| Desember 1998 |
| Prakata |
|
| Senin | Selasa | Rabu | Kamis | Jumat | Sabtu | Minggu |
|
|
|
|
|
|
6 | |
| 7 | 8 |
|
|
|
|
13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 |
|
Tanpa terasa kita sudah memasuki bulan Desember pada tahun
ini. Artinya, kalau kita sudah memasuki bulan ini, ada satu perayaan
yang penting yang biasanya sudah dipersiapkan jauh hari sebelumnya
yaitu Natal. |

|
Merayakan Natal (I) "Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji
dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar
dan mereka lihat..." |
|
Tanggal : 1 Desember 1998 Bacaan : Luk. 2:8-20 Refleksi : Adakah sikap para gembala juga Anda miliki di dalam merayakan Natal tahun ini? Dan sudahkah Sang Bayi Natal itu menjadi Tuhan dan Juruselamat Anda? Doakan Bersama : Persiapan diri dalam menghadapi hari Natal, akhir tahun, dan tahun baru. |
Dalam suatu kesempatan, DR. James Montgomery Boice ditanya: "Bagaimanakah
kita seharusnya merayakan Natal?" DR. Boice menjawab: "Jika
Anda orang Kristen, cara yang terbaik untuk merayakan Natal adalah
dengan menjadi orang Kristen, yaitu dengan percaya kepada Tuhan
Yesus, meminta Dia masuk ke dalam hati Anda dan mengambil keputusan
untuk mau mengikuti Dia sebagai muridNya." Inilah sikap
terbaik yang harus diambil dan dimiliki oleh seorang manusia
yang belum mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya
dalam merayakan Natal. Namun bagaimana dengan kita yang mungkin sudah menjadi orang Kristen. Sikap bagaimanakah yang seharusnya dimiliki dalam menyambut dan merayakan Natal? Tentunya sikap yang dimiliki oleh para gembala yang tercatat di dalam Injil Lukas itu merupakan cermin atau petunjuk tentang sikap yang harus Anda miliki dewasa ini juga. Pertama, para gembala "memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu" (ay. 17). Ini berarti mereka menjadi saksi-saksi Tuhan Yesus. Bahwa Allah berkenan memakai mereka untuk menyebarluaskan berita surgawi, berita yang penuh sukacita itu. Kedua, para gembala "kembali sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat" (ay.20). Ini berarti mereka juga berbicara kepada Tuhan Allah dan memuji Dia. Mereka memandang kelahiran Tuhan Yesus sebagai karya Allah, mereka berterima kasih dengan memuji dan memuliakan Allah. Bagaimana dengan Anda di dalam menyambut dan merayakan Natal tahun ini? |

|
Merayakan Natal (II) "Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam
hatinya dan merenungkannya." |
|
Tanggal : 2 Desember 1998 Bacaan : Luk. 2:8-20 Refleksi : Adakah karena kesibukan yang ada membuat Anda tidak dapat menghayati makna Natal dalam hidup Anda? Tenangkanlah diri sejenak dan merenunglah dihadapan Allah! Doakan Bersama : Keamanan di Indonesia yang semakin memburuk membuat kita semakin bersandar pada kedaulatan pemeliharaan Tuhan. |
Masa raya Natal adalah waktu yang super sibuk. Kesibukan ini
bukan hanya terlihat di gereja-gereja, tetapi kesibukan ini juga
terlihat di Mal, supermarket, hotel bahkan tempat-tempat hiburan.
Kesibukan-kesibukan seperti ini acap kali menyita perhatian dan
konsentrasi Anda di dalam menyambut dan merayakan Natal. Akhirnya
Anda jatuh dalam kesibukan Natal. Seperti yang diungkapkan oleh
Pdt. Andar Ismail: "Beberapa minggu sebelumnya Anda sudah
kena demam Natal, di gereja, rumah, sekolah, atau di tempat kerja.
Belanja ini itu. Menyiapkan rupa-rupa hal. Menghadiri pertemuan
sana sini. Apabila tiba hari pelaksanaannya kita bernyanyi Malam
Kudus, sunyi senyap .... Namun hati kita tidak sunyi senyap.
Hati kita hiruk pikuk dan hingar bingar. Tentunya akan ada
banyak waktu yang terbuang dengan sia-sia, apabila Anda membiarkan
diri terlibat dan hanyut di dalam segala kesibukan tersebut,
di mana Anda tidak mampu lagi membaca dan merenungkan kembali
berita dan pesan Natal yang sesungguhnya. Realita seperti ini tidaklah terjadi pada Natal pertama. Yang ada justru sebaliknya, di mana firman Tuhan menyatakan "Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya" (ay.19). Apa yang dilakukan Maria sudah lebih daripada sekadar heran, meskipun ia merasa kagum dan bertanya-tanya. Wanita yang luar biasa ini justru mencoba mengingat segala sesuatu yang telah terjadi pada dirinya pada hari-hari itu dan membayangkan apa artinya setiap peristiwa itu. Ini artinya Maria menyediakan waktu untuk memikirkan tentang hal-hal rohani. Itulah yang seharusnya kita lakukan saat-saat kita sibuk mempersiapkan Natal. |

|
Taat Pada Pemerintah "Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang
diatasnya, sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari
Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah." |
|
Tanggal : 3 Desember 1998 Bacaan : Rm. 13:1-7; Refleksi : Ketaatan kita kepada pemerintah tentunya kita nyatakan sesuai dengan Roma 13:7. Implikasi ayat ini begitu luas, cobalah luangkan waktu Anda untuk merenungkannya. Doakan Bersama : Jordania ibu kota Amman yang memiliki 3 suku terabaikan agar mendapat pendistribusian literatur dan Alkitab. |
Awal masa reformasi, bangsa kita disibukkan dengan berbagai demonstrasi
dan terang-terangan melawan pemerintah yang sah. Lalu bagaimana
sikap kita sebagai orang Kristen? Jelas dalam ayat di atas kita
di minta taat kepada pemerintah, mengapa? Karena semua pemerintah yang ada di dunia ditetapkan oleh Allah (ay. 1). Kita harus meyakini bahwa tidak ada pemerintah yang tidak diangkat oleh Allah termasuk pemerintahan yang melawan Allah. Ini dikatakan oleh Daniel: "...Hingga tuanku mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikan kepada siapa yang dikehendakiNya." (4.25b). Hal inipun Paulus mengakui bahwa pemerintah Romawi yang memenjarakan dia karena Kristus juga atas legitimasi Allah. Tentu kita bertanya, mengapa Allah mengangkat mereka? Saya tidak tahu. Seperti kata Daniel, tergantung kehendakNya, artinya semua adalah kedaulatanNya! Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan kita (ay. 4). Inilah tujuan semula mengapa Allah mensahkan pemerintah. Institusi pemerintahlah yang sah dalam membalaskan murkaNya atas orang jahat (ay. 4b). Pemerintah tidak membenarkan balas dendam secara individu. Karena semua manusia relatif. Tuhan yang bisa menghakimi dengan adil, karena Ia kebenaran mutlak. Tetapi, kebenaran itu telah didelegasikan kepada pemerintah. Tapi, walaupun pemerintah adalah kafir, Tuhan memberikan suara hati, yang tidak bisa bohong terhadap kebenaran (walaupun dia berusaha). Lalu bagaimana bila pemerintah jahat? Besok kita akan melihatnya. |

|
Tidak Taat Pemerintah "Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut
kepada pemerintah...Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah?" |
|
Tanggal : 4 Desember 1998 Bacaan : Rm. 13:1-7 Refleksi : Janganlah kita mendiamkan kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah yang sah, kalau itu hanya untuk alasan keamanan kita semata. Itu berarti kita sendiri berpihak kepada kejahatan. Doakan Bersama : Lembaga peradilan agar dapat melaksanakan tugasnya dengan seadil-adilnya. |
Namun, apa kita harus taat kepada pemerintah yang jelas zalim,
korup dan menindas kebenaran? Tidak! Kita harus melawan. Mengapa? Karena pemerintah yang disahkan Allah adalah pemerintah yang menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah untuk kebaikan rakyatnya (ay. 4). Artinya, bila pemerintah itu sudah menyimpang dari tujuan semula di atas, maka pemerintah itu tidak lagi menjalankan mandat kebudayaan seperti yang Tuhan kehendaki. Maka dalam kasus seperti ini, saya yakin Tuhan akan memunculkan kebenaran-kebenaran yang masih bertumbuh subur di dalam hati nurani sosial/masyarakat (anugerah umum) untuk menumbangkan pemerintah yang zalim. Inilah yang terjadi dengan pemerintahan rezim Soeharto. Secara de jure ia memerintah, tetapi secara de fakto kebenaran nurani masyarakat yang memerintah. Soeharto harus turun dan digantikan oleh Habibie. Apakah Habibie sah? Bukan masalah siapa yang memerintah, tetapi masalahnya, apakah pemerintahan itu menjalankan fungsinya sesuai dengan kehendak Allah, yaitu untuk mengimplementasikan hukum-hukum Allah di tengah masyarakat. Petrus sendiri setelah diadili oleh mahkamah agama (waktu itu diakui sebagai salah satu indikator kebenaran) menentang mereka, karena ia tahu bahwa mahkamah agama saat itu menentang kebenaran. Dalam kasus seperti itu kita berani berkata seperti Petrus: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia." 'Manusia' dalam konteks kita adalah institusi yang sah dari setiap lembaga di pemerintahan. Firman Tuhan mengatakan bila semua institusi itu hanya untuk menindas rakyat dan kebenaran, kita harus melawannya. |

|
Kehilangan Hak Sulung "Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah
gunanya bagiku hak kesulungan itu?" |
|
Tanggal : 5 Desember 1998 Bacaan : Kej. 25:29-34; Refleksi : Menganggap remeh sesuatu merupakan cermin dari jiwa seseorang yang sesungguhnya kerdil/remeh. Sama halnya dengan Esau. Bisa menghargai sesuatu adalah gambaran keagungan jiwa seseorang. Doakan Bersama : Gereja-gereja Tuhan agar menjadi gereja yang berdoa sehingga dapat bertanggung jawab dan terus berbuah untuk kemuliaan nama Tuhan. |
Diceritakan, suatu kali Esau datang dengan kelelahan dari padang,
kemudian ia tertarik dengan kacang merah yang sedang dimasak
oleh Yakub. Iapun memintanya kepada adiknya itu. Tetapi Yakub
adalah orang yang cerdik dan berwawasan jauh. Ia memandang kesulungan
itu adalah sesuatu yang berharga dan istimewa. Memang demikianlah
kesulungan dipandang dalam dunia Timur Tengah Kuno. Hal itupun
ada benarnya dalam kebudayaan kita di Indonesia, bahwa anak sulung
memiliki hak dan kewajiban yang tidak dimiliki oleh status anak
yang lain. Hal itu sama sekali tidak dihargai oleh Esau. Esau
menganggap remeh status hak kesulungan. Ia bahkan menjualnya
kepada Yakub hanya demi semangkok kacang merah. Esau adalah gambaran orang yang tidak pernah menghargai dan serius atas apa yang Tuhan sudah berikan kepadanya. Esau adalah gambaran orang yang menganggap remeh hal-hal yang sepantasnya dihargai. Esau adalah gambaran orang yang berani melakukan apa saja demi kebahagiaan sesaat (kacang merah), tanpa memikirkan resiko yang akan menimpanya. Di luar semua kemungkinan Allah sudah menentukan peristiwa itu, kita melihat bahwa Esau bahkan berani menjual sesuatu yang dia tidak layak menjualnya, karena kesulungan itu adalah pemberian Allah melalui kelahiran. Esau menganggap remeh hak kesulungannya sehingga tanpa sadar itulah permulaan penderitaannya yang panjang. Jangan pernah menganggap remeh apapun. Tuhan mengatakan segalanya adalah anugerah, maka kalau kita meremehkannya berarti kita meremehkan anugerah Allah. Perhatikan Kolose 3:23. |

|
Kehilangan Berkat Sulung "Kata Esau: "...Hak kesulunganku telah dirampasnya,
dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku... Dan dengan
suara keras menangislah Esau." |
|
Tanggal : 6 Desember 1998 Bacaan : Kej. 27 Refleksi : Kalau saya tidak akan mau kehilangan berkat-berkat dari Allah hanya karena saya bertingkah bodoh, tidak menghargai, seperti yang Esau lakukan. Bagaimana dengan Anda? Doakan Bersama : Fungsionaris FKKI, Bamag Jatim, Bamag Surabaya, dan para pemimpin gereja agar dapat menyikapi berbagai permasalahan yang ada dengan terang Firman Tuhan dan bijaksana. |
Konsekuensi yang diterima oleh Esau dengan meremehkan hak kesulungannya
sangatlah menyedihkan. Walaupun dilakukan dengan persekongkolan
antara Yakub dengan mamanya, atau kita sebut saja kelicikan (ay.
35), berkat kesulungan yang dirampas itu secara logis adalah
mengikuti hak kesulungan yang sudah dijualnya kepada Yakub. Sekarang mata Esau terbelalak. Ia harus menyesali semua itu dengan menangis meraung-raung (ay. 34). Ironisnya dengan meraung-raungpun berkat itu tidak bisa kembali kepadanya. Ibrani mengatakan "Ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata." (Ibr. 12:17b). Berkat apa yang hilang dari Esau? Bau anak yang seperti bau padang yang diberkati Tuhan (ay. 27b). Berkat embun dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berkelimpahan (ay. 28). Bangsa-bangsa akan takluk kepadanya, suku-suku bangsa akan sujud kepadanya (ay. 29a). Bahkan menjadi tuan atas semua saudaranya, serta anak-anak ibunya akan sujud kepadanya (ay. 29b). Siapa yang mengutuk engkau akan terkutuk dan siapa yang memberkati engkau akan diberkati (zy. 29c). Saudara, bisa membayangkan semua berkat itu seharusnya milik Esau secara status. Tetapi karena ia meremehkan, semuanya menjadi milik Yakub. Semua berkat di atas mencakup yang didambakan manusia dalam hidup ini. Apakah kita mau kehilangan semua berkat yang menjadi milik kita, hanya karena kebodohan kita? |

|
Pemisahan Diri (I) "Kamu yang dahulu bukan umat Allah tetapi yang sekarang
telah menjadi umatNya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang
sekarang beroleh belas kasihan." |
|
Tanggal : 7 Desember 1998 Bacaan : I Ptr. 2:9 Refleksi : Cara kita berperilaku setelah menjadi orang Kristen haruslah dengan cara Kristiani, bukan cara duniawi. Cara Kristiani adalah sesuai dengan 1 Kor.13:4-7. Doakan Bersama : Gerakan Sembako yang dilaksanakan kiranya boleh terus dipakai Tuhan untuk menolong orang-orang yang betul-betul membutuhkan. |
"Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa
yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri" adalah suatu kondisi
istimewa yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang percaya kepada
Kristus Yesus. Namun apa yang menjadi tugas dari bangsa yang
kudus? Tugas sebagai orang percaya yang penting yaitu memisahkan diri dari dunia. Kita tentu tidak dapat terpisah dari kehidupan dunia. Karena saat kita percaya kepada Kristus, Ia tidak segera memisahkan diri dari kegelapan, yaitu segala perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Perilaku orang percaya tidak lagi mengikuti cara dunia. Konsep baru merubah sikap yang sesuai dengan ajaran firman Tuhan. Bila konsep yang baru yaitu konsep berdasarkan firman Tuhan tidak dilaksanakan sebagai kebiasaan, maka hakekat dari ajaran menjadi mati. Rasul Paulus mengatakan bahwa yang ia miliki dahulu adalah sampah. Konsep kristiani telah merubah perilakunya. Kita perlu akui setiap saat kita berhadapan dengan pemilihan keputusan yang berpihak pada Kristus atau pada dunia. Kecenderungan dari orang Kristen masuk dalam pencobaan karena kepentingan si aku masih berperan, kebiasaan-kebiasaan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan masih belum dikikis habis. Tentu saja hal ini tidak dapat kita lakukan dengan usaha kita sendiri. Kita perlu melibatkan pekerjaan Tuhan. Sebab itu, marilah kita mendekatkan diri selalu dengan Tuhan, mohon kekuatan RohNya memberikan dukungan dan pengertian yang benar untuk membawa setiap perilaku kita semakin sempurna di mata Tuhan. |

|
Pemisahan Diri (II) "Tetapi makanan keras adalah untuk orang dewasa, yang
karena mempunyai panca indera yang terlatih untuk membedakan
yang baik dari pada yang jahat." |
|
Tanggal : 8 Desember 1998 Bacaan : Ibr. 5:11-6:2 Refleksi : Apakah kita memang sudah bisa memakan-makanan yang keras? Artinya siapkah kita memasuki kehidupan rohani yang lebih dewasa dengan segala pergumulannya? Atau kita masih ingin tetap seperti bayi? Doakan Bersama : Karakter kita sebagai orang Kristen agar setiap hari mau diubah oleh Tuhan sendiri untuk menjadi semakin indah sehingga menjadi kesaksian hidup dan memuliakan Tuhan. |
Sebagai orang percaya, seharusnya kita tidak akan berada dalam
kondisi yang stagnasi sebagai bayi. "Tetapi makanan keras
adalah u-tuk orang dewasa, yang karena mempunyai panca indera
yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat"
(ay. 4). Pada masa tertentu, bayi akan disapih. Ia tidak akan
terus disusui oleh ibunya, karena sudah seharusnya belajar makan
makanan yang keras. Pemisahan diri ini bukan saja berarti memisahkan
diri dari dunia, tetapi p-misahan diri dari masa kanak-kanak,
dan menuju kepada tingkat kematangan rohani. Namun seringkali orang Kristen mengeluh, mengapa Tuhan tidak lagi menjawab doa-doanya. Sehingga ia tidak lagi bersukacita seperti waktu ia pertama percaya kepada Kristus Yesus. Tetapi kemudian Tuhan nampaknya tidak menghiraukan lagi doa-doanya. Sukacita untuk mengikuti Tuhan tidak lagi menjadi kegemaran. Usaha yang macet tidak lagi bergairah. Sakit penyakit yang masih bercokol tidak memberikan kebebasan baginya untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Ia sedang berjuang sendiri. Tuhan seolah-olah jauh darinya. Saat ini, ia dianggap masuk taraf kedew-saan. Ia perlu iman untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang datang. Tuhan membiarkannya menghadapi tantangan yang diperhadapkan dengan imannya. Proses ini akan berlangsung selama ia hidup. Tuhan terus menerus mengajarkan pelajaran yang belum diselesaikan selama orang Kristen hidup. Ia tidak lagi bergantung kepada "susu", mungkin itu kelunakan kondisi yang ia miliki. Tetapi menghadapi realita kepelikan hidup, ia harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kita patut bersyukur karena hal itu telah menjadi bagian pertumbuhan rohani kita. |

|
Mengakui Kesalahan "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia
dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan
kita dari segala kejahatan." |
|
Tanggal : 9 Desember 1998 Bacaan : Dan. 4:1-3 Refleksi : Mzm. 32:5 "Dosaku keberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaranku dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku."
Doakan Bersama : Orang-orang Kristen yang Anda kenal dan sedang undur dalam imannya agar sadar dan kembali kepada Tuhan. |
Kita jarang mendengar pengakuan seorang pemimpin bangsa yang
berani meminta maaf atas satu kesalahan yang telah diperbuat
secara langsung atau tidak oleh organisasinya atau dirinya sendiri,
apalagi pengakuan dosa secara terbuka di depan umum. Di negara kita juga terdapat para pemimpin yang demikian, satu contoh, kita bisa melihat dari organisasi politik yang terbesar di negara kita yang tidak berani meminta maaf kepada rakyat atas kebijaksanaan pemerintah semasa orde baru yang membawa negara ini dalam suatu kesulitan yang besar baik secara ekonomi dan moral. Kita bisa melihat juga di antara para pemimpin kita yang mengeluarkan kalimat-kalimat yang sangat menyakiti perasaan, untuk mengakui kesalahan sebagian dari bangsa ini. Belum lagi tindakan-tindakan dari pemerintah dengan aparatnya yang telah melanggar hak azasi manusia. Raja Nebukadnezar, raja Babel yang agung, tinggi hati, pandai dan penuh kuasa, menulis pengakuan dosa kepada dunia dengan sepucuk surat dan menggambarkan secara rinci bagaimana Allah telah merendahkan dirinya selama 7 tahun dan memulihkannya kembali karena kemurahanNya. Harus diakui, menceritakan peristiwa yang paling memalukan dalam hidup kita bukan hal yang gampang. Apalagi ada upaya menanamkan dan membiarkan bertumbuh subur satu pola ketakutan dalam kehidupan kita sehari-harinya. Maka tidak heran kita takut mengakui dan cenderung menutupi dengan rapat dosa-dosa kita. Kita tidak berani dengan jujur mengakui dihadapan diri kita sendiri dan Tuhan. Belajarlah seperti Nebukadnezar. |

|
Jangan Remehkan Allah "... demikianlah akan berlaku atasmu hingga engkau
mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia
dan memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya!" |
|
Tanggal : 10 Desember 1998 Bacaan : Dan. 4:4-33 Refleksi : Kalau Anda melihat kemahatinggian Allah. Sejauh mana Anda menyandarkan hidup Anda kepadaNya? Doakan Bersama : Pembinaan remaja Kristen dengan segala bentuknya mengingat bahwa masa depan gereja dan bangsa terletak di tangan mereka. |
Kalau kita mengamati dengan seksama tentang apa yang terjadi
dalam kerusuhan di negera kita, sungguh suatu hal yang sangat
memprihatinkan sekali. Kenapa? Peristiwa pembakaran rumah ibadah
gereja yang note bene adalah rumah dimana Tuhan hadir.
Kasus santet yang menjadi korban adalah kyai, guru mengaji
yang boleh dikatakan sebagai pemuka agama dan wakil Allah di
tengah dunia ini. Ada juga oknum-oknum yang membayar orang-orang
untuk melakukan kerusuhan, penjarahan bahkan pemerkosaan. Mereka
melakukan seperti tanpa bersalah dan tidak ada rasa takut termasuk
takut kepada Tuhan. Para pengamat dan tokoh-tokoh negara kita dengan jelas melihat semua rangkaian peristiwa yang keji dan kejam tersebut merupakan suatu rekayasa. Pertanyaan yang muncul adalah siapa aktor atau dalang semua ini? Kita tidak tahu. Yang pasti orang tersebut pasti orang yang congkak, tidak mempunyai hati yang takut kepada Tuhan, bahkan mungkin menganggap dirinya lebih hebat dari pada Tuhan. Nebukadnezar merasa lebih hebat dari pada Allah Yahweh. Ia mempunyai kerajaan yang besar dan disegani di seluruh dunia. Ia seringkali meremehkan Allah. Bagaimana Allah menghadapi orang demikian? Tiga kali Allah (ay. 17, 25, 32) menegaskan otoritas kedaulatanNya. Saat ini terlalu banyak manusia di dunia yang meremehkan Allah mereka hidup dengan seenak mereka sendiri dan melecehkan nilai-nilai kebenaran. Seperti dikatakan nabi Habakuk, hukum kebenaran kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, ... keadilan muncul terbalik (Hab. 1:4). |

|
Makan Rumput "... kepada tuanku akan diberikan makanan rumput,
seperti kepada lembu, dan tuanku akan dibasahi dengan embun dari
langit..." |
|
Tanggal : 11 Desember 1998 Bacaan : Dan. 4:4-37 Refleksi : Ada pepatah: "Apakah Anda mau berubah setelah memakan rumpt atau berubah sebelum harus memakan rumput." Doakan Bersama : Umat Tuhan yang teraniaya supaya mereka justru makin datang berlindung padaNya dan makin mengalami kebaikan dan pertolonganNya. |
Saya sering kali melihat banyak orang di dunia yang mengeraskan
hatinya terhadap Kristus. Mereka tidak mau membuka hati dan percaya
sekalipun mereka dengan mata kepala sendiri melihat akan kuasa
dan kebesaran Allah. Kekerasan hati terhadap Allah juga dilakukan oleh sebagian orang Kristen yang sudah bertahun-tahun mengenal Tuhan, rajin beribadah dan banyak tahu tentang Alkitab termasuk juga hamba Tuhan. Namun mereka masih tetap saja suka menikmati kehidupan keberdosaannya. Tidak lagi peka dan rela menjadikan dirinya serupa Kristus. Hidup mereka diisi dengan mengikuti pola dunia: posta pora, penuh kesombongan tanpa bisa menghargai orang lain; menjeratkan diri dengan berbohong, minum-minuman keras, berjudi bahkan ekstasi. Sekalipun mereka seringkali ditegur dan diingatkan Tuhan baik melalui renungan firman Tuhan atau melalui khotbah di mimbar atau perenungan pribadi, seakan semua masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ada juga berdalih dengan bermacam-macam alasan yang berusaha membela diri. Kalau akhirnya kita melihat Nebukadnezar berubah dengan sikap yang tulus tidak lagi mengeraskan hatinya terhadap Allah. Dalam benak saya bertanya, apakah perubahan raja Nebukadnezar karena akibat tangan besi Allah? Yang membuat raja terharu adalah dia dihalau dari antara manusia dan tinggal bersama binatang makan rumput selama tujuh tahun. Tuhan akhirnya membuka hati Nebukadnezar bahwa kekuasaannya semata-mata adalah dari Tuhan datangnya. |

|
Akhir Nebukadnezar "Sekarang aku, memuji, meninggikan, memuliakan Raja
Sorga, yang segala perbuatanNya adalah benar dan jalan-jalanNya
adalah adil, dan sanggup merendahkan mereka yang congkak." |
|
Tanggal : 12 Desember 1998 Bacaan : Dan. 4:1-4, 37; 3:28-29; 2:46-48; 1:18-20 Refleksi : Adakah Anda melihat kehidupan Anda di dalam genggaman Allah sehingga Anda dapat memuji dan memuliakan Raja Sorga? Doakan Bersama : Pemerintah Indonesia sungguh-sungguh menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia. |
Dari ayat yang kita baca di atas kita dapat melihat pernyataan
Allah terhadap perjalanan waktu dan peristiwa. Kesamaan pernyataan-pernyataan
tersebut selalu dilatar belakangi setelah adanya mujizat atau
penyataan kuasa Allah. Daniel 1:18-20, Nebukadnezar tidak melihat aktor dibalik kehebatan dari Daniel dan kawan-kawan, ia hanya mendapati bahwa mereka 10 kali lebih cerdas daripada semua orang berilmu dan ahli jampi di seluruh kerajaannya. Dalam pasal 2:46-48, pujian yang keluar dari mulut raja hanya ditujukan kepada Daniel sampai ia bersujud dan menyembah kepada Daniel. Raja tidak menghiraukan perkataan Daniel bahwa Allahlah yang menyingkapkan mimpi raja, raja hanya tertuju pada Daniel. Baru dalam pasal 3, raja mulai memperhatikan Allah (ay. 28-29). Namun belum menunjukkan ia percaya. Perhatiannya ditunjukkan dengan keluarnya titah supaya setiap orang dari bangsa dan suku bangsa tidak boleh menghina Allah. Hukuman bagi mereka yang menghina tidak tanggung-tanggung dipenggal dan rumahnya dirobohkan. Tetapi ini belum berarti raja percaya kepada Allah. Namun dari pasal 4, diawali dari ayat 1-4 dan diakhiri dengan ayat 37, kita bisa menyimpulkan suatu pengakuan pertobatan yang sungguh dari raja Nebukadnezar. Dari uraian di atas kita bisa melihat kasih dan kemurahan Allah yang begitu besar. Kekerasan hati dan kesombongan Nebukadnezar tidak membuat Allah berpaling. Allah dengan sabar dan penuh cinta kasih mengiring Nebukadnezar bisa melihat dan memuliakan Raja Sorga. |

|
Yesus Terang Dunia "Maka Yesus berkata: " Akulah terang dunia; barang
siapa mengikut Aku , ia tidak akan berjalan dalam kegelapan,
melainkan ia akan mempunyai terang hidup." |
|
Tanggal : 13 Desember 1998 Bacaan : Yoh. 8:12-20 Refleksi : Dunia ini ibarat satu rumah pada malam hari yang mati listrik. Yang pertama kita cari adalah alat penerang, yaitu korek api atau lilin atau yang lain, agar kita dapat melihat jelas. Kristus adalah terang kita dalam dunia gelap ini. Doakan Bersama : Keluarga, sahabat, kerabat, dan rekan kerja anda yang belum percaya kiranya Tuhan membuka jalan dan memakai anda sebagai penyalur berkat dan keselamatan bagi mereka. |
Yesus sedang berbicara di bagian bait Allah tempat kotak-kotak
persembahan dan lilin-lilin dinyalakan sebagai lambang awan api
yang memimpin bangsa Israel melalui pasang gurun (Kel.13:21-22).
Dalam konteks ini Yesus menyebut diriNya Terang dunia. Awan api
melambangkan kehadiran Allah, perlindungan dan bimbingan. Artinya
Yesus membawa kehadiran Allah, perlindungan dan bimbingan.
|

|
Prinsip Tabur-Tuai "Jangan sesat ! Allah tidak membiarkan diriNya dipermainkan.
Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." |
|
Tanggal : 14 Desember 1998 Bacaan : Kej. 27:41-28:22 Refleksi : Prinsip tabur-tuai bukan masalah sudah selamat atau tidak. Tentu, orang yang percaya Yesus akan selamat (Yoh. 3:16). Tetapi, mereka yang percayapun, bila hidup di dalam kedagingan, ia akan menuai kedagingan di bumi ini (1 Kor. 3:12-15). Doakan Bersama : Mohon Tuhan memberkati bangsa Indonesia dengan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. |
Bagaimanapun enaknya di negeri orang, pasti lebih enak di negeri
sendiri. Itulah yang juga dirasakan oleh Yakub setelah ia berhasil
di perantauan, ia begitu rindu ingin kembali ke tempat asalnya,
kepada orang tua dan saudara-saudaranya. Artinya adalah selama
Yakub di tanah Haran bersama dengan mertuanya bukanlah di luar
rencana pembentukan Tuhan. Disinilah prinsip tabur-tuai menjadi realita hidup yang tidak dapat dihindarkan oleh siapapun. Inilah yang dialami oleh Yakub. Yakub terkenal selain dari segala kebaikannya, juga kelicikannya! Dan Tuhan ingin membuat perhitungan dengan semua itu agar Yakub siap dipakai Tuhan sesuai pilihanNya sebelum mereka dilahirkan (25:23) dan sesuai dengan berkat ayahnya (27: 27-29). Apa yang ditabur Yakub setelah segala kelicikannya? Yakub harus menjadi seorang pelarian puluhan tahun dari rumah orang tuanya. Pasti Yakub banyak belajar bersandar pada Tuhan semasa diperantauannya, apalagi setelah bertemu Tuhan di Betel (28:10-22). Ia belajar menjadi seorang pekerja yang keras pada Laban (31:40,41). Ia juga belajar menjadi seorang yang jujur dan memahami arti bertanggung jawab (31:39,40). Ironisnya, Ia ditipu oleh Laban, padahal ia seorang tukang tipu (29:25,26). Ia pasti belajar untuk sabar dan tahu betapa sakitnya ditipu (31:6,7). Kesimpulannya adalah kejahatan itu tidak pernah dibiarkan Tuhan berlalu, Ia pasti akan membalaskannya di dunia ini. Tujuannya adalah agar orang bertobat dari kejahatannya. Kalau dia tidak bertobat, bukan hanya di dunia ini balasannya tetapi juga di akhirat. Lalu, untuk apa kita berbuat jahat? |

|
Cinta Keluarga "Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat
Rahel, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa
hari saja, karena cintanya kepada Rahel." |
|
Tanggal : 15 Desember 1998 Bacaan : Kej. 29:18-30; 31:36-42 Refleksi : Kalau memang kita mencintai keluarga kita,apa yang telah kita lakukan bagi mereka. Yakub memberikan teladan, bagaimana dia bergantung pada Tuhan sambil bekerja keras adalah bukti citanya yang dalam kepada keluarganya. Doakan Bersama : Kerjasama antar gereja dan lembaga gerejawi di berbagai daerah agar semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan tubuh Kristus di tanah air. |
Untuk mendapatkan Rahel, Yakub bersedia bekerja selama tujuh
tahun. Ia sangat mencintai Rahel, sehingga waktu tujuh tahun
itu dianggapnya hanya beberapa hari saja. Tetapi celakanya, ia
ditupu oleh laban. Ternyata yang diberikan kepadanya adalah Lea,
kakak Rahel yang tidak dicintainya (dengan alasan adat-istiadat
waktu itu). Yakub tetap menginginkan Rahel menjadi istrinya. Akhirnya ada kesepakatan asalkan Yakub mau bekerja selama tujuh tahun lagi. Yakubpun dengan semangat bekerja selama tujuh tahun lagi untuk mendapatkan Rahel. Bila kita teliti ternyata untuk mendapatkan Rahel, Yakub harus bekerja keras selama empatbelas tahun. Dan waktu itu dilaluinya seperti sekejap karena cintanya yang mendalam terhadap Rahel. Bagi Yakub untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai, layak untuk berkorban. Apakah hanya itu? Tidak! Yakubpun membangun keluarga. Ia juga harus menghidupi keluarganya sebagai tanggung jawab kepala rumah tangga. Maka Yakubpun bekerja selama enam tahun untuk memperoleh hartanya sebagai modal ia akan pulang ke kampung halamannya (31:41). Saya juga yakin bahwa waktu enam tahun tidak lama bagi Yakub, karena satu yang dibenaknya, yaitu bagaimana ia melihat keluarga yang dicintainya, bahagia karena perjuangan dan jerih lelah seorang ayah yang bertanggungjawab. Karena cintanya kepada keluarga dan takutnya kepada Tuhan, Yakub pada waktu merantau hanya membawa tongkat, bisa pulang dengan membawa dua pasukan (32:10). Hari ini Tuhan mau agar kita bisa belajar dari pengalaman Yakub. |

|
Akhir Yang Membedakan! "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan,
kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan,
pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati..." |
|
Tanggal : 16 Desember 1998 Bacaan : Pkh. 9:1-12 Refleksi : Kualitas hidup kita diukur dari karya kita bagi orang lain dan kemana tujuan akhir dari semua itu. Apakah kepada Tuhan atau tidak. Doakan Bersama : Mohon Tuhan memelihara semangat pelayanan kita sebagai anak-anak Allah di tengah-tengah semakin sibuk dan sulitnya tantangan hidup. |
Apakah yang membedakan seorang anak Tuhan dengan orang yang tidak
mengenal Tuhan di dunia ini? Bukan nasibnya di dunia ini, melainkan
kualitas hidupnya. Bukan akhir hidupnya di dunia ini, yaitu sama-sama
mati tapi ke mana ia akan pergi setelah mati. Itu sebabnya walaupun Pkh. 9:1-6 sepertinya meniadakan perbedaan nasib, namun nasehat pengkhotbah kepada anak-anak Tuhan tetaplah relevan untuk dilakukan. Sebab hanya dengan kualitas hidup yang berbedalah dapat dibedakan orang Kristen dengan orang berdosa. Seharusnya orang Kristen hidup sedemikian rupa sehingga dapat bermakna atau berarti. Bagaimana hidup orang Kristen dapat bermakna. Ada 2 cara yang dapat kita lakukan sehingga kita dapat melakukan yang terbaik: 1. Kita dapat melakukan yang terbaik dalam hidup ini jika kita hidup untuk membangun orang lain. 2. Kita dapat melakukan yang terbaik dalam hidup ini jika kita hidup untuk Allah semata-mata (Pkh. 12:13-14). Apakah Saudara belum menjadi anak Tuhan? Ingat walau nasib Saudara di dunia ini mungkin lebih baik tapi pada akhirnya Saudara akan mati juga. Dan akan terdapat akhir yang sangat berbeda dengan mereka yang sudah mendapatkan pengampunan dosa di dalam Kristus. Rinduhkah Saudara mendapatkan kepastian masa depan? Saat ini juga, berlututlah dihadapan Allah. Akui dosa-dosamu dan terimalah Tuhan Yesus sebagai Juruselamat secara pribadi. Dia akan masuk dalam hatimu dan mengampuni segala dosamu dengan menjadikan Anda anak Allah serta memberi hidup yang kekal. |

|
Kristus Di Mata Anda "Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari
padaMu." |
|
Tanggal : 17 Desember 1998 Bacaan : Luk. 2:25-32 Refleksi : Siapkah kita memasuki Natal tahun ini? masukilah dengan keyakinan bahwa Yesus sudah ada di dalam hati Anda dan Anda ada di dalam Yesus. Doakan Bersama : Mohon Tuhan meningkatkan kerinduan doa kita dan membiarkan kita mengalami keindahan dan kuasa dari jawaban doa-doa yang dinaikkan. |
Mungkin Anda sedang bertanya, mengapa di dunia tidak seorangpun
dapat memuaskan hidup saya? Napoleon Bonaparte juga merasakan
hal yang sama, kecuali satu, Kristus yang dikagumi. "Segala
sesuatu yang ada dalam Kristus mengherankan saya. SemangatNya
amat mengagumkan, dan kehendakNya sungguh luar biasa. Pikiran
dan perasaanNya, kebenaran pernyataanNya, keyakinanNya tidak
dijelaskan dengan pengamatan manusia atau sifat benda. Kelahiran
dan sejarah hidupNya, doktrinNya yang dalam, untuk menghadapi
kesukaran-kesukaran besar dan di dalam kesukaran itu ada jalan
keluar yang mengagumkan. InjilNya, kedatanganNya, kerajaanNya,
perjalananNya melewati segala abad dan kerajaan. Bagi saya segalanya
adalah suatu keajaiban dan Dia meninggalkan keagungan yang melebihi
kuasa apapun juga." Itulah sebabnya Simeon bersukacita dan memuji Allah dapat melihat bayi Yesus, Anak Allah yang dijanjikan. Imannya kepada janji Tuhan telah dinyatakan dengan tepat pada waktunya. Maka dengan puas ia berkata: "Sekarang Tuhan, biarkanlah hambamu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firmanMu" (ay. 29). Kepuasan Simeon bukan terletak pada harta benda, jabatan atau berapa usianya. Kepuasan dirinya terletak pada diri Yesus Kristus yang telah lahir untuknya. Kini Natal telah diambang pintu dan sudah berulang kali kita alami. Adakah Natal hadir dan memuaskan Anda? Sudah saatnya Anda menuju pembaharuan sikap dari kagum menjadi percaya. Hanya dengan sikap hati yang demikian Anda akan memperoleh damai dan sukacita. |

|
Mazmur 1 "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat
orang fasik, tetapi kesukaannya ialah Taurat TUHAN." |
|
Tanggal : 18 Desember 1998 Bacaan : Mzm. 1:1-6 Refleksi : Apakah hidup kita seperti yang dikatakan oleh pemazmur? Sebagai orang yang haus akan firman Tuhan? Berbahagialah kita karena itu. Doakan Bersama : Minta keberanian untuk menyatakan kebenaran di lingkungan masing-masing agar terang Tuhan dapat terpancar melalui setiap orang Kristen. |
Mazmur 1 merupakan pendahuluan kitab Mazmur. Mazmur ini membeberkan
hanya dia jenis orang yang diakui Allah, dengan prinsip hidup
dan pola pikir yang berbeda. 1. Orang saleh berciri kebenaran, kasih, ketaatan kepada firman Allah dan menjauhi pola hidup duniawi (ay.1-2). Kesukaannya adalah Taurat Tuhan (firman Tuhan) yang menjadi pedoman hidup sehari-hari. Pelaku firman disebut orang benar, karena firman itu mengandung kebenaran. Dan kebenaran akan menuntun jalan yang benar yang diberkati Allah. 2. Kondisi orang benar (ay.3) bagaikan pohon yang merambatkan akarnya di tepi aliran air yang menghasilkan buah pada musimnya. Air menjadi sumber hidup bagi semua makhluk, termasuk pohon. Berkat dan sukacita Tuhan tidak jauh dari kehidupan anak-anak Tuhan yang setia merenungkan firmanNya. 3. Kondisi orang fasik (ay.4-16) seperti sekam yang ditiupkan angin. Sekam juga disebut jerami yang kering (Ayb. 13:25) yang tidak memiliki kehidupan dan kekuatan lagi, hanya dengan tiupan angin bisa membuat hilang jejaknya. Sedangkan kata fasik muncul 4 kali menunjuk pada orang yang tidak takut akan Allah atau tidak mengaku keberadaan Allah (Mzm. 10:4). Mazmur yang pertama menawarkan kehidupan yang berbahagia pada setiap orang. Jalan orang benar harus menjadi patokan kita. Tidak ada seorang pun yang mau memilih jalan orang fasik karena membawa malapetaka dan menjauhi berkat Tuhan. Sudahkah kita bercermin dengan firman Tuhan setiap hari? |

|
Iman Tanpa Perbuatan Adalah Mati "Demikian juga halnya dengan iman: jika iman itu tidak
disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." |
|
Tanggal : 19 Desember 1998 Bacaan : Yak. 2:14-26 Refleksi : Bagaimanakah dengan iman Saudara? Doakan Bersama : Berkaitan dengan kasus-kasus penganiayaan gereja, penjarahan, dll. doakan agar umat percaya di tanah air semakin menumbuhkan sikap mengasihi, peduli, dan mawas diri. |
Bagian ini dapat dikatakan sebagai kesimpulan pasal 1 dan 2 yaitu
mau menyimpulkan bahwa tidak cukup orang Kristen itu mengatakan
diri beriman kalau tidak ada bukti perbuatannya. Orang yang miskin
mengatakan diri beriman namun kata-katanya kasar dan penuh amarah.
Dimanakah bukti imannya? Orang yang kaya mengatakan diri beriman
tetapi menindas orang miskin. Dimanakah bukti imannya? Iman yang
hanya diucapkan di bibir saja itu bukan iman. Itu hanya ucapan
bohong belaka. Iblis juga mengatakan percaya kepada Allah tapi
ia memberontak terhadapNya bahkan menggoda manusia untuk memberontak.
Sebab itu dalam Yakobus 2:17,20 tertulis: "Iman tanpa
perbuatan yang konsekuen dengan apa yang diimani adalah mati
dan kosong." Abraham membuktikan diri sungguh beriman dengan perbuatannya. Ia berani mempersembahkan Ishak, anaknya yang tunggal, ketika Allah memintanya. Ia beriman Allah sanggup membangkitkan orang mati (Ibr.11:17-19). Rahab, yang sebenarnya orang kafir, penduduk kota Yerikho menunjukkan imannya dengan menolong dua pengintai yang diutus Yosua. Ia beriman bahwa Allah yang sejati adalah Yahweh, Allah Israel. Dari contoh-contoh itu jelas apa maksudnya perbuatan itu membenarkan iman. Bukan perbuatan itu sendiri yang membenarkan seseorang. Tetapi iman yang mendorong orang melakukan perbuatan itulah yang dibenarkan. Manakala seseorang mengaku beriman tetapi perbuatannya justru berlawanan; itu namanya munafik, berbohong dan mendustai Allah. Jadi nyatakanlah iman Saudara dengan perbuatan yang benar! |

|
Allah Di Setiap Hari Esok "Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, tak berkesudahan
kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru
tiap pagi; besar kesetiaanMu! |
|
Tanggal : 20 Desember 1998 Bacaan : Rat. 3:1-23 Refleksi : Marilah kita merenungkan firman Tuhan pagi ini dan sajak di samping ini. Apakah kita yakin bahwa di tengah penderitaan pada esok haripun Tuhan ada di sana? Doakan Bersama : Para panitia Natal dalam segala perencanaan dan pelaksanaan pelayanan mereka agar dapat bersatu hati dan memberitakan kebenaran Tuhan yang nyata. |
Di tengah-tengah penderitaan, tidak mudah untuk mengamini ayat
di atas. Tapi itulah yang dialami oleh Yeremia ketika melihat
bangsanya hancur dan kacau, sampai ia menyimpulkan dengan imannya,
bahwa kasih setia Tuhan itu baru setiap pagi. Ia bahkan menyarankan
janganlah mengeluh karena penderitaan, karena tidak selamanya
Allah membiarkan (Rat. 3:31). Tetapi mengeluhlah atau berdukalah
tentang dosamu (Rat. 3:39 band Mat.5:4). Itu pulalah yang dialami dan diyakini oleh Richard Wumbrand. Seorang yang direnggut kebebasannya demi Injil dan dipenjara berpuluh tahun sejak tahun 1948 di Rumania. Sajak di bawah ini merupakan salah satu sajak yang dikumpulkan oleh Wumbrand dengan isterinya selama dipenjara yang menguatkan mereka. Allah ada di setiap hari esok. Karena itu aku hidup hari ini, Pastilah kujelang fajar Pimpinan dan kekuatan untuk hari ini, Kekuatan di setiap kelemahan, Pengharapan di setiap kesakitan, Penghiburan di setiap penderitaan, Sinar mentari dan sukacita sesudah hujan. Allah ada di setiap hari esok. Ia mempunyai rencana bagiku dan bagimu, Sekalipun dalam kelemahan aku 'kan turut, Percaya kala mataku tak dapat melihat, Tenang oleh janji akan berkatNya, Tentram oleh sentuhan tanganNya, Yakin dalam perlindungan tanganNya, Mengetahui jalan hidupku telah direncanakanNya. Saya yakin bahwa sajak ini pasti dilahirkan dari pengalaman kegetiran anak Tuhan yang yakin bahwa hidupnya ada dalam tangan Tuhan. Bagaimana dengan kita? |

|
Kebebalan "Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata
Tuhan dan mereka beribadah kepada para baal...Sehingga mereka
menyakiti hati Tuhan." |
|
Tanggal : 21 Desember 1998 Bacaan : Hak. 2:18-19 Refleksi : Dalam pengalaman kita sebagai orang Kristen, apakah kita sudah menjadi orang bebal yang tidak pernah belajar dari kejatuhan kita pada masa yang lampau? Atau kita telah menjadi arif? Doakan Bersama : Kepekaan dan kerendah hatian kita dihadapan Tuhan sehingga kita tetap berada di dalam jalan dan kehendak Tuhan. |
Kehidupan bangsa Israel setelah kepemimpinan Musa dan Yosua merupakan
masa sangat menyedihkan. Mereka hidup di dalam satu pola yang
terus menerus terulang bagaikan lingkaran setan, mereka jatuh
berulang kali di lubang yang sama. Ketika mereka ditekan dan
ditindas bangsa asing, maka mereka berteriak kepada Tuhan meminta
belas kasihan dan pertolongan. Kemudian Tuhan membangkitkan seorang
hakim untuk membebaskan. Tapi begitu keadaan membaik, merekapun
segera kembali kepada pola hidup yang lama. Sikap seperti itu mencerminkan kondisi hati yang bebal, yang tidak bisa diajar. Orang seperti itu hanya ingat Tuhan kalau ada kebutuhan saja. Pada saat butuh seperti itu, orang-orang ini bisa kelihatan seperti sangat "rohani", doanya bisa kelihatan begitu tekun dan sungguh-sungguh. Tapi orang seperti ini biasanya ditandai oleh gejala yang sama dengan bangsa Israel pada zaman Hakim-hakim, yaitu ingat Tuhan waktu butuh, dan segera melupakan Tuhan kalau masalah sudah teratasi. Mereka tidak pernah sungguh-sungguh menyembah Dia sebagai Tuhan, mereka hanya memperalat Tuhan saja. Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang bebal yang menyedihkan. Tapi lebih menyedihkan lagi, bahwa gejala yang sama juga dapat terlihat dalam kehidupan Gereja hari ini. Banyak orang datang mencari Tuhan, hanya kalau ada kebutuhan yang mendesak, tapi lupa Tuhan kalau keadaan sedang baik dan lancar. Mental bebal seperti itu, kadang bahkan cukup sering juga bisa ditemukan di dalam Gereja hari ini. Apakah kita orang seperti itu? |

|
Tetap Bertahan "Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah
menderita, lakukanlah pekerjan pemberita Injil dan tunaikanlah
tugas pelayananmu". |
|
Tanggal : 22 Desember 1998 Bacaan : 2 Tim. 4:1-8 Refleksi : Tuhan mau agar kita menguasai diri dalam segala hal. Ia mau agar kita sabar dalam penganiayaan dan hidup yang berat. Bahkan dalam kesabaran kitapun aktif terus dalam bekerja dan melayani, karena itu tidak sia-sia. Doakan Bersama : Para orang tua agar lebih mendorong anak-anaknya untuk datang kepada Tuhan dan mencurahkan perhatian dan kasih sayang dalam mendidik. |
Tuhan akan menjadikan kesetiaan kita sesuatu yang berharga. Untuk
menjaga agar hati Anda tetap dingin dan tenang saat orang lain
atau lingkungan Anda mengusik dan menghina Anda adalah jangan
cepat-cepat bereaksi. Dalam setiap tugas dan pekerjaanmu, tetaplah
jaga moralitas dan sikapmu. Cobalah bertahan dalam tekanan. Tetaplah
melihat kepada Allah yang mengontrol segala sesuatu. Setelah mendekati akhir dari hidupnya, Paulus dapat dengan yakin berkata bahwa ia telah setia menjalankan panggilan dan pelayanannya. Selanjutnya, ia menghadapi kematian dengan begitu tenang, karena ia tahu bahwa ia segera akan bertemu dengan Kristus yang akan memberikan pahala kepadanya. Adakah hidupmu siap dipanggil Tuhan? Kabar yang menggembirakan kita adalah bahwa pahala itu tidak hanya diberikan kepada raksasa-raksasa iman seperti Paulus. Tetapi untuk semua orang yang tetap setia kepadaNya. Paulus tidak pernah terburu-buru dalam sikapnya, bahkan di dalam banyak penderitaanpun dia tetap bertahan bahkan masih sempat menasihati orang lain untuk tetap senantiasa bersukacita (Fil. 4:4). Teladan itulah yang ingin diberikan oleh Paulus kepada Timotius, agar Timotius berbesar hati, tetap teguh tidak peduli bagaimana sulitnya pertarungan yang ia hadapi di Efesus. Karena apa? Karena saat kita bertarung bersama Kristus, kita tahu bahwa semua itu tidak pernah sia-sia. Semua jerih lelah dan usaha kita layak untuk dihargai di dalam kekekalan. Nasihat Paulus tidak hanya untuk Timotius tetapi juga untuk kita saat ini. Sekarang tergantung, apakah kita mau mentaati nasehat Paulus ini? |

|
Dilebur Oleh Kebaikan Tuhan "Bagaimanakah akan kubalas kepada Tuhan segala kebajikanNya
kepadaku?" |
|
Tanggal : 23 Desember 1998 Bacaan : Mzm. 116:1-19 Refleksi : Saya memang tidak mungkin bisa membalas segala kebajikanNya, tetapi paling tidak kerelaanku dalam beribadah dan melayani Dia, bukankah itu semua sebagai ekspresi syukurku padaNya? Doakan Bersama : Persiapan umat percaya dalam menyambut Natal dengan koreksi diri, perubahan nyata, dan mengalami pertobatan yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan. |
Mzm. 116 merupakan ungkapan pengalaman pemazmur sendiri. Pemazmur
pernah mengalami situasi hidup yang sulit, keadaan yang sangat
kritis, menyerupai pergumulan rohani yang dalam. Ucapan "tali-talli
maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang
mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan"
(ay. 13); ini lebih tepat melukiskan pergumulan rohani yang dalam.
Dia berseru kepada Tuhan mencari penyelamatan dan Tuhan mendengar
serta menyelamatkan dia. Pengalaman ini dampaknya begitu dalam pada diri pemazmur, membuat dia begitu mengasihi Tuhan, bersyukur atas apa yang Tuhan karuniakan padanya, dan bertekad untuk membalas apa yang sudah Tuhan lakukan baginya. Ungkapan ayat 12 melukiskan suatu kesadaran rohani yang sangat dalam, bahwa dia tidak mungkin bisa membalas atas segala kebajikan Tuhan sudah dinyatakan padanya. Semua yang ada padanya, berasal dari kemurahan Tuhan saja. Maka dari sisi ini, tidak ada sesuatu yang sepadan yang dia bisa berikan kepada Tuhan, yang berasal dari dirinya sendiri. Tapi itu bukan berarti bahwa pemazmur mendapat alasan untuk tidak melakukan apa-apa bagi Tuhan. Dia justru menemukan cara yang paling berkenan kepada Tuhan, yaitu dengan mempersembahkan kembali hidupnya yang sudah diselamatkan itu, untuk memuliakan Tuhan. Dan semata-mata untuk itu saja. Banyak ungkapan pemazmur yang melukiskan tekadnya, tapi intinya yang perlu kita pelajari dan kita teladani adalah; Nyatakan keselamatan yang sudah kita peroleh dan muliakanlah Tuhan melalui seluruh aspek kehidupan kita. |

|
Tahu Semua Belum Tentu Baik "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah
kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi
anak-anak kita sampai selama-lamanya...." |
|
Tanggal : 24 Desember 1998 Bacaan : Ul. 29:1-6, 29 Refleksi : Bersyukurlah atas segala yang kita miliki karena, mungkin, apabila kita memiliki sesuatu yang seharusnya tidak kita miliki malahan membawa celaka atas diri kita. Doakan Bersama : Persiapan kita dalam melakukan kebaktian Natal, bukan hanya sebagai perayaan rutin setiap tahun dan pesta pora, tetapi kiranya menjadi peristiwa pertobatan. |
Seseorang sangat kagum dengan sebuah mikroskop. Kepadanya, diperlihatkan
bagaimana mikroskop itu mampu melihat bagian terkecil dari batu
permata yang sangat indah. Ia tertarik pada mikroskop itu, dan
akhirnya membelinya dan dibawa pulang ke rumah. Pada suatu hari ketika akan malam, dia ingin melihat piring, sendok, gelas dan makanan yang akan dia makan dengan mikroskop. Apakah yang terlihat? Kuman-kuman yang tidak tampak oleh mata terlihat dengan jelas dalam mikroskop itu. Wow, kuman yang banyak itu yang menempel pada alat-alat makan dan bergerak-gerak dalam makanan dan minuman. Ia menjadi gelisah dan takut, setiap mau makan, ingat kuman yang ada dalam makanan yang akan dimakannya. Dalam ayat bacaan kita hari ini, Musa memanggil dan mengumpulkan seluruh orang Israel (ay. 2). Ia mengingatkan mereka tentang apa yang telah Tuhan lakukan terhadap bangsa Mesir (ay. 3) dan bagaimana Tuhan menolong bangsa Israel (ay. 4) bahkan ketika mereka dipadang gurun selama 40 tahun pakaian dan kasut mereka tidak rusak (ay. 5). Semua itu bisa dilihat dengan mata secara jelas. Namun dalam ayat 4 dikatakan bahwa Tuhan tidak memberi akal budi (hikmat) untuk mengerti. Ternyata ada perkara yang bisa dipahami dan ada yang tidak. Di dalam ayat 29 dikatakan dengan jelas bahwa hal yang tersembunyi adalah bagi Tuhan, tetapi hal-hal yang dinyatakan adalah bagi kita. Tuhan tahu segala sesuatu merupakan suatu kemuliaan bagiNya, sebab Dia Maha kuasa. Namun bagi kita, manusia yang tidak mahakuasa, bila tahu segala sesuatu dapat diliputi ketakutan, sebab tidak dapat memecahkan masalah itu. |

|
Tuhan Akan Membalas "Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,
yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik,
...tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan
sendiri." |
|
Tanggal : 25 Desember 1998 Bacaan : Rm. 2:2-8 Refleksi : Sebagai orang percaya, sudahkah kita siap mempertanggung jawabkan segala perbuatan kita dihadapan Tuhan, Sang Hakim yang adil itu? Doakan Bersama : Kita mempunyai pengertian/ makna hari Natal yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, dan menjadikan kita semakin bertumbuh dan teguh di dalam Tuhan Yesus Kristus. |
Penghakiman berdasarkan perbuatan jelas diajarkan dalam Perjanjian
Lama (Yes. 3:10-11; Yer.17:10). Dalam Perjanjian Baru, Tuhan
Yesus kembali menegaskan prinsip penghakiman (Mat. 16:27; Yoh.
5:28-29). Rasul Paulus, dalam surat-suratnya juga menyatakan
kebenaran yang sama (I Kor. 3:8; Gal. 6:7-9; Rm. 14:12). Meski Alkitab PL dan PB mengajarkan penghakiman berdasarkan perbuatan, ada satu hal yang perlu diperjelas adalah tidak pernah dalam satu bagian Alkitab pun mengajarkan bahwa manusia diselamatkan melalui perbuatan. Keselamatan dalam Kristus hanya berdasarkan iman semata-mata (Ef. 2:8). Akan tetapi, bila keselamatan semata-mata melalui iman, maka bagaimana "perbuatan" dapat masuk dalam konteks di atas? Dalam Efesus 2:10, rasul Paulus berkata: "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup didalamnya." Dari ayat di atas jelas ditekan bahwa hidup yang diselamatkan melalui iman memberikan bukti tentang keselamatan itu sendiri yakni dengan melakukan pekerjaan Allah. Perbuatan-perbuatan baik lahiriah menjadi bukti dari iman yang hidup di dalam diri orang percaya. Hadirnya perbuatan baik yang murni mengungkapkan bahwa ia betul-betul telah diselamatkan. Dengan demikian jelaslah bahwa dalam Roma 2:6-8, Paulus tidak membahas tentang dasar untuk diselamatkan tapi dasar untuk penghakiman. Akan tetapi suatu kehidupan yang sama sekali mandul dari perbuatan kebajikan, tidak dapat membuat suatu klaim bahwa ia betul-betul sudah diselamatkan. |

|
Masalah Hubungan: Wabah Yang Meluas "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuanng dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan." ( Ef. 4:31 ) |
|
Tanggal : 26 Desember 1998 Bacaan : Ef. 4:29-32 Refleksi : Beranikah kita menerima cercaan dari orang lain tanpa merusak
hubungan kita dengannya? Artinya kita adalah tergantung pada
kita sendiri, bukan pada orang lain. Doakan Bersama : Seluruh mimbar di tanah air agar dapat memberitakan Kabar Injil untuk menjala jiwa-jiwa di luar Kristus. |
Pernahkah Anda berkonflik dengan sesama? Kita semua mengalami
masalah dalam hubungan kita. Kadang ada luka yang menganga dalam
hati kita. Hati ini tiba-tiba jadi kaku, beku dan mengeras bagai
batu. Anda tak perlu malu mengakui fakta ini. Salah satu hal yang pertama tapi terpenting yang harus kita pelajari bila berurusan dengan orang lain ialah bahwa tidak ada hubungan yang sempurna. Masalah hubungan sudah setua sejarah umat manusia, yakni ketika Kain tak akur dengan Habil. Pernyataan di atas tidak berarti kita harus membiarkan hubungan/relasi kita yang telah retak. Setiap orang yang mengalami masalah dengan sesama harus ingat cuplikan Khotbah di bukit: "karena itu haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Mat.5:48). Untuk memulihkan hubungan yang telah putus dan retak dibutuhkan karya Kristus yang mampu menenggelamkan ego kita. Sebab sikap kepentingan diri sendiri mempunyai kekuatan untuk melancarkan pukulan maut yang berakibat fatal bagi hubungan sesama yang lebih luas. Dan bahayanya, kekuatan egolah yang paling sulit kita atasi. Firman Tuhan mengatakan kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama demi kebaikannya untuk membangunnya. Namun kita sering lupa, bahwa saat kita mulai mempersalahkan orang lain, sebenarnya menunjukkan kita tidaklah orang yang rohani. |

|
Pilihan Tuhan Adalah Anugerah "Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." ( Mat. 22:14 ) |
|
Tanggal : 27 Desember 1998 Bacaan : Mat. 22:1-14 Refleksi : Kalau kita adalah orang-orang yang beruntung sebagai orang yang dipilih Tuhan, bagaimana kita meresponi panggilan itu dalam hidup pekerjaan, keluarga dan pribadi kita? Doakan Bersama : Kasih Allah berdiam dalam diri kita sehingga kita mempunyai belas kasih terhadap orang lain yang butuh pertolongan. |
Seorang raja mengadakan pesta perkawinan untuk anaknya. Ternyata
ada 3 macam golongan orang yang diundang. ayat 3: orang diundang tapi tidak mau datang, bahkan dengan berbagai alasan mereka menolak dan menyia-nyiakan undangan tersebut, bahkan ada yang membunuh hamba pembawa undangan; ayt 9; orang-orang yang dijumpai dipinggir jalan, terdiri dari orang-orang jahat dan orang baik; ayat 11-13; diundang datang tapi tidak berbaju pesta (tidak mempersiapkan diri sehingga kesempatan untuk menikmati perjamuan kawin anak raja itu hilang). Dari perumpamaan ini dapat menunjukkan bahwa pilihan Tuhan terhadap seseorang untuk menikmati kerajaaan sorga adalah: 1. Inisiatif dari Allah; di dalam kekristenan kita dapat melihat bahwa Allah yang mencari manusia bukan manusia yang mencari Allah. Dosa membuat manusia terpisah dan meninggalkan Allah. 2. Pilihan Tuhan adalah suatu anugerah; banyak orang bertanya mengapa Tuhan memilih aku bukan dia? Justru dalam ketidaklayakan itulah, kita melihat bahwa pilihan Tuhan atas diri kita merupakan anugerah besar yang patut disyukuri dan dihargai. 3. Tuhan menghendaki kita menjawab dan memenuhi panggilanNya dengan sungguh. Kita termasuk golongan orang yang mana? 4. Tuhan memilih kita sesuai dengan rencanaNya. Saudara dan saya dipilih bukan untuk kesenangan pribadi, tetapi supaya Allah dapat memakai kita untuk melaksanakan rencana dan kehendaknya serta memuliakan Dia. |

|
Pelaku Firman "Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat
yang benar dihadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum
Taurat yang dibenarkan." |
|
Tanggal : 28 Desember 1998 Bacaan : Rm. 2:1-16 Refleksi : Mungkin saya sudah begitu banyak menjadi pendengar firman Tuhan. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah sampai berapa banyak firman yang telah kita dengar itu kita lakukan. Doakan Bersama : Mohon Tuhan menjamah hati dan pikiran setiap pejabat-pejabat agar mereka tidak berperilaku sewenang-wenang. |
Pada umumya, bahasa Yunani mendengar adalah "akouo",
tapi dalam ayat ini, kata Yunani yang dipakai mempunyai ide yang
mirip dengan seorang mahasiswa. Tujuan seorang mahasiswa adalah
mendengarkan instruksi dari dosen. Secara wajar, ia memiliki
tanggung jawab untuk apa yang telah ia dengar dan diuji. Tapi
bila ia hanya menjadi "pendengar", maka ia hanya dituntut
untuk hadir dalam setiap pertemuan kelas. Dengan perkataan lain,
ia hanya mendengar tanpa dituntut untuk mempertanggungjawabkan
apa yang telah ia dengar. Pada zaman Paulus, di dalam banyak sinagoge, pengajaran difokuskan pada sistim dari tradisi yang dibuat manusia, di mana tradisi ini telah dikembangkan selama berabad-abad sejak masa pembuangan. Acapkali, firman Allah dalam PL hanya dibacakan dan didengar, tanpa penjelasan dan aplikasi. Kebanyakan orang Yahudi, tidak lain hanya "auditing the course" (pendengar hukum Taurat), tanpa ada keinginan melakukan apa yang dituntut. Tapi bagi Allah, tidak ada manusia yang hanya diizinkan sebagai pendengar firman Tuhan saja. Semakin banyak orang mendengar kebenaranNya, semakin banyak pula ia harus bertanggung jawab untuk mentaatinya. Sebaliknya para pelaku firman, adalah mereka yang datang kepada Allah dengan pertobatan dan iman, menyadari bahwa hukum Tuhan tidak mungkin dijalankan di luar Dia. Para pelaku firman yang sejati adalah mereka yang datang kepada Kristus Yesus dalam iman, karena tujuan dari Taurat adalah memimpin manusia pada Tuhan (Gal. 3:24). Orang yang dibenarkan akan membuktikan dirinya sebagai "orang benar" dengan melakukan hukum Taurat yang suci. |

|
Sukuisme: Penyakit Berat! "Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani,
tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau
perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus." |
|
Tanggal : 29 Desember 1998 Bacaan : Gal. 3:26-29 Refleksi : Sesungguhnya saat kita berlaku rasialis kepada orang lain, kita telah menghina Tuhan, yang jelas mengasihi kita dengan tidak membedakan. Doakan Bersama : Mohon Tuhan memberikan kepada kita kerinduan untuk bersaat teduh dan mempunyai hubungan yang indah bersama Tuhan melalui doa. |
Peter Wagner, seorang pakar pertumbuhan gereja mengatakan; riset
menunjukkan bahwa sukuisme adalah permbunuh utama gereja-gereja
di Amerika pada saat ini. 7 dari 8 gereja yang mati, semuanya
disebabkan oleh penyakit kronis yang bernama sukuisme. Itulah sebabnya akhir-akhir ini strategi pertumbuhan gereja di sana mulai memikirkan strategi pertumbuhan yang lebih universal sifatnya. Suatu model yang disebut "gereja" terbuka dikembangkan guna menampung orang-orang beriman dari berbagai bangsa. Peraturan tentang acara berpakaian dibuat sebebas mungkin. Seorang kulit hitam boleh melamar untuk posisi staf misalnya. Hal ini menciptakan kesan yang menyenangkan hati semua anggota jemaatnya yang memang tidak memungkiri heterogenitas jemaatnya. Perubahan paradigma atau cara pikir tersebut harus di mulai hari para pemimpin gereja yang telah bertobat yakni; gembala sidang, team hamba Tuhan dan para majelisnya. Jika piminan puncak masih rasialis dan stereotip maka mereka perlu ditegor secara terang-terangan seperti Petrus yang ditegor oleh Paulus. Gereja yang Injili harus meyakini satu hal; Allah tak pernah pandang bulu dan membeda-bedakan manusia dari suku dan ras manapun. Kekayaan Allah justru ditampakkan dalam warna-warni kulit manusiawi yang dicipta serupa dana segambar denganNya. Mari kita berpegang pada kepercayaan asasi bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Hal ini akan membaharui paradigma kita yang rasialis. |

|
Vivia Perpetua " ...sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita...Maksud
semuanya itu adalah untuk membuktikan kemurnian imanmu... sehingga
kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan..." |
|
Tanggal : 30 Desember 1998 Bacaan : 1 Ptr. 1:3-12; 2:18-25 Refleksi : Bangsa Israel adalah bangsa yang demikian banyak mengalami mujizat Allah, namun sekali bangsa ini diuji Allah dengan penderitaan, maka mereka begitu cepat bersungut bahkan salah dalam menilai Allah. Doakan Bersama : Ibadah-ibadah dan persekutuan di gereja-gereja, penjara, dan rumah sakit agar senantiasa memberitakan Tuhan dan kebenaran, serta berkatNya bagi orang yang mencari Dia. |
Pada tahun 202 M, kaisar Roma, Septimius severus, melarang
orang bertobat untuk menjadi pengikut aliran Yudaisme dan Kristen.
Di Afrika Utara, Vivia Perpetua, Felicitas dan beberapa petobat
baru lainnya dipenjara dan akhirnya dihukum mati dengan cara
dimasukkan ke dalam arena berisi binatang buas di kota Kartago.
|

|
Bersyukur: Basa-Basi Atau Sungguhan? "Seorang dari mereka ketika melihat bahwa dirinya
telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring...
Orang itu adalah seorang Samaria." |
|
Tanggal : 31 Desember 1998 Bacaan : Luk. 17:11-19 Refleksi : Tindakan kita mensyukuri kebaikan Tuhan akan menentukan bahwa sebenarnya kita tidak layak menerima semua itu. Itulah kerendahan hati yang sebenarnya. Doakan Bersama : Mengucap syukur untuk pemeliharan
Tuhan selama satu tahun ini. |
Hari itu, ada sekumpulan 10 orang kusta yang datang menjumpai
Tuhan Yesus. Mereka tentu sudah mendengar bagaimana orang yang
namanya Yesus menaruh belas kasihan kepada orang yang miskin,
sakit dan lemah. Saat kesempatan datang maka merekapun meraihnya. Mereka meminta supaya Yesus menyembuhkan sakit kusta yang diderita. Dan Tuhan sungguh menyembuhkan mereka. Tapi dari 10 orang yang disembuhkan, hanya satu saja yang kembali berlutut dihadapan Tuhan berterima kasih kepadaNya, dan yang satu ini adalah orang Samaria. Sedangkan 9 orang lainnya yang kemungkinan besar adalah orang Israel, justru tidak ada satupun yang melakukan seperti orang Samaria itu. Apakah mereka tidak merasa senang dan bersyukur dalam hati mereka? Secara akal sehat, mereka pasti bersyukur. Tapi ini adalah rasa terima kasih yang tidak disertai kesadaran ketidaklayakan diri, dan rasa terima kasih seperti ini biasanya tidak mendorong orang untuk melakukan sesuatu. Lain halnya dengan orang Samaria menanggapi kesembuhan dengan suatu kesadaran rohani yang tinggi. Dia segera mengaitkan kondisinya dengan kemurahan dan belas kasihan Allah sesuatu yang tidak layak dia terima dan itu mendorong dia untuk sembah sujud dihadapanNya. Dan itulah tindakan iman yang benar. Hari ini, masih adakah kepekaan rohani seperti orang Samaria, di dalam hati kita yang menyebut diri sebagai orang-orang Kristen? Begitu banyak kebaikan Tuhan, bagaimana tanggapan kita? Apakah kita menganggap semua sudah sepantasnya kita terima karena kita anggap itu memang kewajiban Tuhan kepada kita? |
