Maret 1999

Prakata

 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
1

2

3

4

5

6
7
8 9

10

11

12

13
14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31

Webmaster

SITUASI KIAN RUNYAM

Mulai bulan ini kampanye-kampanye resmi bergerak. Berati situasi akan semakin runyam, beresiko tinggi, dan mungkin sulit dikendalikan apabila terjadi chaos di sana-sini. Siapapun dapat membayangkan jika terjadi tindakan anarkis yang cenderung destruktif pasti merugikan bangsa dan negara. Tidak seorangpun dapat menjamin keamanan kita dimasa-masa kampanye. Berdoalah senantiasa, agar kita dapat kekuatan dan petunjuk dari Tuhan.
Krisis politik dan ekonomi kian memburuk, ketidakpatuhan masyarakat kepada hukum dan pemerintah mempertebal masalah di alam kita. Konon bangsa kita masih sakit mental-gampang marah dan emosional sehingga gesekan dan senggolan kecil saja dapat menyulut perilaku agresif yang membangkitkan amuk massa. Akhirnya, kelompok minoritas selalu kena imbasnya, kadang jadi kambing hitam dan jadi objek kerusuhan.
Semoga kita semua melihat dengan jeli dan sensitif terhadap situasi yang semakin runyam. Agar tidak terjebak dalam kondisi yang merugikan iman kita. Hari depan kita tidak ada yang dapat menjamin kecuali Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, yang menguasai hidup manusia tanpa batas, dulu, sekarang dan selama-lamanya.
Saat teduh yang kita jalankan dengan konsisten niscaya membawa manfaat yang besar dalam kehidupan sekarang ini. Sebab pada masa ini, semua orang dalam keadaan takut dan bingung, masing-masing mencari perlindungan dan keamanan. Tapi kepada siapa? Jawabannya, hanya kepada Tuhan. Pemazmur dalam menghadapi hari-hari yang sulit juga memandang kepada Tuhan dan berkata: "Tuhan adalah benteng hidupku terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh" (Mzm. 27:1-2). Sebaliknya, jika seseorang menjauhi Firman Tuhan akan kehilangan kekuatan dan arah hidup.
Sebagai anak Tuhan, kita tidak dapat terlepas dari santapan rohani yang dapat menopang hidup kita. Semoga makanan rohani yang kami sajikan melalui Perspektif bukan sekedar kata-kata menghibur tapi boleh menjadi nyata dalam setiap aspek kehidupan. •

 

 

Back to Top


Jejak-Jejak Kaki Anda

" Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesuciaanmu."
( I Tim. 4:12b )

Tanggal :

1 Maret 1999

Bacaan :

2 Raj. 13:1-13

Refleksi :

Seorang anak mungkin tidak mewarisi bakat orangtuanya tetapi ia akan menyerap nilai-nilai darinya.

Doakan Bersama :

• Berdoa untuk kepekaan, kebijaksanaan dan keberanian semua pelayan-pelayan Tuhan di RRC. Mereka menyerahkan diri untuk pemberitaan Injil.

    Seorang ayah dan anaknya sedang berjalan menyusuri pantai. Sang anak yang berjalan di belakangnya tiba-tiba berteriak, "Lihat, ayah, saya berjalan didalam jejak-jejak tapak kaki ayah." Hal ini menggugah dan mendorong sang ayah untuk berpikir tentang tanggung jawabnya untuk memberikan bimbingan rohani bagi anaknya.
Kitab 2 Raja-raja pasal 13 mencatat satu masa menyedihkan dalam sejarah umat Allah. Raja-raja Israel tidak mentaati Tuhan, melainkan mengikuti jejak nenek moyang mereka yang jahat. Perbuatan-perbuatan dosa dari satu generasi diulangi oleh generasi yang berikutnya, sampai akhirnya anugerah Tuhan dijauhkan dari bangsa itu.
Tidak peduli sadar atau tidak sadar, orang tua menjadi teladan bagi anak-anak mereka. Seorang penulis yang tidak dikenal mengungkapkan:
Orang yang hati-hati,
demikian seharusnya aku;
seorang anak kecil mengikutiku.
Aku tidak berani bertindak salah,
karena takut ia melakukan hal yang sama.
Tak sekalipun aku dapat lari dari matanya.
Apapun yang aku lakukan, ia coba.
Ia ingin menjadi seperti aku, katanya
anak kecil itu mengikutiku.
Aku ingat tatkala harus menjalani
musim demi musim untuk membentuknya;
dan selama bertahun-tahun
anak kecil itu akan mengikutiku.
Hai semua orangtua, berhati-hatilah di mana dan bagaimana Anda berjalan! Seseorang sedang mengikuti jejak-jejak kaki Anda.
 

Back to Top


Menanti Kematian

" Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut dimanakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"
( I Kor.15:54-55 )

Tanggal :

2 Maret 1999

Bacaan :

1 Kor. 15:50-58

Refleksi :

Orang yang takut pada Allah tidak perlu takut pada kematian.

Doakan Bersama :

• Keberhasilan pelayanan orang Kristen di antara orang miskin, pecandu obat bius, dan para penjahat menjadi berkat bagi diri mereka sendiri dan juga ling-kungan mereka.

    Sebelas hari sebelum Rusty Woomer menjalani hukuman mati, ia dikunjungi oleh Chuck Colson. Ia tidaklah takut menghadapi kematian yang diperhadapkan padanya, tetapi ia berkata kepada Colson bahwa rasa takut mulai mencekamnya tatkala ia memikirkan bahwa ia segera berjumpa dengan Allah.
Ia tidaklah kuatir terhadap hukuman yang akan ditimpakan kepadanya sebagai ganjaran atas dosa-dosa yang telah dilakukannya, karena ia memiliki keyakinan bahwa Kristus telah mengampuninya. Namun ia terpesona di dalam pikirannya bahwa ia berjumpa dengan pribadi yang memiliki kuasa, wibawa, kesucian, dan kasih yang jauh melebihi apa yang dapat kita bayangkan.
Rusty Woomer menjalani hari-hari terakhir hidupnya dengan mengetahui secara tepat kapan dan bagaimana ia akan mati. Chuck Colson memberi komentar bahwa meskipun hanya sedikit dari antara kita yang tahu kapan dan bagaimana kita akan menghadapi kematian, kita tetap dalam posisi sedang menanti datangnya kematian. Orang Kristen yang paling taatpun akan menghadapi bayang-bayang kematian itu.
Kala kita merenungkan keberadaan Allah, kita akan gentar tatkala sadar bahwa suatu saat nanti kita akan berjumpa denganNya, namun kita juga dapat bersikap penuh sukacita, karena Yesus Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita dan bangkit dari kematian—maut telah dikalahkanNya. Kita tidak akan dilukai lagi oleh apapun juga.
Kesaksian Rusty di atas sangatlah meng-getarkan jiwa. Ia mati dengan sukacita, karena ia tahu dengan pasti ke mana ia akan pergi. Kitapun dapat melakukan hal yang sama.
 

Back to Top


Sahabat Dalam Kesepian

"Hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan dirinya untuk aku."
( Gal. 2:20 )

Tanggal :

3 Maret 1999

Bacaan :

Rm. 8:31-39

Refleksi :

Meskipun persahabatan manusia dapat gagal, hal itu tidak akan pernah terjadi pada persahabatan dengan Kristus.

Doakan Bersama :

• Pertumbuhan pelayanan yang dinamis antara mahasiswa. Kiranya orang Kristen tamatan perguruan tinggi mempunyai pengaruh yang kuat dalam masyarakat.

    Kata-kata yang terpahat pada sebuah nisan, menyentuh hati pengarang Max Lucado. Tulisan pada batu nisan tersebut tidak mencantumkan hari kelahiran atau kematian. Ukiran tersebut hanya menyebutkan namanya, nama kedua mantan suaminya, dan biografi ringkas yang melankolis ini :
TIDUR, TETAPI TIDAK BERISTIRAHAT,
MENCINTAI, TETAPI TIDAK DICINTAI,
BERUSAHA MENYENANGKAN,
TETAPI TIDAK DISENANGKAN,
MATI KETIKA IA HIDUP — SENDIRI.
Untaian kata-kata tersebut dapat diterapkan pada kehidupan orang-orang yang tidak berbahagia, yang merasa kesepian, dan tidak dikasihi. Mereka mungkin telah berusaha bergaul dan menjalin persahabatan, tetapi upaya-upaya itu seringkali menemui kegagalan.
Injil mempunyai suatu pesan bagi setiap kita yang, seperti wanita tersebut, merasa bahwa kita termasuk dalam kelompok orang yang kesepian, tidak dicintai, dan yang frustasi. Pesan itu adalah berita sukacita tentang seorang Sahabat yang sangat peduli sehingga rela mati untuk menggantikan kita di atas kayu salib. Seorang Sahabat yang mengasihi kita dengan kasih yang tidak pernah dapat dijauhkan, yang lebih dekat daripada seorang saudara, dan yang sangat mengasihi kita.
Sahabat itu adalah Yesus Kristus. Jika dengan iman kita menggapai dan memegang erat tanganNya yang berlubang paku, yang terulur kepada kita, kita akan digenggam oleh kasih yang tidak akan pernah membiarkan kita.
Pernakah Anda meminta Tuhan Yesus untuk menjadi sahabat Anda?
 

Back to Top


Jodoh Di Tangan Tuhan

"Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
( Kej. 2:18 )

Tanggal :

4 Naret 1999

Bacaan :

Yak. 1:17

Refleksi :

Allah yang menciptakan manusia, Ia juga yang mendirikan lembaga keluarga di bumi ini.

Doakan Bersama :

Lembaga misi asing yang ada di muka bumi membutuhkan tuntunan Tuhan dalam menunjukkan tempat pelayanan yang menjadi kehendak Tuhan untuk mereka.

    Dalam hal memilih jodoh tentu tidaklah segampang orang membeli pakaian atau barang-barang kebutuhan di supermarket. Namun tentu semuanya itu tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Walaupun tempat tinggal jauh, namun kalau memang Tuhan berkehendak untuk mem-pertemukan mereka sebagai jodoh, maka tidak ada yang mustahil. Banyak teman saya yang mendapat pasangan hidup dari luar pulau, misalnya teman yang dari Ujung Pandang mendapat isteri dari Medan, yang dari Medan mendapat isteri dari Manado dan yang dari Surabaya mendapat pacar dari Jambi.
Di Jepang, untuk masalah perkawinan sampai saat ini masih mengenal dua istilah yaitu: "Sanko" dan "Santei". Maksudnya: apabila seorang wanita ingin memperoleh suami, maka ia harus memperhatikan "Sanko", yang mencakup tiga hal, yakni: 1). Badan sang suami harus lebih tinggi; 2). Gaji sang suami harus lebih tinggi, dan 3). Pendidikan sang suami harus lebih tinggi.
Sedangkan bagi seorang pria yang ingin memperoleh istri ia harus memperhatikan "Santei" yang mencakup tiga hal juga, yaitu: 1). Badan sang istri harus lebih pendek; 2). Gaji sang istri harus lebih rendah; 3). Pendidikan sang istri harus lebih rendah.
Nah, bagi orang Kristen, apakah "Sanko" dan "Santei" juga perlu diterapkan dalam memilih pasangan hidup? Tentu tidak perlu. Karena sebagai orang beriman maka sepatutnya kita percaya bahwa jodoh merupakan pemberian dari Tuhan. Kalau Tuhan yang menyediakan maka pastilah itu suatu pemberian yang terbaik bagi kita semua. Percayalah!
 

Back to Top


Satu-Satunya Jalan

"Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."
( Yoh. 14:6 )

Tanggal :

5 Maret 1999

Bacaan :

Yoh. 14:6

Refleksi :

Keselamatan tidak ditentukan seberapa banyak perbuatan baik kita, tetapi bergantung sepenuhnya oleh anugerah Allah.

Doakan Bersama :

Pemimpin kristen Indonesia memainkan peranan penting dan tidak mengutamakan kepentingan diri mereka sendiri. Mereka berjuang untuk menegak-kan keadilan.

    Ada orang yang mengatakan semua agama itu sama, yang penting berbuat baik dan Anda akan masuk sorga. Sungguhkah itu? Jikalau memang begitu, maka sia-sialah pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib.
Seorang anak desa pamit untuk pergi ke kota menemui sang Ratu. Ibunya dengan sedih dan menangis dan berusaha menahannya sebab sang ibu mengetahui bahwa perbuatan anaknya itu sia-sia. Dengan keberatan, ia terpaksa melepaskan anaknya.
Beberapa hari kemudian tibalah anak ini di kota, dan ia pun berjalan menuju kerajaan. Di depan pintu gerbang, ia dicegat oleh para pengawal dan tidak diizinkan masuk. Orang yang boleh masuk harus sudah mendapat izin dari sang Ratu.
Anak desa ini kecewa dan menangis. Pada waktu itu datanglah seorang anak menghampiri dia dan bertanya: "Mengapa ia menangis?" Dengan sedih anak desa ini menceritakan semua keinginan dan tujuannya.
Dengan terharu, anak ini mengajak si anak desa ikut masuk ke dalam kerajaan. Mulanya dicegat pengawal , tetapi anak tersebut berhasil meyakinkan anak desa itu. Tatkala mereka tiba di pintu gerbang, mereka bukan hanya dipersilahkan masuk tetapi juga disertai penghormatan. Akhirnya anak desa ini berhasil bertemu dengan sang Ratu.
Setelah diselidiki ternyata anak yang membawanya adalah anak Ratu. Itulah sebabnya ia dengan leluasa boleh masuk ke dalam kerajaan. Yesus adalah anak Allah, Ia berkuasa membawa kita masuk sorga dan hanya Dia saja yang sanggup membawa kita ke sorga.
 

Back to Top


KETIKA TUHAN BESERTA

"Dan Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari Firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur."
( 1 Sam 3:19 )

Tanggal :

6 Maret 1999

Bacaan :

1 Sam. 3:1-21

Refleksi :

Mendidik anak merupakan tanggung jawab utama dan mulia dari orang tua.

Doakan Bersama :

Kebangunan rohani di negara India. Banyak tantangan yang harus dihadapi orang Kristen, berdoa untuk pertumbuhan gereja yang sedang terjadi dan bagi para misionaris.

    Kepolosan seorang anak kadang menggemaskan dan ketidak-tahuannya dapat membuatnya lebih berani. Bagi Eli, panggilan Tuhan itu menandakan sesuatu yang maha penting dan ia tahu bagaimana menanggapi panggilan Allah. Tidak demikian dengan si kecil Samuel. Semua suara berat pria, baginya adalah suara Eli yang biasa memanggilnya. Meskipun demikian, ketika ia sadar bahwa Allah yang memanggilnya, diapun sigap dan belajar mendengarkan dengan baik.
Apa manfaatnya menceritakan perihal Eli kepada Samuel yang masih basepta itu (bawah sepuluh tahun)? Apakah dia dapat memahami sepenuhnya? Memang, kita sering menganggap remeh seorang anak kecil dalam daya nalarnya. Namun Tuhan menghargai ciptaanNya dengan kapasitas yang dimilikinya. Tuhan mengajari kita untuk menghargai seorang anak kecil dan jangan meremehkannya sebab mereka lebih mudah diajar, mengerti dan mengingat pengajaran yang didapatnya. Berapa banyak di antara kita yang dengan kesadaran ini rela menjadi guru sekolah minggu, atau mengajar kebenaran-kebenaran Firman kepada anak-anak kita sejak kecil?
Tuhan juga mau memberikan peringatan kepada Samuel untuk tidak mengikuti jalan Eli. Memang Samuel melakukan pelayanan yang berbeda dengan imam Eli, namun ia juga gagal mendidik anaknya, karena kedua putranya juga sama dengan kedua anak Eli. Menyedihkan? Fakta semacam ini juga mudah kita dapati di antara kita, orang tuanya baik dan setia, namun anak-anaknya tidak dapat dibanggakan sebagai anak orang percaya. Sudah sedemikian parahkah kondisi kita?
 

Back to Top


KebodohanBberbuah Petaka

"Katanya: "Telah lenyap kemuliaan di Israel, sebab tabut Allah telah dirampas."
( 1 Sam. 4:22 )

Tanggal :

7 Maret 19991

Bacaan :

1 Sam. 4:1-22

Refleksi :

Penyembahan berhala terjadi saat kita menggantikan posisi Allah dalam sasaran ibadah kita dengan sesuatu yang bukan Allah.

Doakan Bersama :

Mutu kehidupan orang Kristen tidak didasarkan pada situasi dan kondisi semata tetapi sungguh berdasarkan iman percaya yang benar kepada Kristus dan tetap setia di dalamNya.

    Senioritas merupakan halangan untuk menegakkan kewibawaan. Samuel tak berkutik ketika kedua begundal imam itu menyetujui usulan para pahlawan perang untuk mengusung tabut perjanjian ke tengah pertempuran. Mereka yakin kehadiran Yahweh dapat dirasakan melalui tabut itu. Siapa yang tak kenal kehebatan Yang berdiam di dalam tabut itu? Sungai Yordan terbelah, kota Yerikho roboh, dan sebagainya. Israel tak lagi bersandar pada Allah yang sejati tetapi pada benda yang menjadi representasiNya. Mereka jatuh pada penyembahan berhala. Samuel diam, Yahwehpun tak turun tangan. Dia biarkan umatNya tersesat.
Kecerobohan mereka bukan hanya membuahkan kematian para pahlawan dan kedua imam sesat itu, tapi lambang kehadiran Allah yang juga lambang khas negeri mereka jatuh ke tangan musuh. Sungguh suatu pelecehan yang tak tertanggungkan. Bangsa tak bersunat ini berhasil menawan "Allah" mereka.
Kecongkakan Israel tak jarang juga menjadi jerat bagi kita. Kalau pernah ditolong sekali, bukan berarti doanya yang manjur tetapi Tuhan yang berkenan mengabulkan. Banyak kali kita jatuh pada pemberhalaan doa atau ayat Alkitab dan tidak bersandar pada Allah. Tak jarang kita juga mengillahkan pendeta tertentu yang dianggap punya kuasa dan doanya manjur. Padahal Tuhan yang berdaulat dan bukan "talisman" itu. Kita dilecehkan orang tak percaya karena kita juga tak berbeda dengan mereka dan kita menempatkan Tuhan hanya sebagai "perona" peristiwa agar semuanya kelihatan rohani dan kristiani. Janganlah kita menjelajahi area kebodohan ini!
 

Back to Top


Keberhasilan Yang Getir

"... maka tangan TUHAN mendatangkan kegemparan yang sangat besar atas kota itu; Ia menghajar orang-orang kota itu, anak-anak dan orang dewasa, sehingga timbul borok-borok pada mereka."
(1 Sam. 5:9)

Tanggal :

8 Maret 1999

Bacaan :

1 Sam. 5:1-12

Refleksi :

Kemenangan orang fasik bersifat semu sedangkan kemenangan orang yang berpihak pada Tuhan bersifat sejati.

Doakan Bersama :

• Radio Kristen merupakan alat yang dipakai Tuhan untuk membawa berkat bagi pendengar Kristen dan juga bagi orang yang belum percaya.

    Berhasil belum berarti kemenangan, demikian pula kegagalan bukan berarti kekalahan. Sorak kegirangan kaum Filistin yang menggema dari medan pertempuran ditingkahi dengan gelegar tangis kepedihan Israel. Kekontrasan ini segera diambil alih oleh panorama kegirangan dari tanah musuh yang dicatat dalam pasal ini. Berbagai hidangan nikmat, berbagai bonus menarik, berbagai sambutan hangat, dipersiapkan untuk merayakan hari yang bersejarah itu. Semua berjalan sesuai rencana sampai sesuatu yang tak terduga terjadi. Patung sang sembahan terjungkal menyembah tabut sang musuh. Bala penyakit dan hama tikus menyerang membabi-buta. Simfoni kesukaan berubah menjadi gita duka yang menggema ke seluruh penjuru negeri.
Tuhan tak pernah kalah, meski secara fisik "kediamanNya" dibongkar atau dirangsek pihak lain. Dia tetap berjaya. Dia punya caraNya sendiri untuk menunjukkan bahwa DIA yang memegang kendali.
Sungguh suatu hal yang mengejutkan buat kita bila kita dianggap kalah dan lemah bahkan seolah Tuhan kita tak bergeming untuk bertindak. Jangan pernah kecewa atau hilang percaya padaNya. Tak ada alasan untuk menyesal menjadi umatNya sebab saat kita tak dapat berbuat apapun, Tuhan akan menunjukkan kekuasaan dan kekuatanNya untuk membungkam semua kegembiraan musuh.
Mari kita menaruh percaya padaNya, bukan mengikuti ketololan Israel yang memalukan, tetapi tetap taat padaNya. Bila ternyata musuh tetap berjaya, jangan cepat berciut hati seolah Tuhan kita sudah kalah. Ingatlah, DIA masih perkasa, DIA masih berkuasa!!
 

Back to Top


Yesus Angkat Bebanku

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."
( Mat. 11:28 )

Tanggal :

9 Maret 1999

Bacaan :

Mat. 11:28

Refleksi :

Beban berat menjadi ringan kala kita menyerahkannya kepada Yesus Kristus, Tuhan kita.

 

Doakan Bersama :

• Penerjemahan Alkitab dilakukan dengan lebih serius lagi, khususnya bagi bahasa yang belum memiliki terjemahannya sendiri. Doakan agar Tuhan memanggil lebih banyak penerjemah Alkitab.

    Beban permasalahan dalam hidup kita kadang-kala terjadi karena kesalahan kita sendiri, namun tak jarang kita menuduh bahwa Tuhanlah yang memberikannya. Tatkala pertama kali kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadi, maka beban dalam hidup kita sudah pasti ditanggung juga olehNya. Namun, jika kita tidak setia dengan janji kita yang mula-mula, berarti kita belum menyerahkan segala beban kita kepada Dia.
Orang yang mempertahankan beban diilustrasikan sebagai seorang yang naik kereta api, namun di dalam kereta tersebut ia masih mengangkat barang-barang bawaannya, padahal ia boleh meletakkan segala beban bawaannya karena sesungguhnya kereta api tersebut sanggup dan telah mengangkat bebannya itu.
Saya begitu tersentak ketika En Mei, anak kami yang berumur tiga tahun belajar menyanyi lagu yang diajarkan oleh guru sekolah Minggunya, "Aku bahagia, bahagia, kenapa? Karena Tuhan Yesus angkat bebanku. Yesus angkat bebanku dan buang ke laut. Phiu" (walaupun sebenarnya En Mei tidak mengerti apa itu beban tetapi lagu itu menjadi berkat bagi saya). Jikalau memang beban dalam hidup ini kita serahkan pada Tuhan Yesus, maka Ia akan membuangnya, terserah mau ke laut mau ke jurang bukan urusan kita. Inilah iman anak-anak. Tetapi iman seperti inilah yang seharusnya kita miliki.
Marilah kita mengoreksi diri kita. Apakah masih ada hal-hal yang belum kita serahkan sehingga beban itu menjadi begitu berat dalam hidup kita. Di dalam Alkitab ditulis "Serahkanlah semuanya kepada Tuhan, maka Ia akan bertindak."
 

Back to Top


Bertumbuhkah Aku?

"Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu ya raja."
( Dan. 3:17 )

Tanggal :

10 Maret 1999

Bacaan :

Dan. 3

Refleksi :

Kadangkala Tuhan membiarkan badai pencobaan menimpa anak-anakNya demi pertumbuhan iman mereka.

Doakan Bersama :

• Gereja tahu dengan jelas tentang visi dan misi yang diembannya sehingga semua kegiatan yang dilakukan gereja dapat dipertanggung

-jawabkan.

    Pertumbuhan dapat dilihat dari berbagai aspek dalam kehidupan kita. Misalnya dari Firman Tuhan yang kita baca, apakah merubah hidup kita? Apakah membuat hidup kita lebih berguna dan menjadi berkat? Dapat pula dari segi pelayanan, apakah kita semakin semangat? Semakin melayani semakin mencintai Tuhan? Atau sebaliknya, kita hanya mencari kepentingan dan kemuliaan diri?
Pertumbuhan bisa juga dari cara dan sikap kita berdoa. Nats Alkitab ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kesetiaan kita dalam berdoa setiap hari. Apakah isi doa kita setiap hari? Dan bagaimana cara kita meresponi jawaban doa dari Tuhan?
Pada waktu kesulitan demi kesulitan datang, apakah kita tetap setia berdoa? Tetap mengucap syukur dalam doa-doa kita?
H.G Spafford (1828-1888) yang mengarang lagu "Nyamanlah Jiwaku" mengalami berbagai musibah. Rumah mereka terbakar, usahanya bangkrut dan kesehatan istrinya sangat menurun. Akhirnya keempat anak perempuannya mati, tenggelam dalam kapal. Bayangkan betapa resah hati Spafford menghadapi semua ini. Namun, di tengah semua penderitaan dan cobaan itu, ia tidak menggerutu, menyalahkan Tuhan dan menjauhi Tuhan, tetapi ia tetap setia bahkan mendekatkan diri dan menjadi berkat bagi bangsa lain. Lalu ia mengarang lagu "Nyamanlah Jiwaku".
Pada waktu Sadrakh, Mesakh dan Abednego mengalami kesulitan dan tantangan, mereka tetap berdoa. Dan kalaupun Tuhan tidak melepaskan mereka dari kesulitan, mereka tetap tidak kompromi untuk menyembah allah lain.
Apakah hari ini Anda masih setia berdoa?
 

Back to Top


Tuhan Mengubah Semuanya

"Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya."
( Mzm. 68:2 )

Tanggal :

11 Maret 1999

Bacaan :

Mzm. 68:20-36

Refleksi :

Allah dan kemahakuasaanNya tidak pernah berubah dalam memelihara umatNya.

Doakan Bersama :

• Andhra Pradesh, negara bagian India. Berdoa agar penginjilan yang dilakukan masa kini dapat terus ditingkat-kan meskipun pertentangan ada di hadapan mereka.

    Pertama, tentang doa bagi kemenangan Allah hari ini (Mzm. 68:2-7). Penyertaan Allah menggetarkan hati manusia; Ia menjadikan orang jahat terserak dan melarikan diri; Ia menjadikan orang-orang benar bersukacita (Mzm. 68:4) karena Ia Allah yang memperhatikan dan membela mereka di dalam kepapaannya.
Hari ini, bukankah banyak anak-anak Tuhan menghadapi tekanan-tekanan, intimidasi-intimidasi, penganiayaan-penganiayaan, bahkan pembunuhan terhadap anak-anak Tuhan telah menjadi kenyataan. Namun pada saat Tuhan bangkit, Ia akan mendorong dan menolong kita mengatasi kekuasaan dan penguasa-penguasa yang menin- das anak-anak Allah. Semoga kita meneladani Daud, berdoa kepada Allah: "Oh, Allahku! Bangkitlah!"
Kedua, mengenai kemenangan Allah pada masa lalu (Mzm. 68:8-19). Pada masa lalu, Allah memberikan kemenangan bagi bangsa Israel. Ia melepaskan umatNya dari tangan raja Firaun. Allah juga telah memimpin umatNya selama di padang gurun, dan membawa mereka masuk ke Kanaan—tanah perjanjian Allah. Di Kanaan, Ia juga menolong umatNya menaklukan musuh-musuhNya.
Pada hari ini, kita sebagai anak-anak Tuhan, sering menghadapi pencobaan. Di samping kita hidup di tengah akhir zaman yang penuh kesukaran, kita juga hidup di tengah konteks bernegara yang sedang kusut. Karena itu kita harus mengenang kuasa dan pertolongan yang pernah Allah nyatakan kepada kita semua. Ingatkah kita atas pertolongan Allah terhadap doa kita? Yakinkah kita akan memperoleh kem-bali pertolonganNya?
 

Back to Top


Allah Yang Menyelamatkan

"Allah bagi kita adalah Allah yang menyelamatkan, ALLAH, Tuhanku, memberi keluputan dari maut."
( Mzm. 68:21 )

Tanggal :

12 Maret 1999

Bacaan :

Mzm. 68:20-36

Refleksi :

Reformasi sejati terjadi jika Tuhan yang campur tangan dan hukum ditegakkan.

Doakan Bersama :

• Terimakasih atas pernyataan kuasaNya dalam hidup kita. Kita semakin bersandar padaNya dan dengan kuasaNya, kita dapat menaklukan musuh kita dan mengalami kemenangan.

    Di sini, kita berdisukusi tentang doa untuk kemenangan (Mzm. 68:20-24). Daud sering berdoa agar Allah mengalahkan musuh-musuhnya, karena Daud yakin kalau musuh-musuhnya juga adalah musuh Allah. Daud berdoa: "Allah meremukkan kepala musuhnya" (Mzm. 68:22). Anak-anak Tuhan juga dapat belajar dari doa Daud, agar kerajaan Allah memperoleh kemenangan. Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12). Bila kita sudah mengenal musuh kita, seharusnya dengan segenap kekuatan, kita berdoa agar Allah meremukkan kepala musuh kita. Apakah kita dengan tekun berdoa melawan si jahat, tanpa putus asa?
Kemudian, kita melihat Tuhan menyatakan kuasaNya (Mzm. 68:25-36). Doa untuk kemenangan ini diakhiri dengan menyatakan kuasaNya. Daud—pemazmur mengajak semua orang memproklamirkan kuasa Allah—menyatakan bahwa Allah yang berkendaraan melintasi langit purbakala, dan Ia memperdengarkan kuasaNya yang dahsyat (Mzm. 68:34).
Allah yang dahsyat ini, bukan hanya menyertai umatNya di zaman purba, tetapi juga menyertai kita, setiap anak-anakNya pada masa kini sampai kepada akhir zaman (lihat Matius 28:20). Maka kita bukan sekedar berdoa, tetapi juga dengan puji-pujian, mohon agar Tuhan menyatakan kuasaNya dalam kehidupan kita. Dan bagian kita selaku umat Tuhan adalah menyerahkan diri sepenuhnya dan juga beriman kepada Dia. Kemenangan bersama Dia memam pukan kita merayakan kuasaNya. bangkitlah! Pujilah Dia!
 

Back to Top


Yahweh VS Ilah-Ilah Asing

"Pergilah menghadap Firaun, sebab Aku telah membuat hatinya dan para hati pegawainya berkeras, supaya Aku mengadakan tanda-tanda mujizat yang Kubuat ini di antara mereka."
( Kel. 10:1 )

Tanggal :

13 Maret 1999

Bacaan :

Kel. 10:1-2

Refleksi :

Hanya oleh anugerah Tuhan saja kita sanggup mengenal Allah Tritunggal sebagai satu-satunya Allah yang benar.

Doakan Bersama :

• Suku-suku India yang belum terinjili, Bodo, Rabha dan lain-nya. Berdoa untuk kedamai-an di antara suku-suku supaya memper-lancar penye-baran berita Injil.

    "PERANG" adalah istilah yang tidak disukai karena kata itu berkonotasi negatif, mengakibatkan penderitaan. Mungkin karena alasan itu, maka banyak orang Kristen luput memperhatikan bahwa "perang" adalah salah satu tema besar dalam Alkitab (PL). Salah satu bentuk peperangan dalam PL adalah tentang Yahweh yang berperang mengalahkan ilah-ilah Mesir.
TUHAN dapat saja menggerakkan hati Firaun supaya dia mengijinkan orang Israel pergi dari Mesir, tapi TUHAN "mengeraskan" hatinya sehingga terjadi 10 tulah dahsyat atas Mesir. Di balik peristiwa itu, sebanarya ada dua tujuan: Pertama, supaya orang mesir tahu bahwa Yahweh adalah Allah semesta alam yang lebih besar daripada ilah-ilah yang disembah orang Mesir. Kedua, supaya orang Israel belajar mengenal bahwa Yahwehlah yang menebus dosa mereka dan Dia Allah yang benar, supaya mereka mengingat peristiwa itu turun-temurun dan mengikut Dia dengan setia.
Dari Alkitab dan penemuan arkeologi, kita tahu bahwa setiap suku bangsa mempunyai ilah-ilah yang disembah sebagai 'tuhan' yang menjadi pelindung bagi mereka. Maka di balik setiap peperangan dianggap melibatkan juga ilah masing-masing kelompok, dan kemenangan satu kelompok dianggap sebagai kemenangan ilah mereka. (Band. 1 Sam.5:1-5 dan 1 Raja-raja 18).
Bangsa Israel lama tinggal di Mesir, dan latar belakang seperti itu memerangkap mereka dalam konsep ibadah yang politeistis. Kini TUHAN telah menebus mereka agar mereka belajar mengenal bahwa Yahweh satu-satunya Allah yang benar, dan mereka harus mengikut Dia dengan setia.
 

Back to Top


Yahweh VS Musuh-Musuh Israel

"Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: "TUHANlah panji-panjiku!"
(Kel. 17:15 )

Tanggal :

14 Maret 1999

Bacaan :

Kel. 17:51-16

Refleksi :

Untuk mengenal jalan Tuhan kita memerlukan penerangan firmanNya.

Doakan Bersama :

• Kampanye PEMILU dapat berjalan dengan baik. Setiap pendukung partai bertindak bijaksana sehingga tidak merugikan masyarakat lain.

    Sejarah bangsa Israel penuh dengan peperangan melawan bangsa-bangsa lain. Kenyataan tersebut sering menimbulkan sangkaan yang salah dalam banyak orang, bahwa Tuhan itu kejam karena Dia berperan di balik peperangan itu. Pendapat ini adalah suatu kesimpulan yang terlalu cepat, tanpa memahami inti permasalahan yang sesungguhnya.
Memang peperangan yang terjadi banyak melibatkan TUHAN, bahkan kadang TUHAN sendiri yang memerintahkan untuk maju berperang menumpas musuh-musuh mereka. Tapi itu tidak berarti suatu tindakan kejam dari TUHAN, karena ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketika TUHAN memerintahkan Israel berperang, itu berarti TUHAN memakai mereka untuk menumpas kejahatan, dan adalah hakNya untuk menuntut keadilan terhadap mereka yang hidup dalam kejahatan. Bangsa-bangsa yang diperangi oleh Israel adalah bangsa-bangsa yang menyembah berhala dan hidup dalam kejahatan. TUHAN menghukum mereka dengan memakai tangan bangsa Israel.
Karena alasan itu, maka peperangan itu menjadi peperangan TUHAN sendiri. Israel hanya alat di tanganNya. Tapi bagi bangsa Israel, peperangan ini merupakan sarana latihan iman yang sangat efektif dan riil. Hanya dua pilihan bagi mereka: berperang dengan inisiatif, kekuatan diri sendiri dan dikalahkan musuh; atau mereka bertindak sesuai perintah TUHAN, bersandar penuh padaNya sehingga mencapai kemenangan. Bukankah ini melukiskan kehidupan orang percaya yang terus berperang melawan musuh rohani yang sebenarnya?
 

Back to Top


Yahweh Melawan Umatnya

"Aku sendiri akan berperang melawan kamu dengan tangan yang teracung, dengan lengan yang kuat, dengan murka, dengan kehangatan amarah dan dengan kegusaran yang besar."
(Yer. 21:5 )

Tanggal :

15 Maret 1999

Bacaan :

Yer. 21:5

Refleksi :

Lebih berbahagia jika kita berada pada kehendak Allah daripada harus mengalami hajaran Allah yang Mahakudus.

Doakan Bersama :

• Lapangan kerja yang semakin hari semakin sulit didapat, supaya tiap kita tidak gampang menyerah dan juga tidak mengambil jalan pintas, melaku-kan hal-hal yang tidak seharusnya kita lakukan.

    Bentuk peperangan ketiga yang dicatat dalam PL adalah TUHAN berperang melawan umatNya sendiri. Ini salah satu kebenaran penting yang sering diabaikan oleh Gereja hari ini, padahal hal ini ditulis berulang-ulang kali, dan menjadi pengalaman yang sangat pahit dalam kehidupan bangsa Israel.
TUHAN menebus Israel dari perbudakan dan menjadikan mereka umatNya yang dipelihara dan diberkati secara melimpah. Tapi apa yang TUHAN sudah lakukan bagi mereka seringkali tidak membuat mereka bersyukur dan mengikut Dia dengan setia. Mereka justru lebih sering mengkhianati kasih setiaNya, menyembah berhala dan hidup mengikuti pola kafir yang merupakan kejahatan bagi TUHAN.
Nabi-nabi diutusNya untuk memperingatkan mereka, tapi mereka tidak menggubris dan terus hidup dalam kejahatan. Lalu, murka TUHAN bangkit atas mereka dan menyerahkan ke tangan musuh untuk ditindas dengan keras. Mereka kalah bukan karena musuhnya yang terlalu kuat, tetapi karena TUHAN telah 'meninggalkan' mereka.
Pengalaman Yehuda dibuang ke Babel selama 70 tahun, adalah salah satu dari sekian pengalaman Israel dihajar oleh TUHAN. Firman TUHAN ini menyiratkan betapa besar kesalahan yang telah dilakukan Yehuda. Kalimat tersebut juga mengungkapkan kekecewaan TUHAN terhadap umat yang mengkhianati kasihNya.
Dalam setiap zaman, umatNya ternyata cenderung merasa diri sudah cukup baik, tidak menyadari kesalahan yang mereka buat, sampai akhirnya tangan TUHAN diacungkan atas mereka. Apakah ini bukan bagian dari pengalaman Gereja sepanjang sejarahnya sampai hari ini?
 

Back to Top


Menilai Zaman

"... mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?"
( Luk. 12:56 )

Tanggal :

16 Maret 1999

Bacaan :

Luk. 12:54-56

Refleksi :

Dapatkah anda menilai zaman ini dengan bijaksana?

Doakan Bersama :

• Persekutuan doa membuat kita semakin rindu untuk menjadi pendoa-pendoa yang boleh dipakai untuk pekerjaan Tuhan sehingg dapat memuliakanNya.

    Yesus mengajar dengan logika dan juga pengetahuan umum. Pengajaran yang masuk akal akan dapat diterima siapapun juga. Yesus melihat bahwa muridNya tahu menilai rupa bumi dan langit, tapi tidak dapat menilai zaman mereka. Mengapa? Kehidupan yang munafik tidak dapat disembunyikan di hadapan Yesus. Mereka tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tapi melakukan yang buruk.
Zaman Tuhan Yesus dan zaman sekarang apa bedanya? Bukankah kita tahu cara menilai rupa bumi dan langit bahkan dapameramal cuaca dengan tepat, hari ini hujan atau tidak. Lalu mengapa kita tidak menilai keadaan di seke- liling kita? Sebagai contohnya, sekarang ini rawan kerusuhan, mengapa pertandingan sepak bola diijinkan? Sudah menderita kerugian banyak baru sadar? "Saya minta maaf atas terjadinya kerusuhan itu." Ucapan ini keluar dari mulut Walikota Surabaya, Sunarto Sumoprawiro. Beliau akhirnya mengaku bahwa lebih baik tak usah ada pertandingan sepak bola. Ia juga mengaku dengan lapang dada, menerima keputusan babak play off, tidak akan di Surabaya. Mengapa harus menunggu menderita kerugian materi yang cukup besar baru sadar? Mengapa tidak dilakukan sejak dini? Inilah yang Yesus maksudkan dalam ayat 56, "tidak dapat menilai zaman."
Kemunafikannya tidak berubah, mereka tahu mana yang baik dan mana yang buruk, tapi mereka memilih untuk melakukan yang buruk, akibatnya banyak orang yang menderita kerugian karena kerusuhan. Mari kita mendoakan diri kita dan pemimpin bangsa agar tahu menilai zaman, tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang seharusnya tidak dilakukan.
 

Back to Top


Membedakan Mujizat

"Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas... "
( Kel. 3:8 )

Tanggal :

17 Maret 1999

Bacaan :

Kel. 3:1-9

Refleksi :

Kalau hari ini kita mengharapkan mujizat, apakah mujizat itu akan mempertumbuhkan dan memperbesar pengenalan kita akan Allah?

Doakan Bersama :

• Kasih orang Kristen yang semakin hari semakin luntur dapat kembali dibangkitkan sehingga dapat akibatnya dapat dirasakan oleh sekeliling kita.

    Mengubah pola pikir seseorang adalah pekerjaan yang maha sulit, apalagi kalau pola pikir itu terbentuk dari tumpukan pemikiran dan pengalaman yang cukup lama. Ada orang miskin tetapi tetap mau hidup mewah. Hal ini disebabkan oleh pola pikir lamanya bahwa: "Tidak ada orang bermarga X hidup miskin." Anda dapat menebak akibatnya, orang tersebut terus berhutang untuk membungkus dirinya dengan kekayaan semu. Sebaliknya kita menemui orang yang mempunyai deposito yang berlimpah tetapi sulit memberi sekelilingnya yang kelaparan dan yang hidup menurut pola pikir: "Semua itu adalah tabungan dan hasil kerja keras saya."
Hari ini banyak orang Kristen yang terikat dengan pola pikir mujizat yang tidak benar. Kalau kita salah mengerti mujizat maka yang paling fatal adalah kehidupan doa kita. Kita terus-menerus salah berdoa. Tidak benar bila kita berpikir bahwa mujizat itu adalah seperti yang kita idam-idamkan dan yang bukan sesuai dengan kehendak Tuhan.
Banyak orang Kristen yang mulai meragukan Tuhan karena mujizat pertolongan Tuhan atas Indonesia tidak kunjung datang. Apakah hakekat dan dampak seharusnya dari mujizat?
Tuhan memanggil Musa dengan cara yang ajaib (Kel. 3:2-5), tetapi segera sesudah mujizat diberikan, Tuhan memperkenalkan diriNya sebagai Allah yang berdaulat dan yang sudah berkarya dan akan terus berkarya untuk menggenapi setiap janjiNya. Maka, mujizat yang benar adalah mujizat yang mempertumbuhkan kerohanian kita lebih dari segala perbaikan kondisi jasmani kita dan kejadian ajaib tersebut semata-mata demi tercapainya rencana Allah.
 

Back to Top


Dimanakah Engkau Hai Pemimpin?

"Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?"
( Kel. 3:11 )

Tanggal :

18 Maret 1999

Bacaan :

Kel. 3:7-22

Refleksi :

Apakah Anda telah mempunyai jiwa kepemimpinan seperti yang Tuhan inginkan?

Doakan Bersama :

• Keadaan perekonomian saat ini tidak menjauhkan orang Kristen dari kehidupan ibadah mereka, tetapi membuat kita semakin dekat dan berserah padaNya.

    Kalau hari ini kemakmuran sejati diijinkan berteriak, ia akan mengatakan: "Di manakah ayahku yang bernama kepemimpinan tinggal? Aku sudah tersesat dan sangat sengsara, di manakah rumahnya? Kapankah engkau datang memeluk aku?" Kalau hari ini perpecahan dan kebiadaban boleh bicara, dia akan mengatakan: "Jangan sampai musuh kami, kepemimpinan datang, sebab dia akan menghancurkan kami."
Karena pemimpin baru maka ada kemakmuran, karena pemimpin baru maka akan ada persatuan. Adakah pemimpin yang agung pada jaman ini? Musa dipanggil Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Tugas ini maha berat karena dua sebab utama: pemimpin bangsa ini adalah oleh orang yang tidak kenal Tuhan dan Bangsa Israel adalah bangsa yang bebal. Bagaimana Tuhan mengawali panggilanNya kepada Musa?
Mari kita perhatikan beberapa hal di bawah ini: Pertama, Pemimpin yang berasal dari Tuhan menyadari keberadaannya, seperti Musa; Kedua, Tuhan sekali lagi memperkenalkan diriNya—yaitu sebagai Allah yang berdaulat dari kekal sampai kekal; Ketiga, Musa diajar untuk beriman. Di dalam janji-janji Tuhan ada 12 kali kata 'akan' (will-NIV Holy Bible) yang semuanya itu menga-jar Musa untuk beriman. Allah menyatakan diriNya sebagai yang berdaulat dan yang menggenapi rencanaNya. Dialah yang mengutus Musa untuk bertemu dengan Firaun (Kel. 3:7-10); Keempat, Musa harus mentrasfer iman yang seharusnya sudah dipelajari dari pertemuannya dengan Tuhan kepada mereka yang akan dipimpin. Pemimpin sejati mengalami dan menjalankan keempat hal di atas. Bagaimana dengan Anda?
 

Back to Top


Satu Visi Banyak Aksi

"Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum."
( Ams. 29:18 )

Tanggal :

19 Maret 1999

Bacaan :

Kej. 41:25-36

Refleksi :

Sudahkah Anda memiliki visi hidup? Jika sudah sudahkah Anda beraksi?

Doakan Bersama :

• Gerakan sosial SEMBAKO dapat dikoordinasi dengan baik sehingga program ini dapat menolong orang yang sangat membu-tuhkan.

    Visi datang apabila Allah memutuskan bahwa Anda siap menanganinya. Pada saat yang tepat, Allah akan menyatakan visi dan kemampuan Anda untuk memahami visi tersebut.
Pengalaman itu nyata dalam kepemimpinan Firaun dan Yusuf. Firaun bermimpi dua kali tapi secara hakiki keduanya sama dan satu paket. Mimpi itu berarti: akan ada kelimpahan selama 7 tahun dan kemudian akan timbul 7 tahun masa kelaparan, semuanya bila dijumlah menjadi 14 tahun. Krisisnya akan menghapus fakta berkat yang pernah diterimanya dulu.
Tragedi besar itu harus diantisipasi oleh penglihatan atau visi seorang pemimpin sejati dan hanya Yusuflah yang mampu mengungkap dan memahami mimpi itu tanpa ada rasa kuatir dan takut. Yusufpun tidak merasa panik ataupun bingung.
Kemudian Yusuf langsung bertindak. Pada masa panen tiba, Yusuf tidaklah menghambur-hamburkan berkat panen yang ada melainkan mendirikan lumbung-lumbung gandum untuk menyimpan hasil panen dan kemudian berusaha menanganinya dengan profesional. Visinya terlihat sangat jelas—yakni ingin menyelamatkan bangsa Mesir dan umat Tuhan lainnya yang juga dicintainya.
Berkat pertolongan Allah, akhirnya, proyek yang besar itu rampung digarap dan berhasil dengan sukses. Semua itu karena adanya prinsip: Satu visi banyak aksi. Kiranya pemimpin-pemimpin di gereja sekarang ini memiliki visi yang jelas dan dapat berpenampilan seperti Yusuf. Bukan hanya sekedar visi atau gagasan tapi aksi nyata. Niscaya kita pasti dapat sukses seperti Yusuf.
 

Back to Top


Mendidik Atau Mengajar?

"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu."
( Ams. 29:17 )

Tanggal :

20 Maret 1999

Bacaan :

Ul. 6:4-8

Refleksi :

Selama ini apakah yang telah Anda lakukan? Mendidik atau mengajarkan kebenaran?

Doakan Bersama :

• Orang tua mengerti cara mendidik anak mereka dengan benar sehingga anak-anak mereka boleh bertumbuh di dalam Tuhan dan mengerti kehen-dak Tuhan.

    "Mendidik atau mengajar?" Ini adalah pertanyaan yang mudah karena hanya perlu memilih salah satunya saja. Namun jawabannya yang susah! Jawaban murahan atas pertanyaan di atas berbunyi: "Kedua-duanya." Saya berani menyebutnya murahan karena jawaban tersebut bukanlah jawaban karena jawaban pertanyaan itu harus dipikirkan dahulu.
Alkitab memberikan jawaban yang lugas dan jelas. Pokok permasalahannya dimulai dengan penekanan bahwa pendidik pertama dan yang terutama adalah orang tua itu sendiri. Merekalah yang pertama-tama harus mendidik putra-putrinya akan pengetahuan tentang Tuhan yang benar dan pelajaran atau pengalaman tentang pergaulan manusia, serta kewajiban untuk mengembangkan tanggungjawab terhadap diri sendiri dan juga terhadap orang lain.
Orang tua modern yang arif dan bijaksana tidak akan berkata: "Dulu banyak anak banyak hoki, sekarang banyak anak banyak keki." ini merupakan ekspresi hati orang tua yang hilang responsibilitasnya di hadapan Tuhan, Sang Pemberi pusaka dan warisan yang tak terhingga.
Apabila orang tua Kristiani berani mendidik dan mendisiplinkan anak-anaknya dalam kerangka takut akan Tuhan, maka dijamin bahwa yang namanya ketentraman dan sukacita akan menjadi hak milik rumah tangganya.
 

Back to Top


Orang-Orang Penting

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk aku."
( Mat. 25:40 )

Tanggal :

21 Maret 1999

Bacaan :

Mat. 25:31-46

Refleksi :

Keunggulan seseorang bukan terletak pada kehebatanNya melainkan pada karakter yang luhur.

Doakan Bersama :

• Pertumbuhan kerohanian dapat nampak dalam diri setiap anak Tuhan dan keadaan ini tidak membuat mereka puas dan tinggi hati.

    Saya membaca buku "The Leadership Genius of Jesus", karangan William Beuasay II. Dalam bagian tulisannya, William membuat daftar nama orang-orang penting dalam hidupnya. Dimana orang-orang tersebut adalah orang-orang yang diteladani dan dihormatinya.
Kemudian, saya ikut mempraktekkan seperti yang dilakukan oleh William dengan mendaftar nama orang-orang penting yang juga saya hormati dalam kehidupan saya.
Ternyata ciri-ciri yang diberikan oleh William tentang orang-orang penting bagi dirinya sama dengan ciri-ciri orang penting bagi diri saya. Tiga ciri utama yang nampak jelas dari orang-orang yang dipilih. Pertama, orang-orang tersebut hampir tidak pernah memaksakan kehendaknya pada kita. Kedua, orang-orang tersebut melihat kita ini penting dan berarti bagi dirinya dan juga menunjukkan sikap kepedulian yang dalam. Ketiga, orang-orang tersebut memiliki tindakan dan gaya hidup yang menunjukkan bahwa kualitas hidupnya ada di atas kita, dan kita terdorong untuk memiliki kualitas hidup yang sedemikan rupa.
Ketika mencari orang yang mempunyai posisi pertama yang tentunya cocok dengan ciri-ciri tersebut, pikiran saya langsung tertuju pada Kristus. Dia memiliki ciri-ciri berikut: tidak pernah memaksakan diri atas orang lain, kisah hidupNya memukau dan juga berdampak kuat, serta memiliki kepedulian pada setiap orang, juga pada setiap hal. Yesus berkata: "...Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." Kita perlu bersikap demikian kepada orang lain, seperti "Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri."
 

Back to Top


Penjagaan

"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
( Ams. 4:23 )

Tanggal :

22 Maret 1999

Bacaan :

Luk. 11:14-26

Refleksi :

Dengan apakah Anda menjaga hati dan pikiran Anda?

Doakan Bersama :

• Tuhan memupuk pertumbuhan kerohanian kita dan kita semakin ingin dibentuk olehNya menurut waktu dan jalan Tuhan, walau terasa sedikit sakit.

    Hati dan pikiran manusia dapat meresap perkara supranatural. Dengan hati dan pikiran, manusia dapat menyembah dan mengagungkan Tuhan. Tetapi sebaliknya, dengan hati dan pikiran, manusia juga dapat melakukan kehendak si Iblis. Peristiwa yang terjadi di Jakarta, Kalimantan Barat dan Ambon, di mana manusia telah menyembelih sesamanya tanpa tertuduh hati nuraninya, merupakan gambaran bahwa hati dan pikiran manusia dapat dikuasai kuasa supranatural yang mendatangkan hal destruktif.
Hati dan pikiran manusia diibaratkan sebuah rumah. Jika rumah itu penuh dengan hal-hal yang tercemar, mungkin itu keserakahan, kedengkian, kebencian, penipuan, dendam, amarah atau yang lainnya maka kekuatan si iblislah yang menguasai rumah orang itu.
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa jika ruang hati dan pikiran kita ingin aman, tak dimasuki si jahat, maka hendaknya hati dan pikiran itu dijaga dengan kewaspadaan tinggi. DikatakanNya, "apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya" (ay. 21). Perlengkapan senjata rohani orang Kristen adalah kebenaran, keadilan, pemberitaan Injil, perisai iman dan terutama Firman Tuhan dan berdoa (Ef. 6:13-18). Jika perlengkapan senjata kita kuat, maka segala yang kita pikirkan, katakan dan lakukan akan sesuai dengan kehendak Allah.
Tuhan Yesus mengajar bahwa jika hati dan pikiran kita tidak diisi dengan FirrmanNya, maka roh jahat itu akan datang dengan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya. Maka keadaan orang itu akan lebih menjadi buruk dari keadaannya semula.
 

Back to Top


Milikku

"Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!"
( Yer. 45:5 )

Tanggal :

23 maret 1999

Bacaan :

Fil. 22:5-11

Refleksi :

Sudah saatnya, di tengah dunia yang semakin egosentris ini, kita menampil-kan karakter Kristus yang suka peduli kepada sesama dan kerajaanNya.

Doakan Bersama :

• Pemerintahan Indonesia di masa yang akan datang dapat lebih baik daripada yang sekarang, Tuhan yang gerakkan orang Kristen untuk berkiprah di dalamnya.

    Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, seringkali kedagingan kita masih menonjol, termasuk hak dan ambisi pribadi. Kita menjadi marah jika hak kita dirampas karena merasa bahwa apa yang seharusnya menjadi bagian kita menjadi tersita. Mungkin saja kita berkata: "Aku akan mengerjakan ini dan itu hanya karena Tuhan." Tetapi waktu kita giat bekerja untuk Tuhan, kita disakiti, dan dikritik. Namun, bila kita jujur mengakui, apa yang kita kerjakan adalah untuk kepentingan diri kita sendiri. Pelayanan sering disertai dengan ambisi yang terselubung.
Lalu, apakah orang Kristen tidak dapat hidup memiliki hak dan ambisi? Tatkala Kristus datang ke dunia, sekalipun Ia Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Bahkan dalam inkarnasiNya, Ia telah mengosongkan diriNya dan mengambil rupa seorang hamba. Kristus telah menjadi teladan bagi pengikutNya. Sebab sekalipun Kristus memiliki segalanya dan dapat melakukan apa saja, Kristus rela menyerahkan diriNya untuk menjadi korban penebusan dosa bagi manusia yang dicintaiNya.
Ketaatan Kristus menjadi teladan bagi kita yang sudah ditebus. Tatkala kita taat pada pimpinanNya, maka Allah yang akan bekerja untuk kita. Kita mengosongkan diri untuk diserahkan kepada Tuhan, termasuk hak dan ambisi yang seharusnya kita miliki. Nabi Yeremia mengatakan, "Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya! (Yer. 45:5 ). Dengan tidak mencari keuntungan atau kepentingan diri sendiri, berarti kita sedang berjuang untuk kerajaan Allah. AMIN.
 

Back to Top


Perasaan Cemburu

"Saul menjadi takut kepada Daud, karena TUHAN menyertai Daud, sedang dari pada Saul Ia telah undur"
(1 Sam. 18:12 )

Tanggal :

24 Maret 1999

Bacaan :

1 Sam. 18:6-30

Refleksi :

Bagaimanakah perasaan Anda ketika melihat orang lain lebih populer? Adakah Anda dapat mengendalikan atau menguasai perasaan tersebut?

Doakan Bersama :

• Berterimakasih atas anugerah keselamatan yang diberikan secara gratis untuk kita, dan kita berdoa supaya kita berani untuk mengabarkan hal ini pada orang lain.

    Perasaan cemburu merupakan suatu hal yang sangat umum terjadi pada semua orang. Perasaan cemburu adalah bagian dari perkembangan kejiwaan seseorang sebagai proses pembentukan emosi. Disinilah kita terpanggil untuk mulai belajar memahami perasaan kita sendiri dan juga dapat mengendalikannya secara efektif.
Yang perlu kita sadari ialah bahwa perasaan seperti itu bukanlah dosa. Namun yang perlu kita waspadai ialah apa yang kita lakukan terhadap perasaan tersebut. Apabila kita membiarkan perasaan cemburu tersebut untuk tetap tinggal dan menguasai kita, maka dengan segera akan membuahkan perbuatan dosa. "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut" (Yak. 1:14-15). Kenyataan inilah yang juga dialami oleh raja Saul ketika ia melihat bahwa popularitas Daud, yang berada di tengah-tengah bangsa Israel, ternyata melebihi dirinya. Lalu Saul memandang semuanya itu sebagai suatu ancaman bagi kelangsungan tahta kerajaannya (ay. 8).
Dari perasaan cemburu inilah dalam diri Saul timbul perasaan marah (ay. 8), kemudian dengki (ay. 9) dan akhirnya rasa takut (ay. 12). Akibatnya dari semua hal ini, Saul dituntun oleh perasaan cemburunya itu untuk melakukan per-buatan yang tidak masuk akal, yakni mencoba membunuh Daud dengan tombak ketika sedang bermain kecapi. Disinilah letak kesalahan Saul yang membiarkan perasaan cemburunya itu menguasai dirinya.
 

Back to Top


Persahabatan Sejati

"Tentang hal yang kita janjikan itu, antara aku dan engkau, sesungguhnya, TUHAN ada di antara aku dan engkau sampai selama-lamanya."
( 1 Sam. 20:23 ).

Tanggal :

25 Maret 1999

Bacaan :

1 Sam. 20:1-43

Refleksi :

Apakah kerukunan dan persahaban juga tercipta di tengah-tengah keluarga dan gereja kita? Dengan dasar apakah Anda membangun persahabatan
Anda selama ini?

Doakan Bersama :

• Orang-orang yang terbaring di rumah sakit, Tuhan sembuh-kan dan hibur mereka sehingga mereka beroleh ketabahan hati.

    Adanya perbedaan status sosial dalam kehidupan tidaklah harus menjadi kendala bagi seseorang untuk menjalin ikatan persahabatan yang sejati. Kisah persahabatan antara Daud dan Yonathan adalah merupakan salah satu dari sekian banyak contoh tentang adanya persahabatan yang sejati itu.
Walaupun mereka berasal dari latar bela-kang kehidupan sosial yang sangat berbeda sekali, di mana Daud adalah seorang gembala sedangkan Yonathan adalah seorang pangeran, namun mereka saling menemukan persamaan yang membuat mereka saling dapat menemukan persamaan-persamaan yang membuat persaha-batan mereka menjadi unik sifatnya. Dalam 1 Sam. 18:1, kita membaca: "Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonathan dengan jiwa Daud." Kata 'berpadu' dalam ayat ini secara harafiah berarti 'terikat'. Artinya, jiwa Yonathan terikat dengan jiwa Daud. Mereka terikat satu dengan yang lain dalam hubungan dan kesatuan yang tidak dapat terpisahkan.
Mereka menjadi satu jiwa dalam hati (kehendak) dan pemikiran. Daud dan Yonathan adalah "saudara sejiwa" dalam arti yang sebenarnya. Dan ketika jiwa mereka terikat menjadi satu, maka ikatan hubungan yang terjadi bukanlah sekedar ikatan hubungan biasa antar sesama manusia. Hubungan tersebut juga melibatkan Allah sebagai pusat (ay. 12-17). Mereka berdua adalah orang yang berkenan di hati Allah, masing-masing memiliki hubungan yang dinamis dengan Allah. Dengan dasar hubungan mereka dengan Allah inilah, maka Daud dan Yonathan membangun ikatan persahabatan sejati yang tidak akan terpisahkan itu.
 

Back to Top


Dia Tak Meninggalkan Umatnya
"Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel - para pembaca hendaklah memperhatikannya."
( Mat. 24:15 )

Tanggal :

26 Maret 1999

Bacaan :

Mat. 24:15-22; Mark. 13:14-20; Luk. 21:20-24.

Refleksi :

Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNya. AMIEN.

Doakan Bersama :

• Siwa-siswi kelas VI SD dan kelas III SLTP/SMU yang akan menghadapi EBTANAS. Mereka membagi waktu belajar dengan baik dan dapat mengerja-kan dengan jujur.

    Dalam bagian ini kita diberitahukan satu pribadi yang disebut sebagai "Pembinasa keji". Yesus berkata, "Jika kalian melihat dia maka kalian harus melarikan diri, sebab akan ada penganiayaan seperti yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah manusia dan tidak akan ada lagi." Yesus berkata sesungguhnya hari-hari penderitaan itu akan diperpendek demi umat pilihan Allah.
Banyak penafsiran tentang Pembinasa keji itu. Hal itu mempunyai arti khusus dalam sejarah. Ia dapat juga dilihat sebagai usaha sengaja untuk mencemooh dan menolak realitas kehadiran Allah. Pembinasa keji itu menodai bait Allah. Hal ini sudah terjadi berkali-kali. Tahun 597 sM, Nebukadnezar merampok bait Allah dan mem-bawa tawanan-tawanan (2 Taw. 36). Tahun 168 sM, Antiokhus Epifanes mempersembahkan babi kepada Zeus di altar bait Allah (Dan. 9:27; 11:30-31). Tahun 70 M, peristiwa penghancuran Yerusalem, ketika Jenderal Titus menempatkan sebuah patung barhala di lokasi bait Allah yang terbakar habis. Beberapa tahun setelah Yesus memberikan peringatan itu, Kaisar Kaligula salah seorang kaisar Romawi yang paling kejam merencanakan menempatkan patung dirinya di dalam bait Allah. Namun ia mati sebelum niatnya terlaksana.
Kalau kita mengingat peristiwa pelecehan atau penajisan gereja oleh orang-orang yang membenci Yesus dan pengukutnya, dapatkah peristiwa itu kita kategorikan sebagai "Pembinasa keji" seperti yang Yesus katakan?
Dia mengendalikan dan tidak melupakan umatNya. Itulah hal utama mengenai masa depan kita agar kita termotivasi untuk hidup benar.
 

Back to Top


Tandanya Apa?
"Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa ... Akan ada kelaparan dan gempa bumi di bebagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang jaman baru."
( Mat. 24:7-8 )

Tanggal :

27 Maret 1999

Bacaan :

Mat. 24:4-14; Mark. 13:5-13;
Luk. 21:8-19.

Refleksi :

Kembali kita diminta untuk merenungkan yang menjadi refleksi kita kemarin.

Doakan Bersama :

• Para penulis buku ini diberikan hikmat supaya tulisan-tulisan mereka tentang Firman Tuhan dapat membantu pertumbuhan kerohanian para pembacanya.

    Sebenarnya Yesuspun memberikan tanda-tanda kedatanganNya. Artinya, kedatanganNya dapat diprediksi secara rohani dengan berbagai peristiwa yang mendahuluinya.
Tetapi Yesus mengatakan "ekstra hati-hati", sebab kataNya banyak orang yang akan mengaku bahwa mereka adalah Mesias, tetapi sebenarnya penyesat. Bangsa-bangsa akan saling berperang, gempa dan bencana secara global (sekarang masih partial). Itu hanya menandakan permulaan penderitaan menjelang jaman baru. Jangan percaya kalau akhir jaman sudah tiba! Itu baru permulaan penderitaan! Tetapi tetaplah waspada (24:6-7). Karena apa?
Yesus meramalkan bahwa saat itu pengikutNya akan mengalami penganiayaan berat oleh mereka yang membenci kekristenan, namun di tengah-tengah penganiayaan mereka akan mempunyai pengharapan karena mengetahui bahwa keselamatan sudah menjadi milik mereka. Bahkan Injil akan terus diberitakan kepada semua orang (ay. 14).
Apa saja tanda akhir jaman? Di setiap generasi sejak kebangkitan Yesus, ada saja yang mengklaim bahwa mereka tahu kapan Yesus akan kembali. Menurut Alkitab, tanda yang jelas mengenai kedatanganNya ialah ketika Yesus muncul di dalam awan dan dapat dilihat semua orang (Mark. 13:26 dan Wah. 1:7). Kalau Yesus kembali, Anda akan tahu dengan pasti, karena kejadian itu adalah nyata adanya. Berhati-hatilah terhadap kelompok yang mempunyai pengetahuan akan hari-hari terakhir ini. Namun yang terutama adalah berani sepenuhnya serta mempersiapkan hati dan hidup kita untuk kedatangan Kristus kembali.
 

Back to Top


Siap Sedialah

"Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan anakpun tidak, hanya Bapa sendiri."
( Mat. 24:36 )

Tanggal :

28 Maret 1999

Bacaan :

Mat. 24:4-14; Mark. 13:5-13;
Luk. 21:8-19.

Refleksi :

Kita tidak perlu mencari tahu kapan Yesus akan datang kedua kali sebagai hakim (Mat. 24:36). Tapi bersiaplah karena Ia pasti datang.

Doakan Bersama :

• Sekolah teologia yang tersebar di seluruh penjuru dunia mengajar-kan kebenaran Firman Tuhan yang sejati sehingga mampu memimpin orang Kristen awam lainnya.

    Ketika Yesus meninggalkan bait Allah, seorang di antara muridNya mengatakan, "Guru, megah sekali bangunan-bangunan itu," sambil menunjuk ke arah bait Allah. Yesus tidak menyangkali keindahan bangunan itu, tetapi Ia berkata sesuatu yang mengagetkan, "Sebab tidak satupun dari batu-batu itu yang akan tetap tersusun di atas yang lainnya, semuanya akan menjadi puing-puing."
Kelihatannya para murid ingin tahu kapan hal yang dikatakan itu terjadi. Dalam Injil Markus dikatakan bahwa yang bertanya lebih lanjut adalah Petrus, Yakobus, Yohanes dan Andreas. Mereka bertanya ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun yang langsung berhadapan dengan bait Allah. Bukit Zaitun terdapat di sebelah Timur Yerusalem. Dari lerengnya orang dapat melihat kota Yerusalem dan bait Allah yang megah itu. Yesus memberikan gambaran yang bersifat nubuatan, kejadian-kejadian yang akan menda-hului peristiwa itu, juga tentang kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kedatangan Tuhan kembali.
Yesus memberikan nubuatanNya, walau tak kronologis. Yesus mengingatkan pengikutNya mengenai masa depan, supaya mereka belajar bagaimana hidup di saat sekarang. Banyak nubuatan dalam perikop ini belum digenapi. Kita hanya diminta untuk tetap siaga dan siap sedia secara rohani.
Perubahan-perubahan apa yang akan Anda lakukan, seandainya Anda tahu bahwa Yesus akan segera kembali? Tentunya perubahan dari sikap, perbuatan, perkataan, kebiasaan, dan hati kita yang jahat menjadi lebih baik. Mari kita melakukannya.
 

Back to Top


Menantikan Penyataan Kristus

"Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus."
( 1 Kor. 1:7 )

Tanggal :

29 Maret 1999

Bacaan :

1 Kor. 1:4-9

Refleksi :

Tuhan selalu menepati janjiNya, bersediakah kita menunggu waktu penggenapanNya?

Doakan Bersama :

• Etos kerja pekerja Kristen dapat dipertang-gungjawabkan sehingga dapat menjadi teladan serta panutan bagi pekerja yang lainnya.

    Ketika Yesus meninggalkan bait Allah, seorang di antara muridNya mengatakan, "Guru, megah sekali bangunan-bangunan itu," sambil menunjuk ke arah bait Allah. Yesus tidak menyangkali keindahan bangunan itu, tetapi Ia berkata sesuatu yang mengagetkan, "Sebab tidak satupun dari batu-batu itu yang akan tetap tersusun di atas yang lainnya, semuanya akan menjadi puing-puing."
Kelihatannya para murid ingin tahu kapan hal yang dikatakan itu terjadi. Dalam Injil Markus dikatakan bahwa yang bertanya lebih lanjut adalah Petrus, Yakobus, Yohanes dan Andreas. Mereka bertanya ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun yang langsung berhadapan dengan bait Allah. Bukit Zaitun terdapat di sebelah Timur Yerusalem. Dari lerengnya orang dapat melihat kota Yerusalem dan bait Allah yang megah itu. Yesus memberikan gambaran yang bersifat nubuatan, kejadian-kejadian yang akan mendahului peristiwa itu, juga tentang kejadian-kejadian yang berhubungan dengan kedatangan Tuhan kembali.
Yesus memberikan nubuatanNya, walau tak kronologis. Yesus mengingatkan pengikutNya mengenai masa depan, supaya mereka belajar bagaimana hidup di saat sekarang. Banyak nubuatan dalam perikop ini belum digenapi. Kita hanya diminta untuk tetap siaga dan siap sedia secara rohani.
Perubahan-perubahan apa yang akan Anda lakukan, seandainya Anda tahu bahwa Yesus akan segera kembali? Tentunya perubahan dari sikap, perbuatan, perkataan, kebiasaan, dan hati kita yang jahat menjadi lebih baik. Mari kita melakukannya.
 

Back to Top


Bersykur Di Tengah Kesukaran

"Oleh sebab itu aku memuji kesukaan, karena tak ada kebahagiaan lain bagi manusia di bawah matahari, kecuali makan dan minum dan bersukaria....yang diberikan Allah."
( Pkh. 8:15 )

Tanggal :

30 Maret 1999

Bacaan :

Pkh. 8:14-15

Refleksi :

Ketidakadilan bisa membuat kita murung atas hidup ini, namun ingatlah, masih banyak berkatNya yang patut kita syukuri.

Doakan Bersama :

• Ibadah-ibadah dan persekutuan di gereja-gereja, penjara, dan rumah sakit agar senantiasa memberitakan Tuhan dan kebenaran, serta berkatNya bagi orang yang mencari Dia.

    Bagi orang Kristen yang mencintai kebenaran dan keadilan, melihat atau mengalami ketidakadilan serasa menyesakkan dada. Lebih menyesakkan lagi jika melihat dunia ini nampak "terbalik," taitu kala berkat berada di pihak orang fasik yang mencintai suka kejahatan, sedangkan "kutuk" turun atas orang yang hidup benar.
Dalam dunia riil, secara jujur patut diakui bahwa peristiwa yang tidak sesuai hukum: "orang benar akan diberkati dan orang fasik pasti diganjar", nampaknya lebih sering terjadi daripada yang sesuai dengan hukum tersebut. Ada orang yang beroleh harta berlimpah dengan cara manipulasi, kemudian berjaya dan keluarganya baik-baik saja. Ada pula yang menghalalkan segala cara demi meraih ambisi egosentrisnya dan tampak tetap sukses. Sebaliknya, ada orang-orang yang bersungguh-sungguh menaati Firman tapi bisnisnya biasa-biasa saja, tidak populer, bahkan mungkin nampak seperti orang terkena "kutuk." Jika realita ini tampil dalam kehidupan orang lain, tidak menjadi masalah untuk kita. Namun jika hal itu terwujud dalam hidup kita, kemungkinan besar kita menjadi murung dan pesimis.
Dalam menghadapi situasi yang sedemikian, Pengkhotbah memberikan kita resep, yaitu agar kita membuka mata terhadap realita ini dan belajar menerimanya. Menerima keadaan hidup kita sebagaimana yang diijinkan Tuhan dan tetap mengucap syukur atas berkat-berkatNya dalam hidup kita. Pengkhotbah menyikapinya dengan menikmati kebahagiaan "makan dan minum dan bersukaria." Ia menyadari bahwa hal-hal buruk, termasuk di dalamnya ketidakadilan, tetap di bawah kontrol Allah.
 

Back to Top


Ketidakmampuan Manusia

"maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari..."
( Pkh. 8:17 )

Tanggal :

31 Maret 1999

Bacaan :

Pkh. 8:16-18

Refleksi :

Selama berada di bawah matahari, memang kita memerlukan pengetahuan. Namun pengetahuan kita itu sangat terbatas.

Doakan Bersama :

• Mengucap syukur untuk semua berkat yang Tuhan telah berikan kepada kita secara cuma-cuma, baik itu keluarga, kehidupan, atau karya kesela-matan Tuhan.

    Tidak jarang kekristenan bukannya menjadi garam dan terang bagi dunia, melainkan ikut-ikutan pola dunia ini. Salah satu pola dunia yang merasuk ke dalam kekristenan secara mencolok saat ini adalah kegandrungan pada gelar akademis. Gelar-gelar akademis menjadi semacam simbol legitimasi kerohanian dan kemampuan seorang aktivis, pengurus atau majelis, dan hamba Tuhan. Gelar kesarjanaan secara implisit menjadi cap legitimasi bahwa orang Kristen tersebut berhikmat atau mengetahui segala kehendak Allah. Pendidikan yang tinggi memang diperlukan untuk beberapa hal, namun persoalannya, apakah gelar yang tinggi secara otomatis menunjukkan bahwa seseorang itu berhikmat? Dapat menyelami segala pekerjaan Allah di dunia ini?
Di dalam Alkitab, makna "berhikmat" tidak berarti memiliki sejumlah pengetahuan akademis, mengetahui segala perkara yang terjadi ada di sekeliling kita, atau mampu mengetahui segala alasan mengapa Allah mengerjakan suatu hal khusus. Berhikmat berarti memiliki pandangan yang jernih dan realistis atas kehidupan ini sebagaimana adanya dan dapat memberi respon yang tepat.
Pengkhotbah menunjukkan keterbatasan pengetahuan kita untuk memahami banyak perkara di dunia ini. Usaha kita untuk mengetahui semua perbuatan Allah melalui usaha keras dan usaha yang tak putus harap akan berakhir pada kegagalan. Mengapa? Karena pengetahuan kita memang terbatas. Inilah realita yang terasa pahit bagi kecongkakan kita tapi sekaligus merupakan fakta yang patut diterima agar kita belajar bersandar padaNya.
 


Back to Top

Webmaster