| Juli 1998 |
| Prakata |
| Senin | Selasa | Rabu | Kamis | Jumat | Sabtu | Minggu |
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 12 | ||||
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |

Webmaster
Perkembangan yang terjadi di negara kita akhir-akhir ini memang membawa
kita berada di dalam berbagai situasi dan kenyataan yang tidak pernah kita
alami sebelumnya. Suatu keadaan di mana anak-anak Tuhan dituntut untuk benar-benar
berhikmat dalam Tuhan. |



Lembaran Kelabu Ibu Pertiwi "Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu,
seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya." |
Tanggal : 1 Juli 1998 Bacaan : Yoh. 14:15-31 Refleksi : Ketika dunia menangis dan meratap. Apakah gereja dapat memberikan Roh sejati untuk menolong dunia? Doakan Bersama : Mengucap syukur senantiasa meski ditengah krisis moneter yang harus dihadapi, agar dapat mengalami arti dicukupi Bapa untuk kebutuhan secara materi, jasmani dan rohani. |
Peristiwa tanggal 13-14 Mei yang lalu, patut dicatat sebagai peristiwa kelabu
bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia. satu peristiwa yang sulit dilupakan
bahkan yang mencoreng "keelokan rupa" Indonesia. Pembakaran mobil, toko, rumah dan tempat usaha; perampokan dan penjarahan harta orang lain, perusakan disentral-sentral bisnis ekonomi, pelecehan sex dan pemerkosaan wanita keturunan, bahkan adanya ribuan korban nyawa yang mati terbakar. Semuanya menimbulkan keprihatinan, kesedihan, ketakutan bahkan kegetiran hati. Setelah peristiwa ini mereda dan berlalu, ternyata masih banyak ditemukan orang-orang yang masih tromatis terhadap peristiwa ini. Banyak usaha yang hancur. Terjadi pengangguran besar-besaran. Adanya luka batin yang meninggalkan cerita lara dan duka pilu. Deraian air mata yang dicucurkan tanda kesedihan mendalam. Kerugian materi dan moral yang besar. Semua ini, menimbulkan satu pertanyaan siapa yang dapat menolong mereka melalui hari-hari yang pahit dan getir ini. Siapa yang akan menghibur mereka kala duka menggayut diwajah mereka. Mereka butuh penolong dan penghibur yang sejati, yang dapat mengobati mereka yang teraniaya dan menderita. Mereka butuh dituntun pada Roh Penghibur yaitu Roh Kudus. Roh Allah yang diutus untuk tinggal diantara orang percaya. Roh Kudus yang memberikan pertolongan, penghiburan dan kekuatan untuk orang-orang tertindas. Roh yang memberikan kebebasan di dalam belenggu kepahitan, memberikan kesembuhan dan jaminan di dalam memulihkan hidup yang patah. Roh yang dicari dan dibutuhkan oleh manusia. |

Dimanakah Kepercayaanmu? "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai
penolong dalam kesesakan sangat terbukti." |
Tanggal : 2 Juli 1998 Bacaan : Luk. 8:22-25 Refleksi : Memang, percaya kepada Allah di tengah-tengah situasi krisis ini begutu sulit, tidak seperti ketika semuanya berjalan lancar. Kita begitu gampang mengatakan percaya kepadaNya. Doakan Bersama : Para pemerintah dan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan reformasi dalam segala bidang agar dengan hati yang takut akan Tuhan, jujur, dan setia pada kebenaran. |
Banyak hal dalam hidup ini yang tidak dapat diduga. Di tengah-tengah perubahan
yang cepat dan situasi yang tidak menentu dalam hidup ini, kita memerlukan
Yesus untuk menyelamatkan kita melalui gelombang kehidupan yang menerpa
kita. Ketika Tuhan Yesus mengajak murid-murid untuk menyeberang ke seberang danau Galilea, tidak ada seorang pun dari murid-muridNya yang dapat menduga bahwa suasana tenang danau tersebut dapat berubah seketika. Sekonyong-konyong taufan menerpa danau dan mereka berada dalam bahaya. Mereka sadar bahwa Yesus beserta dengan mereka, namun mereka tidak percaya bahwa Yesus dapat menolong mereka di tengah situasi tersebut. Mereka lupa bahwa Yesuslah yang mengajak mereka menyeberangi danau itu. Mereka tidak percaya bahwa Yesus berkuasa atas alam semesta. Hal inilah yang membuat Tuhan Yesus menegur mereka dengan keras, "Dimanakah kepercayaanmu?" Kemudian Yesus menghardik angin dan air yang mengamuk itu sehingga menjadi tenang seketika. Di tengah situasi yang tidak menentu ini, kita perlu terus menerus mempercayai Yesus. Yesus yang mengajak kita mengarungi hidup ini, Ia juga yang akan terus mendampingi, menjamin, dan melindungi kita dengan kuasaNya untuk melewati segala masalah hidup kita. Apapun masalah yang Anda hadapi saat ini, yakinlah bahwa Yesus akan menolong Anda. Ia akan menolong Anda melalui masalah itu satu persatu. Yakinlah kuasaNya akan memampukan Anda mengatasi kesulitan hidup ini. Tidak ada masalah yang terlalu besar yang tidak dapat diselesaikan oleh Allah. |

Kasih Allah "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal." |
Tanggal : 3 Juli 1998 Bacaan : 1 Kor. 13:4-13 Refleksi : Karena kasihNya yang besar, Allah tidak pernah mengutus panitia penyelamat melainkan AnakNya sendiri. Doakan Bersama : Keamanan di Indonesia dalam meyongsong
reformasi dalam segala bidang. |
Bait dari sebuah lagu yang sangat indah berbunyi "Tak ada yang menyamai
kasih Yesusku..." Saya yakin setiap orang yang menyadari dan selalu
merasakan kasih Yesus pasti akan berkata juga seperti itu. Kasih Tuhan Yesus kepada kita sering diumpamakan seperti sebuah kisah di Jepang. Ceritanya, ada kebiasaan di Jepang untuk membawa orang-orang tua ke gunung yang bernama "Oba Sute Yama", yang artinya gunung tempat membuang orang-orang tua. Ada seorang anak yang pada waktu mengantar neneknya ke gunung itu, melihat neneknya setiap kali memotong dahan pohon secara teratur dan menjatuhkannya di sepanjang jalan. Ia bertanya tentang tindakan aneh sang nenek. Neneknya menjawab "Cucuku, saya tidak rela kau kehilangan jalanmu. Saya ingin kau tiba kembali di rumah dengan selamat." Betapa besar kasih sang nenek pada cucunya. Yesus memikul salibNya sampai ke Golgota. Biarpun Ia lelah, sakit, dan sendirian, Ia mengabaikan diriNya. Bahkan saat Ia berada di atas kayu salib Ia berdoa "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Luk. 23:34). Kata-kata ini tidak mengandung dendam, kebencian, tetapi kasih dan keprihatinan sekalipun terhadap orang-orang yang membuat Dia harus memikul dan menanggung beban yang berat itu. Saudara, apakah sampai detik ini engkau pernah melihat dan merasakan kasih yang lebih agung dari kasih Yesus? Kasih Allah seperti itulah yang harus kita nyatakan kepada orang lain di tengah-tengah suasana krisis kasih dan krisis moneter ini. |

Suri Teladan "Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan
raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja." |
Tanggal : 4 Juli 1998 Bacaan : Dan 1: 1-21 Refleksi : Pernahkah Anda berpikir bahwa Anda sebenarnya dapat menjadi seperti Daniel? Doakan Bersama : Pertumbuhan rohani dan kehidupan pribadi umat Kristen dalam hal doa, saat teduh, PI, dan persekutuan. |
Pada suatu masa yang serupa sejarah kuno, seorang laki-laki menggunakan
asas-asas ilahi yang beratus-ratus tahun kemudian diejawantahkan oleh Kristus.
Laki-laki itu menjadi sangat berpengaruh di dunia. Ia berpegang teguh pada
kepercayaan agamanya, menghadapi kenyataan-kenyataan yang keras dalam zamannya,
dan berani membela kebenaran di tengah-tengah dusta dan kepalsuan. Ia berintegritas,
memiliki keunggulan moral, watak yang kuat, jiwa yang takut akan Allah,
pengetahuan politik, keberanian yang tak terukur, kebulatan tekad dan penampilan
yang gagah dan tampan yang memancar semangat yang kuat. Ia hidup dalam masa
pengejaran dan penganiayaan, pergolakan politik, dan penindasan; ia selamat
dari persekongkolan melawan dirinya, dari malapetaka ekonomis dan perang.
Ia orang yang kuat dalam masa sulit hidupnya. Daniellah namanya; melayani
Allah adalah kesukaannya. Kisah tentang Daniel bisa menjadi up to date bagi kita yang hidup zaman ini. Kita mungkin tidak pernah mencapai keharuman nama yang dipunyai Daniel sejak masa mudanya. Akan tetapi, kita dapat belajar unsur-unsur yang menjadikan Daniel mampu mengatasi setiap kesulitan dan rintangan sehingga kepada jabatan yang tinggi. Ia hidup dalam masyarakat yang runtuh dan dipindahkan ke negeri asing dan membuktikan diri sebagai aset yang berharga bagi 3 orang raja berturut-turut. Suri teladan Daniel hendaklah menjadi fokus perenungan kita dalam menelusuri kehidupan manusia yang tengah dilanda resesi moral dan kepribadian sebagai makhluk mulia. |

Keberanian Tanpa Malu (I) "Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan
raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja." |
Tanggal : 5 Juli 1998 Bacaan : Dan. 1:1-21 Refleksi : Renungkan dengan baik: "Mencintai kebenaran dan keberanian Anda untuk menyatakan kebenaran adalah ukuran keKristenan Anda yang sejati." Doakan Bersama : Berbagai masalah yang kita alami kiranya semakin membawa kita (lebih) ke dalam jalan-jalanNya, supaya rencana Tuhan terlaksana melalui hidup kita. |
Salah satu tuntutan reformasi kita ingin mengalahkan kebebasan berpendapat.
Perbedaan pendapat dan kritik, dengan alasan yang relevan, bukan pelecehan
atau hujatan. Kita menuju menghilangkan indoktrinasi, yang memaksakan kehendak
atau memaksa orang menerima suatu pandangan. Kita kenyang dengan permainan
kata-kata yang hanya menyenangkan emosi orang (ABS= Asal bapak senang).
Sehingga kehidupan sehari-hari menjadi mencekam, takut salah bicara, lalu
dikroyok. Kebenaran menjadi tumpul dan ketidakbenaran menunjukkan taringnya. Daniel memiliki sifat menarik, keberanian tanpa malu. Ia menolak apa yang ditetapkan oleh raja untuk menyantap makanan dan anggur minuman yang biasa diminum raja. Ia memiliki ketetapan hati untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja. Ketika Daniel tidak mau mematuhi perintah raja itu, ia tahu ada resiko yang akan ditanggungnya dan juga orang lain (bukan berarti ia tidak menghiraukan orang lain). Ia menolak menuruti suatu hukum sipil yang tidak sejalan dengan kebenaran. Penolakan ini bukan lahir dari sikap memberontak kepada raja, melainkan lahir dari kebulatan tekadnya untuk melaksanakan kehendak Allah tanpa memandang akibat-akibatnya. Ia tidak gentar menghadapi tatanan yang bermaksud menghancurkan kehidupan rohani dan kehidupan masyarakat. Di zaman reformasi ini dibutuhkan sikap berani tanpa malu. Berani tanpa malu mungkin tidaklah mudah untuk dinyatakan di tengah hidup bermoral; dan lebih tidak mudah menghadapi keadaan yang tidak bermoral seperti saat ini. |

Keberanian Tanpa Malu (II) "Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan
raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja." |
Tanggal : 6 Juli 1998 Bacaan : Dan. 1:1-21 Refleksi : Ada pepatah mengatakan:" Semakin malam menjadi gelap, terang pun menjadi semakin cemerlang." Langkah permulaan Anda berani menghadapi tantangan dari tempat Anda berada dengan apa yang Anda punyai. Doakan Bersama : Gereja-gereja Tuhan diseluruh dunia, kiraya Tuhan terus membangun mereka dalam kebenaran FirmanNya. |
Dunia ini sedang mengalami peralihan, krisis, dan kekacauan. Orang-orang
sekarang ini memerlukan suatu suara. Mereka memerlukan model peran, yang
hidupnya tanpa mengkompromikan sesuatu di tengah-tengah dunia yang suka
kompromi. Dunia ini memerlukan orang-orang kudus seperti Daniel yang penuh keberanian, untuk mengikuti panggilan melayani Tuhan. Bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan? Lihatlah Daniel dan sahabat-sahabatnya. Apabila Anda dipaksa untuk menyantap makanan yang sudah dipersembahkan dan najis sedang hati Anda menolak. Apabila menolak atas penetapan tersebut berarti melawan raja, ingat status mereka hanya seorang tawanan perang. Apabila Anda dilecehkan dan tidak dihargai sama sekali. Apabila Anda diumpankan kepada singa-singa atau api yang menyala-yala. Apabila Anda diolok-olok karena pengalaman Anda dengan Tuhan. Apabila Anda mulai melakukan pelayanan dan melihat keluarga Anda hanya makan kacang-kacangan setiap hari. Apabila Anda menghadapi pergumulan yang berat dan semua sahabat-sahabat Anda tidak memperdulikan Anda. Apabila Anda dituduhkan berbuat jahat tetapi Anda tidak melakukan hal tersebut dan orang lain tidak ada yang percaya. Bagi orang-orang yang berakar dan berdasarkan dalam Firman Allah, masa-masa sukar merupakan kesempatan terbesar untuk menampilkan kemuliaanNya. |

Jikalau Bukan Tuhan "Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang
yang membangunnya; jikalau bukan Tuhan yang mengawal kota, sia-sialah pengawal
berjaga-jaga." |
Tanggal : 7 Juli 1998 Bacaan : Mzm. 127:1-2 Refleksi : Orang yang percaya kepada Kristus, mengakui bahwa usaha, kemampuan dan keberhasilan berasal dari Tuhan tetapi orang yang tidak mengenal Tuhan akan menyangkalnya. Doakan Bersama : Gerakan Sembako yang dilaksanakan kiranya boleh terus dipakai Tuhan untuk menolong orang-orang yang betul-betul membutuhkan. |
Berusaha dan bekerja keras adalah kegiatan orang di waktu ini untuk membuat
hidupnya berhasil dan berbahagia. Membangun kehidupan bisa digambarkan dengan
orang yang membangun sebuah rumah. Jika akan membangun sebuah rumah maka
yang harus dilakukan adalah merancang bangunannya, dana, bahan dan mengerjakan
dengan sungguh-sungguh. Di tengah dunia yang maju, orangpun berpikir demikian.
Bila ingin berhasil harus membuat berbagai persiapan, melihat kendala, tekun,
memperhatikan peluang, bekerja dengan teratur dan sungguh-sungguh. Namun, menurut Alkitab semua itu belum lengkap. Alkitab katakan, kita harus bekerja dan berusaha di dalam Tuhan dan dengan Tuhan, kalau kita mau berhasil dan diberkati. Hanya Tuhanlah yang membuat kerja keras dan usaha sungguh-sungguh kita berhasil. Hanya bila Tuhan memberkati kita, baru kita dapat menikmati kehidupan yang kita upayakan dalam damai sejahtera dan kebahagiaan. Membangun dalam Tuhan itu bagaimana? Sebagaimana orang percaya kita tahu bahwa semua kemampuan dan hidup ini berasal dari Tuhan, bukan karena kemampuan kita sendiri. Karena itu seluruh kehidupan kita harus diletakkan dalam terang pemeliharaan Tuhan sendiri. Membangun kehidupan untuk mencapai kebahagiaan harus dilaksanakan dalam ketaatan menghayati kehendak Tuhan. Tidak melihat kerja dan hidup ini tanpa Tuhan, tetapi melihat hidup dan kerja kita sebagai orang percaya. Melihat hidup dan usaha kita untuk membangunnya di dalam kemurahan dan kasih Tuhan. Hidup dan kerja kita dilakukan dengan pertolongan Tuhan. Sebab berkat Tuhan itulah pangkal dari semua sukses. |

Ikatan Yang Memerdekakan "Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu." |
Tanggal : 8 Juli 1998 Bacaan : Yoh. 8:31,32 Refleksi : Apa yang menjadi kesukaan Anda? Termasuk kelompok manakah Anda? Doakan Bersama : Karakter kita sebagai orang Kristen agar setiap hari mau diubah oleh Tuhan sendiri untuk menjadi semakin indah sehingga menjadi kesaksian hidup dan memuliakan Tuhan. |
Manusia tidak suka ikatan, tapi harus menerima kenyataan bahwa di dalam
hidupnya selalu terlibat dalam berbagai macam ikatan. Manusia tidak pernah
sungguh-sungguh bebas. Tuhan Yesus pernah memberikan janji kepada orang-orang yang hidup sezaman dengan Dia; suatu saat mereka akan mengetahui kebenaran yang akan memberikan kebebasan sejati. Janji ini menunjuk pada penulisan Alkitab yang lengkap, dan Alkitab menjadi satu-satunya otoritas yang membebaskan manusia dari semua ikatan. John Stott berkata bahwa secara logika filsafat, semua orang terikat di bawah otoritas tertentu sehingga manusia tidak pernah bebas, dan hanya ada satu otoritas di mana seseorang menempatkan diri di bawah otoritas tersebut, dia justru menjadi orang yang bebas. Otoritas itu adalah otoritas kebenaran. Semua peraturan di dunia, hanya membuktikan orang berdosa hidup di bawah kendali dosa sehingga harus diimbangi untuk memagari perbuatannya. Maka ketika menaklukkan diri di bawah kebenaran Allah dan hidup sesuai kebenaran, dia tidak lagi memerlukan semua peraturan dunia, karena hidupnya terkendali oleh Allah dan kebenaranNya. Dalam hidup manusia hanya ada dua pilihan; terikat oleh iblis menjadi budak dosa, atau menaklukkan diri di bawah penguasaan Allah. Orang dunia temasuk kelompok pertama, dan orang Kristen sejati termasuk kelompok kedua. Kelompok kedua ini hidupnya ditandai dengan semangat kesukaan untuk mengetahui kebenaran dan hidup didalamnya, mereka senang bahwa hidupnya dikendalikan oleh kebenaran Allah yang mereka terima secara teratur sehingga kerohaniannya sehat dan hidupnya memuliakan Tuhan. |

Kerohanian Yang Sehat "Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah
banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." |
Tanggal : 9 Juli 1998 Bacaan : Yoh. 15:1-8 Refleksi : Tersumbatnya hubungan dengan Tuhan akan melahirkan "kekerdilan" dalam rohani. Doakan Bersama : Segala aspek kehidupan sebagai anak-anak Tuhan agar benar-benar kita perhatikan dan pertanggungjawabkan khususnya semakin sulitnya tantangan hidup. |
Senantiasa memelihara hubungan dengan Tuhan merupakan tuntutan yang harus
dipenuhi setiap anak Tuhan. Melalui hubungan ini, hidup akan terjaga, terpelihara
bahkan dapat mengalami pertumbuhan rohani yang makin sehat. Kerohanian yang
sehat, harus senantiasa mendapat suplai makanan rohani yaitu Firman Tuhan.
Kepentingan untuk mendapatkan kerohanian yang sehat dan gemuk, Kristus gambarkan melalui perumpamaan pokok anggur. Di mana ranting-ranting pohon anggur akan selalu hidup dan berbuah, pada waktu melekat pada pokok anggur. Kalau tidak demikian, maka ranting-ranting itu akan menjadi layu, kering dan mati. Dengan menempel pada pokok anggur, ranting-ranting selalu mendapatkan makanan dari pokok anggur yang bersumber dari akar. Disitulah kehidupan. Sebagai anak Tuhan dituntut untuk melakukan hal yang sama, yaitu mempunyai "hubungan khusus" dengan Tuhan. Sehingga akan ada kesehatan, kekuatan dan pertumbuhan iman dalam Tuhan. Hubungan khusus ini, terwujud di dalam keakraban diri dengan Firman Tuhan melalui saat teduh dan ibadah. Kedekatan dengan Tuhan menjadi kunci untuk dapat berakar, dibangun, bertambah teguh dalam iman (bnd. Kol. 2:6-7). Kerohanian yang sehat, akan memunculkan hidup yang benar, kudus dan yang diperkenan oleh Tuhan. Akan memiliki kepekaan untuk mengetahui mana perbuatan yang benar dan salah. Terlebih dari itu kerohanian yang sehat akan menjadi "benteng" yang kokoh untuk menghindarkan diri dari hidup yang berdosa dan cemar. Inilah keinginan dan kerinduan Bapa yang mau mengharapkan anak-anakNya tumbuh dengan sehat dan dewasa dalam rohani. |

Kenakanlah "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat
bertahan melawan tipu muslihat iblis." |
Tanggal : 10 Juli 1998 Bacaan : Ef. 6:10-20 Refleksi : Sudah siapkah Anda menghadapi era globalisasi? Firman Allah sebagai alat satu-satunya yang ampuh untuk mengatasi segala tantangan yang ada. Doakan Bersama : Berbagai krisis yang terjadi di Indonesia kiranya membuat kita semakin peka akan rencana Tuhan sehingga dapat melakukannya dengan rendah hati dan taat kepada Tuhan. |
Jemaat di kota Efesus, menghadapi berbagai macam ajaran sesat yang diajarkan
oleh masyarakat Yunani-Romawi pada waktu itu. Menangkal berbagai macam pengaruh
yang ada dan merupakan ancaman bagi iman percaya jemaat di Efesus; inilah
maksud Paulus mengingatkan, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan... (ay. 10),
artinya jemaat harus senantiasa kuat menghadapi berbagai macam tantangan
dan pergumulan, namun kekuatan itu harus bersumber di dalam Kristus bukan
dalam kekuatan diri pribadi. Apakah yang kita perlukan untuk menangkal segala bahaya? Dengan seluruh perlengkapan senjata Allah. Karena hanya dengan cara inilah kita dapat keluar sebagai pemenang sambil menghadapi berbagai tantangan dan pergumulan itu, umat tetap diingatkan untuk senantiasa menjadi berkat, dengan setia memberitakan kabar baik. Bukan hanya di mulut tetapi dengan perbuatan nyata. John F. Kennedy pernah berkata: "Jangan tanyakan apa yang sudah negara buat untukmu tetapi tanyakanlah apa yang sudah kau buat untuk negara." Jangan tanyakan apa yang sudah Tuhan perbuat bagi anda tetapi tanyakan apa yang sudah anda lakukan untuk Tuhan, bagi gereja dan terhadap sesama. Sudahkah kita menjadi berkat bagi Tuhan lewat pelayanan dan kesaksian kepada sesama? Sebagai orang yang sudah menerima berkat, kita diingatkan untuk tetap menjadi berkat di tengah tantangan dan pergumulan yang terberat sekalipun. Dengan tetap memberitakan Injil damai sejahtera dengan penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan. Tuhan senantiasa menguatkan kita, jadilah berkat dan kenakanlah perlengkapan senjata Allah. |

Pengutusan "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah
mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." |
Tanggal : 11 Juli 1998 Bacaan : Mrk. 6:6b-13 Refleksi : Apakah makna pengutusan Kristus telah membuat kita sebagai hamba Tuhan maupun orang percaya lebih bersungguh-sungguh dalam melayani? Doakan Bersama : Orang-orang yang sakit, kekurangan, mencari pekerjaan, dan bermasalah agar tidak undur iman dan tetap bersandar pada Tuhan. |
Pengutusan adalah tugas yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang
diutusNya. Pengutusan (apostello) artinya "to send out"
yaitu mengutus keluar. Pengutusan Tuhan Yesus kepada kedua belas muridNya
menyatakan bahwa para murid diperintahkan untuk pergi ke tempat lain selain
tempat mereka berada saat itu (bnd. Kis. 1:8). hal ini menyiratkan bahwa
jangkauan daerah pemberitaan Injil sangat amat luas dan tidak dibatasi oleh
apapun. Ada beberapa makna dari pengutusan 12 murid: 1. Mereka dijadikan sebagai Rasul (apostolos= utusan), hal ini berarti mereka syah merupakan utusan Kristus; 2. Mereka dijadikan sebagai Duta Injil, hal ini berarti mereka memiliki kuasa secara penuh dalam menyampaikan Injil Kristus; 3. Mereka dijadikan Comissionaris of Christ, artinya mereka mewakili Kristus atau datang sebagai wakil Kristus dalam menyampaikan Injil Kebenaran. Dengan demikian Yesus tidak hanya sekedar mengutus, tetapi juga "mensyahkan" para murid sebagai utusan dan wakil syah, yang dalam hal ini dapat dan harus dipercayai. Apakah selama ini kita selalu menolak hamba-hamba Tuhan yang datang menyampaikan berita Injil ataukah kita menerimanya dengan kerelaan dan ketulusan oleh karena mereka adalah wakil Kristus sendiri? Kerelaan kita menerima hamba-hamba Tuhan yang datang untuk melayani menunjukkan sejauh mana kita sungguh-sungguh mau menerima kehadiran Kristus dalam hidup kita. |

Anda Bisa "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak
menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." |
Tanggal : 12 Juli 1998 Bacaan : Ams. 3:27-35 Refleksi : Banyak orang mengalah sebelum melakukan. Orang yang rindu dan haus akan kebenaran Firman Tuhan pasti dapat melakukan perintah Allah. Doakan Bersama : Penduduk di pedesaan yang mengalami kesulitan karena meningkatnya harga barang-barang sehingga mereka hidup penuh kekurangan. |
Kita hidup di dalam dunia milik Tuhan. Segala macam peristiwa terjadi di
dunia ini, manusia terlibat di dalam semua peristiwa itu, entah sebagai
pelaku atau sebagai korban. Keterlibatan kita dalam peristiwa itu menjadi
suatu pengalaman. Kita percaya bahwa Tuhan yang kita sembah dalam Yesus
Kristus adalah Allah yang bekerja dalam segala sesuatu (Rm. 8:28). Melalui
segala peristiwa Ia memimpin kita menuju perwujudan rencanaNya. Oleh sebab
itu pengalaman betapa sederhananya selalu mengandung tuntunan ilahi. Pengalaman
adalah guru yang baik. Belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain, menjadikan orang memiliki hikmat kebijaksanaan hidup. Umat Israel selaku pribadi maupun suatu bangsa juga kaya akan pengalaman hidup sebagai umat Tuhan. Pengalaman mengajarkan kepada mereka bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan dan hikmat. Orang benar harus hidup di dalam ketaatan kepada Tuhan. Beberapa perilaku harus ditolak, yaitu menahan kebajikan kepada orang yang berhak (ay. 27-28) merencanakan kejahatan (ay. 29) bertengkar (ay. 30) iri hati (ay. 31). Tuhan berkenan bergaul dengan orang jujur dan mengasihi orang yang rendah hati. Sulit memang menjadi orang jujur dan rendah hati. Tetapi pengalaman umat Tuhan menyatakan bahwa itulah pola hidup orang benar dan diberkati oleh Tuhan. Bukan tujuan yang mau dicapai oleh orang benar itu yang penting, tetapi cara hidupnya. Oleh sebab itu orang benar menolak berbuat jahat sekalipun untuk tujuan yang baik. Tidak mudah untuk memahaminya, tetapi bisa dilaksanakan, disitulah orang baru paham. |

Ironi Kehidupan "Kata Samuel kepada Saul: Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak
mengikuti perintah Tuhan, Allahmu, yang diperintahkanNya kepadamu..." |
Tanggal : 13 Juli 1998 Bacaan : 1 Sam. 9:1-21 Refleksi : Hari ini kiranya kita kembali bercermin dari kisah kehidupan raja Saul. Adakah ironi kehidupan yang tragis ini juga terjadi dalam hidup kita? Datanglah kepada Tuhan Yesus dan mohon pengampunan dari padaNya Doakan Bersama : Keluarga, sahabat, kerabat, dan rekan kerja anda yang belum percaya kiranya Tuhan membuka jalan dan memakai anda sebagai penyalur berkat dan keselamatan bagi mereka. |
Kisah kehidupan raja Saul diwarnai ironi. Pada saat kita mempelajari perjalanan
kehidupannya, hal itu akan kita lihat dengan jelas. Pada masa-masa awal
Saul memulai karirnya; Alkitab mencatat bahwa Saul adalah: "Seorang
muda yang elok rupanya; ..." (ay 2). Demikian juga ketika Samuel
pertama kali mendekatinya untuk menyampaikan berita dari Allah, tanggapan
yang diberikan Saul adalah sangat tulus, "Bukankah aku seorang suku
Benyamin, suku yang terkecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling
hina dari segala kaum suku Benyamin? Mengapa bapa berkata demikian kepadaku?"
(ay.21). Dan bahkan pada saat tiba hari pengangkatannya sebagai raja, dia
bersembunyi. Para tua-tua Israel harus mencari dan membujuknya untuk bersedia
menerima jabatan itu (1 Sam. 10: 21-24). Demikianlah sikap dan kelakuan
Saul pada awalnya. Namun setelah menjadi raja, secara tragis Saul ternyata gagal melakukan kehendak Allah. Walaupun dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya, kekerdilan kepribadian yang ditunjukkannya sungguh sangat mengejutkan. Hanya karena menuruti dorongan hatinya semata, Saul pernah mengambil alih tugas kenabian Samuel, mempersembahkan korban kepada Allah (1 Sam. 13:12-13). Sejak saat itu, kehidupan Saul merosot, baik dalam hal kejiwaan, jasmani maupun rohani. Bagaimanakah dengan kehidupan saudara hari ini? Bagaimana saat saudara mengawali kehidupan keluarga, karir dan pelayanan serta ibadah kepada Allah hingga saat ini? Adakah kisah kehidupan raja Saul yang ironi itu terulang dalam hidup saudara? Tentu jangan!!! |

Kita Ini Kerabat "Maka berkatalah Abram kepada Lot: Janganlah kiranya ada perkelahian
antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab
kita ini kerabat." |
Tanggal : 14 Juli 1998 Bacaan : Kej. 13:1-18 Refleksi : Bagaimana Anda selama ini dalam menyelesaikan masalah? Abraham telah memberi contoh yang baik kepada kita dalam menyelesaikan suatu masalah. Doakan Bersama : Orang-orang percaya yang mengalami penganiayaan di negara-negara yang menolak Injil agar kuasa salibNya menjadi sumber kekuatan dan penghiburan untuk tetap bertahan dalam Dia. |
Banyak peristiwa atau kejadian yang terjadi di dunia ini, yang membuat kita
merasa takut, sedih, heran, geli dan bertanya-tanya. Apakah peristiwa itu
pernah kita baca di koran, nonton di televisi, mendengar dari orang lain
atau pernah terjadi di dalam keluarga kita. Sekian banyak peristiwa yang
terjadi, kita mengambil sebuah peristiwa dimana antara orang tua dan anak,
antara anak dengan anak saling membenci, bertengkar membuat mereka terpaksa
berkelahi bahkan mereka tak segan-segan saling membunuh. Faktor apa yang
membuat ketidakharmonisan dalam keluarga? Salah satu faktornya adalah harta
dan kekayaan yang bersifat materi. Kain dan Habel adalah kakak beradik. Tetapi Kain membunuh adiknya Habel, dimana persembahan Kain tidak diindahkan Tuhan (Kej. 4:5). Cara yang ditempuh Kain untuk menyelesaikan masalah adalah membunuh adiknya. Cara seperti ini dibenci oleh Tuhan (Kej. 4:11). Seorang tokoh iman yang namanya Abram mempunyai masalah dalam keluarganya. Para hamba Abram dan Lot saling berkelahi. Kalau kita melihat dari segi kedudukan, Abram sebagai orang tua dan Lot sebagai anak. Tetapi Abram berinisiatif, tidak mempertahankan kedudukannya sebagai orang tua. Bahkan ia memberikan kesempatan kepada Lot untuk memilih negeri yang ia sukai. Masih terdapat di dalam kehidupan orang percaya, jemaat saling membenci satu sama lain. Kita sebagai orang percaya telah menjadi satu tubuh di dalam Kristus dipanggil bukan untuk memiliki kekayaan duniawi tetapi untuk menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13-14), satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan (Fil 2:2). |

Tuhan Melihat Hati "...Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab
Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia
melihat yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati." |
Tanggal : 15 Juli 1998 Bacaan : 1 Sam. 16:1-13 Refleksi : Adakah kita memiliki hati yang berkenan di hadapan Allah; pada saat kita beribadah, melayani, memberikan persembahan atau apapun yang kita lakukan setiap hari? Doakan Bersama : Pelbagai Lembaga-Lembaga Kristen yang ada agar terus menjadi wadah yang dipakai Tuhan lebih efektif lagi sehingga nama Tuhan dimuliakan. |
Dosa Saul dan sikap Allah yang menolaknya, telah membuahkan usaha pencarian
seorang raja baru bagi Israel. Nabi Samuel, memperhadapkan Saul pada hukuman
yang sangat menakutkan: "Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap.
Tuhan telah memilih seorang yang berkenan di hatiNya dan Tuhan telah menunjuk
dia menjadi raja atas umatNya..." (1 Sam.13:14). Namun demikian,
rencana Allah harus tetap berjalan. Kekecewaan terhadap seorang pribadi
yang bernama Saul ataupun umat pilihan secara keseluruhan tidak akan pernah
dapat menggagalkan rencana Allah yang kekal. Sehingga berfirmanlah Allah
kepada Samuel: "Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul?
Bukankah ia telah kutolak sebagai raja atas Israel? ...Aku mengutus engkau
kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih
seorang raja bagiKu." (1. Sam 16:1). Pada saat Isai dan semua anaknya berkumpul untuk mempersembahkan korban, Samuel bertemu dengan Eliab, dan membuat Samuel tertarik, "Sungguh di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapiNya." Samuel mungkin berpikir, tidakkah Allah akan memilih seorang di antara anak laki-laki yang memiliki potongan tubuh yang indah dan telah dewasa? Bukankah Saul juga seorang yang bertubuh paling tinggi di Israel? Penggantinya tentunya adalah seorang berpenampilan mirip Saul. Namun Allah mempunyai rencana yang lain, Allah mencari seorang yang berkarakter, seorang yang hatinya benar dihadapan Tuhan. Allah tidak tertarik pada tinggi tubuh seseorang, tetapi pada kebesaran jiwanya. Kenyataan inilah yang dapat kita baca dalam 1 Sam. 16:7. |

Topeng "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan
lakukanlah yang baik." |
Tanggal : 16 Juli 1998 Bacaan : Mat. 23:25-28 Refleksi : Apakah selama ini kita hidup dalam kepura-puraan? Ingat! Allah mengetahui pikiran dan hati manusia. Doakan Bersama : Mohon Tuhan memelihara semangat pelayanan kita sebagai anak-anak Allah di tengah-tengah semakin sibuk dan sulitnya tantangan hidup. |
Di Indonesia saat ini sedang terjadi berbagai gejolak baik itu krisis moneter,
ekonomi dan kepercayaan. Kalau kita keliling kota Surabaya khususnya, dimana-mana
terpampang tulisan 'Kami mendukung Reformasi,Turut berduka atas gugurnya
mahasiswa Trisakti, milik pribumi dan kaum Muslim'. Yang menjadi pertanyaan
bagi kita sekarang adalah apakah kata-kata itu keluar dari hati yang paling
dalam? Atau sekedar ikut-ikutan dengan memakai "topeng" untuk
menyelamatkan diri, harta dari gangguan orang tertentu. Kepura-puraan merupakan ciri hidup orang yang belum menemukan harga dirinya. Pada zaman Tuhan Yesus, sikap ini menguasai ahli Taurat dan orang Farisi. Tuhan Yesus menyebut mereka orang munafik. Mengapa? Di sebelah luar mereka nampaknya benar dimata orang tetapi di sebelah dalam mereka penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Mereka hanya membersihkan sebelah luar tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan (ay. 25,28). Sama seperti buah mangga yang luarnya bersih dan baik tapi dalamnya busuk. Mereka memberi sedekah, berdoa dengan kalimat panjang di rumah ibadah dan di tikungan jalan dengan tujuan supaya dilihat orang (Mat. 6:2,5-7). Kepura-puraan ini dikecam oleh Tuhan Yesus. Saat ini banyak orang hidup dalam kepura-puraan. Mereka selalu memakai topeng guna menutupi dirinya. Dengan begitu mereka tidak sedang hidup dalam kasih. Sebab kasih itu tidak pura-pura. Jika kita mengasihi diri sendiri maka kita akan menampakkan diri sebagaimana adanya. Buanglah segala macam kemunafikan, karena orang munafik akan dibuang di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang (Why.21:8). |

Jangan Takut Jimmy, Yesus Di Sini "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali
tidak akan meninggalkan engkau." |
Tanggal : 17 Juli 1998 Bacaan : Yos. 1:1-18 Refleksi : Jimmy yang gagap itupun menjadi tenang waktu dia sadar bahwa Yesus bersama dengan Dia. Adakah yang lebih membuat kita tenang dari pada kepastian Tuhan memegang tangan kita? Doakan Bersama : Sikap kita sebagai orang Kristen di dalam beribadah agar benar-benar mempunyai hati yang takut dan hormat kepada Tuhan. |
Jimmy, si gagap, menceritakan bahwa selama ia berada di rumah sakit, seseorang
dengan setia mengunjunginya. "Ke.. ketika.. semua orang meremehkan aku.., a..aku pergi ke..ke gereja kecil itu. Aku berdoa di..sana, "Yesus, Ji..Jimmy di sini", Aku ingin ber..doa banyak, ta..tapi tidak bisa. Ta..tapi aku yakin Ye..Yesus mendengar aku". "Waktu aku sa..sakit, aku sa..sangat takut. Aku sendirian dan ti..tidak punya te..teman. Tiba-ti..tiba seseorang yang ti..tidak aku kenal da..datang mengunjungiku. De..dengan lembut, Ia memegang tanganku. Ka..katanya, "Jangan takut Jimmy, Yesus disini." Ada begitu banyak masalah yang harus kita hadapi. Sebenarnya masalah-masalah itu seringkali bukanlah masalah yang tidak dapat kita atasi. Namun, kita menjadi demikian takut menghadapinya karena kita merasa harus menghadapinya seorang diri. Ketakutan dan kegentaran yang sama melanda Yosua ketika tugas memimpin bangsa Israel itu diembankan kepadanya. Dalam ketakutannya, Allah menjanjikan penyertaan. Allah tidak akan meninggalkan Yosua. Ia akan selalu ada untuk Yosua. Ketika Yosua mulai menyadari dan mengimani janji Allah tersebut, ia kemudian dapat melakukan tugasnya dengan baik. Janji yang sama berlaku untuk kita, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Yakinlah bahwa Allah turut merasakan kesedihan, ketakutan, kesepian, dan kegelisahan kita. Apapun masalah yang kita hadapi, jangan biarkan ketakutan menguasai kita, sebab Allah beserta kita. "Jangan takut, Yesus disini! |

Hasil Yang Indah "Apabila bejana yang sedang dibuatnya dari tanah liat ditangannya
itu rusak, maka tukang periuk mengerjakannya kembali menjadi bejana lain
menurut apa yang baik pada pemandangannya." |
Tanggal : 18 Juli 1998 Bacaan : Yer. 18:1-6 Refleksi : Apakah selama ini kita sudah sungguh-sungguh mengerti bahwa kerelaan kita dibentuk mempengaruhi sejauh mana kita dapat tampil sebagai anak-anak Allah yang memuliakan Allah? Doakan Bersama : Minta keberanian untuk menyatakan kebenaran di lingkungan masing-masing agar terang Tuhan dapat terpancar melalui setiap orang Kristen. |
Alangkah indahnya jika setiap anak Tuhan dapat berkata "Tetapi sekarang,
ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami, kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk
kami dan kami sekalian adalah buatan tanganMu." (Yes. 64:8). Pembentukan Allah terhadap anak-anakNya sama seperti halnya seorang penjunan membentuk tanah liat (Yer. 18:4). Ketika seorang penjunan hendak membuat tanah liat menjadi bejana yang indah, ia haruslah terlebih dahulu memilih tanah liat yang tidak mengandung banyak pasir. Setelah itu pasir-pasir yang menempel akan di cungkil dan dibersihkan satu demi satu dari tubuh tanah liat itu. Tujuannya cuma satu supaya tanah liat itu nantinya tidak menjadi bejana yang mudah retak dan hancur. Kualitas serta keindahan bejana terletak pada proses ia dibentuk. Mungkin jika tanah liat itu hidup ia akan mengumpat, menangis, bahkan memaki-maki sang penjunan. Mengapa? Karena ia tidak membayangkan dan tidak menyadari jika melalui pembentukan yang "menyakitkan" itulah ia akan menjadi sebuah bejana indah yang akan dikagumi orang. Allah pun seringkali memakai cara-cara yang menyakitkan untuk membentuk kita supaya kita menjadi indah. Hal itu dikarenakan Allah ingin kita menjadi ciptaan yang benar-benar dapat memuliakan Dia. Emas diketahui murni dan indah setelah ia terlebih dahulu di uji dalam dapur peleburan yang sangat panas. Jika ingin memuliakan Allah, siaplah mengalami tempaan dan pembentukan yang menyaktikan dari Allah. Kadar kerelaan kita yang telah dibentuk akan menjadi tolok ukur apakah nantinya kita dapat atau tidak memuliakan Allah. |

Beloved One "Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang
sabar dan berlimpah kasih dan setia." |
Tanggal : 19 Juli 1998 Bacaan : Mzm. 23 Refleksi : Menyadari kasih Allah memampukan kita untuk dapat lebih mengasihi diri sendiri. Doakan Bersama : Adanya kebebasan pers di Indonesia supaya yang benar dapat dinyatakan sehingga menjadi sarana media informasi yang bertangggung jawab. |
Perlakuan kasar yang kita terima pada masa kecil, tanpa kita sadari telah
banyak mempengaruhi kita. Penyiksaan, pengabaian atau penolakan, dan peremehan
telah mengakibatkan luka yang dalam, yang membuat kita menyimpulkan bahwa
diri kita buruk. Kita merasa ada yang tidak beres dengan diri kita dan memandang
diri kita sebagai orang yang tidak dikasihi. Memang kadang-kadang mengeritik diri sendiri datang dari penilaian yang akurat dan seimbang tentang siapa diri kita. Namun bagaimanapun, umumnya perbincangan yang negatif dengan diri sendiri adalah hasil dari kritikan orang lain yang menyentuh bagian terdalam diri kita. Pandangan negatif ini membuat kita tidak mampu memandang diri sebagai orang yang dikasihi. Dalam Mzm. 23, pemazmur memberikan gambaran tentang bagaimana Allah memandang kita. Allah melihat kita sebagai domba yang memerlukan pemeliharaan yang lembut, perlindungan yang kokoh dan tuntunan serta penyertaan. Ia menyediakan apa yang kita butuhkan, Ia membimbing dan menyegarkan jiwa kita. Tindakan Allah sebagai Gembala ini menunjukkan kasihNya yang luar biasa bagi kita. Ia mengasihi kita sebagaimana kita adanya, bukan karena kita telah melakukan hal-hal yang luar biasa untukNya. Ketika kita merasa bahwa kita tidak dikasihi, kita harus memfokuskan diri pada kata-kata dan tindakan Allah sebagai Gembala yang penuh kasih. Semoga Anda bertumbuh dalam kesanggupan untuk memandang diri Anda sendiri sebagai orang yang dikasihi, tatkala Anda memfokuskan diri pada kata-kata dan tindakanNya yang penuh kasih itu. |

Menangis Untuk Indonesia "Dan Aku berkata kepadamu: mulai sekarang kamu tidak akan melihat
Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan." |
Tanggal : 20 Juli 1998 Bacaan : Mat. 23:37,38 Refleksi : Gereja perlu untuk bersedih dan menangis bagi Indonesia, untuk menunjukkan keperdulian dan kasihnya. Doakan Bersama : Anak-anak di seluruh dunia agar dapat mengatasi godaan seperti: obat-obat terlarang, tindakan kriminal, dan perbuatan amoral. |
Konteks ayat ini berbicara tentang kesedihan dan tangisan Tuhan Yesus kepada
kota Yerusalem. Kesedihan dan tangisan ini, disebabkan adanya penolakan
penduduk Yerusalem terhadap nabi yang diutus Allah. Sebagai bangsa pilihan,
Allah menghendaki mereka hidup di dalam kebenaran dan yang diperkenan oleh
Allah sendiri. Untuk maksud mulia ini, Allah memberikan nabi-nabiNya bahkan
Yesus sebagai Anak Allah untuk menggembalakan mereka. Tapi kebaikan Allah
justru ditolak dengan menutup diri terhadap utusan-utusan Allah ini. Kebaikan Allah, Kristus ilustrasikan dengan seekor induk ayam yang menginginkan anak-anaknya berlindung di bawah sayapnya. Tapi anak-anak ayam itu nakal, tidak mau mendengar teriakan induknya yang menginginkan mereka tidak jauh dari dia. Mereka lebih senang melepaskan diri dari "lingkungan kenyamanan" induknya, biarpun itu sangat berbahaya. Penghukuman akibat kebandelan mereka ini yang menjadikan Tuhan Yesus mencucurkan air mataNya. Dimana Yerusalem akan dihancurkan dan menjadi sunyi. Penggenapan kehancuran Yerusalem terjadi tahun 66-70 M, yang dihancurkan oleh panglima perang Romawi yaitu Jendral Titus. Kesedihan dan tangisan Tuhan Yesus, menjadi gambaran keprihatinan Allah melihat kondisi bangsa-bangsa di dunia yang penuh dengan kejahatan. Mereka bukan makin mendekat pada Allah, tapi sering mengingkariNya. Khususnya kondisi Indonesia yang makin memprihatinkan. Sebelum Allah makin membiarkan kondisi Indonesia, biarlah sebagai orang percaya kita sedih dan menangis untuk minta belas kasihan Tuhan. Itulah cinta dan kasih kita untuk bangsa. |

Sifat Dasar Hidup Kristen "...Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu
lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah
melakukannya untuk aku." |
Tanggal : 21 Juli 1998 Bacaan : Mat. 25:31-46 Refleksi : Orang Kristen melakukan kebajikan secara wajar, begitu alamiah sampai diri sendiri tidak menyadari telah melakukannya bagi Tuhan. Ini adalah sifat Kristen yang sejati, Adakah sifat itu dalam diri Anda? Doakan Bersama : Rencana-rencana yang kita buat agar benar-benar mengikutsertakan Tuhan dan hanya untuk kemuliaan Tuhan bukan untuk kenikmatan kita sendiri. |
Melalui ilustrasi ini, Tuhan menyampaikan suatu pesan yang sangat serius,
menantang setiap orang Kristen untuk menguji diri. Ini adalah ilustrasi
tentang Penghakiman Akhir Zaman di mana status kekekalan seseorang ditetapkan.
Saat itu orang-orang akan dipisah dalam dua kelompok; kelompok yang menerima
pahala dan kelompok yang menerima hukuman kebinasaan kekal. Dan yang menarik
adalah pengujian yang Tuhan tetapkan, ternyata bersifat sangat praktis,
bukan ujian tentang teori iman Kristen atau doktrin, tapi ujian tentang
perbuatan hidup. Kepada kedua kelompok, Tuhan mengajukan masalah yang sama, jawaban kedua kelompok tersebut juga sama. Mereka bertanya "Bilamana kami melihat Engkau" Mereka seperti sama-sama tidak menyadari, tapi kalau diselidiki lebih dalam, maka akan ditemukan perbedaannya. Ketika kelompok orang benar bertanya, menunjukkan bahwa mereka benar-benar tidak merasa sudah melakukan bagi Tuhan, karena semua perbuatan itu keluar dari hidup mereka yang dilakuan secara wajar, sampai mereka tidak menyadari telah melakukan buat Tuhan. Sedangkan pertanyaan kelompok yang disebut sebagai kambing menunjukkan sesuatu yang lain "Andaikan saja kami tahu bahwa itu adalah Engkau, Tuhan, pasti akan kami lakukan. Tapi kami tidak melakukan itu, karena kami tidak tahu bahwa itu adalah Engkau sendiri." Dalih seperti ini menunjukkan bahwa selama ini hati mereka terus dipenuhi dengan konsep mencari keuntungan diri. Mereka tidak punya sifat natural untuk melakukan kebaikan kepada orang lain, kecuali dalam kasus-kasus tertentu di mana mereka sendiri mendapat keuntungan bagi diri mereka sendiri. |

Tak Menolak "...ia berdiri dibelakang Yesus dekat kakiNya, membasahi kakiNya
dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakiNya
dan meminyakiNya dengan minyak wangi." |
Tanggal : 22 Juli 1998 Bacaan : Luk. 7:36-50 Refleksi : Jangan memunculkan Allah sebagai "oknum yang kejam" dalam penolakan, melainkan sebagai "oknum yang welas asih" dalam penerimaan. Doakan Bersama : Para orang tua agar memberikan waktu dan perhatian dalam kebenaran kepada anak-anaknya dengan lebih bertanggung jawab. |
Air mata yang tercurah dipipi, dapat menggambarkan dua kondisi yang berbeda.
Ada yang menunjukkan tanda kebahagiaan wujud sukacita. Ada yang menunjukkan
tanda kesedihan wujud duka yang mendalam. Tapi kebanyakan air mata yang
terjurah dalam hidup manusia, menunjukkan ada beban yang menindih. Ketika perempuan dalam cerita ini, air matanya jatuh membasahi kaki Kristus, itu menunjukkan kesedihan dan kedukaan yang mendalam. Hal ini dapat dipahami kalau dibandingkan dengan ayat 37 yang mengatakan "seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa." Seorang yang dikategorikan sebagai "perusak" masyarakat dengan godaan-godaan sexnya. Maka tidak mengherankan dia dikucilkan, dianggap sampah masyarakat serta dianggap najis. Keberadaan dia ini, tentunya sangat tidak menguntungkan. Dia tidak berhak mendapatkan penerimaan diri dari masyarakat, melainkan penolakan bahkan cenderung dilecehkan. Hal ini tentu dapat menjadi duka lara yang berkepanjangan dan dapat membawa pada keputusasaan. Tidak mengherankan di dalam keputusasaannya, dia nekat mendatangi dan menjamah Tuhan Yesus. Dengan satu harapan tidak ditolak. Ternyata Tuhan Yesus membiarkan diriNya dijamah dan dibasuh oleh perempuan berdosa. Dia tidak merasa risih, jijik dan kotor. Hal ini Dia tunjukkan, untuk menyatakan bahwa ada satu kebutuhan dari wanita ini yaitu pengampunan. Tak menolak harus menjadi ciri khas anak Tuhan. Karena hal ini dapat menunjukkan adanya pengampunan Allah yang disalurkan melalui mereka. Jangan memberikan penghakiman melainkan pengampunan. |

Menghibur "Jadi, karena di dalam Kristus ada nasehat, penghiburan kasih,
ada persekutuan roh, ada kasih mesra dan belas kasihan..." |
Tanggal : 23 Juli 1998 Bacaan : Flp. 2:1-3 Refleksi : Pernahkan sikap dan kata-kata kita menjadi penghiburan bagi saudara-saudara kita yang sedang mengalami kemalangan? Doakan Bersama : Para aparat keamanan dalam menjalankan
tugas tetap dengan sabar, bijaksana, dan adil. |
Kisah ini ditulis oleh Anne Walton: "Saya merawat seorang lelaki
muda tiga puluhan tahun yang hidupnya tidak lama lagi. Orang tuanya datang
dari luar kota dan menungguinya terus di rumah sakit. Suatu malam waktu
mereka makan malam di luar, anaknya itu meninggal. Ibunya merasa sangat
terpukul sekali. Bukan saja karena anak lelakinya sudah meninggal tetapi
meninggal ketika dia tidak berada di sisinya." Ketika saya sedang berdiri di samping ibu itu, dengan jelas saya mendengar bisikan dalam benak saya, suruh dia naik ke tempat tidur dan memeluk anaknya. Saya jadi bingung. Gimana cara menyampaikannya? Gimana kalau dilihat orang? Saya mencoba mengabaikannya dan berharap suara itu akan hilang sendiri. Ternyata tidak. Beberapa detik kemudian suara itu terdengar lagi dengan nada yang lebih keras, Dia harus naik ke tempat tidur dan memeluk anaknya! "Bu, apakah Ibu mau naik ke tempat tidur dan memeluknya?", terdengar suara saya bertanya pada ibu itu. Dia langsung naik ke tempat tidur. Saya berada di situ ketika ia memeluk anaknya, membelai wajahnya, berbicara kepadanya dan menyanyikan lagu untuknya. Saat-saat bersama ibu dan anak itu adalah saat-saat yang paling istimewa dalam hidup saya. Saya merasa mendapatkan rahmat karena bisa bersamanya ketika dia mengucapkan selamat jalan kepada anak lelakinya. Cerita ibu Anne ini menggambarkan betapa indahnya seseorang yang bisa menjadi penghibur bagi orang lain dalam suka duka. |

Pentingnya Pekabaran Injil "Karena jika aku nmemberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan
untuk memegahkan diri, sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku,
jika aku tidak memberitakan Injil." |
Tanggal : 24 Juli 1998 Bacaan : Rm. 1:16,17 Refleksi : Masih banyak jiwa yang saat ini menunggu kita untuk rela dan bersedia melawat mereka. Bersediakah kita mendatangi mereka? Doakan Bersama : Lembaga-lembaga pelayanan yang ada kiranya terus dipakai Tuhan dan boleh menjadi berkat sehingga nama Tuhan dimuliakan. |
William Both pendiri Bala Keselamtan mempunyai komitmen yang sangat besar
terhadap Pekabaran Injil. Ini bukan hanya dilihat dari landasan perjuangannya
yang sangat besar untuk memberitakan Injil Kristus kepada jiwa-jiwa yang
"tidak dapat ditebus" (terhilang) tetapi ia juga mengharuskan
setiap anaknya untuk memberitakan Injil ke berbagai tempat diantaranya India,
Perancis, Amerika Serikat dan Indonesia. Memang pemberitaan Injil adalah
hal yang sangat penting atau lebih tepat "kewajiban" dari setiap
orang Kristen. Hal ini dipertegas dengan ucapan Rasul Paulus juga dalam
1 Kor. 9:16 bahwa Pemberitaan Injil adalah "keharusan" bahkan
ia menambahkan "celakalah" jika ia tidak memberitakan Injil. Sebenarnya apa manfaat Injil bagi orang-orang yang terhilang? 1. Injil itu kekuatan Allah (Rm. 1:16); 2. Iman timbul dari pendengaran akan Injil (Rm. 10:17); 3. Injil memungkinkan orang-orang yang tersesat dapat ditebus melalui Kekuatan Kasih Yesus Kristus. Pengaruh Pemberitaan Injil memang luar biasa, tetapi satu hal yang memprihatinkan yaitu saat ini pekabaran Injil sedikit mulai dilupakan bahkan diabaikan dalam pelayanan gereja. Jika saja gereja mengingat bahwa kekuatan dan keberadaan gereja bermula dari pemberitan Injil (bnd. Kis. 2:41-47) maka pasti pelayanan ini akan lebih lagi ditingkatkan. Yang menjadi pertanyaan kita adalah apakah masih ada kesadaran dalam hati orang Kristen akan pentingnya Pekabaran Injil? |

Kerinduan Yang Terjawab "Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah
mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia." |
Tanggal : 25 Juli 1998 Bacaan : Mat. 20:29-34 Refleksi : Apa usaha konkrit kita untuk bertumbuh? Doakan Bersama : Negara-negara di dunia yang mengalami berbagai masalah, agar dapat diselesaikan dengan hati yang bijaksana dan terus bersandar pada pimpinan Tuhan. |
Di tanah Palestina, orang-orang sedang ramai membicarakan seorang tokoh
besar yang baru muncul dari Nazareth yang mengajar dengan hikmat, kuasa
dan melakukan banyak tanda-tanda keajaiban. Berita tersebut tersebar kemana-mana,
dan sangat mungkin juga terdengar oleh kedua orang buta itu. Kondisi kebutaan mereka memang tidak memungkinkan mereka pergi mencari Tuhan Yesus, tapi kerinduan dan kenyakinan mereka kepada orang yang bernama Yesus berkobar dalam hati mereka. Dan ketika mereka mendengar bahwa Yesus sedang berada di dekat kota mereka, mereka pun menempatkan diri di jalan yang mungkin akan dilaluiNya. Dan ketika Tuhan lewat mereka berteriak memohon belas kasihanNya. Usaha mereka pada mulanya mengalami hambatan, tapi pada akhirnya mereka mendapatkan pertolongan. Kedua orang buta itu tidak mampu mencapai Tuhan, tetapi paling sedikit mereka melakukan sesuatu, mereka menempatkan diri mereka di jalan itu. Hari ini ada banyak sarana berkat yang Tuhan sediakan di Gereja: pembinaan, doa daan ibadah. Orang mengatakan ingin bertumbuh, tapi tidak bersedia ikut pembinaan. Ingin beribadah tapi tidak dengan sikap serius dan hormat. Ingin ditolong tapi tidak mau ikut berdoa. Mereka tidak pernah menerima berkat rohani secara konkrit dari Tuhan, karena mereka memang tidak punya kerinduan yang sungguh seperti yang dimiliki kedua orang buta, yang diwujudkan dalam tindakan nyata hari itu, dengan menempatkan diri mereka dekat kepada Tuhan dan berseru kepadaNya. |

| Seperti Anak Kecil "Biarlah anak-anak itu datang kepadaKu dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah." ( Luk. 18:16 ) |
Tanggal : 26 Juli 1998 Bacaan : Luk. 18:15-17 Refleksi : Rendah hati lebih bermanfaat dibandingkan kesombongan yang hanya kosong. Ucapkanlah syukur kepada Tuhan! Doakan Bersama : Daerah-daerah dan suku-suku terasing yang belum terjangkau oleh peradaban, mohon Tuhan mengirim pekerjaanNya agar mereka boleh mendengar Injil. |
Kepolosan merupakan sifat anak-anak pada umumnya. Di mana kepolosan ini
menjadi gambaran masih adanya kemurnian di dalam kejujuran jiwa seorang
anak. Tidak dikorupsi oleh hal-hal yang berbau kemunafikan, kedengkian serta
kebohongan. Ada keluguan dan kelucuan di dalam tingkah polah anak yang dapat
memberikan kesejukan di dalam canda tawa mereka. Keunggulan dari kehidupan seorang anak, sangat dimengerti dan dipahami oleh Tuhan Yesus. Tidak mengherankan ketika murid-muridNya hendak "menghalau" mereka karena takut mengganggu dan merepotkan Tuhan Yesus justru dicegah oleh Tuhan Yesus. Penghargaan kepada anak-anak, jelas Tuhan Yesus tunjukkan pada saat Dia meminta orang banyak serta murid-muridNya untuk mau seperti anak-anak. Bahkan harus mau menjadikan anak-anak sebagai contoh di dalam memberikan pelajaran rohani tentang menyambut kerajaan Allah. Keindahan dari kehidupan anak-anak menjadi titik tolak Tuhan Yesus mengajarkan tentang menerima kerajaan Allah; yaitu memiliki keberanian untuk mau rendah hati di dalam menerima kehadiran Allah. Seperti seorang anak yang mau berserah dan bergantung kepada orang tuanya di dalam kepolosan mereka. Demikian juga orang yang mau menerima keselamatan harus rela bergantung kepada Allah. Seperti seorang anak mau "menadahkan" tangan tanda meminta kecukupan pada orang tuanya. Demikian juga orang yang mau menerima berkat Tuhan, harus mau "menadahkan" tangan tanda kesadaran semua berkat dari Allah asalnya. |

| Hidup Di Dalam Damai "Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain." ( 1 Tes. 5:13b ) |
Tanggal : 27 Juli 1998 Bacaan : 1 Tes. 5:12-22 Refleksi : Kedamaian yang muncul ditengah-tengah konflik akan menyembuhkan luka batin dari hati yang sakit. Doakan Bersama : Kehidupan kerohanian kita agar melalui kesaksian hidup pribadi banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan sehingga nama Tuhan dipermuliakan. |
Di dalam hidup berdampingan dengan orang lain, perlu adanya kedamaian. Kedamaian
sangatlah dibutuhkan di dalam kehidupan manusia yang penuh dengan intrik-intrik,
perselisihan dan permusuhan. Apabila kondisi ini tidak diimbangi dengan
usaha untuk mewujudkan kedamaian, maka manusia akan cenderung menjerumuskan
diri di dalam dunia "kanibalisme", yaitu dunia yang suka "memangsa"
orang tanpa lagi perasaan kasihan, Kerawanan yang ada di dalam suatu komunitas, sangatlah disadari oleh rasul Paulus. Di mana sebagai pemimpin rohani jemaat Tesalonika dia mulai menangkap adanya gejolak ketidaktertiban hidup di dalam jemaat ini. Ada yang berbuat cabul (Tes. 4:3), ada yang tidak mau bekerja (Tes. 4:11), ada yang dibingungkan dengan persoalan orang yang meninggal (Tes. 4:13), bahkan ada yang berdebat tentang kedatangan Tuhan Yesus atau akhir zaman (Tes. 5;11). Semua gejolak ini kalau tidak disadari akan menciptakan konflik yang dapat menjurus kepada pertentangan, yang merugikan diri masing-masing. Untuk itulah, Paulus meminta kepada mereka untuk mau senantiasa berusaha menciptakan hidup di dalam damai. Penekanan istilah selalu, menunjukkan adanya usaha yang tanpa henti-hentinya untuk mewujudkan kedamaian itu. Hidup ini, paling tidak akan sedikit harmonis kalau kita mau mulai mewujudkan damai ditengah-tengah rekan kerja, rekan majelis, keluarga dan gereja. Kalau harmonis yang sedikit ini dapat "ditalikan" akan menjadi "tularan" yang bermanfaat bagi yang lain. |

Pemberian Atau Sang Pemberi? "Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan Allahmu,
dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapanNya, yang kusampaikan
kepadamu pada hari ini." |
Tanggal : 28 Juli 1998 Bacaan : Ul. 8:1-20 Refleksi : Seringkali berkat Tuhan tidak dapat kita ingat dan hitung oleh karena begitu banyaknya, itu suatu sikap yang manusiawi. Namun dapat menjadi tidak manusiawi ketika kita melupakan Sang pemberi berkat itu sendiri. Doakan Bersama : Kualitas dan kuantitas kesaksian gereja
dalam masyarakat luas. |
Samakah yang memberi dengan pemberian? Dengan tegas saya menjawab tidak.
Mengapa? Karena pemberian hanyalah salah satu ungkapan kasih dari orang
yang memberi. Dalam Ul. 8:1-20; 3 kali Allah mengingatkan orang Israel untuk tidak melupakan Allah (ay. 11, 14, 18). Hal ini memang di sebabkan adanya kecenderungan bangsa itu untuk mudah melupakan Allah, sekalipun Allah berulang kali menolong mereka dengan memberikan berkat-berkatNya ketika mereka berada di dalam kekurangan dan penderitaan (bnd. Kel. 16:1-36; 17:1-7). Orang yang bersandar kepada Tuhan tidak akan mudah melupakan Tuhan, tidak mudah goyah dan juga putus asa. Pada saat ia berada dalam keadaan apapun ia dapat menjalani dan menikmatinya. Sebaliknya orang yang sering bersandar pada pemberian Tuhan (berkat) akan lebih mudah melupakan Tuhan dan orang seperti ini mudah mengalami putus asa, kuatir, takut. Sekali saja ia tidak melihat dan memperoleh apa yang ia minta, ia akan mengalami suatu kehampaan hidup yang amat sangat. Orang Kristen harus mempunyai prinsip bahwa sekalipun berkat yang diharapkan tidak diberikan (karena Allah tidak selalu harus memberi apa yang kita minta), tapi hal itu tidak menjadi masalah sebab Allah sang empunya berkat dan sang pemberi berkat senantiasa ada. Inilah yang seharusnya menjadi kekuatan dan pengharapan bagi kita. Kita bukan beriman dan hidup dari berkat tetapi kita beriman dan hidup dari Allah sang empunya berkat. Ia lah yang harus menjadi tempat kita bersandar. |

Full Commitment "Hal kerajaan sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang,
yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Sebab sukacitanya pergilah
ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu." |
Tanggal : 29 Juli 1998 Bacaan : Mat. 13:44-45 Refleksi : Di tengah-tengah krisis moneter dan semakin terasanya bahwa harta
dan kekayaan tidak memberikan jaminan apa-apa kepada kita, lalu terapresiasikah
komitmen kita mengikut Yesus Tuhan kita? Pengertian doa yang benar sesuai dengan Firman Tuhan dan kerinduan berdoa bagi semua orang. |
Pada bagian ini kerajaan sorga diumpamakan seperti harta yang terpendam
yang tidak terbanding harganya. Sehingga seseorang yang menemukan harta
itu pasti berani mengorbankan seluruh miliknya demi mendapatkannya. Artinya apa? Yesus sedang menjelaskan bagaimana seharusnya komitmen seorang yang sudah bertemu dengan harta terpendam yaitu Yesus itu sendiri. Perumpamaan ini sama dengan perumpamaan ayat 45. Menjual seluruh miliknya, artinya adalah bagaimana seseorang setelah mengikut Yesus ia mengikuti dengan komitmen total, meninggalkan semua hal-hal yang dapat menghalangi dia dalam melayaninya. Baik itu harta benda ataupun orang-orang di sekeliling kita. Merenungkan mengenai komitmen kita teringat akan komitmen Paulus dalam mengikut Yesus. Ia berkata "Apa yang dahulu keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus." (Fil. 3:7). Selanjutnya ia berkata "Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu (semua yang dibanggakannya sebelum bertemu Kristus, yang menghalanginya bertemu Kristus). dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus." (Fil. 3:8). Paulus menjadi orang yang begitu setia kepada Tuhannya, sehingga dia berkata "Aku sering dipenjara, disesah, dilempari batu, berjerih lelah, sering tidak tidur, lapar dan dahaga, berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian." (2Kor. 11:23-29). Namun, dengan semua pengalaman Paulus itu, ia membuktikan bahwa harta/kerajaan sorga itu tidak dapat dibandingkan baik dengan semua keindahan maupun kesengsaraan dunia ini. Itu sebabnya ia selalu memegang harta kekal itu. |

Akhirnya... "Lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah
terdapat ratapan dan kertak gigi." |
Tanggal : 30 Juli 1998 Bacaan : Mat. 13:47-52 Refleksi : Seringkali penderitaan itu diijinkan Tuhan terjadi pada diri kita untuk menguji sampai sejauh mana kasih, damai dan sukacita dari Tuhan itu menguasai hidup kita Doakan Bersama : Lembaga-lembaga pendidikan Kristen dan staf pengajar Kristen agar menjadi kesaksian nyata dalam membina kerohanian untuk kiprahnya bagi negara. |
Dalam perumpamaan ini manusia yang baik dan yang tidak baik diumpamakan
oleh Tuhan Yesus sebagai ikan yang baik dan ikan yang tidak baik yang berada
di dalam lautan dan dunia yang sama. Orang Kristen bahkan seringkali menerima pergumulan yang sama bahkan lebih berat lagi dari pada orang yang tidak percaya. Lalu begitu enakkah orang-orang jahat itu sehingga mereka bisa berbuat sewenang-wenang? Itulah yang kita lihat dari kenyataan akhir-akhir ini pada kerusuhan 12-14 Mei 1998 yang lalu dimana kita melihat kejahatan itu merajalela. Apakah Tuhan tidak menyatakan keadilannya? Memang ini realita yang sulit hanya dipahami secara sebab akibat atau dengan hitungan matematis semata. Hal-hal yang diijinkan Tuhan kadang kala sulit kita pahami bahkan sampai kita mati sekalipun, bahkan kala kita bertemu dengan Tuhan di sorgapun belum tentu semua pertanyaan-pertanyaan itu bisa kita mengerti semua. Sebab di sorgapun kita tetap manusia, bukan berubah menjadi Tuhan. Tapi apakah Tuhan tidak menghukum? Tuhan menghukum. Hukuman yang paling nyata adalah pada akhir zaman dimana Tuhan memisahkan orang-orang jahat itu untuk dibinasakan di dalam dapur api. Lalu apa yang dapat kita lakukan sebagai orang Kristen yang selalu menjadi sasaran empuk penganiayaan? Tuhan katakan bahwa penderitaan adalah salah satu karunia yang Tuhan berikan kepada kita (Fil.1:29). Janganlah penderitaan itu merampas damai, kasih dan sukacita yang Tuhan berikan melalui pengampunanNya yang kekal di salib itu kepada kita. |

Menghargai Orang Lain "Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria
dan saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita?" |
Tanggal : 31 Juli 1998 Bacaan : Mat. 13:53-58 Refleksi : Belajarlah menerima orang lain dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Doakan Bersama : Program bebas dari KKN kiranya boleh benar-benar dilaksanakan dengan sepenuh hati dan bersandar hanya kepada takut akan Tuhan. |
Sesungguhnya sikap orang-orang Nazaret itu adalah kekecewaan yang tidak
masuk akal. Kekecewaan bukan karena alasan yang tepat tapi semata-mata karena
masalah tidak puas hati, iri hati, sombong. Mereka takjub (ay.54) tetapi tidak dengan tulus hati. Takjub akan pengajaran Yesus. Tetapi, setelah mereka melihat siapa pengajarnya, mereka kecewa. Karena apa? Karena mereka menganggap sebenarnya apa sih kelebihan Yesus ini? Ia 'kan anak tukan kayu itu?; Lho... ibuNya 'kan yang bernama Maria itu dan semua saudara-saudaraNya yang perempuan 'kan ada bersama kita? Jadi mana mungkin Dia lebih hebat dari kita. Itu 'kan hanya omong kosongNya saja...Demikianlah kira-kira sungut-sungut mereka kepada Yesus. Ada perasaan tidak puas dan iri hari terhadap Yesus. Kok Yesus bisa melebihi mereka sementara semua saudaraNya kita kenal sebagai orang kampung kita juga? Mereka ini adalah orang-orang yang sombong dan congkak. Seringkali tanpa kita sadari sikap kita juga seperti mereka ini. Kita tidak bisa menerima orang lain lebih baik, lebih pintar, lebih berhasil, lebih supel dari kita. Dan bahayanya adalah kita langsung menolak orang yang demikian dengan berbagai alasan dan argumen. Padahal itu hanyalah alasan untuk menutupi kelemahan kita, menutupi kecongkakan dan kemunafikan kita. Marilah kita belajar menerima orang lain dengan segala kelemahan dan kelebihan yang mereka miliki. Pada saat kita melakukan hal itu kita sendiri sudah bisa mengalahkan si "aku" kita yang minta ditonjolin terlebih dahulu. |


husen@hotmail.com