| Januari 1998 |
| Senin | Selasa | Rabu | Kamis | Jumat | Sabtu | Minggu |
| 1 | 2 | 3 | 4 | |||
| 5 | 6 | 11 | ||||
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |

husen@hotmail.com
(Spirituality without Truth) oleh: Gene Edward Veith, Jr. disadur oleh: Ev. Gunung Maston S.Th. Kalau dalam beberapa edisi yang lalu artikel bonus kita banyak menampilkan
masalah keluarga, pernikahan dan pacaran, maka artikel bonus edisi ini menampilkan
kebudayaan dan spiritualitas dalam era yang baru kita masuki, yaitu postmodernisme.
Sejak Masa Pencerahan sampai abad modern, para pakar sudah mengharapkan
bahwa suatu saat agama pasti akan mati. Hal ini tidak terjadi. "Manusia
modern" yang sering disebut demikian (sebelum munculnya gerakan feminismegerakan
yang mempertentangkan kaum pria dengan wanita), ternyata telah gagal percaya
kepada hal-hal yang supernatural. Kebenaran atau Keinginan Moralitas atau Keinginan Agama-Agama Baru Pilihan-pilihan Masyarakat |

Selamat Pagi Tahun 1998 "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit
ada waktunya." |
Tanggal : 1 Januari 1998 Bacaan : Pkh. 3:1-13 Refleksi : Tahun 1997 sudah menjadi kenangan dan tahun 1998 menjadi peluang untuk melayani dan memuliakan Dia. Doakan Bersama : Mengucap syukur untuk tahun yang baru,
memohon pertolongan, dan kekuatan dalam menjalani tahun 1998. |
Terang mentari tahun 1997 sudah kita tinggalkan dan tidak akan pernah kita
lihat kembali. Fajar tahun 1998 telah menyingsing di mana kita akan menikmati
terang mentarinya hari demi hari dengan segala problematika dan peluang
di dalamnya. Terang mentari tahun lalu memang sudah berlalu, namun bayang-bayang
persoalan yang ditinggalkannya masih tampak gelap. Bayang-bayang persoalan apakah yang ditinggalkannya? Dalam wawancara dengan Tempo Interaktif, Bonar Pasaribu, ketua SPSI, mengatakan bahwa "jumlah pengangguran bruto sekitar 42% dari 90,1 juta orang angkatan kerja, jadi sekitar 35 juta pengangguran. Hingga tahun 1998 nanti tingkat pengangguran akan meningkat menjadi 8,8%, yang artinya meningkat melampaui 1000% dari 'Sarlita' atau sasaran lima tahun dari Repelita VI. Karena targetnya semula dicanangkan hanya 0,8%" (Tempo Interaktif, edisi 31 Oktober 1997). Selain itu, menurut Kwik Kian Gie, paket reformasi yang disodorkan IMF kepada pemerintah paling sedikit akan sangat sulit (Kompas Online, 8 Des 1997). Masih banyak problema lain yang belum terselesaikan dari tahun 1997 yang berdampak bagi kita secara individual maupun berbangsa dan bernegara. Inilah hidup. Pengkhotbah mengajak kita untuk tidak berhenti bermuram-durja atas hidup ini, pandanglah Allah yang berdaulat atas waktu dan persoalan manusia. Dan Paulus mendorong agar "pergunakanlah waktu yang ada", yakni memanfaatkan kesempatan dalam tahun 1998 untuk keuntungan yang maksimal bagi kemuliaan Allah. |

Besok Kami Akan... "Hari ini atau esok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami
akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung, sedang kamu tidak
tahu apa yang terjadi besok...hidupmu sama seperti uap." |
Tanggal : 2 Januari 1998 Bacaan : Yakobus 4:13-17 Refleksi : Bagaimanakah sikap hati Anda dalam merencanakan semua usaha dan rencana-rencana Anda pada tahun ini. Jangan lupa prinsip yang ditekankan Yakobus. Doakan Bersama : Komitmen yang telah kita buat untuk tahun 1998, kiranya Tuhan menolong, memberi kekuatan, dan kerendahan hati kepada kita untuk dapat melakukannya. |
Kita sudah mengakhiri tahun 1997 dan hari ini kita baru memasuki hari kedua
di tahun 1998. Tahun memang berganti, namun Krisis moneter dan kenyamanan
hidup di tengah bangsa kita ini, sepertinya masih kita bawa sampai tahun
yang baru ini. Para pengusaha mengatakan bisnis semakin lesu. Masyarakat
sudah merasakan harga-harga barang tertentu sudah naik. Yang sedang menyekolahkan
anaknya agak kuatir, apakah masih cukup uang untuk membiayai anak yang sekolah,
baik dalam negeri apalagi di luar negeri. Tentu semua itu bisa membuat kita kuatir. Saat-saat seperti inilah hendaknya kita bertanya dalam hati, siapakah yang memiliki hari esok? Pada perikop yang kita baca hari ini, digambarkan ada seorang pedagang yang merencanakan usahanya dan memastikan bahwa ia mendapat untung. Pedagang ini pasti pintar. Ia tahu kalkulasi dagang. Secara matematis, ia pasti untung. Tetapi yang dipermasalahkan Yakobus di sini adalah bukan masalah boleh dagang atau tidak. Bukan masalah boleh untung atau tidak. Tetapi, masalahnya adalah sikap hati pedagang itu. Ia memperlakukan dirinya sebagai seorang yang tahu hari esok. Ia menjadikan dirinya tuhan di atas segala rencananya. Ia memang punya modal, punya kepintaran. Tetapi, ia lupa yang memampukan orang untuk menjadi kaya dan berhasil adalah Tuhan. Dosa orang ini adalah masalah prinsip. Ia menjadikan dirinya tuhan. Itu sebabnya Tuhan berkata kau bukan tuhan, engkau hanya seperti uap yang sebentar saja lenyap. Jadi jangan lupakan Tuhan dalam perencanaanmu. |

Jika Tuhan Menghendaki... "Sebenarnya kamu harus berkata: Jika Tuhan menghendakinya, kami
akan hidup dan berbuat ini dan itu." |
Tanggal : 3 Januari 1998 Bacaan : Yakobus 4:13-17 Refleksi : Perhatikan Yak4:17. Jika Anda sekarang sudah tahu apa yang harus Anda lakukan dengan semua rencana Anda, tetapi Anda tidak melakukannya, maka Anda dinilai Tuhan, berdosa. Doakan Bersama : Keluarga, teman, dan orang-orang yang kita kenal yang belum percaya agar mau menerima Kristus melalui kesaksian hidup kita sehari-hari. |
Kalau seseorang sadar bahwa ia hanya seperti uap, yang sebentar saja menguap.
Atau seperti Yesaya katakan manusia seperti rumput, apabila Tuhan menghembuskannya,
maka menjadi layu dan kering (Yes.40:6-8). Maka seharusnya seperti Amsal
katakan, janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu
apa yang akan terjadi pada hari itu (Ams.27:1). Hanya Tuhan yang tahu hari esok kita. Itu sebabnya Yakobus mengajak kita, seharusnya kita membawa semua rencana kita kepada Tuhan. Artinya sebelum kita memulai sesuatu usaha, rencana, pekerjaan, proyek. Kita tidak boleh menjadi tuhan atas rencana proyek itu. Kita hanya sebagai pelaksana proyek itu. Tuhanlah yang menjadi Tuhan. Dan yang dapat membuat berhasil semua itu hanya Tuhan. Coba bandingkan pengalaman Yusuf, dimana segala yang dilakukannya berhasil. Karena apa? Karena Tuhan menyertainya (Kej.39:3;23). Kalau kita berkata seperti Yak.4:15 ini, maka Tuhan akan menilai kita sebagai orang yang sadar bahwa saya itu hanya seperti uap semata. Bukan rendah diri, tetapi rendah hati. "Memegahkan diri dalam congkak," (4:16) adalah sikap yang sangat ditentang oleh Tuhan, karena ia menjadikan dirinya tuhan disamping Tuhan yang harus disembah. Itu sebabnya Tuhan memberikan perintah pertama dengan begitu tegas tentang hal ini: "Jangan ada allah lain di hadapanku" (Kel.20:3). Siapa/apa allah lain? Bisa jadi harta benda atau atau orang lain atau diri sendiri. Dengan sikap ini kita sadar bahwa ada Tuhan yang menentukan jalan hidup manusia. Bukan orang lain atau harta dunia ini. |

Selagi Ada Kesempatan "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNYa
selama Ia dekat!" |
Tanggal : 4 Januari 1998 Bacaan : Yesaya 55:6-7 Refleksi : Selama masih waktu dan kesempatan, marilah makin bertekun di dalam iman dan menghadap Allah senantiasa. Doakan Bersama : Rencana-rencana yang kita buat untuk tahun ini agar benar-benar mengikutsertakan Tuhan agar kehendak Tuhan yang terjadi bukan kehendak kita, sehingga kemuliaan Tuhan nyata dalam hidup kita. |
Sepanjang tahun 1997 telah kita lalui. Itu berarti setahun penuh kita diberi
kesempatan untuk berkarya. Banyak hal yang telah terjadi disepanjang tahun
itu; bencana demi bencana telah terjadi, baik itu karena faktor alam, atau
karena kedegilan dan kealfaan manusia. Kiranya itu semua menjadi suatu bahan
introspeksi diri di hadapan Tuhan. Kadang kala diinginkan waktu yang lebih
panjang untuk menata kembali apa yang telah terjadi dan dikerjakan. Namun
batasan waktu selalu harus diperhitungkan. Orang ingin melihat hasilnya
dalam tahapan atau sasaran-sasaran sementara, walaupun hasil akhir belum
tentu tercapai. Waktu dan karya silam dan bentangan tahun yang baru dapat
dijadikan saat perenungan yang baik. "Waktu itu uang", adalah ungkapan yang sering kita dengar atau bahkan mungkin sering juga kita ucapkan, mungkin akan lebih baik kita katakan bahwa "waktu itu berharga", walaupun ada pula yang beranggapan bahwa sesuatu dapat juga diperbaiki lain waktu. Pertanyaannya sekarang tentulah, apakah masih ada waktu atau masih diberi kesempatankah kita? Kita dapat mengatur waktu, tetapi kita sadari pula bahwa waktu acapkali tidak dalam genggaman kita. Ada faktor-faktor di luar yang ikut menentukan. Bagi orang percaya faktor luar itu adalah Allah sendiri, Allah yang tidak terikat pada waktu, malah mengendalikan waktu itu. Oleh karena itu selagi masih ada waktu dan kesempatan marilah kita menanggapi apa yang dikatakan Allah melalui nabi Yesaya: "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!" Tuhan kiranya menolong kita sekalian. |

Ingatlah Kebaikan Tuhan "Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya!" |
Tanggal : 5 Januari 1998 Bacaan : Mazmur 103:1-22 Refleksi : Kalau kita diminta untuk menghitung kebaikan Tuhan dari kita bangun pagi sampai kita tidur malam. Dari kita tidur malam, yang kita tidak tahu ke alam manakan jiwa kita saat itu. Bukankah seharusnya kita mengucap syukur? Doakan Bersama : Ibadah-ibadah dan persekutuan di gereja-gereja, penjara, rumah sakit, maupun di bawah tenda agar senantiasa memberitakan Tuhan dan kebenaran, serta berkatNya bagi orang yang mencari Dia. |
Waktu berjalan terus dengan cepat, hari berganti hari, minggu berganti minggu,
bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, hingga kita memasuki tahun
1998. Dalam perjalanan kita selama tahun 1997 tentu banyak hal yang telah
terjadi. Di samping pergumulan-pergumulan, kesulitan-kesulitan hidup ini
tentulah tidak ketinggalan pertolongan dan berkat-berkat dari Tuhan. Marilah
kita melupakan apa yang telah dibelakang kita dan merenungkan kebaikan Tuhan
yang senantiasa mengalir di dalam hidup kita. Jangan lupakan kebaikan Tuhan.
Kita sudah banyak menerima banyak berkat dari Tuhan. Kesehatan, damai sejahtera,
perlindungan, dan pemeliharaan dari tangan Allah yang ajaib dan penuh kuasa. Kalau hari ini kita ada sebagaimana kita ada hari ini, itu semata-mata kebaikan Tuhan. Kalau sampai hari ini kita masih boleh menghirup udara segar, melihat indahnya sinar matahari, dan bulan serta mendengar kicauan burung-burung, itu semua karena kebaikan Tuhan semata. Yang menjadi pertanyaan bagi kita sudahkah kita mengucap syukur unuk semua kebaikan Tuhan? Pemazmur pada pagi hari ini mengajak kita untuk senantiasa mengingat kebaikan Tuhan dan memuji Dia. Mengingat berarti menghitung satu persatu kebaikan Tuhan. Bukankan tidak terhitung banyaknya? Memuji Allah berarti merendahkan diri dihadapan Allah dan membuka hati dengan penuh syukur atas kebaikan Tuhan. Orang yang dapat memuji dan bersyukur kepada Dia adalah orang yang senantiasa dekat dengan Dia. Ingatlah senantiasa kebaikanNya yang selalu nyata dalam hidup kita. |

Berhikmat Di Tengah Krisis Moneter "Hikmat memberi kepada yang memilikinya lebih banyak kekuatan
daripada sepuluh penguasa dalam kota." |
Tanggal : 6 Januari 1998 Bacaan : Pkh. 7:19-22 Refleksi : Kuasa fisik tidak menjamin kesuksesan dalam hidup ini. Hanya hikmat dari Allah yang memampukan Anda melalui segala macam kesukaran. Doakan Bersama : Program-program pembinaan iman Kristen agar melaluinya jemaat awam dapat diperlengkapi dengan Firman Tuhan yang akan membuatnya kokoh dalam iman. |
Dalam tajuk rencana tanggal 15 Nopember 1997, Kompas Online memperingati
kita agar waspada menghadapi gejolak harga barang dan jasa yang terjadi
saat ini. Sebelumnya, Frans Seda (pengamat politik dan ekonomi), juga mengatakan
hal yang sama (Kompas Online, 13 Nop 1997), bahwa bangsa kita sedang menghadapi
gejolak moneter yang hebat dengan segala macam implikasinya; antara lain
melemahnya semua sektor bisnis, likuidasi 16 bank, jumlah orang yang terkena
PHK meningkat, dsb. Jadi, dari sisi ekonomi, kita memasuki sikon suram yang
berdampak bagi segala segi kehidupan. Patutkah kita pesimis atau bersikap masa bodoh dalam keadaan demikian? Secara manusiawi kita patut pesimis. Tetapi di dalam dunia ini tidak hanya manusia. Ada Tuhan yang mengontrol sejarah manusia! Perkataan Pengkhotbah di atas mengingatkan kita agar hidup berhikmat, karena betapa penting dan berkuasanya hikmat. Hikmat berarti kemampuan dari Allah untuk memandang kehidupan ini dengan benar dan mengelolanya dengan mantap (Swindoll). Hikmat dalam takut akan Allah jauh lebih besar daripada kumpulan hikmat atau kuasa para pemimpin sekuler. Hikmat memberi kekuatan bagi kita untuk menghadapi kondisi kita yang berdosa, ketidakadilan, keserakahan dan gejolak moneter seperti saat ini. Sebab itu, marilah kita hidup berhikmat di tengah resesi ekonomi dengan segala dampak politis dan sosialnya, supaya pada akhirnya orang dunia bisa melihat terang yang terpancar melalui kehidupan anak-anakNya. Bagaimana dengan anda? |

Keterbatasan Hikmat Manusia "Kesemuanya ini telah kuuji untuk mencapai hikmat. Kataku: "Aku
hendak memperoleh hikmat, tetapi hikmat itu jauh dari padaku." |
Tanggal : 7 Januari 1998 Bacaan : Pkh. 7:23-8:1 Refleksi : Keterbatasan dan ketidakberdayaan hikmat Anda sepatutnya mendorong Anda untuk bergantung kepada Yesus Kristus, Hikmat Allah yang sejati. Doakan Bersama : Kerinduan kita untuk melakukan doa syafaat agar rencana dan kemuliaan Tuhan nyata dalam hidup kita. |
"Siapakah seperti orang berhikmat? Dan siapakah yang mengetahui
keterangan setiap perkara?" Pertanyaan reflektif yang ditulis Pengkhotbah
kira-kira dua ribu sembilan ratus tahun lalu masih relevan bagi kita yang
hidup pada zaman ini. Jawabannya tetap sama, tidak ada. Hikmat manusia sangat
terbatas karena ia hanya makhluk ciptaan belaka, bukan Sang Pencipta. Lebih
parah lagi, limitasi ini dikarenakan segenap keberadaan manusia telah terdistorsi
dosa, termasuk akal budinya. Karena itu Alkitab mengatakan, di luar Kristus,
manusia menjadi bodoh (IKor.1:18-2:5). Salah satu contoh yang menunjukkan keterbatasan hikmat tersebut adalah prediksi manusia yang meleset dalam menilai perekonomian kawasan Asia-Pasifik. Beberapa negara Asia yang pertumbuhan ekonominya menakjubkan dan menjadi harapan besar abad 21 (Naisbit) ternyata sedang sempoyongan. Korsel, negara industri sebagai salah satu macam Asia terpaksa meminta bantuan IMF untuk menyelamatkan perekonomiannya. Bahkan Jepang yang dianggap sebagai negara kreditor terkuat dunia tidak luput dari problema ekonomi dan tengah berkutat mengatasi masalah finansial dalam negerinya sendiri. Sudah lebih selusin perusahaan finansial dan bank Jepang yang ambruk (Kompas Online, 6 Des 1997). Bahkan kita tidak tahu bagaimana akhir krisis moneter ini. Bukankah semua fakta ini menunjukkan keterbatasan hikmat manusia? Bukankah badai yang menghantam perekonomian beberapa negara ini menunjukkan keterbatasan prediksi dan kehandalan manusia mengelola kehidupannya? Setelah itu semua, bukankah kita butuh Allah? |

Anti Klimaks... "Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya..". |
Tanggal : 8 Januari 1998 Bacaan : I Raja-Raja 19:1-8 Refleksi : Pernahkah Anda mengalami bahwa di saat Anda berusaha menyelesaikan masalah Anda dengan kekuatan sendiri, ternyata Anda mengalami anti klimaks dan kebuntuan, bahkan kegagalan. Doakan Bersama : Kesetiaan, pertumbuhan iman dan kesaksian hidup masyarakat suku Dampelas (Donggala) ditengah-tengah masyarakat sekitarnya. |
Pada bagian ini kita melihat suatu peristiwa yang ganjil dimana Elia melarikan
diri dan ingin bunuh diri. Hal ini ganjil oleh karena sebelumnya Elia baru
mengalahkan dan menyembelih nabi-nabi baal sebanyak 450 orang. Ini adalah
kemenangan yang luar biasa. Tetapi Raja Ahab mengadukan peristiwa itu kepada
isterinya Izebel. Dan waktu itu Izebel mengancam Elia dengan berkata:"Beginilah
kiranya para allah menghukum aku,...jika besok kira-kira pada waktu ini
aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu."
Terhadap perempuan Izebel, Elia lari ketakutan, padahal baru saja ia mengalami mujizat dari Allah! Mengapa? Saya melihat pada peristiwa ini Elia tidak mencari pertolongan Tuhan. Jelas dikatakan ia mencoba mencari jalan keluar sendiri. Dikatakan, "pergi menyelamatkan nyawanya". Saya juga tidak mengerti mengapa Elia bisa berjuang seperti ini? Tetapi satu hal kita belajar bahwa kebesaran di masa lampau tidak menentukan kebesarannya saat ini dan masa mendatang. Kebesaran itu bergantung dari hubungannya dengan Tuhan. Waktu itu Elia mengalami krisis hubungan dengan Tuhan. Ia mengandalkan dirinya sendiri. Ia menganggap bahwa ia akan dapat menyelesaikan masalahnya dengan Izebel dengan kekuatannya sendiri. tetapi kita akan melihat anti klimaks usaha Elia, bahwa bukan keselamatan yang ia peroleh tetapi, kesengsaraan, depresi dan akhirnya ingin mati. Ini adalah gambaran usaha manusia yang mengandalkan diri sendiri, akan menngalami anti klimas, bahwa bukan penyelesaian yang dia peroleh, tetapi sebaliknya, jalan buntu semata. |

Disharmonis... "Dan setelah sampai di bersyeba, yang termasuk wilayah yehuda,
ia meninggalkan bujangnya di sana." |
Tanggal : 9 Januari 1998 Bacaan : I Raja-Raja 19:1-8 Refleksi : Bagaimanakah hubungan Anda dengan Tuhan. Saat teduh Anda? doa Anda? Bagaimanakah hubungan Anda dengan sesama? Doakan Bersama : Kekristenan di Suku Bungku yang hanya terdapat 2 orang Kristen, kiranya Tuhan menggerakkan umatNya agar mau melayani. |
Satu Hal lagi yang menarik yang dilakukan oleh Elia di tengah-tengah usahanya
untuk menyelamatkan dirinya adalah bahwa ia menganggap tidak membutuhkan
orang lain. Ini adalah usaha yang memang biasa dilakukan oleh orang-orang
yang sudah mengalami hubungan yang disharmonis dengan Tuhan. Ini adalah
dampaknya. Saat seseorang disharmonis dengan Tuhan maka dampaknya adalah
disharmonis dengan sesamanya. Adalah aneh kalau Elia meninggalkan bujangnya yang senantiasa bersama-sama dengan dia. Pada waktu itu Elia merasa tidak butuh orang lain. Ia merasa dirinya sangggup. Tuhan aja dia sudah cuekin apalagi manusia? Dalam ayat 4 dikatakan "Ia sendiri masuk ke padang gurun..." Apa yang kita pelajari dari hal ini? Yang sering kita lakukan adalah saat kita punya hubungan yang disharmonis dengan Tuhan, maka kita akan menyalahkan orang-orang di sekeliling kita, suami, isteri, anak-anak, gereja. Pokoknya siapa saja. Pada saat seperti itu orang yang biasa kita butuhkan, yang biasanya kita bisa saling berbagi, menjadi orang yang kita anggap tidak ada gunannya. Padahal masalah yang sebenarnya bukanlah pada mereka. Hakikat masalahnya adalah di dalam diri kita sendiri yang sedang mengalami krisis hubungan dengan Tuhan. Yang Tuhan mau adalah sebelum kita mempersalahkan orang lain atau lingkungan kita, sebaiknya kita mengoreksi dahulu hubungan kita dengan Tuhan. Prinsipnya jelas, hubungan dengan Tuhan menentukan hubungan dengan sesama. Saat hubungan kita dengan Tuhan harmonis, maka hubungan kita dengan sesama menjadi harmonis. |

Tidak Puas Diri... "Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! sekarang,
ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek
moyangku." |
Tanggal : 10 Januari 1998 Bacaan : I Raja-Raja 19:1-8 Refleksi : Puaskah Anda dengan diri Anda, dengan segala kemampuan dan kekurangan Anda, dengan segala keterbatasan pelayanan yang Anda lakukan? Doakan Bersama : Orang Uentangko , Kabupaten Poso, agar berita kabar baik boleh sampai kepada mereka, dan badan-badan misi yang melayani boleh dipakai Tuhan dalam rencana penyelamatanNya. |
Depresi Elia semakin lama semakin memuncak. Apa yang diharapkannya bahwa
ia akan ke luar dari problema ancaman Izebel, sama sekali tidak terjadi.
Di dalam bagian ini kita melihat puncak anti klimaks dari sikap Elia. Ia
berharap klimaksnya akan selamat, tetapi yang terjadi anti klimaksnya, yaitu
ia sendiri ingin mati. Itulah akibat yang paling puncak dari seorang yang
mencoba mengandalkan diri sendiri dalam mengatasi permasalahannya. Ia tidak
keluar dari masalahnya, sebaliknya ia akan terjerumus terus dan di seret
oleh masalahnya yang membuat orang itu putus harapan. Itu yang dialami oleh
Elia.
|

Tidur Lagi... "Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu...
Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula." |
Tanggal : 11 Januari 1998 Bacaan : I Raja-Raja 19:1-8 Refleksi : Berapa lama dan saat kapan Anda suka tidur menentukan apakah Anda sedang mengalami depresi. Juga menentukan kabur-jelasnya panggilan pelayanan Anda di hadapan Tuhan. Doakan Bersama : 3000 jiwa lebih orang Wana, kiranya Tuhan membangkitkan gereja-gereja dan orang yang peduli terhadap mereka. |
Kita masih akan terus menggali kekayaan ayat ini yang dapat kita jadikan
refleksi dalam hidup kita. Fenomena yang lain dari seorang yang sedang mengalami
depresi adalah orang itu sumpek dan kesumpekannya itu membuat ia tidak produktif
dan yang dilakukan orang seperti ini adalah tidur. Elia melakukan hal yang sama. Ia tidak tahu harus buat apa. Mungkin ia berharap dalam tidurnya Tuhan akan mencabut nyawanya, sehingga ia melupakan semua problema dan senang di surga. Tetapi yang jelas Elia tidur. Dan menariknya setelah diberi makan oleh malaikat Tuhan, ia bukannya bangun dan melakukan sesuatu. Ia kembali tidur. Saudara bisa bayangkan keadaan Elia waktu itu. Bisa bayangkan apa yang dipikirkannya? Elia mungkin berkata dalam hatinya: "Ya, gua 'kan hanya disuruh makan, ya sudah tidur aja lagi." Padahal sebenarnya Elia pasti sudah mengerti maksud dari makanan yang diberikan Tuhan itu. Tetapi Orang yang sudah tertekan jiwanya butuh nasehat dan petunjuk ekstra agar orang itu dapat bekerja kembali. Manusia membutuhkan tidur. Tetapi kalau tidur itu sudah melampaui batas normal (7- 8 jam sehari kecuali sakit) maka tidurnya itu menjadi ciri bahwa ia sedang menderita depresi. Perhatikanlah keadaanmu, keluargamu, orang-orang yang kamu kasihi dalam hal ini. Mungkin juga kita sedang memasuki kondisi tertekan. Tuhan tidak mau kita terus tidur dalam kondisi depresi. Tuhan mau kita bangun dan melakukan sesuatu bagi Tuhan. Tetapi bagaimana kita dapat bagun, sedangkan kondisi rohani kita sedang menurun? |

Paedagogis Allah... "Tetapi malaikat datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia
serta berkata: "Bangunlah, makanlah! sebab kalau tidak, perjalananmu
nanti terlalu jauh bagimu." |
Tanggal : 12 Januari 1998 Bacaan : I Raja-Raja 19:1-8 Refleksi : Bagaimanakah cara Anda memperlaku-kan orang yang sudah gagal dan tertekan? Bila Anda mengalami kegagalan, kalau Anda terus berharap padaNya, maka nantikanlah roti bakar dan kendi berisi air dari Tuhan. Doakan Bersama : Orang-orang yang belum percaya sehingga mereka sadar bahwa mereka membutuhkan Juru Selamat di dalam kehidupan mereka. |
Tuhan berkata dalam firmanNya bahwa orang percaya terjatuh tidak akan sampai
tergeletak. Itu yang dialami Elia. Tuhan tidak mau Elia terus di dalam depresi.
Kita belajar satu prinsip paedagogis (pendidikan) yang indah sekali di bagian
ini, bagaimana Tuhan mendidik Elia yang sedang depresi. Tuhan tahu Elia pasti keletihan, lapar dan haus setelah berperang dengan nabi-nabi baal itu. Tuhan kemudian memberi ia roti bakar dan kendi berisi air. Yang menarik adalah Tuhan tidak marah kepada Elia walaupun sikap Elia sesungguhnya tidak layak. Mengapa? Karena sudah dikasih roti dan air, masakan ia tidur lagi? Tetapi Tuhan tahu hati hamba-hambanya, bahwa yang dibutuhkan Elia bukan sekadar makanan fisik, tetapi dukungan dan kekuatan rohani. Emongan dari Tuhan. Malaikat Tuhan berkata untuk kedua kalinya: "Bangunlah dan makanlah!" Tetapi dengan dorongan, "kalau tidak perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu." Saudara bisa bayangkan akibat roti dan air ajaib itu? Akibat dorongan dan semangat yang diberikan Tuhan itu? Elia sanggup berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah (ay.8). Bukankah itu kekuatan yang ajaib? Saudara, sesungguhnya orang yang sedang depresi dan kegagalan tidak membutuhkan pengajaran panjang lebar. Tidak butuh bentakan karena kegagalannya. Tetapi butuh perhatian, kasih yang tulus dan dorongan sehingga dapat mengangkat orang tersebut dari depresinya. Dan orang yang sudah diangkat punya tujuan yang jelas seperti Elia yaitu berkarya bagi Allah dengan hasil luar biasa. |

Pertanggung Jawab "...siap sedialah pada segala waktu kepada tia-tiap orang yang
meminta pertanggung jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu,
tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." |
Tanggal : 13 Januari 1998 Bacaan : I Pt. 3:13-17 Refleksi : Bagaimanakah Anda selama ini dalam mempertanggung jawabkan kehidupan iman Anda? Adakah Kristus dikuduskan di dalam hati Anda sebagai Tuhan? Doakan Bersama : Gereja-gereja kita agar tidak hanya memikirkan program gereja tanpa memperhatikan masyarakat sekitarnya. |
Kata Yunani yang diterjemahkan menjadi 'pertanggung jawab' adalah
apology, tetapi kata itu bukan berarti 'minta maaf'. Ungkapan pertanggung
jawab itu lebih tepat diartikan suatu pembelaan di muka pengadilan. Sedangkan
apologetika adalah merupakan suatu cabang teologi yang berhubungan dengan
pembelaan terhadap iman. Karena itu setiap orang Kristen hendaknya dapat
memberikan suatu pembelaan yang beralasan tentang pengharapannya di dalam
Kristus, terutama dalam keadaan kita menghadapi penderitaan karena kebenaran
(ay.14) dan fitnahan (ay.16). Tentunya pembelaan iman yang kita berikan itu haruslah disertai dengan sikap lemah lembut dan hormat serta dengan hati nurani yang murni, bukan dengan sikap sombong, sok tahu, atau mau menang sendiri. Karena kita adalah saksi-saksi Kristus yang bersaksi tentang Dia kepada orang lain dan berusaha memenangkan mereka kepada Kristus. Kita juga harus merasa yakin bahwa hidup kita mendukung pembelaan kita, yaitu kehidupan yang penuh dengan kebajikan (ay.13) dan saleh dalam Kristus (ay.16). Rasul Petrus di sini tidak menyarankan supaya orang-orang Kristen berdebat dengan orang yang belum percaya, tetapi ia menyarankan supaya kita menyatakan kepada orang yang tidak percaya tentang apa yang kita percayai dan mengapa kita mempercayainya. Tujuan pembelaan ini bukanlah untuk memenangkan suatu perdebatan, melainkan memenangkan jiwa-jiwa yang tersesat kepada Kristus. Inilah yang dimaksudkan Rasul Petrus dengan "kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan" (ay.15). |

Seorang Yang Melayani Tuhan "Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan
bercabang lidah, jangan pengemar anggur, jangan serakah." |
Tanggal : 14 Januari 1998 Bacaan : I Tim 3:8-13 Refleksi : Boleh melayani Tuhan merupakan anugerah dari Tuhan, tetapi sudahkah Anda memiliki ciri sebagai pelayan Tuhan yang memiliki kehidupan yang diperkenankan Tuhan ? Doakan Bersama : Komisi Nasional Hak Asasi Manusia agar dapat berfungsi netral dan membela hak asasi manusia dengan motivasi yang murni, berani, dan penuh keadilan. |
Istilah "diaken" ( diakonos ) jelas dipakai dalam PB untuk
menunjuk kepada jabatan gerejawi yang hanya ditemukan dalam perikop (Fil
1:1, I Tim 3:8-13 ), mengacu pada seorang yang melayani. Para ahli melihat
para diaken sebagai pelayan-pelayan yang membantu penatua-penatua dalam
pelayanan jemaat. Kadang-kadang Alkitab memakai istilah diaken untuk menunjuk
kepada seorang yang berfungsi sebagai pembantu/ hamba (Mat 20:26). Paulus dalam ayat 8 mencantumkan 4 syarat bagi seorang diaken atau seorang pelayan : a) Seorang diaken haruslah orang terhormat. Syarat ini menyatakan bahwa dia adalah seorang yang layak dihormati oleh orang-orang. b) Seorang diaken jangan bercabang lidah. Ini menunjuk suatu keharusan mampu menahan lidahnya dan bukan tukang gosip, tetapi dapat dipercayai. c) Seorang diaken janganlah pengemar anggur. Ini menuntut agar jangan kecanduan alkohol atau hal-hal yang mengikat kita seperti judi, merokok. d) Seorang diaken janganlah serakah. Agar diaken tidak menyalahgunakan jabatan dan tidak terjebak menjadi cinta uang ataupun menjadi sombong karena memiliki kedudukan. Dan harus diakui bahwa banyak orang-orang Kristen bahkan mengaku sebagai seorang pelayan Tuhan tetapi mereka tidak memiliki kesaksian hidup yang baik dan memuliakan Tuhan, Sebaliknya mereka hidup untuk kepuasan nafsu dan kemuliaan diri mereka sendiri. |

Rahasia Yang Agung "...Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia
itu diantara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu,
Kristus yang adalah pengharapan dan kemuliaan!" |
Tanggal : 15 Januari 1998 Bacaan : I Tim 3:14-15 Refleksi : Sebagai manusia , Yesus Kristus hidup dengan sempurna dan menjadi tela-dan,sebagai Allah, Yesus Kristus mem-berikan kuasa su-paya Anda mampu hidup untuk mela-kukan apa yang dikehendaki Allah. Maukah Anda mengamininya? Doakan Bersama : Seluruh masyarakat dan para pemerintahan khususnya menjelang SU MPR agar sadar dalam tanggung jawab mereka masing-masing dengan takut akan Tuhan |
Setiapkali memasuki tahun yang baru, biasanya di dalam diri kita ingin merasakan
sesuatu yang baru. Tetapi sebenarnya yang baru itu tidak ada "Tidak
ada sesuatu yang baru dibawah matahari...matahari terbit, matahari terbenam,
lalu berburu-buru menuju tempat ia terbit kembali."( Pkh. 1:9,5). Kalau diperhatikan nasehat Paulus juga bukan hal yang baru untuk dimengerti orang percaya di Efesus. Sebenarnya nasehatnya hanya bersifat ajakan untuk memperbaharui dasar kehidupan mereka sebagai orang yang percaya. Paulus prihatin melihat terjadinya pergeseran dasar kehidupan mereka sebagai orang percaya bahkan juga sebagai pemimpin-pemimpin gereja. Bukankah saat ini keprihatinan Paulus ada pada kehidupan kita. Tahun 1997 sudah kita lalui tetapi krisis tahun 1997 masih kita tanggung di tahun yang baru 1998. Belum lagi krisis yang satu belum teratasi datang krisis yang lain. Seakan hidup dalam dunia semakin berat dan menjadi beban yang sangat berat untuk kita pikul. Paulus mengajak orang percaya di Efesus untuk memandang kembali kepada teladan Kristus sebagai Rahasia yang Agung untuk menuntun kehidupan dan ibadah kita yang berkenan kepada Allah. Pertama, Tetap hidup rendah hati dan sederhana; Kedua, Menjaga kesucian hidup dam semua aspek kehidupan kita; Ketiga, Tetap memberitakan Injil Kabar Kesukaan kepada orang-orang yang belum percaya; Keempat, Berserah sepenuhnya kepada Tuhan, jangan menganggap dirimu lebih pintar dari Tuhan. |

Kasih Yang Sedih "Yerusalem...engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan
batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan
anak-anakmu, tetapi kamu tidak mau." |
Tanggal : 16 Januari 1998 Bacaan : Lukas 13:31-35 Refleksi : Bagaimana sikap Anda selama ini terhadap kesalahan orang lain? Marilah mengambil sikap yang didasari dengan kasih Allah. Doakan Bersama : Orang Aceh agar mereka dapat mendengar dan menerima Kabar Baik serta dicurahkan segala berkat dan ksih karunia Tuhan dalam konteks keselamatan. |
Suatu hari seorang ibu menangis dan menceritakan tentang anaknya, dia demikian
sedih menghadapi anaknya yang hidup tidak beres. Anaknya yang masih muda,
yang sangat diharapkannya, ternyata begitu mengecewakannya. Saat itulah
saya ingin menampung air mata sang ibu di suatu tempat dan menunjukkan pada
sang anak, agar dia melihat sendiri air mata ibunya yang menetes menangisi
segala tingkah lakunya yang tidak beres. Kalau ada yang mengatakan bahwa di surga itu tidak ada air mata, maka saya pernah mendengar satu pernyataan tegas dari seorang pendeta, bahwa di surga ada air mata, ada kesedihan yaitu ketika Allah demikian sedih menyaksikan anak-anakNya hidup jauh dariNya. Kasih Allah adalah kasih yang sedih, Allah mengasihi manusia tetapi Allah demikian membenci dosa. Dia adalah Allah yang suci, kasihNya juga merupakan kasih yang suci, dan atribut ini akan saling menyempurnakan. Sebagai anak Allah kita perlu belajar kasih yang demikian, kasih yang sejati bukanlah kasih yang membiarkan teman kita terus melakukan kesalahan, kasih yang sejati bukanlah kasih yang memaklumi kesalahan orang lain, tetapi bukan juga sikap yang menghindari mereka yang hidup dalam dosa. Kasih yang sejati adalah kasih yang menangisi dosa tetapi yang juga memperhatikan individunya dengan membantunya keluar dari dosa itu. Dalam bersosialisasi dengan orang lain seringkali kita merasa sungkan, merasa itu bukan urusan kita, yang penting kita hidup baik-baik. Tetapi tidak dengan Tuhan Yesus, Dia memperhatikan orang berdosa dan menolong mereka. |

Doa Bagi Negara "...naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk
semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar..." |
Tanggal : 17 Januari 1998 Bacaan : I Tim. 2:1-4 Refleksi : Doa orang benar, apabila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya. Doakan Bersama : Visi dan misi gereja terhadap masyarakat agar tidak terkesan eksklusif tetapi semakin turut aktif memperbaiki kondisi sosial disekitarnya. |
Menurut seorang pengamat ekonomi "kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan
ini banyak dipengaruhi oleh situasi sosial dan politik dan bukan lagi kondisi
ekonomi." Menurutnya, isu mengenai kesehatan Presiden membuat semua
bergerak secara a-rasional, nilai mata uang terus merosot dan harga-harga
bahan pokok melambung tinggi. Dr. Franz Magnis Suseno SJ berpendapat krisis
moneter yang sedang melanda bangsa dan negara saat ini merupakan simbol
dari adanya krisis moral dan krisis kepercayaan masyarakat kepada sistem
kekuasaan (Suara Pembaruan Daily, 17 Des 1997). Hal yang sama juga dikemukakan
dalam diskusi panel para ahli ekonomi, sosiologi dan anthropologi di Yogyakarta
pada 20 Des 1997 lalu (Kompas Online, 22 Des 1997). Sebagai warga Kerajaan Sorga dan juga rakyat negeri tercinta, kita mungkin tidak dapat berbuat banyak secara kasat mata terhadap problema moneter dengan segala implikasinya. Namun firman Tuhan mendorong agar kita menjadi warganegara yang memiliki rasa tanggung jawab atas nasib bangsa dan pemerintah kita; salah satu wujudnya adalah dengan berdoa bagi negeri kita. Paulus memakai empat kata, dari tujuh kata, tentang doa dalam PB. 'Permohonan' menunjukkan bahwa doa benar harus lahir dari rasa membutuhkan yang mencakup hasrat yang dalam. 'Doa' berarti berdoa kepada Allah. 'Syafaat' menunjuk bahwa doa merupakan percakapan dengan Allah. 'Ucapan syukur' merupakan ucapan syukur atas apa yang telah dikerjakan Allah bagi kita di masa lalu dan keyakinan bahwa Ia akan memenuhi kebutuhan kita di masa yang akan datang (TEBC). |

Wonderful Love "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang
demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan, yakni menjamah
dia." |
Tanggal : 18 Januari 1998 Bacaan : I Samuel 24:1-8 Refleksi : Caba renungkan ayat 8, Daudpun tidak mengijinkan orang lain menyerang Saul. Padahal bisa saja dia berpikir "biarlah orang lain yang membunuh dia bukan saya. Doakan Bersama : Kasih Allah berdiam dalam diri kita sehingga memampukan kita untuk melihat kebutuhan sekitar dan bertindak. |
Daud telah diurapi Tuhan menjadi raja Israel menggantikan Saul, tetapi Saul
tidak menyerahkan kedudukan itu bahkan mengejar Daud untuk membunuhnya.
Daud sebenarnya secara manusiawi layak membunuh Saul, karena itu kesempatannya
menjadi raja. Apalagi Daud dikejar-kejar bukan sendiri, tetapi ia bersama-sama
dengan keluarganya dan semua yang berkumpul bersamanya, 400 orang lainnya.
Hal itu pasti sangat merepotkan. Mereka harus bersembunyi dari satu gua
ke gua yang lain dari satu bukit ke bukit lain. Daud layak membalas sakit
hatinya kepada Saul. Tetapi apa yang kita lihat dari bacaan kita ini? Waktu itu Daud sudah diberi semangat oleh pengawalnya dengan kalimat yang kelihatannya rohani: "Telah tiba hari yang dikatakan Tuhan kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu." Bila mengingat semua sakit hati Daud, dan memang ia sudah diurapi oleh Tuhan menjadi raja, maka Daud pasti membunuhnya. Tetapi apa yang dilakukan Daud sangat tidak masuk akal. Teman-teman yang lain mengatakan "bunuh saja!" Daud malah berkata: "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan yang demikian." Daud hanya memotong ujung jubah Saul sebagai tanda bahwa sesungguhnya nyawa Saul waktu itu berada di tangan Daud. Kasih Daud kasih yang ajaib. Kalau kasih itu karena orang baik kepada saya itu bukan ajaib. Itu ordinary love, biasa. Tetapi Wonderful love, kasih menjadi ajaib adalah seperti yang Daud lakukan. Bagaimana sikap kita pada saat mengalami hal yang serupa dengan Daud? |

Tuhan Yang Membalaskan... "Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi
keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu." |
Tanggal : 19 Januari 1998 Bacaan : I Samuel 24:1-8 Refleksi : Apakah Anda berani menyerahkan semua dendan, sakit hati Anda kepada Tuhan, karena Dialah yang tahu apakah sakit hati Anda itu benar atau salah. Doakan Bersama : Kehidupan kerohanian kita agar melalui kesaksian hidup pribadi banyak orang percaya kepada Tuhan sehingga nama Tuhan dipermuliakan. |
Lalu, kalau kejahatan seperti yang dilakukan Saul kita biarkan semena-mena.
Lalu siapa yang akan membalaskan Saul? Daud punya iman yang kuat sekali
bahwa pembalasan itu adalah hak Tuhan. Tuhan pasti akan membalaskan sakit
hati anak-anakNya. Ia beriman tepat seperti Musa dibela oleh Tuhan saat
diberontak oleh Harus dan Miriam (Bil.12:9,10). Ia beriman bahwa pembalasan
adalah hak Tuhan (Rom. 12:19). Apa yang dikatakan Daud setelah ia tidak membalas Saul. Ia tidak diam, tetapi membela kebenaran dengan menjelaskan kepada Saul, bahwa ia tidak akan membunuh, atau menjamah Saul. Tetapi ada Tuhan yang melihat dan membalas segala perbuatan manusia sesuai dengan kelakuannya. Daud berkata:"Sebab itu Tuhan kiranya yang menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku." (ay.16). Dan Daud berkata dalam bagian yang lain: Demi Tuhan yang hidup, niscaya Tuhan akan membunuh dia; entah karena sampai ajalnya dan ia mati; entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap." (ay.26:10). Ini pernyataan luar biasa, yang punya implikasi: Daud sadar bahwa Tuhan yang tahu membedakan yang benar dan yang jahat. Apakah Daud atau Saul yang salah hanya Tuhan yang tahu secara sempurna. Dialah yang layak menjatuhkan hukuman; Daud percaya Tuhan pasti akan membalaskan sakit hati anak-anakNya. Caranya? Terserah Tuhan! (ay.26:10) |

Melihat Tanda Zaman "Hai orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya,
mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?" |
Tanggal : 20 Januari 1998 Bacaan : Lukas 12: 54-56 Refleksi : Bagaimana dengan kehidupan kerohanian Anda, sudahkah Anda benar-benar bersandar kepada Tuhan sebelum Anda mengalami kejatuhan yang menyakitkan. Doakan Bersama : Para orang tua agar bertanggung jawab kepada Tuhan dalam mendidik anak-anak mereka dalam mempersiapkan kehidupan sekarang dan masa datang. |
Salah satu penyebab kejatuhan dari sebagian usahawan dalam gejolak ekonomi
yang terjadi belakangan ini adalah gagalnya memprediksi apa yang akan terjadi.
Banyak orang secara berani menanamkan modal dengan pengetahuan yang 'dangkal'
tentang kondisi yang sedang terjadi. Dan itu harus dibayar dengan harga
mahal. Hal yang sama terjadi dalam kehidupan rohani anak-anak Tuhan. Banyak anak Tuhan yang mengalami pukulan-pukulan yang mengakibatkan kejatuhan dalam hidup dan membawanya ke dalam krisis, disebabkan karena mengabaikan tanda-tanda zaman yang semakin hari semakin memburuk. Kehidupan semakin berat, semakin merosot. Peperangan rohani yang semakin hebat menjelang kedatangan Tuhan yang semakin dekat, tidak diantisipasi dengan sikap siaga. Menghadapi kondisi kehidupan zaman yang begitu buruk pengaruhnya terhadap kehidupan iman dan kerohanian, banyak orang Kristen masih hidup dengan santai, tidak sadar akan bahaya yang sedang mengancam. Melihat kondisi hidup seperti sekarang ini, seharusnya orang kristen semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, semakin menuntut diri dalam pertumbuhan rohani. Tapi, sungguh patut disayangkan, banyak orang Kristen mengabaikan hal-hal yang penting ini, menganggap hidup masih berjalan dengan lancar, dan membiarkan diri dipengaruhi sedemikian rupa sehingga kerohanian terus digerogoti sampai keropos. Ini adalah sikap hidup Kristen yang sangat berbahaya, yang harus segera diperbaiki, sebelum kita benar-benar ikut terseret dan terjatuh dalam kemerosotan jaman ini. |

Mengendalikan Hati "Sesungguhnya aku, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku;
seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya seperti anak yang disapih
jiwaku dalam diriku." |
Tanggal : 21 Januari 1998 Bacaan : Mazmur 131 Refleksi : Masih pekakah Anda akan teguran Tuhan, di tengah-tengah dunia yang sudah tidak peduli ini? Doakan Bersama : Keseriusan, ketaatan, dan kerendahhatian kita dalam melayani Tuhan dalam segala bidang kehidupan. |
Salah satu penyebab kejatuhan manusia dalam kehidupan, adalah keinginan
hati yang tidak terkendali. Hati yang tercemar dosa, menyebabkan manusia
tidak pernah merasa puas, merasa diri layak menerima lebih banyak lagi dan
lebih banyak lagi. Orang ingin memanjat setinggi-tingginya, tanpa memikirkan
akibatnya kalau terjatuh, dan lupa apa yang dikatakan pepatah: "Semakin
tinggi orang memanjat, jatuhnya semakin sakit." Keinginan hati yang tidak terkendali, mendorong orang untuk meraih sesuatu yang di luar kapasitasnya. Spekulasi yang terlalu berani mengakibatkan kerugian bahkan kebangkrutan dalam usaha, kehausan akan gelar mendorong orang berlomba-lomba studi ke luar negeri, kembali dengan gelar yang tinggi membuat orang semakin sombong. Daud adalah seorang raja, tapi sebagai orang yang bergaul dekat dengan Allah, Daud memiliki kepekaan hati yang tajam. Dia tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan, dia hanyalah seorang manusia yang penuh kelemahan dan kekurangan, tapi yang dianugerahi Tuhan dengan panggilan hidup yang mulia. Kesadaran seperti itu membuat Daud selalu rendah hati, dan mengendalikan hatinya. Proses tersebut tidaklah mudah. Proses pengendalikan hati itu dilukiskan seperti seorang anak yang disapih. Anak yang disapih akan mengalami kekecewaan dan kepahitan tertentu, karena tidak mendapatkan apa yang dia ingin, tapi belaian penuh kasih sayang sang ibu yang menggendongnya pada akhirnya akan menenangkan dia. Itu yang dialami Daud. Bagaimana dengan anda? |

Cara Hidup Yang Baru "Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan
manusia, tetapi menurut kehendak Allah." |
Tanggal : 22 Januari 1998 Bacaan : I Ptr. 4:1-6 Refleksi : Seringkah Anda sebagai orang yang sudah dibaharui, tetapi masih hidup dengan cara yang lama. Itu masalah kebiasaan. Maukah Anda mengubahnya dengan berjuang melepaskannya bagi kemuliaan Tuhan? Doakan Bersama : Para dokter agar meningkatkan profesionalisme mereka dalam takut akan Tuhan dalam memberikan kasih kepada pasiennya. |
Orang Kristen adalah orang yang telah dipanggil oleh Allah keluar dari kegelapan,
suatu hidup tanpa Allah masuk ke dalam terang yaitu pengenalan akan Kristus
dan keselamatannya. Keduanya ini diperoleh bukan karena jasa yang telah
mereka buat agar menjadi umatNya, melainkan karena belas kasihan dan anugrah
Allah. Kini tugas yang diemban oleh orang Kristen adalah tugas keimaman,
datang kehadirat Allah untuk memberitakan perbuatan-perbuatan ajaib yang
telah Ia lakukan bagi mereka dan bagi yang lain melalui puji-pujian dan
kesaksian. Oleh sebab itu, orang-orang Kristen harus memiliki gaya hidup yang baru dan berakar dalam pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Pemuasan diri dan hawa nafsu alami yang buruk harus ditinggalkan. Sebab ini bukan pribadi seorang Kristen yang benar dan dapat menghancurkan hidup rohani. Sebagai orang Kristen kita harus mendisiplin diri untuk mengatakan tidak kepada cara-cara hidup yang duniawi dan bersifat kedagingan, serta menjauhkan diri dari gaya hidup orang-orang tidak mengenal Allah yang mana dahulu kita pernah berhubungan dengan akrab (ay.3). Sebagai gantinya kita harus menggunakan waktu yang tersisa ini untuk melakukan kehendak Allah (ay.2) dengan bersikap baik dan melakukan perbuatan-perbautan yang baik. Hal ini akan mempermalukan mereka yang mencoba memfitnah kita sebagai orang Kristen. Bahkan kalau boleh Tuhan berkenan menyelamatkan mereka.Ini adalah kesaksian hidup kita di dalam Kristus yang telah siap sedia untuk menghakimi orang yang hidup maupun yang mati (ay.5). |

Ucaplah Syukur Senantiasa "Aku akan mempersembahkan korban syukur kepadaMu, dan akan menyerukan
nama Tuhan." |
Tanggal : 23 Januari 1998 Bacaan : Mazmur 116:1-17 Refleksi : Mengucap syukur dalam kondisi baik itu mudah, tetapi jika kondisi Anda tidak baik apakah Anda masih tetap mengucap syukur? Doakan Bersama : Seluruh masyarakt Indonesia agar dalam segala masalah yang dihadapinya dapat tetap tenang dan menyelesaikannya dengan bijaksana dari Tuhan. |
Ucapan syukur kepada Tuhan dapat dilakukan orang Kristen karena dua perkara: 1. Orang Kristen mengucap syukur kepada Tuhan karena pertolonganNya atau problemanya dapat diselesaikan dengan baik. Ucapan syukur ini wajar dan seharusnya demikian. 2. Orang Kristen yang mengucap syukur kepada Tuhan, bukan dalam kondisi yang baik tetapi dalam keadaan yang sulit. Bila usahanya macet, tokonya sepi, kesehatannya kurang baik masih dapat mengucap syukur kepada Tuhan. Dalam Alkitab kita dapat membaca Ayub. Ayub mengucap syukur kepada Tuhan bukan saja dalam kondisi yang baik. Alkitab menceritakan bahwa pada saat Ayub kehilangan anak-anaknya, hartanya. Ayub bersedih tetapi Ayub tetap mengucap syukur kepada Tuhan. (Ayub 1:20-21). Tidak mudah bagi orang Kristen untuk berbuat seperti Ayub. Apabila orang kristen mengasihi Tuhan sebagai Bapa, ia menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Bapa. Jadi apapun yang terjadi bukanlah menganggap Bapa melakukan suatu hal yang tak patut. Oleh karena itu ia tidak mengucap syukur. Alkitab berkata: "Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut" (Ayub 1:22). Ucapan syukur semacam itu sangatlah mahal harganya di mata Tuhan. Orang yang tidak mengucap syukur kepada Tuhan dalam kesesakan adalah orang yang tidak mengerti anugerah Tuhan. Oleh sebab itu ucaplah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. |

Sederhana Di Tengah Krisis "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan
yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." |
Tanggal : 24 Januari 1998 Bacaan : Fil. 2: 1-11 Refleksi : Anda ditakdirkan bukan untuk hidup sendirian di muka bumi ini, melainkan untuk hidup bersama di dalam bangsa yang pluralistis demi memberi kesaksian yang jitu. Doakan Bersama : Saudara-saudara seiman kita yang saat ini sedang dipenjara, dihukum secara tidak adil , kiranya mereka tetap berani memperjuangkan iman mereka dengan kebenaran. |
Natal tahun 1997 telah berlalu. Dari sekian pesan Natal tersebut ada satu
pesan yang patut kita cermati dan renungkan bersama sebagaimana ditulis
dalam Tajuk Kompas Online pada 24 Des 1997 lalu. Tajuk tersebut mengajak
pembaca untuk merayakan Natal secara sederhana di tengah-tengah suasana
prihatin akibat krisis ekonomi, dampak kemarau panjang, dsb. Namun himbauan
itu seharusnya diberlakukan bukan saat merayakan Natal saja, melainkan kita
aminkan dalam kehidupan kita di sepanjang tahun 1998 ini. Sebab kita hidup
di tengah konteks Indonesia yang sedang dilanda krisis moneter dengan segala
implikasi dan dampaknya. Yesus Kristus memang datang dalam kesederhanaan. Ia lahir tanpa keperdulian dan dibaringkan di palungan. Maria, ibunya, hanya gadis dusun yang sederhana. Sedangkan Yusuf, ayahnya, hanya seorang tukang kayu. Namun kesederhanaan Yesus tidak berhenti sebatas Natal pertama, tetapi diteruskan di sepanjanng hidupNya di bumi, sebab kesederhanaan merupakan pola hidup Yesus. Ia dikenal masyarakat zamanNya sebagai 'tukang kayu dari Nazareth'. Ia adalah Allah (dan tetap sebagai Allah) yang rela mengosongkan diriNya dengan mengambil rupa seorang hamba, bahkan Ia rela mati di kayu salib (hukuman paling hina) demi kita manusia berdosa. Yesus yang sederhana dan bersahaja telah menjadi korban tebusan bagi kita manusia berdosa. Dalam suasana prihatin dan muram seperti ini, marilah kita tidak bermewah-mewah dan menghasut timbulnya kecemburuan sosial melalui pola hidup kita, melainkan meniru pola hidup Yesus yang sederhana dan bersahaja itu. |

Kasih Yang Supranatural "Sebab kasih setiaMu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan
memegahkan Engkau." |
Tanggal : 25 Januari 1998 Bacaan : Mazmur 63:1-5 Refleksi : Apakah Anda orang yang sulit mengucap syukur dalam segala hal? Biarlah kasih Allah memenuhi Anda! Doakan Bersama : Mohon Tuhan memberkati bangsa Indonesia dengan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. |
Allah menciptakan manusia dan alam, di mana alam diciptakan oleh Allah untuk
dikelola oleh manusia. Jadi bukankah memang sudah jelas bagi kita bahwa
manusia sesungguhnya adalah ada di antara Allah dan alam. Ketika alam yang ada disekitar kita ini dicipta untuk memenuhi kebutuhan manusia tetap tidak bisa diartikan bahwa manusia bisa dipuaskan oleh alam. Memang manusia tidak akan pernah bisa dipuaskan oleh alam saja ketika keinginan untuk mempunyai sepeda dipenuhi, maka muncullah keinginan untuk membeli sesuatu yang lebih dan lebih lagi. Lalu apakah sudah puas, bukankah kemudian tiba waktunya memikirkan istri yang cantik, rumah yang mewah, bisnis yang sukses, uang yang banyak dan seterusnya dan seterusnya. Bila melihat dua hal ini kita akan menyadari betapa pentingnya kasih Allah itu, sesuatu yang bukan dari alam, sesuatu yang jauh lebih berharga dari alam. Dan hanya dengan itulah kita bisa dipuaskan. Semua kita membutuhkan kasih Allah, kalau selama ini kita menjadi orang yang tidak pernah puas, sulit mengucap syukur dalam segala hal, mungkin yang harus kita pertanyakan dalam diri kita adalah apakah kita telah menerima kasih Allah itu. Bagi kita yang telah menerimanya, mari kita mengingat akan yang lain, mereka yang jelas sangat membutuhkan kasih Allah itu, tetapi belum menerimanya. Mari kita membagikannya. Di dalam diri setiap kita ada satu tempat yang tidak dapat diisi oleh sesuatu yang lain kecuali kasih Allah, kasih yang bukan dari alam, tetapi kasih dari Sang Pencipta. |

| Kasih Allah Kepada Murid-MuridNya Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-muridNya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. ( Yohanes 13:1b ) |
Tanggal : 26 Januari 1998 Bacaan : Yohanes 13:1-5 Refleksi : Sudahkah Anda merasakan kasih Allah yang sedemikian besar kepada Anda?
Berikan beberapa contoh kongkrit kasih Allah kepada Anda dalam Alkitab dan
pengalaman hidup Anda! Ucapkanlah syukur kepada Tuhan! Doakan Bersama : Orang-orang yang terikat dalam kebiasaan minum obat-obatan, melakukan sex bebas, berjudi, dll. kiranya kasih Tuhan senantiasa mengubah mereka. |
Sebagian besar ahli Alkitab setuju bahwa Injil Yohanes ditulis oleh rasul Yohanes dengan maksud memberi konfirmasi terhadap kebenaran ketiga Injil yang terdahulu dan menambahkan beberapa hal yang luput dari perhatian ketiga penulis Injil yang lain. Rasul Yohanes, sebagai murid yang (paling) dekat dengan Tuhan Yesus, menuliskan beberapa peristiwa dengan lebih detil dan memberikan arti yang lebih dalam tentang peristiwa-peristiwa yang dicatatnya. Hari ini kita akan memperhatikan kasih Allah dengan lebih mendalam. Pertama, kasih Allah sampai kepada kesudahannya. KasihNya kepada kita bersifat kekal. Apakah kasih Allah mempunyai titik awal dan akhir? Dalam suratnya yang lain Yohanes mencatat bahwa Allah adalah kasih (I Yoh.4:16b, God is love) dan yang jelas Allah mengasihi kita lebih dulu, tapi kapan? Sebelum dunia dijadikan (Ef.1:5, Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula ). Sampai kapan Allah mengasihi kita? sampai kesudahannya. Apakah ini berarti menunjuk kepada akhir ketaatan manusia, kalau taat Allah mengasihi dan kalau tidak taat Allah tidak mengasihi? Jelas tidak, yang dimaksud oleh Yohanes di sini kepada murid-muridNya Allah menyatakan kasihNya dengan lebih khusus dan pribadi. Dalam 14:21 Yohanes menjelaskan dengan lebih tuntas: Barangsiapa memegang perintahKu dan melakukannya (orang Kristen sejati), dialah yang mengasihi Aku. Barangsiapa mengasihi Aku, ia dikasihi oleh BapaKu dan Akupun mengasihi dia dan menyatakan diriKu kepadaNya. Tidak ada perdebatan dalam hal ini! |

| KasihNya Menembus Dinding Pemisah Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahnya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, menuangkan air membasuh kaki lalu menyekanya ... ( Yohanes 13:4-5 ) |
Tanggal : 27 Januari 1998 Bacaan : Yohanes 13:1-5 (lanjutan) Refleksi : Apa yang Allah lihat dalam diri seseorang menurut Anda? Bagaimana seharusnya Anda memandang dan memperlakukan orang lain? Nyatakan tekad Anda di hadapan Tuhan untuk meneladani Tuhan Yesus! Doakan Bersama : Pejabat-pejabat pemerintahan yang terpilih dalam SU MPR mempunyai hati yang benar-benar takut akan Tuhan saat mereka menjalankan roda pemerintahan. |
Sudah terlampau banyak dinding pemisah yang didirikan manusia untuk memisahkan
dirinya terhadap sesamanya. Entah itu status warga negara, status keturunan,
status kekayaan, status pendidikan, status kedudukan, atau bisa juga postur
fisik. Hal ini bukan berarti bahwa kita sebagai umat Allah diperbolehkan
melakukan hal yang serupa. Mungkin ada orang yang bertanya-tanya: Apa salahnya? Toh Tuhan menciptakan manusia dengan keragamannya dan mengijinkan adanya perbedaan status sosial dalam kehidupan bermasyarakat? Benar! Perbedaan status memang diijinkan Tuhan dan ini adalah fakta. Yang salah adalah ketika manusia menjadikan status itu sebagai alasan ia boleh merendahkan yang lain dan mengangkat dirinya menjadi lebih tinggi daripada yang lain. Atas kuasa apa seorang manusia memperhitungkan yang lain tidak lebih berharga daripada dirinya di hadapan Tuhan? Di sini terdapat perbedaan cara pandang antara manusia dan Tuhan. Manusia melihat apa yang kelihatan dan hanya terbatas kepada pemikirannya sedangkan Allah melihat lebih jauh kepada realita yang sesungguhnya, yaitu bahwa semua manusia adalah sama di hadapanNya. Tuhan Yesus memberikan sebuah teladan (ay.15), sebagaimana Ia yang adalah Guru dan Tuhan (ay.13). Dalam tindakanNya ini Yesus tidak hanya mengajarkan bahwa kita harus saling mengasihi dan melayani tetapi lebih daripada itu, kasih tersebut harus nyata dan dapat dirasakan oleh orang lain. Tidak hanya di mulut tetapi harus terwujud. Dia Tuhan dan Guru saja melakukannya apalagi kita? |

Kasih Yang Kekal "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak
menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak
akan melupakan engkau." |
Tanggal : 28 Januari 1998 Bacaan : Yes. 49:8-26 Refleksi : Marilah mengucap syukur akan kasih Allah yang kekal! Marilah belajar mempunyai kasih yang demikian. Doakan Bersama : Perilaku umat Kristen ditengah lingkungan yang bukan Kristen agar pandai membawa diri, tidak lupa identitas, dan menjadi berkat bagi sekelilingnya. |
Seorang pendeta yang saya kenal pernah mengatakan hal demikian: "Saya
tahu dengan jelas bahwa ayah saya sangat mengasihi saya, tetapi maaf kalau
saya mengatakan hal ini; bahwa kasih ayah saya itu terbatas, saya hanya
merasakannya selama empat tahun. Ayah saya meninggal dunia waktu saya masih
berusia empat tahun. Demikianlah kasih manusia, kasih yang demikian dibatasi
oleh banyak hal, khususnya waktu." Penjelasan sang pendeta itu demikian gamblang, memang kasih manusia terbatas sekali. Bukankah kita sering mendengar (bahkan pernah mengalami) suami yang menyeleweng dengan wanita yang lain padahal jelas dia pernah berjanji untuk setia; kita juga mendengar bagaimana seorang istri juga bisa berkhianat terhadap suaminya. Mungkin satu-satunya kasih yang sering dilukiskan dengan indah di dunia ini adalah kasih seorang ibu terhadap anak yang dikandung dan dilahirkannya, bahkan banyak lagu yang menggambarkannya. Alkitabpun berbicara tentang hal ini bagaimana seorang ibu tidak akan lupa untuk menyusui anaknya. Tetapi jika ada seorang ibu yang menyia-nyiakan anaknya (bukankah dewasa ini justru kita sering mendengar berita tentang aborsi), Allah sekali-kali tidak meninggalkan kita, karena kasihNya sangat indah. KasihNya kekal dan tidak berubah. Bagi kita yang saat ini bersedih karena dikecewakan oleh seorang yang demikian kita kasihi, mari kita mengingat akan kasih Allah yang kekal dan setia. Dia mengasihi kita, dan dengan kekuatan itulah kita belajar menjadi seperti Dia yang setia. |

Kasih Yang Berinisiatif "Inilah kasih itu: bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi
Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutusnya AnakNya sebagai
pendamaian bagi dosa-dosa kita." |
Tanggal : 29 Januari 1998 Bacaan : Yes. 65:1-7 Refleksi : Sudahkah Anda mempunyai sifat yang berinisiatif dalam hal kasih? Jika belum marilah belajar melakukannya dari persekutuan kecil terlebih dahulu. Doakan Bersama : Mohon Tuhan membangkitkan bagi bangsa Indonesia para hamba Tuhan yang benar-benar mempunyai suara kenabian bagi zamannya, dan setia kepada kebenaran Firman Tuhan. |
Rasul Yohanes terkenal dengan sebutan rasul kasih, hal ini disebabkan karena
dialah rasul yang paling sering berbicara tentang kasih. Dia sering menasetkan
jemaatnya untuk berkasih-kasihan, hidup tidak ribut tetapi saling mengasihi.
Dia sering menggambarkan dengan indah bagaimana manisnya kasih itu. Tetapi di dalam ayat mas yang kita baca hari ini dia dengan jelas menjelaskan tentang definisi kasih itu, bukan kita yang terlebih dahulu mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang berinisiatif untuk mengasihi manusia berdoa. Bukankah dari sini kita langsung bisa melihat betapa berbedanya kasih Allah itu dengan kasih yang kita punya. Kasih kita seringkali bukanlah kasih yang berinisiatif tetapi justru seringkali merupakan kasih yang demikian pasif. Kita menunggu orang lain bisa mengasihi kita baru kemudian kita membalasnya, itupun seringkali harus menunggu orang lain menyatakan kasihnya itu berkali-kali pada kita. Sebaliknya bila bicara tentang benci, kita sering melakukannya dengan demikian aktif, bahkan kita cenderung membalas yang jahat dengan yang lebih jahat. Itulah manusia. Tetapi Allah menjelaskan hal yang berbeda dan Dia mau supaya kita belajar untuk mempunyai kasih yang aktif, kasih yang selalu berinisiatif. Semakin banyak orang yang berinisiatif dalam hal kasih di gereja akan semakin banyak orang yang akan merasakan kehangatan dan keindahan kasih itu. Sebaliknya semakin banyak orang yang menunggu untuk menerima kasih baru dia akan mengasihi, akan semakin sedikit saja orang yang akan menerimanya. |

Kasih Yang Ajaib "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal." |
Tanggal : 30 Januari 1998 Bacaan : Yoh. 3:14-18 Refleksi : Marilah mengucap syukur akan kasih Allah yang ajaib dan lebih menghargai dengan melayani Dia lebih benar! Doakan Bersama : Para calon wakil rakyat yang akan datang agar mereka mempersiapkan diri dalam menjalankan tanggung jawab mereka lebih baik. |
Mengasihi orang yang menyenangkan adalah hal yang tidak sulit untuk dilakukan.
Tetapi mengasihi orang yang seharusnya kita tidak suka...? Bila kita mau mengerti akan kasih Allah mungkin orang yang mempunyai anak akan sedikit lebih mampu untuk membayangkannya. Bagaimana perasaan kita jika suatu hari kita akan menyerahkan anak kita satu-satunya, kepada orang lain betapa susahnya hati kita, dan demikian dengan Allah. Tetapi apa yang terjadi dengan Allah jauh lebih indah, karena kalau kita menyerahkan anak kita pada orang lain tentu kita akan memilih orang yang lebih baik dari kita yang dapat menyayangi anak kita. Tetapi ketika Allah menyerahkan anakNya yang tunggal, Dia menyerahkanNya pada musuh Allah yaitu manusia, yang akan membunuhNya, menyiksaNya, memfitnahNya bahkan menyalibNya. Bisakah Dia tetap menyerahkan AnakNya yang tunggal untuk menyelamatkan manusia, demikian besarnya kasih Allah itu. Itulah kasih yang ajaib. Bila ada di antara kita yang merasa diri hebat sehingga memang layak menerima kasih Allah, saat ini juga kita harus bertobat. Kita ini demikian kecil, berdosa, mana mungkin kita membanggakan diri dengan menerima kasih Allah. Itu semata-mata karena kasih yang ajaib. Mari kita mengerti hal ini benar-benar dan mengkoreksi pelayanan. Jika kita mempunyai suara yang indah dan melayani dengan luar biasa dalam koor, kita mempunyai uang yang banyak dan menyumbang luar biasa besar untuk gereja, itu bukan karena kita hebat. Tetapi alasan satu-satunya adalah kasih yang ajaib itu yang memampukan kita berbuat demikian. |

Menjadi Bertambah Bijaksana "Ajarlah kami menghitung-hitung hari kami sedemikian, hingga
kami beroleh hati yang bijaksana." |
Tanggal : 31 Januari 1998 Bacaan : Mazmur 90 Refleksi : Tuhan mampukan saya menghitung hari hari saya, agar saya memperoleh hati yang bijaksana. Doakan Bersama : Lembaga-lembaga pendidikan supaya dapat mengembangkan programnya yang benar bagi peningkatan moralitas bangsa. |
Ketika kita masih kecil, kita sangat antusias menanti pergantian tahun.
Perasaan antusias seperti itu akan berangsur-angsur hilang ketika orang
memasuki usia pertengahan, karena secara alam bawah sadar orang akan merasa
hilang, tidak lagi nyaman dengan usia yang terus bertambah, dengan diri
yang semakin menua. Setiap orang bertambah tua. Tapi bertambah tua tidaklah otomatis menjadikan orang semakin bijaksana. Mengapa pertambahan usia seringkali tidak membuat orang menjadi semakin 'berisi', semakin bijak? Kesalahan umum yang terjadi dengan orang-orang yang berusia banyak adalah kesombongan atau rasa senioritas yang berlebihan. Pertambahan usia menjadikan orang merasa bangga dengan pengalaman hidupnya. Musa dalam mazmur doanya mengutarakan suatu kebenaran yang sangat berharga, dia berdoa memohon kepada Tuhan supaya diajar untuk menghitung hari-hari sedemikian, sehingga dia beroleh hati yang bijaksana. Ketika usia bertambah jangan dihitung dengan cara menjumlah tapi hitunglah dengan cara mengurangi. Bahkan setiap hari yang kita lewati, harus dihitung sebagai pengurangan, bahwa sisa hidup kita sudah berkurang lagi satu hari. Orang yang menghitung hari-hari hidupnya dengan cara seperti itu, baru akan mulai memikirkan; apa yang saya isi dalam hidup yang semakin singkat ini? Bagaimana saya mempertanggungjawabkan hidup saya ketika saya menghadap Sang Pencipta dan Hakim yang benar itu? Biarlah kita memiliki hidup yang lebih bijaksana pada tahun 1998 yang baru ini. |


husen@hotmail.com