Desember 1999

Prakata

Bonus

 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu

1

2

3

4
5
6 7

8

9

10

11
12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

webmaster

 

NATAL

Pada hari-hari bulan Desember ini, hari-hari terakhir yang masih memakai tahun "seribu" sembilan ratus sembilan puluh sembilan - kita akan memperingati dan merayakan hari kelahiran Yesus Kristus ke dunia ini. Dekorasi dan aksesoris di berbagai pertokoan yang bernuansa natal dan alunan lagu-lagu natal akan mewarnai hari-hari di akhir tahun 1999 ini. Di dalam gereja kita juga sibuk dengan segala macam persiapan untuk mewujudkan suasana natal yang seideal mungkin. Kehidupan pribadi dan keluarga kita juga akan diwarnai oleh nikmat natal.
Tentu sebagai insan dan umat kristiani kita mendambakan suasana natal yang mendatangkan damai, khidmat dan terkadang semarak. Namun jauh di atas semua yang bersifat fenomenal tersebut, kiranya kita tidak mengabaikan fokus dan sasaran peringatan atau penyembahan natal kita, yakni Yesus Kristus. Apakah pengenalan kita terhadap Dia sudah sesuai dengan siapa diriNya sebagaimana yang dinyatakan Kitab Suci? Ataukah sebaliknya Yesus yang kita kenal hanya sebatas "Yesus" menurut angan-angan atau tradisi kita belaka? Philip Yancey dalam buku Bukan Yesus Yang Saya Kenal mengakui bahwa upayanya mengenal Yesus sebagaimana ketika Ia berada di dunia, membutuhkan kerinduan, usaha, waktu dan proses. Setelah itu ia menulis, "semakin banyak saya mempelajari Yesus, semakin sukar untuk merasa sok tahu tentang diriNya."
Hendaknya semangat untuk mengenal Yesus secara benar dan terus menerus, bisa bertumbuh subur di dalam hati kita masing-masing. Pengenalan tersebut akan menentukan kepuasan dan kualitas hidup kita, komitmen kita untuk melayani sesama, dan penyembahan serta komitmen kita terhadap Dia. Pengenalan kita terhadap Yesus juga akan menentukan bagaimana kita memperingati dan merayakan natal pada penghujung tahun ini. Selamat merayakan Natal.

 

 

Back to Top


Akhir Zaman: Kehidupan Ibadah Palsu
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!"
( 2 Tim. 3:5 )

Tanggal :

1 Desember 1999

Bacaan :

2 Tim. 3:5

Refleksi :

Apakah kehidupan ibadah yang kita lakukan sekarang hanyalah sebuah kepalsuan yang kita tutupi?

Doakan Bersama :

• Atas semua kasih karunia penyertaan Tuhan, kita memasuki bulan terakhir tahun 1999 ini. Ucaplah syukur atas segala hal yang telah Tuhan lakukan.

    Manusia akhir zaman dilukiskan sebagai manusia yang hidup jauh dari hukum dan kehendak Allah. Mereka benci agama dan menuruti nafsu. Tapi mereka bukan orang yang tidak beragama.
Kekosongan hati dan jiwa manusia membutuhkan pengisian. Orang mendapat semacam kepuasan melalui agama yang diikutinya, apapun agama itu. Orang mencari agama yang dirasakan benar, atau cocok dengan seleranya, atau bahkan tidak mempedulikan hal-hal yang berhubungan dengan nilai suatu agama; yang paling penting dia telah memilih sesuatu untuk dipercayai. Dia akan mengikuti segala tatacara ibadah yang berlaku dalam kepercayaannya, bahkan menerapkannya dengan cukup setia. Segala bentuk aktivitas agamanya akan diikuti, tetapi secara hakekat, dia tidak mengerti apa-apa tentang keTuhanan, tentang Allah. Dia ikut suatu jenis kepercayaan hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa dia orang beragama. Menurutnya, dia sudah cukup baik, dan boleh merasa puas.
Kehidupan beragama seperti itu tidak membawa dampak bagi kerohanian yang bersangkutan dalam arti yang sebenarnya. Dia tidak pernah berjumpa dan bersekutu dengan Allah yang benar, dia bahkan tidak pernah memiliki relasi dengan Allah melalui penebusan Kristus, dan karena itu dia tidak pernah mengenal kebenaran yang sesungguhnya. Di dalam dirinya tidak ada hidup baru, tidak ada penyertaan Roh Kudus, tidak ada yang membimbing dan menga-rahkan hidupnya dengan firman kebenaran.
Dia merasa dirinya beragama, tetapi tak pernah menganggap KEBENARAN sebagai unsur paling penting dan serius dalam beragama. Dia tidak peduli apakah ada kebenaran di dalam agamanya. Dia beribadah secara lahiriah, tanpa pernah menyadari bahwa sebenarnya dia tidak mengenal Allah.
 

Back to Top


Akhir Zaman: Suatu Peringatan
"Jauhilah mereka itu!"
( 2 Tim. 3:5c )

Tanggal :

2 Desmber 1999

Bacaan :

2 Tim. 3:5c

Refleksi :

Karena itu, orang Kristen harus selalu waspada akan bahaya yang sudah tersebar ini, menjauhi mereka yang pola dan falsafah hidupnya secara pasti akan merusak kehidupan iman.

Doakan Bersama :

• Segala persiapan perayaan natal yang dilakukan oleh gereja kita masing-masing dikerjakan dengan baik oleh panitia sehingga juga menjadi berkat bagi mereka.

    Paulus memerintahkan Timotius untuk meneruskan peringatan ini kepada semua orang percaya sejati, supaya mereka menjauhkan diri dari mereka, dan dari cara hidup mereka. Peringatan ini memisahkan orang percaya yang sungguh dan manusia akhir zaman yang tidak mengenal Tuhan.
Cara hidup manusia akhir zaman yaitu suatu pola kehidupan yang sudah tercemar dan terbawa oleh arus dunia dengan segala kebobrokannya yang sedang menuju kehancuran. Kedua, ini juga berarti bahwa orang Kristen sejati tidak boleh mengikuti cara hidup seperti itu! Orang Kristen adalah orang yang sudah dilahirbarukan, hidup sebagai anak Kerajaan di bawah bimbingan Roh Kudus dan firman kebenaran. Status iman orang Kristen tak memberi kemungkinan kepada orang Kristen untuk hidup dengan cara yang bertentangan dengan natur Kerajaan Terang, di mana mereka adalah anggota-anggotanya. Kehidupan manusia akhir zaman bertentangan dengan natur dari kehidupannya sebagai anak Kerajaan Terang.
Jauhilah mereka itu! Ini suatu peringatan serius bagi tiap anak Tuhan: Orang percaya diperingatkan supaya mengawasi pergaulan mereka! Orang Kristen harus sadar bahwa dia masih hidup di dunia yang sama dengan orang yang tak mengenal kebenaran, dia masih hidup di tengah-tengah orang dunia, hidup di tengah arus dunia yang bertentangan dengan natur dan cara hidupnya sebagai anak-anak Allah. Di mana saja selalu akan dijumpai orang seperti yang Paulus lukiskan. Maka itu, kehidupan orang percaya harus dijalankan dengan sikap penuh waspada!
Sesuatu yang asing akan mudah terdeteksi pada awalnya, atau ketika jumlahnya sedikit. Tapi kalau jumlahnya menjadi bagitu banyak dan terdapat di mana-mana, maka orang akan cenderung meng-anggapnya biasa.
 

Back to Top


Penyelundup Yang Berbahaya
"Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu."
( 2 Tim. 3:6 )

Tanggal :

3 Desember 1999

Bacaan :

2 Tim. 3:6-9

Refleksi :

Pola kehidupan dan pola berpikir yang sudah cemar dosa, akan mewarnai kehidupan manusia menjelang akhir zaman. Semua itu akan mempengaruhi dan merusak kehidupan orang lain yang tidak memiliki Tuhan di dalam hidupnya.

Doakan Bersama :

• Elite politik yang memiliki kepercayaan untuk memimpin bangsa ini, diberikan kerendahan hati untuk mau bertanya dan mendengar masukan dari sumber di luar pemerintahan.

    Orang-orang ini harus dijauhi dan diwaspadai, karena ada kemungkinan mereka akan menyelundup masuk ke dalam komunitas orang-orang percaya dan mengadakan penyesatan, karena natur dosa mereka miliki bersifat agresif dan mempengaruhi.
Mereka akan menyelundup ke mana saja untuk menjerat dan menyesatkan orang lain, dan meskipun kehidupan mereka kadang jelas terlihat begitu rusak, tetap saja akan ada orang yang dengan senang hati memberi diri mereka untuk disesatkan. Ada banyak orang yang dari luar kelihatannya suka belajar dan bersemangat dalam belajar, tapi tidak pernah bisa diajari kebenaran yang sejati karena di dalam dirinya tidak ada kehidupan baru yang memungkinkan dirinya mengenal kebenaran.
Dua nama yang disebut: Yanes dan Yambres, tidak dapat ditelusuri secara jelas dari catatan PL karena kedua nama ini tidak ada. Menurut tafsiran tradisional, kedua nama itu adalah simbol dari mental menentang kebenaran. Secara umum, ini menunjuk kepada orang-orang yang pada zaman Musa yang selalu menentang segala kebenaran yang disampaikan Tuhan kepada dan melalui Musa.
Manusia yang bermental seperti itu selalu ada dan menjadi ciri utama manusia akhir zaman. Mereka suka berdiskusi dan berdebat soal kebenaran, soal agama, tetapi tidak pernah mengerti kebenaran yang sesungguhnya. Yang mereka lakukan, ialah justru menentang dan memutarbalikan kebenaran menjadi kebodohan dan kebinasaan mereka sendiri. Mereka menukar kebenaran yang telah Allah nyatakan dengan rumusan kebenaran mereka sendiri, dengan anggapan bahwa apa yang mereka rumuskan itu lebih benar dari pada apa yang Tuhan nyatakan, dan dengan itu mereka menyesatkan diri mereka sendiri dan orang-orang yang mengikuti mereka.
 

Back to Top


Ujian Pertama Yang Sukses
"Dan Samuel berkata kepada bangsa itu: Marilah kita pergi ke Gilgal dan membaharui jabatan raja di sana."
( 1 Sam. 11:14 )

Tanggal :

4 Desember 1999

Bacaan :

1 Sam. 11:1-15

Refleksi :

Biarlah segala ujian dapat kita hadapi dengan campur tangan Tuhan. Kita pasti mengalami sukacita dan kemenangan rohani dalamnya.

Doakan Bersama :

• Kesediaan para pemilik modal dalam negeri kembali menanamkan modalnya di negara sendiri. Program kerja dan rencana pemerintah untuk pemulihan kondisi perekonomian.

    Ada sebuah pandangan umum yang menyatakan bahwa biasanya orang bekerja pada waktu permulaan adalah waktu terbaiknya. Dia akan menunjukkan kerajinan, ketekunan, kesungguhan dan kesetiaan. Biasanya, seiring dengan bergulirnya waktu maka semua itu akan mengendur. Kisah kepahlawanan Saul sebagai raja Israelpun dibuka dengan kisah dramatis yang mengesankan.
Serangan dari bani Amon pimpinan Nahas dapat dipatahkan dengan muslihat dari sang penderita kaum Yabesy-Gilead. Herannya di sana disebutkan bahwa Yahweh lagi-lagi turut campur tangan didalamNya. Saul menang, Saul mendapat nama dan diangkat posisinya sebagai raja mereka di Gilgal, tempat bersejarah bagi bangsa Israel sebelum mereka menduduki tanah Perjanjian.
Ini adalah lembaran manis dari kepahlawanan Saul yang tak langgeng, hanya sampai disini dia dicatat sebagai orang yang punya semangat berjuang bagi Israel, sesudahnya catatan Alkitab justru menuliskan tentang sosok pria jahat dan jahanam. Awal yang baik tak bisa dipertahankan bahkan ditingkatkan. Semuanya mubazir karena ternyata Saul itu tidak pernah berubah dan juga diubah hatinya melalui pengalaman-pengalaman hidupnya yang bersentuhan dengan Yahweh. DIA tetap adalah pribadi asing yang tetap tidak dikenalnya.
Mungkinkah keadaan ini juga kita alami? Setelah dibaptis kita sempat giat sebentar lalu kita mundur bahkan tenggelam dalam ketidakmengertian kita terhadap realita hidup yang tidak semudah memutarbalikkan tangan. Dia terasa jauh dan kita tetap tak bergeming untuk mendekati dan mengenalNya.
 

Back to Top


Kuasanya Yang Absolut
"Tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun."
( Mzm. 33:11 )

Tanggal :

5 Desember 1999

Bacaan :

Mzm. 33:10-11

Refleksi :

KuasaNya tak terkalahkan.

Doakan Bersama :

• Hamba Tuhan kita tetap memandang pada Yesus dan melayani dengan hati yang tulus iklhas dan tidak menjadi sombong karena keberhasilannya.

    Allah adalah pengontrol dan juga berdaulat. KetidaktergantunganNya yang mutlak sesuai dengan kehendak dan pengontrolanNya yang mutlak atas semua ciptaanNya. Tidak ada makhluk, atau kerajaan yang dapat menghalangi kehendakNya atau bertindak di luar kehendakNya.
Atribut Allah yang berkaitan dengan kedaulatan Allah ialah:
- Hikmat Allah yang dalam dan kaya dan;
- KasihNya yang sempurna.
Allah yang adalah sumber segala hikmat tidak membutuhkan nasehat manusia untuk melaksanakan kedaulatanNya. Ia berindak dengan hikmatNya yang sempurna dan hikmatNya ini ada di luar kemampuan manusia untuk dapat mengerti. Paulus mengatakan: "O, alangkah dalam kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusanNya dan sungguh tak terselami jalan-jalanNya" (Roma 11:33).
Namun bagaimanakah dapat dikatakan kalau Allah itu mengasihi manusia dengan mendatangkan kemalangan? Raja Hizkia berkata: "Sesungguhnya, penderitaan yang pahit menjadi keselamatan bagiku; Engkaulah yang mencegah jiwaku dari lobang kebinasaan" (Yesaya 38:17).
Yeremia berkata: "Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setiaNya. Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia" (Ratapan 3:31-33). Tak ada perkara yang terlalu kecil untuk tidak diperhatikan olehNya dan tidak ada perkara yang terlalu besar di luar pengawasan dan pengontrolanNya (His foreknown). Baik itu pada perkembangan sebuah kerajaan atau setiap segi kehidupan manusia.
 

Back to Top


Kebebasan Manusia

"Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."
( Yak. 4:15 )

Tanggal :

6 Desember 1999

Bacaan :

Yak. 4:13-15

Refleksi :

Manusia memiliki kebebasan tapi janganlah kebebasan kita berada di luar rencanaNya.

Doakan Bersama :

Persiapan para pengkhotbah bulan ini, banyak thema natal diangkat. Segala persiapan dikerjakan dengan baik agar khotbah yang disampaikan tidak menyesatkan.

    Setiap manusia memiliki kebebasan untuk bertindak. Namun semuanya tidak terlepas dari pengontrolNya. Allah tidak mengizinkan perkara-perkara yang terjadi yang nyatanya bertentangan dengan kedaulatanNya. Beberapa ayat Alkitab mengatakan:
Ö Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9).
Ö Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana (Amsal 19:21).
Ö Tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi TUHAN (Amsal 21:30).
Ö Perhatikan pekerjaan Allah! Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkanNya? (Pengkhotbah 7:13).
Apakah Tuhan mengizinkan kejahatan dalam dunia terus merambah lebih luas lagi dari sekarang? Apakah seolah-olah Allah itu kurang berdaulat atas kejahatan manusia? Bahkan kadangkala Tuhan mengizinkan perkara itu terjadi atas kebodohan dan kelalaian manusia, bahkan kejahatan kita. Sehingga kita menderita akibat hal-hal itu?
Adakah kemampuan Allah untuk mengatur perbuatan manusia yang menyimpang untuk memenuhi kehendakNya dalam kedaulatanNya. Tetapi adalah penting untuk mempercayai Allah yang berdaulat, sekalipun kita tidak melihat intervensiNya secara langsung - yaitu melalui situasi ataupun melalui perbuatan manusia - karena itulah cara Allah bekerja.
 

Back to Top


Petrus Berjalan Di Atas Air 1

"Segera Yesus mengulurkan tanganNya, memegang dia dan berkata: Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
( Mat. 14:31 )

Tanggal :

7 Desember 1999

Bacaan :

Mat. 14:28-31

Refleksi :

Tuhan pasti akan terus memegang tangan kita, jangan menjadi bimbang karena sesuatupun.

Doakan Bersama :

Tugas-tugas dan menteri keuangan, Gubernur BI dan pejabat lainnya agar semua orang tersebut dapat bekerja dengan jujur dan baik untuk menuju perekonomian yang lebih baik.

    Kita perlu belajar segala hal secara imbang dan objective tentang keunggulan Petrus:
A). Berani menuntut pengalaman rohani baru. Petrus minta berjalan di atas air, 'pengalaman rohani baru' memerlukan kejelian, pengorbanan, keberanian dan pengenalan serta iman kepada Tuhan. Kita puas dengan status kita sehingga berhenti melangkah masuk kedalam kelimpahan Tuhan yang tak terbatas.
B). Hatinya mudah tergerak. Ia tidak sungkan menyatakan betapa tergerak hatinya saat ia tahu bahwa yang dikira hantu sebenarnya adalah Yesus (Mat. 14:26-29). Petrus pernah terjun ke danau dan menghampiri Yesus, saat ia mengetahui Yesus berada di pantai. Petrus cepat dan sensitif terhadap kasih Yesus. Betapa lambat dan tumpul kita terhadap kasih dan anugerah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
C). Iman Petrus sebagai teladan. Saat Petrus sadar bahwa yang berjalan adalah Tuhan, ia segera meminta Yesus untuk berjalan di atas air. Yesus menjawab 'datanglah'. Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air (Mat. 14:28-29). Petrus percaya akan kuasa Yesus; Dia memberinya kuasa melaksa-nakan hal yang sama, dan ia melakukannya—turun dari perahu dan jalan di atas air.
Yesus telah berjanji kepada murid-muridNya, demikian juga janji ini berlaku bagi kita. "Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa" (Yoh. 14:12). Janji ini menjelaskan bahwa Yesus akan naik ke sorga, mengutus Roh Kudus datang menyertai murid-muridNya sehingga murid-muridNya dapat melakukan hal-hal yang Yesus lakukan, bahkan lebih besar dari hal-hal yang Yesus lakukan. Percayakah kita terhadap janjiNya itu?
 

Back to Top


Petrus Berjalan Di Atas Air 2

"Segera Yesus mengulurkan tanganNya, memegang dia dan berkata: Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"
( Mat. 14:31 )

Tanggal :

8 Desember 1999

Bacaan :

Mat. 14:28-31

Refleksi :

Janganlah takut dan janganlah goyah karena Tuhan telah memegang jalanMu.

Doakan Bersama :

• Karakter kita diubahkan setiap hari, menjadi manusia kristen yang selalu siap menghadapi tantangan zaman ini, apapun bentuknya.

    Bila kita melihat keunggulan-keunggulan Petrus dalam perikop firman Tuhan ini, maka ada hal-hal yang perlu kita teladani. Selanjutnya kitapun perlu menghindarkan diri dari kelemahan Petrus sehingga kita mengalami pertumbuhan rohani yang Allah kehendaki. Setelah Petrus berjalan di atas air beberapa saat, akhirnya ia tenggelam. Perlu kita telusuri sebab tenggelamnya Petrus.
A. Petrus tidak konsisten dalam imannya. Mat. 14:30 mengatakan "takutlah ia". 'Takut' dengan 'iman' adalah dua hal yang tidak mungkin bertumbuh bersamaan; dengan kata lain, pada saat Petrus 'takut', berarti saat itu ia tidak beriman lagi, tidak bersandar pada Yesus lagi. Mungkin setelah ia bersandar pada Yesus dan berjalan di atas air, setelah beberapa saat, ia bersandar pada dirinya, membanggakan 'kebolehannya'. Saat Petrus mengandalkan 'kehebatannya' kemudian pasti akan timbul perasaan sangat lemah. Saat imannya berfokus pada dirinya, saat itu pula ia tidak beriman pada Tuhan. Hati-hatilah! Kita perlu menimba pelajaran dari kelemahan Petrus.
B. Petrus mengandalkan situasi. Tadinya Petrus berjalan di atas air, sekarang ia tenggelam ke dalam air, apakah karena tiupan air yang baru muncul? Jelas tidak! Situasinya sama. Masalahnya, tadi Petrus melihat Tuhan, sekarang tidak lagi; sebaliknya sekarang melihat keadaan maka ia merasakan goyangan air. Jika mengandalkan diri pada Tuhan, kita akan teguh, karena Ia adalah penguasa alam semesta. Jika kita mengandalkan diri pada situasi, kita akan goyang, karena situasi selalu mengancam kita, dan Iblis sering mempergunakan keadaan sebagai alat untuk mengancam kita. Hati-hatilah dalam mengarahkan pandangan kita.
 

Back to Top


Doa Yang Benar
"Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu."
( Yak. 4:3 )

Tanggal :

9 Desember 1999

Bacaan :

Yak. 4:1-3

Refleksi :

Doa orang benar akan besar kuasanya. Apakah kita sudah berdoa secara benar selama ini?

 

Doakan Bersama :

Orang tua memperhatikan dengan serius perkembangan anak-anak mereka di sekolah maupun dalam pertumbuhan imannya.

    Pernahkah saudara waktu disakiti hati seseorang lalu berkata: "Oh... Tuhan biarlah orang itu tidak selamat, disambar geledek!" Lalu orang yang Anda doakan benar-benar disambar geledek dan mungkin meninggal. Kalau betul itu terjadi, itu bukan karena kuasa doa Anda. Tuhan tidak pernah mengabulkan doa seperti itu, hanya iblis yang berkenan melaksanakan rencana jahat Anda, sebaliknya Tuhan mengajar kita untuk memaafkan dan memberkati orang yang menyakiti kita.
Kita seringkali mendengar anekdot tentang doa para dokter atau penjual peti mati. Mereka mengharapkan banyak orang terserang penyakit dan banyak yang mati, supaya pekerjaan dan dagangan mereka laris. Kalau orang duniawi mungkin berharap demikian, tapi kalau mereka benar-benar orang kristen yang dewasa kerohaniannya pasti tidak akan mengharapkan mendapat keuntungan dari penderitaan orang lain. Mereka berdoa supaya Tuhan pakai mereka untuk menolong orang yang terkena musibah, yang sakit dan mereka yang sedang berduka. Tuhan kirim pada pengusaha peti mati untuk melayani sebaik-baiknya dan memberi pertolongan dan penghiburan, bila ada yang tak mampu membayar dan mereka bersedia untuk tidak dibayar, karena dengan menolong orang yang lain berarti juga melakukannya untuk Tuhan. Jika kita sepenuhnya menyerahkan diri kepada kehendak Allah dan pelayananNya dan bila kita berdoa sebagaimana Roh Kudus memimpin kita, maka doa-doa kita akan dikabulkan oleh Allah.
Sering doa-doa kita tidak dikabulukan karena kita terlalu mementingkan diri sendiri, tidak sesuai dengan jehendak Allah atau seperti kata Mazmur 66:18, "Sebagaimana ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar."
 

Back to Top


Sudahkah Anda Dibenarkan...?

"Jikalau kamu tetap dalam FirmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu."
( Yoh. 8:31-32 )

Tanggal :

10 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 8:30-35


Refleksi :

Kebenaran sejati hanya ada dalam Dia. Sudahkah kita menerima kebenaran sejati yang memerdekakan kita?
.

Doakan Bersama :

• Pembinaan pemuda Kristen dengan segala bentuknya mengingat bahwa masa depan gereja dan bangsa juga terletak di tangan mereka.

    Kebenaran yang dijanjikan Tuhan lain dan berbeda dengan kebenaran yang diberikan oleh duniawi sebab apa yang ada dalam dunia sudah terkontaminasi oleh dosa. Ajaran Tuhan Yesus kepada orang Yahudi sudah sangat jelas dikatakan dalam perikop sebelumnya, yaitu supaya 'mereka tetap dalam Firman'.
Tuhan ingin berkata dua hal. Yang pertama, perkataan ini mengundang suatu janji pembenaran bagi umat manusia, yaitu menjadi seorang murid yang benar dan mengetahui akan kebenaran yang memerdekakan. Tapi, nyatanya dalam kehidupan ini kita belum bisa untuk mencapai hal ini. Kita komit untuk menjadi seorang murid tapi banyak orang yang gagal karena melihat situasi bahwa ternyata menjadi murid Kristus tidak enak. Disana-sini penuh dengan penderitaan, baik batin dan fisik. Mampukah Anda menerima semua ini?
Yang kedua, keturunan Abraham itu tidak perlu pembenaran lagi. Di lain pihak mereka merasa bahwa mereka telah merdeka bukan dan bukan lagi menjadi seorang hamba yang perlu dimerdekakan (ay. 33). Mereka belum menyadari bahwa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus adalah 'kemerdekaan dari dosa' (ay. 34). Satu hal yang sebenarnya tidak kita sadari adalah, kita yang adalah hamba dosa ini sebenarnya perlu menerima kemerdekaan dari sang Tuan, dan hal inilah yang sudah tunai diberikan oleh Kristus bagi kita.
Masalahnya, sudahkah kita menggunakan apa yang diberikan oleh Kristus untuk kita. Mulailah hidup dalam FirmanNya yang penuh kuasa, janganlah kita hidup dengan kekuatan diri kita sendiri. Ingatlah bahwa kita ini cenderung menjadi hamba dosa.
 

Back to Top


Pilihan Yang Menghebohkan

"Kamu lihatkah orang yang dipilih TUHAN itu? Sebab tidak ada seorangpun yang sama seperti dia di antara seluruh bangsa itu."
( 1 Sam. 10:24a )

Tanggal :

11 Desember 1999

Bacaan :

1 Sam. 10:17-27

Refleksi :

Mari kita segera berbalik padaNya, bukan hidup menghamburkan kemanjaan dariNya.

Doakan Bersama :

• Keamanan menjelang hari natal. Aparat keamanan sigap dalam mengambil langkah yang tepat. Keamanan boleh dirasakan dalam hati tiap jemaat.

    Senang jika permintaan jadi kenyataan. Rasa lapar akan gemerlapnya duniawi membutakan mata rohani bangsa Israel, yang kehilangan kepekaan hati untuk memahami betapa besar permintaan mereka menyakiti hati Allah. Samuel, pemimpin bangsa pertama, merasakan penolakan itu tapi Allah menegaskan bahwa diriNyalah yang mereka tolak. Bahkan mereka tetap bersikukuh dengan permintaan mereka tanpa peduli dengan tenggang rasa. Sungguh sudah membatu, hati yang lebih keras dari intan. Orang tua kadang menolak membelikan anak mereka sesuatu yang tak bermanfaat meski mereka mampu. Si anak menangis dan sengaja membuat malu, dan orang tua kadang tetap pada pendiriannya. Mereka tahu bahwa hal itu akan mencelakakan anak mereka (misalnya minta rujak atau permen coklat besar).
Kita melihat bahwa TUHAN tidak peduli dengan permintaan bangsa Israel. Dia mengabulkannya sebab mereka tidak bisa diberi pengertian dan diarahkan. Betapa menakutkan bila kita juga diperlakukan demikian oleh Allah saat kita mempunyai hati sekeras hati bangsa Israel sehingga peringatanNya tak pernah digubris. Munculnya sang raja membuat heboh sebab meskipun secara fisik dia berpenampilan oke, tapi secara mental ternyata masih terperangkap dalam perasaan rendah diri yang begitu kental. Bahkan orang durhakapun bereaksi terhadap pemilihannya. Namun pilihan TUHAN telah ditetapkan dan tidak seorangpun yang boleh menentangnya. Saul diproklamirkan dan memulai sebuah pemerintahan otokrasi yang aman, yang tidak pernah dialami atau dipelajari sebelumnya. Semuanya mesti berlangsung dan Allah tetap berkarya di tengah mereka. Sungguh suatu kemurahan belaka dariNya bila kita masih tetap merasakan campur tanganNya meskipun kita telah membelakangiNya.
 

Back to Top


Perbedaan Yang Memuliakan

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"
( Rm. 11:36 )

Tanggal :

12 Desember 1999

Bacaan :

1 Kor. 12:1-11

Refleksi :

Talenta yang Tuhan berikan akan Tuhan perhitungkan pada waktunya.

Doakan Bersama :

• Persiapan hati jemaat Tuhan dalam Natal. Mereka peduli terhadap lingkungan dan juga mempunyai semangat untuk terus memberikan yang terbaik dalam hidup ini.

    Bagian ini adalah jawaban Rasul Paulus atas pertanyaan jemaat Korintus yang menanyakan/mempersalahkan tentang nubuatan serta bahasa roh; mana diantaranya yang lebih tinggi.
Yang pertama, Paulus menasihatkan bahwa 'orang yang mengaku Yesus adalah Tuhan' ialah karya dari Roh Kudus sendiri (ay. 3). Kedua, bahwa rupa-rupa karunia berasal dari Roh yang sama atau berbagai pelayanan dan perbuatan ajaib semua itu adalah berasal dari Allah yang sama (ay. 4-6). Ketiga, bahwa tiap-tiap karunia roh yang diberikan oleh Allah adalah untuk kepentingan bersama (ay. 7).
Dengan jawaban seperti ini, rasul Paulus mengharapkan supaya jemaat Korintus segera sadar dan tidak menyombongkan diri atas karunia yang diberikan Tuhan pada mereka. Kadang dalam kehidupan, kita terus menjadi sombong dan membanggakan salah satu karunia roh kita, sehingga mengabaikan karunia roh yang lain. Paulus juga mengingatkan bahwa karunia itu diberikan secara khusus pada tiap-tiap orang yang dikehendakiNya. Jadi karunia yang kita terima adalah atas dasar pemberian bukanlah usaha yang kita lakukan.
Melalui nats ini, Paulus mengingatkan diri kita bahwa setiap kita mempunyai karunia yang berbeda-beda dari Allah. Tapi pertanyaan bagi kita ialah: sudahkah kita menyadari keberadaan karunia-karunia yang telah diberikanNya serta digunakan untuk memuliakan Allah dan membangun pertumbuhan kerohanian saudara seiman kita. Dengan demikian marilah dalam keberadaan kita masing-masing, kita tidak mencela tapi saling mengisi dan memuliakan Allah dengan karunia yang telah diberikanNya.
 

Back to Top


Pencipta dan Ciptaannya

"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekrjaan tanganNya."
( Mzm. 19:2 )

Tanggal :

13 Desember 1999

Bacaan :

Kej. 1:14-19

Refleksi :

Apa yang baik menurut Allah, jangan kita buat menjadi tidak baik.

Doakan Bersama :

• Keluarga, sahabat, kerabat, dan rekan kerja yang belum. Kiranya di bulan natal ini kita semakin rindu untuk berPI kepada mereka, baik secara langsung atau tidak langsung.

    'Siapakah yang membuat binatang, bulan dan matahari? Saya tidak bisa... hanya Tuhan saja.' Suatu lagu berisi demikian. Ini merupakan kebenaran firman Tuhan. Bintang, bulan dan matahari merupakan ciptaan Tuhan. Semua benda penerang ini ditempatkan di alam semesta oleh Tuhan (Kej. 1:1-2:7). Semuanya dipandang baik oleh Tuhan.
Allah, Pencipta alam semesta, menciptakan benda-benda penerang ini sebagai tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap, seperti hari dan tahun; serta sebagai penerang pada cakrawala. Semuanya dipandang baik oleh Allah kita. Semua ciptaanNya ini memberitakan kemuliaan Allah dan pekerjaan tanganNya.
Tapi fungsi dari benda-benda penerang ini menjadi tidak sebagaimana mestinya ketika manusia jatuh dalam dosa. Yang tadinya berfungsi untuk membantu manusia sekarang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ciptaan Tuhan yang ada di alam semesta ini justru disembah dan dijadikan berhala oleh manusia, kemudian dijadikan tanda yang dapat menunjukkan nasib manusia. Dosa membuat manusia tidak percaya dan menyembah Tuhan sebagai Penciptanya. Justru sebaliknya, ciptaan Tuhan tadi dijadikan 'tuhan' oleh manusia. Semuanya menjadi 'tidak baik' dimata Allah.
Adakah ciptaanNya yang saat ini tidak kita tempatkan sebagimana mestinya dalam kehidupan kita sehari-hari? Adakah ilah-ilah lain yang menjauhkan kita dari Allah, Pencipta kita? Pada siapakah kita percaya dan menyerahkan seluruh kehidupan kita? Hanya kepada Tuhan sajalah kita harus percaya akan seluruh hidup kita.
 

Back to Top


Di Manakah Engkau?

"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMu!"
( Rat. 3:22-23 )

Tanggal :

14 Desember 1999

Bacaan :

Kej. 3:1-24

Refleksi :

Kapan kita datang merasakan pelukan kasih Allah?

Doakan Bersama :

• Hubungan keluarga kita yang mungkin sudah mulai tidak harmonis. Tuhan campur tangan dalam membina keluarga kita masing-masing.

    Untuk pertama kalinya Sherly memecahkan piring yang sedang ia cuci. Membayangkan wajah ibunya yang sedang marah, membuat Sherly menjadi sangat ketakutan. Ia bersembunyi di kolong tempat tidurnya. Ketika sang ibu tahu apa yang telah terjadi dengan anaknya, ia segera mencarinya. "Sherly, dimanakah engkau? Mengapa kau sembunyi di sini?" Kemudian ibunya menemukan Sherly sedang bersembunyi. "Ibu tidak marah padamu, nak. Lain kali apabila mencuci hati-hati ya..." kata sang ibu sambil memeluk Sherly yang masih ketakutan.
Pertanyaan 'dimakah engkau?' diucapkan Allah ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Kekudusan Allah menuntut mereka untuk bertanggungjawab atas apa yang telah mereka lakukan. Mereka telah melanggar perintahNya. Tapi karena begitu besar kasihNya, Allah datang mencari ciptaanNya yang disayangi, manusia. Ia mengenakan pakaian dari kulit binatang untuk mereka. Kelembutan kasihNya tetap Allah tunjukkan pada Adam dan Hawa, walaupun mereka telah melakukan suatu kesalahan besar, makan buah pengetahuan.
Allah sangat mengasihi kita. Namun dosa membuat kita jauh dari Allah, terpisah dariNya. Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib menyatukan kita kembali denganNya. Saat ini, ketika kita masih melakukan perbuatan-perbuatan dosa, Allah juga bertanya pada kita, "Dimanakah engkau?" Ia mencari kita. Mari kita datang minta ampun padaNya. Ia mau mengampuni kita. Bahkan, dengan membuka tangan lebar-lebar Ia hendak memeluk kita dengan penuh kasih. Datanglah padaNya! Allah senantiasa mengasihi kita!
 

Back to Top


Teman Lama Dan Teman Baru

"Jangan kautinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh."
( Ams. 27:10 )

Tanggal :

15 Desember 1999

Bacaan :

Ams. 27:10

Refleksi :

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
(Amsal 17:17)

Doakan Bersama :

• Gereja-gereja Tuhan di Indonesia diberikan keberanian untuk menyuarakan suara kenabian dan kebenaran bagi pemerintah yang ada saat ini.

    Segala sesuatu yang sejati akan bertahan; inipun juga berlaku bagi persahabatan atau kasih lainnya. Orang bijak berkata: "Buatlah teman baru, tetapi jangan lupa yang lama."
Persahabatan baru seperti anggur baru. Akan menjadi masak, tulen dan menjadi nomer satu seiring dengan waktu. Hargailah persahabatan dalam dirimu secara baik: Tentu yang baru baik, tetapi yang lama adalah yang terbaik! Jika yang baru adalah perak, maka yang lama itu jelas emas mulia adanya.
Nasihat pengamsal di atas dapat dibagi dalam dua bagian. Pertama, membahas tentang persahabatan dan tanggungjawab kita untuk mengembangkan persahabatan dari generasi ke generasi. Kedua, sebuah peringatan bahwa saat kita sedang menghadapi persoalan, kita harus mencari pertolongan dari seseorang yang berhubungan dekat dengan kita secara fisik.
Keluarga yang tinggal jauh dari kita kurang dapat membantu dibandingkan dengan tetangga yang berada dekat dengan kita. Sementara itu, ayat ini juga mengajar tentang persaudaraan yang kurang memiliki ikatan kasih yang dalam, jika dibandingkan dengan sahabat yang mempunyai ikatan kasih seperti saudara. Tafsiran dari ayat ini ialah: Anda dapat memilih orang untuk menjadi sahabat, tapi ikatan keluarga secara keturunan tidak dapat dipilih (Amsal 18:24).
Pendeknya, dahi boleh berkerut dan rambut boleh beruban dan menjadi kelabu; tapi persahabatan tak kenal uzur seperti itu. Teman lama, sayang sekali: mungkin mati. Maka mereka oleh teman baru akan diganti! Begitulah seterusnya!
 

Back to Top


Value By Doing

"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?"
( Mrk. 8:36 )

Tanggal :

16 Desember 1999

Bacaan :

Pkh. 1:2-3

Refleksi :

Jadi, visi kita jangan hanya terbatas pada hal-hal yang praktis, berguna dan memenuhi kebutuhan dasar kita saja, tetapi kita gagal melihat nilai kekalnya.

Doakan Bersama :

• Berdoa untuk tim acara panitia perayaan natal gereja. Tuhan pimpin segala persiapan tim acara termasuk tim pelayan lainnya yang akan ambil bangian melayani dalam perayaan ini.

    Terminologi value sering dipakai, walau tanpa pemahaman yang jernih. Istilah latinnya ialah 'valere', makna dasarnya ialah berguna, mampu akan, berdaya, berlaku dan kuat. Secara harafiah, 'nilai' berarti sesuatu yang pantas dibela dan diperjuangkan dalam kehidupan. Sebab nilai memberi kepada hidup ini titik tolak, isi dan tujuan. Nilai sedemikian rupa mewarnai dan menjiwai hidup seseorang sehingga demi pegangannya itu ia rela berkorban, bertahan bahkan mati.
Ada 7 hal yang akan memintal sesuatu itu menjadi nilai dalam arti yang sebenar-benarnya:
Pertama, nilai adalah sesuatu yang sangat kita hargai dan junjung tinggi. Skala prioritasnya adalah pertama dan terutama. Kedua, kita bersedia mengakui dan menyatakannya di depan orang lain. Kekasih Anda tidak bersalah bila ia meragukan cinta Anda, selama Anda merasa malu untuk berjalan bersama-sama dengan dia. Ketiga, nilai itu Anda pilih dengan bebas, tidak terpaksa atau diancam. Keempat, nilai yang sejati adalah nilai yang Anda pilih setelah Anda mempertimbangkannya dengan sadar. Kelima, nilai itu Anda pilih dengan bebas dan sadar dari banyak pilihan yang ada. Bukan karena itulah satu-satunya kemungkinan yang tersedia. Keenam, nilai itu Anda nyatakan melalui tindakan. Seseorang dapat berkata: Bagi saya buku itu amat penting. Ternyata ia tidak pernah membacanya, apalagi sebagian besar uang dan waktunya digunakan untuk ngobrol, makan di restoran dan nonton bioskop. Ketujuh, aksi itu tidak berlangsung sekali atau sekali-kali, melainkan diulang-ulang dan terus-menerus.
Saya pernah membaca 'Inspiring Quotation' dari C.S Lewis yang berbunyi: Tidak ada yang bernilai kekal untuk selamanya. Kata mutiara ini sebanding dengan komentar bijak yang pernah dikatakan oleh Yesus Kristus (Mar. 8:36).
 

Back to Top


Dengan Kasih Apa ? (1)

"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?"
( Yoh. 21:15a )

Tanggal :

17 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 21:15-19

Refleksi :

Dengan apakah engkau mengasihi Aku?

Doakan Bersama :

• Mohon Tuhan meningkatkan kerinduan doa kita dan membiarkan kita mengalami keindahan dan kuasa dari jawaban doa-doa yang dinaikkan.

    Sarapan pagi itu membawa kepada percakapan antara Tuhan Yesus dengan Simon Petrus, murid yang pernah menyangkal tiga kali terhadap gurunya tersebut. Tantangan/pertanyaan yang Tuhan ajukan kepada Petrus ini meru-pakan yang terakhir sekaligus pernyataan ini menjadi mandat Tuhan Yesus sebelum Dia naik ke sorga.
Sebelum kita mempelajari perikop firman Tuhan ini lebih dalam, mari kita belajar tentang konsep 'kasih' terlebih dahulu.
Dalam bahasa Yunani ada empat kata yang dipakai untuk megekspresikan konsep kasih, yaitu Eros, Storgein, Philia dan Agape.
Kasih Eros menyatakan kasih antara pria dan wanita yang mencakup kerinduan, hasrat dan gairah.
Kasih Storgein menyatakan kasih di antara orang tua dan anak, suatu bangsa kepada pemimpinnya.
Kasih Philia menyatakan kasih persaudaraan, persahabatan pribadi yang hangat, cinta kasih yang mendalam antara dua pribadi atau antara orang banyak. Di dalam Perjanjian Baru kata 'philia' digunakan sebanyak empat puluh lima kali.
Kasih Agape menyatakan kasih Allah kepada manusia, kasih manusia kepada Allah dan sesamanya. Kasih agape adalah kasih yang memberikan dirinya tanpa menghitung harga-nya, kasih yang mengasihi baik sahabat maupun musuhnya. Kasih Agape mempunyai nilai yang begitu agung, begitu lembut, jauh melebihi ketiga kasih di atas.
Kini kita tahu konsep kasih, sekarang apakah kita sudah melakukannya dalam hidup kita?
 

Back to Top


Dengan Kasih Apa? (2)

"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?"
( Yoh. 21:15a )

Tanggal :

18 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 21:15-19

Refleksi :

Bagaimana respon kita yang mengaku percaya dan menerima keselamatan dari Tuhan? Dengan respon kasih philia, storgein atau dengan kasih agape?

Doakan Bersama :

• Anak-anak Tuhan yang memiliki kemampuan dalam bidang 'Iptek' tetap mengembangkannya untuk kemuliaan Tuhan.

    Bacaan pagi menceritakan bagaimana Tuhan bertanya dan Petrus menjawab. Hal ini berlangsung hingga tiga kali. Tuhan bertanya dengan kasih agape dua kali dan kasih philia pada kali yang ke tiga. Sedangkan Petrus menggunakan kasih philia tiga kali. Yesus meminta kasih yang penuh bakti, tetapi Petrus menjawab dengan kasih yang emosi. Yesus meminta kasih yang penuh ketaatan, Petrus menjawab dengan kasih yang berasal dari keterikatan pribadi.
Yesus bermaksud menanyai Petrus kalau ia mempunyai suatu pengabdian pribadi kepada Yesus sampai ia rela mengorbankan dirinya yang mana lebih kuat dari pada pengabdian pribadi kepada Yesus sampai Ia rela mengorbankan dirinya yang mana lebih kuat dari pada pengabdian rekan-rekannya. Petrus menjawab dengan rendah hati menggunakan philia, mengingat tiga kali penyangkalannya terhadap Tuhannya dan tidak membandingkan kasihnya dengan kasih orang lain. Pada kali yang ketiga Yesus bertanya kepada Petrus dengan memakai philia. Tuhan Yesus bertanya secara tajam kalau-kalau Petrus sungguh mempunyai kecintaan kepadanya. Petrus sedih karena Yesus memakainya dengan philia, namun Petrus hanya mempertahankan kesenangan dan kasih persahabatannya pada Yesus.
Dalam dua pertanyaan/tantangan awal yang Tuhan berikan kepada Petrus melalui kasih agape, Tuhan ingin mengimplikasikan pengorbanan diri, penghargaan dan ketaatan. Sebenarnya Tuhan sangat menginginkan supaya Petruspun meresponinya dengan kasih agape pula.
Natal tinggal beberapa hari lagi. Tuhan datang ke dunia dengan menggunakan kasih agape. Kemudian dengan apakah kita mengasihiNya?
 

Back to Top


Kasih Agape

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal."
( Yoh. 3:16 )

Tanggal :

19 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 21:15-19

Refleksi :

Biarlah di hari natal di bulan ini kita boleh menjadi refleksi hati kita di hadapan Tuhan.

Doakan Bersama :

• Pejabat yang duduk bertugas sebagai penegak hukum memiliki kepekaan hukum secara tinggi, untuk menegakkan kebenaran dan keadilan secara benar.

    Kasih agape mengekspresikan suatu kasih pujian dan penghargaan, kasih yang mengakui keberhagaan obyek yang dikasihinya. Kasih agape adalah kasih yang memberikan dirinya tanpa menghitung harganya. Dalam Injil, kasih Allah diekspresikan dengan kata-kata yang pasti.
Allah membuktikan kasihNya dengan melakukan segala sesuatu yang dapat lakukanNya dan juga memberikan segala sesuatu yang dapat Dia berikan untuk menoplong manusia. Tuhan telah menarik pengorbanan diri Ilahi sampai pada batas yang terjauh dan tak dapat ditarik lebih jauh lagi, dan untuk itu Ia tidak mempertahankan apa-apa untuk diriNya. Ia menyatakan kasihNya secara maksimal kepada manusia dengan memberikan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Allah telah mengorbankan diriNya sampai pada titik dimana Ia mati sebagai manusia untuk kita yang pada saat itu sangat membenci Sang Pengasih. Di sini terlihat betapa Allah menghargai jiwa-jiwa nausia.
'Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini...' menunjukkan taraf kasih yang tak terkatakan. Kata 'begitu' mengimplikasikan taraf yang tertinggi atau yang terpenuh. Sedangkan batas dari kasihNya adalah seluruh dunia. Setiap orang percaya dituntut untuk jeli melihat bahwa kasih agape yang Tuhan berikan adalah kasih yang penuh pengorbanan diri, penghargaan dan ketaatan. Oleh karena itu kita harus mencontoh teladanNya.
Allah telah mendahului dengan menunjukkan kasihNya kepada manusia dengan rela datang ke dunia menjadi sama dengan manusia.
Relakah kita menjawab kasih agape Tuhan dengan berjanji dan bertekad bahwa kita bersedia melayani Tuhan dengan sepenuh hati hingga ajal menjemput kita.
 

Back to Top


Bahaya Dari Mengabaikan

"Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus."
( Ibr. 2:1 )

Tanggal :

20 Desember 1999

Bacaan :

Ibr. 2:1

Refleksi :

Jangan secara sengaja mengabaikan sesuatupun walaupun sesuatu yang kecil sekalipun.

Doakan Bersama :

• Para orang tua dari setiap orang percaya memperhatikan dengan serius perkembangan anak-anak mereka di sekolah maupun dalam pertumbuhan imannya.

    Memperhatikan dengan teliti ialah suatu pekerjaan sulit. Pekerjaan ini memfokuskan pikiran, fisik dan indra seseorang. Dalam kekristenan 'memperhatikan' lebih dari sekedar memfokuskan tapi juga mentaati dan siap melaksanakan segala sesuatu dalam kehidupan sesuai dengan apa yang telah didengar dari firman Tuhan. Tuhan sendiri berkata: "Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu" (Mrk. 3:35).
Nasihat penulis surat Ibrani supaya pemba-canya memperhatikan dengan teliti mempunyai tujuannya, yakni supaya pembaca 'jangan hanyut dibawa arus.' Dalam bahasa asli, ungkapan 'hanyut dibawa arus' adalah pararcho. Kata ini mempunyai arti: (1). menggambarkan sesuatu yang terapung, kemudian terhanyut lepas, seperti sebuah cincin yang terlepas dari jari; (2) melukiskan sesuatu yang hanyut karena ceroboh dalam penanganan. Ini seperti sebuah perahu yang hanyut dari pelabuhan karena awak kapal lupa mengikatkan tali perahu di tempat pengikat perahu. Dengan kedua arti di atas, maka nasihat penulis kepada pembacanya dalam ayat 1 dapat diterjemahkan sebagai berikut: "Karena itu, kita harus lebih teliti mengencangkan hidup kita dengan hal-hal yang telah diajarkan kepada kita, suapaya kapal kehidupan kita jangan terbawa hanyut dari pelabuhan keselamatan dan binasa selamanya."
Kepada siapakah peringatan ini ditujukan? Peringatan ini tertuju para pembaca yang secara intelek dapat diyakinkan oleh Injil, tapi mereka tidak pernah mau mengambil keputusan pribadi untuk menerima Injil Kristus. Orang-orang yang dengan demikian mudah akan binasa dibawa arus dunia ini, karena mengabaikan firman Tuhan
 

Back to Top


Yesus, Pemimpin Keselamatan

"...yang bagiNya dan olehNya segala sesuatu dijadikan - yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan."
( Ibr. 2:10 )

Tanggal :

21 Desember 1999

Bacaan :

Ibr. 2:10

Refleksi :

Satu-satunya keselamatan hanya ada dalam Dia, Juruselamat kita pribadi. Tuhan yang terlebih dahulu menyapa kita untuk kembali padaNya. Bersyukurlah!

Doakan Bersama :

• Gereja Tuhan memiliki beban untuk mendorong jemaat Tuhan memajukan diri dalam bidang sumber daya manusia sehingga jemaat lebih profesional dalam bidangnya.

    Ungkapan 'memang sesuai dengan' seba-gaimana yang tertera di ayat 10, berarti apa yang Allah lakukan melalui Yesus Kristus adalah konsis-ten dengan karakter, hikmat, kesucian, kasih dan anugerah Allah. Yesus merendahkan diri demi keselamatan manusia adalah konsisten dengan sifatNya yang Maha Kasih dan Maha Adil. Yesus sedikit lebih rendah dari pada malaikat agar Ia dapat membawa banyak orang kepada kemuliaan dan menjadi pemimpin keselamatan mereka yang sempurna melalui penderitaan. Yesus harus menjadi seorang manusia dan harus menderita dan mati menjadi penyedia keselamatan yang sempurna.
Bahasa Yunani untuk kata 'pemimpin' adalah 'archegos', yang secara hurufiah berarti seorang pioner. Dalam Kisah 3:15 dan 5:31, istilah ini dikenakan kepada Kristus sebanyak dua kali. Archegos menunjuk kepada tindakan seseorang yang membuahkan suatu hasil bagi orang lain. Misalnya, seorang laki-laki dan perempuan yang menikah dan membentuk keluarga. Dari keluarga ini, anak-anak dilahirkan dan mereka akan menikah. Kepala keluarga yang pertama ini disebut Archegos. Contoh lain, seseorang yang menemukan sebuah kota, kemudian orang lain datang dan mendiaminya. Penemu kita yang pertama ini disebut archegos. Kristus adalah pioner keselamatan bagi manusia.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang selalu di depan, memimpin dan memberikan contoh. Demikian pula dengan Kristus yang selalu ada di depan kita sebagai pemimpin dan pemberi teladan yang semurna. Allah membuat Kristus untuk sementara waktu lebih rendah dari pada malaikat supaya Ia dapat turun kepada kita, menjadi pemimpin dan pemberi teladan — yakni membawa kita kembali kepada Bapa.
 

Back to Top


Tuhan Menyertai
"Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setiaNya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu."
( Kej. 39:22 )

Tanggal :

22 Desember 1999

Bacaan :

Kej. 39:1-23

Refleksi :

Sembilan hari lagi segera berlalu tahun 1999. Sudahkah kita bersyukur atas penyertaanNya yang Dia buat selama ini?

Doakan Bersama :

• Persiapan akhir panitia natal, gladi bersih dan gladi kotor dengan baik. Menjadi berkat bagi para pelayan dan juga jemaat yang hadir.

    Tidaklah menyenangkan bila kita harus hidup dan tinggal di negeri orang lain, jauh dari orang-orang yang kita kasihi dan cintai, jauh dari orang tua dan keluarga. Kita kehilangan komunikasi dengan mereka. Suasana kehidupan yang demikian bukan saja membuat kita merasa terasing tetapi kita juga akan mengalami kesepian, terlebih bila keberadaan kita di tempat itu bukan atas keinginan kita melainkan kondisi yang memaksa. Kejadian seperti ini juga dialami oleh Yusuf.
Kehilangan cinta-kasih yang dialami oleh Yusuf dari orang tua dan keluarganya, tidaklah membuat ia kehilangan cinta-kasih yang berasal dari Allah. Sebaliknya, Yusuf justru menikmati cinta-kasih dari Allah melalui penyertaanNya yang luar biasa (ayat 2, 23). Dari dua ayat ini kita mengetahui bahwa penyertaan Allah tidaklah terkondisi hanya pada tempat-tempat tertentu saja. Allah senantiasa hadir membimbing, memimpin dan menyertai kehidupan kita. Terlebih pada saat kita hendak meninggalkan tahun 1999 ini dan memasuki tahun 2000.
Sebagai orang kristen yang sudah ditebus, kita harus senantiasa ingat akan janji Allah yang telah mengaruniakan kepada kita AnakNya yang tunggal, yang diberi nama Immanuel (Matius 1:23), yang berarti 'Allah menyertai kita', dan juga janji Kristus di dalam Matius 28:20: "Dan ketahuilah, Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Marilah dengan kesadaran dan keyakinan iman akan janji Allah, kita menyongsong tahun 2000 dengan hikmat bahwa Tuhan akan selalu menyertai kita sampai kapanpun juga. Amin!
 

Back to Top


Terang Itu Telah Datang

"Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kataNya: Akulah terang dunia, barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."
( Yoh. 8:12 )

Tanggal :

23 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 1:1-9

Refleksi :

Pikirkan kehidupan Anda sebagai orang kristen! Sudahkah Anda hidup dalam terang itu sedangkan terang yang sesungguhnya itu telah datang dan momen itu akan segera kita peringati bersama!

Doakan Bersama :

• Berdoa untuk semangat Natal yang kita miliki. Tuhan tolong kita dalam mempersiapkan hati kita untuk menyambut kedatanganNya.

    Salah satu kesan yang mendalam pada bagian ini adalah tentang 'terang', bahkan Yohanes pada ayat 5 mengkontraskan 'terang' dengan "kegelapan". Saya membayangkan suatu ruangan yang demikian gelap, sangat gelap, lalu tiba-tiba ada terang yang membuyarkan kegelapan itu. Hal yang paling unik dalam situasi seperti ini adalah suatu kenyataan bahwa gelap itu tidak pernah menelan terang. Gelap itu sebagaimanapun gelapnya, jika ada terang yang datang maka terang itu akan menembus kegelapan dan membuyarkannya.
Saya teringat satu cerita ilustrasi untuk hal ini. Suatu kali seorang ayah memberi ketiga anaknya sejumlah uang, dalam jumlah yang sama dan tidak banyak. Mereka diminta untuk membeli barang semurah mungkin tapi yang dapat memenuhi gudang keluarga yang tidak terlalu besar. Anak pertama membeli kayu sedang anak kedua membeli kapas. Tapi sebagaimanapun banyaknya kayu dan kapas yang dibeli, tetap tidak dapat membuat gudang benar-benar penuh, selalu ada celah yang tak terisi olehnya. Anak ketiga membeli sebatang lilin dan korek api, dia menyalakannya dan benar bahwa seluruh ruang gudang itu penuh dengan cahaya terang yang dipancarkan. Gudang yang gelap itu dipenuhi oleh terang, dan terang itu menelan kegelapan. Mana ada gelap yang dapat bertahan jika ada terang didekatnya.
Bagaimana keadaan lingkungan sekitar kita? Apakah memang kita telah berfungsi sebagai 'pengusir kegelapan' itu? Marilah kita jadikan momen natal sebagai momen yang mengingatkan kita lagi akan hal yang demikian. Terang yang sesungguhnya telah datang ke dalam dunia dan kita yang percaya padaNya dipanggil untuk hidup dalam terang itu. Sudahkah hidup kita demikian?
 

Back to Top


Ungkapan Syukur Yang Nyata

"Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah."
( Rm. 8:16 )

Tanggal :

24 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 1:10-13

Refleksi :

Bersyukur untuk kasih Tuhan yang telah menyelamatkan. Mengevaluasi hidup Anda apakah sudah mencerminkan rasa syukur kita tersebut?

Doakan Bersama :

• Kita mempunyai pengertian/ makna hari Natal yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, dan menjadikan kita semakin bertumbuh dan teguh di dalam Tuhan Yesus Kristus.

    Tiap kita mungkin pernah mengalami bagaimana rasanya ditolak. Ada yang pernah ditolak cintanya oleh kekasih hati, ada yang pernah ditolak dalam lamaran kerja atau tawaran bisnis. Namun bagaimanapun pedihnya penolakan itu, tak ada yang lebih mengiris hati dibandingkan dengan apa yang kita baca ini. "Dia datang kepada milik kepunyaanNya, tapi milik kepunyaanNya itu menolakNya."
Mungkin seorang ibu miskin yang didurhakai anaknya yang sudah besar dapat sedikit mengerti perasaan Tuhan. Tapi itupun baru sedikit. Bukan saja mau datang walau ditolak, tapi Dia datang untuk mati menebus orang-orang yang berdosa. Dan dengan kasih yang demikian luar biasa itulah Dia menyelamatkan kita yang kemudian disebut 'anak-anak Allah.'
Satu hal yang senantiasa menjadi pertanyaan bagi saya setiap kali saya mencoba merefleksikan dalam segala keberadaan saya adalah: "Mengapa saya Tuhan? Mengapa saya yang Tuhan pilih untuk diselamatkan?" Apa hak saya sehingga sayalah yang dipilih?" Tidak ada satu jawabanpun yang dapat memuaskan pertanyaan ini selain statement dalam Yohanes 3:16 yang terkenal itu. 'Kasih Allah' yang begitu besar merupakan satu-satunya jawaban bagi pertanyaan tersebut.
Dengan gampang kita langsung dapat bersyukur membaca pernyataan-pernyataan di atas: Tuhan telah datang walau ditolak bahkan Dia mengangkat kita menjadi anakNya. Tetapi bagaimana sikap hidup kita selama ini, apa sudah sesuai dengan ungkapan rasa syukur kita itu? Ucapan syukur di mulut kita apakah telah sungguh terpancar melalui perkataan dan perilaku kita? Natal sekali lagi boleh menjadi momen yang mengingatkan kita akan kasih Tuhan yang dahsyat, dan ketika kita bersyukur, mari kita periksa hidup kita selama ini! Selamat Natal bagi kita sekalian!!
 

Back to Top


Kebenaran Yang Hidup

"Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada bapa, kalau tidak melalui Aku."
( Yoh. 14:6 )

Tanggal :

25 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 1:14-18

Refleksi :

Kebenaran yang hidup merupakan dasar hidup kristen yang sejati! Sudahkah hal demikian nyata dalam hidup Anda!

Doakan Bersama :

• Daerah-daerah dan suku-suku terasing yang belum terjangkau oleh peradaban, mohon Tuhan mengirim pekerjaNya agar mereka boleh mendengar Injil.

    Kedatangan Kristus ke dalam dunia dikatakan membawa kemuliaan dan kebenaran. Hal ini menunjukkan hal yang demikian kontras dengan yang terjadi di sekeliling kita.
Saya teringat akan seorang yang pernah menanyakan tentang beda antara kata 'benar' dan 'betul' kepada saya, apa bedanya? Kemudian dia meminta saya untuk menambahkan awalan 'ke-' dan akhiran '-an' pada dua kata tersebut, dengan demikian terlihatlah perbedaan yang demikian mencolok dari kedua kata tersebut.
'Kebenaran' vs 'kebetulan'. Apakah kita masih bingung dengan perbedaan kedua kata ini?
Sebagai anak Tuhan yang menerima anugerah dan kebenaran, apa yang telah kita kerjakan dalam hidup kita? Setelah bertobat kita menjalani hidup sebagai orang krsiten dan hidup dalam kebenaran. Pertanyaannya, apakah kita sungguh-sungguh telah hidup dalam kebenaran itu?
Banyak orang yang menyebut diri kristen pada zaman ini; yang hidup dalam 'kebetulan' dan bukan 'kebenaran.' Kebetulan saja jadi kristen karena keluarganya kristen, karena ajakan relasi, karena tradisi atau yang lainnya. Kemudian pilihan-pilihan dalam hidupnya yang seharusnya diwarnai dengan kebenaran malah banyak dipenuhi oleh kebetulan-kebetulan; menikah secara kebetulan, memilih pekerjaan dengan kebetulan, menjalani hidup sehari-hari dengan kebetulan. Hidup kristennyapun kebetulan; kebetulan berdoa, kebetulan puasa, kebetulan beribadah dan kebetulan-kebetulan lainnya.
Dalam momen Natal ini mari kita mengevaluasi diri sekali lagi, apakah kebenaran itu telah dinyatakan dalam hati kita? Apakah dampaknya nyata dalam hidup kita? Sudahkah kebenaran itu hidup dalam hidup kita?
 

Back to Top


Konsistensi Pelayan Tuhan
"Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku."
( Yoh. 1:30 )

Tanggal :

26 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 1:19-34

Refleksi :

Untuk kesekian kalinya Natal diperingati, adakah Tuhan Yesus tetap konsisten diberitakan, bagaimana dengan diri Anda?

Doakan Bersama :

• Tuhan tolong Hamba Tuhan Anda supaya terus bertumbuh dalam kehidupan berjemaat. Hamba Tuhan peka terhadap perkembangan jemaatnya.

    Pelajaran yang demikian berharga dapat kita pelajari dari perikop tentang Yohanes Pembaptis ini. Salah satu hal yang menonjol adalah tentang 'konsistensi.'
Bukankah merupakan suatu hal yang mudah bagi kita untuk memuji orang lain dengan tulus hati, segala keegoisan diri kita begitu telah menghalangi minat kita untuk memuji orang lain. Kalau posisi kita sudah cukup 'tinggi', lebih sulit untuk memuji orang lain dan mengatakannya lebih 'tinggi' dari kita dengan resiko kita akan kehilangan perhatian yang selama ini dicurahkan pada kita.
Tetapi Yohanes Pembaptis tidak demikian, dia tahu persis apa yang menjadi tugasnya dan dia sangat konsisten dalam menjalaninya. Ketika orang banyak telah mengikuti dia dan mendengarkannya, bahkan para Imam dan orang-orang Lewipun diutus untuk menemuinya, dia tetap konsisten menyatakan siapa dirinya sebenarnya, dan siapa itu Mesias.
Yohanes Pembaptis yang sederhana itu telah mendobrak zaman dengan seruan-seruannya yang menakjubkan. Tapi Yohanes Pembaptis bukan orang yang gila hormat, ketika melihat Yesus dia langsung memperkenankanNya, bahkan dengan sangat rendah hati dia menyatakan bahwa untuk membuka tali kasutNyapun dia tak layak.
Bagaimana dengan Natal yang sudah kita rayakan? Adakah acara-acara Natal kita yang begitu kita banggakan sebagai karya kita, sehingga kita meninggalkan Tuhan? Adakah aksi sosial yang kita lakukan justru hanya untuk membanggakan diri walaupun hanya dalam hati saja? Adakah pada peringatan Natal kali ini kita tetap konsisten menyatakan Tuhan Yesus sebagai Tuhan kita melalui perkataan, sikap dan pikiran kita?
 

Back to Top


Pengikut Atau Mengikut
"Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya."
( Mat. 8:30 )

Tanggal :

27 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 1:35-42

Refleksi :

Apakah dalam mengikut Yesus kita sudah menyerahkan segenap diri Anda padaNya? atau Anda masih khawatir akan banyak hal?

Doakan Bersama :

• Anak-anak orang kristen tidak terpengaruh untuk membuat ulah, apalagi terlibat dalam narkoba dan gerakan semacamnya.

    Pertanyaan yang mendasar pada waktu kita berniat mengikut seseorang adalah 'Dia akan membawa aku ke mana?', 'Dimana kita tinggal?' Inilah pertanyaan yang ditanyakan oleh murid-murid Yesus yang pertama, ketika mereka tergerak untuk mengikut Yesus: "Rabi, dimanakah Engkau tinggal?"
Saya memikirkan ketika Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus, murid-muridNya mulai berpikir bagaimana untuk mengikut Yesus. Tetapi dalam benak mereka saat itu mulai bertanya: apa yang menjadi jaminan kalau mereka mengikut Yesus. Pada waktu belajar dari Yohanes Pembaptis, mereka masih melakukan profesinya masing-masing karena Yohanes Pembaptis itu hidup menyendiri. Mereka berharap kali ini berbeda, kali ini adalah yang lebih besar dari pada Yohanes pembaptis, bahkan Yohanes Pembaptispun mengatakannya demikian. Tetapi, ikut ya... ikut, jaminannya apa? Dimanakah mereka akan tinggal?
Perikop ini menggambarkan bagaimana antusiasnya mereka mengikut Yesus, tetapi kekhawatiran mereka sebenarnya masih terlihat melalui pertanyaan mereka. Tidak heran kalau dalam Matius 4:18-22 dan Markus 1:16-20 kita mendapati bagaimana mereka kembali pada pekerjaan mereka sebagai penangkap ikan. Kemudian dalam Lukas 5:1-11, kita tahu mereka sekali lagi kembali menjadi nelayan. Saat Yesus disalibkan, kita ingat bagaimana kecewanya hati para murid, lalu mereka kembali mencoba ingin menangkap ikan sebagai pekerjaannya (Yoh. 21:1-14).
Dalam mengikut Yesus, adakah kekuatiran demikian menjadi pergumulan kita. Perikop ini mari kita jadikan ujian bagi diri kita. Supaya kita bukan hanya 'mengikut' tetapi kita benar-benar menjadi Pengikut Kristus yang sejati dan setia.
 

Back to Top


Kaum Tegar Tengkuk

"Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang."
( Kej. 32:28 )

Tanggal :

28 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 1:43-51

Refleksi :

Mengikut Tuhan membutuhkan ketaatan dan penyerahan total, apakah tahun ini sudah demikian yang menjadi sikap hidup kita?

Doakan Bersama :

• Tuhan menyatakan kuasa terhadap berita fitnahan yang memperalat agama untuk menarik masa melakukan tindakan kriminal.

    Pertemuan antara Tuhan Yesus dengan Filipus dan Nathanael menjadi bagian yang menarik sekali untuk perenungan akhir tahun. Nathanael disebut Tuhan sebagai Israel sejati, mengapa? Pada waktu Filipus datang kepada Nathanael dan menceritakan tentang Kristus, Nathanael sudah mempunyai pertanyaan yang demikian menyangsikan Yesus, bahkan sebelum itupun dia sebenarnya sudah mendengar tentang Yesus, sudah begitu tertarik untuk mengetahui tentang Dia, tapi kekerasan hatinya juga masih terus bergulat di dalam hatinya.
Bukankah ini juga yang dialami oleh Yakub, Bapa orang Israel. Begitu keras kepalanya dia sehingga dia bergumul melawan Tuhan, bahkan dalam pergulatannya malam itu pangkal pahanya perlu diplecokkan (Kej. 32:24-29). Waktu itu dia bukan belum kenal Tuhan, bahkan peristiwa di Betel menunjukkan bagaimana Yakub telah membuat janji dengan Tuhan (Kej. 28:10-22). Bangsa Israel terkenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk, sudah begitu banyak mereka melihat mujizat Allah, tapi mereka tetap bergumul melawan Tuhan.
Sebagai orang kristen, bagaimanakah kehidupan pergumulan yang kita hadapi? Sudah berapa lama kita menjadi orang kristen? Apakah kita masih menjadi seorang yang tegar tengkuk? Sudah melihat Tuhan melakukan banyak hal dalam hidup kita tapi kita masih saja melawan Dia! Tahun ini berapa banyak kita telah melawan Tuhan. Tahun ini segera berakhir, apakah kita masih menunggu Tuhan 'memplecokkan' pangkal paha kita? Apakah memang demikian sulit bagi kita untuk berserah secara total kepada Tuhan dan berhenti untuk melawan Dia? (baca juga ayat 50, 51).
 

Back to Top


Warisan Iman

"Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi himat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus."
( 2 Tim. 3:15 )

Tanggal :

29 Desember 1999

Bacaan :

2 Tim. 1:5;
3:14-17

Refleksi :

Setiap dididikan yang benar menghasilkan manusia yang berhikmat. Apakah kita sudah mewariskan sesuatu yang baik pada anak-anakmu?

Doakan Bersama :

• Sumber daya alam Indonesia dipakai untuk kesejahteraan masyarakat bukan untuk kepentingan satu pihak saja. Aparat bijaksana dalam mengatur sumber alam ini.

    Lingkungan kehidupan yang pertama ternyata sangat dominan; seperti yang dialami oleh Timotius; semua yang ada pada dirinya adalah pengaruh asuhan dari orang tuanya, terutama ibu dan neneknya, yang mengajarkan kepadanya Alkitab; dari Timotius lahir sampai ia besar. John Calvin mengatakan: "Waktu kecil Timotius dididik sedemikian rupa, sehingga kesalehan itu seakan-akan diteguknya bersama-sama dengan air susu ibunya."
Dari sinilah kita dapat menyadari bahwa setiap orang; sebagian besar adalah produk dari apa yang diwarisinya dari nenek moyangnya. Pengaruh yang paling membentuk kita datangnya dari keturunan mana kita berasal dan dari keluarga kita berasal. Karena itu suatu biografi sejati yang bagus, tidak akan dimulai dengan tokoh yang bersangkutan, melainkan dimulai dengan orang tuanya, malahan mungkin dengan nenek moyangnya terlebih dahulu. Ini lebih banyak membuktikan bahwa orang tua kita berpengaruh besar terhadap perkembangan jasmani; terutama pertumbuhan rohani anak-anaknya.
Memang harus kita akui bahwa iman bukanlah sesuatu yang diwarisi seseorang dari orang tuanya, sebagaimana ia mewarisi segi-segi kepribadian mereka. Namun seorang anak dapat dibimbing kepada iman melalui asuhan, teladan dan doa-doa orang tuanya.
Semoga para orang tua kristen menyadari hal ini, dan dengan sungguh-sungguh mengasuh anak-anak yang telah Allah karuniakan sehingga mereka juga mengasihi Kristus.
 

Back to Top


Menunggu Waktu Tuhan
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan m\bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."
( Rm. 8:28 )

Tanggal :

30 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 2:1-12

Refleksi :

Apa yang menjadi pergumulan Anda selama ini? Sudahkah kita sabar menunggu dan tetap taat pada perintahNya?

Doakan Bersama :

• Ibadah penutupan tahun besok menjadi kebaktian penutup tahun yang menjadi berkat bagi setiap jemaat. Jemaat juga siap menghadapi tahun 2000 dengan hikmat Tuhan.

    Satu tahun kembali akan segera berlalu. Mungkin ada hal yang sudah lama kita doakan, tapi ada kesan bahwa Tuhan belum melakukan apapun untuk menjawabnya. Bahkan mungkin masalahnya bertambah rumit dan mencemaskan.
Saya kira pernikahan di Kana itupun telah dipersiapkan cukup lama, tetapi yang namanya masalah bukan tidak bisa timbul pada sesuatu yang telah dipersiapkan. Kepanikan mulai muncul, perhitungan manusia rupanya meleset. Di saat itulah Maria, ibu Yesus datang kepada Tuhan Yesus memohon bantuan. Jawaban Tuhan Yesus (yang dalam bahasa Yunaninya tidak terkesan kurang sopan seperti terjemahannya) menunjukkan bagaimana Tuhan Yesus tidak bergantung pada manusia manapun. Dia menunggu petunjuk Allah, waktuNya belum tiba.
Menunggu memang bukan merupakan kegiatan yang menyenangkan tetapi menunggu dengan keyakinan yang melegakan tentu berbeda. Itulah yang dialami Maria. Setelah mendengar jawaban Anaknya, Maria langsung memerintahkan semua pelayan untuk menurut apapun yang diperintahkan Tuhan. Maria bukannya kecewa dan putus asa, tapi dia yakin dan pasti akan jawaban Tuhan, dia bersedia menunggu, waktuNya belum tiba.
Tetapi jangan lupa satu hal penting dalam bagian ini, Maria mengatakan apapun yang diperintahkan Tuhan harus dilakukan. Jadi menunggu tidak sama dengan terus memaksakan kehendak kita dan menantikan Tuhan menjadi luluh hatinya. TIDAK! Menunggu waktu Tuhan berhubungan dengan ketaatan akan perintahNya, dan inilah hal yang sering salah dimengerti oleh orang kristen.
Mari kita tunggu waktuNya, terus berdoa dan tetap taat pada perintahNya!
 

Back to Top


Memancarkan Keindahan Tuhan

"Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus."
( 2 Kor. 10:5 )

Tanggal :

31 Desember 1999

Bacaan :

Yoh. 2:13-25

Refleksi :

Sudahkah emosi, pilihan dan fokus hidup Anda dikendalikan oleh Tuhan? Buatlah janji dengan sungguh untuk hidup lebih memuliakan Dia pada tahun yang baru.

Doakan Bersama :

• Bersyukur atas kasih karunia Tuhan. Tuhan tolong setiap komitmen baru kita. Setiap pembaharuan harus dilakukan di tahun yang akan datang.

    Sadar atau tidak egoisme kita sudah mempengaruhi banyak aspek hidup kita. Contohnya, emosi kita, seringkali kita marah, menangis atau ekspresi emosi lain ialah untuk diri kita sendiri. Kita hampir tak pernah melakukannya untuk pekerjaan Tuhan. Air mata dan amarah kita hanya untuk alasan yang semata-mata mengusik kepentingan kita secara pribadi. Kita belajar firman Tuhanpun sulit untuk lebih memikirkan bagaimana pikiran dan jalan Allah dibandingkan mengutamakan pilihan sendiri. Konsep pilihan kita belum tunduk dibawah kontrol kebenaran Allah.
Dampak karakter yang demikian tentu untuk kepuasan diri untuk hal yang 'fana'. Kita senang kalau banyak orang menyanjung kita; kita bahagia sekali kalau tidak ada orang yang berani mengusik kita, kita luar biasa gembira kalau pilihan kita ternyata benar dan diterima. Inilah kesenangan-kesenangan semu yang mewarnai hidup elite.
Sungguh kontras sekali bila hal ini dibandingkan dengan sikap dan karakter Tuhan. Perikop ini paling tidak sudah memberikan gambaran yang demikian. Tuhan marah karena hal yang berhubungan dengan murka Allah, sementara kita marah untuk hal yang mengusik diri kita. Tuhan Yesus menyampaikan hal yang menjadi konsep kebenaran Allah, sementara pemuka Yahudi seperti halnya kita hanya memikirkan yang fisik kelihatan. Tuhan Yesus tidak terpengaruh dengan fenomena manusia, sementara kebanyakan kita bahkan mencarinya mati-matian. Mari kita membuka lembaran baru di tahun yang baru dengan semangat: Hidup lebih memenacarkan Tuhan. Hari ini kita boleh digerakkan oleh hal yang menggetarkan hati Tuhan. Pilihan kita boleh dipenuhi oleh kebenaran Allah. Dan fokus hidup kita hanyalah hal yang menyenangkan hati Tuhan bukan hati manusia. AMIN! Selamat tinggal tahun 1999.
 


 

Back to Top

husen@hotmail.com