Maret 1998

Prakata

Bonus

 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
1
2 3

4

5

6

7
8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 / 30 24 / 31 25 26 27 28 29

husen@hotmail.com

Prakata

KRISIS, KRISIS DAN KRISIS

Seperti biasa Pak Slamet seorang sopir truk bahan bangunan menjalankan truk tuanya melewati daerah pedesaan yang sepi. Sampailah dia di pinggir sebuah sungai yang cukup besar dan siap untuk melewati jembatan darurat yang melintang di atasnya. Pak Slamet berhenti sebentar, malam itu seakan ada suatu pertanyaan yang muncul dalam benaknya, atas dasar apa dia yakin dia bisa sampai di seberang dengan selamat? Bagaimana jika jembatan tua ini tiba-tiba putus? Apakah memang ada orang-orang yang memperhatikan dan mengurus kekuatan dari jembatan tua itu? Tetapi seperti biasa juga dia melihat di seberang jembatan itu ada lampu sang penjaga jembatan. Setelah berhenti sebentar Pak Slamet menghentikan pertanyaan-pertanyaan itu dan melanjutkan perjalannya di atas jembatan yang berkreat-kreot waktu truk yang besar itu melintasinya.
Malam itu Pak Slamet menyimpulkan sesuatu melalui pengalamannya itu "Setiap hari dia mempertaruhkan nyawanya dengan melintasi jembatan darurat itu, tetapi bagaimanapun juga dia harus percaya pada orang-orang yang menjaga jembatan itu, harus yakin bahwa jembatan itu memang sanggup menanggung bebannya dan truk tuanya dan menghantar mereka sampai ke seberang. Hal yang begitu penting ini begitu sering dia lakukan sehingga seakan sudah terlalu biasa dan kurang bermakna."
Setiap hari dalam kehidupan kita, sering kali kita menemui kejadian-kejadian yang sudah terlalu biasa, sehingga kalaupun sebenarnya nyawa kita dipertaruhkan didalamnya kita tidak terlalu khawatir. Dibalik semua itu sebenarnya ada kuasa Allah yang luar biasa yang menopangnya.Ketidak pekaan kita inilah yang membuat kita ketika menemukan hal yang tidak biasa terjadi menjadi demikian takut.
Krisis moneter yang terus berkepanjangan, Wakil Presiden yang kurang sesuai dengan perkiraan kita, kebijaksanaan pemerintah yang tidak sanggup menenangkan kita untuk menaruh uang kita di negara ini, atau apa sajalah kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, membuat kita takut, membuat kita secara tidak langsung meragukan kemampuan Sang Pencipta untuk menopang kehidupan kita. Ya ini semua semata-mata karena kita kurang mensyukuri segala kuasa dan anugerahNya yang sering kita rasakan. Memasuki bulan yang ketiga tahun 1998 ini marilah kita lebih tegar lagi di tengah gelombang keraguan yang semakin deras ini.

Back to Top


Intergrasi Kitab Syair dalam Teknologi Kontemporer
Hari Ini Domba, Besok Gembala...*) BAGIAN II
Sebuah Kritik Terhadap Kloning dan Semangat Zaman
Oleh: Yuzo Adhinarta, S.T.

*) Judul ini diinspirasikan oleh sebuah artikel yang ditulis oleh Kenneth L. Woodward dan yang diterbitkan dalam mingguan Newsweek, edisi March 10, 1997, yang berjudul "Today the Sheep..." p.50.

Akhir-akhir ini manusia sering kali membicarakan tentang "Kloning". Apakah Kloning itu? Apakah kloning sesuatu yang sah-sah saja, karena memang bisa bermanfaat bagi manusia? Sejauh mana kloning diperbolehkan oleh Alkitab? Kalau memang tidak boleh, kuatkah alasan kita untuk pernyataan itu? Mari kita lanjutkan ulasan Sdr. Yuzo di bagian terakhir ini, kiranya menjadi berkat bagi kita.

 

Eksposisi Mazmur 14:1-3

Untuk pemimpin biduan. Dari Daud.
Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah."
Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik.
TUHAN memandang ke bawah dari surga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan mencari Allah.
Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.
— Mazmur 14:1-3 —

Mazmur 14 di atas mempunyai duplikatnya dalam Buku II Mazmur, yaitu Maz. 53. Kedua Mazmur ini identik dan hanya mengandung sedikit perbedaan tekstual, terutama penggunaan nama ilahi: Maz. 14 menyebut Allah dengan "Yahweh" sedangkan Maz. 53 "Elohim". Mazmur ini tercantum dua kali (dan bahkan tiga kali dalam Alkitab termasuk kutipan Paulus dalam suratnya, cf. Rm. 3:10-18) bukannya tidak beralasan, seperti kata Craigie:
The double occurrence of the psalm in the Psalter, together with the implications of the titles to Pss 14 and 53, indicate that over the course of time both psalms became used frequently in Israel's worship and they were not confined in use to the wisdom schools, despite their origin there.11 Sebagaimana Mazmur ini relevan dan digunakan secara meluas di Israel untuk waktu yang lama, Mazmur ini juga digunakan oleh Paulus seribu tahun kemudian dan masih tetap relevan untuk kita pada zaman sekarang. Fakta ini menunjukkan sifat universal dari kebenaran yang terdapat dalam kitab Mazmur.


11 Peter C. Craigie, Word Biblical Commentary: Psalms 1-50 (Texas: Word Books Publisher, 1983), p. 146.

Banyak komentator dan ekspositor yang setuju bahwa Mazmur ini berbicara tentang Atheisme Praktis, antara lain: Peter C. Craigie, Leuplod, dan C. H. Spurgeon. Craigie juga menambahkan bahwa tema dalam mazmur ini senada dengan Maz. 9-10, yaitu tentang Atheisme Praktis. Dalam studinya mengenai beberapa Mazmur dengan tema yang sama ini ia membedakan Atheisme Praktis dari Atheisme Teoritis serta memberikan definisi dan komentator tentang Atheisme Praktis sebagai berikut:
It is not the theoretical issue of atheism which is raised here, but practical or functional atheism, which is a much more dangerous and sinister matter for the theist. The functional atheist is not concerned so much with the theoretical question as to the existence of God; rather, he lives and behaves as if God did not exist. Indeed, the functional atheist may well admit the theoretical possibility that God does exist, but affirms by his speech and behavior that such existent is irrelevant... In contrast to the theoretical atheists, the practical or functional atheists, of whom the psalmist speaks, are a most dangerous species of human being.12


12 Ibid., p. 126-127.

Maz. 14 (dan 53) ini memberikan kepada kita indikasi yang jelas tentang Atheisme Praktis, yakni mengenai natur dan ciri-cirinya. Kita akan dapat mengerti lebih dalam maksud yang berusaha dikemukakan oleh pemazmur bila kita menyelidiki metode/cara pemazmur menuliskan Mazmur ini. Penulis membagi Mazmur ini menjadi tiga bagian, yaitu: ay.1-3, berisi sikap para atheis yang menolak secara langsung (objek penolakannya adalah Allah); ay. 4-6, berisi sikap para atheis yang menolak Allah secara tidak langsung (objek penolakannya adalah umat Allah); dan ay.7, berisi ratapan pemazmur yang berisi harapan akan campur tangan Tuhan. Dalam kesempatan ini penulis membatasi pembahasannya hanya pada ay.1-3.
Penulis melihat ada keunikan dalam penulisan Mazmur ini, khususnya bentuk paralelisme yang digunakannya dalam ay.1-3. Pada ayat 1 dan 2 pemazmur menggunakan bentuk paralelisme sintetis silang (sintesis dilihat dari artinya, silang dilihat dari rimanya). Setiap ayat mempunyai rima sajak a-b-a'-b', arti-nya: pada ayat 1 baris pertama paralel dengan baris ketiga sedangkan baris kedua paralel dengan baris keempat, demikian juga halnya dengan ayat 2. Masing-masing paralel itu menunjukkan ide yang sama dan terkesan pernyataan kedua menerangkan atau memberi deskripsi kepada pernyataan pertama.
Ayat 1. Orang bebal (the fool) pada baris pertama dijelaskan pada baris ketiga sebagai orang yang mempunyai perbuatan yang busuk dan jijik ("They are corrupt, their deeds are vile," NIV). Yang dimaksud dengan orang bebal di sini adalah orang yang mengatakan, "Tidak ada Allah." (baris kedua). Pada saat seseorang dalam kehidupannya mengabaikan keberadaan Allah, kebenaran dan hukum-hukumNya, maka tidak ada seorang pun dari mereka yang berbuat baik (baris keempat). Ayat 1 menunjukkan kepada kita natur orang bebal, yaitu bahwa mereka adalah manusia yang korup (telah jatuh dalam dosa). Ciri-ciri yang dimiliki mereka adalah bahwa mereka mengabaikan keberadaan Allah dan sebagai konsekuensinya, tidak ada seorangpun dari mereka yang (sanggup) berbuat baik. Penghakiman tentang apa yang baik dan tidak baik bukan berasal dari manusia tetapi dari Tuhan (cf. ay.2: "TUHAN memandang ke bawah dari surga.")
Ayat 2. Memandang
pada baris kelima paralel dengan melihat pada baris ketujuh.Kata yang bersifat personifikasi ini tidak hanya mempunyai pengertian mengetahui, tetapi juga menjelaskan dari mana penghakiman yang sah (tentang yang baik dan tidak baik) terhadap hidup manusia itu berasal, yaitu dari Yahweh (Allah Israel, Allah Pencipta alam semesta) yang ada di surga. Anak-anak manusia pada baris keenam diterangkan pada baris kedelapan dengan yang mencari Allah, artinya: Allah menilai segala perbuatan yang dilakukan oleh anak-anak manusia bukan berdasarkan apa yang dianggap manusia baik dan bijaksana tetapi apa yang dianggap Tuhan baik dan bijaksana (cf. Rm. 12:2), dan standar yang sah itu hanya bisa didapatkan manusia bila manusia mencari Allah, karena dari sanalah segala kebenaran itu berasal, Allah adalah sumber epistemologi yang benar karena Allahlah diriNya kebenaran itu (cf. Yoh.14:6).
Ayat 3. Ayat ketiga ini mempunyai struktur yang unik karena merupakan kesimpulan kedua ayat sebelumnya. Baris kesembilan (baris pertama ayat 3) memberikan kesimpulan dari baris pertama, ketiga, kelima, dan ketujuh. Setelah Allah melihat dari surga semua anak manusia (yang telah jatuh dalam dosa) dimuka bumi ini akhirnya tibalah pada satu kesimpulan, yaitu: bahwa mereka semua telah menyeleweng (sesat seperti domba, cf. Yes. 53:6), semuanya telah bejat. Sedangkan baris kesepuluh (baris kedua ayat 3) memberikan kesimpulan dari baris kedua, keempat, keenam, kedelapan. Bagian ini menerangkan bahwa ketika manusia menolak keberadaan Allah dan berusaha mencari kebenarannya sendiri di luar Allah, maka tidak ada manusia yang berbuat baik di mata Allah, seorangpun tidak (RSV: "no, not one"; NIV: "not even one").
Dari studi bentuk puisi ini kita dapat menarik beberapa kesimpulan berkenaan dengan Atheisme Praktis yang berusaha diungkapkan oleh pemazmur. Pertama, kebebalan manusia (atheis) dengan naturnya yang berdosa membuat manusia menolak keberadaan Allah. C.H. Spurgeon menjelaskan hal ini sebagai berikut:
The atheist if the fool preeminently, and a fool universally. He wolud not deny God if he were not a fool by nature, and having denied God it is no marvel that he becomes a fool in practice... As it is the height of sin to attack the very existence of the Most High, so is it also the greatest imaginable folly. To say there is no God is to belie the plainest evidence, which is obstinacy; to oppose the common consent of mankind, which is stupidity; to stiffle consciousness, which is madness.13 Kata bebal (nabal, Ibr.) adalah sebuah julukan yang diberikan kepada manusia bodoh yang telah kehilangan saripati hikmat, rasio, ketulusan, dan kesalehan/keilahian.14


13 C.H. Spurgeon, The Treasury of David (London: Passmore & Alabaster, 1904), Vol. I, p. 179.
14
Ibid., p. 179-180. "The word here used is nabal... It is a title given to the foolish man as having lost the juice and sap of wisdom, reason, honesty, and godliness."

Kedua, natur manusia yang berdosa memanifestasikan kebebalannya dalam rupa perbuatan yang menjijikan (NIV: vile, jahat; RSV: abominable, menakutkan, bersifat menghina) bagi Allah. Leupold menyebut buah atheisme adalah perbuatan yang busuk. 15 Perbuatan yang busuk di sini mempunyai arti yang kontras dengan perbuatan yang berakal budi (ay.2b). Perbuatan tersebut bukan perbuatan yang disebabkan oleh defisiensi mental atau kelemahan inteligensia tetapi merupakan yang disebabkan oleh kurangnya pengertian (understanding) sebagaimana yang diungkapkan oleh Craigie:
The problem was not mental deficiency or lack of intelligence; it was lack of understanding ("Don't they understand?" v.4) of the fundamental principle of human life, namely that it should reflect lovingkidness, not folly, just as God loved and was the antithesis of foolishness. The absence of understanding culminated in evil acts... The fool's lack of understanding is such that his priorities in life are entirely wrong.16 Jadi, sekalipun manusia menjadi sepintar-pintarnya dan sekaya-kayanya, itu tetap tidak menjamin bahwa apa yang dihasilkannya adalah sesuatu yang berkenan kepada Allah, karena standar yang digunakan oleh Allah adalah pengertian/hikmat dan bukan kemampuan intelektual/kecerdasan manusia. Yang menjadi perhatian utama Allah adalah apakah manusia itu mencari Allah dan hikmatNya dalam melakukan segala sesuatu. Karena dengan mencari Allah manusia baru bisa mendapatkan pengertian tentang diri, status, tugas, tujuan, dan kebahagiaan mereka. Secara tidak langsung mazmur ini juga menyatakan kondisi dan konsekuensi manusia berdosa yang terpisah dari Allah. Atau dengan kata lain, manusia yang belum mengenal Allah atau yang belum mempunyai relasi yang beres dengan Allah tidak mempunyai kemungkinan sedikitpun untuk mendapatkan pengertian yang benar tentang segala sesuatu tentang Allah, dirinya, dan apapun yang ada di sekeliling dirinya (alam).


15 H.C. Leupold, Exposition of Psalms (Minnesota: Augsburg Publishing House, 1959), p. 139. "When men deny God's existence or live as though He were not, then wickedness prevails: men 'have acted wickedly, made their doings abominable.' Atheism bears its propeer fruit in rotten conduct."
16 Op. cit., Word Biblical Commentary: Psalms 1-50, p. 148.

Ketiga, natur manusia yang berdosa itu bersifat menyeluruh, totalitas. Bukan saja ini berarti bahwa semua manusia telah rusak tetapi pemazmur juga ingin menekankan bahwa semua perbuatan manusia (tanpa terkecuali) yang dilakukan secara individual telah tercemar oleh dosa itu sendiri. Tidak seorangpun dan tidak satu perbuatanpun yang diperhitungkan Allah sebagai suatu kebenaran (dipandang "baik", ay.3b) dalam diri orang bebal.

INTEGRASI IMAN
Jadi, apa yang bisa kita katakan tentang perkembangan teknologi rekayasa genetika (kloning) dari terang Alkitab (khususnya Maz. 14:1-3)?
Pertama, pengembangan teknologi kloning tidak luput dari pengaruh semangat zaman yang ada. Teknologi sebagai salah satu mata rantai gejolak di zaman modern ini tidak luput ditunggangi oleh semangat zaman Atheisme Praktis. Manusia modern berpikir secara parsial sehingga kerapkali teknologi dikembangkan hanya untuk teknologi itu sendiri (for the sake of the tecnology itself) atau untuk kepentingan pribadi/golongan tertentu tanpa memperhatikan batas-batas (etika, sosial, psikologi, keseimbangan ekologi, dan kesejahteraan seluruh umat manusia) yang telah ditetapkan oleh Allah dan mempertimbangkan dampak-dampak yang dihasilkan. Seolah-olah pelaku teknologi dalam melakukan segala sesuatu itu hendak berkata, "Tidak ada Allah!" Teknologi itu sendiri adalah baik dan merupakan bagian dari pelaksanaan mandat budaya yang diemban oleh manusia sebagai mandataris Allah di muka bumi ini, tetapi teknologi yang dikembangkan secara liar berusaha mempermainkan Allah dan merusak ciptaan yang telah ditata Allah sebelumnya.
Kedua, penilaian dan standar kebenaran adalah berasal dari Allah yang adalah diriNya kebenaran. Pemazmur berkata: "TUHAN memandang ke bawah dari surga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah." (Maz.14:2). Allah adalah satu-satunya sumber epistemologi yang benar. Manusia berdosa yang terpisah dari Allah berusaha untuk mencari epistemologi kebenarannya berdasarkan kecocokan dengan rasio dan perasaannya, kecuali dari Allah. Jadi baik atau tidaknya suatu pengembangan teknologi tidak didasarkan atas apa yang manusia pikirkan dan rasakan melainkan kembali kepada pikiran Allah (cf. I Kor. 2:14-16). Yang menjadi perhatian Allah atas manusia bukan kepada kecanggihan teknologi yang dihasilkan, kemakmuran harta yang diperoleh, dan kebesaran nama yang dimiliki oleh seseorang, melainkan apakah yang dilakukan oleh manusia itu sesuai dengan kehendakNya atau tidak. Di luar Allah manusia tidak akan pernah mencapai standar apa yang dikatakan Allah sebagai sesuatu yang baik, karena di luar Allah manusia tidak akan pernah memperoleh kebenaran. Sekalipun demikian, manusia tetap dianugerahi Tuhan dengan kebenaran umum (general revelation/general truth) yang masih dapat diraihnya karena manusia tetap mempunyai kapasitas untuk itu, namun dosa telah mencemari setiap aspek dari kebenaran umum tersebut. Itu berarti, pada saat manusia mengembangkan teknologi di luar batas-batas kebenaran umum dan/atau dengan motivasi selain memuliakan Allah, sebenarnya pada saat yang sama manusia sedang berusaha untuk merusak alam dan dirinya sendiri. Ketika manusia mendayagunakan rasionya, rasio itu harus kembali kepada Allah yang adalah kebenaran mutlak; ketika manusia menimbang-nimbang dengan hikmatnya, hikmat itu harus kembali kepada hikmat Allah; dan ketika manusia berusaha untuk mengambil keputusan dengan bijaksananya, bijaksana itu harus kembali kepada yang Sang Bijaksana. Hanya dengan kembali kepada Allah dan mempunyai relasi yang beres dengan Dia manusia baru bisa disebut sebagai orang yang berakal budi, berhikmat, dan berbuat baik di mata Allah. Jika tidak demikian, Allah memandang setiap perbuatan (teknologi) yang dihasilkan oleh manusia sebagai perbuatan yang menjijikan dan bejat.
Ketiga, dalam setiap teknologi yang dihasilkan, manusia hanya melakukan tambal sulam terhadap problem yang ada. Teknologi berusaha untuk menjawab permasalahan yang satu tetapi menimbulkan lebih banyak dampak yang lebih berbahaya di kemudian hari. Semakin besar pengaruh yang ditimbulkan oleh teknologi itu terhadap peradaban manusia, semakin besar pula bahaya yang ditimbulkannya bila digunakan oleh orang yang salah atau motivasi yang salah. Jadi agar suatu teknologi yang dihasilkan berdampak positif, manusia harus kembali kepada nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Allah. Ordo penciptaan tidak boleh dikacaubalaukan. Manusia harus menyadari bahwa rasio manusia itu bukan segala-galanya, tetapi Tuhan lah segala-galanya. Tuhan harus berada di atas segala sesuatu. Kebenaran dan kehendakNya harus menjadi arah dan patokan pengembangan teknologi. Manusia harus menundukkan diri di bawah kekuasaan dan kedaulatan Allah, dengan taat menjalankan mandat budaya dengan mengolah alam dan mengembangkan teknologi sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran yang telah Allah nyatakan melalui firman dan hukum-hukumNya. Hanya dengan demikian manusia boleh dikatakan bertanggung jawab dan memuliakan Allah. Alam dan teknologi sebagai sarana pengolah alam haruslah diletakkan kepentingannya di bawah manusia, karena manusia lebih tinggi nilainya di mata Allah daripada alam. Teknologi kloning (atau teknologi rekayasa genetika pada umumnya) harus melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukannya sejauh ini. Apakah motivasi di balik penemuan-penemuan yang ada? Di mana posisi Allah dalam diri ilmuwan-ilmuwan itu? Apakah ia sudah ditunggangi oleh semangat zaman yang merajalela saat ini? Seberapa besar kegunaannya bagi umat manusia dibanding dengan kerugian akibat dampak-dampak yang ditimbulkannya?
Sebelum dikembangkan lebih lanjut, teknologi kloning harus terlebih dahulu mempertimbangkan secara holistik setiap aspek kehidupan manusia dan dampaknya terhadap kehidupan sosial dan keseimbangan alam. Hari ini kloning domba telah sukses dilakukan, bagaimana jika besok gembala itu yang diklon? Apa yang akan terjadi dengan peradaban manusia pada masa yang akan datang? Pengambilan keputusan hari ini menentukan masa depan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Woodward, Kenneth L., "Today the Sheep ...", Newsweek, March 10, 1997, p. 50.
Morton, Oliver, "The Fantastic Made Real", Newsweek, March 10, 1997, p. 2.
Begley, Sharon, "Little Lamb, Who Made Thee?", Newsweek, March 10, 1997, p. 43-49.
Herlianto, "Kloning: dolly dan polly", Makalah Sahabat Awam, edisi no.43, Agustus 1997.
"Manusia Pertama Hasil Kloning Itu Telah lahir", Harian Republika, 29 Juli 1997.
"The 'baaaa' heard 'round the world", Current Thoughts & Trends, June 1997, p. 4-5.
Stott, John R. W., Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani (Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF, 1994).
Tippit, Sammy, The Gathering Storm (Chicago: Moody Press, 1996).
Tong, Stephen, Dosa dan Kebudayaan (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1997).
Walsh, Brian J., J. Richard Middleton, The Transforming Vision (Illinois: Inter Varsity Press, 1984).
Craigie, Peter C., World Biblical Commentary: Psalms 1-50 (Texas: Word Books Publisher, 1983).
Spurgeon, C. H., The Treasury of David (London: Passmore & Alabaster, 1904), Vol. I.
Leupold, H. C., Exposition of Psalms (Minnesota: Augsburg Publishing House, 1959).

Back to Top


Sidang Umur MPR

"...bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya."
( Dan. 4:25b )

Tanggal :

1 Maret 1998

Bacaan :

Dan. 4:1-37

Refleksi :

Berdoalah senantiasa bagi pemerintah agar sebagai hamba Allah yang ditetapkanNya, mereka selalu takut akan Dia dan mencintai kebenaran serta keadilan.

Doakan Bersama :

• SU MPR yang akan dimulai hari ini sampai tanggal 11 Maret, kiranya kasih Tuhan senantiasa memimpin setiap waktu jalannya sidang tersebut.

    Sidang Umum MPR yang telah lama diperbincangkan akhirnya tiba juga dan akan berlangsung pada tanggal 1-11 Maret 1998 ini. SU MPR menarik perhatian khalayak di dalam maupun di luar negeri karena pada SU MPR ini akan ditetapkan presiden dan wakil presiden untuk periode 1998-2003 yang akan memimpin 202 juta rakyat Indonesia memasuki millenium ketiga. Selain itu, jabatan wakil presiden menjadi perhatian berbagai kalangan, karena perannya yang strategis sebagai suksesor jika presiden berhalangan.
Sebagai orang percaya sepatutnya kita juga melihat dari dimensi yang lain, faktor Ilahi. Daniel yang hidup di tengah-tengah kejayaan kerajaan Babilonia dan berinteraksi dengan berbagai raja pada zamannya, tidak pernah kehilangan persepsi rohani yang benar. Ia memiliki pikiran besar yang berasal dari Allah (Packer). Daniel mengenal, "Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikan kepada siapa yang dikehendakiNya" (ay.25; 5:21b). Pengenalan yang benar ini menguatkan Daniel untuk selalu bersandar pada Allah dalam menghadapi berbagai masalah yang rumit dan mengancam nyawanya sebagai akibat perubahan politik masa itu.
Kita patut berdoa dan terus berdoa bagi kelangsungan SU MPR, bagi presiden dan wakil presiden terpilih, dan bagi segala keputusan yang akan dihasilkan dalam SU MPR 1998. Harapan dan doa kita, semoga para pemimpin bangsa kita selalu takut akan Tuhan, setia pada Pancasila dan UUD'45, sanggup mengemban tugasnya dengan adil dan benar, serta dapat mengayomi semua golongan di seluruh persada nusantara ini.
 

Back to Top


Di Tengah-Tengah Kekuatiran

"Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
( Mat. 6:34 )

Tanggal :

2 Maret 1998

Bacaan :

Mat. 6:25-34

Refleksi :

Menjauh dari Tuhan itu lebih riskan dibandingkan mendekat pada Tuhan.

Doakan Bersama :

• Kasih Allah berdiam dalam diri kita sehingga memampukan kita untuk lebih peka dan perduli dengan keadaan sekitar kita.

    Kuatir! Merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi kehidupan orang-orang yang ada di Indonesia. Hal ini terjadi bertitik tolak dari krisis moneter, yang menyebabkan ambruknya perekonomian Indonesia. Ternyata dengan ambruknya perekonomian ini, menimbulkan gejolak sosial yang sulit untuk diduga.
Kesulitan ini makin bertambah ruwet, dengan realita yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Rupiah yang makin tidak menentu terhadap dolar, yang mendorong harga kebutuhan pangan melonjak dengan tajam. Banyak orang kaya yang begitu egoisnya melakukan rush dengan memborong barang-barang untuk ditimbun sebagai persediaan, sehingga 'melangkakan' bagi orang miskin. Terjadinya PHK besar-besaran yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang kena gejolak moneter, yang menimbulkan pengangguran yang makin meningkat. Dan yang lebih parah adanya krisis kepercayaan kepada pemerintah serta masyarakat yang mudah digoncang oleh isu-isu yang menyesatkan.
Kondisi yang demikian jelas akan menciptakan tekanan, ketakutan dan kekuatiran. Maka tidak mengherankan banyak orang yang berlari untuk mencari alternatif jalan keluar di luar Tuhan. Okultisme, dunia mistik dan paranormal menjadi altenatif yang paling ramai dicari dan didatangi.
Kekuatiran seringkali menjebak dan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang irasional tanpa lagi menimbang iman yang seharusnya menjadi jalan keluar di dalam menghadapi krisis yang menimbulkan perasaan kuatir. Keengganan untuk memilih dan mencari Tuhan di dalam krisis menjadi kunci untuk menganggap bahwa Tuhan itu tidak dapat bekerja.
 

Back to Top


Misteri Penderitaan

"...sekalipun sekarang kamu harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan, semuanya itu untuk membuktikan kemurnian imanmu..."
( I Ptr. 1:6,7 )

Tanggal :

3 Maret 1998

Bacaan :

Ayb. 23:10

Refleksi :

Ujian adalah untuk menyempurnakan; seperti emas yang dimurnikan dengan api, menghasilkan kemilau yang lebih cemerlang.

Doakan Bersama :

• Para orang tua agar lebih bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya untuk kehidupan sekarang dan masa depan.

    Penderitaan adalah suatu istilah yang tidak disukai orang. Meskipun di dalam pengalaman hidup penderitaan merupakan bagian yang tidak bisa dihindari, tapi tidak ada orang yang secara sengaja menyukai penderitaan. Karena alasan natural seperti itu, penderitaan yang terjadi pada hidup orang-orang tertentu — orang-orang percaya yang setia dan selalu berusaha dekat dengan Tuhan— penderitaan menimbulkan konflik dalam pemikiran dan perasaan; kalau Tuhan itu baik, mengapa Dia membiarkan penderitaan menimpa diri saya, padahal saya telah berusaha untuk setia kepadaNya?
Pertanyaan seperti itu sebenarnya menunjukkan bahwa kesetiaan dan kedekatan orang tersebut kepada Tuhan belum teruji dan disempurnakan, seperti kasusnya Ayub. Ayub adalah seorang yang dikenal kesalehannya, melebihi orang-orang yang hidup sezaman dengan dia.
Tapi sejauh mana Ayub setia dan takut kepada Allah? Dengan kualitas seperti apa kesetiaan kepada Allah? Itu perlu dibuktikan dan disempurnakan melalui ujian. Maka Tuhan mengijinkan penderitaan menimpa dirinya.
Di tengah-tengah rasa frustasinya, Ayub masih mampu menyatakan suatu kebenaran yang agung. Dia tahu bahwa Tuhan lebih tahu jalan hidupnya. Dan dia tahu bahwa ujian yang dia alami adalah untuk menyempurnakan dia, seperti emas yang dimurnikan dengan api, menghasilkan kemilau yang lebih cemerlang.
Ujian melalui penderitaan, bukan untuk memberi kesempatan menyakinkan Tuhan bahwa kita setia kepadaNya, tapi adalah untuk membuktikan kepada diri kita sendiri, sejauh mana kesetiaan kita kepada Tuhan.
 

Back to Top


Jangan Membenci

"Tetapi barangsiapa membenci saudaranya ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan."
( I Yoh. 2:11a )

Tanggal :

4 Maret 1998

Bacaan :

I Yoh. 2:7-11

Refleksi :

Apakah masih ada kebencian dalam hati Anda? Adakah orang yang jika Anda mengingatnya, hati Anda jadi pahit? Marilah
belajar mengampuni dan tidak menyimpan kebencian. Penyakit ini berakibat fatal bagi Anda.

Doakan Bersama :

Visi dan misi gereja terhadap masyarakat agar tidak terkesan eksklusif tetapi semakin turut aktif memperbaiki kondisi sosial disekitarnya.

    Seorang ibu yang masih berusia 47 tahun menderita sakit batuk. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter spesialis paru-paru, dokter itu menyimpulkan bahwa ibu itu menderita penyakit kanker paru-paru. Ketika keluarganya diberitahu akan hal ini, mereka tidak dapat mempercayai perkataan dokter itu. Kenyataan itu terlalu berat bagi mereka, karena percaya berarti menerima kenyataan bahwa penyakit itu berakibat kematian. Lebih mudah bagi mereka untuk tidak percaya, dan mencari dokter lain yang mau mengatakan bahwa penyakit itu bukan kanker. Tetapi sayang, akhirnya ternyata memang ibu itu menderita kanker.
Orang Kristen juga sering berbuat seperti keluarga ibu ini dalam menanggapi firman Tuhan. Banyak ayat-ayat Alkitab yang bernada keras, misalnya saja dalam hal membenci. Dalam 1 Yoh 3:15 dikatakan bahwa setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia, dan seorang pembunuh jika tidak bertobat tidak akan memiliki hidup yang kekal. Dalam 1 Yoh 2:9-11 berulang-ulang dikatakan bahwa orang yang membenci saudaranya hidup dalam kegelapan dan bahwa kegelapan itu membutakan matanya. Bagi mereka yang menyimpan kebencian terhadap orang lain, ayat-ayat ini tentu kedengarannya seperti diagnose dokter tadi. Mereka lebih suka berpikir bahwa Tuhan mungkin hanya menakut-nakuti saja supaya kita berbuat baik. Mereka akan mencari orang lain yang mau setuju dengan pendapat mereka, supaya mereka merasa aman.
Saudara, Tuhan tidak pernah berdusta; apa yang dikatakan pasti benar. Jika kamu percaya hal ini, jangan keraskan hatimu.
 

Back to Top


Memburu Tikus?

"Karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku..."
( II Tim. 4:10a )

Tanggal :

5 Maret 1998

Bacaan :

I Yoh. 2:12-17

Refleksi :

Bila melayani Kristus bukan merupakan yang utama dalam hidup Anda, mungkin ini berarti Anda telah tenggelam dalam daya tarik kekayaan, kekuasaan, kehormatan atau kesenangan-kesenangan fisik yang lainnya.

Doakan Bersama :

Kesadaran kita dalam memelihara dan menjaga kebersihan lingkungan sehingga boleh menjadi berkat bagi orang lain.

    Alkisah ada seorang pria yang membeli seekor anjing pemburu baru dan membawanya untuk berburu Beruang. Begitu mereka tiba di hutan, anjing itu mulai menjalankan aksinya untuk mencari jejak Beruang. Namun tiba-tiba anjing itu berhenti, mengendus-ngendus kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan arahnya yang semula. Rupanya ia telah mencium bau rusa yang baru saja melintasi jalur jalan beruang yang diburunya. Beberapa saat kemudian ia ragu-ragu lagi, karena mencium bau kelinci yang baru saja memotong jalan yang dilalui oleh rusa. Begitu seterusnya hingga akhirnya sang pemburu yang kelelahan berhasil mengejar anjingnya yang ternyata sedang menyalak dengan penuh semangat di depan sebuah lubang sarang tikus ladang.
Terkadang sebagai seorang Kristen kita bertindak seperti anjing pemburu itu. Pada mulanya dengan semangat berkobar-kobar kita mengutamakan Kristus dalam kehidupan kita. Tetapi segera setelah itu perhatian kita beralih pada hal-hal yang kurang penting. Pencarian yang kita lakukan secara berganti-ganti hanya akan membawa kita semakin jauh tersesat dari tujuan semula. Tampaknya hal inilah yang terjadi pada salah seorang kawan seperjalanan Paulus, seperti dalam bacaan kita hari ini.
Setiap saat kita harus memperbarui pengabdian kita pada Kristus atau kita akan tenggelam dalam keinginan daging dan duniawi atau ke dalam kesombongan hidup. Pengaruh dunia ini dapat menyesatkan orang-orang Kristen yang paling setia sekalipun.
Persembahkan kembali hidup anda bagi Tuhan. Berhentilah "mengejar tikus".
 

Back to Top


Air Mata Terakhir

"Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka."
( Wahyu 7:17 )

Tanggal :

6 Maret 1998

Bacaan :

Wahyu 7:9-17

Refleksi :

Apakah Anda sudah merasakan sukacita yang sejati dari Tuhan? Jika saat ini sukacita itu dihadapkan pada pergumulan yang begitu berat, marilah datang pada sumber sukacita yaitu Yesus sang penghapus airmata.

Doakan Bersama :

Umat Kristen di seluruh dunia agar mendapat kekuatan untuk menghadapi segala jenis penganiayaan dan penderitaan karena mempertahankan iman rohaninya.

   

Air mata adalah bagian dari hidup. Orang dimanapun menangis tersedu karena harapan yang didambakannya hancur berkeping, karena orang yang dikasihi direnggut dari sisinya, atau karena dosa yang membelenggunya membawa penderitaan dan sesal.
Orang percaya di dalam Kristus mengalami dukacita sama seperti orang lain. Meski demikian, suatu hari kebahagiaan menanti kita. Kita akan sampai di surga dengan mata kuyu dan wajah penuh bekas air mata, tetapi Juruselamat akan mengusap air mata itu dengan lembut dan memberi kita sukacita abadi.
Howard W. Ferin mengatakan, "Tangan manusia terlalu lemah untuk melakukan tugas itu. Jika mereka berhasil menghapus setitik air mata, titik-titik lain akan menelan lagi dan mereka tidak mampu mengusapnya. Hanya tangan yang menciptakan kehidupan yang mampu mencapai sumber kesedihan dan mengeringkan derai mata yang keluar... Tuhan akan mengeringkan setiap tetes air mata: air mata keputusasaan, air mata karena diabaikan, air mata kemalangan akan hal-hal yang tidak dapat kita miliki saat ini.
Saudaraku yang putus asa dan menderita, kesedihan Anda saat ini akan berakhir. "Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak sorai." (Maz.30:6) Dalam hari-hari terang yang kekal milik Tuhan, tidak ada lagi air mata. Betapa menyenangkan! Berbeda dengan konsep dunia mengenai air mata, maka keKristenan mengajarkan bahwa air mata karena nama Kristus atau karena kita menangisi dosa adalah kebahagiaan yang kekal yang tidak dapat diganti dengan apapun (Mat.5:4,10,11).
Berharaplah padaNya!

 

 

 

Back to Top


Tuhan Ada Di Tengah-Tengah Pencobaan

"Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin."
( Yak.1:6 )

Tanggal :

7 Maret 1998

Bacaan :

Yak. 1:2-8

Refleksi :

Keindahan iman itu akan muncul pada saat badai kehidupan menerpa hidup anak Tuhan.

Doakan Bersama :

Suku-suku yang sulit menerima Injil: Mandailing, Melayu Bangka, Batin, Belide.

    Kunci untuk melihat dan menyaksikan perbuatan tangan Tuhan di dalam menolong umatNya pada waktu menghadapi pencobaan adalah percaya pada Tuhan yang hidup. Kepercayaan ini merupakan hasil pemahaman dari iman yang berani menempatkan Tuhan di dalam kerangka sebagai penolong dan pelindung dalam kesesakan (bnd. Maz.46:1).
Konseptual iman yang bersumber pada Tuhan, merupakan dasar pijakan yang hendak Yakobus ajarkan. Di mana kalau dilihat dari latar belakang surat ini, maka akan ditemukan adanya kesulitan hidup yang dialami oleh orang-orang Kristen Yahudi yang diperantauan. Sebagai pengikut Kristus yang hidup tersebar di Asia, mereka tidak luput dari kesulitan dan penganiayaan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak senang terhadap kekristenan. Merekapun mengalami kesulitan di dalam perekonomian. Semua kondisi ini, jelas Yakobus sadari dan pahami. Tidak mengherankan Yakobus menyebut mereka sebagai orang perantauan yang penuh dengan kesulitan.
Tetapi keberadaan yang penuh dengan kesulitan dan pencobaan ini, tidak menutup mata rohani iman mereka. Hal ini dapat terjadi, karena Yakobus mengajar mereka pada pemahaman Tuhan bekerja ditengah-tengah pencobaan. Memang ketika Tuhan bekerja, mereka tidak melihat secara "kasat mata" bagaimana kerjanya Tuhan itu. Tetapi iman menjadikan mata rohani mereka mengetahui adanya rajutan kebaikan yang Tuhan berikan, yaitu adanya ketekunan, kesempurnaan, keutuhan, dan tak kekurangan apapun (ay.4). Artinya ada kebaikan batiniah yang makin indah dihadapan Tuhan dan manusia.
 

Back to Top


Kenalilah Allahmu!

"Jawab Yesus kepada mereka: Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah."
( Mark.12:24 )

Tanggal :

8 Maret 1998

Bacaan :

Mark. 12:18-27

Refleksi :

Adakah kerinduan dalam hati Anda untuk mengenal Tuhan lebih dalam? Ketika Anda semakin mengenalnya maka Anda tidak akan mudah ditipu iblis dan akhirnya binasa!

Doakan Bersama :

• Orang atau pihak yang menentang PI agar Tuhan membukakan mata mereka akan arti perbuatan mereka.

    Bila ditanya tentang agama atau aliran sesat di dunia ini mungkin sebagian kita akan dengan cepat bisa menyebutkannya. Walaupun tentu saja para pemeluknya tidak akan menyebut diri mereka sesat dan kitapun mungkin akan marah bila kita sendiri dianggap sesat.
Tetapi saya sering menemui orang Kristen, yang aktif ke Gereja, sudah dibaptis, bahkan aktif melayani, yang sayang ketika ditanya tentang Alkitab, mereka tidak tahu isi Alkitab. Mereka kadang bahkan tidak tahu mengapa Yesus harus mati disalib, dan apa akibatnya seandainya Yesus tidak pernah datang ke dunia. Saya bukannya mengatakan bahwa seorang Kristen harus hafal seluruh isi Alkitab, tapi setidak-tidaknya kita harus tahu apa yang kita percayai itu.
Tuhan Yesus sendiri menyebut kita sesat jika kita tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Dari sini kita bisa melihat bahwa sebutan 'sesat' tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang membelokkan isi Firman Tuhan, tetapi juga bagi mereka yang tidak mengertinya. Kalau kita tidak mengerti, bagaimana kita bisa mengenal Allah, dan ini akan membawa kita kepada kebinasaan (Hos. 4:6).
Saudara, apakah kita sudah yakin benar kita telah mengenal Tuhan, atau hanya sekedar tahu tentang Tuhan! Kita harus mengenal Allah, dan untuk itu kita harus mengerti isi Alkitab. Dan kita tidak akan bisa mengertinya bila kita tidak punya kerinduan untuk mengenal Allah. Oleh karena itu, marilah kita berikan lebih banyak waktu kita untuk belajar Firman Tuhan, Gereja juga telah menyediakan banyak fasilitas untuk memenuhi kebutuhan ini. Sudah tahukah anda?
 

Back to Top


Masalah Uang

"Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang."
( I Tim. 6:10 )

Tanggal :

9 Maret 1998

Bacaan :

Pkh. 5:9-17

Refleksi :

Jika ingin merasa kaya, hitung saja segala milik Anda yang tidak dapat dibeli dengan uang

Doakan Bersama :

• Jaringan Doa Nasional (JDN) dengan kelompok-kelompok doanya.

    Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga miskin, sekitar tahun 1930-an, Herb Vander Lugt sering berpikir semua persoalan akan terselesaikan seandainya kita punya lebih banyak uang. Ternyata dia keliru. Alkitab dan pengalaman mengajar kita bahwa memiliki uang menimbulkan masalahnya sendiri. Orang kaya biasanya tidak lebih bahagia daripada orang miskin.
Bacaan Alkitab hari ini menyajikan lima alasan mengapa memiliki banyak uang tidak menyelesaikan seluruh masalah:
1. Uang tidak memberi kepuasan; orang yang cinta uang tidak pernah merasa cukup (ay9);
2. Uang mendatangkan ketergantungan dan dapat mengakibatkan tidur tidak nyenyak (ay11);
3. Uang mendatangkan kecelakaan pada orang yang menimbunnya (ay12);
4. Uang dapat tiba-tiba lenyap (ay.13);
5. Uang tidak dapat kita bawa kelak bila kita mati (ay.14,15)
Kekayaan membantu kita hidup lebih menyenangkan dan membantu mengatasi krisis keuangan, tetapi tidak pernah menjadi jalan keluar yang sempurna untuk mengatasi masalah kita. Oleh karena itu, kita tidak boleh termakan oleh nafsu untuk meraih uang lebih banyak dan lebih banyak lagi. Kebanyakan masalah kita terselesaikan dengan baik bila kita berjuang untuk hidup sesuai pernyataan Paulus bahwa "Ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." (I Tim.6:6). Di dalam Mat. 13:22 dikatakan bahwa kekayaan (harta/uang) itu menipu. Artinya, ia hanya memberikan banyak janji tetapi tidak pernah menepatinya.
 

Back to Top


Krisis Koinonia

"Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran."
( I Yoh. 1:6 )

Tanggal :

10 Maret 1998

Bacaan :

I Yoh. 1:1-4

Refleksi :

Adakah rumah tangga dan gereja Anda mengalami krisis persekutuan satu sama lainnya? Marilah kembali pada Kristus, karena hanya kasih Kristuslah yang dapat menolong Anda mengatasi krisis tersebut.

Doakan Bersama :

• Masyarakat Uzbek dan para pendetanya agar semakin dipakai Tuhan menjadi saksiNya di sana.

   

Dunia dewasa ini menghadapi berbagai macam krisis. Dari krisis moneter yang melanda sebagian besar negara berkembang, hingga krisis Timur Tengah yakni pertikaian antara Amerika dan Irak. Ada begitu banyak upaya dan perhatian yang telah diberikan oleh berbagai pihak untuk mengatasi krisis-krisis tersebut. Namun di antara berbagai macam krisis yang sedang terjadi ini, ada satu yang mungkin luput dari perhatian kita semua. Krisis yang kami maksudkan ialah krisis koinonia (persekutuan) di antara gereja Tuhan. Dengan mengutip pendapat Sue Harville, Fritz Ridenour mengatakan: "Beberapa orang melukiskan bahwa gereja sekarang ini tengah menderita suatu krisis persekutuan. Seberapa banyak dunia sekarang ini mendambakan kasih, sebanyak itu pula orang menuduh gereja menjadi dingin, kurang bersahabat dan membosankan."
Apa yang disenyalir oleh Ridenour sebenarnya bukan suatu hal yang baru, karena jauh sebelumnya Rasul Paulus telah melihat hal itu. Apabila kita sebagai anggota tubuh Kristus tidak mawas diri, bukanlah mustahil krisis persekutuan pun akan terjadi di tengah keluarga dan gereja kita. Karena itu marilah kita senantiasa mengingat nasehat firman Tuhan yang telah disampaikan oleh Rasul Yohanes kepada gereja Tuhan: "Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus." (ay.4). Marilah kita terus memberitakan kasih Kristus supaya setiap orang memperoleh persekutuan di dalam Tuhan.

 

 

Back to Top


Kekuatan Menghadapi Penderitaan

"Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru..."
( Yes.40:31 )

Tanggal :

11 Maret 1998

Bacaan :

Fil. 3:14

Refleksi :

Percaya penuh kepadaNya, bersandar penuh kepadaNya, dan selalu hidup dekat dengan Tuhan, hidup dalam rencana dan kehendakNya.

Doakan Bersama :

• Para pengelola siaran Kristen melalui radio.
• Lahirnya jaringan Komunikasi antar pelayanan radio dan antar media cetak dan elektronik yang ada.

    Ketika seseorang mengalami musibah, seringkali orang lain mencoba menghibur dengan mengatakan: "Kamu harus tabah dan kuat menghadapi semua ini..." Betapa menyedihkan dan tidak bermaknanya kata-kata penghiburan seperti itu. Berapakah kekuatan yang dimiliki oleh seorang manusia yang terbuat dari daging, dan yang begitu terbatas? Bukankah sudah menjadi kenyataan, ada orang-orang yang menjadi stress berat bahkan sampai gila karena tidak kuat menahan beban hidup?
Semua potensi dan kapasitas yang ada pada diri seseorang, adalah terbatas. Dia mungkin kuat menghadapi masalah tertentu, tapi dia tidak mungkin kuat menghadapi semua masalah.
Sepanjang hidupnya bersama Tuhan, Paulus banyak mengalami tekanan dan penderitaan. Dan dari semua pengalaman itu dia belajar suatu kebenaran yang agung, bahwa semua itu dapat dia tanggung, bukan karena dia kuat, tetapi adalah dengan kekuatan yang dari Tuhan, dengan kekuatan di dalam Tuhan. Ini adalah rahasia bagaimana seorang dapat hidup kuat, ditengah-tengah kehidupan fana di dunia ini, yang tidak bisa luput dari masalah dan tekanan.
Rahasia ini disampaikan bagi setiap orang percaya, bahwa karena dia adalah anak Tuhan, milik Tuhan, maka Tuhan tidak akan pernah melepaskan dia, meninggalkan dia menderita sendirian. Kekuatan Tuhan akan menopang dia. Dan ini bukan berlaku hanya dalam kasus-kasus tertentu saja, tapi semua perkara; besar atau kecil. Dan inilah yang seharusnya dilakukan setiap anak-anak Tuhan dalam menghadapi apa saja; bukan mengandalkan kekuatan sendiri, tapi mengandalkan Tuhan dan kekuatanNya.
 

Back to Top


Sama-Sama Orang Berdosa

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
( Yoh. 8:7b )

Tanggal :

12 Maret 1998

Bacaan :

Yoh. 7:53-8:11

Refleksi :

Pada saat Anda menuduh seseorang, ingatlah bahwa Anda juga pernah melakukan hal yang sama walau dalam bentuk yang berbeda. Sebelum menuduh, Anda perlu memeriksa diri terlebih dahulu.

Doakan Bersama :

• Gereja agar menaruh belas kasihan kepada anak-anak jalanan melalui bidang diakonia atau pelayanan sejenis.

   

Pada saat Tuhan Yesus sedang mengajar orang banyak, beberapa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi datang dengan membawa seorang perempuan yang kedapatan oleh mereka berbuat zinah, dan mereka berharap Tuhan Yesus menjatuhkan hukuman atas perempuan itu dengan menggunakan hukum Taurat.
Hal ini menggambarkan keadaan kita, yaitu kita begitu bersemangat apabila kita menemukan kesalahan orang lain dan kita berusaha dengan berbagai dalih untuk menghakimi dia. Kita ingin orang tersebut dijatuhi hukuman atau menderita, sehingga dengan demikian kita menjadi lega. Sedangkan apabila kita memiliki diri kita sendiri, kita mungkin melakukan perbuatan yang lebih jahat daripada orang yang kita hakimi.
Dalam peristiwa perempuan yang kedapatan berzinah ini. Kita melihat Tuhan Yesus membuat suatu statemen yang begitu penting yang perlu kita renungkan, yaitu: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Dengan kata lain, sebelum kita menghakimi orang lain, periksalah diri sendiri. Apakah kita tidak pernah berbuat dosa yang sama atau dalam bentuk yang berbeda. Rasul Paulus dalam Rm.2:1 menuliskan, "Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama."
Jadi janganlah mudah menuduh orang lain kalau kita tidak mempunyai bukti, karena hal itu sama dengan kita menghakimi orang lain.

 

 

Back to Top


Upah Dari Kejahatan

"Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diriNya dipemainkan, karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya."
( Gal. 6:7 )

Tanggal :

13 Maret 1998

Bacaan :

Mat. 27:3-10

Refleksi :

Kedahsyatan dari upah kejahatan tidak hanya menempatkan manusia di bawah penghukuman Tuhan, tetapi juga di dalam menghukum diri sendiri di dalam keputusasaan yang dapat membawa pada kematian.

Doakan Bersama :

• Pemerintah agar benar-benar serius dan tanggap terhadap kepentingan rakyat sambil mengkoreksi diri terhadap kebijakan yang telah diambil.

    Akhir perjalanan dari seorang anak manusia yang bernama Yudas Iskariot, memang sangatlah tragis. Dia mati bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya secara tertelungkup, sehingga perutnya terbelah dan isinya tertumpah keluar. (Kis.1:18).
Harus diakui kisah ini, pasti akan memilukan hati bagi setiap orang. Namun kalau ditelusuri kisah ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh kesalahan Yudas sendiri, yaitu dia dengan sengaja menjual gurunya dengan 30 keping uang perak.
Biarpun pangkal tindakan Yudas ini dari iblis, tidak berarti dia dapat melepaskan tanggung jawabnya terhadap kesalahan yang diperbuat. Kenapa demikian? Karena pada waktu iblis membisikkan rencana jahat kepada dia, Kristus sudah memperingatkan dan memberikan tanda akan adanya pengkhianatan yang akan dilakukan oleh seorang muridNya. Tetapi Yudas dengan berani mengatakan bukan dia yang melakukan (Mat. 26:25). Ini berarti ada rencana iblis yang dia sembunyikan, biarpun gurunya sudah mengetahui.
Selain itu, kesadaran Yudas yang mengakui bahwa dia sudah berdosa dengan menyerahkan darah orang yang tidak bersalah, tidak dibarengi oleh sikap pertobatan yang sejati. Dia tidak datang kepada Kristus untuk meminta ampun, melainkan datang kepada kematian untuk melakukan jalan pintas, yaitu bunuh diri dengan tidak menyelesaikan persoalannya dengan Kristus. Sehingga dengan tepat Petrus mengatakan: Yudas telah jatuh ketempat yang wajar baginya (Kis.1:25). Inilah upah dari kejahatan yang dia lakukan yaitu dia menghukum dirinya sendiri di dalam keputusasaan yang membawanya kepada kematian.
 

Back to Top


Krisis: Evaluasi Ketaatan

" Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
( Mat. 26:39 )

Tanggal :

14 Maret 1998

Bacaan :

Mat. 26:36-46

Refleksi :

Sadarkah Anda sebagai orang Kristen ketika merasa adanya krisis ketidakper-cayaan di dalam hati Anda kepada Tuhan, sebenarnya Tuhan ingin supaya Anda mengevaluasi ketaatan Anda kepadaNya !

Doakan Bersama :

• Stabilitas dan keamanan nasional setelah Pemilu 1998 agar tidak merugikan masyarakat banyak.

    Krisis moneter yang yang terjadi pada saat ini sangat memprihatinkan sekali. Pengaruhnya sangat luas dan tidak lagi memandang bulu. Harga barang naik secara drastis, bahkan ada uang tidak ada barang. Siapapun merasakan dampaknya baik orang yang memiliki uang banyak atau orang yang tidak memiliki uang sama sekali. Dari konglomerat sampai penjual tempe menjes ditepi jalan.
Memang banyak alasan penyebab terjadinya krisis ini. Tetapi dari banyaknya alasan, ada satu alasan yang sangat memilukan adalah krisis ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Sampai-sampai kenaikan nilai dolar dipengaruhi oleh siapakah calon wakil Presiden (Jawa Pos,hal 3, 17 Peb 1998). Kalau benar adanya krisis ketidakpercayaan maka tidak menutup kemungkinan adanya sikap yang tidak percaya kepada Sang Pencipta. Fenomena adanya kerusuhan-kerusuhan yang mengacu pada sikap brutal bukankah bukti ketidakpercayaan kepada Tuhan.
Di Getsemani Tuhan Yesus juga mengalami krisis. Ketika Ia akan berdoa dengan ketiga muridNya, Ia merasa sedih dan gentar, bahkan Ia berkata: "HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya." Dibagian yang lain mengatakan peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Bahkan Yesus harus berdoa 3 kali dengan doa yang sama.
Mari kita pikirkan ! Dapatkah kita mengatakan bahwa peristiwa di taman Getsemani ini merupakan suatu krisis ketidakpercayaan Yesus terhadap Bapa di Sorga? Krisis ya, tetapi bukan krisis ketidakpercayaan melainkan krisis untuk lebih taat secara total kepada Allah Bapa.
 

Back to Top


Ketaatan Yang Total

" Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
( Mat. 26:39 )

Tanggal :

15 Maret 1998

Bacaan :

Mat. 26:36-46
(lanjutan)

Refleksi :

Maukah Anda menyatakan komitmen untuk hidup dalam ketaatan yang total dihadapan Allah ?

Doakan Bersama :

• Pelbagai Lembaga-Lembaga Kristen yang ada agar terus menjadi wadah yang dipakai Tuhan lebih efektif lagi.

    Doa Yesus di taman Getsemani bukan didasari oleh krisis ketidakpercayaan kepada Allah Bapa melainkan karena krisis untuk lebih taat atau dengan kata lain penyerahan ketaatan yang secara total kepada Allah Bapa.
Yesus datang ke dalam dunia dan meninggalkan sorga, mengosongkan diriNya, lahir di kandang domba bukan istana. Lahir dari rahim seorang perempuan perawan dan tidak menutup kemungkinan diejek sebagai "Anak haram". Setelah dewasa Ia taat untuk menjalankan apa yang dikehendaki Allah untuk mewartakan tentang kerajaan Allah. Semua ini menunjukkan ketaatan Yesus kepada Allah Bapa.
Akan tetapi di taman Getsemani ini Yesus diperhadapkan kepada ketaatan yang total kepada Allah dengan nyawaNya dimana Ia harus mati diatas kayu salib.
Di tengah dunia yang dimana hidup manusia yang lebih mengasihi uang, dirinya sendiri, kenikmatan dan tidak lagi memiliki kasih dan penguasaan diri sehingga hidup mereka menjadi hamba uang, membual, sombong, suka memfitnah, berontak kepada orang tua, tidak tahu berterima kasih, suka menjelekkan orang, garang, tidak suka yang baik, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Mereka secara lahiriah ikut beribadah tetapi hati mereka tidak beribadah, mereka diajar tetapi tidak pernah mengenal kebenaran (II Tim. 3:1-7).
Bagaimana dengan kita sebagai orang yang sudah mengaku sebagai anak-anak Allah, sudahkah kita sadari bahwa Allah Bapa di Sorga menghendaki kita untuk hidup dalam ketaatan yang total. Ini adalah ibadahmu yang sejati dan berkenan dihadapan Allah.
 

Back to Top


Ya, BapaKu

" Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
( Mat. 26:39 )

Tanggal :

16 Maret 1998

Bacaan :

Mat. 26:36-46
(lanjutan)

Refleksi :

Kedalaman pengenalan dan penghayatan Anda kepada Allah, itu juga menunjuk kedalaman ketaatan Anda kepada Allah, saat ini bagaimana pengenalan dan penghayatan Anda?

Doakan Bersama :

• Gereja dan lembaga pendidikan agar mempunyai beban dan melakukan tindakan untuk mengatasi masalah pendidikan di kota maupun di desa.

    Doa Yesus di taman Getsemani ini merupakan ungkapan ekspresi dari Yesus untuk mau lebih taat kepada Allah Bapa.
Sekarang kita akan mencoba melihat apa alasan Yesus untuk mau taat secara total kepada Allah Bapa? Untuk menjawab bagian ini kita bisa memperhatikan dari doa Yesus yang diucapkan sampai 3 kali yang berbunyi demikian: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (ay.39 ).
Kita dapat melihat ada 3 alasan kenapa Yesus mau menyerahkan hidupNya untuk taat kepada Allah secara total. (Red. membagi menjadi 3 bagian renungan).
Alasan pertama: "Ya BapaKu", penyebutan kalimat pertama tersebut merupakan suatu ungkapan pengenalan. Yesus mengenal siapa Allah (Yoh 8:55;6:39,44-45, 57;14:6).
Kemarahan orang Yahudi memuncak kepada Yesus bukan karena Yesus tidak menghormati hari sabat tetapi karena Yesus mengaku Allah adalah BapaNya. Ini merupakan penghujatan yang besar (Yoh 5:17-18). Konsep "Bapa" bagi orang Yahudi adalah dalam arti hubungan perjanjian antara Allah dengan mereka (Yes 63:16 ). Sedangkan bagi Yesus menyebut Allah sebagai Bapa adalah pengakuanNya adanya hubungan yang sangat istimewa, khusus, dan unik dengan Allah Bapa. Yesus memiliki pengenalan dan penghayatan siapa "Bapa" sehingga Ia mau taat secara total.
Sejauh mana hubungan atau pengenalan kita dengan "Bapa"? Itu akan memberikan sejauh mana respon ketaatan kita.
 

Back to Top


Biarlah Cawan Ini Berlalu Daripadaku

" Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
( Mat. 26:39 )

Tanggal :

17 Maret 1998

Bacaan :

Mat. 26:36-46
(lanjutan)

Refleksi :

Saat ini Anda mengalami krisis? Apakah dengan krisis tersebut membawa hidup Anda lebih taat dan memperkenankan kepada Allah?

Doakan Bersama :

• Masyarakat Bengali yang percaya akan kuasa-kuasa kegelapan dengan penduduk Kristen kurang dari 3% kiranya boleh mengenal Kristus sebagai Juruselamat yang sejati.

    " ...Biarlah cawan ini berlalu dari pa-daKu " merupakan ungkapan dari suatu ekspresi yang seorang yang menanggung beban penderitaan yang sangat berat. Ia sangat takut dan gentar. Dalam bahasa Yunani memiliki ungkapan arti taraf yang tertinggi dari ketakutan dan penderitaan yang tanpa batas.
Kenapa cawan itu harus berlalu? Apa yang menjadikan Dia rebah dalam ketakutan yang begitu dalam? Mungkin kita bisa melihat beberapa alasan.
Pertama, "cawan" itu tentu lebih daripada hanya penderitaan yang mendalam bagi jiwaNya yang tidak berdosa pada saat dijadikan berdosa (II Kor. 5:21). JiwaNya merasakan segala kepahitan upah dosa yaitu maut, agar mereka percaya kepadaNya tidak akan merasakannya (Ibr. 2:9). Dia taat secara total maka cawan itu harus diminumNya. Memang cara Allah untuk membentuk ketaatan seseorang melalui penderitaan.
Kedua, "cawan" merupakan gambaran tentang dosa. "Biarlah cawan ini berlalu daripada-Ku" memberikan arti bahwa keseriusan akan dosa. Kegentaran hatiNya pada waktu seruanNya di atas kayu salib yang diliputi dengan kegelapan pada siang hari: "AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Kenapa ini terjadi? Karena dosa itu suatu yang serius dihadapan Allah sehingga Allah Bapa harus memalingkan mukaNya. Yesus diperhadapkan dengan suatu ketaatan yang berkaitan hal yang dibenci Allah yaitu dosa.
Memang krisis tidak bisa kita hindari selama kita hidup di dunia. Tetapi Yesus mengajarkan kita untuk berani menghadapinya dan melalui krisis ini membawa kita lebih hidup memperkenankan Allah.
 

Back to Top


...... Engkau Kehendaki

" Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
( Mat. 26:39 )

Tanggal :

18 Maret 1998

Bacaan :

Mat. 26:36-46
(lanjutan)

Refleksi :

Bagaimana pemahaman Anda terhadap otoritas dan kedaulatan Allah? Sejauh mana penyerahan hidup Anda kepada kedaulatan dan otoritas Allah?

Doakan Bersama :

• Gereja Kristen Lampung di Tulang Bawang yang bekerja sama dengan GKI Bekasi Timur, Jakarta, dalam melayani orang Lampung dan transmigran.

    Peristiwa di taman Getsemani merupakan titik kemenangan dari pergumulan Yesus di dalam menaati secara total dari apa yang dikehendaki Allah dalam rencana keselamatan bagi umat manusia. Titik kemenangan ini sehingga membawa adanya penyaliban dan kematian.
Kunci kemenangan Yesus di taman Getsemani pada seruanNya : " ...seperti yang Engkau kehendaki ". Kalimat tersebut memberikan arti yang besar dari keputusan Yesus menjalankan amanat Allah.
Artinya, pengakuan akan kedaulatan dan otoritas Allah yang mutlak. Allah yang menciptakan seluruh alam semesta dari yang tidak ada menjadi ada dan Allah yang juga memelihara kepada semuanya (Neh. 9:6;Ibr.11:3).
John Calvin mengemukakan pengertian Alkitab mengenai kedaulatan dan otoritas Allah, menegaskan bahwa "Kemahakuasaan Allah berarti Ia memerintah surga dan dunia melalui pemeliharaanNya, dan mengatur segala sesuatu sehingga tak ada yang terjadi tanpa pertimbanganNya." Allah juga menopang dan mengarahkan dunia: "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan" bagi umatNya (Rm. 8:28). Kebaikan di sini bermaksud ialah hal memilik dan mengubah umatNya agar menjadi serupa dengan gambaran AnakNya (Rm. 8:29).
Yesus rela diserahkan ke tangan orang-orang berdosa karena Dia mau hidup dalam kehendak Allah sebab Dia tahu mengapa Ia harus taat; dan tahu siapa yang Ia ditaati; bahkan tahu rencana dan kehendak untuk apa Ia taat. Apakah saudara tahu tentang apa yang Yesus tahu???
 

Back to Top


...... Engkau Kehendaki (II)

" Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
( Mat. 26:39 )

Tanggal :

19 Maret 1998

Bacaan :

Mat. 26:36-46
(lanjutan)

Refleksi :

Bagaimana dengan kehidupan Anda saat ini, apakah Anda senantiasa mencari kehendak Allah atas hidup Anda? Maukah Anda mengatakan "kehendakMu yang jadi" dalam setiap doa-doa Anda?

Doakan Bersama :

• Kehidupan kerohanian kita agar melalui kesaksian hidup pribadi banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan sehingga nama Tuhan dipermuliakan.

    "...Janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan Engkau kehendaki." Selain memberikan pengertian akan kedaulatan dan otoritas Allah. Seruan tersebut memberikan arti kemenangan pada diri Yesus, di mana Yesus mengerjakan keselamatan dengan menaklukkan kehendakNya kepada Allah.
Alkitab mengajarkan supaya kita percaya kepada Tuhan dengan segenap hati (secara total dan tidak curiga kepada Allah) dan tidak bersandar kepada pengertian sendiri atau kehendak diri (Ams.3:5-7). Maka ketika Adam dan Hawa tidak taat pada kehendak Allah dan lebih taat kepada bujuk rayu Iblis serta mencoba memakai otoritasnya sendiri maka mereka harus menanggung akibatnya yaitu terpisah dari Allah. Jadi penerima hidup dalam kehendak Allah konsekuensi mutlak bagi umat tebusanNya. Dan Allah sendiri menjanjikan penerimaan hidup dalam kehendakNya berarti kemenangan, sedangkan kehendak sendiri pasti membawa kekalahan.
Kemenangan dari hidup dalam kehendak Tuhan seringkali dipandang dengan hidup kelimpahan harta benda, sehat jasmani, tanpa ada tangisan dan tanpa masalah di dalam kehidupan kita. Jelas pandangan tersebut tidak diajarkan oleh Yesus sendiri. KemenanganNya tidak dilimpahi dengan harta benda atau berkat jasmani tetapi diiringi oleh tangisan kepedihan, cucuran peluh seperti titik darah, cercahan yang sepatutnya tidak Ia terima, tidak ada pujian yang ada hanya hinaan, diperlakuan tidak adil dan olokkan yang menyakitkan.
Memang kehendak Allah kadang sulit diterima pikiran kita, tetapi kita harus meneladani Yesus, Ia taat dan percaya kepada Allah.
 

Back to Top


Pemimpin Yang Menjadi Teladan

"Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan."
( Yos.24:15b )

Tanggal :

20 Maret 1998

Bacaan :

Yos. 24:14-18

Refleksi :

Jangan mengharapkan rejeki dan berkat di luar Tuhan, melainkan mengharapkan Tuhan yang menjadi sumber rejeki dan berkat.

Doakan Bersama :

• Keluarga, sahabat, kerabat, dan rekan kerja anda yang belum percaya kiranya Tuhan membuka jalan dan memakai anda sebagai penyalur berkat dan keselamatan bagi mereka.

    Keputusan yang diambil oleh Yosua untuk tetap mengajak seisi rumahnya setia beribadah kepada Tuhan, merupakan keputusan yang lahir dari kesadaran bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber berkat bagi dia.
Di dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin, baik sebagai orang nomor satu di dalam keluarga maupun komunitas Israel, Yosua benar-benar menyadari bahwa kunci keputusan untuk tetap meletakkan Tuhan sebagai otoritas yang tertinggi ada di dalam tangannya. Dia tidak boleh membiarkan keluarga dan bangsanya mengambil keputusan yang salah yaitu meninggalkan Tuhan dengan beribadah kepada allah lain.
Maka tidak mengherankan, untuk memperkokoh Tuhan sebagai otoritas yang tertinggi, Yosua mengingatkan kembali banyaknya perbuatan-perbuatan yang sudah Tuhan lakukan bagi mereka. Menolong di dalam menyeberangi sungai Yordan yang sedang meluap, memberikan kemenangan melawan Yerikho dan Ai, menyertai di dalam merebut Kanaan bahkan menyediakan tanah pusaka sebagai tempat perhentian.
Semua perbuatan-perbuatan ajaib ini, diimaninya bukan berdasarkan kekuatan pedang dan panah Israel, melainkan pemberian Tuhan tanpa diperoleh dengan susah payah (ay.13)
Sebagai sumber berkat, seharusnya Tuhan perlu senantiasa diikuti dan ditaati. Tuhan tidak boleh digantikan dengan ilah-ilah lain, melainkan harus ditempatkan sebagai pemimpin di dalam keluarga dan pekerjaan. Hanya Tuhan yang dapat memperkokoh sebuah keluarga dan pekerjaan, jika pemimpinnya mau mengambil keputusan untuk menjadikan Tuhan sebagai penopang hidup dan dunianya.
 

Back to Top


Tanyalah Tentang "APA"

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna."
( II Kor. 12:9 )

Tanggal :

21 Maret 1998

Bacaan :

II Kor. 12:7-10

Refleksi :

Bagaimana selama ini sikap Anda dalam menerima keberadaan Anda dalam hal kelemahan Anda?
Sudahkah Anda mengubah sikap itu menjadi semangat untuk menjadi alat yang dipakai Tuhan menyatakan kuasaNya.

Doakan Bersama :

• Pertumbuhan rohani dan kehidupan pribadi umat Kristen dalam hal doa, saat teduh, PI, dan persekutuan.

    Pernah ada seorang penginjil yang mengisahkan tentang seorang wanita yang pernah dijumpainya, wajah wanita itu begitu cerah bercahaya. Kemudian ia melihat bahwa tangan wanita itu yang sebelah adalah tangan buatan dari besi. Setelah bercakap-cakap barulah ia tahu bahwa wanita tadi pernah menjadi penginjil di India, di sana ia terkena penyakit paru-paru, dan akhirnya dikirim pulang karena tidak ada harapan untuk sembuh. Lalu ia pulang ke negara asalnya, Finlandia, membeli sebidang tanah, dan bekerja dengan penuh semangat. Pada suatu hari waktu ia sedang menjalankan mesin pemotong gandum, tangan kanannya terpotong. Demikianlah wantia itu melanjutkan kisahnya,: "Begitu tangan saya terpotong, saya langsung menengadah kepada Tuhan dan bertanya, Tuhan, apa yang Kau kehendaki untuk kulakukan sekarang setelah tangan kananku tidak ada lagi? Pekerjaan apa? Saya bukannya tanya mengapa, tapi apa?" Tuhan memakai dia untuk mengubah ladangnya menjadi sebuah Panti Wreda untuk orang-orang Kristen, yang akhirnya menjadi berkat bagi banyak orang.
Mungkin dalam hidup kita, kita sering menggerutu akan kelemahan yang Tuhan ijinkan ada dalam diri kita, atau mungkin dalam setiap 'kemalangan' yang kita hadapi dalam hidup kita. Pada saat itulah firman Tuhan ini mengajarkan kita untuk tidak hanya merenungkan tentang 'mengapa' hal itu terjadi dan meresahkan kita, tetapi marilah kita bertanya kepada Tuhan tentang 'apa' yang Tuhan ingin kita garap melalui itu semua. Maksud Allah adalah untuk membuktikan kemurnian iman kita (I Ptr. 1:6-7) dan kasih karuniaNya yang cukup bagi kita.
 

Back to Top


Krisis Dan Watak

"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
( Ams. 4:23 )

Tanggal :

22 Maret 1998

Bacaan :

I Sam. 11

Refleksi :

Krisis tidak dapat menjatuhkan orang yang benar dari pada kekuatan Allah.

Doakan Bersama :

• Para orang tua agar memberikan waktu dan perhatian dalam kebenaran kepada anak-anaknya dengan lebih bertanggung jawab.

    Peristiwa-peristiwa krisis dalam hidup tidak membuat kita berubah; peristiwa-peristiwa tersebut mengungkapkan watak kita sebenarnya. Misalnya, bila saya melihat seorang dipukul lalu memalingkan muka, berarti saya penakut atau tidak peka, atau keduanya. Sebaliknya, bila saya menyisihkan ketakutan dan melakukan sesuatu untuk menolong, saya dapat bersyukur pada Allah karena memberi saya keberanian dan kesusilaan.
Pada awal kepemimpinan Saul sebagai Raja Israel, ia menunjukkan watak yang baik dengan cara menangani dua peristiwa krisis. Yang pertama adalah saat bangsa Amon mengumumkan ancaman kepada orang Yabesy-Gilead; menuntut penyerahan diri yang memalukan. Saul bereaksi dengan kemarahan yang murni dan tindakan yang efektif (ay.6-11). Ia menampakkan sesuatu pengertian yang kuat tentang yang benar dan salah.
Krisis kedua muncul segera setelah kemenangannya antar bangsa Amon. Teman-temannya mengusulkan supaya Saul menghukum orang-orang yang menolak dia sebagai Raja, tetapi ia berkata bahwa ia tidak ingin membalas dendam pada saat Allah memberkati dengan limpah (ay.13). Saul menunjukkan watak yang murah hati dan penuh syukur. Namun, sungguh patut disesalkan karena dalam krisis-krisis selanjutnya Saul menunjukkan cacat serius dalam wataknya! (I Sam 15:24). Ia telah membiarkan wataknya memburuk.
Kita dapat bersiap menghadapi krisis-krisis kehidupan bila kita memelihara batin kita dengan berdoa, membaca dan menaati Alkitab dan dengan beriman kepada Allah.
 

Back to Top


Mengenal & Dikenal

"Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku."
( Yoh. 10:14 )

Tanggal :

23 Maret 1998

Bacaan :

Yoh. 10:1-21

Refleksi :

Bagaimanakah hubungan Anda dengan Tuhan Yesus? Sudahkah Anda mengenal Dia dengan baik, dan juga sebaliknya apakah Tuhan mengenal Anda? Hubungan yang baik akan menghasilkan pengenalan yang baik.

Doakan Bersama :

• Anak-anak di seluruh dunia agar dapat mengatasi godaan seperti: obat-obat terlarang, tindakan kriminal, dan perbuatan amoral,

    Mengenal dan dikenal adalah suatu pernyataan mengenai suatu hubungan yang sangat baik dan intim antara seseorang dengan orang lain. Mengenal dan dikenal berasal dari kata dasar kenal yang berarti mengetahui lebih dalam lagi, maksudnya bukan mengetahui secara sekilas tetapi lebih dalam lagi. Seorang suami akan mengenal istrinya dengan baik karena mereka mempunyai hubungan yang sangat erat, demikian pula antara orang tua dan anaknya. Namun sayangnya, hubungan itu sering terjadi hanya sepihak saja, sehingga kita dikenal namun tidak mengenal, atau kita mengenal namun tidak dikenal. Oleh karena itu, hubungan yang timpang antara kita dengan Tuhan Yesus Kristus haruslah diperbaiki dengan segera, karena mungkin selama ini Dia mengenal kita namun kita tidak mengenal Dia.
Pada bagian ini, Tuhan Yesus menggambarkan hubungan yang baik antara Gembala dan domba-dombaNya. Gembala mengenal domba-dombaNya dengan begitu baik, bagaimanakah dengan pengenalan domba-domba itu terhadap Sang Gembala. Perlu diingat bahwa domba tanpa Gembala maka domba-domba itu akan kacau dan binasa.
Tuhan sudah mengenal kita dengan baik, maka kita harus juga mengenal Dia dengan baik pula dan hal itu akan terjadi dengan baik apabila mempunyai hubungan yang erat dengan Dia. Hubungan yang baik apabila kita mempunyai waktu untuk bersekutu dengan Tuhan setiap hari dalam membaca firman Tuhan dan berdoa. Oleh karena itu, kita perlu menyediakan waktu untuk menjalin hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus Kristus sebagai Gembala yang baik.
 

Back to Top


Bila Orang-Orang Kristen Berselisih

"Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun."
( Rm. 14:19 )

Tanggal :

24 Maret 1998

Bacaan :

Rm. 14:1-23

Refleksi :

Belajarlah untuk menerima orang lain apa adanya tetapi dengan mendorong mereka untuk membuang kebiasaan buruknya.

Doakan Bersama :

• Masyarakat Bali yang religius agar dapat dijamah oleh pemberitaan Injil keselamatan.

    Perpecahan selalu menjadi masalah utama bagi umat Allah. Kitab PL mencatat perang saudara dan pertengkaran keluarga di antara orang-orang Israel. Kitab Perjanjian Baru juga mencatat setiap jemaat (Korintus, Galatia, dan Filipi) setempat menghadapi perpecahan. Demikian dengan orang-orang percaya di Roma berselisih paham tentang pantangan-pantangan makan dan hari-hari khusus.
Sayangnya, dewasa ini kita menghadapi masalah-masalah yang serupa dalam banyak bidang kehidupan yang tidak jelas benar atau salahnya bagi setiap orang percaya. Ada beberapa perbuatan salah dan benar dengan jelas dinyatakan oleh Alkitab. Tetapi bila kita sampai pada perbuatan yang tidak diungkapkan dengan jelas dalam Alkitab, kita merasa memerlukan petunjuk. Paulus memberikan 3 petunjuk untuk perbedaan mengatasi pendapat, yaitu:
1. Terimalah satu akan yang lain (ay.1-12). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ada 2 macam orang, yaitu yang kuat imannya (tidak diperbudak oleh makanan, hari, dsb.) dan lemah imannya (diperbudak oleh makanan, hari, dsb.) Kita harus menerima orang lain karena Allah telah menerima dan hanya Allah yang menjadi hakim kita;
2. Saling membangun (ay.13-15). Kita akan memiliki ikatan persaudaraan jika kita saling mengasihi, berusaha untuk saling memperbaiki, dan membangun di dalam iman;
3. Mencari kesenangan bersama. Kasih orang Kristen ialah tidak mementingkan diri sendiri, sebaliknya ikut menanggung beban sesamanya.
 

Back to Top


S A R A

"Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi..."
( Kis. 17:26 )

Tanggal :

25 Maret 1998

Bacaan :

Kis. 17:22-34

Refleksi :

Sepatutnya Anda "memimpikan" dan mendoakan terwujudnya secara praktis, bukan teoritis, Indonesia yang "Bhinneka Tunggal Ika."

Doakan Bersama :

• Orang-orang percaya yang mengalami penganiayaan di negara-negara yang menolak Injil agar kuasa salibNya menjadi sumber kekuatan dan penghiburan untuk tetap bertahan dalam Dia.

    Dalam dua bulan pertama tahun 1998 ini, berbagai daerah dalam negara kita marak dengan kerusuhan sosial yang berbau SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Menurut sebuah sumber dari internet sejumlah kerusuhan telah terjadi di: Ujung Pandang, Banyuwangi, Rembang, Tuban, Lumajang, Bojonegoro, Bima, Ende, Krian, Bumiayu Brebes, Jatiwangi-Majalengka, Brebes, Cirebon, Panarukan, Serpong-Bogor, Kendari, dan Pengalengan. Menurut BBC London 20 Feb, kota Kendari yang dilanda kerusuhan sejak 14 Feb masih dalam keadaan tegang, kerusuhan juga terjadi di Rantau Prapat, dan kerusuhan telah terjadi di lebih 25 tempat. Ironisnya, dalam negara kita yang berlandaskan Pancasila, berbagai kerusuhan tersebut berbau rasial, mengobrak-abrik toko dan rumah milik peranakan Cina.
Alkitab mengajarkan adanya kebhinnekaan ras namun tidak mengijinkan diskriminasi ras. Sebab kita semua, berdasarkan SARA, dicipta oleh Allah yang satu, "Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia" (ay.26). Secara universal semua manusia bersaudara sebagai "keturunan" Allah (ay.28) atau dicipta oleh Allah. Namun dosa telah memisahkan manusia dari Allah dan mengakibatkan permusuhan berdimensi SARA.
Puji Tuhan, Allah memberi solusi perdamaian melalui Yesus Kristus. Pertobatan membawa perdamaian dengan Allah dan sesama (ay.30). Allah juga mendirikan gereja sebagai wadah di mana keharmonisan antar ras dimungkinkan terwujud (ay.34). Marilah kita sebagai umat Tuhan menampilkan kebhinnekaan ras dengan saling menghormati dan mengasihi.
 

Back to Top


Berperkara Dengan Allah
"Dengarlah firman Tuhan, hai orang Israel, sebab Tuhan mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini."
( Hos.4:1 )

Tanggal :

26 Maret 1998

Bacaan :

Hos.4:1-10

Refleksi :

Keindahan hidup bukanlah bersumber pada kecantikan atau keelokan lahiriah, melainkan lahir dari hati yang mengenal Allah.

Doakan Bersama :

• Gereja Toraja dengan 350.000 anggota yang tersebar di 689 jemaat dengan 286 pendeta agar tetap setia memberi diri dipakai Tuhan di daerahnya.

    Satu realitas, yang kerap kali menjadi kecenderungan hati manusia adalah menyelewengkan kebenaran. Hal ini menunjukkan adanya kondisi hati yang korup. Yang pada akhirnya memunculkan tindakan-tindakan yang hanya bersumber pada pementingan diri sendiri.
Tidak mengherankan, mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan menganiaya; merupakan fenomena-fenomena yang menyingkapkan adanya krisis kerohanian yaitu tidak ada pengenalan akan Allah.
Krisis ini, yang memicu munculnya perkara yang Allah nyatakan kepada bangsa Israel. Di mana kejahatan yang mereka lakukan merupakan bukti yang konkret yang menunjukkan bahwa mereka sudah tidak memiliki pengenalan akan Allah, biarpun mereka dikatakan sebagai umat Allah (bnd.4:6;5:4;6:3,6).
Keberadaan yang demikian, dapat menempatkan kedudukan Allah di dalam posisi untuk dihujat dan dillecehkan melalui kehidupan umat Allah yang tidak benar. Kerawanan untuk merendahkan keberadaan Allah melalui ketidakbenaran anak Tuhan menjadi peringatan yang serius yang Paulus singgung juga: "Sebab oleh kamulah nama Allah dihujat diantara bangsa-bangsa yang lain" (Rm.2:224). Inilah perkara yang dapat memalukan umat Allah dan Allah sendiri, yang sudah diangkat oleh Allah kepermukaan. Perlu adanya kewaspadaan di dalam memahami kesinambungan antara kehidupan orang Kristen yang lahir dari kesadaran akan adanya Allah dengan kesaksian hidup orang Kristen yang menyatakan Allah itu ada. Kewaspadaan ini akan menolong anak Tuhan untuk hidup tidak "sembrono" atau "ngawur".
 

Back to Top


Meneladani Kristus
"Ketika sidang itu melihat keberadaan Petrus dan Yohanes dan..bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus."
( Kis. 4:13 )

Tanggal :

27 Maret 1998

Bacaan :

I Yoh. 2:1-6

Refleksi :

Apakah kehidupan Anda memancarkan kerinduan untuk menjadi seperti Dia? Bila Anda menyebut diri Anda sebagai anak-anakNya, maka biarlah orang melihat keindahan kasihNya dalam Anda!

Doakan Bersama :

• Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) dengan 50.000 anggota yang tersebar di 200 jemaat dengan 159 pendeta agar tetap setia memberi diri dipakai Tuhan didaerahnya.

    Ada sebuah artikel yang menarik perhatian saya, seorang pemimpin senior sebuah bank besar di new York suatu hari diwawancarai tentang bagaimana dia dapat menjadi terkemuka dan berpengaruh. Demikian dia menuturkan: "Mula-mula dia bekerja sebagai pesuruh. Kemudian direktur bank memanggilnya dan berkata: "Datanglah ke kantor saya dan bekerjalah dengan saya tiap hari." Pesuruh itu menyahut: "Apa yang dapat saya lakukan Pak? Saya tidak mengerti sama sekali tentang urusan keuangan." "Tidak mengapa, kamu akan belajar dengan cepat dari saya, jika kamu bersama-sama saya dan jika kamu membuka mata dan telingamu lebar-lebar." "Itulah pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saya." katanya. "Berada bersama-sama dengan orang yang bijaksana membuat saya seperti dia. Saya mulai melakukan hal-hal yang dia lakukan dan jadilah saya seperti dia sekarang ini."
Berada dalam persekutuan yang akrab dengan Tuhan membuat kita makin menjadi seperti Dia. Dalam bacaan kita hari ini kita belajar bahwa para rasul itu adalah pengikut Kristus. Kristus terpancar nyata dalam pribadi mereka karena mereka telah berhubungan erat denganNya melalui pelayananNya.
Dalam pengertian yang lebih mendalam, pengalaman itu dapat kita terapkan dalam persekutuan yang akrab dengan Tuhan. Jika kita mengatakan bahwa kita di dalam Dia, kita wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (IYoh. 2:6). Melalui penyembahan, doa dan ketaatan kepadaNya, sedikit demi sedikit kita akan memiliki sifat-sifat yang dimiliki oleh Juruselamat kita.
 

Back to Top


Memilih Apa Yang Baik

"Sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus."
( Fil.1:10 )

Tanggal :

28 Maret 1998

Bacaan :

Fil. 1:1-11

Refleksi :

Kecerobohan di dalam memilih merupakan "pantulan balik" dari dangkalnya pengetahuan dan pengertian tentang apa yang baik itu.

Doakan Bersama :

• Gereja Tuhan di Kolombia (Amerika Selatan) yang mengalami banyak penderitaan agar Tuhan tetap menyatakan kasih pemeliharaan atas GerejaNya.

    Keinginan dan kerinduan untuk memilih apa yang baik, tentunya menjadi perjuangan dari setiap manusia yang menghendaki adanya keberhasilan. Keberhasilan hanya dapat diraih, kalau manusia mampu dengan tepat menentukan apa yang baik bagi dirinya sendiri.
Maka tidaklah mengherankan, memilih sekolah yang baik, pekerjaan yang baik, teman yang baik, pergaulan yang baik, calon istri atau suami yang baik bahkan gereja yang baik; semuanya itu merupakan "usaha manusiawi" yang bertujuan supaya manusia tidak terjerumus pada yang salah, yang akhirnya membawa penyesalan.
Tentunya usaha manusiawi yang bertujuan mulia ini, perlu juga dibarengi oleh prinsip kristiani yang lahir dari pemahaman iman yang benar. Ada dua prinsip yang diajarkan Paulus yang terdapat dalam ay.9:
1. Perlu adanya pengetahuan yang benar. Pengetahuan di sini berhubungan dengan informasi-informasi yang harus diketahui. Baik itu positif maupun negatif. Baik itu yang membangun maupun yang menghancurkan. Semuanya ini perlu dikaji berdasarkan pada pemahaman iman yang benar yang bersumber pada firman Tuhan. hasil kajian ini akan melahirkan pengetahuan yang benar di dalam memilih;
2. Perlu adanya segala macam pengertian. Segala macam pengertian dapat terwujud pada saat adanya 'keluasan' di dalam pemikiran dan adanya 'kelapangan' di dalam hati. Di mana semuanya ini justru akan bermanfaat untuk menghindarkan diri dari sikap 'ketertutupan' dan 'kepicikan' yang membabi-buta. Yang akhirnya akan 'memandegkan' di dalam memahami pengertian-pengertian yang baru.
 

Back to Top


Teladan Kristus

"Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu."
( Yoh. 13 :15 )

Tanggal :

29 Maret 1998

Bacaan :

Yoh.13:1-17

Refleksi :

Jikalau Anda tahu semua ini, maka berbahagialah Anda, jika Anda melakukannya (ay17).

Doakan Bersama :

• Orang-orang Kristen di negara Islam (Arab Saudi, Iran, Irak, Yordania, dsb.) doakan kesaksian hidup mereka agar tidak menjadi hambar.

    Bagi kita tidaklah mudah apabila ada seseorang yang telah menyakiti kita dan kita dapat memaafkan begitu saja, dendam dan rencana untuk membalas itulah yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita. Kita memang mudah untuk mengatakan atau bernyanyi bahwa kita mengasihi orang lain, tetapi demikian dengan kenyataannya.
Tuhan Yesus pada bagian ini mengajarkan kepada kita sesuatu yang indah dan yang harus kita teladani. Pada ayat pertama pembacaan kita, di sana disebutkan bahwa Yesus tahu akan apa yang bakal Dia alami, yaitu Dia harus menanggung penderitaan dan mati di atas kayu salib. Namun Dia juga tahu akan apa yang akan Dia alami yang akan dilakukan oleh murid-muridNya. Dia tahu bahwa Yudas Iskariot akan mengkhianatiNya, Petrus akan menyangkal Dia sebanyak tiga kali, dan murid-muridNya akan meninggalkan Dia pada saat Dia ditangkap di taman Getsemani tetapi hal yang terindah ialah bahwa Dia tetap mengasihi murid-muridNya sampai selama-lamanya (ay.1b). Selain itu, Tuhan Yesus mau melakukan suatu tindakan yaitu Dia merendahkan diri melayani murid-muridNya dengan membasuh kaki mereka.
Suatu contoh atau teladan yang indah, pada saat dikhianati, disakiti, Dia tetap mengasihi dan melayani mereka. Kasih baru dikatakan kasih apabila kita disakiti atau dirugikan kita dapat tetap mengasihi.
Allah adalah kasih, dan barangsiapa yang menyatakan dirinya sebagai anak-anak Allah maka dia harus dapat menyatakan kasih itu. Kita mengasihi dan melayani karena Kristus terlebih dahulu mengasihi dan melayani kita.
 

Back to Top


Tuhan, Saya Tidak Mau Mati

"Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."
( Fil.1:21 )

Tanggal :

30 Maret 1998

Bacaan :

II Kor. 5:6-8

Refleksi :

Tuhan memampukan Anda menghadapi kehidupan dan kematian.

Doakan Bersama :

• Negara Myanmar (45 juta jiwa), negara ini membanggakan diri karena mempunyai satu juta tempat pemujaan orang Budha, tetapi masih ada 60 suku dan puluhan ribu desa yang menantikan Injil.

    Pada suatu hari ada seorang pedagang kaya raya di negara Baghdad yang memerintahkan pelayannya agar membeli makanan di pasar untuk pesta yang akan diadakannya. Ketika pelayan tersebut tiba di pasar, ia melihat kematian di sana. Dengan sangat ketakutan ia berlari pulang untuk menemui tuannya sambil berkata, "Tuan, saya baru saja melihat kematian di pasar. Tolong, pinjamkan seekor kuda kepada saya. Saya ingin pergi ke Syria dan bersembunyi di gua." Kemudian pada hari itu juga, pedagang tersebut pergi ke pasar dan ia pun melihat kematian ada di sana. Dia melangkah mendekati kematian dan berkata, "Kematian, mengapa engkau menakut-nakuti pelayanku tadi pagi?" Oh, kata kematian, "Saya tidak bermaksud menakut-nakutinya, sebenarnya saya juga terkejut melihat dia ada di sini, karena saya telah berjanji untuk bertemu dengannya malam ini di sebuah gua di Syria."
Cerita pelayan di atas adalah ciri khas kebanyakan orang yang kita temui. Mereka berusaha dengan berbagai cara untuk menghindarkan diri dari kematian. Tuhan telah memampukan kita menghadapi kematian tanpa harus merasa takut, apabila kita:
1. Memandang kematian sebagai sebuah batu loncatan untuk menuju hidup kekal;
2. Memandang kematian sebagai sebuah peningkatan kehidupan;
3. Mengingat bahwa kematian kekal telah dikalahkan oleh Kristus melalui kebangkitanNya.
Dengan mengetahui semua itu, maka Yesus Kristus akan memimpin kita menghadapi kehidupan, baik yang sekarang ini maupun yang akan datang tanpa merasa takut.
 

Back to Top


Ketaatan Iman

"Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada diatasnya."
( Yoh. 3:36 )

Tanggal :

31 Maret 1998

Bacaan :

Rm. 1:5; 16:26

Refleksi :

Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, tidak ada manfaatnya karena iman yang seperti itu tidak membangun kerohanian yang sesungguhnya.

Doakan Bersama :

• Di Ibukota Baku, Azerbaijan ada satu sekolah Alkitab dengan 250 mahasiswa. Mereka bersama dosennya aktif dalam penginjilan, mohon Tuhan melindungi mereka.

    Iman adalah suatu istilah yang tidak terlalu mudah untuk dijelaskan, sehingga banyak orang tidak memahami arti kata iman dengan utuh dan lengkap. Orang sering menyebut kata iman dalam arti percaya, yakin. Atau gabungan dari keduanya; yakin dengan apa yang dipercayai. Dan lebih sering lagi, pengertian seperti itu dibatasi secara sempit kepada hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan, misalnya: ketika seseorang sedang menghadapi suatu kondisi yang tidak baik, maka dia mengatakan bahwa dia beriman dan yakin bahwa Tuhan akan menolong dia melewati krisis tersebut.
Pengertian seperti itu bukan salah, tapi itu hanya pemahaman satu sisi dari keseluruhan makna kata iman, yang didalamnya terkandung banyak unsur lainnya. Dan salah satu unsur dari kata iman yang tidak kalah penting yaitu ketaatan. Iman dan ketaatan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, tapi harus berjalan bersamaan. Iman mencakup perngertian akal terhadap kebenaran, dan ketaatan mencakup tindakan nyata yang merupakan respon terhadap apa yang diimani.
Di dalam Surat Roma, Paulus tidak memisah-misahkan antara iman dan ketaatan, dia justru menyatukannya, dan menegaskan bahwa rahasia Injil telah dibuka dan disampaikan kepada orang-orang yang hidup dalam zaman anugerah, bukan semata-mata untuk menyelamatkan orang dari kebinasaan, tapi yang terutama adalah untuk membimbing orang yang dahulu hidup dalam dosa, kini hidup dalam ketaatan iman. Artinya; taat melakukan apa yang dia imani dalam Injil yang telah menyelamatkan hidupnya.
 

Back to Top

husen@hotmail.com