Januari 1998

Bonus

 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
1 2 3 4
5 6

7

8

9

10
11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31

husen@hotmail.com


Bonus

Spiritualitas Tanpa Kebenaran
(Spirituality without Truth)

oleh: Gene Edward Veith, Jr.
disadur oleh: Ev. Gunung Maston S.Th.


*) Gene Edward Veith adalah Dekan sekolah School of Arts and Science dan seorang profesor Inggris di Concordia University - Wisconsin.


Kalau dalam beberapa edisi yang lalu artikel bonus kita banyak menampilkan masalah keluarga, pernikahan dan pacaran, maka artikel bonus edisi ini menampilkan kebudayaan dan spiritualitas dalam era yang baru kita masuki, yaitu postmodernisme.
Artikel ini adalah terjemahan bebas bab sebelas dari buku POSTMODERN TIMES: A Christian Guide to Contemporary Thought and Culture, karya Gene edward Veith, Jr. Buku ini diterbitkan oleh Crossway Books, Wheaton, Illinois, 1994 sebagai salah satu seri Turning Point Christian Worldview Series. Sekilas mengenai buku ini. Bab 1, berbicara tentang bentuk bentuk pemikiran postmodern. Bab 2, berbicara tentang seni di dalam konsep atau bentuk postmodern. Bab 3, berbicara tentang keadaan masyarakat postmodern, dan terakhir Bab 4, berbicara tentang religi dalam konsep postmodern. Artikel yang disajikan pada edisi ini berada dalam dalam bab 4, bagian pertama. Kiranya melalui artikel, yang memang tidak bisa dibaca seperti membaca komik ini, boleh menjadi berkat dan membuka wawasan kita sebagai orang percaya, sehingga kita dapat memilah-milah mana yang baik dan yang jahat; yang berkenan dan yang tidak berkenan kepada Tuhan, di tengah-tengah zaman yang memang tidak bisa lagi membedakan semua itu.

Sejak Masa Pencerahan sampai abad modern, para pakar sudah mengharapkan bahwa suatu saat agama pasti akan mati. Hal ini tidak terjadi. "Manusia modern" yang sering disebut demikian (sebelum munculnya gerakan feminisme—gerakan yang mempertentangkan kaum pria dengan wanita), ternyata telah gagal percaya kepada hal-hal yang supernatural.
Abad keduapuluh dibuka dengan debat teologis antara kelompok "Modernis" dengan kelompok "Fundamentalis". Dengan Scopes Trial tahun 1925, media membuat karikatur yang menggambarkan kaum Fundamentalis sedang diejek dan ditertawakan oleh kaum Intelektual. Waktu itu kaum modernis menguasai mayoritas gereja dan juga seminari-seminari. Sejak itu, teolog-teolog modernis telah "mendemitologisasikan"—membuang semua isi yang berbau supernatural dari—Alkitab, agar isi Alkitab dapat disesuaikan dengan pemikiran zaman modern. Mereka berasumsi bahwa manusia modern sudah begitu berorientasi dengan metode sains, juga dominasi "secular city" (dunia sekuler) sudah mengakibatkan manusia modern tidak lagi dapat percaya kepada mujizat, wahyu ilahi, dan Allah yang tidak kelihatan.
Banyak seminari mulai mempelajari Alkitab, bukan sebagai Firman Allah yang berotoritas, tetapi hanya sama dengan dokumen-dokumen kuno, sehingga dalam mempelajarinya harus memakai metodologi "historis-kritis", yaitu metode yang dipakai oleh para pakar ilmuwan modern (yang biasanya diterapkan kepada ilmu alam dan sosial). Pendekatan dengan metode ini mengasumsikan bahwa mujizat di dalam Alkitab tidak pernah terjadi dan harus dipahami sebagai sesuatu yang nonsupernatural.
Sebagai pengganti istilah "otoritas" yang dikenakan saat kita membaca Alkitab, diganti dengan istilah "secara kritis". Istilah itu dipakai untuk mengevaluasi kebudayaan dan keadaan orang-orang kuno di dalam Alkitab. menurut pendekatan kaum modernis, apa yang dikatakan di dalam Alkitab janganlah semuanya dianggap benar (is not necessarily true). Maka, para teolog liberal meletakkan keyakinan mereka pada kebenaran yang tanpa bukti—sekadar dugaan (alleged truth)—terhadap Alkitab sebagaimana yang telah ditemukan oleh para kritikus Alkitab. Mereka menyelimuti diri mereka dengan jubah-jubah yang tidak pernah salah daripada saintis-rasionalis modern.
Para kaum liberal menciptakan teologi mereka untuk menyesuaikan pemikiran dan kebudayaan modern. Mereka memalingkan gereja dari ketekunan iman mereka agar gereja memiliki perhatian terhadap masalah-masalah sosial. Perhatian-perhatian tradisional dari gereja terhadap pekerjaan-pekerjaan baik berubah menjadi kegiatan politik, yang merupakan utopia (pengharapan-khayalan) para kaum modernis. Perhatian gereja terhadap hal-hal yang rohani berubah menjadi hal-hal psikologis, hal yang sama dengan cita-cita para "ahli ilmu sosial" sekuler. Gereja-gereja menjadi sponsor pada kelompok-kelompok tertentu, dan hamba Tuhan menjadi konselor domba-dombanya untuk menemukan diri mereka (self realization) yang sebenarnya.
Saat ini kerinduan para politikus utopis dan para psikolog yang naif dari kelompok teologi liberal—yang masih mendominasi banyak seminari—nampaknya tidak menjadi realita. Jauh dari harapan manusia modern, gereja-gereja liberal dalam soal keanggotaan sudah rontok. Jika kaum leberal benar, tentunya mereka tidak membutuhkan gereja. Jika Alkitab hanya mitos, maka kita sesungguhnya tidak perlu diselamatkan, sebagaimana yang seringkali dikhotbahkan kaum liberal. Mengapa tidak tidur saja pada Minggu pagi? Ironisnya gereja-gereja konservatif dan fundamentalis semakin bertumbuh dengan iman yang murni yang ditolak oleh gereja-gereja modernis.
Sudah tentu, orang modern—kaum liberal—mencoba untuk tidak terlalu kentara. Ini adalah bentuk kemanusiaan (humanity) yang baru, yang sangat ilmiah, sangat rasional, sebagai proyeksi dari filsafat modern, satu mitos yang diciptakan oleh segelintir kaum intelektualis yang ingin memaksakan filsafat ilmu dan filsafat rasio kepada seluruh umat manusia. Manusia biasa menghadapi keterbatasannya dan sadar akan dosa-dosanya, dan banyak dari mereka yang menemukan iman di dalam Firman Allah.
Teologi liberal menyia-nyiakan warisan Kristiani dengan usaha yang sia-sia agar memperoleh penghargaan dari kaum intelektualis modernis.
Setelah beberapa waktu, kaum modernis dengan keyakinan yang berlebihan dan kegagalan-kegagalan manifesto mereka, akhirnya menjadi bahan cemoohan. Kejatuhan modernisme juga menyeret kejatuhan teologi liberal. Untuk hal itu, kita dapat bersyukur selamanya.
Era postmodern juga memegang janji-janji bagi orang-orang yang percaya kepada Alkitab. Hal itu mendatangkan resiko-resiko yang baru dan berbahaya. Kaum modernis yang menyesatkan sudah menggelepar-gelepar, tetapi sekarang, kaum postmodernis sudah menggantikan tempat mereka. Rasionalisme sudah gagal, tetapi sekarang terbuka jalan kepada irrasionalisme— keduanya merupakan musuh dari penyataan Allah, walaupun dengan metode yang berbeda. Kaum modernis tidak percaya bahwa Alkitab adalah kebenaran. Kaum postmodernis bahkan sudah membuang semua kategori-kategori kebenaran. Dengan berbuat demikian, mereka membuka peluang kepada agama-agama New Age, sinkristisme, dan kekacauan moral.
Gereja-gereja fundamentalis akan dengan gampang menyebut diri mereka sebagai musuh kaum modernis—garis perang sudah diukir. Pada masa ini permasalahan sudah lebih kompleks dan membahayakan. Tragisnya, kerangka pikir (mind-set) mereka memperoleh tempat berpijak di dalam gereja-gereja Injili.

Kebenaran atau Keinginan
Untuk mengulang, postmodernisme memiliki asumsi bahwa tidak ada kebenaran objektif, bahwa nilai-nilai moral adalah relatif, dan realita secara sosial dibentuk oleh kumpulan komunita yang berbeda-beda. Keyakinan ini secara sadar membuang agama, sebagaimana yang dikehendaki oleh kaum modernis. Perlu disadari bahwa agama-agama dan teologi-teologi yang dikumandangkan kaum postmodernis sangat berbeda dari yang dikumandangkan oleh keKristenan ortodoks dan kelompok modernisme.
Sebelum era modern dan pra-modern, ruang lingkup agama termasuk percaya tentang apa yang nyata (real). Misalnya, ada Allah atau tidak ada Allah. Atau, Yesus adalah inkarnasi Putra Allah, atau hanya manusia semata. Mujizat terjadi atau tidak sama sekali. Beberapa orang Kristen dengan bersemangat di dalam ketidaksepakatan berdebat: Adakah tempat seperti purgatori? Adakah Maria berdoa syafaat bagi kita di sorga? Adakah sebagian orang sudah ditetapkan untuk dibinasakan? Tetapi semua ketidaksepakatan ini melampaui fakta-fakta. Agama pada saat ini tidak dilihat sebagai satu paket keyakinan tentang apa yang nyata dan apa yang tidak nyata. Melainkan agama hanya dilihat sebagai sebuah preferensi, sebuah pilihan semata (lihat Walter Truett Anderson, Reality Isn't What is Used to Be: Theatrical Politics, ready-to-Wear Religion, Global Myths, Primitive Chic, and Other Wonders of the Postmodern World. San Francisco: Harper & Row, 1990. Hal.7-9). Kita percaya akan apa yang kita sukai. Kita percaya kepada apa yang ingin kita percayai.
Dimana tidak ada kebenaran absolut, maka intelek mengorbankan atau membuang kehendak. Kriteria estetika akan menggantikan kriteria rasio. Dengarkanlah kepada cara-cara orang berdiskusi tentang agama pada masa kini. "Saya sungguh menyukai gereja itu," mereka katakan. Setuju dengan gereja itu atau percaya dengan apa yang diajarkan dalam gereja itu jarang sekali menjadi bagian dari diskusi itu. Orang-orang mendiskusikan ajaran-ajaran iman di dalam istilah-istilah yang sama juga. "Saya sungguh-sungguh suka dengan ayat Alkitab yang mengatakan, 'Allah adalah kasih.' " Banyak hal-hal yang mirip dengan Kekristenan —Kasih Allah kepada kita, Kristus memikul dosa kita, kemurahan dan pertolonganNya.
Tetapi, segera kita akan mulai mendengar tentang hal-hal
apa yang tidak mereka sukai. "Saya tidak suka ide tentang neraka." Hal ini sesungguhnya respon yang wajar karena tidak ada ada seorangpun yang menyukai neraka. Tetapi rasa benci kita kepada doktrin ini sesungguhnya menyingkirkan poin utamanya. Masalahnya, bukanlah kita suka atau tidak suka, tetapi apakah tempat itu memang benar-benar ada.
Untuk menetapkan ada atau tidak tempat yang mengerikan itu, maka hal itu melampaui maut—kuburan. Dan untuk tahu bagaimana kita dapat dilepaskan dari tempat itu, seorang Kristen harus kembali kepada sumber segala sesuatu, yang melaluinya kita tahu hal-hal rohani, yaitu dari Alkitab yang adalah Firman Allah. Orang Kristen seharusnya curiga kepada pengajaran teologi yang menghindarkan diri dari doktrin ini. Iman seperti itu tidak lebih dari sekedar fantasi-fantasi yang menyesatkan.
Pada masa kini, bahkan pelayanan kaum konservatif dan Injilipun jarang menyinggung tentang neraka. Yang pasti, "Orang-orang tidak akan suka mendengar tentang itu, dan kami tidak mau menakut-nakuti mereka," kata mereka. Orang tidak pernah suka mendengar tentang neraka. Perbedaan masa kini dengan masa lampau adalah, bahwa banyak orang masa kini tidak mau percaya (jika percaya adalah satu fungsi dari kehendak) apa yang tidak ingin mereka nikmati (jika pertimbangan-pertimbangan keindahan menentukan fakta-fakta).
Perbedaan yang menyeluruh tentang cara berpikir tentang agama—yaitu yang tidak bicara masalah apakah kebenaran, tetapi apa yang diinginkan atau dikehendaki seseorang—menjelaskan mengapa bidat-bidat seperti ini lebih banyak mendominasi kaum intelektual dan berpendidikan. Contohnya, Gereja Scientology, yang mengajarkan bahwa mahluk asing datang dari luar angkasa jutaan tahun yang lalu dan mengakibatkan perang angkasa. Mahluk-mahluk asing ini mempengaruhi kita, dalam kehidupan kita masa lampau. Kita akan dapat memecahkan masalah kita dengan menghubungkannya ke satu kotak elektronik. Sementara itu, melalui konseling oleh seorang scientolog, ia dapat mengangkat "engrams" negatif yang terakumulasi dalam hidup kita di masa lampau. Setelah itu kita akan menjadi mahluk-mahluk rohani yang bersih.
Manusia yang menganggap diri mereka sebagai orang yang begitu canggih sehingga tidak percaya kepada Injil Yohanes, dapat percaya kepada hal-hal yang seperti ini? Scientology, terdiri dari orang-orang yang berjaya dalam bisnis, para bintang film yang sukses, dan kaum profesional-intelektual muda. Dalam semua kotbah-kotbah mereka, mereka tidak memberikan bukti-bukti yang real tentang keberadaan makhluk-makhluk asing itu dan apa yang dimaksud dengan kehidupan masa lampau. Scientolog mungkin menolak kemungkinan penyataan dari Allah, tetapi mereka sungguh-sungguh menerima apa yang disebut sebagai penyataan dari pendiri mereka L. Ron Hubbart. Ironis bukan?
Tetapi agama-agama postmodern tidak membutuhkan bukti-bukti atau hal-hal yang masuk akal. Hubbart sebelumnya adalah seorang novelis sains fiktif yang berhasil. Banyak orang yang menikmati apa yang digambarkannya dalam novelnya tentang makhluk-makhluk asing dan peperangan-peperangan luar angkasa. Bukankah hal ini akan menjadi lebih baik bila hal ini adalah sungguhan? Doktrin-doktrin scientology sangat menarik, merangsang imajinasi, bahkan menyenangkan. Mengapa kita tidak memilih mereka?
Katakanlah kepada seorang penganut bidat apa saja, dan perhatikan bagaimana ia akan menggambarkan dan menilai ajaran mereka itu dengan begitu subjektif dan dengan istilah-istilah yang menyenangkan (pleasured - oriented terms): Maharishi sungguh-sungguh sejuk ." "Meditasi transendental memberikan saya satu puncak alamiah (a natural high)." "Pendeta Moon membuat saya lebih baik tentang diri saya." Menyukai sesuatu dan menginginkan sesuatu untuk menjadi benar adalah satu-satunya kriteria kepercayaan mereka.
Orang-orang kristen harus menjelaskan popularitas bidat-bidat ini dengan lebih tegas, bahwa sesungguhnya pengikut-pengikut mereka telah dipikat oleh setan. Kita harus sadar bahwa setan akan menggoda kita dengan cara mengorek keinginan hati kita. Setan menipu kita dengan menjanjikan tepat seperti apa yang kita inginkan dan dambakan. (Sudah tentu, dengan ironi-setan, yaitu apa yang ia berikan adalah sesungguhnya apa yang tidak kita sukai dan apa yang tidak kita sukai, adalah neraka itu sendiri.) Di dalam terang "keinginan tubuh yang berdosa" (Rom. 13:14), maka kita tidak berani meletakkan keinginan-keinginan kita sebagai otoritas rohani kita.

Moralitas atau Keinginan
Bagi kaum postmodernis, moralitas, seperti agama, adalah suatu masalah keinginan (desire). Apa yang saya inginkan dan apa yang saya pilih tidak hanya benar—true (bagi saya) tetapi juga tepat—right (bagi saya). Menurut mereka orang yang berbeda akan memilih hal-hal yang berbeda pula, maksudnya adalah bahwa kebenaran dan moralitas adalah relatif, tetapi "saya punya hak akan apa yang saya inginkan." Sebaliknya, "tidak seorang pun yang punya hak" untuk mengkritik apa yang saya inginkan dan saya pilih.
Walaupun kaum postmodernis cenderung untuk menolak nilai-nilai moralitas tradisional, mereka dapat menjadi orang yang sangat moralistik. Mereka akan memperta hankan hak mereka untuk melakukan apa yang mereka inginkan dengan semangat puritan (kelompok saleh abad pertengahan). Selanjutnya mereka akan mengang gap bahwa mereka punya hak untuk tidak dikritik oleh siapapun atas apa yang mereka lakukan. Yang mereka inginkan atas pilihan mereka tidak hanya lisensi (surat ijin) tetapi juga persetujuan.
Oleh sebab itu toleransi menjadi satu kebaikan yang terpuji dan tertinggi. Di bawah filsafat postmodernisme, prinsip kepelbagian kebudayaan artinya adalah bahwa setiap cara berpikir satu kelompok tertentu adalah menyatakan satu kebudayaan tertentu yang harus dipertimbangkan sebagai yang hal yang baik sebagaimana dengan kebudayaan lainnya. Dosa kaum postmodernis adalah "menghakimi" (being judgmental), "pemikiran yang sempit, picik" (being narrow-minded), "mengganggap bahwa hanya ia yang memiliki kebenaran," dan "berusaha untuk memaksakan nilai-nilainya kepada orang lain." Mereka yang meragukan dogma postmodernis yaitu "tidak ada yang mutlak" akan dikeluarkan dari semangat toleransi mereka. Satu-satunya ide yang salah adalah percaya kepada kebenaran; satu-satunya dosa adalah percaya adanya dosa. Filsafat "moralitas keinginan" (the morality of desire) telah menghancurkan makna seksualitas. Pil Keluarga Berencana telah memisahkan seks dengan reproduksi. Segera, seks akan terpisah dari pernikahan. Pria dan wanita sekarang sudah terbiasa hidup bersama di luar nikah. Wanita yang ingin memiliki seorang anak tidak perlu memiliki suami. Revolusi seksual menghancurkan ikatan keluarga. Masyarakat saat ini memandang pemenuhan keinginan seksual sebagai hak setiap individu dimana orang lain tidak berhak untuk melarangnya.
Sekarang, wabah AIDS, yang menhancurkan fungsi kekebalan tubuh, menentang kebebasan seksual itu sendiri. AIDS segera menjadi penyakit era postmodern, tidak hanya karena merupakan penyakit sadis yang menghancurkan diri sendiri, tetapi juga karena hak itu disahkan pada era '60-an (revolusi seksual, hak-hak kaum homo, dan penyalahgunaan obat bius). Sementara orang berbalik kepada moralitas seksual, yang lain melarikan diri dari AIDS masuk kepada kegiatan seksual yang lain, yang tidak hanya merusakkan hubungan keluarga tetapi juga harkat manusia itu sendiri. Pornographi, telepon seks, dan tehnologi yang menjanjikan 'kebaikan-kebaikan seks'— yang mana orang-orang akan sanggup mengikatkan diri mereka ke dalam harkat manusia itu sendiri. Pornographi, telepon seks, dan tehnologi yang menjanjikan "kebaikan-kebaikan seks"—yang mana orang-orang akan sanggup mengikatkan diri mereka ke dalam ikatan 3-D fantasi seksual (lihat Philip Elmer-Dewit, "Cyberpunk!" Time, 8 Februari 1993, hal 59-65)—sangat mengancam nilai seksual menjadi tidak manusiawi (dehumanization of sexuality). Walaupun semua konsekuensi di atas jelas, namun manusia masa kini tetap ngotot dengan etika keinginan-nafsu mereka (the ethic of desire).
Moralitas postmodernis memiliki ajaran yang menarik— yaitu konsep tentang tanggung jawab secara kolektif (kelompok) dan rasa bersalah yang kolektif. Sebagai kelompok yang menekankan orientasi-kelompok, maka idiologi cenderung mengecilkan nilai individu, hal ini juga akan mengecilkan tanggung jawab individu. Jika suatu kebudayaan membentuk suatu individu, maka kebudayaan itu akan bertanggung jawab terhadap perilaku individu tersebut. Sebagai akibatnya adalah bahwa kesalahan tidak dapat dikenakan kepada individu, melainkan kepada kebudayaan. Status moral seseorang tidak ditentukan oleh tindakan seseorang, melainkan oleh keanggotaan seseorang di dalam kelompok tertentu. Seorang muda kulit putih akan merasa bersalah jika orang-orang kulit putih melecehkan orang kulit berwarna, walaupun itu sudah terjadi berabad-abad yang lalu di mana kaum lelaki menindas kaum wanita. Mungkin ia tidak pernah memiliki seorang budak, budak indian, atau tidak pernah melecehkan wanita, namun ia harus merasa berdosa akan apa yang telah dilakukan oleh nenek moyangnya pada masa silam. Untuk menebus kesalahan itu, maka ia mungkin akan terjun dalam kancah politik liberal atau radikal. Dalam pada itu, pemerintah dan usahawan melakukan program-program untuk menggantikan "ketidakadilan dalam sejarah," sebagai kompensasi terhadap korban-korban pelecehan pada masa lampau, dengan memberikannya kepada keturunan mereka masa kini, yang mungkin merekapun sudah tidak lagi mengalami ketidakadilan.
Sudah tentu, bahwa konsep tentang dosa kolektif membutuhkan standar moral yang objektif. Sebut saja "keadilan" tentu membutuhkan standar benar atau salah, akan apa yang selayaknya diterima oleh setiap orang. C.S. Lewis berkata bahwa walaupun manusia menyangkal nilai kebenaran dan kesalahan, tetapi orang seperti inipun bereaksi saat seseorang mengambil tempat duduk mereka di bus, atau saat mereka diperlakukan secara tidak adil (C.S. Lewis, Mere Christianity. New York: Macmillan, 1960, hal. 17-20).
Dengan jujur, Kaum postmodernis mengakui dilema konsep "keadilan" di atas, namun sementara itu mereka menolak adanya nilai moral yang mutlak. Steven Connor (Steven Connor, Postmodernist Culture: An Introduction to theories of the Contemporary. Oxford: Basil Blackwell, 1989), hal. 242-43) memperingatkan orang-orang yang meremehkan akibat dari konsep bebas nilai dan moralitas yang dilakukan oleh kaum postmodernis. Hal ini tidak boleh dipandang secara sederhana dengan menganggap kesinambungan dari nilai-nilai dan moralitas itu akan tetap eksis secara natural di dalam pemikiran postmodern yang secara otomatis akan sepakat pada konsep nilai dan kosep moralitas itu.
Ia menunjukkan kontradiksi bahwa sementara kaum postmodernis menyangkal kemutlakan nilai moral di dunia barat, sementara itu terjadi perjuangan nilai-nilai moral dibelahan dunia ketiga. Connor tidak memberikan solusi atas dilema ini. Ia mengakhiri bukunya dengan mengajak pembaca untuk menciptakan "satu bentuk etika kolektif yang baru dan yang lebih inklusif," yaitu "penciptaan sebuah kerangka kesepakatan bersama" (the creation of a common frame of assent). Tetapi untuk melakukan hal itu kita harus membiarkan semua asumsi-asumsi dasar dari pengajaran postmodernisme.
Satu-satunya keadaan yang konsisten bagi kaum postmodernis adalah bahwa semua pembicaraan tentang moralitas termasuk yang mereka anut, hanya merupakan topeng-topeng dari kehendak untuk berkuasa (masks the will to power). Sebut saja, keadilan, pembebasan (liberation), dan akhir dari penindasan, bisa menjadi sekedar tipu muslihat retoris. Kelompok-kelompok yang kekurangan kuasa harus merampas hal ini melalui cara apa saja dan mengguna kannya melawan penindas. Bahwa yang kemudian akhirnya menjadi korban hanyalah ketepatan. Latihan yang sebenarnya tentang kekuasaan (tidak bisa dibatasi oleh batasan-batasan moral), adalah sebuah rumusan utama bagi para teroris dan juga bagi para penganut totalitariannisme (pemerintah yang sewenang-wenang)
Pada tingkatan politik dan individu, etika keinginan/nafsu (ethic of desire) ini sama dengan kehendak (the will—apa yang saya pilih) untuk berkuasa (to power—apa yang saya inginkan). Secara politis, etika keinginan adalah perjuangan kekuasaan di antara berbagai kelompok yang bersaing. Di Amerika Serikat, hal ini nyata di dalam pencarian kaum feminist, yang memenjarakan para demostrator yang berjuang untuk kehidupan (pro-life demonstrator), kaum gay yang suka membuat kerusuhan di dalam kebaktian di gereja, dan teroris yang terang-terangan. Di dalam kekuasaan Soviet yang terdahulu, hal ini nyata di dalam perang sipil dan pembersihan/pemusnahan etnis tertentu. Diterapkan secara individu, maka etika keinginan maksudnya adalah keegoisan, kebebasan seksual, dan kebebasan moral. "Saya harus memiliki kuasa untuk melakukan apa yang saya inginkan, dan engkau tidak mempunyai kuasa untuk menghentikan saya."
Tanpa kerangka moral yang jelas, maka masyarakat akan terpecah-pecah dalam konflik antar golongan/faksi dan menghancurkan nilai individu itu sendiri. Akibatnya adalah banyaknya kejahatan, pelecehan seksual, dan anarki seperti yang digambarkan dalam kitab Hakim-Hakim, bahwa satu waktu terjadi keruntuhan moral pada bangsa Israel dan hal itu tepat seperti apa yang dimaskud dengan teori etika dari kaum reformasi: "Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri" (Hak.21:25).

Agama-Agama Baru
Sementara kaum modernis bersama menghapuskan dunia agama/kepercayaan, maka kaum postmodernis menelurkan yang baru. Tanpa memaksakan objektivitas, tradisi, akal, atau moralitas, iman jenis baru ini, berbeda secara radikal dengan keKristenan. Bila ditelusuri, maka jenis ini sebenarnya sudah ada dalam bentuk penyembahan berhala (paganism) model primitif yang sangat kuno.
Kelompok-kelompok ini bisa dibandingkan dengan praktek-praktek "negative theology" pada abad pertengahan, yang menolak untuk mengatakan apakah Allah itu, tetapi menonjolkan bahwa Allah itu tidak seperti... Lebih tepat lagi, mereka adalah seperti pendeta-pendeta Zen Budisme yang merendahkan rasionalitas, melenyapkan semua perbedaan untuk memperoleh pencerahan Nirwana, satu tempat kehampaan (the state of cosmic nothingness). Perusakan itu nyata di setiap pernyataan yang positif, setiap argumen yang rasional, setiap klaim kebenaran. Bagaimana akibatnya, melampaui yang kita bayangkan. Ketidakmampuan bahasa akan tertinggal di belakang, dan rasa keterasingan dari individu akan coba disembuhkan dengan cara rekonsiliasi secara mistis dengan alam (a mystcal reconsiliation of nature), dengan cara psikologi dan kebudayaan (Steven Connor, hal. 212). Kaum postmodernis dengan sangat naif berasumsi sebagai yang terbaik, menghapuskan doktrin dosa asal, yang memperkirakan bahwa dengan menghancurkan semua itu mereka akan melepaskan iblis yang menakut-nakuti mereka.
Postmodernis, dalam hal penolakan mereka akan kebenaran yang objektif, memiliki kesamaan dengan Hinduisme dan Buddisme, yang mengajarkan bahwa dunia luar (external world) hanyalah sebuah ilusi dari pikiran manusia. Agama-agama Timur juga memberikan dasar bagi perkembangan bebagai aliran spiritualisme. Sebagaimana yang disebutkan oleh seorang tokoh postmodernis Walter Truett Anderson: "Desakan atas reaksi postmodern dari keyakinan-keyakinan yang lama telah menyapu sebagian orang untuk masuk ke dalam paham yang bahkan lebih radikal dari kaum konstruktivis." Banyak suara yang saat ini kita dengar yang mengatakan bahwa apa yang berada di sana adalah karena kita sendiri yang meletakkannya di sana. Lebih tepatnya, apa yang saya letakkan di sana—hanya si aku yang kecil, saya membentuk dunia saya sendiri di sana. Dulu kita menyebut hal ini sebagai solipsisme; sekarang kita menyebutnya sebagai spiritualitas Zaman Baru.
Agama-agama Zaman Baru, dengan semua jebakan-jebakan paganismenya, memiliki ide yang sama, bahwa diri (self) adalah bersifat ilahi, bahwa engkau adalah Allah, sebagai pencipta alam semestamu. Setua waktu ular itu menipu Hawa (Kej.3:5), ide ini sekarang muncul di banyak buku tentang menolong diri sendiri (self-help books), traktat-traktat motivasi diri (motivasi tracts), dan dalam psikologi populer ("Engkau membentuk realitasmu sendiri").
Gerakan Zaman Baru, seperti postmodernisme, hadir dengan beragam bentuk, tetapi dengan satu tema. Guru Zaman Baru mungkin saja seorang "perantara" (channeler) dari prajurit perang zaman Mesir kuno, atau mungkin juga dalam bentuk-bentuk supernatural lain. Mereka mungkin saja mengajarkan manfaat bola kristal atau mempromosikan obat-obatan alami. Mereka bisa juga melakukan riset ilmiah yang semu yang melampaui indera kita, atau mungkin juga melakukan praktek meditasi model Tibet. Untuk semua perbedaan-perbedaan itu, mereka akan mengatakan satu pengajaran—dogma —bahwa diri kita sendiri adalah allah. Bahwa seluruh alam semesta adalah ilusi, dan kebenaran adalah relatif.
Agama-agama Zaman Baru, tentu sedikit lebih luas dari pada apa yang kita sebut dengan kebangkitan paganisme tua/lama (old paganism). Bersamaan dengan mundurnya keKristenan, agama-agama alam yang primitif muncul menggerogoti. Hal ini, tentu saja sesuai dengan imajinasi masa kini. Kaum Feminis, dalam reaksi mereka melawan keKristenan, mencoba untuk membangkitkan paham penyembahan kepada "Allah Ibu" (the gooddes-worship).
Kaum Environmentalis menekankan bagaimana semua planet ini adalah menyatakan ekosistem yang interdependensi tunggal (a single interdependent ecosystem). Hal ini mengggambarkan bahwa kita sebagai individu adalah sebuah sel dari organisme yang lebih besar, satu keberadaan yang hidup yang disembah sebagai Ibu Bumi (Mother Earth), Allah Ibu, yaitu Gaia.
Iman kaum paganisme, paling tidak di dalam bentuk modern sangat permissif dalam hal moralitas. Pekerja komputer, Cyberpunk, dikembangkan dengan apa yang mereka sebut sebagai "techno erotic paganism," menggunakan modem mereka untuk masuk kedalam realita elektronik "cyberspace". Melalui jaringan komputer yang saling berhubungan dengan komunikasi global, maka mereka dapat memasukkan percakapan-percakapan teologis dan membuka E-mail pornographi (Elmer-Dewitt, Cyberpunk! Hal. 64). Agama-agama baru selalu berkaitan dengan pemberontakan moral. Kebangkitan penyembahan Allah Ibu dapat dihubungkan dengan bangkitnya homoseksualitas dan feminisme. Para ahli sudah menunjukkan bagaimana pada zaman dulu homoseksual selalu dihubungkan dengan penyembahan Allah Ibu (Daniel F. Grennberg, The Construction of Homosexuality. Chicago: University of Chicago Press, 1988). Banyak agama-agama kuno yang juga mempraktekkan pengorbanan bayi (infanticide). Benar atau tidak, aborsi adalah satu bentuk penyembahan kepada dewa Molokh.
Agama-agama yang sekarang muncul tidak saja bentuk bagan zaman dulu, tetapi lebih kepada bentuk sinkritisme cangkokan (Sincritism hybrid). Di dalam sebuah dunia postmodern dan dunia konsumeristik seperti ini, yang mana kebenaran adalah relatif, maka orang-orang akan mengambil aspek-aspek tertentu dari berbagai agama, sebagaimana yang mereka sukai. George Barna meramalkan bahwa "terpaku dengan keinginan mereka sendiri, maka anak-anak muda tidak akan tertarik lagi dengan dasar-dasar yang penting dari keKristenan. Mereka akan menggantikannya dengan mencari sendiri kebenaran dan tujuan hidup mereka, mereka akan menjadi sinkritis." (The Fong in the Kettle: What Christian Need to Know About Life in the Year 2000 . Ventura, CA: Regal Books, 1990).
KeKristenan yang Alkitabiah akan menemukan diri mereka tepat pada posisi iman Israel kuno dan gereja mula-mula—tetap berpegang teguh pada iman mereka walaupun dikelilingi oleh paganisme. Mereka juga akan menemukan pencobaan yang sama. Banyak orang-orang Kristen yang jatuh dalam sinkritisme. Banyak orang dari gereja mula-mula jatuh menjadi kelompok bidat karena mereka mencoba menggabungkan keKristenan dengan filsafat Gnostik dan bidat Manicheisme. Tekanan-tekanan untuk mempraktekkan apa yang dilakukan oleh kaum pagan, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan mereka seringkali begitu kuat. Tetapi Firman Allah begitu jelas:
"Maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka...Dan supaya jangan engkau bertanya tentang Allah mereka dengan berkata: "Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada Allah mereka? Akupun mau berlak begitu."Jangan engkau berbuat begitu terhadap Tuhan, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang dibencinya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki, dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dalam api bagi allah mereka. Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, jangnlah engkau menambahinya ataupun menguranginya. (Ul.12:30-32).

Pilihan-pilihan Masyarakat
Dapatkah suatu masyarakat bertahan hidup tanpa sebuah konsensus moral dan religi? Masyarakat akan terpecah-pecah menjadi beberapa faksi yang saling bertikai, kurang memiliki kerangka acuan yang kuat, maka masyarakat seperti ini tidak stabil. Masyarakat yang terpecah-pecah pada akhirnya akan berusaha untuk menyatukan diri kembali dengan cara yang berbeda-beda. Saat ini, di era postmodernisme, kita berada pada fase perusakan, dimana tidak hanya nilai-nilai tradisional yang dirusak tetapi juga nilai-nilai masa kini. Apa yang bakalan terjadi adalah pada saat bagian-bagian masyarakat disatukan kembali dalam bentuk (design) yang baru, maka keterpisahan itu tetap tampak. Pada masa ini, banyak kelihatan tanda-tanda agama-agama sekular jenis yang baru yang memunculkan masyarakat jenis yang baru. Sir Arnold Toynbee, dalam analisanya tentang peradaban dunia, telah menegaskan bahwa masyarakat yang berhasil memiliki beberapa macam konsensus religi. Saat konsensus ini hilang, objek penyembahan yang baru akan mendesak masuk kedalam kerohanian yang sudah vakum. Menurut Toynbee, saat satu masyarakat kehilangan imanya yang transendental, maka akan mengarah ke salah satu dari tiga hal ini (istilah yang biasa dipakainya untuk gejala ini adalah pengilahian— idolatries), yaitu nationalisme, ekumenikalisme, dan tehnikalisme.
Pada alternatif yang pertama, yaitu nasionalisme, maka iman transenden akan memberikan jalan kepada "pengilahian komunitas yang berhubungan dengan agama" (deified parochial communities). (Arnold Toynbee, An Historian's Approach ti Religion.New York: Oxford University Press, 1956, hal. 211). Di dalam model seperti ini, maka masing-masing kelompok kecil akan mengklaim diri mereka sebagai yang ilahi. Kebudayaan dan sub-kebudayaan akan mengilahkan diri sendiri. Komunitas akan menjadi sumber nilai-nilai moral, yang berlaku hanya bagi anggota komunita tersebut. Orang-orang luar dimana hukum moral itu tidak berlaku akan dianggap musuh. Toynbee menunjukkan bagaimana hal ini terjadi dalam zaman Athena dan Sparta kuno; dalam zaman kebangkitan pencerahan nasionalisme setelah konsensus abad pertengahan runtuh; dan juga pada masa fasisme Mussolini dan Sosialisme Nasional yang diciptakan Hitler (Toynbee, hal.211-15).
Model Toynbee merupakan nubuatan yang mengejutkan tentang masyarakat postmodernisme. Pada saat Eropa Timur kehilangan konsensus terhadap model Marxist, maka nasionalisme jenis baru muncul— yaitu "pengilahian komunitas yang berbau agama". Hilangnya konsensus di Amerika Serikat telah mengakibatkan rasialisme dalam politik, kelompok-kelompok militan, dan kelompok-kelompok kebudayaan yang bersikap bermusuhan satu sama lain.
Alternatif yang kedua akibat hilangnya konsensus nilai-nilai transenden adalah "pengilahian kekuatan oikumenis" (deified ecumenical empire) (Toynbee, hal. 43-58). Model ini mengilahkan kesatuan sementara mereka tetap saja memiliki perbedaan yang mencolok. Pada saat Roma kehilangan agama turunan yang sifatnya lokal, dan berubah menjadi kekaisaran yang begitu luas, hal ini mengakibatkan penyembahan kepada kekaisaran. Kekaisaran sendiri, yang diwakili oleh Kaisarnya, menjadi ilah. Roma menegaskan bahwa setiap orang di bawah kekuasaannya harus memberikan korban bakaran dan persembahan kepada Kaisar. Dalam kondisi seperti ini, Roma dapat toleran terhadap semua agama. Tetapi orang Kristen mengklaim bahwa hanya ada satu iman yang benar dan menolak untuk menyembah Kaisar. Akibatnya adalah bahwa Roma mengeluarkan mereka dari masyarakat dan membunuh mereka. Sebaliknya, masyarakat akan terus bersama-sama mengilahkan diri mereka. Pengilahan kekaisaran Roma adalah semangat oikumenis, yaitu di seluruh kekuasaannya. Religi sifatnya adalah universal.
Kekaisaran Roma bukanlah satu-satunya masyarakat yang mencoba membentuk komunita yang mengilahkan masyarakat oikumenis. Toynbee melihat model ini juga terdapat dalam masyarakat Mesir, Sumer, Persia kuno, dan yang paling dekat dengan zaman kita, Dinasti China, dan bahkan Kerajaaan Inggris terjebak dengan hal yang sama (Toynbee, hal 43-58). Toynbee juga melihat spirit ini ada pada masanya, pada perang dunia kedua, dimana orang umumnya terpana dengan Amerika Serikat dan satu harapan agar dunia dapat memiliki pemerintahan tunggal.
"Kesatuan," sudah jelas adalah sebuah nilai kaum modernis. Pengilahan akan bentuk oikumenis mungkin merupakan sebuah fungsi pada masa modernisme belakangan ini. Ini mungkin merupakan respon terhadap kurangnya konsensus religi yang sudah dimulai pada zaman pencerahan dan mencapai puncaknya pada abad keduapuluh ini. Para teolog modernis mencoba menyatukan gereja-gereja dengan menghilangkan perbedaan keyakinan-keyakinan mereka. Hal ini mereka sebut sebagai "gerakan oikumenis." Banyak gereja yang membuang nilai-nilai ortodoks.
Perhatian terhadap kesatuan mungkin merupakan satu nilai modernist, tetapi hal itu juga merupakan sebuah pilihan kaum postmodernis. Gerakan oikumene telah gagal menyatukan gereja-gereja, maka usaha mereka sekarang adalah untuk menyatukan semua agama di dunia ini. Hal ini berarti menghilangkan perbedaan-perbedaan keyakinan mereka demi menerima iman yang sama sekali baru dan asing bagi mereka. Para teolog ini menganut prinsip-prinsip relativ isme dari post- mo- dern- isme agar mereka dapat merangkul semua kebudayaan dan agama. Hal ini mungkin menjadi tanda akan apa yang akan terjadi. Sesungguhnya, nilai "toleransi" adalah di atas segalanya, sebagaimana ditunjukkan oleh Toynbee, bahwa karakteristik komunita yang oikumenislah yang ditinggikan.
Walaupun postmodernisme lebih memilih kepelbagaian, environmentalis, teolog Zaman Baru, guru-guru bisnis, bintang-bintang film, dan pentolan-pentolan yang lain, mereka tetap menekankan "kesatuan global" (global unity). Kita semua bergantung kepada ekosistem tunggal. Kita semua adalah sel-sel yang berada di Gaia, yaitu organisme tunggal global (the single global organism) yang tidak lain adalah bumi sendiri. Kegiatan bisnis Amerika adalah satu bagian dari saling ketergantungan ekonomi global. (Kita adalah dunia). Istilah "globalisasi" mungkin saja merupakan dengungan dari munculnya semangat oikumenis postmodernis. Istilah tersebut sepertinya memberikan ruang yang terbuka bagi relativisme kebudayaan dan kesatuan global.
Toynbee mengatakan bahwa akibat yang tidak terelakkan dari sikap penyembahan terhadap kesatuan (unity) adalah hilangnya kebebasan (liberty). Hak-hak individu pasti ditekan agar dapat memperoleh dan mempertahankan kesatuan. Toynbee melihat bahwa kehidupan modern secara khusus adalah salah satu contoh mengilahkan komunita. Negara menyatakan diri sebagai penyedia utama dari bahan makanan, pekerjaan, kesehatan, dan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh setiap orang.
Visi merindukan sebuah negara yang maha kuasa dan penuh kebaikan masih tetap kedengaran di banyak negara Barat (khususnya di Amerika serikat, yang belum mengalami sepenuhnya hal ini). Namun, kejatuhan komunisme di Uni Soviet, negara yang tingkat kesejahteraannya tinggi, negara yang meninggikan kekuasaan yang oikumenis, mungkin akan menilai pilihan ini usang.
Alternatif yang ketiga bagi keyakinan yang transenden, menurut Toynbee adalah "pengilahan ahli tehnologi yang tak tersaingi" (idolation of the invincible technician) (Toynbee, hal 220-38). Ia menelusuri, betapa tehnologi sedang berkembang fungsinya mengambil fungsi suatu keyakinan atau agama. Atribusi ilahi tentang kemahatahuan dan kemahakuasaan sudah dikenakan kepada tehnologi.
Sesungguhnya, sikap sains seperti itu adalah sikap kaum modernis, bukan kaum postmodernis. tetapi perhatian Tonybee tidaklah pada dampak pengetahuan sains dengan keunggulan tehniknya, dengan penguasaan atas alam dan gaya hidup yang segala sesuatunya dapat dimungkinkan oleh mesin. Postmodernis yang anti-intelektual (anti-intelectualism) mungkin saja lamban dalam mengejar pengetahuan sains, tetapi telivisi, komputer, dan juga berbagai tehnologi elektronik yang di luar imajinasi kita akan sangat mempengaruhi. Para ahli tehnik yang menghasilkan produk-produk ini akan membentuk suatu bentuk yang baru dari keimaman (priesthood) dengan model pengetahuan-pengetahuan di luar jangkauan kaum awam—yaitu orang-orang yang memahami tehnologi sebagai sesuatu yang tidak bisa dipahami seluruhnya (incomprehensible) sebagaimana dengan hal-hal benar atau salah, tetapi melalui urutan angka dalam skala 1 -10 poin.
Simbol-simbol tradisi, seperti religi, bukan tidak diakui tetapi diremehkan. Statistik mereduksi kepercayaan menjadi pendapat-pendapat dan standar-standar moral yang ditentukan oleh seseorang. Reproduksi tehnologi dan karya-karya visual yang representatif secara tidak henti-hentinya melawan semua konsep yang misteri atau yang kudus.
Konsep Alkitab tentang kudus artinya secara harafiah adalah "dipisahkan dari", namun tehnologi membawa segala sesuatu—seks, penderitaan, personalitas, dan kehidupan batiniah—menjadi sesuatu yang profan, yaitu secara harafiah artinya "umum, biasa" (common).
Saat ini, tidaklah masalah bila media masa mengekspos besar-besar masalah seksual yang dulu merupakan hal yang rahasia dan pribadi; demikian juga dengan kejahatan, yang dulu dipandang sebagai yang mengerikan dan tersembunyi. Media visual masa kini akan memotret semua yang dapat dilihat. Apa yang tidak dapat dilihat—yaitu Allah, iman , kebajikan, spiritualitas—itu di luar perhatiannya dan diabaikan. Kalaupun tidak diabaikan, realita magis. Orang-orang mungkin saja sepenuhnya tidak akan tertarik lagi dengan sains objektif, tetapi mereka akan membangun kehidupan mereka dan konsep nilai mereka diseputar tehnologi.
Toynbee kelihatannya sudah memprediksi apa yang sekarang digambarkan oleh Neil Postman, seperti pengambilalihan seluruh masyarakat modern — suatu puncak dari "tehnopoly," yaitu satu kondisi dimana tehnologi membutuhkan satu bentuk monopoli atas seluruh kebudayaan.
Saat ini tehnologi sedang memusatkan perhatiannya pada proses melampaui perhatiannya pada isi. Postman menegaskan, hal ini mengakibatkan kebingungan moral dan spiritual yang akan mengubah seluruh kapasitas berpikir kita. Ia menuliskan, "Melalui satu bentuk pendidikan, dimana isi pendidikan itu sendiri tidak memiliki falsafah hidup yang bertalian satu sama lain secara logis, tehnologi mencabut diri kita dari berbagai aspek yang mendasar dari aspek sosial, politis, historis, metafisik, logis dan rohani untuk mengetahui apa yang melampaui keyakinan." (Neil Postman, Technopoly: The Surrender of Culture to Techology. New York: Vintage Books,1993).
Tehnopoli membutuhkan revisi yang terus-menerus agar up- to-date. Hal ini bertentangan dengan tradisi (Neil Postman, hal.185). Hal ini cocok dalam alam tehnologi. Satu komputer yang baru kelihatannya akan lebih baik daripada yang lama. Tetapi, apa yang absah (valid) dalam satu keadaan tidak mesti absah pada keadaan yang lain. Walaupun tradisi-tradisi dalam semua kebudayaan, selalu melayani fungsi sosial (misalnya, menjaga nilai-nilai moral dan menciptakan lembaga keluarga yang stabil), namun tehnologi membuang semua itu sebagai sampah. Pada abad pertengahan, teologi skolastik secara tidak tepat mengaplikasikan metodologi teologinya ke dalam bidang yang di luar objek pengetahuannya, misalnya, sains. Pada masa kini, kebalikannya yang terjadi. Manusia mengaplikasikan metodologi— kerangka pikir—tehnologi ke dalam semua bidang, termasuk teologi dan etika.
Sementara masyarakat modern semakin menjadi sekular, masyarakat postmodern menentukan fungsi religi kepada dirinya sendiri. Postmodernis menurunkan nilai teologi, moral dan misteri manusia kepada hal-hal tehnis. Postman menunjukkan betapa para ahli teknik telah menjadi imam-imam yang baru.
Di dalam tehnologi, seluruh ahli dibekali dengan karisma keimaman (charisma of priestliness). Beberapa dari imam ahli (priest- experts) kita disebut sebagai psikiater, atau psikolog, yang lain sosiolog, dan beberapa ahli statistik. Allah yang mereka sembah tidak berbicara tentang kebenaran atau kebaikan atau kemurahan atau anugerah. Allah mereka bicara tentang efisiensi, ketepatan (presisi), keobjektivan. Itu sebabnya mengapa konsep dosa dan kejahatan tidak muncul di dalam tehnopoli. Mereka datang dari satu moral semesta yang tidak relevan dengan para ahli teologi. Jadi, para ahli tehnopoli, menyebut dosa sebagai "deviasi/penyimpangan sosial," dalam konsep statistik, dan mereka akan menyebut kejahatan sebagai "psikopatologi," dalam konsep medis. Dosa dan kejahatan tidak muncul karena hal itu tidak bisa diukur dan dikenali (objectified), oleh sebab itu para ahli tehnopoli tidak perlu untuk membicarakannya (Postman, hal.90). Manusia, perasaan-perasaan, ide-ide, dan nilai-nilai harus dinilai secara kuantitas (quantified). Kerangka pikir logika-tehnis (techno-logical) harus mereduksi segala sesuatu ke dalam angka-angka.
Kita sedang berada di dalam abad statistik—pemungutan suara, test-test standarisasi, dan semua instrumen penilaian yang mengukur segala sesuatu dari kualitas kerja kita sampai kepada kondisi psikologis kita. Kita mengevaluasi tidak dalam ukuran spiritual akan diperhatikan dalam pemahaman media masa kini. Sama saja dengan melecehkannya.
Pada waktu sebuah film mempertontonkan tentang Allah, maka Allah akan diperankan oleh George Burns (seorang bintang komedi), maka film itu menjadi film komedi. Simbol-simbol religi memang masih memiliki resonansi emotional yang kuat, tetapi semua itu tanpa memiliki arti referensi. Simbol seks terakhir disebut-sebut adalah Madonna, dengan judul Maria si perawan suci. Dia memamerkan salib sebagai bagian dari pakaiannya yang seksi dan gambar video uap yang menggambarkan patung seorang kudus/santo yang hidup kembali, dan kemudian mereka melakukan kegiatan seksual di gereja. Media seringkali mengulang ke-profan-an dan terus mengutuknya, tetapi sesaat kemudian hal itu menjadi terbiasa. Kemudian, masyarakat terbiasa dengan hal itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Postman, simbol-simbol kesakralan itu menjadi kering dan kehilangan maknanya (Postman, hal. 164-80).
Di dalam masyarakat tehnopoli, mereka menyerukan "jangan membuat keputusan moral, cukup yang praktis-praktis sajalah." Karena mereka kekurangan ide-ide tentang baik dan jahat, mereka akhirnya terjatuh kembali kepada satu-satunya standar yang mereka miliki, yang dimiliki oleh tehnologi: Azas manfaat. Manusia mereduksi nilai hidup manusia di dalam skala kesehatan. Mereka membenarkan pembunuhan terhadap orang sakit, orang yang cacat, dan terhadap anak-anak di dalam kandungan orang-orang miskin. Mereka bertindak dengan alasan, bahwa jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat tidak ingin tetap hidup dengan pertolongan mesin; euthanasia akan menurunkan biaya rumah sakit; aborsi akan menjaga kesejahteraan keluarga (yang hidup).
Orang-orang pergi kepada para ahli untuk menanyakan dilema etika, mempercayakan keputusan hidup mati pada papan etika rumah sakit. Banyak orang yang memutuskan bunuh diri ingin supervisi seorang dokter.
Pada masa kini kita sedang berada ditengah-tengah sebuah transisi yang amat besar, jauh dari zaman pramodern dan zaman modern, masuk ke dalam air yang belum dipetakan. Apakah dunia yang tidak teratur ini akan bergerak ke arah "pengilahian komunitas berbau agama," atau ke arah "pengilahian kekuasaan oikumenis," atau ke arah "pengilahian terhadap tehnisi/profesional," kita tidak tahu.
Pada masa kini, kita melihat tanda-tanda dari ketiga ilah di atas—pengelompokan identitas yang kental, globalisasi yang menekankan kesatuan, dan sebuah tehnologi yang tidak bisa dikekang. Sudah tentu, ada satu pilihan lagi—menguak kembali iman yang transendental.
Toynbee sependapat dengan surat yang diterimanya dari Edwin Bevan, yang menyadari hubungan antara anarki dengan tirani. Ramalan Bevan yang suram tentang dunia yang akan datang membawa seberkas sinar pengharapan:
Anarki pada hakikatnya adalah lemah, dan di dalam dunia yang anarki, banyak organisasi yang kuat dengan organisasi yang rasional dan pengetahuan yang ilmiah akan menyebarkan kekuasaannya kepada yang sisa. Dan sebagai sebuah alternatif bagi anarki, dunia akan menyambut keadaan yang lalim... Tetapi di sana ada gereja... sebuah faktor yang harus dipertimbangkan. Mungkin kelak akan mengalami mati syahid, tetapi sebagaimana hal itu pada akhirnya telah mendesak kekaisaran Roma pada umumnya untuk tunduk kepada Kristus, mungkin saja peristiwa itu terulang kembali, melalui banyak mati syahid, mengalahkan kerajaan dunia yang akan datang untuk tunduk di bawah kaki Kristus (A Letter from Edwin Bevan, dikutip dalam Arnold J. Tonybee, A Study of History. London: Oxford University Press, 1984. 5:9-10).

 

Back to Top


Selamat Pagi Tahun 1998

"Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya."
( Pkh. 3:1 )

Tanggal :

1 Januari 1998

Bacaan :

Pkh. 3:1-13
Ef. 5:16

Refleksi :

 Tahun 1997 sudah menjadi kenangan dan tahun 1998 menjadi peluang untuk melayani dan memuliakan Dia.

Doakan Bersama :

• Mengucap syukur untuk tahun yang baru, memohon pertolongan, dan kekuatan dalam menjalani tahun 1998.
• Meningkatkan kerohanian kita dan semakin giat melayani Tuhan.

    Terang mentari tahun 1997 sudah kita tinggalkan dan tidak akan pernah kita lihat kembali. Fajar tahun 1998 telah menyingsing di mana kita akan menikmati terang mentarinya hari demi hari dengan segala problematika dan peluang di dalamnya. Terang mentari tahun lalu memang sudah berlalu, namun bayang-bayang persoalan yang ditinggalkannya masih tampak gelap.
Bayang-bayang persoalan apakah yang ditinggalkannya? Dalam wawancara dengan Tempo Interaktif, Bonar Pasaribu, ketua SPSI, mengatakan bahwa "jumlah pengangguran bruto sekitar 42% dari 90,1 juta orang angkatan kerja, jadi sekitar 35 juta pengangguran. Hingga tahun 1998 nanti tingkat pengangguran akan meningkat menjadi 8,8%, yang artinya meningkat melampaui 1000% dari 'Sarlita' atau sasaran lima tahun dari Repelita VI. Karena targetnya semula dicanangkan hanya 0,8%" (Tempo Interaktif, edisi 31 Oktober 1997). Selain itu, menurut Kwik Kian Gie, paket reformasi yang disodorkan IMF kepada pemerintah paling sedikit akan sangat sulit (Kompas Online, 8 Des 1997). Masih banyak problema lain yang belum terselesaikan dari tahun 1997 yang berdampak bagi kita secara individual maupun berbangsa dan bernegara.
Inilah hidup. Pengkhotbah mengajak kita untuk tidak berhenti bermuram-durja atas hidup ini, pandanglah Allah yang berdaulat atas waktu dan persoalan manusia. Dan Paulus mendorong agar "pergunakanlah waktu yang ada", yakni memanfaatkan kesempatan dalam tahun 1998 untuk keuntungan yang maksimal bagi kemuliaan Allah.
 

Back to Top


Besok Kami Akan...

"Hari ini atau esok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedang kamu tidak tahu apa yang terjadi besok...hidupmu sama seperti uap."
( Yakobus 4:13-14 )

Tanggal :

2 Januari 1998

Bacaan :

Yakobus 4:13-17

Refleksi :

Bagaimanakah sikap hati Anda dalam merencanakan semua usaha dan rencana-rencana Anda pada tahun ini. Jangan lupa prinsip yang ditekankan Yakobus.

Doakan Bersama :

Komitmen yang telah kita buat untuk tahun 1998, kiranya Tuhan menolong, memberi kekuatan, dan kerendahan hati kepada kita untuk dapat melakukannya.

    Kita sudah mengakhiri tahun 1997 dan hari ini kita baru memasuki hari kedua di tahun 1998. Tahun memang berganti, namun Krisis moneter dan kenyamanan hidup di tengah bangsa kita ini, sepertinya masih kita bawa sampai tahun yang baru ini. Para pengusaha mengatakan bisnis semakin lesu. Masyarakat sudah merasakan harga-harga barang tertentu sudah naik. Yang sedang menyekolahkan anaknya agak kuatir, apakah masih cukup uang untuk membiayai anak yang sekolah, baik dalam negeri apalagi di luar negeri.
Tentu semua itu bisa membuat kita kuatir. Saat-saat seperti inilah hendaknya kita bertanya dalam hati, siapakah yang memiliki hari esok?
Pada perikop yang kita baca hari ini, digambarkan ada seorang pedagang yang merencanakan usahanya dan memastikan bahwa ia mendapat untung. Pedagang ini pasti pintar. Ia tahu kalkulasi dagang. Secara matematis, ia pasti untung.
Tetapi yang dipermasalahkan Yakobus di sini adalah bukan masalah boleh dagang atau tidak. Bukan masalah boleh untung atau tidak. Tetapi, masalahnya adalah sikap hati pedagang itu. Ia memperlakukan dirinya sebagai seorang yang tahu hari esok. Ia menjadikan dirinya tuhan di atas segala rencananya. Ia memang punya modal, punya kepintaran. Tetapi, ia lupa yang memampukan orang untuk menjadi kaya dan berhasil adalah Tuhan.
Dosa orang ini adalah masalah prinsip. Ia menjadikan dirinya tuhan. Itu sebabnya Tuhan berkata kau bukan tuhan, engkau hanya seperti uap yang sebentar saja lenyap. Jadi jangan lupakan Tuhan dalam perencanaanmu.
 

Back to Top


Jika Tuhan Menghendaki...

"Sebenarnya kamu harus berkata: Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."
(Yakobus 4:15 )

Tanggal :

3 Januari 1998

Bacaan :

Yakobus 4:13-17

Refleksi :

Perhatikan Yak4:17. Jika Anda sekarang sudah tahu apa yang harus Anda lakukan dengan semua rencana Anda, tetapi Anda tidak melakukannya, maka Anda dinilai Tuhan, berdosa.

Doakan Bersama :

Keluarga, teman, dan orang-orang yang kita kenal yang belum percaya agar mau menerima Kristus melalui kesaksian hidup kita sehari-hari.

    Kalau seseorang sadar bahwa ia hanya seperti uap, yang sebentar saja menguap. Atau seperti Yesaya katakan manusia seperti rumput, apabila Tuhan menghembuskannya, maka menjadi layu dan kering (Yes.40:6-8). Maka seharusnya seperti Amsal katakan, janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari itu (Ams.27:1).
Hanya Tuhan yang tahu hari esok kita. Itu sebabnya Yakobus mengajak kita, seharusnya kita membawa semua rencana kita kepada Tuhan. Artinya sebelum kita memulai sesuatu usaha, rencana, pekerjaan, proyek. Kita tidak boleh menjadi tuhan atas rencana proyek itu. Kita hanya sebagai pelaksana proyek itu. Tuhanlah yang menjadi Tuhan. Dan yang dapat membuat berhasil semua itu hanya Tuhan. Coba bandingkan pengalaman Yusuf, dimana segala yang dilakukannya berhasil. Karena apa? Karena Tuhan menyertainya (Kej.39:3;23).
Kalau kita berkata seperti Yak.4:15 ini, maka Tuhan akan menilai kita sebagai orang yang sadar bahwa saya itu hanya seperti uap semata. Bukan rendah diri, tetapi rendah hati. "Memegahkan diri dalam congkak," (4:16) adalah sikap yang sangat ditentang oleh Tuhan, karena ia menjadikan dirinya tuhan disamping Tuhan yang harus disembah. Itu sebabnya Tuhan memberikan perintah pertama dengan begitu tegas tentang hal ini: "Jangan ada allah lain di hadapanku" (Kel.20:3). Siapa/apa allah lain? Bisa jadi harta benda atau atau orang lain atau diri sendiri. Dengan sikap ini kita sadar bahwa ada Tuhan yang menentukan jalan hidup manusia. Bukan orang lain atau harta dunia ini.
 

Back to Top


Selagi Ada Kesempatan

"Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNYa selama Ia dekat!"
( Yes. 55:6 )

Tanggal :

4 Januari 1998

Bacaan :

Yesaya 55:6-7

Refleksi :

Selama masih waktu dan kesempatan, marilah makin bertekun di dalam iman dan menghadap Allah senantiasa.

Doakan Bersama :

Rencana-rencana yang kita buat untuk tahun ini agar benar-benar mengikutsertakan Tuhan agar kehendak Tuhan yang terjadi bukan kehendak kita, sehingga kemuliaan Tuhan nyata dalam hidup kita.

    Sepanjang tahun 1997 telah kita lalui. Itu berarti setahun penuh kita diberi kesempatan untuk berkarya. Banyak hal yang telah terjadi disepanjang tahun itu; bencana demi bencana telah terjadi, baik itu karena faktor alam, atau karena kedegilan dan kealfaan manusia. Kiranya itu semua menjadi suatu bahan introspeksi diri di hadapan Tuhan. Kadang kala diinginkan waktu yang lebih panjang untuk menata kembali apa yang telah terjadi dan dikerjakan. Namun batasan waktu selalu harus diperhitungkan. Orang ingin melihat hasilnya dalam tahapan atau sasaran-sasaran sementara, walaupun hasil akhir belum tentu tercapai. Waktu dan karya silam dan bentangan tahun yang baru dapat dijadikan saat perenungan yang baik.
"Waktu itu uang", adalah ungkapan yang sering kita dengar atau bahkan mungkin sering juga kita ucapkan, mungkin akan lebih baik kita katakan bahwa "waktu itu berharga", walaupun ada pula yang beranggapan bahwa sesuatu dapat juga diperbaiki lain waktu. Pertanyaannya sekarang tentulah, apakah masih ada waktu atau masih diberi kesempatankah kita? Kita dapat mengatur waktu, tetapi kita sadari pula bahwa waktu acapkali tidak dalam genggaman kita. Ada faktor-faktor di luar yang ikut menentukan. Bagi orang percaya faktor luar itu adalah Allah sendiri, Allah yang tidak terikat pada waktu, malah mengendalikan waktu itu. Oleh karena itu selagi masih ada waktu dan kesempatan marilah kita menanggapi apa yang dikatakan Allah melalui nabi Yesaya: "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!" Tuhan kiranya menolong kita sekalian.
 

Back to Top


Ingatlah Kebaikan Tuhan

"Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya!"
( Mzm. 103:2 )

Tanggal :

5 Januari 1998

Bacaan :

Mazmur 103:1-22

Refleksi :

Kalau kita diminta untuk menghitung kebaikan Tuhan dari kita bangun pagi sampai kita tidur malam. Dari kita tidur malam, yang kita tidak tahu ke alam manakan jiwa kita saat itu. Bukankah seharusnya kita mengucap syukur?

Doakan Bersama :

Ibadah-ibadah dan persekutuan di gereja-gereja, penjara, rumah sakit, maupun di bawah tenda agar senantiasa memberitakan Tuhan dan kebenaran, serta berkatNya bagi orang yang mencari Dia.

    Waktu berjalan terus dengan cepat, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, hingga kita memasuki tahun 1998. Dalam perjalanan kita selama tahun 1997 tentu banyak hal yang telah terjadi. Di samping pergumulan-pergumulan, kesulitan-kesulitan hidup ini tentulah tidak ketinggalan pertolongan dan berkat-berkat dari Tuhan. Marilah kita melupakan apa yang telah dibelakang kita dan merenungkan kebaikan Tuhan yang senantiasa mengalir di dalam hidup kita. Jangan lupakan kebaikan Tuhan. Kita sudah banyak menerima banyak berkat dari Tuhan. Kesehatan, damai sejahtera, perlindungan, dan pemeliharaan dari tangan Allah yang ajaib dan penuh kuasa.
Kalau hari ini kita ada sebagaimana kita ada hari ini, itu semata-mata kebaikan Tuhan. Kalau sampai hari ini kita masih boleh menghirup udara segar, melihat indahnya sinar matahari, dan bulan serta mendengar kicauan burung-burung, itu semua karena kebaikan Tuhan semata. Yang menjadi pertanyaan bagi kita sudahkah kita mengucap syukur unuk semua kebaikan Tuhan?
Pemazmur pada pagi hari ini mengajak kita untuk senantiasa mengingat kebaikan Tuhan dan memuji Dia. Mengingat berarti menghitung satu persatu kebaikan Tuhan. Bukankan tidak terhitung banyaknya? Memuji Allah berarti merendahkan diri dihadapan Allah dan membuka hati dengan penuh syukur atas kebaikan Tuhan. Orang yang dapat memuji dan bersyukur kepada Dia adalah orang yang senantiasa dekat dengan Dia. Ingatlah senantiasa kebaikanNya yang selalu nyata dalam hidup kita.
 

Back to Top


Berhikmat Di Tengah Krisis Moneter

"Hikmat memberi kepada yang memilikinya lebih banyak kekuatan daripada sepuluh penguasa dalam kota."
( Pkh. 7:19 )

Tanggal :

6 Januari 1998

Bacaan :

Pkh. 7:19-22
Ef. 5:15

Refleksi :

Kuasa fisik tidak menjamin kesuksesan dalam hidup ini. Hanya hikmat dari Allah yang memampukan Anda melalui segala macam kesukaran.

Doakan Bersama :

Program-program pembinaan iman Kristen agar melaluinya jemaat awam dapat diperlengkapi dengan Firman Tuhan yang akan membuatnya kokoh dalam iman.

    Dalam tajuk rencana tanggal 15 Nopember 1997, Kompas Online memperingati kita agar waspada menghadapi gejolak harga barang dan jasa yang terjadi saat ini. Sebelumnya, Frans Seda (pengamat politik dan ekonomi), juga mengatakan hal yang sama (Kompas Online, 13 Nop 1997), bahwa bangsa kita sedang menghadapi gejolak moneter yang hebat dengan segala macam implikasinya; antara lain melemahnya semua sektor bisnis, likuidasi 16 bank, jumlah orang yang terkena PHK meningkat, dsb. Jadi, dari sisi ekonomi, kita memasuki sikon suram yang berdampak bagi segala segi kehidupan.
Patutkah kita pesimis atau bersikap masa bodoh dalam keadaan demikian? Secara manusiawi kita patut pesimis. Tetapi di dalam dunia ini tidak hanya manusia. Ada Tuhan yang mengontrol sejarah manusia!
Perkataan Pengkhotbah di atas mengingatkan kita agar hidup berhikmat, karena betapa penting dan berkuasanya hikmat. Hikmat berarti kemampuan dari Allah untuk memandang kehidupan ini dengan benar dan mengelolanya dengan mantap (Swindoll). Hikmat dalam takut akan Allah jauh lebih besar daripada kumpulan hikmat atau kuasa para pemimpin sekuler. Hikmat memberi kekuatan bagi kita untuk menghadapi kondisi kita yang berdosa, ketidakadilan, keserakahan dan gejolak moneter seperti saat ini. Sebab itu, marilah kita hidup berhikmat di tengah resesi ekonomi dengan segala dampak politis dan sosialnya, supaya pada akhirnya orang dunia bisa melihat terang yang terpancar melalui kehidupan anak-anakNya. Bagaimana dengan anda?
 

Back to Top


Keterbatasan Hikmat Manusia

"Kesemuanya ini telah kuuji untuk mencapai hikmat. Kataku: "Aku hendak memperoleh hikmat, tetapi hikmat itu jauh dari padaku."
( Pkh. 7:23 )

Tanggal :

7 Januari 1998

Bacaan :

Pkh. 7:23-8:1

Refleksi :

Keterbatasan dan ketidakberdayaan hikmat Anda sepatutnya mendorong Anda untuk bergantung kepada Yesus Kristus, Hikmat Allah yang sejati.

Doakan Bersama :

Kerinduan kita untuk melakukan doa syafaat agar rencana dan kemuliaan Tuhan nyata dalam hidup kita.

    "Siapakah seperti orang berhikmat? Dan siapakah yang mengetahui keterangan setiap perkara?" Pertanyaan reflektif yang ditulis Pengkhotbah kira-kira dua ribu sembilan ratus tahun lalu masih relevan bagi kita yang hidup pada zaman ini. Jawabannya tetap sama, tidak ada. Hikmat manusia sangat terbatas karena ia hanya makhluk ciptaan belaka, bukan Sang Pencipta. Lebih parah lagi, limitasi ini dikarenakan segenap keberadaan manusia telah terdistorsi dosa, termasuk akal budinya. Karena itu Alkitab mengatakan, di luar Kristus, manusia menjadi bodoh (IKor.1:18-2:5).
Salah satu contoh yang menunjukkan keterbatasan hikmat tersebut adalah prediksi manusia yang meleset dalam menilai perekonomian kawasan Asia-Pasifik. Beberapa negara Asia yang pertumbuhan ekonominya menakjubkan dan menjadi harapan besar abad 21 (Naisbit) ternyata sedang sempoyongan. Korsel, negara industri sebagai salah satu macam Asia terpaksa meminta bantuan IMF untuk menyelamatkan perekonomiannya. Bahkan Jepang yang dianggap sebagai negara kreditor terkuat dunia tidak luput dari problema ekonomi dan tengah berkutat mengatasi masalah finansial dalam negerinya sendiri. Sudah lebih selusin perusahaan finansial dan bank Jepang yang ambruk (Kompas Online, 6 Des 1997). Bahkan kita tidak tahu bagaimana akhir krisis moneter ini. Bukankah semua fakta ini menunjukkan keterbatasan hikmat manusia? Bukankah badai yang menghantam perekonomian beberapa negara ini menunjukkan keterbatasan prediksi dan kehandalan manusia mengelola kehidupannya? Setelah itu semua, bukankah kita butuh Allah?
 

Back to Top


Anti Klimaks...

"Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya..".
( I Raja-Raja 19:3 )

Tanggal :

8 Januari 1998

Bacaan :

I Raja-Raja 19:1-8

Refleksi :

Pernahkah Anda mengalami bahwa di saat Anda berusaha menyelesaikan masalah Anda dengan kekuatan sendiri, ternyata Anda mengalami anti klimaks dan kebuntuan, bahkan kegagalan.

Doakan Bersama :

• Kesetiaan, pertumbuhan iman dan kesaksian hidup masyarakat suku Dampelas (Donggala) ditengah-tengah masyarakat sekitarnya.

    Pada bagian ini kita melihat suatu peristiwa yang ganjil dimana Elia melarikan diri dan ingin bunuh diri. Hal ini ganjil oleh karena sebelumnya Elia baru mengalahkan dan menyembelih nabi-nabi baal sebanyak 450 orang. Ini adalah kemenangan yang luar biasa. Tetapi Raja Ahab mengadukan peristiwa itu kepada isterinya Izebel. Dan waktu itu Izebel mengancam Elia dengan berkata:"Beginilah kiranya para allah menghukum aku,...jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu."
Terhadap perempuan Izebel, Elia lari ketakutan, padahal baru saja ia mengalami mujizat dari Allah! Mengapa? Saya melihat pada peristiwa ini Elia tidak mencari pertolongan Tuhan. Jelas dikatakan ia mencoba mencari jalan keluar sendiri. Dikatakan, "pergi menyelamatkan nyawanya". Saya juga tidak mengerti mengapa Elia bisa berjuang seperti ini? Tetapi satu hal kita belajar bahwa kebesaran di masa lampau tidak menentukan kebesarannya saat ini dan masa mendatang. Kebesaran itu bergantung dari hubungannya dengan Tuhan.
Waktu itu Elia mengalami krisis hubungan dengan Tuhan. Ia mengandalkan dirinya sendiri. Ia menganggap bahwa ia akan dapat menyelesaikan masalahnya dengan Izebel dengan kekuatannya sendiri. tetapi kita akan melihat anti klimaks usaha Elia, bahwa bukan keselamatan yang ia peroleh tetapi, kesengsaraan, depresi dan akhirnya ingin mati. Ini adalah gambaran usaha manusia yang mengandalkan diri sendiri, akan menngalami anti klimas, bahwa bukan penyelesaian yang dia peroleh, tetapi sebaliknya, jalan buntu semata.
 

Back to Top


Disharmonis...

"Dan setelah sampai di bersyeba, yang termasuk wilayah yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana."
( I Raja-Raja 19:3b )

Tanggal :

9 Januari 1998

Bacaan :

I Raja-Raja 19:1-8

Refleksi :

Bagaimanakah hubungan Anda dengan Tuhan. Saat teduh Anda? doa Anda? Bagaimanakah hubungan Anda dengan sesama?

Doakan Bersama :

• Kekristenan di Suku Bungku yang hanya terdapat 2 orang Kristen, kiranya Tuhan menggerakkan umatNya agar mau melayani.

    Satu Hal lagi yang menarik yang dilakukan oleh Elia di tengah-tengah usahanya untuk menyelamatkan dirinya adalah bahwa ia menganggap tidak membutuhkan orang lain. Ini adalah usaha yang memang biasa dilakukan oleh orang-orang yang sudah mengalami hubungan yang disharmonis dengan Tuhan. Ini adalah dampaknya. Saat seseorang disharmonis dengan Tuhan maka dampaknya adalah disharmonis dengan sesamanya.
Adalah aneh kalau Elia meninggalkan bujangnya yang senantiasa bersama-sama dengan dia. Pada waktu itu Elia merasa tidak butuh orang lain. Ia merasa dirinya sangggup. Tuhan aja dia sudah cuekin apalagi manusia? Dalam ayat 4 dikatakan "Ia sendiri masuk ke padang gurun..." Apa yang kita pelajari dari hal ini?
Yang sering kita lakukan adalah saat kita punya hubungan yang disharmonis dengan Tuhan, maka kita akan menyalahkan orang-orang di sekeliling kita, suami, isteri, anak-anak, gereja. Pokoknya siapa saja. Pada saat seperti itu orang yang biasa kita butuhkan, yang biasanya kita bisa saling berbagi, menjadi orang yang kita anggap tidak ada gunannya. Padahal masalah yang sebenarnya bukanlah pada mereka.
Hakikat masalahnya adalah di dalam diri kita sendiri yang sedang mengalami krisis hubungan dengan Tuhan. Yang Tuhan mau adalah sebelum kita mempersalahkan orang lain atau lingkungan kita, sebaiknya kita mengoreksi dahulu hubungan kita dengan Tuhan. Prinsipnya jelas, hubungan dengan Tuhan menentukan hubungan dengan sesama. Saat hubungan kita dengan Tuhan harmonis, maka hubungan kita dengan sesama menjadi harmonis.
 

Back to Top


Tidak Puas Diri...

"Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."
( I Raja-Raja 19:4 )

Tanggal :

10 Januari 1998

Bacaan :

I Raja-Raja 19:1-8

Refleksi :

Puaskah Anda dengan diri Anda, dengan segala kemampuan dan kekurangan Anda, dengan segala keterbatasan pelayanan yang Anda lakukan?

Doakan Bersama :

• Orang Uentangko , Kabupaten Poso, agar berita kabar baik boleh sampai kepada mereka, dan badan-badan misi yang melayani boleh dipakai Tuhan dalam rencana penyelamatanNya.

   

Depresi Elia semakin lama semakin memuncak. Apa yang diharapkannya bahwa ia akan ke luar dari problema ancaman Izebel, sama sekali tidak terjadi. Di dalam bagian ini kita melihat puncak anti klimaks dari sikap Elia. Ia berharap klimaksnya akan selamat, tetapi yang terjadi anti klimaksnya, yaitu ia sendiri ingin mati. Itulah akibat yang paling puncak dari seorang yang mencoba mengandalkan diri sendiri dalam mengatasi permasalahannya. Ia tidak keluar dari masalahnya, sebaliknya ia akan terjerumus terus dan di seret oleh masalahnya yang membuat orang itu putus harapan. Itu yang dialami oleh Elia.
Ada fenomena yang menarik dari sikap Elia yang semakin depresi, yang merupakan ciri-ciri banyak orang dikala mengalami hal yang sama, yaitu Elia mencoba membandingkan diri dengan orang lain. Elia berkata: "Aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." Kita tidak tahu Elia menunjuk nenek moyangnya yang mana. Tetapi satu hal yang menarik adalah bahwa pada saat orang sudah mengalami krisis hubungan dengan Tuhan, secara otomatis ia akan mengalami krisis identitas diri.
Calvin berkata: "pada waktu aku mengenal Tuhan maka aku akan mengenal diriku, dan pada waktu aku mengenal diriku dengan benar maka aku akan mengenal Tuhanku." Elia adalah nabi Allah yang besar. Tetapi sebesar-besarnya nabi Allah pada waktu ia tidak lagi bersandar sepenuhnya pada Tuhan. Pada waktu ia tidak puas akan diri dan pelayanannya, maka orang itu sudah jatuh dalam krisis identitas. Bagaimana konsep diri dan pelayanan kita di hadapan Tuhan?

 

 

Back to Top


Tidur Lagi...

"Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu... Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula."
( I Raja-Raja 19:5,6 )

Tanggal :

11 Januari 1998

Bacaan :

I Raja-Raja 19:1-8

Refleksi :

Berapa lama dan saat kapan Anda suka tidur menentukan apakah Anda sedang mengalami depresi. Juga menentukan kabur-jelasnya panggilan pelayanan Anda di hadapan Tuhan.

Doakan Bersama :

• 3000 jiwa lebih orang Wana, kiranya Tuhan membangkitkan gereja-gereja dan orang yang peduli terhadap mereka.

    Kita masih akan terus menggali kekayaan ayat ini yang dapat kita jadikan refleksi dalam hidup kita. Fenomena yang lain dari seorang yang sedang mengalami depresi adalah orang itu sumpek dan kesumpekannya itu membuat ia tidak produktif dan yang dilakukan orang seperti ini adalah tidur.
Elia melakukan hal yang sama. Ia tidak tahu harus buat apa. Mungkin ia berharap dalam tidurnya Tuhan akan mencabut nyawanya, sehingga ia melupakan semua problema dan senang di surga. Tetapi yang jelas Elia tidur. Dan menariknya setelah diberi makan oleh malaikat Tuhan, ia bukannya bangun dan melakukan sesuatu. Ia kembali tidur. Saudara bisa bayangkan keadaan Elia waktu itu. Bisa bayangkan apa yang dipikirkannya?
Elia mungkin berkata dalam hatinya: "Ya, gua 'kan hanya disuruh makan, ya sudah tidur aja lagi." Padahal sebenarnya Elia pasti sudah mengerti maksud dari makanan yang diberikan Tuhan itu. Tetapi Orang yang sudah tertekan jiwanya butuh nasehat dan petunjuk ekstra agar orang itu dapat bekerja kembali.
Manusia membutuhkan tidur. Tetapi kalau tidur itu sudah melampaui batas normal (7- 8 jam sehari — kecuali sakit) maka tidurnya itu menjadi ciri bahwa ia sedang menderita depresi. Perhatikanlah keadaanmu, keluargamu, orang-orang yang kamu kasihi dalam hal ini. Mungkin juga kita sedang memasuki kondisi tertekan. Tuhan tidak mau kita terus tidur dalam kondisi depresi. Tuhan mau kita bangun dan melakukan sesuatu bagi Tuhan. Tetapi bagaimana kita dapat bagun, sedangkan kondisi rohani kita sedang menurun?
 

Back to Top


Paedagogis Allah...

"Tetapi malaikat datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: "Bangunlah, makanlah! sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu."
( I Raja-Raja 19:7 )

Tanggal :

12 Januari 1998

Bacaan :

I Raja-Raja 19:1-8

Refleksi :

Bagaimanakah cara Anda memperlaku-kan orang yang sudah gagal dan tertekan? Bila Anda mengalami kegagalan, kalau Anda terus berharap padaNya, maka nantikanlah roti bakar dan kendi berisi air dari Tuhan.

Doakan Bersama :

• Orang-orang yang belum percaya sehingga mereka sadar bahwa mereka membutuhkan Juru Selamat di dalam kehidupan mereka.

    Tuhan berkata dalam firmanNya bahwa orang percaya terjatuh tidak akan sampai tergeletak. Itu yang dialami Elia. Tuhan tidak mau Elia terus di dalam depresi. Kita belajar satu prinsip paedagogis (pendidikan) yang indah sekali di bagian ini, bagaimana Tuhan mendidik Elia yang sedang depresi.
Tuhan tahu Elia pasti keletihan, lapar dan haus setelah berperang dengan nabi-nabi baal itu. Tuhan kemudian memberi ia roti bakar dan kendi berisi air. Yang menarik adalah Tuhan tidak marah kepada Elia walaupun sikap Elia sesungguhnya tidak layak. Mengapa? Karena sudah dikasih roti dan air, masakan ia tidur lagi? Tetapi Tuhan tahu hati hamba-hambanya, bahwa yang dibutuhkan Elia bukan sekadar makanan fisik, tetapi dukungan dan kekuatan rohani. Emongan dari Tuhan. Malaikat Tuhan berkata untuk kedua kalinya: "Bangunlah dan makanlah!" Tetapi dengan dorongan, "kalau tidak perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu."
Saudara bisa bayangkan akibat roti dan air ajaib itu? Akibat dorongan dan semangat yang diberikan Tuhan itu? Elia sanggup berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah (ay.8). Bukankah itu kekuatan yang ajaib?
Saudara, sesungguhnya orang yang sedang depresi dan kegagalan tidak membutuhkan pengajaran panjang lebar. Tidak butuh bentakan karena kegagalannya. Tetapi butuh perhatian, kasih yang tulus dan dorongan sehingga dapat mengangkat orang tersebut dari depresinya. Dan orang yang sudah diangkat punya tujuan yang jelas seperti Elia yaitu berkarya bagi Allah dengan hasil luar biasa.
 

Back to Top


Pertanggung Jawab

"...siap sedialah pada segala waktu kepada tia-tiap orang yang meminta pertanggung jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat."
( I Ptr. 3:15 )

Tanggal :

13 Januari 1998

Bacaan :

I Pt. 3:13-17

Refleksi :

Bagaimanakah Anda selama ini dalam mempertanggung jawabkan kehidupan iman Anda? Adakah Kristus dikuduskan di dalam hati Anda sebagai Tuhan?

Doakan Bersama :

• Gereja-gereja kita agar tidak hanya memikirkan program gereja tanpa memperhatikan masyarakat sekitarnya.

    Kata Yunani yang diterjemahkan menjadi 'pertanggung jawab' adalah apology, tetapi kata itu bukan berarti 'minta maaf'. Ungkapan pertanggung jawab itu lebih tepat diartikan suatu pembelaan di muka pengadilan. Sedangkan apologetika adalah merupakan suatu cabang teologi yang berhubungan dengan pembelaan terhadap iman. Karena itu setiap orang Kristen hendaknya dapat memberikan suatu pembelaan yang beralasan tentang pengharapannya di dalam Kristus, terutama dalam keadaan kita menghadapi penderitaan karena kebenaran (ay.14) dan fitnahan (ay.16).
Tentunya pembelaan iman yang kita berikan itu haruslah disertai dengan sikap lemah lembut dan hormat serta dengan hati nurani yang murni, bukan dengan sikap sombong, sok tahu, atau mau menang sendiri. Karena kita adalah saksi-saksi Kristus yang bersaksi tentang Dia kepada orang lain dan berusaha memenangkan mereka kepada Kristus. Kita juga harus merasa yakin bahwa hidup kita mendukung pembelaan kita, yaitu kehidupan yang penuh dengan kebajikan (ay.13) dan saleh dalam Kristus (ay.16).
Rasul Petrus di sini tidak menyarankan supaya orang-orang Kristen berdebat dengan orang yang belum percaya, tetapi ia menyarankan supaya kita menyatakan kepada orang yang tidak percaya tentang apa yang kita percayai dan mengapa kita mempercayainya. Tujuan pembelaan ini bukanlah untuk memenangkan suatu perdebatan, melainkan memenangkan jiwa-jiwa yang tersesat kepada Kristus. Inilah yang dimaksudkan Rasul Petrus dengan "kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan" (ay.15).
 

Back to Top


Seorang Yang Melayani Tuhan

"Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan pengemar anggur, jangan serakah."
( I Tim 3: 8 )

Tanggal :

14 Januari 1998

Bacaan :

I Tim 3:8-13

Refleksi :

Boleh melayani Tuhan merupakan anugerah dari Tuhan, tetapi sudahkah Anda memiliki ciri sebagai pelayan Tuhan yang memiliki kehidupan yang diperkenankan Tuhan ?

Doakan Bersama :

• Komisi Nasional Hak Asasi Manusia agar dapat berfungsi netral dan membela hak asasi manusia dengan motivasi yang murni, berani, dan penuh keadilan.

    Istilah "diaken" ( diakonos ) jelas dipakai dalam PB untuk menunjuk kepada jabatan gerejawi yang hanya ditemukan dalam perikop (Fil 1:1, I Tim 3:8-13 ), mengacu pada seorang yang melayani. Para ahli melihat para diaken sebagai pelayan-pelayan yang membantu penatua-penatua dalam pelayanan jemaat. Kadang-kadang Alkitab memakai istilah diaken untuk menunjuk kepada seorang yang berfungsi sebagai pembantu/ hamba (Mat 20:26).
Paulus dalam ayat 8 mencantumkan 4 syarat bagi seorang diaken atau seorang pelayan :
a) Seorang diaken haruslah orang terhormat. Syarat ini menyatakan bahwa dia adalah seorang yang layak dihormati oleh orang-orang.
b) Seorang diaken jangan bercabang lidah. Ini menunjuk suatu keharusan mampu menahan lidahnya dan bukan tukang gosip, tetapi dapat dipercayai.
c) Seorang diaken janganlah pengemar anggur. Ini menuntut agar jangan kecanduan alkohol atau hal-hal yang mengikat kita seperti judi, merokok.
d) Seorang diaken janganlah serakah. Agar diaken tidak menyalahgunakan jabatan dan tidak terjebak menjadi cinta uang ataupun menjadi sombong karena memiliki kedudukan.
Dan harus diakui bahwa banyak orang-orang Kristen bahkan mengaku sebagai seorang pelayan Tuhan tetapi mereka tidak memiliki kesaksian hidup yang baik dan memuliakan Tuhan, Sebaliknya mereka hidup untuk kepuasan nafsu dan kemuliaan diri mereka sendiri.
 

Back to Top


Rahasia Yang Agung

"...Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu diantara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan dan kemuliaan!"
( Kol. 1:27 )

Tanggal :

15 Januari 1998

Bacaan :

I Tim 3:14-15

Refleksi :

Sebagai manusia , Yesus Kristus hidup dengan sempurna dan menjadi tela-dan,sebagai Allah, Yesus Kristus mem-berikan kuasa su-paya Anda mampu hidup untuk mela-kukan apa yang dikehendaki Allah. Maukah Anda mengamininya?

Doakan Bersama :

• Seluruh masyarakat dan para pemerintahan khususnya menjelang SU MPR agar sadar dalam tanggung jawab mereka masing-masing dengan takut akan Tuhan

    Setiapkali memasuki tahun yang baru, biasanya di dalam diri kita ingin merasakan sesuatu yang baru. Tetapi sebenarnya yang baru itu tidak ada "Tidak ada sesuatu yang baru dibawah matahari...matahari terbit, matahari terbenam, lalu berburu-buru menuju tempat ia terbit kembali."( Pkh. 1:9,5).
Kalau diperhatikan nasehat Paulus juga bukan hal yang baru untuk dimengerti orang percaya di Efesus. Sebenarnya nasehatnya hanya bersifat ajakan untuk memperbaharui dasar kehidupan mereka sebagai orang yang percaya. Paulus prihatin melihat terjadinya pergeseran dasar kehidupan mereka sebagai orang percaya bahkan juga sebagai pemimpin-pemimpin gereja.
Bukankah saat ini keprihatinan Paulus ada pada kehidupan kita. Tahun 1997 sudah kita lalui tetapi krisis tahun 1997 masih kita tanggung di tahun yang baru 1998. Belum lagi krisis yang satu belum teratasi datang krisis yang lain. Seakan hidup dalam dunia semakin berat dan menjadi beban yang sangat berat untuk kita pikul.
Paulus mengajak orang percaya di Efesus untuk memandang kembali kepada teladan Kristus sebagai Rahasia yang Agung untuk menuntun kehidupan dan ibadah kita yang berkenan kepada Allah. Pertama, Tetap hidup rendah hati dan sederhana; Kedua, Menjaga kesucian hidup dam semua aspek kehidupan kita; Ketiga, Tetap memberitakan Injil Kabar Kesukaan kepada orang-orang yang belum percaya; Keempat, Berserah sepenuhnya kepada Tuhan, jangan menganggap dirimu lebih pintar dari Tuhan.
 

Back to Top


Kasih Yang Sedih

"Yerusalem...engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, tetapi kamu tidak mau."
( Mat. 23:37 )

Tanggal :

16 Januari 1998

Bacaan :

Lukas 13:31-35

Refleksi :

Bagaimana sikap Anda selama ini terhadap kesalahan orang lain? Marilah mengambil sikap yang didasari dengan kasih Allah.

Doakan Bersama :

• Orang Aceh agar mereka dapat mendengar dan menerima Kabar Baik serta dicurahkan segala berkat dan ksih karunia Tuhan dalam konteks keselamatan.

    Suatu hari seorang ibu menangis dan menceritakan tentang anaknya, dia demikian sedih menghadapi anaknya yang hidup tidak beres. Anaknya yang masih muda, yang sangat diharapkannya, ternyata begitu mengecewakannya. Saat itulah saya ingin menampung air mata sang ibu di suatu tempat dan menunjukkan pada sang anak, agar dia melihat sendiri air mata ibunya yang menetes menangisi segala tingkah lakunya yang tidak beres.
Kalau ada yang mengatakan bahwa di surga itu tidak ada air mata, maka saya pernah mendengar satu pernyataan tegas dari seorang pendeta, bahwa di surga ada air mata, ada kesedihan yaitu ketika Allah demikian sedih menyaksikan anak-anakNya hidup jauh dariNya.
Kasih Allah adalah kasih yang sedih, Allah mengasihi manusia tetapi Allah demikian membenci dosa. Dia adalah Allah yang suci, kasihNya juga merupakan kasih yang suci, dan atribut ini akan saling menyempurnakan.
Sebagai anak Allah kita perlu belajar kasih yang demikian, kasih yang sejati bukanlah kasih yang membiarkan teman kita terus melakukan kesalahan, kasih yang sejati bukanlah kasih yang memaklumi kesalahan orang lain, tetapi bukan juga sikap yang menghindari mereka yang hidup dalam dosa. Kasih yang sejati adalah kasih yang menangisi dosa tetapi yang juga memperhatikan individunya dengan membantunya keluar dari dosa itu.
Dalam bersosialisasi dengan orang lain seringkali kita merasa sungkan, merasa itu bukan urusan kita, yang penting kita hidup baik-baik. Tetapi tidak dengan Tuhan Yesus, Dia memperhatikan orang berdosa dan menolong mereka.
 

Back to Top


Doa Bagi Negara

"...naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar..."
( I Tim. 2:1-2 )

Tanggal :

17 Januari 1998

Bacaan :

I Tim. 2:1-4

Refleksi :

Doa orang benar, apabila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya.

Doakan Bersama :

• Visi dan misi gereja terhadap masyarakat agar tidak terkesan eksklusif tetapi semakin turut aktif memperbaiki kondisi sosial disekitarnya.

    Menurut seorang pengamat ekonomi "kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan ini banyak dipengaruhi oleh situasi sosial dan politik dan bukan lagi kondisi ekonomi." Menurutnya, isu mengenai kesehatan Presiden membuat semua bergerak secara a-rasional, nilai mata uang terus merosot dan harga-harga bahan pokok melambung tinggi. Dr. Franz Magnis Suseno SJ berpendapat krisis moneter yang sedang melanda bangsa dan negara saat ini merupakan simbol dari adanya krisis moral dan krisis kepercayaan masyarakat kepada sistem kekuasaan (Suara Pembaruan Daily, 17 Des 1997). Hal yang sama juga dikemukakan dalam diskusi panel para ahli ekonomi, sosiologi dan anthropologi di Yogyakarta pada 20 Des 1997 lalu (Kompas Online, 22 Des 1997).
Sebagai warga Kerajaan Sorga dan juga rakyat negeri tercinta, kita mungkin tidak dapat berbuat banyak secara kasat mata terhadap problema moneter dengan segala implikasinya. Namun firman Tuhan mendorong agar kita menjadi warganegara yang memiliki rasa tanggung jawab atas nasib bangsa dan pemerintah kita; salah satu wujudnya adalah dengan berdoa bagi negeri kita. Paulus memakai empat kata, dari tujuh kata, tentang doa dalam PB. 'Permohonan' menunjukkan bahwa doa benar harus lahir dari rasa membutuhkan yang mencakup hasrat yang dalam. 'Doa' berarti berdoa kepada Allah. 'Syafaat' menunjuk bahwa doa merupakan percakapan dengan Allah. 'Ucapan syukur' merupakan ucapan syukur atas apa yang telah dikerjakan Allah bagi kita di masa lalu dan keyakinan bahwa Ia akan memenuhi kebutuhan kita di masa yang akan datang (TEBC).
 

Back to Top


Wonderful Love

"Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan, yakni menjamah dia."
(I Samuel 24:7 )

Tanggal :

18 Januari 1998

Bacaan :

I Samuel 24:1-8

Refleksi :

Caba renungkan ayat 8, Daudpun tidak mengijinkan orang lain menyerang Saul. Padahal bisa saja dia berpikir "biarlah orang lain yang membunuh dia bukan saya.

Doakan Bersama :

• Kasih Allah berdiam dalam diri kita sehingga memampukan kita untuk melihat kebutuhan sekitar dan bertindak.

    Daud telah diurapi Tuhan menjadi raja Israel menggantikan Saul, tetapi Saul tidak menyerahkan kedudukan itu bahkan mengejar Daud untuk membunuhnya. Daud sebenarnya secara manusiawi layak membunuh Saul, karena itu kesempatannya menjadi raja. Apalagi Daud dikejar-kejar bukan sendiri, tetapi ia bersama-sama dengan keluarganya dan semua yang berkumpul bersamanya, 400 orang lainnya. Hal itu pasti sangat merepotkan. Mereka harus bersembunyi dari satu gua ke gua yang lain dari satu bukit ke bukit lain. Daud layak membalas sakit hatinya kepada Saul.
Tetapi apa yang kita lihat dari bacaan kita ini? Waktu itu Daud sudah diberi semangat oleh pengawalnya dengan kalimat yang kelihatannya rohani: "Telah tiba hari yang dikatakan Tuhan kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu." Bila mengingat semua sakit hati Daud, dan memang ia sudah diurapi oleh Tuhan menjadi raja, maka Daud pasti membunuhnya.
Tetapi apa yang dilakukan Daud sangat tidak masuk akal. Teman-teman yang lain mengatakan "bunuh saja!" Daud malah berkata: "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan yang demikian." Daud hanya memotong ujung jubah Saul sebagai tanda bahwa sesungguhnya nyawa Saul waktu itu berada di tangan Daud. Kasih Daud kasih yang ajaib. Kalau kasih itu karena orang baik kepada saya itu bukan ajaib. Itu ordinary love, biasa. Tetapi Wonderful love, kasih menjadi ajaib adalah seperti yang Daud lakukan. Bagaimana sikap kita pada saat mengalami hal yang serupa dengan Daud?
 

Back to Top


Tuhan Yang Membalaskan...

"Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu."
( I Samuel 24:16 )

Tanggal :

19 Januari 1998

Bacaan :

I Samuel 24:1-8

Refleksi :

Apakah Anda berani menyerahkan semua dendan, sakit hati Anda kepada Tuhan, karena Dialah yang tahu apakah sakit hati Anda itu benar atau salah.

Doakan Bersama :

• Kehidupan kerohanian kita agar melalui kesaksian hidup pribadi banyak orang percaya kepada Tuhan sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

    Lalu, kalau kejahatan seperti yang dilakukan Saul kita biarkan semena-mena. Lalu siapa yang akan membalaskan Saul? Daud punya iman yang kuat sekali bahwa pembalasan itu adalah hak Tuhan. Tuhan pasti akan membalaskan sakit hati anak-anakNya. Ia beriman tepat seperti Musa dibela oleh Tuhan saat diberontak oleh Harus dan Miriam (Bil.12:9,10). Ia beriman bahwa pembalasan adalah hak Tuhan (Rom. 12:19).
Apa yang dikatakan Daud setelah ia tidak membalas Saul. Ia tidak diam, tetapi membela kebenaran dengan menjelaskan kepada Saul, bahwa ia tidak akan membunuh, atau menjamah Saul. Tetapi ada Tuhan yang melihat dan membalas segala perbuatan manusia sesuai dengan kelakuannya.
Daud berkata:"Sebab itu Tuhan kiranya yang menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku." (ay.16). Dan Daud berkata dalam bagian yang lain: Demi Tuhan yang hidup, niscaya Tuhan akan membunuh dia; entah karena sampai ajalnya dan ia mati; entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap." (ay.26:10).
Ini pernyataan luar biasa, yang punya implikasi:
• Daud sadar bahwa Tuhan yang tahu membedakan yang benar dan yang jahat. Apakah Daud atau Saul yang salah hanya Tuhan yang tahu secara sempurna. Dialah yang layak menjatuhkan hukuman;
• Daud percaya Tuhan pasti akan membalaskan sakit hati anak-anakNya. Caranya? Terserah Tuhan! (ay.26:10)
 

Back to Top


Melihat Tanda Zaman

"Hai orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?"
( Luk. 12:56 )

Tanggal :

20 Januari 1998

Bacaan :

Lukas 12: 54-56

Refleksi :

Bagaimana dengan kehidupan kerohanian Anda, sudahkah Anda benar-benar bersandar kepada Tuhan sebelum Anda mengalami kejatuhan yang menyakitkan.

Doakan Bersama :

• Para orang tua agar bertanggung jawab kepada Tuhan dalam mendidik anak-anak mereka dalam mempersiapkan kehidupan sekarang dan masa datang.

    Salah satu penyebab kejatuhan dari sebagian usahawan dalam gejolak ekonomi yang terjadi belakangan ini adalah gagalnya memprediksi apa yang akan terjadi. Banyak orang secara berani menanamkan modal dengan pengetahuan yang 'dangkal' tentang kondisi yang sedang terjadi. Dan itu harus dibayar dengan harga mahal.
Hal yang sama terjadi dalam kehidupan rohani anak-anak Tuhan. Banyak anak Tuhan yang mengalami pukulan-pukulan yang mengakibatkan kejatuhan dalam hidup dan membawanya ke dalam krisis, disebabkan karena mengabaikan tanda-tanda zaman yang semakin hari semakin memburuk. Kehidupan semakin berat, semakin merosot. Peperangan rohani yang semakin hebat menjelang kedatangan Tuhan yang semakin dekat, tidak diantisipasi dengan sikap siaga. Menghadapi kondisi kehidupan zaman yang begitu buruk pengaruhnya terhadap kehidupan iman dan kerohanian, banyak orang Kristen masih hidup dengan santai, tidak sadar akan bahaya yang sedang mengancam.
Melihat kondisi hidup seperti sekarang ini, seharusnya orang kristen semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, semakin menuntut diri dalam pertumbuhan rohani. Tapi, sungguh patut disayangkan, banyak orang Kristen mengabaikan hal-hal yang penting ini, menganggap hidup masih berjalan dengan lancar, dan membiarkan diri dipengaruhi sedemikian rupa sehingga kerohanian terus digerogoti sampai keropos. Ini adalah sikap hidup Kristen yang sangat berbahaya, yang harus segera diperbaiki, sebelum kita benar-benar ikut terseret dan terjatuh dalam kemerosotan jaman ini.
 

Back to Top


Mengendalikan Hati

"Sesungguhnya aku, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku."
( Mazmur 131:2 )

Tanggal :

21 Januari 1998

Bacaan :

Mazmur 131

Refleksi :

Masih pekakah Anda akan teguran Tuhan, di tengah-tengah dunia yang sudah tidak peduli ini?

Doakan Bersama :

• Keseriusan, ketaatan, dan kerendahhatian kita dalam melayani Tuhan dalam segala bidang kehidupan.

    Salah satu penyebab kejatuhan manusia dalam kehidupan, adalah keinginan hati yang tidak terkendali. Hati yang tercemar dosa, menyebabkan manusia tidak pernah merasa puas, merasa diri layak menerima lebih banyak lagi dan lebih banyak lagi. Orang ingin memanjat setinggi-tingginya, tanpa memikirkan akibatnya kalau terjatuh, dan lupa apa yang dikatakan pepatah: "Semakin tinggi orang memanjat, jatuhnya semakin sakit."
Keinginan hati yang tidak terkendali, mendorong orang untuk meraih sesuatu yang di luar kapasitasnya. Spekulasi yang terlalu berani mengakibatkan kerugian bahkan kebangkrutan dalam usaha, kehausan akan gelar mendorong orang berlomba-lomba studi ke luar negeri, kembali dengan gelar yang tinggi membuat orang semakin sombong.
Daud adalah seorang raja, tapi sebagai orang yang bergaul dekat dengan Allah, Daud memiliki kepekaan hati yang tajam. Dia tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan, dia hanyalah seorang manusia yang penuh kelemahan dan kekurangan, tapi yang dianugerahi Tuhan dengan panggilan hidup yang mulia. Kesadaran seperti itu membuat Daud selalu rendah hati, dan mengendalikan hatinya.
Proses tersebut tidaklah mudah. Proses pengendalikan hati itu dilukiskan seperti seorang anak yang disapih. Anak yang disapih akan mengalami kekecewaan dan kepahitan tertentu, karena tidak mendapatkan apa yang dia ingin, tapi belaian penuh kasih sayang sang ibu yang menggendongnya pada akhirnya akan menenangkan dia. Itu yang dialami Daud. Bagaimana dengan anda?
 

Back to Top


Cara Hidup Yang Baru

"Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah."
( I Ptr. 4:2 )

Tanggal :

22 Januari 1998

Bacaan :

I Ptr. 4:1-6

Refleksi :

Seringkah Anda sebagai orang yang sudah dibaharui, tetapi masih hidup dengan cara yang lama. Itu masalah kebiasaan. Maukah Anda mengubahnya dengan berjuang melepaskannya bagi kemuliaan Tuhan?

Doakan Bersama :

• Para dokter agar meningkatkan profesionalisme mereka dalam takut akan Tuhan dalam memberikan kasih kepada pasiennya.

    Orang Kristen adalah orang yang telah dipanggil oleh Allah keluar dari kegelapan, suatu hidup tanpa Allah masuk ke dalam terang yaitu pengenalan akan Kristus dan keselamatannya. Keduanya ini diperoleh bukan karena jasa yang telah mereka buat agar menjadi umatNya, melainkan karena belas kasihan dan anugrah Allah. Kini tugas yang diemban oleh orang Kristen adalah tugas keimaman, datang kehadirat Allah untuk memberitakan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah Ia lakukan bagi mereka dan bagi yang lain melalui puji-pujian dan kesaksian.
Oleh sebab itu, orang-orang Kristen harus memiliki gaya hidup yang baru dan berakar dalam pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Pemuasan diri dan hawa nafsu alami yang buruk harus ditinggalkan. Sebab ini bukan pribadi seorang Kristen yang benar dan dapat menghancurkan hidup rohani.
Sebagai orang Kristen kita harus mendisiplin diri untuk mengatakan tidak kepada cara-cara hidup yang duniawi dan bersifat kedagingan, serta menjauhkan diri dari gaya hidup orang-orang tidak mengenal Allah yang mana dahulu kita pernah berhubungan dengan akrab (ay.3). Sebagai gantinya kita harus menggunakan waktu yang tersisa ini untuk melakukan kehendak Allah (ay.2) dengan bersikap baik dan melakukan perbuatan-perbautan yang baik. Hal ini akan mempermalukan mereka yang mencoba memfitnah kita sebagai orang Kristen. Bahkan kalau boleh Tuhan berkenan menyelamatkan mereka.Ini adalah kesaksian hidup kita di dalam Kristus yang telah siap sedia untuk menghakimi orang yang hidup maupun yang mati (ay.5).
 

Back to Top


Ucaplah Syukur Senantiasa

"Aku akan mempersembahkan korban syukur kepadaMu, dan akan menyerukan nama Tuhan."
( Mzm. 116:17 )

Tanggal :

23 Januari 1998

Bacaan :

Mazmur 116:1-17

Refleksi :

Mengucap syukur dalam kondisi baik itu mudah, tetapi jika kondisi Anda tidak baik apakah Anda masih tetap mengucap syukur?

Doakan Bersama :

• Seluruh masyarakt Indonesia agar dalam segala masalah yang dihadapinya dapat tetap tenang dan menyelesaikannya dengan bijaksana dari Tuhan.

    Ucapan syukur kepada Tuhan dapat dilakukan orang Kristen karena dua perkara:
1. Orang Kristen mengucap syukur kepada Tuhan karena pertolonganNya atau problemanya dapat diselesaikan dengan baik. Ucapan syukur ini wajar dan seharusnya demikian.
2. Orang Kristen yang mengucap syukur kepada Tuhan, bukan dalam kondisi yang baik tetapi dalam keadaan yang sulit. Bila usahanya macet, tokonya sepi, kesehatannya kurang baik masih dapat mengucap syukur kepada Tuhan.
Dalam Alkitab kita dapat membaca Ayub. Ayub mengucap syukur kepada Tuhan bukan saja dalam kondisi yang baik. Alkitab menceritakan bahwa pada saat Ayub kehilangan anak-anaknya, hartanya. Ayub bersedih tetapi Ayub tetap mengucap syukur kepada Tuhan. (Ayub 1:20-21).
Tidak mudah bagi orang Kristen untuk berbuat seperti Ayub. Apabila orang kristen mengasihi Tuhan sebagai Bapa, ia menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Bapa. Jadi apapun yang terjadi bukanlah menganggap Bapa melakukan suatu hal yang tak patut. Oleh karena itu ia tidak mengucap syukur. Alkitab berkata: "Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut" (Ayub 1:22).
Ucapan syukur semacam itu sangatlah mahal harganya di mata Tuhan. Orang yang tidak mengucap syukur kepada Tuhan dalam kesesakan adalah orang yang tidak mengerti anugerah Tuhan. Oleh sebab itu ucaplah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
 

Back to Top


Sederhana Di Tengah Krisis

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus."
( Fil. 2:5 )

Tanggal :

24 Januari 1998

Bacaan :

Fil. 2: 1-11

Refleksi :

Anda ditakdirkan bukan untuk hidup sendirian di muka bumi ini, melainkan untuk hidup bersama di dalam bangsa yang pluralistis demi memberi kesaksian yang jitu.

Doakan Bersama :

• Saudara-saudara seiman kita yang saat ini sedang dipenjara, dihukum secara tidak adil , kiranya mereka tetap berani memperjuangkan iman mereka dengan kebenaran.

    Natal tahun 1997 telah berlalu. Dari sekian pesan Natal tersebut ada satu pesan yang patut kita cermati dan renungkan bersama sebagaimana ditulis dalam Tajuk Kompas Online pada 24 Des 1997 lalu. Tajuk tersebut mengajak pembaca untuk merayakan Natal secara sederhana di tengah-tengah suasana prihatin akibat krisis ekonomi, dampak kemarau panjang, dsb. Namun himbauan itu seharusnya diberlakukan bukan saat merayakan Natal saja, melainkan kita aminkan dalam kehidupan kita di sepanjang tahun 1998 ini. Sebab kita hidup di tengah konteks Indonesia yang sedang dilanda krisis moneter dengan segala implikasi dan dampaknya.
Yesus Kristus memang datang dalam kesederhanaan. Ia lahir tanpa keperdulian dan dibaringkan di palungan. Maria, ibunya, hanya gadis dusun yang sederhana. Sedangkan Yusuf, ayahnya, hanya seorang tukang kayu. Namun kesederhanaan Yesus tidak berhenti sebatas Natal pertama, tetapi diteruskan di sepanjanng hidupNya di bumi, sebab kesederhanaan merupakan pola hidup Yesus. Ia dikenal masyarakat zamanNya sebagai 'tukang kayu dari Nazareth'. Ia adalah Allah (dan tetap sebagai Allah) yang rela mengosongkan diriNya dengan mengambil rupa seorang hamba, bahkan Ia rela mati di kayu salib (hukuman paling hina) demi kita manusia berdosa. Yesus yang sederhana dan bersahaja telah menjadi korban tebusan bagi kita manusia berdosa.
Dalam suasana prihatin dan muram seperti ini, marilah kita tidak bermewah-mewah dan menghasut timbulnya kecemburuan sosial melalui pola hidup kita, melainkan meniru pola hidup Yesus yang sederhana dan bersahaja itu.
 

Back to Top


Kasih Yang Supranatural

"Sebab kasih setiaMu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau."
( Mzm. 63:4 )

Tanggal :

25 Januari 1998

Bacaan :

Mazmur 63:1-5

Refleksi :

Apakah Anda orang yang sulit mengucap syukur dalam segala hal? Biarlah kasih Allah memenuhi Anda!

Doakan Bersama :

• Mohon Tuhan memberkati bangsa Indonesia dengan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

    Allah menciptakan manusia dan alam, di mana alam diciptakan oleh Allah untuk dikelola oleh manusia. Jadi bukankah memang sudah jelas bagi kita bahwa manusia sesungguhnya adalah ada di antara Allah dan alam.
Ketika alam yang ada disekitar kita ini dicipta untuk memenuhi kebutuhan manusia tetap tidak bisa diartikan bahwa manusia bisa dipuaskan oleh alam. Memang manusia tidak akan pernah bisa dipuaskan oleh alam saja ketika keinginan untuk mempunyai sepeda dipenuhi, maka muncullah keinginan untuk membeli sesuatu yang lebih dan lebih lagi. Lalu apakah sudah puas, bukankah kemudian tiba waktunya memikirkan istri yang cantik, rumah yang mewah, bisnis yang sukses, uang yang banyak dan seterusnya dan seterusnya.
Bila melihat dua hal ini kita akan menyadari betapa pentingnya kasih Allah itu, sesuatu yang bukan dari alam, sesuatu yang jauh lebih berharga dari alam. Dan hanya dengan itulah kita bisa dipuaskan.
Semua kita membutuhkan kasih Allah, kalau selama ini kita menjadi orang yang tidak pernah puas, sulit mengucap syukur dalam segala hal, mungkin yang harus kita pertanyakan dalam diri kita adalah apakah kita telah menerima kasih Allah itu.
Bagi kita yang telah menerimanya, mari kita mengingat akan yang lain, mereka yang jelas sangat membutuhkan kasih Allah itu, tetapi belum menerimanya. Mari kita membagikannya.
Di dalam diri setiap kita ada satu tempat yang tidak dapat diisi oleh sesuatu yang lain kecuali kasih Allah, kasih yang bukan dari alam, tetapi kasih dari Sang Pencipta.
 

Back to Top


Kasih Allah Kepada Murid-MuridNya
“Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.”
( Yohanes 13:1b )

Tanggal :

26 Januari 1998

Bacaan :

Yohanes 13:1-5

Refleksi :

Sudahkah Anda merasakan kasih Allah yang sedemikian besar kepada Anda? Berikan beberapa contoh kongkrit kasih Allah kepada Anda dalam Alkitab dan pengalaman hidup Anda! Ucapkanlah syukur kepada Tuhan!

Doakan Bersama :

• Orang-orang yang terikat dalam kebiasaan minum obat-obatan, melakukan sex bebas, berjudi, dll. kiranya kasih Tuhan senantiasa mengubah mereka.

    Sebagian besar ahli Alkitab setuju bahwa Injil Yohanes ditulis oleh rasul Yohanes dengan maksud memberi konfirmasi terhadap kebenaran ketiga Injil yang terdahulu dan menambahkan beberapa hal yang luput dari perhatian ketiga penulis Injil yang lain. Rasul Yohanes, sebagai murid yang (paling) dekat dengan Tuhan Yesus, menuliskan beberapa peristiwa dengan lebih detil dan memberikan arti yang lebih dalam tentang peristiwa-peristiwa yang dicatatnya. Hari ini kita akan memperhatikan kasih Allah dengan lebih mendalam. Pertama, kasih Allah sampai kepada kesudahannya. KasihNya kepada kita bersifat kekal. Apakah kasih Allah mempunyai titik awal dan akhir? Dalam suratnya yang lain Yohanes mencatat bahwa “Allah adalah kasih” (I Yoh.4:16b, “God is love”) dan yang jelas Allah mengasihi kita lebih dulu, tapi kapan? Sebelum dunia dijadikan (Ef.1:5, “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula …”). Sampai kapan Allah mengasihi kita? “sampai kesudahannya”. Apakah ini berarti menunjuk kepada akhir ketaatan manusia, kalau taat Allah mengasihi dan kalau tidak taat Allah tidak mengasihi? Jelas tidak, yang dimaksud oleh Yohanes di sini kepada murid-muridNya Allah menyatakan kasihNya dengan lebih khusus dan pribadi. Dalam 14:21 Yohanes menjelaskan dengan lebih tuntas: “Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya (orang Kristen sejati), dialah yang mengasihi Aku. Barangsiapa mengasihi Aku, ia dikasihi oleh BapaKu dan Akupun mengasihi dia dan menyatakan diriKu kepadaNya.” Tidak ada perdebatan dalam hal ini!  

Back to Top


KasihNya Menembus Dinding Pemisah
“Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahnya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya,… menuangkan air … membasuh kaki … lalu menyekanya ...”
( Yohanes 13:4-5 )

Tanggal :

27 Januari 1998

Bacaan :

Yohanes 13:1-5 (lanjutan)

Refleksi :

Apa yang Allah lihat dalam diri seseorang menurut Anda? Bagaimana seharusnya Anda memandang dan memperlakukan orang lain? Nyatakan tekad Anda di hadapan Tuhan untuk meneladani Tuhan Yesus!

Doakan Bersama :

• Pejabat-pejabat pemerintahan yang terpilih dalam SU MPR mempunyai hati yang benar-benar takut akan Tuhan saat mereka menjalankan roda pemerintahan.

    Sudah terlampau banyak dinding pemisah yang didirikan manusia untuk memisahkan dirinya terhadap sesamanya. Entah itu status warga negara, status keturunan, status kekayaan, status pendidikan, status kedudukan, atau bisa juga postur fisik. Hal ini bukan berarti bahwa kita sebagai umat Allah diperbolehkan melakukan hal yang serupa.
Mungkin ada orang yang bertanya-tanya: Apa salahnya? Toh Tuhan menciptakan manusia dengan keragamannya dan mengijinkan adanya perbedaan status sosial dalam kehidupan bermasyarakat? Benar! Perbedaan status memang diijinkan Tuhan dan ini adalah fakta. Yang salah adalah ketika manusia menjadikan status itu sebagai alasan ia boleh merendahkan yang lain dan mengangkat dirinya menjadi lebih tinggi daripada yang lain. Atas kuasa apa seorang manusia memperhitungkan yang lain tidak lebih berharga daripada dirinya di hadapan Tuhan? Di sini terdapat perbedaan cara pandang antara manusia dan Tuhan. Manusia melihat apa yang kelihatan dan hanya terbatas kepada pemikirannya sedangkan Allah melihat lebih jauh kepada realita yang sesungguhnya, yaitu bahwa semua manusia adalah sama di hadapanNya.
Tuhan Yesus memberikan sebuah teladan (ay.15), sebagaimana Ia yang adalah Guru dan Tuhan (ay.13). Dalam tindakanNya ini Yesus tidak hanya mengajarkan bahwa kita harus saling mengasihi dan melayani tetapi lebih daripada itu, kasih tersebut harus nyata dan dapat dirasakan oleh orang lain. Tidak hanya di mulut tetapi harus terwujud. Dia Tuhan dan Guru saja melakukannya apalagi kita?
 

Back to Top


Kasih Yang Kekal

"Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau."
( Yes. 49:15 )

Tanggal :

28 Januari 1998

Bacaan :

Yes. 49:8-26

Refleksi :

Marilah mengucap syukur akan kasih Allah yang kekal! Marilah belajar mempunyai kasih yang demikian.

Doakan Bersama :

• Perilaku umat Kristen ditengah lingkungan yang bukan Kristen agar pandai membawa diri, tidak lupa identitas, dan menjadi berkat bagi sekelilingnya.

    Seorang pendeta yang saya kenal pernah mengatakan hal demikian: "Saya tahu dengan jelas bahwa ayah saya sangat mengasihi saya, tetapi maaf kalau saya mengatakan hal ini; bahwa kasih ayah saya itu terbatas, saya hanya merasakannya selama empat tahun. Ayah saya meninggal dunia waktu saya masih berusia empat tahun. Demikianlah kasih manusia, kasih yang demikian dibatasi oleh banyak hal, khususnya waktu."
Penjelasan sang pendeta itu demikian gamblang, memang kasih manusia terbatas sekali. Bukankah kita sering mendengar (bahkan pernah mengalami) suami yang menyeleweng dengan wanita yang lain padahal jelas dia pernah berjanji untuk setia; kita juga mendengar bagaimana seorang istri juga bisa berkhianat terhadap suaminya.
Mungkin satu-satunya kasih yang sering dilukiskan dengan indah di dunia ini adalah kasih seorang ibu terhadap anak yang dikandung dan dilahirkannya, bahkan banyak lagu yang menggambarkannya. Alkitabpun berbicara tentang hal ini bagaimana seorang ibu tidak akan lupa untuk menyusui anaknya. Tetapi jika ada seorang ibu yang menyia-nyiakan anaknya (bukankah dewasa ini justru kita sering mendengar berita tentang aborsi), Allah sekali-kali tidak meninggalkan kita, karena kasihNya sangat indah. KasihNya kekal dan tidak berubah.
Bagi kita yang saat ini bersedih karena dikecewakan oleh seorang yang demikian kita kasihi, mari kita mengingat akan kasih Allah yang kekal dan setia. Dia mengasihi kita, dan dengan kekuatan itulah kita belajar menjadi seperti Dia yang setia.
 

Back to Top


Kasih Yang Berinisiatif

"Inilah kasih itu: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutusnya AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita."
( I Yoh. 4:10 )

Tanggal :

29 Januari 1998

Bacaan :

Yes. 65:1-7

Refleksi :

Sudahkah Anda mempunyai sifat yang berinisiatif dalam hal kasih? Jika belum marilah belajar melakukannya dari persekutuan kecil terlebih dahulu.

Doakan Bersama :

• Mohon Tuhan membangkitkan bagi bangsa Indonesia para hamba Tuhan yang benar-benar mempunyai suara kenabian bagi zamannya, dan setia kepada kebenaran Firman Tuhan.

    Rasul Yohanes terkenal dengan sebutan rasul kasih, hal ini disebabkan karena dialah rasul yang paling sering berbicara tentang kasih. Dia sering menasetkan jemaatnya untuk berkasih-kasihan, hidup tidak ribut tetapi saling mengasihi. Dia sering menggambarkan dengan indah bagaimana manisnya kasih itu.
Tetapi di dalam ayat mas yang kita baca hari ini dia dengan jelas menjelaskan tentang definisi kasih itu, bukan kita yang terlebih dahulu mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang berinisiatif untuk mengasihi manusia berdoa.
Bukankah dari sini kita langsung bisa melihat betapa berbedanya kasih Allah itu dengan kasih yang kita punya. Kasih kita seringkali bukanlah kasih yang berinisiatif tetapi justru seringkali merupakan kasih yang demikian pasif. Kita menunggu orang lain bisa mengasihi kita baru kemudian kita membalasnya, itupun seringkali harus menunggu orang lain menyatakan kasihnya itu berkali-kali pada kita. Sebaliknya bila bicara tentang benci, kita sering melakukannya dengan demikian aktif, bahkan kita cenderung membalas yang jahat dengan yang lebih jahat. Itulah manusia.
Tetapi Allah menjelaskan hal yang berbeda dan Dia mau supaya kita belajar untuk mempunyai kasih yang aktif, kasih yang selalu berinisiatif.
Semakin banyak orang yang berinisiatif dalam hal kasih di gereja akan semakin banyak orang yang akan merasakan kehangatan dan keindahan kasih itu. Sebaliknya semakin banyak orang yang menunggu untuk menerima kasih baru dia akan mengasihi, akan semakin sedikit saja orang yang akan menerimanya.
 

Back to Top


Kasih Yang Ajaib

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal."
( Yoh. 3:16 )

Tanggal :

30 Januari 1998

Bacaan :

Yoh. 3:14-18

Refleksi :

Marilah mengucap syukur akan kasih Allah yang ajaib dan lebih menghargai dengan melayani Dia lebih benar!

Doakan Bersama :

• Para calon wakil rakyat yang akan datang agar mereka mempersiapkan diri dalam menjalankan tanggung jawab mereka lebih baik.

    Mengasihi orang yang menyenangkan adalah hal yang tidak sulit untuk dilakukan. Tetapi mengasihi orang yang seharusnya kita tidak suka...?
Bila kita mau mengerti akan kasih Allah mungkin orang yang mempunyai anak akan sedikit lebih mampu untuk membayangkannya. Bagaimana perasaan kita jika suatu hari kita akan menyerahkan anak kita satu-satunya, kepada orang lain betapa susahnya hati kita, dan demikian dengan Allah. Tetapi apa yang terjadi dengan Allah jauh lebih indah, karena kalau kita menyerahkan anak kita pada orang lain tentu kita akan memilih orang yang lebih baik dari kita yang dapat menyayangi anak kita. Tetapi ketika Allah menyerahkan anakNya yang tunggal, Dia menyerahkanNya pada musuh Allah yaitu manusia, yang akan membunuhNya, menyiksaNya, memfitnahNya bahkan menyalibNya. Bisakah Dia tetap menyerahkan AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia, demikian besarnya kasih Allah itu. Itulah kasih yang ajaib.
Bila ada di antara kita yang merasa diri hebat sehingga memang layak menerima kasih Allah, saat ini juga kita harus bertobat. Kita ini demikian kecil, berdosa, mana mungkin kita membanggakan diri dengan menerima kasih Allah. Itu semata-mata karena kasih yang ajaib.
Mari kita mengerti hal ini benar-benar dan mengkoreksi pelayanan. Jika kita mempunyai suara yang indah dan melayani dengan luar biasa dalam koor, kita mempunyai uang yang banyak dan menyumbang luar biasa besar untuk gereja, itu bukan karena kita hebat. Tetapi alasan satu-satunya adalah kasih yang ajaib itu yang memampukan kita berbuat demikian.
 

Back to Top


Menjadi Bertambah Bijaksana

"Ajarlah kami menghitung-hitung hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana."
( Mzm. 90:12 )

Tanggal :

31 Januari 1998

Bacaan :

Mazmur 90

Refleksi :

Tuhan mampukan saya menghitung hari hari saya, agar saya memperoleh hati yang bijaksana.

Doakan Bersama :

• Lembaga-lembaga pendidikan supaya dapat mengembangkan programnya yang benar bagi peningkatan moralitas bangsa.

    Ketika kita masih kecil, kita sangat antusias menanti pergantian tahun. Perasaan antusias seperti itu akan berangsur-angsur hilang ketika orang memasuki usia pertengahan, karena secara alam bawah sadar orang akan merasa hilang, tidak lagi nyaman dengan usia yang terus bertambah, dengan diri yang semakin menua.
Setiap orang bertambah tua. Tapi bertambah tua tidaklah otomatis menjadikan orang semakin bijaksana. Mengapa pertambahan usia seringkali tidak membuat orang menjadi semakin 'berisi', semakin bijak? Kesalahan umum yang terjadi dengan orang-orang yang berusia banyak adalah kesombongan atau rasa senioritas yang berlebihan. Pertambahan usia menjadikan orang merasa bangga dengan pengalaman hidupnya.
Musa dalam mazmur doanya mengutarakan suatu kebenaran yang sangat berharga, dia berdoa memohon kepada Tuhan supaya diajar untuk menghitung hari-hari sedemikian, sehingga dia beroleh hati yang bijaksana. Ketika usia bertambah jangan dihitung dengan cara menjumlah tapi hitunglah dengan cara mengurangi. Bahkan setiap hari yang kita lewati, harus dihitung sebagai pengurangan, bahwa sisa hidup kita sudah berkurang lagi satu hari. Orang yang menghitung hari-hari hidupnya dengan cara seperti itu, baru akan mulai memikirkan; apa yang saya isi dalam hidup yang semakin singkat ini? Bagaimana saya mempertanggungjawabkan hidup saya ketika saya menghadap Sang Pencipta dan Hakim yang benar itu? Biarlah kita memiliki hidup yang lebih bijaksana pada tahun 1998 yang baru ini.
 

Back to Top

husen@hotmail.com