidak sungkan langsung dangdutan dan berdisko setelah dikotbahin. Eh, malahan hamba Tuhan yang baru kotbah diajak disko. Tapi, saudara akan lebih kaget lagi, kalau saya ikut berdisko. Tapi saya me-nolak. Saya lupa apakah ada tripping atau teler waktu itu. Tetapi yang perlu kita tanyakan, apakah makna Natal masa kini sudah menjadi demikian?

Back to Top


Depresi

"Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih dari pada nenek moyangku." ( I Raja-raja 19:4b )

Tanggal :

1 Desember 1997

Bacaan :

I Raja2 19:1-16

Refleksi :

Apakah yang Anda lakukan saat mengalami depresi? Biarlah Allah membangkitkan kaki Anda kembali untuk tugas yang ada di pundak Anda!

Doakan Bersama :

Para pemerintah dan rakyat Indonesia dalam menghadapi pergolakan ekonomi dengan jujur, transparan, dan takut akan Tuhan.

   
  1. Jalan kehidupan memiliki banyak rin-tangan dan bahaya. Salah satu rintangan yang terbesar adalah jurang depresi yang pasti akan kita temui di sepanjang jalan kehidupan. Pada saat harus menanggung beban berat, kita sangat mudah terjerumus ke dalam depresi dan selalu berusaha mencari pertolongan untuk dapat ke-luar.
    Kamus Webster mendefinisikan depresi ji-wa adalah keadaan emosi yang menunjukkan gejala patah semangat dan rasa tidak mampu. Beberapa tanda depresi adalah kehilangan ra-sa percaya diri, perasaan tidak dikasihi, kehi-langan daya tarik terhadap orang lain dan pemi-kiran mengarah pada diri sendiri secara terus menerus. Depresi dapat disebabkan oleh rasa kekecewaan dan ketidakmampuan seseorang dalam mencapai sebuah tuntutan.
    Setiap orang dapat merasa lemah, sepi, patah semangat, dan tidak berguna. Allah tidak pernah menciptakan kita dengan tujuan mem-buat hidup kita pincang karena ada tekanan-tekanan yang menindih. Kita dapat mengalah-kannya, jika mau mengikuti langkah-langkah berikut:
    1. Menyingkirlah dari persoalan yang sedang dihadapi dengan mengambil waktu istirahat (I Raja19:5-8);
    2. Utarakan segala kepenatan kita—katakan padaNya tentang persoalan tersebut (I Raja 19:9-10);
    3. Dapatkan kesegaran jiwa yang datang dari kehadiran Allah secara pribadi (I Raja19: 11-12);
    4. Kembali bekerja! (I Raja19:13-16).
    Bagaimana dengan Anda? (Lukito Tanto, LT)
 

Back to Top


Ukuran kecantikan

"Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tentram, yang sangat berharga di mata Allah." ( I Ptr. 3:4 )

Tanggal :

2 Desember 1997

Bacaan :

I Ptr. 3:1-7

Refleksi :

Apakah motivasi Anda pada saat me-rawat dan memper-indah tubuh? Apa-kah itu hanya untuk mengembangkan si-fat sombong? Biar-lah kiranya kecan-tikan batiniah Anda yang terpancar keluar dan nama Allah dimuliakan.

Doakan Bersama :

Para pelayan Tuhan (Pendeta, penginjil, pemimpin Kristen), kiranya Tuhan senantiasa menguduskan hati, pikiran, dan lidah mereka sehingga dapat menjadi saksi Kristus.

   

Cukup banyak wanita yang menderita dan merasa harga dirinya berkurang karena ti-dak dapat memenuhi ukuran kecantikan yang berlaku di dunia. Tetapi seorang wanita yang telah dilahirkan kembali oleh Roh Kudus akan memandang hal kecantikan dari segi yang lain. Menurut firman Tuhan dalam I Kor. 6:19-20, Paulus menyatakan bahwa tubuh orang per-caya adalah rumah atau tempat Roh Kudus berdiam didalamnya. Oleh sebab itu wanita Kristen merawat dan memperindah tubuhnya demi penghuni agung dan ilahi itu dengan tu-juan supaya perhiasan batiniah dan rohani yang nampak dalam sikap dan tutur kata menjadi satu harmoni dengan perhiasan lahiriah.
Namun tidak demikian dengan dunia per-filman, majalah-majalah, kontes kecantikan, dan dunia mode, yang telah memperdayakan dan mengarahkan mata, pikiran, dan perasaan manusia untuk mendewakan tubuh atau menja-dikan tubuh wanita sebagai alat perangsang untuk membangkitkan nafsu seks. Hal itu tentu sangat jauh dari pandangan Alkitab yang me-lihat keindahan tubuh manusia sebagai sebab untuk memuji Tuhan dan bersyukur kepadaNya. Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa seorang wanita harus mengabaikan dirinya dan tidak berusaha berpakaian dengan mengikuti per-kembangan zaman.
Suami manapun juga akan bangga mempunyai seorang istri yang cantik dan me-narik. Tetapi kecantikan dan daya tarik itu ha-ruslah terutama datang dari hati, bukan dari toko. Karena kecantikan yang sejati itu timbul dari hati yang tahun lepas tahun akan bertumbuh menjadi lebih indah. (Lim Supianto, LS)

 

 

Back to Top


Zakheus yang kesepian

"Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu" ( Lukas 19:5 )

Tanggal :

3 Desember 1997

Bacaan :

Lukas 19:1-10

Refleksi :

Apakah Anda juga merasakan kesepi-an, merasa hidup kosong, dan kehi-langan nilai? Ha-nya Kristus yang mampu mengisi kekosongan itu. Maukah Anda menerima sebagai-mana Zakheus telah menerimaNya?

Doakan Bersama :

Penduduk Yaman (negara republik di Timur Tengah) sedikit sekali yang percaya dan mereka mempunyai kebiasaan mengkonsumsi obat bius.

    Zakheus, seorang yang kaya tapi ha-tinya kosong. Dia dikucilkan oleh masyara-katnya, meskipun sebenarnya dia tidaklah se-buruk yang diduga banyak orang pada za-mannya, dan barangkali juga seperti yang di-ceritakan oleh guru-guru Sekolah Minggu ke-pada anak-anak sepanjang zaman. Dia di 'cap' sebagai lintah darat, orang yang memeras bangsanya sendiri dengan menjadi pemungut cukai, dia adalah penjilat kepada penguasa yang menjajah bangsanya sendiri. Padahal, Zakheus tidaklah seburuk yang diduga banyak orang.
Yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan Zakheus adalah kekosongan dan kehampaan nilai. Dia memiliki banyak harta, tapi hidupnya kosong. Dia kaya, tapi menderita. Dia tidak pu-nya teman, bahkan harus selalu menanggung fitnah dan umpatan orang lain. Setiap kali dia keluar rumah, orang mencibirkan muka meng-hina dia, mengutuknya sebagai pengkhianat, dan tidak mau bergaul dengan dia.
Tapi hari itu, Tuhan mencari dia dan men-jalin hubungan pribadi dengan dia, dan bagi Zakheus inilah tawaran yang paling indah yang pernah diajukan kepadanya seumur hidupnya. Zakheus menerima tawaran Tuhan dengan hati terbuka, dan dia mendapatkan hidupnya, yaitu ketika Tuhan hadir ke dalam hidupnya yang kering dan hampa.
Hari ini ada banyak orang yang ber-kelimpahan materi tapi hatinya kosong, hampa. Karena semua itu tidak membawa kebahagiaan sejati, sebelum Tuhan hadir dalam hatinya, da-lam hidupnya. (Andree Kho, AK)
 

Back to Top


Berapa lama lagi...

"Berapa lama lagi Tuhan, Kau lupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajahMu terhadap aku?" ( Mazmur 13:2 )

Tanggal :

4 Desember 1997

Bacaan :

Mazmur 13:1-6

Refleksi :

Untuk merasakan bagaimana penderitaan Daud dan bagaimana ia bersandar pada Tuhan, saya mengajak Anda merenungkan sikapnya waktu ia dikudeta oleh anaknya, Absalom (2 Sam.15:13-31)

Doakan Bersama :

Pekabaran Injil dan peningkatan kemampuan SDM di Namimbia republik Afrika Barat Daya, khususnya di suku Heikum.

    Mazmur ini adalah doa Daud dalam pergumulan yang berat. Daud adalah orang yang sangat dekat dengan Allah, namun dalam pergumulan ini Daud seakan-akan ditinggalkan Allah. Dicuekin Allah.
Sampai empat kali Daud berkata "Berapa lama lagi." ini menyatakan bagaimana Daud itu sudah menanti jawaban Tuhan cukup lama dan pergumulan yang berat (intens). Menurut beberapa penafsir, situasi yang dialami Daud adalah saat dia dikejar-kejar oleh Saul. Ia harus berlari dari satu bukit ke bukit, gua ke gua. Bukan hanya sendiri. tetapi bersama-sama dengan keluarganya dan sahabat-sahabatnya, ratusan orang banyaknya. Apakah itu peng-alaman yang gampang? Sulit!
Daud merasa bahwa Tuhan itu jauh, bah-kan sudah dilupakan Tuhan. Daud adalah o-rang yang begitu bergantung pada Tuhan. Ia ti-dak membalas kala ada kesempatan untuk membalas Saul (1 Sam. 26:7-18) karena ia ta-hu Tuhan yang akan membalas baginya (1 Sam.26:23,24). Bayangkan, dengan iman se-perti itu, saat ia membutuhkan Tuhan, ia malah merasakan Tuhan itu tidak peduli kepadanya. Apa yang dapat dilakukan oleh seseorang bila keadaan telah demikian, selain kecewa?
Apakah Daud kecewa? Pasti, tetapi mung-kin hanya sesaat. Daud bukan robot, yang tidak punya perasaan dan sakit hati. Namun, kitab Samuel mengatakan Daud selalu dapat me-lewati kekecewaannya dengan bersandar dan percaya akan kedaulatan Tuhan. Ia yakin bah-wa setelah malam gelap pasti ada pagi yang cerah. Setuju? (Lyfine Bertha, LB)
 

Back to Top


Mencapai sasarannya

"Tetapi aku, kepada kasih setiaMu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatanMu. Aku mau menyanyi untuk Tuhan, karena Ia telah berbuat baik kepadaku" ( Mazmur 13:6 )

Tanggal :

5 Desember 1997

Bacaan :

Mazmur 13:1-6
(Lanjutan)

Refleksi :

Kalau kondisi ekonomi saat ini begitu mengkhawatirkan. Kondisi sosial-politik juga demikian, bisakah Anda seperti Daud yakin bahwa Tuhan pasti akan menolong Anda melewati masa sulit ini?
Doakan Bersama :

Tanggung jawab keluarga-keluarga kristen dalam mendidik anak-anaknya untuk takut akan Tuhan dan berpegang pada firmanNya.

    Kemarin kita telah melihat bagaimana Daud yang penuh pergumulan itu terus menanti bagaimana Tuhan menolong dia. Apakah Tu-han langsung menolong Daud sehingga kita mendapat kesimpulan dari Mazmur ini (6) menjadi happy ending? Tidak, saudara.
Lalu apa yang menjadi kekuatan Daud, sehingga ia berani berkata, "Tetapi aku, kepada kasih setiaMu aku percaya, hatiku bersorak-sorak?" Apa yang membuat Daud bersorak-sorak?
Saudara, istilah "kasih setiaMu" dalam ayat ini, bahasa aslinya menunjuk kasih yang "Unfailing love," kasih yang tidak pernah gagal. Kasih yang pasti mencapai sasarannya. Kasih ini begitu nyata dalam kasih Bapa melalui AnakNya Yesus Kristus. Ia dicaci, dipukul bahkan mati disalib. Dunia melihat rencana kasih Bapa dalam AnakNya gagal total dengan matinya Yesus. Tetapi melalui kematian itulah Allah menggenapkan kasihNya kepada orang-orang berdosa. Melalui kematian itulah kasih Allah itu mencapai sasarannya, yang meng-akibatkan saya dan saudara pasti tidak binasa. Memang, harus melalui aniaya dan salib ter-lebih dahulu. Memang ada kegelapan dan per-gumulan terlebih dahulu. Tetapi kasihnya kepa-da kita tidak akan gagal.
Kasih setia yang seperti itulah yang dilihat Daud dalam diri Allah. memang sepertinya Allah berlambat-lambat menolong dia, tetapi ia yakin pertolonganNya, kasihnya pasti akan segera tiba.
Daud mau agar kita memahami kasih allah yang demikian. Kasih Allah yang pasti akan mencapai saya dan pergumulan saya. (LB)
 

Back to Top


AH, KHAN MASIH ADA WAKTU

"Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari adalah jahat." ( Efesus 5:15,16 )

Tanggal :

6 Desember 1997

Bacaan :

Mazmur 90:1-12
Efesus 5:15-17

Refleksi :

Hidup manusia se-perti uap. Sebentar kelihatan, sebentar hilang. Demikian. Mari kita memakai setiap waktu deng-an penuh tanggung jawab, pergunakan kesempatan yang Tuhan berikan, dan berhenti menunda-nunda pekerjaan.

Doakan Bersama :

Kesehatan jasmani dan iman kita sehingga kemampuan dan bakat-bakat kita bisa menjadi alat-alat bagi pelayananNya.

    Senin pagi Mentor, bapa pendusta itu, memberikan petuah kepada kadernya, Yunior.
Mentor: Yun, tahu strategi "prokrastinasi."
Yunior: (kaget dan heran) Hah, apa!?
Mentor: Begini, kamu tahu khan setiap manusia diberi oleh Musuh Besar kita waktu 24 jam atau 86.400 detik sehari. Tidak kurang, ti-dak lebih. Tapi tahukah kamu bahwa banyak o-rang Kristen tidak menghasilkan sesuatu yang berarti dalam hidup mereka? Karena mereka ti-dak menggunakan waktu dan kesempatan da-lam hidup mereka. Itulah strategi prokrastinasi atau penundaan kita.
Yunior: Bagaimana persisnya?
Mentor: Sangat sederhana! Setiap kali mereka diingatkan oleh Musuh Besar kita untuk melakukan hal-hal yang positif, seperti: me-ngerjakan tugas sekolah, melakukan saat te-duh, membaca buku-buku yang membangun dan membuka wawasan, belajar dogma-dogma Kristen, ambil bagian dalam pelayanan, ikut ke-las katekisasi, atau pokoknya apa saja yang positif, segeralah mempengaruhi pikiran mere-ka. "Ah, khan masih ada waktu". Usahakan mereka menunda-nunda terus melakukan hal-hal di atas.
Yunior: Tapi sampai kapan strategi ini kita terapkan?
Mentor: Selama mungkin. Salah satu hal yang membuat aku sangat puas adalah ketika mereka berkata di atas ranjang kematian me-reka, "Aku menyesal tidak melakukan ini dari dulu. Sekarang semua terlambat". Semakin ba-nyak orang Kristen yang mengatakan kalimat itu, semakin aku bersuka hati. Terapkan strategi ini, sekarang juga! (Sendjaya, S)
 

Back to Top


Aku orang penting

"...hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati." ( Filipi 2:2,3 )

Tanggal :

7 Desember 1997

Bacaan :

Filipi 2:1-11

Refleksi :

Tuhan, tolonglah hambaMu untuk ti-dak minta diperha-tikan, tetapi mem-perhatikan. Tidak minta dikasihi, te-tapi mengasihi. Ti-dak minta dilayani, tetapi melayani. Se-perti Engkau telah lakukan dengan ke-matianMu di atas kayu salib.

Doakan Bersama :

Saudara-saudara seiman kita di Cina yang mengalami berbagai penganiayaan boleh tetap dikuatkan dan kiranya para pemimpin bersikap lebih baik.

    Setelah seminggu penuh bekerja keras mencobai orang Kristen, Yunior datang melapor kepada Mentor, bapa pendusta.
Yunior: Mentor, aku dan teman-teman te-rus menganiaya orang-orang Kriten dan mem-buat mereka kocar-kacir.
Mentor: Hahh? Bukankah sudah pernah kuberitahu penganiayaan tidak akan pernah merontokkan iman mereka. Malah sebaliknya, itu akan membuat mereka berdoa.
Yunior: Tapi Mentor, aku kira...
Mentor: Yah sudahlah, Sekarang camkan ini, tekanan yang datang dari luar akan mera-patkan barisan mereka. Justru berbagai perbe-daan yang muncul dari dalamlah yang akan memecah belah mereka. Itu yang harus men-jadi fokusmu. Usahakan setiap orang di gereja, khususnya mereka yang aktif pelayanan, berpi-kir, "Aku adalah orang penting di gereja, patut dihargai."
Yunior: Caranya?
Mentor: Buat mereka merasa "lebih" di-banding orang lain. Lebih banyak memberi per-sembahan di gereja. Lebih banyak tahu tentang Alkitab. Lebih berjasa bagi gereja. Lebih ber-bakat jadi pemimpin. Lebih merdu suaranya. Lebih fasih berbicara. Lebih senior. Lebih suci, Bayangkan saja, kalau semua orang di gereja diam-diam dikepalanya berpikir demikian, me-reka akan merasa tersinggung kalau tidak di-perlakukan sebagai orang yang "lebih". Kalau ada perasaan tersinggung akan muncul pera-saan marah, iri, dan dendam. Lalu timbul kon-flik dalam gereja.
Yunior: Saya paham betul, Mentor. Terima kasih. Sekarang juga saya coba! (S)
 

Back to Top


Krisis menjadi berkat

"Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telingaNya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat." ( I Ptr. 3:12 )

Tanggal :

8 Desember 1997

Bacaan :

I Ptr. 3:8-12

Refleksi :

Kepada siapakah Anda berseru pada waktu dilanda krisis? Percayalah akan ada pelangi yang indah setelah badai hujan melanda hidup Anda!

Doakan Bersama :

Gerakan doa dan pekabaran Injil yang lebih mengakar dalam firman, dan membangun hubungan yang saling mengasihi sehingga menjadi kesaksian utuh umat kepada dunia.

    "Oh, Tuhan, oh Tuhanku...tolong! To-long!...Oh, Tuhan Allahku, selamatkan aku. Tu-han, aku memerlukanMu, tolonglah aku" Inilah serangkaian kata-kata yang keluar dari mulut kita pada saat menghadapi masa-masa krisis dalam kehidupan. Jeritan ini mengharapkan belas kasihan dan pertolongan. Dan pada saat seperti itu semua kita akan "mulai berdoa".
Raja Daud mempunyai pengalaman yang demikian, ketika ia berada dalam "lubang kebi-nasaan...lumpur rawa". Dia memberikan kesak-sian bahwa Tuhan mendengar jeritannya (Mzm. 40:2-3). Demikian pula Rasul Paulus dan Silas dalam penjara kuno di Filipi ketika semua rasa-nya sudah tanpa harapan (Kis.16:25-26). Dari dalam perut ikan, Yunus berseru minta tolong, ketika tercekik oleh air asin dan ditelan oleh a-rus Laut Tengah nabi yang 'melarikan diri' ini berseru dalam kesusahannya (Yunus.2:1-4).
Krisis menghancurkan. Dan dalam meng-hancurkan, krisis sering menyempurnakan dan memurnikan. Seperti yang diungkapkan oleh Pemazmur: "Sebelum aku tertindas, aku me-nyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janjiMu. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapanMu." (Mzm.119:67,71). Setelah krisis cukup meng-hancurkan, Tuhan melangkah masuk untuk memberikan pengajaran dan penghiburan. Ini-lah kebenaran yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus ketika mengatakan: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesua-tu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Rm. 8:28). (LS)
 

Back to Top


Kemana muara iman kita

"Lalu kataNya kepada mereka: Di manakah kepercayaanmu?"
( Lukas 8:25a )

Tanggal :

9 Desember 1997

Bacaan :

Lukas 8:22-25

Refleksi :

Siapakah yang menjadi tempat bersandar Anda saat menghadapi badai kehidupan? Kiranya hanya Tuhan Yesuslah tempat bersandar dan pertolongan Anda!

Doakan Bersama :

Gereja-gereja di seluruh dunia dan khususnya di Indonesia boleh semakin bertumbuh sehingga Kuasa dan kebenaranNya semakin dinyatakan ditengah dunia.

    Iman seseorang akan nampak nyata pada saat taufan atau badai kehidupan me-nerpa, karena pada saat itu akan nyata kepada siapakah atau apakah iman itu ditujukan.
Tuhan Yesus mengajak murid-muridNya untuk menyeberang danau Galilea. Ditengah-tengah perjalanan mereka, tiba-tiba badai datang dan menggoncangkan perahu mereka, mereka menjadi panik dan dengan berusaha mengatasi badai tersebut, mereka hanya bersandar pada pengalaman mereka sebagai seorang nelayan dan kekuatan mereka. Setelah badai itu tidak dapat mereka atasi, mereka baru teringat pada Tuhan Yesus yang sedang tertidur. Mereka selama beberapa waktu melupakan Tuhan Yesus. Mereka telah lama berjalan dengan Tuhan Yesus, namun mereka belum benar-benar mengenal Dia.
Badai kehidupan selalu datang dengan tiba-tiba di dalam kehidupan kita, dan pada saat badai itu datang kepada siapakah kita pertama-tama berseru mencari pertolongan? Apakah kita mengandalkan pengalaman, atau kita lari kepada orang lain, atau kita akan lari dan datang kepada Yesus, Juruselamat kita? Kemana arah/tujuan lari kita, hal itu menyatakan iman kita. Apabila kita belum be-nar-benar mengenal Tuhan Yesus, maka lari kita akan ke arah yang lain. Sebagai orang Kristen, iman kita seharusnya tertuju hanya kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh karena itu, kita perlu dengan benar mengenal Dia dan kita dapat mengenal Dia dengan baik adalah melalui membina hubungan yang intim dengan Dia. (KP)
 

Back to Top


Mengapa kemalangan diijinkan

"Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu."
( Mazmur 34: 20 )

Tanggal :

10 Desember 1997

Bacaan :

Mazmur 34:1-23

Refleksi :

Bagaimanakah dengan ketaatan Anda, masih taatkah Anda pada Tuhan saat meng-alami penderitaan, kesulitan dalam hidup ini, atau Anda bersikap sebaliknya membe-rontak pada Allah?

Doakan Bersama :

Iman dan keperdulian kita terhadap sesama (yang mengalami kesusahan, penindasan, dll.) sehingga kasih Tuhan sungguh nyata ditengah-tengah kehidupan kita.

    Banyak hal-hal yang tidak menyenang-kan terjadi di dalam hidup orang-orang yang mengasihi dan setia pada Tuhan. Maka timbul-lah suatu pertanyaan mengapa Tuhan yang baik itu mengijinkan hal yang tidak baik itu terjadi. Tak sanggupkah Tuhan mencegahnya?
Pada suatu hari Tuhan memanggil Abram dan menyuruhnya keluar dari negerinya dan sa-nak saudaranya. Dan Tuhan akan menunjuk-kan negeri mana yang akan dituju. Abram pergi bersama Sarai, Lot dengan beberapa orang dan segala harta benda mereka. Abram berjalan te-rus dan makin jauh ia berjalan ke Tanah Negeb. "Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai o-rang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu" (Kej.12:10). Saat Abram ke Mesir adalah atas kehendak kehendak Abram sendiri yang tak tahan akan penderitaan yang terjadi saat itu. Abram mengandalkan jalan pikirannya sendiri. untuk mencari jalan keluar. Abraham juga ber-dusta mengatakan Sarai itu adiknya, sehingga Sarai diambil istri oleh Firaun. Tetapi oleh kasih dan campur tangan Allah, rumah tangga Abram dapat dipulihkan kembali.
Berbagai persoalan yang diijinkan Tuhan datang dalam kehidupan anak-anak Tuhan, itu sebenarnya merupakan suatu didikan dari Tuhan supaya anak-anakNya itu semakin mengenal akan kehendak dan rencanaNya. Oleh sebab itu berserulah kepadaNya ketika engkau dalam kesesakan dan yakinlah Tuhan akan memberi-kan pertolongan tepat pada waktunya. Tuhan mendidik umatNya supaya umatNya mengan-dalkan pertolonganNya. Abram contoh orang yang sudah ditolong Tuhan. (Hana Sri Wahyuni, HS)
 

Back to Top


Hak istimewa dan kerendahan hati

"Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu." ( Efesus 3:8 )

Tanggal :

11 Desember 1997

Bacaan :

Efesus 3:8-13

Refleksi :

Memang sulit untuk dapat memiliki kerendahhatian. Oleh karena itu maukah Anda menaruh Kristus di dalam hati Anda!

Doakan Bersama :

Umat percaya di Vietnam yang mengalami tekanan dari berbagai pihak, kiranya hikmat dan kuasa Tuhan memimpin mereka sehingga mereka tetap setia pada Tuhan.

    Paulus menganggap dirinya sebagai o-rang yang telah mendapat 2 hak istimewa: Per-tama; hak mengetahui rahasia, bahwa Allah menghendaki semua orang dipersatukan dalam kasihNya. Kedua; dia diperkenan memperke-nalkan rahasia itu kepada gereja dan bangsa-bangsa non Yahudi.
Namun meski dia memperoleh hak isti-mewa itu, tidak membuat dia sombong, bahkan membuatnya semakin rendah hati. Dia heran mengapa orang seperti dia, yang pernah me-musuhi Tuhan, lebih rendah harkatnya daripada umat Allah yang lain, mendapat hak istimewa demikian besar.
Apabila kita mendapat kesempatan me-nyatakan kasih Allah kepada orang lain, ingat-lah bahwa berita itu tidak terletak pada diri kita, melainkan pada Kristus itu sendiri.
Leslie Weatherhead pernah bertanya pada anak sekolah yang mengambil keputusan untuk melayani Tuhan, kapankah anak itu mengambil keputusan itu, anak itu menjawab, seusai me-ngikuti suatu kebaktian di kapel sekolahnya. Weatherhead bertanya: siapakah yang berkhot-bah waktu itu? Anak itu tidak bisa menjawab. Yang dia ingat hanya Yesus Kristuslah yang berbicara kepadanya. Itulah khotbah yang be-nar. Sayang, banyak sekali hamba Tuhan yang sering berkata: "Dalam khotbah saya di...", seolah-olah khotbahnyalah yang hebat, bukan pekerjaan Tuhan yang telah terjadi. "Sayalah" yang lebih menonjol dari martabat dan wibawa Yesus Kristus.
Marilah kita meneladani Paulus yang ren-dah hati, dengan menonjolkan Kristus dalam setiap pelayanannya. (Martin katuari, MK)
 

Back to Top


Berdiam diri di hadapan Tuhan

"Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikan Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya." ( Mazmur 37:7 )

Tanggal :

12 Desember 1997

Bacaan :

Mazmur 37:1-31

Refleksi :

Pada saat Anda menghadapi masalah sudahkah Ada berdiam diri dihadapan Tuhan dan tunduk pada pimpinan Tuhan?

Doakan Bersama :

Kesejahteraan hidup penduduk di Sulawesi Utara yang mengalami kemerosotan ekonomi.

    Tak seorangpun di dalam dunia ini da-pat lari dari permasalahan hidup. Mengapa? Karena masalah itu sudah menjadi bagian da-lam hidup manusia dan masalah yang dihadapi setiap orang berbeda. Tetapi kita harus menya-dari bahwa uang dan harta kekayaan itu tak a-kan pernah dapat menyelesaikan setiap masa-lah. Satu-satunya jalan untuk mengatasi masa-lah adalah berdiam diri di hadapan Tuhan ka-rena kasih dan anugrahNya itu tidak akan ber-kesudahan di dalam hidup kita. Kita harus me-nyadari bahwa kita tidak akan pernah dapat menyelesaikan permasalahan dengan kekuat-an kita dan tak dapat berbuat sesuatu tanpa Dia.
Oleh sebab itu "Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Ja-nganlah engkau menganggap dirimu sendiri bi-jak, takutlah akan Tuhan dan jauhilah kejahat-an" (Ams.3:5-7).
Kita harus sabar menanti pemulihan dari Tuhan dan "Berhentilah marah dan tinggalkan panas hatimu, jangan marah, itu hanya memba-wa kepada kejahatan" (Mzm.37:8). Mereka me-nyalahkan Tuhan bahkan sampai mengutuk diri mereka sendiri. Karena itu melalui firmannya ji-ka hidupmu dalam kegelapan dan tak ada ca-haya bersinar baginya, baiklah engaku percaya dan bersandar kepada Tuhan.
Janganlah engkau berbuat dosa meski se-dang menghadapi masalah yang berat. Jangan bersedih, tetapi bergembiralah senantiasa ka-rena Tuhan. Yakinlah bahwa Tuhan tetap me-netapkan langkah-langkah kita sesuai dengan firmanNya. (HS)
 

Back to Top


Harga diri dan rasa aman

"Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka." ( Kej. 1:27 )

Tanggal :

13 Desember 1997

Bacaan :

I Tim 2:8-10

Refleksi :

Harga diri dan rasa aman bukan diten-tukan oleh bagai-mana sikap orang lain terhadap Anda, tetapi bagaimana Anda melihat diri Anda dengan mema-kai sudut pandang Allah (manusia sebagai peta dan gambar Allah)

Doakan Bersama :

Suku Bajo yang hidup terpencar-pencar di lautan yang belum mengenal kasih Kristus.

    Dari ilmu psikologi kita dapat mengenal gejala-gejala kejiwaan yang umumnya dapat ki-ta temukan pada kebanyakan orang, yaitu ting-kah laku yang mereka pilih untuk mengeks-presikan keinginan-keinginan yang tidak terpe-nuhi. Seringkali mereka justru memilih tingkah laku yang merugikan bagi dirinya sendiri mau-pun bagi orang lain.
Sebenarnya Alkitab berbicara juga tentang kebutuhan manusia secara kejiwaan sekalipun secara implisit. Misalnya:"Hai istri-istri, tunduk-lah kepada suamimu..., Hai suami-suami, kasi-hilah istrimu dan jangan berlaku kasar terhadap dia", (Kol.3:18,19) (band.1Kor 11:3,7-9) "...Ke-pala dari perempuan ialah laki-laki,...tetapi pe-rempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki". Je-las ayat-ayat diatas mengambarkan tentang kebutuhan kejiwaan, di mana laki-laki sebagai seorang kepala sehingga membutuhan sebuah pengakuan dalam hidupnya. Pengakuan ini berkaitan dengan harga diri. Sedangkan pe-rempuan membutuhkan perlindungan yang membuat rasa aman dalam hidupnya.
Nampaknya nasehat Paulus (ITim 2:8-10) memberikan indikasi bahwa orang laki-laki di Efesus memiliki sikap mudah marah, mudah berselisihan dan tidak mau berdamai. Sedang perempuannya, dengan dandanan berlebihan dan bersikap tidak sopan. Sebenarnya semua ini menunjukan orang-orang yang tidak memi-liki harga diri dan rasa aman yang cukup. Se-dangkan perbuatan mereka itu merupakan usa-ha mereka dalam membangun harga diri dan rasa aman pada diri mereka. Sejauh mana har-ga diri dan rasa aman kita? Bagaimana mem-bangun harga diri dan rasa aman kita? (Sai Dong, SD)
 

Back to Top


Gerejanya orang kaya

"Karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah." ( Fil 3:3 )

Tanggal :

14 Desember 1997

Bacaan :

I Tim. 2:8-15
II Tim. 3:5
Refleksi :

Mari merenung sejenak! Bagai-mana dengan sikap hidup dan ibadah Anda? Dan maukah Anda hidup dengan motto : "Sederhana da-lam penampilan tetapi kaya dalam kerohanian"

Doakan Bersama :

Gereja-gereja bukan menjadi gereja orang-orang kaya tetapi menjadi gereja yang "kaya" akan rohani, berkat, dan kuasaNya yang boleh melimpah dalam kehidupan setiap jemaat.

    Saya teringat perkataan ayah saya keti-ka baru menjadi orang Kristen dan memutus-kan pertama kali untuk pergi beribadah ke ge-reja yang cukup besar dan memiliki jemaat cu-kup banyak. Ia melarang saya dan berkata," Kamu jangan pergi ke gereja itu, karena gereja itu adalah gerejanya orang kaya, nanti kamu a-kan dihina sebab kamu anak orang miskin".
Kemudian muncul pertanyaan: Apakah benar ada gereja orang kaya atau sebaliknya ada gereja orang miskin? Tetapi kenapa ada orang yang menyebut ada gereja orang kaya? Apakah karena yang hadir dalam ibadah tersebut adalah orang-orang yang kaya, datang mengendarai mobil yang terbaru, mengenakan pakaian dan perhiasan-perhiasan yang mahal. Gedung gereja seperti tempat show dan gereja seakan menjadi milik orang-orang tertentu sa-ja! Sedangkan golongan yang lain tersisih dan menjadi minder. Bahkan menjadikan ibadah menunjuk kepada hal-hal yang nampak saja. Apakah kita juga berpikir demikian?
Jelas ini tidak benar. Injil itu mempunyai lingkup universal; tak terbatas pada satu ras manusia atau melihat status sosialnya. Dan ibadah yang sejati adalah persembahan tubuh yang hidup, kudus, berkenan kepada Allah.
Memang tidak salah seorang perempuan ingin menjadi menarik atau cantik. Namun, ke-cantikan seseorang harus dimulai dalam diri-nya, begitu pula bukan kemegahan gedung ge-reja dan fasilitas menjadi prioritas pelaksanaan ibadah. Dan bukan pula penampilan kita dalam menghadiri ibadah. Sebab beribadah adalah menjalin hubungan dan sikap yang benar de-ngan Allah juga dengan sesama. (SD)
 

Back to Top


Anak-anak adalah milik Allah

"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita...; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." ( Yes. 9:5 )

Tanggal :

15 Desember 1997

Bacaan :

Yesaya 9:1-6

Refleksi :

Adakah Masa Advent merupakan saat yang indah bagi Anda untuk mempersiapkan keluarga? Guna-kanlah Masa Ad-vent terutama untuk menanamkan nilai-nilai rohani sedini mungkin pada anak-anak Anda.

Doakan Bersama :

Orang kaidipang yang belum pernah mengenal kasih Kristus kiranya Tuhan bekerja melalui pendidikan atau bentuk pelayanan lainnya.

    Kadang-kadang karena sibuk mem-persiapkan Natal, kita mudah lupa atau me-mang belum memiliki tradisi yang demikian, bahwa Masa Advent yang dimulai empat ming-gu sebelum Natal itu mengacu pada kedatang-an atau tibanya Yesus Kristus adalah untuk me-nolong kita menemukan saat-saat istimewa di antara masa-masa Natal untuk merenungkan dan merayakan kedatangan Kristus ke bumi ini. Masa Advent merupakan saat yang tepat untuk mempersiapkan keluarga kita, terutama anak-anak kita, untuk menyambut Sang Anak, yang disebut nabi Yesaya sebagai "Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai."
Anak-anak yang telah Allah karuniai hen-daknya kita tanamkan nilai-nilai rohani di dalam lubuk hati mereka. Dan untuk itu tidak ada ke-sempatan lain yang lebih baik untuk mulai me-ngisi kebutuhan ini selain dalam masa Natal. Karena sekiranya ada saat dalam satu tahun, di mana semua semangat, kegembiraan, dan ke-takjuban anak-anak menjadi satu, maka itulah Natal.
Masing-masing kita menyadari, bahwa a-nak adalah satu pribadi ciptaan Allah. Ia me-nyadari bahwa Allahlah yang menenun dia ke-tika ia masih berada di dalam rahim ibunya, dan bahwa Allah Bapa sekarang mempunyai rencana untuk kehidupannya. Dan tidak ada sumber lain yang lebih besar yang dapat mem-buat orang merasa dirinya berharga selain me-ngetahui bahwa Tuhan Yesus telah lahir dan mati untuk dia, sekalipun seandainya ia adalah satu-satunya manusia yang hidup di dunia ini.
Ia istimewa di hadapan Bapa di sorga. (LS)
 

Back to Top


Anda sehat?

"Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir". ( Matius 7:26 )

Tanggal :

16 Desember 1997

Bacaan :

Matius 7:24-29

Refleksi :

Sadarkah saudara bawa seringkali kita tidak sadar bahwa rohani kita sering sakit. Apa yang pertama kali harus dilakukan orang yang sakit?

Doakan Bersama :

Situasi keamanan di Sudan yang menyebabkan banyak pekerja misi terancam oleh perampokan dan serangan-serangan serta masa kekeringan di sana.

    Apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh hidup yang sehat? Perhatikan bahwa saya tidak menanyakan apa yang kita ketahui tentang hidup sehat. Ada perbedaan yang besar di sini. Inilah yang dijelaskan oleh Dr. Neil Solomon dalam sebuah artikelnya. Ia menulis, "Anda tentu menginginkan hidup se-hat—seperti kebanyakan orang pada umum-nya. Nah, apa yang anda lakukan untuk mem-perolehnya?
Mari kita mengaplikasikan hal ini dalam as-pek hidup kita yang lain. Apa yang kita lakukan untuk tetap 'sehat rohani'? Saya tidak me-ngatakan apa yang kita ketahui tentang sehat rohani. Kebanyakan kita sangat paham me-ngenai hal ini. Kita tahu apa yang dimaksud miskin dihadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar, dan haus akan kebenaran (Mat. 5:3-12). Kita semua tahu tentang petunjuk-petunjuk kesehatan rohani tiu, namun apa itu semua?
Allah tahu bahwa tanpa pertolonganNya ki-ta tidak akan mampu melakukan perintah-perintahNya itu, oleh karena itu Dia menasehati para pengikutNya agar berdoa ( Mat.6:5-13;7:7-11). Bukan hanya berdoa yang Tuhan perintah-kan, tetapi juga mencintai FirmanNya dengan membaca Alkitab setiap hari. Doa itu seperti nafas hidup. Firman Tuhan itu seperti makanan dan minuman.
Seperti kita membutuhkan makanan dan minuman setiap hari agar fisik kita tetap sehat, demikian juga kita membutuhkan doa dan firman Allah agar kerohanian kita tetap sehat. Tetapi ada satu prinsip lagi, yaitu dari semua yang kita pelajari, lakukanlah! (LT)
 

Back to Top


Harganya

"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu. Garam memang baik, tetapi jika garam juga menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan?" ( Lukas 14:27,34 )

Tanggal :

17 Desember 1997

Bacaan :

Lukas 14:25-35

Refleksi :

Sudah siapkah Anda menjadi murid Tuhan yang harus membayar harga dan berfungsi dengan baik sebagai garam dimanapun dan kapan pun!

Doakan Bersama :

Profesi guru di Indonesia, kiranya Tuhan memberikan visi dan misi yang jelas sehingga bisa menjadi teladan dalam mendidik generasi penerus.

    Banyak orang datang kepada Tuhan Yesus dengan segala macam alasan dan mo-tivasi, ada yang datang untuk mendengar Dia berkhotbah, ada yang untuk melihat mujizat, dsb. Namun pada saat itu, Tuhan Yesus me-ngajarkan suatu ajaran yang harus dipikirkan oleh orang-orang yang sedang berbondong-bondong mengikut Dia, yaitu apabila mereka mau menngikut Dia, mereka harus secara se-penuhnya (100%) mengikut Dia.
Oleh sebab itu, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa bagi setiap orang yang mau menjadi muridNya, harus memikirkan dengan matang. Karena untuk mengikut Dia ada harga yang ha-rus dibayar yaitu menyingkirkan segala sesuatu yang menghalangi kita untuk mengikut dan, ju-ga memikul salib yang berarti berani meng-hadapi kematian karena kita menjadi muridNya.
Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa seorang murid tidak lebih dari gurunya (Mat. 10:24). Tuhan Yesus harus menderita dan mati untuk kebenaran, demikian pula kita sebagai muridNya. Selain kita harus memikul salib, kita juga harus mengikut Dia, artinya mata kita hanya/harus tertuju pada Kristus saja.
Bukan hanya harga saja yang harus di-bayar untuk menjadi murid Kristus, kita juga mengekspresikan fungsi kita yaitu sebagai ga-ram yang harus memberi rasa, sehingga deng-an keberadaan kita di mana saja, orang-orang di sekitar kita dapat merasakan kasih Kristus. Ini terjadi, karena kita melakukan apa yang difirmankan Tuhan untuk kita lakukan.
Apakah kita masih mau mengikut Dia? (KP)
 

Back to Top


Bersuka cita-berdoa dan bersyukur

Bersukacitalah senantiasa

(1 Tesalonika 5:16 )

Tanggal :

18 Desember 1997

Bacaan :

I Tes. 5:16-18

Refleksi :

Kehidupan tidak akan lepas dari masalah-masalah kehidupan. Tetapi marilah, selalu berdoa untuk memohon kekuatan kepadaNya.

Doakan Bersama :

Orang Kristen apapun profesi-nya agar mampu bersama-sama di tempatnya masing-masing memerangi moral korupsi, kolusi, konsumerisme, nepotisme, dan kesewenang-wenangan.

    Dapatkah kita bersuka cita senantiasa? Kalau tidak bisa, mana mungkin Tuhan meng-ajar kita untuk bersuka cita senantiasa, sebab Tuhan tidak pernah menuntut kita mengerjakan hal-hal yang tidak mungkin kita lakukan.
Leon Morris mempunyai kiat: "Hendaklah kita memikirkan Tuhan kita lebih dari pada me-mikirkan kesukaran-kesukaran kita, memikirkan kekayaan rohani kita di dalam Kristus lebih dari pada memikirkan kemiskinan kita di dunia, atau memikirkan kemuliaan kita yang akan datang apabila Tuhan kita datang kembali lebih dari pada memikirkan keadaan masa lalu kita yang tidak berharga." Yah, itu mungkin terlaksana ji-ka Kristus tinggal di dalam hati kita dan me-nguasai seluruh hidup kita. Kehadiran Kristus memberi kita suka cita surgawi.
"Tetaplah berdoa." Dalam keadaan suka cita maupun dalam duka cita kita selalu berdoa, karena kehidupan Kristen merupakan keter-gantungan terus-menerus kepada Allah. Tuhan mengijinkan segala sesuatu terjadi atas diri kita. Maka seharusnya kita mempunyai waktu untuk berdoa kepadaNya. Mengutarakan isi hati kita.
Tuhan telah menyelamatkan kita dari ke-binasaan. Dia membantu kita memikul beban hidup kita, dan mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Patutkah kita tidak bersyukur? Sulitkah? Maka mengucapkan syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikenhendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu! (MK)
 

Back to Top


Tiada hari tanpa mengucap syukur

"Akupun mau menyanyikan syukur bagiMu dengan gambus atas kesetiaanMu, ya Allahku, menyanyikan mazmur bagiMu dengan kecapi, ya Yang Kudus Israel." ( Mazmur 71:22 )

Tanggal :

19 Desember 1997

Bacaan :

Mazmur 71:17-24

Refleksi :

Orang yang dapat mengenal Allah dengan sungguh-sungguh maka orang itu akan mampu tetap bersyukur di tengah penderitaan. Sudahkah Anda bersikap demikian?

Doakan Bersama :

The World Evangelical Fellowship agar dipakai Tuhan untuk membangkitkan semangat Injili di gereja-gereja dan umat Tuhan di seluruh dunia.

    Manusia dikenal sebagai mahkluk yang suka mengeluh dan bersungut-sungut. Bila iklim panas mengeluh, bila iklim dingin meng-eluh. Apakah ini merupakan sifat dasar manu-sia? Jawabanya "tidak." Alkitab memaparkan kepada kita bahwa manusia mulai mengeluh sejak manusia jatuh dalam dosa. Sejak saat itu susah payah manusia ber-tambah-tambah (Kej.3:16-19). Dalam banyak kesempatan se-benarnya Tuhan telah banyak berfirman supaya manusia itu jangan terus me-nerus bersungut-sungut pada Allah (Bil.14:11;26-27), namun ke-nyataannya manusia itu tetap bersungut-sungut.
Hal ini disebabkan karena manusia belum mengenal Allah dengan sungguh-sungguh. Manusia akan dapat bersuka cita dalam ke-adaan apapun bila manusia itu dapat meng-ingat kebaikan Tuhan. Supaya kita dapat me-rasakan kebaikan Tuhan, maka kita harus sa-dar siapakah sebenarnya kita ini di hadapan Tuhan. Sesungguhnya kita ini hanyalah debu yang tanpa kasih karunia Allah, tak berguna dan akhirnya binasa (Ul.32:10). Tetapi oleh pe-nebusan Kristus kita telah menerima kese-lamatan kekal. Apakah ada hal-hal yang me-lebihi kemuliaanNya?
Bila kita merenungkan akan kasihNya yang begitu besar pada kita, apakah artinya pen-deritaan yang kita rasakan, bila dibandingkan dengan kasih dan kemuliaanNya yang dianu-grahkan kepada kita. Tidak bisakah kita ber-syukur dan bersukacita atas anugrahNya yang besar yang dinyatakan pada kita. Tetaplah ber-syukur senantiasa bahkan tetaplah bersuka cita di tengah kesulitan ini. (HS)
 

Back to Top


Kita lebih berharga...

Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? karena itu boleh berbuat baik pada hari sabat. ( Matius 12:12)

Tanggal :

20 Desember 1997

Bacaan :

Matius 12:9-15a

Refleksi :

Pada waktu Anda berbuat baik dan Anda disalah mengerti orang (seperti Yesus, bahkan mau dibunuh) apa yang akan Anda lakukan?

Doakan Bersama :

Mohon Tuhan meningkatkan ketaatan doa dan saat teduh kita dan membiarkan kita mengalami keindahan dan kuasa dari waktu saat teduh dan jawaban doa-doa yang dinaikkan.

    Pada bulan lalu kita telah melihat konflik yang pertama Yesus dengan orang-orang Farisi pada hari sabat (Mat.12:1-8). Pada bagian ini kita melihat konflik yang kedua, yang memun-cak dan mengakibatkan mereka bersekongkol membunuh Yesus (15).
Konflik ini terjadi di sinagog. Ada orang mati sebelah tangannya, yang tentunya tidak mengancam nyawa orang itu. Dalam kitab Ya-hudi (Mishnah), kitab Yoma 8:6 disebutkan bahwa satu-satunya penyembuhan yang diijin-kan pada hari sabat adalah bagi orang yang su-dah sekarat hampir mati. tetapi mereka melihat bahwa orang itu bisa disembuhkan esok hari. Lalu mengapa Yesus melakukannya sekarang?
Jawaban Yesus tidak dikutipNya dari PL seperti yang biasa dilakukanNya, tetapi me-nunjuk kepada hukum dan kebiasaan yang me-reka buat. Yesus mengatakan bahwa mereka dengan tegas melarang menyembuhkan orang pada hari sabat, tetapi bila itu menyangkut harta milik mereka maka mereka lebih concern. Tidak konsisten! Contoh yang diambil Yesus adalah bila domba mereka terjatuh, maka mereka akan menyelamatkan.
Yang ingin dikritik Tuhan Yesus adalah be-tapa nilai manusia itu sudah direndahkan orang Farisi demi hukum dan kepentingan mereka. Menurut Yesus, jelas Manusia lebih berharga dari pada domba. Manusia adalah Gambar Allah, gambarNya sendiri, yang harganya adalah kemuliaan dan kekudusan Allah. Kalau memang Yesus sudah menghargai kita sede-mikian, apakah kita masih kuatir bahwa Tuhan tidak akan menolong kita? (Gunung Maston, GM)
 

Back to Top


Buluhmu dan sumbumu...

Buluh yang patah terkulai tidak diputuskanNya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. ( Matius 12:20 )

Tanggal :

21 Desember 1997

Bacaan :

Matius 12:15b-21

Refleksi :

Apakah sumbu Anda sudah hampir padam dan buluh kita sudah terkulai patah. Ingatlah pendertaan Yesus, karena setelah penderitaan itu Ia mengalami kemenangan selama-lamanya. Bukankah demikian bila Anda bertekun?

Doakan Bersama :

Masyarakat Suku Punan yang menganut kepercayaan Animisme, kiranya Tuhan terus bekerja dan memakai hambaNya untuk menjadi berkat.

    Kutipan Matius terhadap PL yang cu-kup panjang pada bagian ini adalah untuk me-nekankan kontras antara perlawanan orang Fa-risi dengan kelemahlembutan dan kerendah-hatian dari Hamba Allah (Yesus) seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya (Yes.42).
Namun di dalam kerendah-hatianNya dan perhatianNya terhadap kaum papa dan ter-singkir, nyata otoritasNya sebagai Anak Allah, dimana jaminan kemenangan selalu ada. Ini adalah paradoks kemenangan Anak Allah.
"Buluh yang terkulai"; "sumbu yang pudar nyalanya" adalah sasaran khusus Yesus da-tang ke dalam dunia ini. Bukan untuk mema-tahkannya dan bukan untuk mematikannya, te-tapi untuk menegakkannya kembali dan me-nambah terangnya. (Perhatikan Matius 11:28-30). Yesus akan memimpin orang-orang yang demikian kepada kemenangan. Orang-orang seperti ini akan mengalami keadilan dari Allah (ayat 18 "hukum" lebih tepat "keadilan"). Ke-adilan disini bukan menunjuk kepada kepu-tusan pengadilan tetapi lebih menunjuk kepada apa yang seharusnya dinikmati oleh orang-orang yang mencari Tuhan.
Dengan kata lain, orang-orang yang ter-belenggu ketidakadilan, pelecehan, kemiskin-an, yang mengakibatkan orang itu habis, mis-kin, kecewa, malu, namun yang terus mencari-cari Tuhan, suatu saat akan mengalami per-tolongan Tuhan
Kita mungkin mengalaminya. Janganlah putus asa, karena Tuhan pasti akan menegak-kan kembali buluhmu dan menyalakan kembali sumbumu. (GM)
 

Back to Top


Kemahatahuan Allah

"Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengetahui pikiranku dari jauh." ( Mazmur 139:2 )

Tanggal :

22 Desember 1997

Bacaan :

Mazmur 139:1-6

Refleksi :

Orang berdosa tidak dapat melarikan diri dari pandangan Allah, sudahkah Anda takut berbuat dosa? Allah lebih dekat kepada Anda daripada tangan dan kaki Anda.

Doakan Bersama :

Mohon Tuhan membangkitkan bagi bangsa Indonesia para hamba Tuhan yang benar-benar setia kepada kebenaran Firman Tuhan.

   

Kata Mahatahu berarti "memiliki se-mua pengetahuan." Ini merupakan istilah yang secara tepat dikenakan kepada Allah saja. Hanya keberadaan Allah yang kekal dan tidak terbatas yang mampu untuk mengetahui segala sesuatu.
Mzm.139 ini merupakan suatu syair yang indah yang diungkapan oleh Daud tentang kemahatahuan Allah. Apakah yang diketahui oleh Allah?
1. Allah tahu hati manusia (ay.1); "Tuhan Engkau menyelidiki aku dan memeriksa aku dan mengenal hatiku." Kata 'menyelidiki' ber-arti memeriksa dengan teliti. Ini berarti tidak ada sesuatu yang terlewatkan.
2. Allah tahu pikiran manusia (ay.2); "Engkau mengerti pikiranku dari jauh." Pemazmur me-ngetahui bahwa Tuhan mengerti rencana manusia, bahkan sebelum manusia itu sen-diri memikirkannya;
3. Allah tahu jalan hidup manusia (ay.3); Se-belum manusia merencanakan jalan hi-dupnya, Allah sudah tahu manusia itu mau melangkah kemana.
4. Allah tahu perkataan manusia (ay.4); Se-belum manusia mengeluarkan perkataan sesungguhnya Tuhan sudah tahu apa yang akan diucapkan, karena Allah Mahatahu.
Ada dua sikap yang perlu kita ambil, yaitu: Pertama, karena Allah Mahatahu maka jang-anlah kita kuatir tentang kehidupan, perca-yakanlah hidup kita pada Allah yang mahatahu. Kedua, karena Allah Mahatahu, biarlah itu bo-leh menjadi peringatan bagi kita untuk takut berbuat dosa karena Allah tahu setiap per-buatan yang kita lakukan. (HS)

 

 

Back to Top


Kemahahadiran Allah

"Kemana aku dapat pergi menjauhi rohMu, ke mana aku dapat lari dari hadapanMu?" ( Mazmur 139:7 )

Tanggal :

23 Desember 1997

Bacaan :

Mazmur 139:7-12

Refleksi :

Sudahkag Anda punya hati yang takut kepadaNya yang telah melihat setiap segi kehidupan manusia? Sudahkah Anda melihat Dia yang telah melihat Anda?

Doakan Bersama :

Panitia-panitia Natal di seluruh tanah air dalam segala perenca-naan dan pelaksanaan pelayanan mereka agar dapat memberi-takan kebenaran Tuhan dan bukan acara hiburan belaka.

    Allah adalah Roh, oleh sebab itu Allah tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu.
Daud, menyatakan 5 keadaan tentang ke-mahahadiran Allah:
1. Allah hadir pada tempat yang tertinggi (ay.8); "Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana." Pernyataan ini menyatakan kekagum-an Daud bahwa dalam sorga yang tertinggi, Tuhan hadir.
2. Allah hadir pada tempat yang terdalam (ay.8b); kata yang diterjemahkan sebagai "dunia orang mati" dalam ayat ini berasal dari bahasa Ibrani "Sheol" yang artinya tem-pat keberadaan jiwa orang mati sebelum Kristus bangkit dari kematian.
3. Allah hadir di Timur dan Barat (ay.9); "Jika aku terbang dengan sayap fajar." berarti tempat matahari terbit, jadi sebelah Timur, dan membuat kediaman di ujung laut, yang dimaksud tentulah laut Tengah, jadi sebelah barat.
4. Allah hadir pada tempat yang paling gelap (ay.11); Tekanan yang diucapkan adalah 'bi-arlah' kegelapan saja melingkupi aku artinya kegelapan yang amat sangat gelappun di situ Allah hadir.
Doktrin kemahahadiran Allah sungguh sangat mengagumkan bagi kita. Selain menye-babkan kita memuji Dia, juga merupakan suatu penghiburan bagi ita. Oleh sebab itu berserulah padaNya. Dia akan hadir pada waktu kita da-lam kesusahan yang paling berat sekalipun. Pada waktu kehadiran semua saudara dan te-man kita tidak bermakna, maka kehadiran Tuhan akan memberikan makna hidup kepada kita. (HS)
 

Back to Top


Kemahakuasaan Allah

"Aku bersyukur kepadaMu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib, ajaib apa yang Kau buat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." ( Mazmur 139:14 )

Tanggal :

24 Desember 1997

Bacaan :

Mazmur 139: 13-18

Refleksi :

Kalau Anda mengenal Allah sebagai Allah yang mahakuasa maukah Anda menyerahkan masalah hidup Anda kepadaNya?.

Doakan Bersama :

Seluruh mimbar di tanah air agar dapat memberi-takan Kabar Injil dan memanfaat-kan kesempatan yang baik ini untuk menjala jiwa-jiwa di luar Kristus.

    Kemahakuasaan Allah berarti Allah berkuasa atas semua ciptaanNya. Walaupun Allah mahakuasa, kemahakuasaaNya tidak berarti Allah akan bertindak sewenang-wenang terhadap ciptaanNya karena Allah tidak dapat melawan naturNya.
Dari ayat 13-18 di sini Pemazmur yaitu Raja Daud membentangkan kemahakuasaan Allah. Dalam syair ini Raja Daud berbicara dengan kata-kata yang indah tentang kelahiran dan kehidupan manusia.
Susunan tubuh manusia yang mengesan-kan itu dibentangkan dengan jelas dan terang. Alat-alat tubuh yang sesuai, indah, sempurna, menimbulkan perasaan hormat dan takut da-lam hati Raja Daud seperti yang diungkapkan di dalam Mazmur itu.
Jika kita merenungkan kasih dan peme-liharaan yang dicurahkan Tuhan atas manusia, baik atas masing-masing orang atau atas ke-seluruhannya maka tidak boleh tidak tentulah kita akan berseru seperti Raja Daud "Dan ba-giku, betapa sulitnya pikiranMu, ya Allah! be-tapa besar jumlahnya! Jika aku mau meng-hitungnya, itu lebih banyak dari pasir. Apabila aku berhenti, masih saja aku bersama-sama Engkau." (ay.17-18).
Sang pencipta merencanakan segala kehi-dupan manusia, maka seluruh perjalanan hidup kita berada di bawah pengawasan Allah oleh sebab itu, melalui pengenalan kita tentang ke-mahakuasaan Allah merupakan suatu peng-hiburan bagi kita orang percaya bahwa Allah berkuasa melakukan yang bagi manusia mus-tahil tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. (HS)
 

Back to Top


Komitmen yang tinggi

"Bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?"
( I Tim. 3:5b )

Tanggal :

25 Desember 1997

Bacaan :

I Tim. 3:1-7

Refleksi :

Dalam kondisi dunia seperti ini orag-orang kristen dituntut tanggung jawab dan komitmen yang tinggi.

Doakan Bersama :

Pelaksanaan kegiatan sosial baik oleh gereja, organisasi, maupun orang-orang Kristen dalam rangka Natal agar dilaksanakan secara bijaksana dan dengan hati yang tulus ikhlas.

    Dalam 3:1-7, (ay.1) istilah "penilik"dapat dimengerti sebagaimana terdapat dalam Kis. 20:17-28 dan Tit.1:5,7. Jadi kata 'penilik' bisa berarti gembala sidang (pastor), pemimpin ge-reja, penatua atau majelis. Di sini Paulus ti-dak menyinggung fungsi seorang penilik, tetapi yang ditekankan adalah orang-orang yang me-megang jabatan ini harus memiliki komitmen yang tinggi.
Ayat 2-7, merupakan syarat yang diberikan Paulus menjadi pemimpin rohani, dapat diring-kas sebagai berikut:
1. "Seorang penilik haruslah taat dalam si-kapnya" (ay.2-3). Baik orang Kristen maupun non Kristen perlu dapat melihat komitmen dalam tingkah laku seorang penilik;
2. "Seorang penilik harus memimpin (menga-tur) keluarganya sendiri dengan baik" (ay.4-5). Paulus melihat kepemimpinan dalam ke-luarga sebagai ukuran di mana kepemim-pinan dalam jemaat dibuktikan;
3."Seorang penilik perlu berpengalaman dalam kehidupannya" (ay.6). Imam baru/petobat ba-ru perlu menjadi dewasa, maka hal ini perlu waktu sehingga memiliki gaya hidup kristiani yang mantap dan pengetahuan Alkitab yang mendalam;
4. "Seorang penilik dihormati juga oleh orang-orang tidak percaya" (ay.7). Orang-orang tidak percaya itu barangkali tidak menyukai ajaran, tetapi mereka harus menghormati ketulusan hidupnya.
Apakah kita memegang jabatan kepemim-pinan rohani atau ingin menjadi pemimpin dikemudian hari? Periksalah diri kita berdasar-kan syarat diatas. (SD)
 

Back to Top


Integritas Iman

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja... ( Daniel 1:8 )

Tanggal :

26 Desember 1997

Bacaan :

Daniel 1:1-15

Refleksi :

Tanyakanlah hatimu sendiri, akan sanggupkah saya menyatakan diri saya sebagai pengikut Kristus, saat keadaan menuntutku untuk berbohong?

Doakan Bersama :

Kerohanian kita agar semakin bertumbuh dewasa dalam pengenalan akan Tuhan dan mempunyai semangat yang semakin berkobar-kobar dalam melayani Tuhan karena kasihNya.

    Di dalam kehidupan sesehari, orang Kristen selalu diperhadapkan dengan berbagai pencobaan untuk bertindak tidak sesuai deng-an ajaran firman Tuhan. Dan sesungguhnya ada banyak anak-anak Tuhan yang 'terjebak' dalam profesi tertentu yang nampaknya 'me-maksa'nya untuk berlaku menurut 'aturan main' dunia. Misalnya; kalau tertangkap polisi karena suatu pelanggaran lalu lintas, maka untuk menghindari keruwetan proses pengadilan ada-lah 'berdamai' dengan petugas, atau proses pengurusan surat-surat tertentu yang diper-cepat dan dipermudah dengan 'penyemir', atau yang paling akut; berkaitan dengan masalah perpajakan.
Sudah menjadi semacam falsafah umum, bahwa di dalam hal-hal tersebut, etika yang berlaku adalah etika situasi, etika pragmatis. Tidak mungkin kita bisa mempertahankan etika Kristen dalam kondisi seperti zaman sekarang ini.
Daniel dan kawan-kawan, pernah berada dalam situasi yang jauh lebih sulit, jauh lebih 'memaksa'. Tetapi dia tidak kompromi. Daniel tetap berpegang pada prinsip integritas iman-nya, meskipun harus menghadapi ancaman yang serius. Tetapi ketika dia menetapkan un-tuk tidak kompromi, justru saat itulah peme-liharaan Allah bekerja secara ajaib. Daniel bu-kan saja tidak dihukum, dia bahkan mem-peroleh perlakuan yang lebih baik lagi.
Di tengah-tengah masyarakat yang sudah tercemar dan banyaknya perusakan gereja, ki-ranya kisah Daniel boleh mengingatkan kita un-tuk mempertahankan integritas iman kita dalam hidup ini. (AK)
 

Back to Top


Cara Allah menempa

"...Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka...dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah." ( II Korintus 1:3-4 )

Tanggal :

27 Desember 1997

Bacaan :

II Korintus 1:1-6

Refleksi :

Penghiburan yang terbaik adalah orang yang telah mendapatkan penghiburan dari Allah dan ingin membagikan penghiburan itu kepada orang lain.

Doakan Bersama :

Semangat Natal kaum yang diselamatkan, yaitu semangat kristiani dalam memberitakan kabar kesela-matan agar tetap menyala sepan-jang tahun, tidak hanya saat hari Natal saja.

    Seorang Ibu yang baru saja kehilangan putranya datang pada seorang ahli filsafat dan meminta nasehat agar ia dapat mengatasi ke-sedihannya yang dalam. "Saya dapat meno-longmu, tetapi terlebih dahulu kamu harus me-nyerahkan biji-bijian kepada saya", kata orang tua bijaksana itu. "Syaratnya, biji-bijian itu harus kamu dapatkan dari rumah orang yang tidak pernah mengalami kesusahan."
Dengan semangat ibu itu lalu memulai pencariannya. Namun di setiap rumah yang di-kunjunginya, ia selalu bertemu dengan orang yang bermasalah. Akhirnya ia kembali kepada orang tua itu tanpa membawa biji apapun dan menyadari, "Alangkah piciknya saya! Ternyata kesusahan itu dapat menimpa siapa saja, ba-gus sekali". Jawab orang tua bijak itu "Kamu te-lah mendapatkan pelajaran berharga, karena kamu juga telah mengalami kesusahan, maka kamu dapat bersimpati pada mereka dan ingin menghibur mereka. Dengan memberikan peng-hiburan kepada orang lain, kesusahan sendiri akan semakin berkurang".
Seseorang pernah menulis,"Kesusahan a-kan menimpa kita pada salah satu dari empat keadaan: melarikan diri dari kenyataan pahit, tenggelam dalam kesusahan terus menerus, menjadi marah dalam kepahitan atau menjadi berkat bagi orang lain. Agar dapat menjadi ber-kat bagi orang lain, kita harus berhenti menga-sihi diri sendiri, menerima penghiburan dari Allah dan kemudian membagikannya kepada o-rang lain yang membutuhkan.
Namun, orang tidak akan mengalami peng-hiburan dari Tuhan bila ia tidak mencintai Fir-man Tuhan dan suka beribadah di gereja. (LT)
 

Back to Top


Aku si bungsu itu...

"Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan". ( Lukas 15:17 )

Tanggal :

28 Desember 1997

Bacaan :

Lukas 15:11-32

Refleksi :

Bukankan kita sering seperti anak bungsu yang selalu menyakiti hati Tuhan danhati orang tua kita?

Doakan Bersama :

Literatur Perkantas agar dipakai Tuhan untuk turut memberi warna dalam bacaan berbobot anak-anak Tuhan, khususnya mahasiswa-mahasiswa Kristen.

    Apabila kita melihat kehidupan anak bungsu dalam perikop ini, kita melihat suatu gambaran tentang kehidupan kita orang-orang berdosa, karena apa yang diperbuat oleh anak bungsu tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang biasa kita perbuat.
Anak bungsu adalah anak yang dicintai o-leh bapanya, tetapi kasih sayang bapanya ter-sebut dibalasnya dengan perbuatan yang sang-at menyakiti hati bapanya. Yaitu ia meminta harta bagian (warisan) sebelum bapanya me-ninggal. Dia pergi untuk melepaskan diri dari kontrol bapanya. Hal ini ia lakukan hanya untuk menuruti kata hati yang ingin kepuasan yang semu. Anak bungsu ini tidak mengerti bahwa kebahagiaan yang diberikan oleh dunia ini ha-nya bersifat sementara.
Akibat kekurangajarannya, ia mengalami penderitaan yang diakibatkan oleh ulahnya sendiri. Ia kelaparan, dan tidak ada orang yang mau memberi ia makan walau itu hanya seke-dar makanan babi.
Namun ada hal indah yang dilakuan anak bungsu di tengah penderitaannya, ia sadar ter-ingat akan bapanya. Anak bungsu ini bukan hanya sadar tetapi ia mau bertindak dengan meninggalkan tempat yang penuh penderitaan itu dengan pulang ke rumah bapanya, serta mengakui segala dosanya (ay.32).
Kita seperti anak bungsu ini yang begitu kurang ajar yang hanya menuruti kata hati yang berdosa untuk mencari jalannya sendiri, namun sebelum kita melangkah terlalu jauh, kita harus sadar dan kembali kepada Allah yang begitu mangasihi kita. (KP)
 

Back to Top


Akukah si sulung itu?

"Marahlah anak sulung ..., katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi ...belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita..." ( Lukas 15:28,29 )

Tanggal :

29 Desember 1997

Bacaan :

Lukas 15:11-32
(Lanjutan)

Refleksi :

Dapatkah saya menghilangkan rasa iri hati saya pada orang yang lebih baik dari saya. Walaupun, mungkin, dulu ia lebih jelek dari saya.

Doakan Bersama :

Literatur Perkantas agar dipakai Tuhan untuk turut memberi warna dalam konsumsi bacaan berbobot anak-anak Tuhan, khususnya mahasiswa-mahasiswa Kristen.

    Pada bagian ini kita akan melihat ke-hidupan anak sulung. Menurut beberapa pe-nafsir, anak sulung ini adalah gambaran atau mewakili orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang menggerutu karena Yesus menerima orang-orang berdoa. Hal ini mereka lakukan adalah karena iri hati yang selalu tertanam di hati mereka. Oleh karena itu, pada saat ini kita melihat apa saja yang ditimbulkan oleh hati yang iri dengan tindakan kita.
Tindakan pertama yang dilakukan oleh anak sulung adalah marah, dikarenakan ia me-rasakan ketidakadilan yang telah dilakukan oleh bapanya, setelah ia mendengar tentang apa yang sedang terjadi dirumahnya pada saat itu. Dia marah dan melakuan mogok untuk masuk ke rumah bergabung dengan bapa dan adiknya yang sedang berbahagia sehingga bapanya ke-luar untuk berbicara kepadanya. Tetapi respon anak sulung setelah mendengar penjelasan ba-panya kelihatan wajar.
Ia melakukan tindakan sebagai pernyataan iri hati yaitu membandingkan diri dengan orang lain—menyatakan dirinya lebih baik, benar, dan banyak berkorban dibandingakn orang lain. Hal ini sering kita lakukan dalam mengikut Tuhan, kita sering menganggap diri sendiri lebih baik, lebih rohani, atau lebih setia.
Hal kedua yang dilakuan oleh anak sulung untuk mengekspresikan rasa iri hatinya adalah dengan menjelekkan orang lain. Anak sulung menjelekkan adiknya, mengingat semua kela-kuan jahan adiknya sebelumnya, seperti kita sering menjelekkan rekan kerja atau saudara seiman kita. Hal itu menandakan kita sedang iri dengan orang lain. (KP)
 

Back to Top


Kasih bapa yang ...

"Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia." ( Lukas 15:20b,28 )

Tanggal :

30 Desember 1997

Bacaan :

Lukas 15:11-32
(Lanjutan)

Refleksi :

Bapa kita adalah pengasih dan panjang sabar. Tapi apakan kita akan mempermain-mainkan kesabaran Bapa?

Doakan Bersama :

Pelayanan Mahasiswa Aceh agar Tuhan bekerja memakai mereka untuk memanggil mahasiswa lain terutama penduduk asli untuk mengenal Tuhan.

    Seorang bapa yang mengasihi anaknya telah mendapatkan perlakuan dari mereka dengan tidak baik. Si bungsu dengan kurang ajar menyakiti hati bapanya demikian dengan si sulung yang marah pada bapanya. Namun me-lalui sikap dan tindakan sang bapa ini kita me-lihat cinta kasih yang begitu murni, tulus, dan besar tiada terkira.
Sang bapa, walau sudah disakiti oleh anaknya tetapi ia tetap mengasihi anaknya, se-hingga dia dengan kesabaran dan penuh ha-rapan menantikan kedatangan kembali si bung-su. Dia terus menunggu sampai akhirnya pada suatu saat dia melihat dari jauh sosok anak yang dikasihi itu datang. Dia dengan penuh ka-sih berlari mendapatkan anaknya, merangkul, dan mencium anaknya meski keadaan anaknya kotor dan bau. Sang bapa begitu peduli dengan keadaan anaknya karena dia begitu mengasihi. Demikianlah kasih Allah pada kita orang ber-dosa, Allah mengasihi kita dan Dia terus me-nanti kita kembali kepadaNya.
Setelah anak itu didapatkannya, maka di-adakanlah pesta yang besar untuk menyambut kedatangan anaknya. Selain kasih bapa pada si bungsu, dia pun menunjukkan kesabarannya kepada si sulung yang marah-marah karena merasakan ketidakadilan. Bapa dengan kesa-barannya berinisiatif untuk keluar dan berbicara kepada anak sulungnya. Dia menjelaskan ten-tang apa yang dia lakukan terhadap anak bungsunya dan tentang posisi anak sulungnya. Allah Bapa selalu dengan kesabaranNya ber-bicara pada kita agar kita sadar bahwa se-sungguhnya kitapun sering seperti si bungsu dan si sulung. (KP)
 

Back to Top


Dibenci karena namaNya

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. ( Yohanes 15:18 )

Tanggal :

31 Desember 1997

Bacaan :

Yoh. 15:18-21

Refleksi :

Kalau kita membenci dosa, pasti dunia akan membeci kita. tetapi bila kita menyukai dosa, maka duniapun pasti menyukai kita.

Doakan Bersama :

Pengakuan dan pertobatan atas segala dosa kita, mengucap syukur untuk perkara-perkara yang Tuhan sudah anugerahkan untuk kita pela-jari dalam seta-hun ini dan atas penyertaanNya sepanjang tahun.

    Orang Kristen adalah orang yang sudah ditebus dari belunggu dosa, diperdamaikan dengan Allah, dan diberi status baru sebagai murid Kristus, anak-anak Allah. Status baru ini menjadikan dirinya musuh dunia yang didalangi Iblis. Alkitab memakai berbagai cara untuk secara jelas menyatakan kebenaran tersebut, baik yang dikatakan langsung oleh Tuhan sen-diri (Mat.5:1-12), maupun oleh Paulus (II Tim. 3:12), dan juga Petrus (I Ptr.4:14).
Jika orang Kristen dibenci oleh dunia ka-rena kebenarannya adalah wajar karena dunia telah terlebih dahulu membenci Tuhan Yesus sendiri.
Tapi yang menjadi masalah adalah, apa-kah orang Kristen dibenci karena hal-hal itu, atau karena alasan lain? Atau dia dibenci kare-na dianggap munafik, karena kesalehan hidup yang diperlihatkan adalah kesalehan yang pal-su?
Tidak jarang, orang mencemooh hidup o-rang Kristen karena ibadahnya yang asal-asalan. Tutur kata dan perilaku orang Kristen menjadi batu sandungan bagi orang lain, kare-na dianggap tidak ada bedanya dengan orang yang bukan Kristen. Orang kristen berbicara tentang kasih setia dan anugerahNya yang melimpah tapi di antara sesama anak Tuhan sendiri, terjadi saling iri, saling membenci, dan tidak mampu memperlihatkan kesetiaan dirinya kepada Tuhan. Semua itu, membuat orang Kristen sering dicemooh.
Orang kristen dibenci, tidak boleh karena alasan tersebut. Tetapi hanya dengan alasan karena dia hidup benar, dan menyaksikan ke-muliaan Tuhan melalui hidupnya. (AK)
 

Back to Top

mail tohusen@hotmail.com