| Januari 1999 |
| Prakata |
|
| Senin | Selasa | Rabu | Kamis | Jumat | Sabtu | Minggu |
|
|
|
3 | ||||
| 4 | 5 |
|
|
|
|
10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |
|
Tahun 1998 telah kita tinggalkan
dan sudah menjadi catatan sejarah. Telah 365 hari kita lalui
dengan hati yang cemas, kuatir, dan takut, bak menelusuri lorong
gelap nan penuh bahaya dan misteri. Di awal tahun 1999 ini, lorong
nan gelap itu masih belum menampakkan ujung yang menjanjikan
pembebasan, sebab krisis yang bermulti-dimensi masih mendera
kita. Krisis ekonomi belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan
yang pasti, krisis sosial masih meneror dengan maraknya kerusuhan-kerusuhan
di berbagai tempat, dan krisis politik nampak akan memanas menjelang
pemilu pada pertengahan tahun ini. Namun, syukur pada Tuhan,
kita masih diberi rahmat dan kekuatan sehingga dapat melewati
tahun 1998 nan gelap itu. |

|
Hari Pertama Di Awal Tahun 1999 "DiberikanNya rezeki kepada orang-orang yang takut
akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjianNya." |
|
Tanggal : 1 Januari 1999 Bacaan : Mzm. 111:1-10 Refleksi : Bersyukurlah pada Tuhan, di awal tahun 1999 ini, karena inilah sikap yang patut. Dan percayakan masa depan kita hanya padaNya. Doakan Bersama : Mari kita memohon pertolongan kepada Tuhan agar kita lebih peka dan bersandar hanya kepada Tuhan Yesus Kristus di tahun 1999 ini. |
Inilah hari pertama kita di awal tahun 1999. Mengawali tahun
ini, marilah kita terus berdoa dan bertekad, untuk mengasihi
Dia, melayaniNya, dan tetap setia dan berpegang teguh pada FirmanNya.
Sediakanlah waktu untuk menaikkan syukur dan pujian kepadaNya,
Allah yang Maha Tinggi, yang berlimpah kasih setiaNya. Seperti
kata pemazmur: "Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN
dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam
jemaah. Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh
semua orang yang menyukainya" (ay. 1-2). Banyak peristiwa yang telah terjadi sepanjang tahun yang baru kita lewati, yang membuat kita cemas, kuatir, marah dan masih banyak lagi perasaan yang lain tentunya. Namun demikian, Tuhan masih tetap menunjukkan kasih setiaNya kepada kita, sehingga kita dapat melewati hari-hari yang sulit itu. Untuk berbagai perkara ajaib inilah kita mau bersyukur dan memuji kebesaranNya. Dia yang telah memulihkan dan memimpin kehidupan keluarga, pekerjaan, studi dan gereja kita hingga keberadaan semuanya itu tetap terpelihara hingga hari ini. Hari pertama di awal tahun 1999, marilah kita menapakinya dengan semangat dan sikap yang optimis serta menggantungkan seluruh pengharapan kita di tahun ini hanya kepada Tuhan. Kita percaya sepenuhnya akan kebaikan dan kasih setia Tuhan di dalam memelihara hidup kita, karena Dia setia adanya. "DiberikanNya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjianNya" (ay.5). SELAMAT TAHUN BARU 1999! |

|
Evaluasi Diri "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah
aku dan kenallah pikiran-pikiranku." |
|
Tanggal : 2 Januari 1999 Bacaan : II Kor. 13:11; Refleksi : Orang yang bijaksana tidak akan berpuas diri dengan segala kelemahannya melainkan berusaha untuk terus menjadi lebih bijaksana. Doakan Bersama : Komitmen kita di tahun 1999 ini, kiranya Tuhan senantiasa memberikan semangat dan kerinduan untuk selalu melayani Tuhan. |
Tidak banyak orang yang optimis dengan lapangan usaha saat ini.
Mungkin manusia tidak dapat merencanakan suatu usaha yang pasti
pada tahun ini. Tetapi tidak sedikit orang yang berusaha meningkatkan
daya kerja ditengah kondisi yang sulit saat memasuki awal tahun
ini. Sebagai orang percaya, apa yang Anda lakukan pada awal tahun? Sudahkah engkau merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan kerohanianmu? Sudahkah Anda memikirkan suatu proyek ketaatan yang perlu dikerjakan dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan kerohanian Anda? Paulus mengatakan usahakanlah dirimu sempurna. Diperlukan ketekunan dalam melakukan Firman Tuhan. Kesempurnaan tidak dapat diperoleh tanpa upaya atau pengorbanan. Proyek ketaatan itu mungkin, mengampuni dan mengasihi orang yang Anda anggap tidak patut dikasihi? Atau tidak ingin jatuh dalam dosa yang sama? Atau dapat mengendalikan diri dalam hal memboroskan perkataan, kemarahan, berpesta pora? Atau tetap memiliki damai yang sejati dalam menghadapi banyak masalah? Atau ingin belajar mengucap syukur atas segala perkara? Atau memperbaiki persembahan Anda kepada Tuhan, berupa persembahan perpuluhan, waktu, atau talenta Anda? Sebaiknya Anda membuat satu daftar proyek ketaatan untuk tahun ini, terutama bagi perkara yang sulit Anda lakukan. Mohon Tuhan senantiasa menyelidiki hati Anda, minta kekuatan dari Tuhan setiap hari, maka pada akhir tahun saat mengevaluasi diri, Anda akan melihat hasil yang mengejutkan jika Anda sungguh-sungguh mentaati proyek ini. |

|
Sertakan Tuhan Dalam Perencanaan "Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya,
kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." |
|
Tanggal : 3 Januari 1999 Bacaan : Yak. 4:15 Refleksi : Kehidupan ini menjadi bermakna hanya jika rencana hidup kita didasarkan dan diarahkan oleh kehendakNya! Doakan Bersama : Aparat keamanan agar diberi keberanian, kekuatan, hikmat, dan kebijaksanaan di dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk mengamankan segenap rakyat Indonesia. |
Tahun yang baru seringkali memberikan harapan-harapan baru. Betapapun
sulitnya kehidupan tahun lalu, semuanya tokh sudah lewat. Banyak
orang memasuki tahun yang baru dengan semangat dan tekad yang
baru. Maka disusunlah rencana-rencana baru: apa yang akan aku
lakukan dan capai? Ke arah mana usahaku dikembangkan? peluang-peluang
apa yang ada. Banyak orang berasumsi bahwa dia mampu dan sudah belajar dari kegagalan yang lalu, dan dengan bertambahnya pengalaman hidup orang menjadi semakin yakin bahwa kali ini dia akan berhasil, atau dapat melakukan dengan lebih baik. Pandangan positif seperti itu sendiri tidak terlalu salah. Hanya, seharusnya kita sadar bahwa keberhasilan kita tidak ditentukan semata-mata oleh kesempatan baru dan pengalaman yang bertambah. Ada faktor X yang ikut menentukan keberhasilan atau kegagalan kita, yakni penyertaan Tuhan di dalam segala hal yang kita lakukan. Alkitab menekankan pentingnya mencari dan hidup sesuai dengan kehendakNya, serta menyertakan Tuhan bahkan sejak perencanaan. Bukankah seharusnya kita menyadari bahwa salah satu penyebab kegagalan kita tahun lalu karena kita tidak menyertakan Tuhan dalam perencanaan, tapi hanya membutuhkan Dia saat usaha kita mengalami kesulitan? Bukankah kegagalan tersebut membuktikan bahwa usaha kita tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri? Mari kita perbaiki kesalahan kita, karena kita dipanggil untuk memuliakan Bapa. Setiap rencana kita gumuli sungguh-sungguh dihadapan Tuhan, dan berprinsip: apa yang kita lakukan sungguh akan memuliakan Dia. |

|
Kiat Untuk Diberkati "Jika engkau mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan
melakukan dengan setia segala perintahNya... pada hari ini, maka
Tuhan, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa
di bumi" |
|
Tanggal : 4 Januari 1999 Bacaan : Ul. 28:1-46 Refleksi : Mencari Tuhan dan melakukan perintahNya itu merupakan kiat diberkati oleh Tuhan. Doakan Bersama : Pertumbuhan rohani dan kehidupan pribadi umat Kristen dalam hal doa, saat teduh, PI, dan persekutuan. |
Saat memasuki tahun yang baru, tahun 1999, banyak orang membuat
suatu "wishing". Tentu pengharapan itu adalah yang
mendatangkan keberuntungan, bukan kemalangan. Firman Tuhan sudah memberi petunjuk bagi keinginan yang baik. "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintahNya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka Tuhan, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi" (ay. 1). Jika engkau melakukan Firman Tuhan, maka berkat akan datang pada keluargamu. Berkat pertama, berupa materi. Ladang akan menghasilkan buah dan peternakan akan menghasilkan anak lembu sapi, kambing, dan domba. Akan cukup makanan dalam menghidupi keluarga. Berkat kedua, secara keamanan. Di mana jika engkau keluar masuk akan dijagai oleh Tuhan. Sebaliknya, jika kita tidak mau setia mendengar suara Tuhan dan melakukan segala perintahNya, maka kutuklah yang datang pada kita (ay.15). Terkutuklah buah kandungan, hasil bumi, kambing domba serta bakulmu. Sekalipun engkau telah mengusahakan kebun-kebun anggur, tetapi engkau tidak meminum dan menyimpan anggur. Sakit penyakit akan menimpa dan tidak dapat terluput dari huru-hara. Semua usahamu akan binasa karena kejahatan dari pada perbuatanmu sendiri. Dengan kondisi saat ini, semakin jelas bahwa kekuatan manusia tidak dapat melakukan perbaikan. Kepada siapakah engkau meletakkan harapan hidupmu? Berkat itu tidak jauh darimu, jika engkau mau terus dekat pada Firman Tuhan dan menaatiNya dengan setia. |

|
Tuhanlah Yang Menetapkan "Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu dan jalanmu |
|
Tanggal : 5 Januari 1999 Bacaan : Yes. 55:8 Refleksi : Kita dibatasi oleh banyak hal yang tidak terbatas. Sebab itu bijaksana jika kita bersandar pada Dia yang tidak terbatas. Doakan Bersama : Gereja-gereja Tuhan agar menjadi gereja yang berdoa sehingga dapat bertanggung jawab dan terus berbuah untuk kemuliaan nama Tuhan. |
Memasuki tahun baru ini, tidak jarang dalam kehidupan kita ada
rencana-rencana yang sudah kita persiapkan, mungkin itu berupa
hari pertunangan atau pernikahan, membuka usaha baru atau tamasya
ke luar negeri. Namun kalau di dalam rencana kita ini tidak ada
campur tangan Tuhan, maka apabila Anda gagal jangan menyalahkan
Dia. Optimis itu perlu namun optimis yang tanpa disertai Tuhan
itu namanya kesombongan. Sebelum pesawat Challenger meledak pada 28 Januari 1986, para wartawan dari berbagai negara mengadakan wawancara dengan para awak pesawat. Salah satu hasil wawancara yang cukup menarik adalah kesan dari seorang astronot wanita yang bernama Christina Mc Auliffe, mantan seorang guru yang tergabung dalam misi Challenger 1986. Kalimat yang diucapkan Christina adalah "Saya akan merasa tenang, aman dan nyaman sekali nanti apabila Challenger 1986 ini diluncurkan, saya akan menikmati jalan yang bebas hambatan sama sekali; tidak seperti lalu lintas di negara Amerika yang penuh hiruk pikuk dan polusi udara." Benar apa yang dikatakan astronot wanita itu, pesawat Challenger itu kemudian meledak 90 detik setelah diluncurkan. Sungguh suatu kematian yang cukup tragis dan mengerikan. Manusia merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Sering kita lupa akan hal ini, sebab kita lebih berpedoman pada pemikiran kita. Mungkin ada banyak hal di dalam kehidupan kita yang masih tidak mengundang campur tangan Tuhan, biarlah mulai detik ini kita mau mohon pengampunan dan mengundang kembali Tuhan untuk menguasai segala aspek kehidupan kita. |

|
Ketika Perlindungan Diberikan "... Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu
melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib
menebus kami." |
|
Tanggal : 6 Januari 1999 Bacaan : Rut 3 Refleksi : Sabar dan beriman bukan semudah membalik tangan, butuh latihan dan kesabaran untuk menjalaninya. Doakan Bersama : Fungsionaris FKKI, Bamag Jatim, Bamag Surabaya, dan para pemimpin gereja agar dapat menyikapi berbagai permasalahan yang ada dengan terang Firman Tuhan dan bijaksana. |
Wajar bila kita ingin segera menyelesaikan permasalahan yang
berkepanjangan. Naomi sadar bahwa manuver harus segera dilakukan
untuk mendahului segala "cara" formalitas yang tak
berpihak padanya. Pertaruhannya adalah menantu yang dikasihi.
Naomi menunjukkan gairah untuk menyutradarai sendiri drama kehidupannya.
Segala taktik dibeberkan kepada Rut hingga detilnya yang bahkan
membahayakan reputasi Rut. Seolah tujuan menghalalkan segala
cara. Lagi-lagi kebisuan Yahweh nampak menguat di sini. Naomi
justru dengan leluasa menjadi "dalang" bagi sebuah
pengalaman mendebarkan: menjadi bahagia atau terpuruk dalam nista. Rutpun sekali lagi menunjukkan bahwa integritasnya dapat diandalkan. Demi kebahagiaan mertuanya, segala permintaan itu dipenuhinya. Dengan hati-hati dilakukannya tepat semua yang direncanakan. Keterkejutan Boaz segera sirna ketika mengetahui yang ada dihadapannya adalah seorang wanita yang berharkat mulia. Boaz tahu bagaimana harus bertindak, namun segala kaidah harus diperhatikan. Ternyata ada penebus, seseorang yang lebih dekat dari dirinya yang lebih berkompeten. Bukan buaian harapan semu yang ditaburkan, melainkan kesiapan untuk segala kemungkinan yang tidak sesuai di hati. Kadang sebuah penyelesaian yang nampak tinggal diraih tenyata butuh kesabaran dan iman kita untuk menanti saat yang tepat. Yahweh tetap bekerja di dalam segala peristiwa. DIA mempersiapkan hati kita untuk bersabar, beriman tanpa harus memaksakan diri. Apakah hari ini kita bisa mematuhi "peraturanNYA" ketika masalah menggunung dan penyelesaian seolah nampak di depan mata? |

|
Ketika Harapan Bersemai "Terpujilah Tuhan, yang telah rela menolong engkau
pada hari ini dengan seorang penebus." |
|
Tanggal : 7 Januari 1999 Bacaan : Rut 4 Refleksi : Tuhan tidak pernah merencanakan yang jahat bagi kita namun Ia sanggup mengubah penderitaan mendatangkan kebaikan bagi kita. Doakan Bersama : Gerakan Sembako yang dilaksanakan kiranya boleh terus dipakai Tuhan untuk menolong orang-orang yang betul-betul membutuhkan. |
Di pasal ini nampak Boaz dengan keteguhan pribadinya menampilkan
diri untuk menjadi go'el (penebus) sejati. Naomi dan Rut menerima
keputusan akhir yang melegakan. Semua berjalan sesuai dengan
yang dirancang Naomi, namun harus diakui bahwa rancangan itupun
datangnya dari Yahweh, yang dengan kedaulatanNya memungkinkan
Boaz menyunting Rut sebagai penerus "benih" sang Mesias.
Hidup Naomi yang seolah dalam fase musim dingin yang suram dan
beku, berubah menjadi musim semi yang semarak dengan warna-warni
keceriaan. Lambat namun pasti harapan untuk menjadi seorang nenek juga terpenuhi. Hidupnya menjadi lengkap bukan oleh mereka yang lahir dari rahimnya sendiri tapi melalui seorang yang tanpa hubungan darah sekalipun. Bila di pintu masuk Betlehem, Naomi mengeluh tentang Yahweh maka sekarang dia justru bisa memuji Yahweh yang ternyata tak pernah bermaksud jahat sedikitpun atas diri ataupun keluarganya tapi justru menghadirkan kebahagiaan sehabis penderitaan yang menyesakkan. Hari ini pengajaran sebagian Gereja berki-blat pada penolakan penderitaan sebagai bagian dari pemurnian Tuhan. Penderitaan dianggap tabu bahkan harus diperangi sebab sama sekali tak menampakkan "kehebatan" Allah. Benarkah demikian? Alkitab justru menyaksikan bahwa penderitaanpun bisa dipakai Allah untuk mendatangkan berkat bagi kita. Marilah kita menjadi umat Allah yang kuat, yang tetap bisa memuji TUHAN meski kesusahan dan penderitaan menghampiri kita. Kesempatan semacam itu harus menjadikan kita lebih introspeksi diri dihadapanNya. |

|
Ketika Putus Asa Mendesak Hati "... Bukan tuanku, aku seorang perempuan yang sangat
bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum,
melainkan aku mencurahkan isi hatiku dihadapan Tuhan." |
|
Tanggal : 8 Januari 1999 Bacaan : I Sam. 1 Refleksi : Obat penawar yang paling jitu bagi orang yang putus asa adalah senantiasa berdoa dan berharap pada Tuhan. Doakan Bersama : Karakter kita sebagai orang Kristen agar setiap hari mau diubah oleh Tuhan sendiri untuk menjadi semakin indah sehingga menjadi kesaksian hidup dan memuliakan Tuhan. |
Janji bisa diobral tapi bila kenyataan tak seindah yang diharapkan,
janjipun tinggal mimpi. Itulah sekilas gambaran perkawinan Hana
dengan sang suami yang notabene adalah keturunan imam, pemimpin
umat. Sakit hatinya bukan hanya perkara dimadu saja, bahkan sakit
hati itu meningkat tajam karena Penina selalu mengendalikannya
dengan culas dan keji. Sungguh lukisan sebuah keluarga yang menyesakkan
dada. Elimelekh putus asa dengan kemandulan sang istri, lalu dia kawin lagi. Hana berputus asa sebab hidupnya menjadi sangat tak berarti lagi dan diapun lari kepada Tuhan. Hal ini mengajarkan kita bahwa seberat apapun beban hidup ini, larilah kepada Tuhan, bukan kepada minuman keras, atau pil gedhek, seperti yang dituduhkan oleh imam Eli kepadanya. Semua beban hatinya ditumpahkan dan memohon hal mustahil, seorang anak. Baginya tak ada yang mustahil bagi Allah. Sejarah Israel telah menunjukkan bahwa ada ibu-ibu yang bernasib seperti dirinya namun dikaruniai anak oleh YAHWEH. Satu hal sangat menarik adalah Hana penuh keyakinan dan dia kembali kepada keluarganya dengan ringan dan riang. Dia belum menerima jaminan bahwa doanya pasti dikabulkan, namun perkataan imam itu telah membuat ia bangkit dari keputusasaan. Bisa kita berbuat demikian? Bukankah kita cenderungan meminta, bahkan memaksa tanda-tanda untuk menyakinkan diri bahwa doa kita pasti dikabulkan? Mari belajar dari Hana dengan menyadari betapa berharganya doa serta menikmatinya baik secara pribadi maupun bersama (kebaktian doa di gereja) untuk mengalami hal-hal menakjubkan dari TUHAN kita. |

|
Dampak Kasih Karunia "Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana
aku ada sekarang, dan... aku telah bekerja lebih keras dari pada
mereka semua, tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah."
|
|
Tanggal : 9 Januari 1999 Bacaan : I Kor. 15:10 Refleksi : Orang percaya dipanggil bukan untuk menjadi orang yang berkontradiksi antara kata dan perbuatannya melainkan untuk menampilkan keharmonisan kata dan perbuatannya.
Doakan Bersama : Orang-orang Kristen yang Anda kenal dan sedang undur dalam imannya agar sadar dan kembali kepada Tuhan. |
Banyak orang Kristen sadar dan mengatakan: "Aku menjadi
seperti sekarang ini adalah karena kasih karunia Tuhan."
Kesadaran seperti itu baik, tapi tidak cukup. Karena dengan pengakuan
seperti itu, berarti dia hanya mengamini sebagian Firman Tuhan
dan mengabaikan lainnya. Padahal Paulus tidak menulis sepotong-sepotong
tapi kalimat utuh. Barangkali ada orang Kristen yang berdalih bahwa dia tidak berani mengklaim kehebatan dan dedikasinya seperti itu karena dia bukan Paulus. Alasan seperti itu kedengaran 'rendah hati', tapi tidak alkitabiah. Sebab jika kita hanya mengakui bahwa kita terpelihara dalam kasih karunia Tuhan, tapi tidak membuat kita berubah, maka semua kasih karunia itu menjadi sia-sia. Paulus mengatakan bahwa kasih karunia yang dia terima tidaklah sia-sia, tetapi justru menjadi kekuatan untuk mendorong dan melayani Tuhan dengan giat melebihi orang lain. Paulus sadar siapakah dia, yakni orang yang pantas diganjar paling keras oleh Allah karena dosanya. Namun Allah tidak menghukum dia tapi melimpahinya dengan kasih karunia, maka tidak ada pilihan lain untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan, selain melayani Dia dengan giat dan setia. Hari ini banyak orang yang bersaksi atas berkat dan kasih Tuhan, tapi berhenti pada kesaksian saja. Ini salah satu penyebab mengapa kesaksian orang Kristen lemah dan hambar, karena ucapan syukur hanya sebatas di bibir saja. Tuhan sudah menyertai kita melewati satu tahun yang sulit, dan kita masih terpelihara sebagaimana kita ada sampai hari ini. Marilah ungkapkan syukur kita dengan tindakan nyata. |

|
Ketegaran Iman "...namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan,
yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami." |
|
Tanggal : 10 Januari 1999 Bacaan : Hab. 3:16c Refleksi : Perspektif yang didasarkan situasi dunia hanya menghasilkan keputusasaan. Perspektif yang berdasarkan pandangan Tuhan menyatakan realita dan pengharapan banyak hal. Doakan Bersama : Pembinaan remaja Kristen dengan segala bentuknya mengingat bahwa masa depan gereja dan bangsa terletak di tangan mereka. |
Banyak pakar memprediksi bahwa perekonomian negara akan segera
pulih dan lapangan kerja yang luas akan kembali tersedia. Prediksi
seperti ini tentu membuat banyak orang merasa lega, karena ada
harapan yang lebih cerah esok. Tapi betulkah demikian? Bagaimana
kalau anganangan tersebut tidak terjadi? Bagaimana kalau kondisi
justru semakin memburuk? Secara psikologis orang tidak suka berpikir seperti itu. Orang lebih suka menciptakan buihbuih harapan daripada menganalisa kenyataan yang pahit. Sebagai orang Kristen, kita juga tidak tahu persis apa yang akan terjadi. Tapi bukankah kita telah diberikan kitab kebenaran tentang Allah, tentang hidup manusia dan tentang perjalanan sejarah yang bisa dipelajari? Kita memang tidak pernah bisa mengerti sepenuhnya cara kerja Allah, tetapi kita bisa belajar prinsipnya melalui Alkitab; bahwa setiap kesulitan yang Allah ijinkan terjadi di dalam kehidupan umatNya, pastilah terjadi karena tujuan tertentu. Dan ujian tersebut akan berakhir, ketika tujuan Allah tercapai. Kalau tujuan Allah mengijinkan kita mengalami kesulitan seperti yang sedang terjadi sekarang ini belum tercapai, maka kita seharusnya tahu bahwa kita masih akan terus menghadapi banyak ujian dan kesulitan. Yang lebih penting untuk kita pikirkan adalah: apakah kita siap menghadapinya? Ketika Habakuk bergumul dan akhirnya megerti siapakah TUHAN, maka dia tidak lagi gelisah. Sebaliknya dengan sikap penuh penyerahan dan ketaatan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang paling buruk sekalipun. Marilah kita teladani sikap ketegaran iman seperti Habakuk. |

|
Ketika Fakta Tak Seindah Impian "Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah
sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa
telah melakukan banyak yang pahit kepadaku" |
|
Tanggal : 11 Januari 1999 Bacaan : Rut 1 Refleksi : Sebagai umat percaya, kita dipanggil untuk untuk hidup berkompas pada Tuhan dan berazas pada FirmanNya. Doakan Bersama : Umat Tuhan yang teraniaya supaya mereka justru makin datang berlindung padaNya dan makin mengalami kebaikan dan pertolonganNya. |
Ketika kesusahan datang, secara otomatis setiap orang akan mencari
jalan untuk melepaskan diri darinya. Segala upaya akan ditempuh
bahkan bila perlu dengan spekulasi. Itulah yang terjadi pada
keluarga Elimelekh yang mencoba mengadu nasib ke tanah kafir,
Moab, demi untuk masa depannya. Secara manusia tindakan ini dibenarkan,
bukankah apa yang dilakukannya adalah wujud dari perjuangannya
untuk lepas dari penderitaan yang mendera negara dan bangsanya
selama bertahun-tahun tanpa ada tanda-tanda perbaikan? Tuhanpun
seolah tak menghalangi apa yang dilakukannya. Tiga kesalahan fatal keluarga ini yang melalaikan Firman Tuhan adalah: 1. Mereka pergi ke tanah kafir padahal Yahweh telah memimpin mereka menuju ke negeri perjanjian (band. Bil. 33:50-56). 2. Mereka menjual tanah yang menjadi milik Yahweh yang tak seharusnya dijual dan dipindah untuk mendiami tanah asing (band. Im. 25:23) 3. Mereka berkawin campur dengan bangsa kafir yang tidak mengenal Allah(band. Bil. 25:1-2). Tak ada catatan apapun tentang apa yang Yahweh telah lakukan namun itu mencuat melalui tutur Naomi yang kesal dan frustrasi sebab DIA telah "menghabisi"nya dan menyisakan kehampaan. Semuanya berlalu hanya dengan kegundahan dan rasa malu Naomi. Inilah kemisteriusan Tuhan kita yang tak mesti menjawab apa yang kita tanyakan. Dia bekerja malampaui apa yang kita pahami. Naomi pasrah dan patuh, maka diapun pulang ke bumi warisan Allahnya. Apakah kita perlu melalui hal yang serupa untuk mengajar kita lebih pasrah dan patuh? Mari selalu mencermati langkah kita agar seturut FirmanNya. |

|
Ketika Tuhan Membuka Jalan "Tuhan kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu
kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh Tuhan, Allah Israel..." |
|
Tanggal : 12 Januari 1999 Bacaan : Rut 2 Refleksi : Tuhan sanggup bekerja melalui mujizat yang spektakuler namun Ia sering bekerja melalui perkara yang biasa. Doakan Bersama : Pemerintah Indonesia sungguh-sungguh menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia. |
Banyak hal yang terjadi dalam hidup ini lepas dari perhatian
kita. Tak jarang hal yang kita anggap remeh justru mendatangkan
sesuatu yang spektakuler, seperti seorang ibu yang hanya mencoba
merenungi sampah-sampah kering dan dibuang percuma. Lalu muncul
ide untuk mendaur ulang dan memanfaatkannya menjadi barang seni
dan memiliki daya jual yang tinggi. Saat Naomi membawa pulang sang menantu, tak terbersit bahwa lewat janda muda inilah hidupnya akan selalu bergantung. Tak ada lagi yang tersisa dari harta sang suami, dan tak ada yang bisa diharapkan dari usaha di Moab. Apa yang dilakukan Rut juga bukan hal yang menakjubkan, hanya sekedar memungut sisa-sisa panen yang biasa dilakukan oleh para fakir miskin sesuai aturan Taurat. Rut rela melakukan ini dengan segala resikonya: ejekan orang yang tahu tentang asal-usul dan sejarah hidupnya (orang asing dan janda "pembawa petaka"), pelecehan sexual dari para pekerja pria, bila ternyata orang-orang tak menyukainya. Naomi mungkin tak memikirkan sampai sejauh itu, namun diapun tak menyadari betapa Yahweh setia menyatakan kasihNya. DIA justru membuka jalan mempertemukan Rut dengan calon penebusnya. Tak ada sesuatu yang kebetulan, melainkan adalah pemeliharaan Allah. DIA mengatur segalanya menjadi indah tepat pada waktunya. Naomi bukan hanya terjamin hidupnya secara fisik tapi juga punya harapan merengkuh kebahagiaan diusia senja. Meski kadang jalan terhadang di depan kita, mari kita tidak mem-biasakan diri untuk pesimis. DIA punya cara untuk membuka jalan lain yang kadang terlihat terlalu biasa dan tanpa mujizat yang menghebohkan. |

|
Pemimpin Gereja 1 "Nabi Yesaya berkata: "Maka seperti nasib rakyat,
demikianlah nasib imam." |
|
Tanggal : 13 Januari 1999 Bacaan : Yes.24:2 Refleksi : Menjadi pemimpin bukan berarti mencari keuntungan diri sendiri melainkan memberikan hidupnya. Doakan Bersama : Keluarga, sahabat, kerabat, dan rekan kerja anda yang belum percaya kiranya Tuhan membuka jalan dan memakai anda sebagai penyalur berkat dan keselamatan bagi mereka. |
Nabi Yeremia berkata: "Para nabi bernubuat palsu dan
para imam mengajar dengan sewenang-wenang, dan umatku menyukai
yang demikian" (Yes. 5:31). Dari kedua ayat tersebut jelaslah bahwa seorang pemimpin/ gembala mempunyai hubungan yang sangat erat dengan orang yang dipimpinnya. Pertumbuhan kerohanian warga jemaat dibatasi atau ditentukan oleh pemimpin/ gembalanya. Tuhan memberikan pemimpin/gembala menjalankan kepemimpinan, agar gembala memberikan teladan bagi jemaatnya. Pertumbuhan kerohanian jemaat tidak akan melebihi pemimpinnya. Jika pemimpin mengharapkan jemaatnya menjadi jemaat yang berdoa, maka seharusnya pemimpin menjadi orang yang berdoa terlebih dahulu. Jika ia mengharapkan jemaat suka berkorban dalam pelayanan maka ia harus menunjukkan kerelaan membayar harga dalam pelayanan. Jika ia mendambakan jemaat hidup kudus maka iapun harus menjadi teladan bagaimana hidup kudus itu. Demikianlah seterusnya untuk bidang-bidang lainnya. Sebab itu seorang pemimpin wajib senantiasa mengawasi ajaran dan hidupnya agar ia senantiasa berada dalam kehendak Tuhan.Di sisi lain, merupakan tanggung jawab jemaat untuk menopang pemimpinnya, paling tidak melalui doa. Di tengah krisis pemimpin dan kepemimpinan saat ini, khususnya di negara kita, semoga krisis tersebut tidak melanda umat Tuhan. Sebaliknya Tuhan kiranya memunculkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas dan memiliki komitmen penuh kepadaNya. |

|
Pemimpin Gereja 2 "Kamu tahu bahwa kesetiaannya telah teruji dan bahwa
ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang
anak menolong bapanya." |
|
Tanggal : 14 Januari 1999 Bacaan : Fil. 2:19-22 Refleksi : Kesejatian seorang pemimpin terlukiskan melalui apakah ia memikirkan keuntungan orang yang dipimpinnya ataukah keuntungan dirinya. Doakan Bersama : Mohon Tuhan memberkati bangsa Indonesia dengan kerukunan antar umat beragama di Indonesia. |
Pemimpin yang saleh adalah pemimpin yang bertanggung jawab, dan
sebaliknya pemimpin yang jahat adalah pemimpin yang mengejar
posisi/ kekuasaan. Pemimpin yang bertanggung jawab akan rela
berkorban demi kesejahteraan dan kemajuan orang yang dipimpinnya.
Sedangkan pemimpin yang jahat hanya berpusatkan pada dirinya
sendiri dan mencari keuntungan dan kemuliaan diri sendiri. Pola
pemimpin yang bagaimanakah yang anda pilih, yang saleh atau jahat? Dalam tulisannya Paulus di Filipi 2:19-22, Paulus menjelaskan bahwa Timotius adalah seorang pemimpin yang penuh cinta kasih dan tanggung jawab. Ia bukan seorang pemimpin yang mengejar keasyikan dan keuntungan pribadi, melainkan mengejar keuntungan bagi jemaat Tuhan. Timotius bukan seorang yang mencari nama dan kemasyuran, melainkan mencari kesempatan untuk melayani Tuhan dan umatNya, serta memuliakan Tuhan. Seorang pemimpin bukanlah seorang penguasa, melainkan seorang yang dengan sukarela memanggul tanggung jawab menjadi gembala bagi kawanan domba Allah yang dipercayakan kepadanya. Ia adalah pelayan bagi orang yang dipimpinnya, bukan majikan atas jemaat Allah. Jika Anda adalah pengurus komisi, guru sekolah minggu, ketua komisi, anggota majelis gereja, penginjil, ataupun gembala suatu jemaat, maka berarti Anda seorang yang mengambil posisi sebagai pemimpin gereja. Wibawa yang dari Tuhan ada pada Anda namun ingatlah bahwa tanggung jawab Anda juga sangat besar di hadapan Dia.Dalam kategori pemimpin yang manakah Anda? |

|
Pemimpin Gereja 3 "... Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan
dirinya sendiri! |
|
Tanggal : 15 Januari 1999 Bacaan : Yeh. 34:1-3 Refleksi : Salah satu ciri utama pemimpin yang sejati adalah ketulusan yang berasal dari Tuhan Doakan Bersama : Kerjasama antar gereja dan lembaga gerejawi di berbagai daerah agar semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan tubuh Kristus di tanah air. |
Pemimpin yang saleh adalah gembala dengan segenap hati memberi
makanan bagi domba-dombanya, sedangkan pemimpin yang jahat hanya
berpikir untuk menggunting bulu dombanya demi kepentingan pribadinya
saja. Tuhan berjanji "Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-dombaKu dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, kemana mereka akan diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan." (Yeh. 34:12). Sebaliknya Tuhan memperingati: "Celakalah gembala-gembala Israel, yang menggembalakan dirinya sendiri! Bukankah domba-domba yang seharusnya digembalakan oleh gembala-gembala itu? Kamu menikmati susunya dan bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu tidak kamu gembalakan (Yeh. 34:2-3). Pada zaman nabi Mikha, para pemimpin hanya mempunyai satu tujuan yakni uang. Pada saat uang menjadi motivasi pelayanan dan hal yang utama, maka kehancuran sudah diambang pintu. Semuanya akan mengalami kebangkrutan moral dan spiritual, baik bagi orang yang dipimpin maupun bagi pemimpin itu sendiri. Yesus Kristus pun berbicara hal yang sama dalam Yohanes 10:12-13, bahwa orang upahan hanya memikirkan upah atau uang, namun gembala rela berkorban bagi domba-dombanya. Tuhan memilih dan menetapkan pemimpin bagi umatNya demi kesejahteraan umatNya tersebut. Sebagai pemimpin gereja, apakah kita adalah orang upahan atau gembala yang baik? |

|
Pemimpin Gereja 4 "Beginilah Firman Tuhan Allah: Aku sendiri akan menjadi
lawan gembala-gembala itu dan Aku akan menuntut kembali domba-dombaKu
dari mereka..." |
|
Tanggal : 16 Januari 1999 Bacaan : Yeh. 34:1-10 Refleksi : Jangan terlena dengan kemuliaan jabatan pemimpin, melainkan sadarilah tanggung jawab kepemimpinanmu. Doakan Bersama : Mohon Tuhan memelihara semangat pelayanan kita sebagai anak-anak Allah di tengah-tengah semakin sibuk dan sulitnya tantangan hidup. |
Pemimpin sejati adalah pemimpin yang mengumpulkan domba-dombanya,
sedangkan pemimpin yang jahat menghalau dan memisahkan domba-dombanya. Pemimpin sejati dengan lemah lembut menggembalakan domba-dombanya. Pada saat ia melihat domba-domba tertekan, tersiksa, ia datang untuk membebaskan dan menyembuhkan. Pemimpin yang jahat membuat kegaduhan, perpecahan dengan kekasarannya memecah belah domba-dombanya. Oleh sebab itu Tuhan berkata, "Celakalah gembala-gembala Israel yang menggembalakan dirinya sendiri ...tetapi domba-domba itu tidak kamu gembalakan ... yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injakinjak mereka dengan kekerasan dan kekejam-an. Dengan demikian mereka berserak ..." (ay. 2-5). Dan Firman Tuhan memberi peringatan tajam, "Aku sendiri akan menjadi lawan gembala-gembala itu" (ay.10). Bukankah peringatan ini sangat serius dan cukup menakutkan? Siapakah yang sanggup dan kuat menjadi lawan Tuhan? Oleh sebab itu marilah kita belajar untuk menjadi hamba Tuhan, pengurus gereja, atau orang yang melayani Tuhan dengan gentar melakukan tugas pelayanan kita. Entah kita melayani dengan motivasi yang murni atau jahat, mencari kesejahteraan jemaat atau perpecahan umatNya, mata Sang Gembala Agung tak pernah luput mengawasi kita. Suatu hari kelak Ia akan datang dan meminta pertanggung-jawaban kita. Alangkah bahagianya kelak jika kita didapati telah melaksanakan tanggung jawab kita demi kesejahteraan umatNya |

|
Pemimpin Gereja 5 "Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan
menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu." |
|
Tanggal : 17 Januari 1999 Bacaan : Mzm. 100:3; Refleksi : Sebab Allah pemilik kawanan domba maka kita patut menggembalakan dengan rasa gentar pada dan mengikuti polaNya. Doakan Bersama : Mohon Tuhan meningkatkan kerinduan doa kita dan membiarkan kita mengalami keindahan dan kuasa dari jawaban doa-doa yang dinaikkan. |
Gembala yang baik mengenal kedaulatan Allah, sedangkan yang jahat
menganggap domba-domba sebagai miliknya. Firman Tuhan berkata: "Ketahuilah bahwa Tuhanlah Allah, Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umatNya dan kawanan domba gembalaanNya" (Mzm. 100:3). Domba-domba adalah milik Allah yang Ia tebus dengan darah Anak TunggalNya (I Kor. 6:20), dan Ia yang memeteraikan domba-domba menjadi milikNya. Seorang pemimpin yang baik mengakui domba-domba sebagai milik Allah, ia tidak merasa memiliki domba itu, dan ia tidak akan berusaha untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia juga akan menggembalakan domba-domba menurut kehendak Allah serta membawa para domba datang kepada pemiliknya, yakni Tuhan Yesus Kristus. Jika seorang pemimpin melihat dan menerapkan prinsip ini secara terbalik berarti ia akan menganggap para domba sebagai miliknya pribadi, menggembalakan menurut kehendaknya sendiri, serta mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Alangkah naifnya jika kita menganggap tugas kepemimpinan sama dengan pekerjaan sekuler pada umumnya, dimana seorang pemimpin berlaku sebagai pemilik perusahaan (karena memang perusahaan tersebut miliknya) dan menerapkan strategi kepemimpinan menurut seleranya, dan demi keuntungan sebanyak-banyaknya bagi dirinya sendiri. Menjadi pemimpin dalam pekerjaan Tuhan berarti menjadi "pelayan" bukan menjadi majikan atau pemilik atas umatNya. Sebab pemilik semua kawanan domba adalah Allah sendiri. |

|
Menolak Pertumbuhan (I) "Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi
yang sukar dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan." |
|
Tanggal : 18 Januari 1999 Bacaan : Ibr. 5:11-6:2 Refleksi : Problema yang menghantui gereja dari generasi ke generasi lain, yakni orang Kristen menolak pertumbuhan. Doakan Bersama : Minta keberanian untuk menyatakan kebenaran di lingkungan masing-masing agar terang Tuhan dapat terpancar melalui setiap orang Kristen. |
Dua tahun lampau, dalam usaha memperindah halaman depan gereja,
maka di samping gedung gereja kecil, saya meminta karyawan gereja
menanam pohon tetean. Adapun pohon-pohon yang ditanam mempunyai
kwalitas yang sama, pupuk yang sama, dan penyiraman air sama.
Namun setelah beberapa bulan, pohon-pohon tetean yang berada
di tempat terbuka dan gampang memperoleh sinar matahari, tumbuh
dengan subur dan lebat, sedangkan yang berada di tempat teduh
dan kurang mendapat sinar matahari, tidak bertumbuh baik, daunnya
renggang dan tangkainya kurus. Mengapa terjadi perbedaan pertumbuhan
ini? Penulis kitab Ibrani memperhatikan pertumbuhan kerohanian pembacanya, merasa heran dan mengatakan, "Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan ..." Ungkapan "hal itu" menunjuk pada hal khusus, yakni "Yesus Kristus yang menjadi Imam Besar menurut peraturan Melkisedek" yang ingin dijelaskan kepada pembacanya. Tetapi penulis menemukan pembacanya belum mampu menerima penjelasannya. Padahal ditinjau dari sudut waktu, mereka sudah seharusnya menjadi pengajar. Tapi mereka masih perlu diajarkan lagi tentang asas-asas pokok iman, masih memerlukan susu dan tidak mampu menerima makanan yang keras (ay.12). Randy Rowland, dalam bukunya "Get A Life", mengatakan bahwa secara esensi, pertumbuhan rohani tidak hanya semata-mata suatu proses pengumpulan informasi yang lebih banyak tentang Allah atau teologi. Kita bertumbuh secara rohani dan pribadi dalam suatu konteks pengenalan akan Allah. Pertumbuhan adalah suatu pengalaman. |

|
Menolak Pertumbuhan (II) "Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi
yang sukar dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan." |
|
Tanggal : 19 Januari 1999 Bacaan : Ibr. 5:11-6:2 Refleksi : Pilihan orang Kristen cuma dua: bertumbuh atau tidak bertumbuh secara rohani. Doakan Bersama : Minta keberanian untuk menyatakan kebenaran di lingkungan masing-masing agar terang Tuhan dapat terpancar melalui setiap orang Kristen. |
Antara apa yang kita ketahui dengan tingkah laku kita amat erat
hubungannya. Pembaca Ibrani, ditinjau dari sudut waktu, seharusnya
sudah menjadi guru yang mengajar dan menuntun orang lain. Tapi
mereka tetap bayi rohani. Memang untuk masuk Kerajaan Sorga, hati kita harus seperti seorang hati anak kecil (childlike), hati yang polos dan murni, tapi tidak demikian dengan tingkah laku yang kekanak-kanakan (childish). Tingkah laku yang kekanak-kanakan yang harus kita hindarkan. Itulah sebabnya rasul Paulus dalam salah satu suratnya menulis: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini (artinya tingkah laku kita jangan serupa dengan orang di dunia ini), tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu." 'Budi' dapat berarti pengertian atau akhlak seseorang yang akhirnya amat mempengaruhi tingkah lakunya. Mengapa pertumbuhan rohani para pembaca Ibrani berhenti? Ayat 11 mengatakan: "... tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan." Kata "lamban" dalam bahasa Yunaninya disebutkan "nothros", merupaka gabungan dari kata "no" dan "push". Secara harafiah berarti tidak mau didorong atau berleha-leha (santai). Maka seseorang yang mengalami kelambanan rohani berarti secara rohani ia tidak memiliki keinginan untuk maju, ia ingin santai. Dalam konteks rohani di atas, hal itu amat mengerikan. Hal ini, dapat kita samakan dengan seorang dokter bedah lulusan tahun 50-an yang menolak menggunakan teknik operasi modern, cara pembiusan baru, atau peralatan yang baru. Sebagai anak Tuhan mari kita terus bergerak maju bertumbuh, menyatukan hati Tuhan. |

|
PenyiapJalan Bagi Tuhan "... membuat hati bapak-bapak berbalik kepada anak-anaknya
dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar
dan dengan demikian menyiapkan jalan bagi Tuhan..." |
|
Tanggal : 20 Januari 1999 Bacaan : Luk. 1:13-17 Refleksi : Tuhan memilih dan memanggil kita bukan hanya untuk menikmati Sorga melainkan juga menjadi saksiNya di tengah dunia gelap ini. Doakan Bersama : Gereja Anda masing-masing agar menjadi gereja yang tidak terpuruk dengan program-program ke dalam tapi peka terhadap kebutuhan masyarakat sekitarnya. |
Kehidupan Yohanes Pembaptis merupakan suatu keunikan. Yesus sendiri
menyatakan bahwa "... diantara mereka yang dilahirkan
oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari
pada Yohanes Pembaptis ..." (Mat. 1:11). Yohenes Pembaptis
dianggap besar karena ia yang memproklamirkan kedatangan Mesias
sebagai pemenuhan semua nubuat para nabi sebelumnya. Ia lahir
ke dalam dunia sebagai "penyiap jalan" bagi Tuhan. Sebagai orang yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan ia berperan "untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar ..." (Luk. 1:17). Anak kalimat ini dapat berarti; kesatu, Ia menjadi obat bagi perpecahan keluarga. Kedua, Para bapa berubah untuk melaksanakan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Ketiga, Menyadarkan anak-anak durhaka untuk mengubah jalan hidupnya sehingga bapa-bapa mereka berkenan kepada mereka. Keempat, Para bapa leluhur dari posisi yang menguntungkan di dunia yang akan datang dari masa mereka, melihat keturunannya tidak menyenangkan. Sehingga Yohanes Pembaptis membuat perubahan supaya para bapa leluhur berkenan kepada Israel (TNTC). Yohanes Pembaptis mewujudkan perannya tersebut melalui berita tentang pertobatan. Ia telah dipilih Allah dan setia melaksanakan panggilannya untuk menyiapkan jalan bagi Tuhan. Sebagaimana Yohanes Pembaptis setia mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus yang pertama kali maka sepatutnya kita juga melakukannya, bagi kedatangan Kristus di dalam hati orang-orang yang belum percaya. |

|
"Dimanakah Engkau?" "Tetapi Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman
kepadanya" "Dimanakah engkau?" |
|
Tanggal : 21 Januari 1999 Bacaan : Kej. 3:9 Refleksi : Kecenderungan manusia berdosa adalah menjauh dari Tuhan. Sifat Kasih Karunia Allah adalah memanggil manusia berdosa. Doakan Bersama : Berbagai usaha dan rencana yang sedang disusun oleh pemerintah kiranya diambil dengan tujuan untuk kesejahteraan rakyat dan bukan untuk kepentingan pribadi. |
Setiap minggu jemaat Tuhan pergi dan pulang dengan berbagai sikap
dan respons. Sebagian orang menyembunyikan kekosongan dirinya
di balik tumpukan kepalsuan. Sebagian lagi menutupi keadaannya
yang memprihatinkan dengan menampilkan kesombongannya. Terlebih
di tengah zaman yang dikenal sebagai pos-modern ini, dimana khayalan
dimodifikasi sedemikian rupa seolah-olah menjadi realita dan
realita menjadi khayalan, maka kehidupan yang penuh kamuflase
semakin marak. Oleh sebab itu kadang kita merasa tesinggung dengan kata-kata hamba Tuhan di atas mimbar, yang seakan-akan membuka kedok kita. Tidak jarang pula Firman Tuhan ditolak dan dihindari, karena seringkali memojokkan, menerangi hati yang kotor, didesak untuk memeriksa dan membereskan diri dihadapan Tuhan. "Dimanakah engkau?" Merupakan seruan Allah yang lahir dari hatiNya yang penuh perhatian dan kasih kepada manusia. Dia ingin menyadarkan ketidakberdayaan kita, menggugah kita untuk memeriksa motivasi dan gaya hidup kita, dan senantiasa kembali bergantung kepadaNya. Apakah kita masih mempercayaiNya dan berserah kepadaNya untuk segala problema yang sedang kita hadapi? Ataukah kita hidup jauh dari Tuhan dan orang lain sudah tidak lagi mengenal kita senagai anakNya? "Dimanakah engkau?", juga mempertanyakan jalan yang sedang kita lalui. Apakah kita masih berada di "jalan Tuhan" ataukah sedang di luar kehendakNya? Semoga, pilihan kita berada tepat pada jalur kehendakNya. |

|
masaLalu Dan Masa Depan "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan
diri kepada apa yang di hadapanku" |
|
Tanggal : 22 Januari 1999 Bacaan : Fil. 3:12-16 Refleksi : Masa lalu tidak dapat kita perbaiki, tidak perlu diratapi, namun dapat memberi hikmat bagi masa kini dan yang akan datang. Doakan Bersama : Para orang tua agar lebih mendorong anak-anaknya untuk datang kepada Tuhan dan mencurahkan perhatian dan kasih sayang dalam mendidik. |
Anda tentu pernah memikirkan masa lalu, baik itu pahit maupun
manis. Menurut sebagian orang memikirkan masa lalu adalah sesuatu
yang kurang baik, karena mengingatkan kegagalan dan segala kekecewaan
kita. Dengan mengingatnya, kita berhadapan dengan kesedihan dan
pengalaman yang patut diratapi. Paulus juga sama dengan kita, banyak mengalami kenangan pahit. Paling tidak dia menyesali perbuatan yang tidak manusiawi dengan menyiksa orang-orang Kristen bahkan membunuhnya. Perbuatan yang tidak terpuji disadarinya setelah ia bertobat dan menjadi hambaNya. Tujuan dan arti hidup yang sejati mulai tampak dalam kehidupannya. Maka ia berkata: "aku melupakan apa yang telah di belangkangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku." Perubahan diri dan tujuan hidup besar inilah yang membawa kehidupan yang penuh berkat. Sudah waktunya kita melupakan kenangan yang buruk pada tahun 1998 lalu. Mari kita menentukan sikap untuk menghadapi 1999. Pertama, kita menganggap segala kegagalan dan kepahitan hidup sebagai pelajaran yang berharga di tahun 1999 ini. Kedua, kita mengubah pikiran untuk lebih terbuka dan kritis supaya tidak terjebak lagi pada kesalahan lampau, serta menetapkan langkah-langkah positif. Ketiga, mengubah perilaku sehari-hari yang tidak meniru kehidupan yang lampau. Perilaku yang positif menandakan perubahan pikiran dan tekad kita. Ini membuktikan bahwa perubahan pikiran kita tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga praktis. Terakhir, mengarahkan seluruh hidup kita ke depan dengan bersandar kepadaNya |

|
Kepedulian "... kasihilah sesamamu manusia sepertidirimu sendiri" |
|
Tanggal : 23 Januari 1999 Bacaan : Luk. 10:25-37 Refleksi : Kepedulian kristiani yang sejati lahir dari kasih Allah yang telah kita terima melalui dan di dalam Yesus Kristus. Doakan Bersama : Pelaksanaan Sidang Umum MPR agar berjalan dengan aman, tertib dan keputusan yang diambil dapat dipertanggung jawabkan. |
Banyak orang berbicara kepedulian pada masa krisis saat ini.
Gereja-gereja membagikan sembako kepada orang-orang yang membutuhkan.
Kepedulian lebih nyata dibanding sebelum krisis. Namun sesungguhnya
Yesus mengajarkan agar mengasihi sesama kita. Setiap saat dan
dimana saja kita harus peduli pada orang lain. Yang diartikan "sesamamu manusia", adalah teman, atau tetangga. Alkitab bahasa Mandarin dan Inggris New International Version menterjemahkan dengan tetangga, atau saudara, maksudnya baik dia orang Israel maupun bukan, orang Yahudi atau bukan, warga jemaat atau bukan! Semuanya merupakan saudara sebagai makhluk yang dicipta Allah. Mempedulikan orang dalam yang sudah kita kenal lebih mudah dari pada orang lain yang tidak dikenal. Yesus menghendaki kita mengasihi sesama tanpa memandang bulu. Jika mereka sakit atau tidak punya apa-apa untuk dimakan mereka pantas ditolong. Jika mereka yang tidak mengenal Tuhan dapat melakukannya, bukankah kita sebagai anak-anak Tuhan seharusnya lebih proaktif memperdulikan sesama kita? Yesus memuji kebaikan hati orang Samaria, karena kepeduliannya lebih tinggi dari pada orang Lewi dan para imam. Mereka tahu kebenaran tapi melecehkannya. Mereka disebut orang "suci", menjalankan perpuluhan dan ritus keagamaan, tapi mereka adalah orang munafik. Bukankah orang yang dirampok adalah bangsanya, mengapa mereka tidak peduli kepada orang yang sedang menderita? Di depan kita mungkin ada orang yang sedang menunggu pertolongan kita. Lakukanlah seperti orang Samaria dan wujudkan kasih yang nyata dalam hidupmu |

|
Dipilih Dan Dipanggil "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: "Luruskanlah jalan Tuhan! Seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya." |
|
Tanggal : 24 Januari 1999 Bacaan : Yes. 40:3-5 Refleksi : Kita tidak dapat hidup panjang namun kita dapat mewujudkan kehendak Allah di dalam hidup kita yang terbatas. Doakan Bersama : Mohon Tuhan memberikan kita kekuatan dan keberanian untuk melakukan mandat Injil dalam kondisi yang sulit seperti sekarang ini. |
Kehadiran Yohanes Pembaptis ke dalam dunia bukan suatu kebetulan,
melainkan telah direncanakan Allah dan telah dinubuatkanNya pada
± 700 sM melalui Maleakhi pada ± 400 sM. Yohanes
Pembaptis telah dipilih Allah untuk melaksanakan perannya tugasnya
tersebut. Allah telah memilih dan memanggil dia untuk memainkan
perannya sebagai penyiap jalan untuk Tuhan di dalam rencanaNya. Sejarah menunjukkan berkali-kali bahwa Allah memanggil orang-orang pilihanNya untuk memainkan peranan yang penting di dalam konteks zamannya. Nuh dipanggil untuk membuat bahtera dan memperingatkan masyarakat yang membusuk pada masanya. Abram dipanggil untuk menjadi bapa bangsa Israel dan orang beriman. Musa dipanggil untuk memimpin orang Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Yosua dipanggil untuk memimpin orang Israel memasuki Tanah Perjanjian. Yeremia untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Paulus dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, bagi orang Israel, bangsa-bangsa lain, dan para pembesar (Kis. 9:15). Allah juga telah memilih dan memanggil kita, orang yang percaya kepada Kristus (2 Tes. 2:13-17). Kita semua memiliki panggilan yang bersifat umum, misal untuk hidup kudus, melakukan pekerjaan baik, memberitakan Injil, dsb. Namun, di sisi lain, kita juga memiliki panggilan khas dan unik sesuai dengan kepribadian dan karunia kita masing-masing (1 Kor. 12). Karena itu merupakan tanggung jawab kita untuk responsif terhadap pimpinanNya untuk mengenal panggilannya secara khas bagi kita. |

|
Ironisnya Kehancuran Kerajaan "Pada malam itu juga terbunuhlah Belsyazar, raja orang
Kasdim itu." |
|
Tanggal : 25 Januari 1999 Bacaan : Dan. 5 Refleksi : Apakah Anda merasa bahwa kemahakuasaan dan kedaulatan Allah
jauh dari kehidupan Anda, sebagai sikap Anda Doakan Bersama : Kita mempunyai pengertian/ makna hari Natal yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, dan menjadikan kita semakin bertumbuh dan teguh di dalam Tuhan Yesus Kristus. |
Peristiwa yang diceritakan dalam pasal ini terjadi pada malam
dimana tentara Media-Persia mengalahkan kota Babel, yaitu pada
tanggal 12 Okt. thn 539 S.M. Berarti, terjadi sekitar 25 thn.
lebih setelah peristiwa yang diceritakan dalam pasal 4 (Nebukadnezar
meninggal pada thn. 562 SM). Dari pasal ini juga kita bisa melihat kehancuran kerajaan Babel dan kematian raja Belsyazar secara dramatis dan diakhir ketragisan tersebut menemui ajalnya di tangan musuh pada malam itu. Mungkin suatu peristiwa yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh siapa pun termasuk raja Belsyazar. Namun yang pasti, semua yang terjadi ini menyatakan kemahakuasaan dan kedaulatan Allah. Allah menghukum raja Belsyazar yang meninggikan diri. Bahkan dapat dikatakan raja Belsyazar meninggikan diri kepada Allah Israel, dan ia menghina Allah Israel. Titah Belsyazar agar perkakas-perkakas itu diambil dan dipakai oleh dia dan tamu-tamunya di pesta menunjukkan penghinaan. Maksud menghina dan mere-mehkan Allah Israel menjadi lebih jelas karena sambil minum anggur dari perkakas-perkakas itu, mereka memuji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu, dan batu (ay. 23). Ketinggian hati atau kesombongan raja Belsyazar jelas merupakan sikap meremehkan Allah Israel. Sebenarnya ia mengetahui, bahwa Nebukadnezar ayahnya mengakui kedaulatan dan kekuasaan Allah, dimana pernyataan Nebukadnezar termuat dalam ps. 4:22. Ia tak mau belajar dari pengalaman ayahnya, yang dulunya juga menyombongkan dirinya kepada Allah dan direndahkan Allah. |

|
Keamanan Yang Sejati "...Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai" ( Mzm. 91:2 ) |
|
Tanggal : 26 Januari 1999 Bacaan : Mzm. 91 Refleksi : Tuhan tidak menjanjikan bahwa dunia ini tempat yang aman bagi, sebab keamanan sejati hanya ada di dalam Dia. Doakan Bersama : Daerah-daerah dan suku-suku terasing yang belum terjangkau oleh peradaban, mohon Tuhan mengirim pekerjaNya agar mereka boleh mendengar Injil. |
Rasa aman merupakan kebutuhan dasar manusia sejak kecil sampai
dewasa bahkan sampai tua. Semua orang menginginkan rasa aman,
namun fakta memberitahukan bahwa tidak ada rasa aman yang sejati
di dunia ini. Kerusuhan muncul secara tiba-tiba dan terjadi secara marak dimana-mana. Pencopet dan penjambret datang tidak pernah permisi terlebih dahulu. Namun hari ini pemazmur memberitahukan kita, betapa luar biasa Allah memelihara kita sebagai anak-anakNya. Allah menjadi tempat perlindungan di segala waktu pada saat bahaya rohani maupun jasmani (ay. 1-3, 9-13). Dalam: ay 1a: Ia adalah Allah Yang Maha Tinggi (El-Elyon). Allah yang lebih besar daripada segala ancaman apa saja yang kita hadapi. ay 1b: Ia adalah Allah Yang Maha Kuasa (El-Shaddai). Allah yang lebih berkuasa dari segala kuasa yang ada di bumi ini. ay 1c: Ia adalah Tuhan (Yehovah). Allah yang begitu dekat dan tidak pernah meninggalkan umatNya juga yang tetap setia memelihara janji-janjiNya. Dan itu dilukiskan pemazmur dalam ay. 4 seperti seekor induk ayam yang melindungi anak-anaknya di bawah sayapnya, demikian Ia melindungi umatNya. Itulah Juru Selamat kita yang bukan hanya menciptakan kita, memelihara, bahkan rela mati demi anak-anakNya. Masalahnya, apakah kita menyerahkan diri pada kehendak dan perlindunganNya? Apakah kita memilih jalan kita sendiri atau hidup di dalam kebenaranNya? Dimana posisi kita sekarang? |

|
Bila Kita Menderita "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya; tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia." ( Yoh. 9:3 ) |
|
Tanggal : 27 Januari 1999 Bacaan : Yoh. 9:1-5 Refleksi : Kadangkala, kita harus merelakan demi Kristus, bila kita harus menderita dibandingkan dengan mereka yang tidak peduli dengan Tuhan, namun hidup dalam kecongkakan dan kenyamanan. Doakan Bersama : Kasih Allah berdiam dalam diri kita sehingga kita mempunyai belas kasih terhadap orang lain yang butuh pertolongan. |
Dalam perjalanan, Yesus melihat seorang yang buta sejak lahir.
Para muridNya bertanya: "Mengapa orang ini dilahirkan
buta? Apakah karena dosanya sendiri atau dosa orang tuanya?"
Jawab Yesus,"Dua-duanya tidak, tetapi untuk menyatakan kuasa
Allah." Kepercayaan yang lazim dalam kebudayaan Yahudi zaman itu: musibah atau penderitaan merupakan akibat dari suatu dosa besar. Tetapi Kristus memakai penderitaan orang ini untuk mengajar tentang iman dan untuk memuliakan Tuhan. Kita hidup di dunia di mana kelakuan baik tidak selalu dihargai dan kelakuan buruk tidak selalu dihukum. Sebab itu orang yang tidak bersalah kadang-kadang menderita. Jika setiap kali kita meminta agar Tuhan mengambil penderitaan kita dan mengabulkannya, maka kita akan mengikuti Dia karena kenyamanan dan kesenangan hidup semata, bukan karena kasih dan pengabdian. Terlepas dari alasan penderitaan kita, Yesus mempunyai kuasa untuk menolong kita meng-hadapinya. Bila Anda menderita penyakit, musibah, atau apa saja, cobalah untuk tidak menanyakan: Mengapa hal ini terjadi padaku? atau apa salahku? Sebaliknya mintalah kepada Tuhan untuk memberi kekuatan menghadapi cobaan itu. Dalam perikop ini, kita melihat orang itu disembuhkan dan kesembuhannya membawa iman yang konsisten dan bertumbuh terus, sementara orang Farisi tidak percaya dan berprasangka; orang tuanya percaya tapi takut dikucilkan; sementara orang di sekitarnya juga merasa kurang percaya. Kalau kita mengalami mujizat ataupun tidak, apakah iman kita terus bertumbuh? |

|
Cukup Dengan Beriman "Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu
kembali dengan matanya sudah melek." |
|
Tanggal : 28 Januari 1999 Bacaan : Yoh. 9:6-12 Refleksi : Banyak orang yang mengeraskan hati yang tidak mengakui bahwa karena iman orang buta itu ia bisa melihat. Orang-orang seperti itu tidak akan pernah melihat anugerah Allah yang lebih besar. Doakan Bersama : Mohon Tuhan menjamah hati dan pikiran setiap pejabat-pejabat agar mereka tidak berperilaku sewenang-wenang. |
Dalam proses penyembuhan orang buta itu, kemudian Yesus meludah
ke tanah dan mengaduk ludah itu dengan tanah. lalu Ia mengoles
campuran itu ke atas mata orang buta itu dan menyuruh dia: "Pergi
dan bersihkan mukamu di kolam Siloam." Maka orang itupun
pergi ke kolam itu dan mencuci mukanya. Ketika ia kembali ia
sudah dapat melihat! Tetangganya dan orang lain yang meng-enalnya sebagai pengemis buta saling bertanya, "Apakah ini orang yang sama si pengemis itu?" Ada yang mengatakan "Ya" dan ada yang "Tidak." Tetapi apa kata pengemis itu? "Saya memang orang buta itu!" Kemudian orang itu menjelaskan bagaimana ia dapat melihat kembali. Namun apakah orang banyak itu percaya? Mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Yesus dimaksudkan untuk meneguhkan iman orang-orang dan membimbing mereka untuk percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Keajaiban Kristus sangat berarti bukan hanya karena kuasanya, tetapi juga karena tujuannya menolong, menyembuhkan, dan mengarahkan kepada Tuhan. Tindakan sederhana orang buta itu yang langsung pergi mencuci mukanya sesuai perintah Tuhan Yesus dilakukan karena iman, dengan hasil bahwa penglihatannya pulih kembali. Iman itu langkah antara janji dan jaminan. Mujizat terasa begitu jauh dari jangkauan iman kita yang begitu goyah. Tetapi setiap mujizat, kecil atau besar, dimulai dengan tindakan mematuhi. Mungkin kita tidak melihat penyelesaiannya sampai kita mengambil langkah pertama dengan iman. Marilah kita belajar untuk menumbuhkan iman kita terlebih lagi di tahun ini. |

|
Hari Sabat "Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan
mata orang itu adalah hari sabat." |
|
Tanggal : 29 Januari 1999 Bacaan : Yoh. 9:13-23 Refleksi : Bijaksanalah menentukan kegiatan Anda pada hari sabat, jauhkanlah diri Anda mengejar keuntungan materi secara berlebihan, karena Tuhan bisa memberikan kelimpahan di luar hari sabat. Doakan Bersama : Mohon Tuhan memberikan kepada kita kerinduan untuk bersaat teduh dan mempunyai hubungan yang indah bersama Tuhan melalui doa. |
Setelah apa yang terjadi dengan orang itu, kemudian mereka membawa
dia kepada orang Farisi. Kebetulan hari itu hari sabat. Hari
sabat adalah hari yang kudus untuk beristirahat. Orang Farisi
telah menciptakan daftar panjang dari hal-hal yang dapat dan
tidak dapat dilakukan di hari sabat. Mencampur tanah liat dan
menyembuhkan orang itu dianggap suatu pekerjaan dan kerena itu
dilarang. Mungkin Yesus sengaja melakukan itu untuk menggarisbawahi
ajaranNya mengenai sabat. Bahwa baik sekali untuk mempedulikan
kebutuhan orang lain sekalipun itu harus bekerja pada hari beristirahat.
Hari sabat mempunyai dua tujuan: Sudah waktunya untuk beristirahat dan untuk mengingat apa yang telah dilakukan Tuhan. Kita membutuhkan istirahat. Kalau kita tidak mengambil waktu untuk terlepas dari segala kesibukan kita, maka hidup ini akan kehilangan maknanya. Dizaman kita ini sama dengan masa Musa, mengambil waktu istirahat tidak gampang. Istirahat kita pada hari sabat mungkin lain dari pada orang lain; bagi Anda berkebun mungkin lebih tenang, sedangkan bagi orang lain itu merupakan pekerjaan. Jangan terjebak dengan hukum-hukum dan penghakiman. Tuhan menciptakan sabat bagimu. Ia meng-ingatkan kepada kita bahwa tanpa hari sabat kita akan lupa kepada tujuan segala kegiatan kita dan kehilangan keseimbangan yang begitu yang begitu menentukan bagi kehidupan beriman kita. Pastikanlah bahwa hari sabatmu memberi kesegaran tetapi juga membuat anda ingat akan Tuhan. Sebab banyak orang yang memasuki hari sabat sama sekali tidak berbeda dengan hari-hari yang lainya. |

|
Sampaikan Saja Kebenaran "Jawab orang itu kepada mereka: "Aneh juga bahwa
kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan
mataku." |
|
Tanggal : 30 Januari 1999 Bacaan : Yoh. 9:24-41 Refleksi : Bila kita menyampaikan kebenaran dengan tulus, maka tidak ada kebenaran yang sia-sia. kebenaran itu paling tidak mengingatkan orang akan penciptanya. Doakan Bersama : Ibadah-ibadah dan persekutuan di gereja-gereja, penjara, dan rumah sakit agar senantiasa memberitakan Tuhan dan kebenaran, serta berkatNya bagi orang yang mencari Dia. |
Iman yang baru menetas dalam diri orang buta itu diuji bertubi-tubi
oleh beberapa orang berwenang pada masa itu. Ia dimaki, ia diusir
dari rumah ibadat, satu hukuman yang berat sekali bagi orang
Yahudi. Tetapi orang yang baru melek itu begitu tabah menjalaninya.
|

|
Buta, Tapi Melihat "Kata Yesus: "Aku datang ke dalam dunia untuk
menghakimi, supaya barang siapa yang tidak melihat, dapat melihat,
dan supaya barang siapa yang dapat melihat, menjadi buta." |
|
Tanggal : 31 Januari 1999 Bacaan : Yoh 9:1-41 Refleksi : Adakah Anda hari ini mengalami masa-masa yang suram dalam hidupmu? Bagaimanakah sikap Anda menanggapinya? Percayalah ada rencana Tuhan yang indah dibalik kesemuanya itu! Doakan Bersama : Mengucap syukur untuk penyertaan Tuhan selama bulan pertama di tahun 1999. |
Fanny Crosby, seorang penulis nyanyian yang tersohor itu, PadaMu
Batu Zaman, menuturkan dalam buku riwayat hidupnya, bahwa dokter
pribadinya tidak pernah dapat memaafkan dirinya atas keteledorannya.
Dokter itu pernah mengadakan kekeliruan pada waktu meneteskan
obat pada mata Fanny waktu kecil, yang mengakibatkan kebutaan
seumur hidup bagi Fanny. Ini memang tidak disengaja. Namun Fanny
menganggap kebutaannya itu bukanlah menjadi malapetaka. Sebaliknya
dia menerima dengan penuh ketabahan. Dia mengatakan kalau ada
kesempatan untuk bertemu dengan dokternya, dia akan mengucapkan
banyak terima kasih karena telah membutakan matanya. Dia percaya
bahwa Allahlah yang membiarkan dia menjadi buta, supaya dia dapat
menyanyikan pujian kepadaNya lebih baik. Itulah sarana untuk
mengajak orang lain juga supaya memuji Allah dengan semua nyanyian
yang dituliskannya. Pengalaman yang suram memang telah membuat mata Fanny Crosby tidak berfungsi lagi, namun pada waktu ia menanggapi peng-alaman seperti itu ia menerimanya dengan baik, bahwa ada rencana dan kehendak Allah yang indah baginya; dan hal itu justru memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi banyak orang, dengan demikian orang lain dapat dikuatkan dengan contoh kehidupannya. Pengalaman yang suram adalah bagian dari kehidupan manusia. Kita semua pasti pernah mengalaminya. Namun bagaimana Anda akan menanggapinya? Apakah pengalaman itu membawa Anda lebih dekat pada Tuhan dan melihatNya dengan lebih jelas atau sebaliknya? |
