Oktober 1998
Prakata

Bonus

 Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
1 2 3 4
5 6

7

8

9

10

11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31

Webmaster

Prakata

UKURANNYA BUKAN KEBERHASILAN

Betapa sering pekerjaan hanya diukur dari hasilnya. Seringkali hasil itu bahkan dipersempit lagi dalam bentuk angka-angka.
Tuhan Yesus mempunyai ukuran lain dalam menilai suatu pekerjaan. Untuk maksud itu Ia bercerita tentang tiga orang pegawai yang diberi modal oleh majikannya untuk dikelola dan dikembangkan "masing-masing menurut kesanggupannya". Pegawai pertama mendapat lima talenta, lalu ia mengembangkan modal itu sehingga memperoleh laba sebanyak lima talenta. Pegawai kedua mendapat modal dua talenta dan berhasil meraih laba dua talenta. Pegawai ketiga mendapat satu talenta, namun modal itu tidak dikembangkan sehingga tidak menghasilkan apa-apa. Kemudian hari majikan itu meminta pertanggungjawaban. Majikan itu memuji pegawai pertama dan kedua, katanya, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar." Tetapi pegawai ketiga dimarahinya, "Hai kamu, hamba yang jahat dan malas..."
Pokok bahasan cerita ini bukanlah tentang jumlah talenta, melainkan tentang bagaimana sikap para hamba dalam mengelola talenta. Sikap yang dipuji adalah sikap setia terhadap tugas, yaitu bijaksana dalam mengatur tugas, bertanggung jawab terhadap tugas, rajin dalam menjalankan tugas, waspada dalam melaksanakan tugas, rela berlelah dalam menyelesaikan tugas. Sebaliknya sikap yang dicela adalah sikap kerja yang asal-asalan, yang dilakukan dengan setengah hati, yang kurang kesungguhan, yang tidak berencana, yang kurang dipersiapkan, yang kurang cermat, yang berhenti di tengah jalan.
Ukuran pelayanan bukanlah hasil, melainkan kesetiaan, ketekunan, kesungguhan, kegembiran, kerelaan, dan kejujuran kita dalam melayani.
Tuhan tersenyum puas bukan ketika kita melaporkan hasil, melainkan juga sebelum itu, yakni ketika Ia melihat kita melayani dengan tekun dan setia. Setia dalam perkara yang kecil sekalipun.
(Selamat Melayani Tuhan, Dr. Andar Ismail)

Bonus

 

Kuasa Untuk Memberi:
Sikap Kristen Terhadap Orang Miskin

Oleh : Pdt. Joseph Tong Ph.D. *)
Disadur oleh: Ev. Gunung Maston Hutauruk S.Th.

*) Penulis mendapatkan Master Teologi dalam bidang Sistimatika di Calvin Theological Seminary, dan Doktor Filosophy dalam bidang psikologi di Southern California University. Saat ini penulis melayani sebagai Rektor di International Theological Seminary, dan sebagai majelis di sebuah gereja di Los Angeles, USA. Judul asli artikel di atas adalah ON THE POWER TO GIVE: Christian Concern for the Poor. Artikel ini adalah salah satu artikel yangterdapat di dalam diktat beliau yang tidak diterbitkan yang berjudul THE TRIUMPH OF SOVEREIGN GRACE.

 

Saat ini Indonesia berada dalam situasi yang serba sulit. Semua bidang kehidupan di negara ini mengalami degradasi atau kemunduran. Salah satu yang sangat kasat dimata kita adalah mengenai harga-harga SEMBAKO yang melangit tak terkendali. Bila kita melihat hal ini apa yang kita lakukan sebagai orang Kristen. Menurut berita di koran-koran dan di media elektronik lainnya, sudah banyak anak-anak kecil dan bayi-bayi yang kekurangan gizi, karena orang tua mereka tidak mampu lagi membeli kebutuhan itu. PHK-pun terjadi di banyak tempat yang mengakibatkan Indonesia bukan lagi masuk dalam kategori negara berkembang, tetapi negara miskin. Belum lagi konflik politik yang berkepanjangan di negara kita. Mau kemanakah Indonesia ini? Mungkin itu pertanyaan kita semua.
Tetapi lepas dari bicara politik kita mau bicara mengenai kemurahan hati. Apakah orang Kristen layak bermurah hati di tengah-tengah situasi ini, di mana kitapun turut merasa sulit. Dengan dasar apakah kita bermurah hati kepada orang lain. Kalau kita dikatakan sebagai orang-orang beruntung, apa dasar kita memberi kepada mereka yang kurang beruntung, yang sedang di dalam kemiskinan dan kemelaratan akibat krisis ini? Dan mungkin banyak lagi pertanyaan di benak kita, tetapi penyadur berharap biarlah artikel singkat ini bisa mencerahkan hati dan pikiran kita, sehingga kita bisa memberi kepada orang lain.
Ada dua aspek yang selalu penting yang harus diperhatikan dalam sikap memberi cara Kristiani, yaitu kemampuan untuk memberi dan kuasa untuk memberi. Untuk memberi, maka seseorang harus memiliki sesuatu untuk diberi. Sudah tentu, apa yang dimilikinya menyanggupkan dia untuk memberi, tentu dia juga harus memiliki hasrat dan maksud yang baik untuk memberi.
Dalam beberapa badan yang khusus bergerak dalam bidang penggalangan dana (fund raiser), maka untuk memotivasi seseorang memberikan sumbangan secara sukarela, mereka terlebih dahulu perlu membangkitkan hasrat mereka untuk memberi, atau dalam istilah psikologis disebut membangkitkan need succorant seseorang (satu kekuatan untuk menolong orang lain yang berasal dari dalam — batin — yang tidak bisa dibendung). Seseorang yang telah dikuasai oleh perasaan simpati, pasti akan memberi, bahkan memberi lebih dari yang dia miliki. Pada saat seseorang berada di bawah pengaruh, baik itu yang bersifat empati atau perasaan kepedulian manusiawinya yang kuat, ataupun dengan menghadapkan seseorang dengan keadaan yang sulit, maka seseorang itu pasti akan membuka hatinya, dan bersamaan dengan hatinya, tentu dompetnya. Prosedur seperti ini sangat normal dalam praktek penggalangan. Praktek seperti ini secara sempurna dapat diterima oleh kalangan aktivis penggalang dana. Sekarang, bagaimana pandangan kekristenan mengenai memberi? Atau lebih konkretnya, atas dasar apa kita meminta orang, khususnya umat Tuhan, untuk memberi. Adakah sesuatu yang berbeda dari yang dipraktekkan oleh lembaga bantuan dana di atas, sehingga kita perlu memelihara perbedaan itu dalam mencapai tujuan yang kita harapkan? Saya percaya hal ini layak mendapat perhatian kita secara hati-hati.
Secara Alkitabiah, kita memberi karena kita sendiri pertama kali telah menerima. Allah sebagai sumber segala berkat pada kali pertama telah memberikan AnakNya, dan bersamaan dengan itu, Ia dengan anugerahnya mengaruniakan segala sesuatu kepada kita (Roma 8:32). Memberi itu bersifat ilahi, tetapi menerima itu (secara kristiani) tidaklah selalu manusiawi (commonly human). Mengambil adalah manusiawi. Hanya seorang yang telah memahami bahwa ia dipanggil untuk beriman kepada Kristus hanyalah anugrah, orang yang seperti itulah yang tahu apa itu menerima bukan mengambil. Untuk menerima, maka seseorang harus mengetahui keadaan keinginannya (the state of want) dan kebutuhannya yang terdalam (desperate need), dan oleh karena semua itu, ia akan mengakui anugrah dan kemurahan dari si Pemberi. Saat Yohanes mengatakan, "Semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah." Artinya adalah bahwa seseorang yang telah menerimaNya memiliki kuasa untuk menjadi anak-anak Allah dalam konteks anugerah. Dengan pemahaman yang demikian, menerima anugerah Allah adalah menerima kuasa untuk menjadi apa yang Tuhan inginkan kita menjadi: yaitu anak-anak Allah.
Dalam konteks ini, coba perhatikan dengan lebih seksama dalam interaksi kita dengan tetangga-tetangga kita, khususnya mereka yang disebut sebagai orang yang kurang beruntung dan yang menderita dalam kemiskinan. Saya yakin bahwa kita harus membedakan kuasa untuk memberi (the power to give) dengan kemampuan untuk memberi (the ability to give). Kemampuan untuk memberi adalah lebih bergantung pada sumber yang dimiliki oleh seseorang. Seseorang dapat memberi karena ia memiliki sesuatu untuk diberikan. Ia telah memiliki sesuatu yang pasti untuk diberikan, maka ia memberi. Ia tidak dapat memberi jika ia tidak memiliki sesuatu untuk diberi. Jika ia miskin, tidak ada seorangpun yang mempersalahkannya, karena tidak seorangpun yang mengharapkan sesuatu dari dia. Aturannya adalah bahwa seorang miskin tidak akan pernah meminta sedekah dari orang miskin.
Kekristenan punya aturan yang berbeda. Mereka memahami aspek hakiki yang lain dalam memberi, yaitu kuasa memberi. Memberi secara Kristiani berarti kita ikut mengambil bagian dalam karya kebajikan Allah (in His benevolent providence). Seperti orang-orang Kristen di Makedonia, ditengah-tengah kemiskinan yang mereka alami, sukacita mereka dalam memberi berkelimpahan (2 Kor. 8:1). Mereka menyadari bahwa Allahlah yang telah pertama kali memberi mereka anugerah, dan itu merupakan alasan yang cukup bagi mereka untuk memberi. Di dalam iman kita telah menerima, dan di dalam menerima itu, kita sedang dijadikan Allah sebagai alatNya untuk menjadi anak-anak Allah di dalam dunia ini. Dalam memberi, kita berbuat sebagai anak Allah, kita tidak memberikan apa yang kita miliki, tetap apa yang telah Allah berikan kepada kita, yaitu yang telah menjadikan kita sebagai anak Allah. Kita berbuat baik adalah atas nama Allah dan sikap itu untuk menyalurkan anugerah dan kebaikan-kebaikanNya kepada orang lain. Untuk berbuat seperti itu, kita tidak membutuhkan yang lain kecuali kuasa Alah, yaitu kuasa untuk memberi. Hal ini membuat si penerima juga dimampukan oleh anugerahNya untuk menjadi seorang pemberi, tidak hanya sebagai penerima.
Inilah perbedaan yang hakiki antara cara memberi Kristiani dengan cara memberi biasa karena belas kasihan semata (philanthropic giving). Kemurahan hati yang biasa nampak dalam kehidupan sosial (social charity), biasanya berlaku dalam hubungan antara orang kaya dan orang miskin. Dalam interaksi seperti itu, pihak dermawan berlaku tanpa direncanakan/tanpa disengaja atau kadangkala di sengaja, mengabadikan perbedaan antara starata sosial yang tidak adil dan praktek dari diskriminasi. Kalau demikian, pemberian tidak lagi sesuatu yang murni, tetapi telah tercemar. Ketidak adilan dan kekeliruan yang terjadi semala ini hanya diabaikan dari waktu ke waktu. Kita melakukan pekerjaan yang baik, tetapi mungkin saja kita masih jauh dari melakukan hal yang benar.
Hanya saat seorang memahami kuasa memberi dalam konteks Kristen, dan yang sadar bahwa memberi adalah satu perbuatan dari kuasa untuk memberi (the power to give), maka ia dapat melihat bahwa pemberiannya tidak berhubungan dengan kemampuannya dalam memberi (the ability to give). Dengan memandang kepada Allah, maka ia akan selalu melihat kepada apa yang telah diterimanya sebagai akhir dari pemberianNya: di sana berdiri tetang-ganya yang sama dengan dia, sebagai gambar Allah. Adalah karena anugerah Allah dan karena pemeliharaanNya, tetangganya ditempatkan dihadapannya agar ia dapat mempraktekkan kuasanya untuk memberi. Dalam pada itu, ia dapat memberdayakan di dalam dirinya kuasa Allah untuk menjadikan tetangganya sebagai anak Allah. Menjadikannya sebagai seorang yang terhormat dari pada menjadi seorang miskin yang melarat dan menyedihkan. Dengan kuasa memberi, ia akan memberi. Dalam konteks yang demikian, memberi tidak lagi sekadar kebaikan manusiawi (humanitarian act), tetapi sebagai mandat Allah yang akan membuat si penerima itu akan melihat kepada Bapa segala terang, dari siapa berasal segala karunia yang sempurna dan yang baik (Yak.1:16). Dengan melakukan semua itu kita telah mempraktekkan anugerah kita yang khusus: kuasa untuk memberi.

Back to Top


Melihat Allah

"Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisa berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel."
( Mat. 15:29-31 )

Tanggal :

1 Oktober 1998

Bacaan :

Mat. 15:29-31

Refleksi :

Bisakah kita melihat Tuhan dibalik semua keajaiban hidup ini? Bisa, kalau hati kita suci.

Doakan Bersama :

• Kesulitan-kesulitan yang kita hadapi tetap membuat kita melihat kasih Tuhan dan tetap membagikan kasihNya kepada orang lain.

    Perikop ini dimulai "Yesus menyusur pantai danau Galilea." Daerah yang sedang dimasuki oleh Tuhan Yesus bukanlah daerah orang Yahudi, tetapi daerah orang kafir. Berarti pada waktu itu Yesus sedang konsentrasi terhadap pelayanan orang kafir. Artinya, perhatian Yesus terhadap orang kafir tidaklah serendah seperti yang Dia katakan sendiri untuk menguji iman wanita Kanaan itu (ingat Perspektif, 20, 21 Sept '98).
Yang menjadi perhatian kita dalam bagian ini adalah bahwa dalam perikop ini Matius masih ingin mengajak pembaca untuk membandingkan respon yang diberikan oleh orang Yahudi dengan respon oleh orang kafir terhadap tanda-tanda yang Tuhan Yesus nyatakan. Pada bagian akhir ayat 31 dikatakan orang-orang itu "memuliakan Allah Israel".
Saudara, mereka bukanlah orang yang biasa pergi ke rumah ibadah. Mereka bukanlah orang yang mengenal siapa Allah Israel. Tetapi, perhatikan keterbukaan hati mereka terhadap berita kesukaan. Mereka akhirnya bisa melihat Allah dibelakang semua karya Tuhan Yesus. Itu yang membuat mereka memuliakan Allah Israel.
Yesus berkata dalam Mat. 5:8, orang yang suci hatinyalah yang bisa melihat Allah. Itulah yang terjadi dengan orang kafir itu. Sementara telah berkali-kali Tuhan Yesus berkarya di tengah-tengah bangsa Israel, namun mereka tidak pernah melihat bahwa Allahlah yang berada dibalik semua karya Tuhan Yesus. Mengapa mereka tidak bisa melihat hal itu? Yesus katakan, karena hati mereka tidak suci, penuh dengan kemunafikan dan iri hati.
 

Back to Top


Belas Kasihan

"HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan."
( Mat. 15:32 )

Tanggal :

2 Oktober 1998

Bacaan :

Mat. 15:32-39

Refleksi :

Sudahkah hati kita tergerak oleh belas kasihan melihat orang-orang yang menderita, terlebih di tengah-tengah bangsa dan masyarakat kita yang sudah jatuh miskin?

Doakan Bersama :

• Keadaan hukum di Indonesia dapat ditegakkan dan aparat penegak hukum diberi kekuatan untuk tidak melakukan perbuatan tercela tetapi dengan berani menyatakan kebenaran.

    Peristiwa memberi makan sebanyak ribuan orang dua kali dicatat di dalam kitab Matius. Sebelumnya terdapat dalam Mat. 14:13-21. Namun, ada perbedaan yang mencolok antara keduanya, yaitu kepada siapa mujizat itu dilakukan. Kalau sebelumnya Yesus mengadakan mujizat pada orang Israel, namun kali ini Yesus mengadakan mujizat di antara orang-orang kafir di daerah pantai Galilea (ay. 29).
Apa yang penting? Matius ingin menunjukkan bahwa anugerah yang diberikan kepada bangsa Israel oleh Sang Mesias mereka, juga diberikan kepada orang-orang di luar umat Israel. Ini adalah satu manifesto, satu deklarasi awal bagi murid-muridNya bahwa misi ke luar Israel sudah di mulai. Kasih yang dibawa Yesus tidak sebatas asal keturunanNya, tetapi juga menjangkau bangsa-bangsa.
Ada hal yang menarik kalau kita membandingkan cara Yesus memandang masalah dengan cara murid-muridNya. Yesus berkata, "hatiKu tergerak oleh belas kasihan." Kasih itu adalah pertimbangan Yesus saat menghadapi pergumulan orang lain. Kasih yang mencari. Kasih yang ingin melihat segalanya menjadi baik.
Namun, berbeda dengan para murid, pertimbangan mereka yang pertama dalam menolong orang lain adalah resiko. "Mana mungkin ada roti sebanyak itu ditempat sunyi ini?" , "Betapa repotnya kita harus memikirkan orang-orang banyak ini?; atau "mereka 'kan orang kafir, bagaimana penilaian bangsa kita bila kita berbuat baik bagi mereka?" Atau mungkin banyak pertimbangan yang lain. Kalau kita ditanya, pertimbangan mana yang ada pada kita?
 

Back to Top


Kalau Saja Kita Komit...

"Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh."
( Mat. 15:37 )

Tanggal :

3 Oktober 1998

Bacaan :

Mat. 15:32-39
(Lanjutan)

Refleksi :

Sebelum kita menuntut Allah berkarya dalam hidup kita, mari kita memeriksa komitmen, ketulusan dan keseriusan hati kita dalam mengikuti jalanNya.

Doakan Bersama :

• Aparat keamaman agar diberi keberanian, kekuatan, hikmat, dan kebijaksanaan di dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk mengamankan segenap rakyat Indonesia.

    Apa akibat pertimbangan belas kasihan yang Tuhan Yesus nyatakan dalam perikop ini? Luar biasa, mereka bukan hanya makan sampai kenyang, tetapi lebih dari itu, mereka bahkan mengumpulkan kelebihan makanan sampai tujuh bakul penuh.
Bagi Allah bukan masalah berapa ikan dan roti yang dipersembahkan kepadaNya bagi orang banyak (sama halnya seperti yang terjadi waktu Ia memberi makan lima ribu orang), tetapi yang dilihat Allah adalah hati pemberian itu. Dengan hati yang rela memberi, hati yang tulus, hati yang penuh belas kasihan, Allah bisa berkarya dengan leluasa. Tetapi dengan hati yang munafik, pura-pura, penakut, Allah tidak mau berkarya. Bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena hati yang seperti itu tidak selaras dengan hati Allah.
Spirit yang dimiliki oleh perikop ini sama dengan spirit yang dialami oleh Daniel saat dia bersama ketiga temannya komit untuk tidak memakan makanan dari meja raja (Dan.1:8). Daniel dan teman-temannya minta agar mereka diberi makan sayur ganti makanan dari meja raja. Bahkan mereka minta diuji siapakah yang lebih sehat, gemuk dan pintar, Daniel atau mereka yang makan dari meja raja. Setelah diuji apa yang terjadi? Daniel dan temannya yang makan sayur lebih gemuk dan lebih pintar dari pada mereka yang makan makanan dari meja raja (Dan. 1:15,17). Daniel ingin membuktikan bahwa Tuhan bisa membuat sesuatu yang mustahil jadi mungkin.
Sama dengan Daniel, dalam perikop pagi ini, kita diajar, bahwa hati yang komit, serius pada Tuhan adalah prasyarat Allah berkarya.

 

 

Back to Top


Tuhan Tahu Hati Kita

"Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan suatu tanda selain tanda nabi Yunus."
( Mat. 16:4 )

Tanggal :

4 Oktober 1998

Bacaan :

Mat. 16:1-4

Refleksi :

Tuhan Tahu hati kita saat kita sedang dalam pergumulan dan minta tanda dari Dia. Dia Tahu apakah kita tulus atau tidak. Jangan sampai kita dikatakan sebagai angkatan yang jahat dan tidak setia.

Doakan Bersama :

• Pertumbuhan rohani dan kehidupan pribadi umat Kristen dalam hal doa, saat teduh, PI, dan persekutuan.

    Dalam perikop ini dikatakan bahwa Yesus dengan murid-muridnya sudah berada di tengah-tengah orang Israel. Kita akan melihat perbedaan respon yang sangat mencolok yang diberikan oleh orang Israel sendiri dengan yang diberikan oleh orang kafir. Kita telah membahas pada hari pertama bahwa respon orang kafir ketika mereka melihat berbagai tanda yang dinyatakan oleh Yesus, mereka memuliakan Allah Israel. Tetapi berbeda dengan orang Israel sendiri. Mereka yang diwakili oleh orang Saduki dan Farisi, menganggap bahwa tanda yang Yesus berikan belum cukup sehingga mereka butuh tanda yang lain.
Sesungguhnya bukannya tanda itu belum cukup, tetapi ini masalah hati. Tujuan mereka adalah untuk mencobai Tuhan Yesus (ay. 1). Hati mereka penuh kemunafikan, kelicikan, tidak tulus. Dengan hati yang seperti ini tidak mungkin mereka bisa melihat tanda yang Tuhan berikan sebagai karya Allah. Hanya hati yang suci yang bisa melihat Allah dibalik karyaNya.Tanda apakah lagi yang kurang yang Yesus belum nyatakan di hadapan mereka? Sudah cukup!
Mengapa hati yang seperti ini ada pada orang Farisi dan Saduki? Karena memang pada dasarnya mereka menolak Tuhan Yesus. Mereka yang semula menjadi panutan dan simbol dalam masyarakat mulai pudar, setelah kedatangan Tuhan Yesus. Semua orang mulai menoleh kepada Yesus. Mereka benci semua itu. Itu sebabnya Yesus berkata bahwa angkatan ini adalah "angkatan yang jahat dan tidak setia."
Pada saat kita mencari tanda dari Tuhan atas pergumulan kita, adakah itu lahir dari hati yang tulus atau dari hati yang tidak percaya?
 

Back to Top


Ragi

"Yesus berkata kepada mereka: berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki'."
( Mat. 16:6 )

Tanggal :

5 Oktober 1998

Bacaan :

Mat. 16: 5-12

Refleksi :

Adakah ragi yang telah merusak kesaksian hidup kita? Yesus mengatakan agar hati-hati terhadap orang yang punya ragi; tetapi juga waspada agar kitapun tidak memiliki ragi, tetapi murni (1.Kor.5:8)

Doakan Bersama :

• Pendistribusian sembako agar dapat mencapai masyarakat kecil dengan harga yang dapat dijangkau.

    Ada dua tingkat kebodohan para murid waktu itu yang menjengkelkan Tuhan Yesus. Pertama, betapa lambannya hati mereka bahwa yang dipermasalahkan Tuhan Yesus bukanlah tidak adanya roti. Sudah dua kali Yesus menyatakan mujizat dengan melipatgandakan roti menjadi berkelimpahan. Belum cukupkah pelajaran itu bahwa makanan jasmani tidak pernah menjadi perhatian Yesus? Yesus langsung menunjuk permasalahan mereka yang sebenarnya, yaitu sesungguhnya mereka kurang percaya! Mereka gagal melihat makna rohani mujizat pemberian makan itu. Mereka asyik dengan hal-hal yang jasmani saja, yaitu roti
Kekurang percayaan mereka menyebabkan tingkat kebodohan mereka yang kedua, mereka tidak mengerti kiasan ragi yang dipakai Tuhan Yesus. Ragi di dalam Alkitab seringkali disamakan dengan ajaran yang salah. Hal ini bisa kita baca dalam 1 Kor.5: 6-8; Gal.5: 9. Dalam Mar. 8:15, ragi itupun dimiliki oleh Herodes. Lalu adakah hubungan semua ungkapan ragi itu? Jelas sekali hal ini berhubungan dengan konsep mereka tentang Mesias, yaitu Yesus, dimana mereka meminta tanda (Mat,16:1-4).
Ragi adalah simbol masuknya kuasa si jahat, hal ini nyata dengan kebusukan hati dari orang Saduki dan Farisi yang ditunjukkan dengan meminta tanda dari Yesus. Tanda itu bahkan menunjukkan ketidakpercayaan mereka, bukan karena percaya. Artinya, semua ajaran mereka adalah kemunafikan dan kebusukan. Itulah yang Tuhan mau agar para murid menjauhinya.
Yesus mau murid-muridNya hidup dalam ketulusan, kemurnian, jangan ada ragi yang bisa merusak semua ajaran dan kesaksian mereka.
 

Back to Top


Masa Depan Dari Sudut Pandang Ilahi

"Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan!"
( Dan 2:20 )

Tanggal :

6 Oktober 1998

Bacaan :

Dan. 2:30-49

Refleksi :

Mungkin Anda sering tidak dapat memahami kehidupan yang Anda jalani saat ini! Yang menjadi pertanyaan adalah sejauh mana keyakinan dan penyerahan hidup Anda ke dalam otoritas kedaulatan Allah saat ini?

Doakan Bersama :

• Orang-orang Kristen yang terlibat dalam politik seperti Prof. Dr. Paul Tahalele, Prof. Dr. J. E. Sahetapy, Muchtar Pakpahan, Christian Wibisono, dll supaya dalam mengambil sikap sesuai dengan kehendak Tuhan.

    Daniel 2 merupakan salah satu pasal yang menakjubkan dari Alkitab, meramalkan kebangkitan dan kejatuhan empat kerajaan besar dunia di masa berikutnya. Sekalipun seolah-olah tampak lebih sebagai kisah sejarah purba, tetapi semua ini merupakan gambar masa depan bagi Daniel.
Kalau kita perhatikan rangkaian perjalanan Daniel hingga berhadapan dengan raja, ini merupakan suatu rangkaian yang bukan kebetulan belaka. Setidaknya ada 3 alasan yang menunjukkan bukan suatu kebetulan belaka:
Pertama, kita bisa melihat kegelisahan hati raja karena sebuah mimpi sehingga diambil suatu kebijakan yang kurang lazim bahkan tidak bisa diterima dengan akal sehat. Yakni memanggil para ahli dan cendikiawan untuk menceritakan mimpi dan makna dari mimpi tersebut. Ini bukan berarti raja lupa akan mimpinya tetapi suatu kecerdikan dari raja tersebut. Bahkan tidak segan untuk membunuh mereka yang gagal menceritakan.
Kedua, pada akhirnya tidak ada seorangpun yang dapat menceritakan dan menjelaskan makna dari pada mimpi tersebut. Sekalipun orang-orang yang dipanggil oleh raja bukanlah orang sembarangan. Pada zaman itu mereka memiliki kedudukan yang cukup disegani.
Ketiga, Daniel dapat menceritakan mimpi dari raja dengan begitu detail. Nebukadnezarpun menyakini sampai ia mau menyembah Daniel dan mengadakan upacara syukur dan kurban serta memuji Allah Daniel.
Disini kita melihat bahwa Allah berdaulat atas sejarah manusia. Tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini. Demikian juga hidup kita.
 

Back to Top


Masa Depan Dari Sudut Pandang Ilahi

"Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan!"
( Dan 2:20 )

Tanggal :

7 Oktober 1998

Bacaan :

Dan 2:30-49 (lanjutan)

Refleksi :

Kehidupan yang berjalan dengan sudut pandang Ilahi, akan senantiasa berpaling kepada Allah dan akan menghasilkan ketegaran sekalipun dimasa yang sulit!

Doakan Bersama :

• Gerakan Sembako yang dilaksanakan kiranya boleh terus dipakai Tuhan untuk menolong orang-orang yang betul-betul membutuhkan.

    Semua orang memimpikan untuk menjadi orang yang sukses dalam berbagai hal. Memiliki keluarga yang harmonis, penghasilan yang banyak, status sosial yang baik dan secara batin bahagia, hidup yang tenang serta disukai dan dihormati banyak orang.
Tetapi tidak banyak orang yang tahu bagaimana cara untuk mencapainya. Namun, saat ini banyak orang mencoba dengan berbagai upaya dan mereka berjuang keras dengan seluruh kekuatan dirinya. Sampai akhirnya mereka sendiri tidak tahu lagi apa yang sebenarnya mereka cari. Akhirnya mereka frustasi, stres akibat merosotnya kepercayaan diri. Menjadi orang yang tidak bergairah dan putus asa. Perilaku hidupnya cenderung amoral dan tidak bertanggung jawab.
Berbeda dengan Daniel, ia melihat masa depannya tidak secara manusiawi yakni dengan kekuatan diri dan kebanggan diri. Tetapi Daniel melangkah dengan langkah Ilahi. Ia melangkah tanpa malu, dengan menerima sebagai seorang tawanan. Langkah yang tidak lazim pada zaman itu dengan tidak berkompromi kepada hal-hal yang menajiskan rohaninya. Memiliki komitmen iman, bukan sekedar kata-kata dan janji yang muluk-muluk. Ketika mendapat kepercayaan dari Allah untuk mengerti mimpi dari pada raja, bahkan ketika ia mendapatkan pujian dan penghargaan serta penghormatan dari raja (ay. 47-49) tidak egois dan sombong, melainkan rendah hati. Akhirnya Tuhan mengangkat harga diri Daniel sedemikian rupa sehingga ia menjadi orang kepercayaan oleh raja-raja Babel.
Maukah saudara sukses di mata Tuhan dan di mata manusia? Ikutilah teladan Daniel!
 

Back to Top


Dikuduskan Dalam Kristus Yesus

"Kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus...."
( 1 Kor 1:2 )

Tanggal :

8 Oktober 1998

Bacaan :

1 Kor 1:1-3

Refleksi :

Kita adalah "orang-orang kudus" karena panggilan (1 Kor 6:11).

Doakan Bersama :

• Karakter kita sebagai orang Kristen agar setiap hari mau diubah oleh Tuhan sendiri untuk menjadi semakin indah sehingga menjadi kesaksian hidup dan memuliakan Tuhan.

    Jemaat Korintus adalah suatu jemaat yang suka bertengkar, terpecah dan tidak bermoral. Bastian Van Elderen berkata: "Gereja di Korintus mempunyai kesulitan-kesulitan yang amat serius dalam hal moral, rohani dan teologia. Gereja ini telah membuat Paulus pusing dan jantungan dibandingkan dengan gereja-gereja yang lain." Namun, Paulus tetap berkata bahwa jemaat Korintus adalah orang-orang yang telah dikuduskan dalam Kristus Yesus.
Arti dasar dari kata "dikuduskan" tidak menunjuk kepada karakter moral yang tinggi yang telah dimiliki seseorang sebelumnya, tapi lebih pada: dibersihkan dari dosa dan dianggap benar. Kata "dosa" dalam Alkitab acapkali disajikan di bawah dua aspek, yakni kesalahan (guilt) dan pencemaran (polution). Seseorang yang dikuduskan berarti semua dosa atau kesalahan yang menyebabkan pencemaran dan penghalang dalam dirinya telah dibersihkan, sehingga dihadapan Allah, ia dianggap atau diperlakukan sebagai orang yang kudus atau benar. Pengudusan yang demikian disebut pengudusan status atau posisi.
Kekudusan dalam pengertian status atau posisi, tidak ada kaitannya dengan perbuatan-perbuatan baik atau kehidupan yang bermoral. Kebenaran ini dapat digambarkan seperti seorang presiden yang tidak berperilaku seperti presiden, tapi ia tetap adalah seorang presiden. Sebagai orang Kristen kita harus menjalani kehidupan yang kudus, tapi kehidupan yang kudus tidak menjadikan kita kudus. Kita menjadi kudus karena Kristus Yesus telah menguduskan kita dalam respon iman percaya kita kepada Kristus (Ibr. 2:11).
 

Back to Top


Dipanggil Menjadi Orang-Orang Kudus

"Kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus...."
( 1 Kor 1:2 )

Tanggal :

9 Oktober 1998

Bacaan :

1 Kor 1:1-3

Refleksi :

Marilah kita memenuhi panggilan Tuhan yaitu untuk menjadi orang-orang kudus. (Ibr. 12:14)

Doakan Bersama :

• Pakar ekonomi agar diberi hikmat oleh Tuhan, sehingga mereka dapat memperoleh jalan keluar yang terbaik untuk memulihkan ekonomi Indonesia.

    Kekudusan bukan hanya suatu keadaan, status atau posisi. Allah memanggil jemaat Korintus tidak hanya memasuki suatu keadaan yang kudus tapi juga mendorong mereka mempraktekkan kekudusan sepanjang hidup mereka. Dengan demikian pekerjaan Roh Kudus akan menjadi bukti yang nyata dalam kehidupan mereka. Pengudusan yang demikian juga disebut pengudus praktis (practical sanctification).
Panggilan untuk mempraktekkan kehidupan yang kudus, sebetulnya sejalan dengan arti dasar kata "kudus" yang dipakai dalam ayat ini, yakni pemisahan (separation). Karena itu kita mengenal adanya bangsa yang kudus, Bait Allah yang kudus dan korban yang kudus. Maka, jika seseorang telah dikhususkan menjadi milik Allah, seharusnya dalam kehidupannya sehari-hari memperlihatkan karakter-karakter kudus yang sesuai dengan standar Allah.
Panggilan menjadi kudus adalah suatu tantangan yang berat. Ini dikarenakan, bagi orang-orang percaya, pengudusan bukan saja berupa suatu tindakan Allah bersifat definitif tapi juga suatu proses yang bersifat seumur hidup. Wayne Grudem mendefinisikan "pengudusan" sebagai suatu proses di dalamnya baik Allah maupun manusia bekerja bersama-sama, memberikan orang-orang percaya kebebasan yang semakin meningkat untuk keluar dari ikatan dosa dan semakin memiliki sifat-sifat yang menyerupai Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang Kristen terpanggil untuk bekerja sama dengan Allah dalam proses pengudusan. Marilah kita memberikan diri untuk mengalami proses pengudusan yang dilakukan Tuhan melalui kesediaan kita untuk bekerja sama.
 

Back to Top


Miskin Tapi Kaya

"Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah iblis."
( Why. 2:9 )

Tanggal :

10 Oktober 1998

Bacaan :

Why. 2:8-11

Refleksi :

Kekayaan yang didapat dari kecurangan sama dengan kemiskinan. Tetapi kemiskinan yang didapat dari kejujuran adalah kekayaan yang sebenarnya.

Doakan Bersama :

• Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dalam pelayanannya menyebarkan Firman Tuhan serta menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa suku.

    Banyak orang secara tiba-tiba menjadi kaya karena usahanya berhasil, karena mereka memiliki fasilitas-fasilitas tertentu, akses-akses tertentu untuk mendapatkan kesempatan menjadi kaya. Rezim Orde Baru yang baru saja jatuh, penuh diwarnai dengan praktek semacam itu. Pada masa jaya Orba, banyak orang memanfaatkan fasilitas dan kesempatan untuk menjadi kaya. Sistem seperti itu akhirnya menjadi sesuatu yang mendarah daging dalam perekonomian kelas elite, dan tidak jarang ada juga anak Tuhan yang terjerat dalam permainan tersebut.
Kota Smirna (atau Izmir di negara Turki sekarang), adalah sebuah kota pelabuhan yang merupakan pintu jalur perdagangan antar benua pada waktu itu, sehingga begitu banyak peluang bisa di dapat untuk menjadi kaya.
Tapi di kota yang kaya seperti itu, Gereja Tuhan ternyata hidup dengan keadaan miskin. mengapa? Dari pujian yang diberikan Tuhan kepada mereka, kita dapat menarik kesimpulan bahwa mereka —orang-oang Smirna— hidup miskin karena mereka jujur, karena mereka tidak ikut dalam arus KKN yang menjadi gaya hidup kota Smirna, bahkan karena status iman dan kesaksian hidup mereka, mengakibatkan mereka dikucilkan dari kesempatan usaha yang memberi keuntungan. Mereka terjepit di tengah-tengah rimba perekonomian yang kotor, mereka miskin, bahkan mereka masih harus menanggung fitnah dan aniaya. Tapi itu hanya seketika saja, semua itu hanya sementara saja. Mahkota kehidupan telah tersedia bagi mereka, karena dihadapan Tuhan, mereka adalah jemaat yang kaya meskipun secara materi mereka miskin.
 

Back to Top


Kaya Tapi Miskin

"Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah iblis."
( Why. 2:9 )

Tanggal :

11 Oktober 1998

Bacaan :

Why. 3:14-22

Refleksi :

Saya ingin menjadi orang yang kaya rohani, walaupun secara materi saya miskin. Tetapi kalau boleh Tuhan, berikanlah saya perasaan kaya dalam segala hal karena berkat Tuhan berkecukupan.

Doakan Bersama :

• Lembaga Misionaris WEC yang mengirim para misionaris ke seluruh dunia.

    Kebalikan dari jemaat Smirna, Gereja di Laodikia adalah gereja yang kaya secara materi. Jemaat di Laodikia nampaknya telah memanfaatkan segala kelimpahan produksi dan kesuburan dunia usaha di sana, dan sangat mungkin terjerat juga dalam permainan perdagangan seperti yang dilakukan orang-orang di sana, yang tidak takut kepada Tuhan dan menghalalkan cara demi tujuan keuntungan diri.
Jemaat Laodikia kaya dalam materi, tapi miskin rohani. Mereka masih beribadah, bahkan masih melayani, tapi sudah kehilangan semangat dan dedikasi. Mereka terbuai dengan kekayaan mereka dan merasa puas diri.
Mereka tidak sadar bahwa dengan kepuasan diri dan rasa bangga diri yang seperti itu, Tuhan sudah tidak ada di tengah-tengah mereka. Tuhan sudah terdesak keluar dari pintu gereja karena mereka sudah tidak merasa membutuhkan Tuhan lagi.
Dihadapan manusia, mereka adalah jemaat yang kaya. Tapi di mata Tuhan, mereka begitu melarat, malang, miskin, buta dan telanjang, patut dikasihani.
Tuhan menyerukan mereka agar bertobat dari kesalahan mereka dan kembali menikmati kehidupan penuh berkat di dalam kesucian dan kebenaran. Tuhan menegor dan menghajar mereka karena Tuhan rindu untuk bersekutu kembali dengan gereja yang dikasihaniNya, Dia menanti Gereja bertobat dari kesalahan dan kembali kepadaNya.
Gereja Smirna dan gereja Laodikia melukiskan dua macam kehidupan gereja yang berbeda. Termasuk yang manakah GKA Gloria? Termasuk kelompok yang manakah Saudara?
 

Back to Top


Keseimbangan

"... sebab ditangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."
( I Sam. 17:47b )

Tanggal :

12 Oktober 1998

Bacaan :

I Sam. 17:1-58

Refleksi :

Apakah Anda memiliki keseimbangan antara iman Anda kepada Allah dan kepercayaan kepada diri Anda sendiri? Allah ingin Anda menyeimbangkan kedua kebenaran ini dalam hidup Anda.

Doakan Bersama :

• Pemerintah Indonesia sungguh-sungguh menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia.

    Memiliki keseimbangan antara iman kepada Allah dan kepercayaan kepada diri sendiri adalah merupakan hal yang penting. Karena disatu sisi dapat meluputkan kita dari perbuatan atau tindakan 'iman' yang konyol dan buta. Di mana seseorang hanya bersikap diam tanpa berbuat sesuatu dan hanya menunggu Allah yang turun tangan.
Dalam kisah pertempuran Daud dengan Goliat— si manusia raksasa, menyeimbangkan kebenaran ini dapat terlihat dengan jelas dan indah. Di satu pihak, Daud menyadari dan mengakui bahwa Allahlah yang akan berperang dan memberikan kemenangan kepadanya. Keyakinan Daud itu dibangun atas dasar pengalaman imannya kepada Allah sebagai seorang gembala muda yang telah diluputkan oleh Tuhan Allah dari terkaman cakar binatang buas, baik itu singa maupun beruang (ay.37). Dan dipihak lain, Daud percaya bahwa ia sanggup mengalahkan Goliat dengan kemampuan uniknya dalam menggunakan umban ketapel (ay. 40,49). Keahlian Daud dalam menggunakan umban ketapel memerlukan waktu yang lama untuk berlatih di sisi bukit sambil menjaga domba-domba ayahnya. Di Israel, umban ketapel adalah senjata rahasia.Banyak orang yang mempelajari bagaimana caranya menggunakan alat ini secara tepat. Di dalam Kitab Hakim-hakim kita membaca, ada 700 orang pilihan yang bertangan kidal dan setiap orang dari mereka dapat mengumban dengan tidak pernah meleset sampai sehelai rambutpun (Hak. 20:16). Allah ingin agar kita menyeimbangkan kedua kebenaran ini dalam hidup kita.
 

Back to Top


Iman Kepada Allah

"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."
( Ams. 3:5-6 )

Tanggal :

13 Oktober 1998

Bacaan :

I Sam. 17:1-58

Refleksi :

Ketika tantangan datang, apakah kita bersikap seperti Saul? Lari, menyembunyikan diri dan takut menghadapi realita yang ada. Atau seperti Daud ? Percaya penuh pada pertolongan Allah.

Doakan Bersama :

• Keluarga, sahabat, kerabat, dan rekan kerja anda yang belum percaya kiranya Tuhan membuka jalan dan memakai anda sebagai penyalur berkat dan keselamatan bagi mereka.

    Selama empat puluh hari, Goliat menuruni lembah dan berteriak kepada bangsa Israel, menantang mereka untuk ke luar dan mengancam bangsa Israel (baca ay. 8-9). Ternyata akibatnya sangat menghancurkan. Tidak ada seorang pun dari antara pasukan Israel yang berani menerima tantangan itu.
Dalam suatu kesempatan Daud tiba di medan pertempuran, ia melihat Goliat sedang menuruni bukit dan mendengarnya meneriakkan tantangan terhadap bangsa Israel. Dengan segera hati Daud terbakar, ini bukan hanya disebabkan oleh keinginan untuk membela negaranya, tetapi terutama karena nama Allah dicemoohkan (ay. 26). Daud sangat terkejut melihat sikap bangsanya, dan iapun menjadi kecewa. Lalu ia mengajukan diri untuk menerima tantangan si raksasa Goliat.
Keberanian yang timbul dalam diri Daud bukanlah merupakan suatu tindakan yang konyol, membabi-buta atau usaha membunuh diri sendiri. Sebaliknya, keberanian itu timbul karena Daud memiliki keyakinan dan iman kepada Allah Yahweh serta percaya diri. Sehingga dengan lantang Daud berkata: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu (ay. 37). Dan sambil mendekati Goliat, Daud berseru: "aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kau tantang itu..." (Ay. 45-47).
Sikap seperti Daudlah yang harus kita miliki dalam menghadapi setiap menghadapi tantangan kehidupan yang ada di depan kita. Bagaimana dengan Anda?
 

Back to Top


Tulus Ikhlas Atau Terpaksa

"Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas, keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni."
( Ibr. 10:22 )

Tanggal :

14 Oktober 1998

Bacaan :

Ibr. 10:19-22

Refleksi :

Mintalah Tuhan memurnikan hati kita, karena hati yang murnilah yang disukai oleh Allah dan manusia.

Doakan Bersama :

• Orang-orang percaya yang mengalami penganiayaan di negara-negara yang menolak Injil agar kuasa salibNya menjadi sumber kekuatan dan penghiburan untuk tetap bertahan dalam Dia.

    Saya sedang berpikir, ketika saya memberikan uang kecil kepada pengamen diperhentian lalu lintas, sungguhkah saya memberikan uang dengan tulus ikhlas karena keprihatinan kondisi saat ini ataukah karena saya tidak ingin mobil yang saya kendarai digores, bahkan timbul masalah?
Seringkali dalam kehidupan, hati nurani manusia telah dicemari oleh ketidaktulusan, baik terhadap sesamanya atau terhadap Allah. Mungkin saja hal ini terjadi karena pengalaman-pengalaman yang pernah dihadapi oleh dirinya sendiri atau orang lain. Tatkala seseorang sedang melakukan sesuatu hal dengan motivasi yang murni, ia dirugikan, bahkan dicelakakan. Akibatnya, manusia lebih sering membuat "defense" (pertahanan diri) sebelum timbul perkara. Tanpa disadari, manusia telah kehilangan tulus ikhlas dalam hati nuraninya.
Namun dalam Kitab Ibrani, Paulus mengingatkan kepada kita, bahwa hati nurani kita yang jahat sudah disucikan dengan darah Yesus Kristus. Darah Yesus Kristus itulah yang memulihkan hati nurani yang murni, di mana menurut kemampuan manusia tidak dapat diterima dengan akal dan kehendaknya.
Hati yang murni adalah, hati yang di dalamnya tidak tersembunyi suatu kepalsuan. Tidak ada kecurangan, motivasi yang tersembunyi. Hati yang seperti ini hanya didapatkan di dalam Kristus. Kristus Yesus telah mendamaikan diri kita dengan Allah dan dengan sesama kita.
Marilah kita bersikap tulus kepada semua orang. Janganlah lagi kita cenderung mencurigai perbuatan orang lain. Karena hati yang demikianlah yang dapat datang kepada Allah.
 

Back to Top


Bahaya Mengancam, Hidupku Tak Karam

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti."
( Mzm. 46:2 )

Tanggal :

15 Oktober 1998

Bacaan :

Mzm. 46

Refleksi :

Mari memandang semua kesulitan kita dalam kerangka berpikir yang dikehendaki Tuhan, bukan mencari untung pribadi atau keselamatan jasmani pribadi dan tetap menampakkan kesaksian yang memuliakan namaNya.

Doakan Bersama :

• Para pemimpin Kristen, lembaga Kristen, Yayasan Kristen, LSM , dan ormas-ormas Kristen untuk senantiasa bersatu, bergandengan tangan, saling mendukung, dan saling mendoakan.

    Siapa yang tak tahu bahwa mazmur ini pernah menggugah Martin Luther dan memberinya kekuatan sehingga didendangkannya untuk menjadi salah satu lagu rohani kristiani? Mazmur ini benar-benar mempunyai makna yang dalam untuk ditelusuri. Ungkapan di ayat 2-4 sungguh merupakan pernyataan iman yang kukuh. Saat bahaya yang mengerikan sekalipun mengancam beranikah kita mengucapkan pengakuan semacam ini? Bukankah banyak yang mengaminkan bagian ini saat keadaan masih aman sentosa tapi ketika benar ancaman merebak, kita tak lagi bisa mempercayai bukan hanya Mazmur ini bahkan terhadap Tuhan sendiri?
Lalu ayat 5-8 pemazmur mengajak kita untuk melihat ketenangan penuh damai ketika kita bersama Allah kita dan gemuruh para bangsa yang melawanNya tak pernah menggentarkan kita sebab DIA ada bersama kita. Bila DIA ada di pihak kita, siapakah yang berani melawan kita? Sayangnya banyak orang percaya lebih percaya negara Amerika, Australia dll. yang menjadi perlindungan mereka. Mazmur ini terasa hanya cocok buat mereka yang hidup di era Perjanjian Lama dan bukan untuk kita yang sedang dilanda krisis berkepanjangan ini.
Dan ayat 9-12 mengajak kita untuk bernostalgia, melihat catatan sejarah yang sering kita abaikan. Di sana ada kiprah Allah dalam berkarya bagi kita. Marilah kita mencoba menjadi tenang dan memandang pada DIA. Allah kita bukan hanya menyertai tapi juga senantiasa bertindak bagi umatNya agar DIA dipermuliakan di atas bumi ini.

 

 

 

 

Back to Top


Dosa Yang Ringan

"Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun...supaya mereka yang mendengarnya beroleh kasih karunia."
( Ef. 4:29 )

Tanggal :

16 Oktober 1998

Bacaan :

Ef. 4: 17-32

Refleksi :

Melepaskan kita dari ikatan dosa bukat hanya sekedar berdoa dan mohon darahnya menyucikan kita. Tetapi juga dibutuhkan komitmen iman sebagai tanggungjawab kita yang telah dibasuh darahNya.

Doakan Bersama :

• Mohon Tuhan memelihara semangat pelayanan kita sebagai anak-anak Allah di tengah-tengah semakin sibuk dan sulitnya tantangan hidup.

    Acapkali kita melakukan "dosa yang ringan", namun kita tetap memanggul jabatan sebagai pekerja Tuhan, bahkan tetap melaksanakan tugas sebagai hamba-hamba Tuhan.
Dosa-dosa apakah yang disebut "dosa yang ringan"?
Pada saat kita melakukan introspeksi diri. Kita sadar bahwa kita sering melaksanakan penghakiman, pengritikan terhadap orang lain. Penghakiman, sepertinya telah menjadi dosa yang ringan yang merupakan bagian dari kehidupan kita yang dapat ditolerir dalam kalangan orang Kristen. Selain penghakiman, sering juga kita mengucapkan kata yang sia-sia (Mat. 12:36). Kita sering menyampaikan berita-berita tentang perbuatan-perbuatan orang lain yang belum pasti kebenarannya.
Paulus menasehati jangan ada perkataan kotor keluar dari mulut kita. "Perkataan kotor" meliputi segala perkataan yang merusak nama baik dan hari depan orang lain.
Sering juga banyak "dosa yang ringan" yang tidak pernah merugikan posisi pelayanan kita; misalnya masalah yang berkaitan dengan hubungan antara kita. Ini mencakup dendam, iri hati, mudah marah, kepahitan, perseteruan, dll.
Paulus menasehati "Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah" (Ef. 4:30). Sebenarnya segala dosa mendukakan Roh Allah. Sangat jelas bahwa, Allah berduka atas segala "dosa ringan" yang kita lakukan sama dukanya atas dosa "besar" yang berkaitan dengan perzinahan, pencurian, ketidakjujuran, dll.
Kalau kita risih dan malu dengan "dosa ringan", maka kita akan gampang menolak dosa-dosa yang dikatakan "besar" tadi.
 

Back to Top


Harta Yang Sering Disia-siakan

"Perintah dari bibirNya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulutNya."
( Ayb. 23:12 )

Tanggal :

17 Oktober 1998

Bacaan :

Maz. 119:161-168

Refleksi :

Berdoalah pada Tuhan agar Dia memberi kerinduan untuk membaca dan merenungkan Firman Allah dan melakukannya dalam hidup kita seperti teladan yang kita baca hari ini!

Doakan Bersama :

• Sikap kita sebagai orang Kristen di dalam beribadah agar benar-benar mempunyai hati yang takut dan hormat kepada Tuhan.

    Kita semua tahu bahwa Alkitab adalah Firman Allah.Suatu hal yang demikian berharga, bukan? Tetapi sayang tidak setiap kita memperlakukannya sebagaimana mestinya, harta yang demikian berharga itu sering sekali disia-siakan. Buktinya: berapa dari kita yang tidak mempelajarinya, merenungkannya, ataupun bahkan meluangkan sedikit waktu setiap hari untuk membacanya.
Ada seorang pria di Kansas City yang terluka parah karena suatu ledakan. Wajahnya rusak, menjadi buta dan kehilangan kedua tangannya. Ia adalah seorang Kristen baru. Ia begitu kecewa karena ia tidak dapat lagi membaca Alkitab. Suatu saat ia mendengar tentang seorang wanita di Inggris yang mampu membaca huruf braille (huruf timbul untuk para orang buta) dengan bibirnya. Berharap dapat melakukan hal yang sama, ia meminta kiriman beberapa buku tentang Alkitab dalam huruf braille. Namun ia harus menerima kenyataan bahwa saraf pada bibirnya telah rusak karena ledakan itu. Suatu hari, ia hendak mencoba lagi membaca dengan bibir, lidahnya menyentuh huruf-huruf yang menonjol, dan ia dapat merasakannya. Segera saja ia berpikir, "Aku dapat membaca Alkitab dengan lidahku!". Pada waktu seorang penginjil asal Amerika menceritakan hal ini, dia sudah empat kali membaca seluruh Alkitab.
Kalau kita yang mempunyai indera lengkap dan masih sehat ini tidak melakukan seperti orang itu, apalagi jika kita mengalami penderitaan yang dialaminya, mungkin kita sudah demikian jauh dari Tuhan. Pria itu sangat sadar akan keberhargaan Alkitab. Dia tidak berhenti tetapi dia terus membaca dan terus membaca.
 

Back to Top


Membatasi Sifat-Sifat Allah

" Masakan aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini...Demikianlah kamu di tanganKu, hai kaum Israel."
( Yer. 18:6 )

Tanggal :

18 Oktober 1998

Bacaan :

Yer. 18:1-13;
19:1-15

Refleksi :

Allah itu penyabar, tetapi ia tidak pernah tidak menghukum dosa-dosa kita bila kita tidak bertobat kepadaNya.

Doakan Bersama :

• Minta keberanian untuk menyatakan kebenaran di lingkungan masing-masing agar terang Tuhan dapat terpancar melalui setiap orang Kristen.

    Kita tidak akan maju dalam kehidupan sebagai murid sejati Kristus, bila kita membatasi sifat-sifat Allah hanya dari satu segi. Allah telah menunjukkan sifat kebaikan dan kesabaranNya yang tidak terbatas. Allah telah memperlihatkan sifat ketegasan dan keteguhan hatiNya, yang disebut dengan sifat kerasNya.
Yeremia telah melihat kedua segi sifa-sifat Allah ini. Dalam pasal 18, dan 19 ia melihat Allah mengerjakan kembali bejana dari tanah liat yang rusak dan buli buli dan menjadikannya agar dapat digunakan.
Terlalu banyak orang Kristen menganggap bahwa kesabaran Allah tidak terbatas, kasihNya sudah biasa disakiti oleh perbuatan dosa, semua dosa manusia telah di Golgota. Dengan pengertian ini, akan membawa kita pada segala macam kebebasan dan kecerobohan hidup sebagai murid sejati Kristus.
Begitu keraskah hati kita, sehingga diperlukan pukulan untuk membangun kita? Haruskah kita diperlakukan budak agar kita dapat menghargai dan merasa berterimakasih atas kasihNya dan menginsafkan betapa baik dan mulia Tuhan kita? Atau apakah persekutuan yang erat dengan Dia, sehingga dengan sedikit gerakan jariNya, akan membuat kita menyerah kepadaNya?
Allah menunjukkan sifatNya yang keras kepada semua orang yang tidak peduli terhadapNya. Tetapi Ia tidak pernah tidak berperasaan terhadap mereka yang berteriak memohon belas kasihan, rahmat dan pertolonganNya. Karena "Ia berkenan kepada kasih setia" (Mikha 7:18). (Disadur dari Setiap Hari Bersama Tuhan, Raja-ku, nomor 146).
 

Back to Top


Berdirilah Tetap

"... janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikanNya hari ini kepadamu.."
( Kel. 14:13a )

Tanggal :

19 Oktober 1998

Bacaan :

Kel. 14:1-14

Refleksi :

Sudahkah Anda merendahkan diri dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan?

Doakan Bersama :

• Adanya kebebasan pers di Indonesia supaya yang benar dapat dinyatakan sehingga menjadi sarana media informasi yang bertangggung jawab.

    Waktu Musa memerintahkan orang Israel untuk "berdiri tetap melihat keselamatan dari TUHAN", sebenarnya konfirmasi sudah dinyatakan Tuhan pada hari itu juga. Mereka sudah melihat pekerjaan Tuhan yang besar. Tuhan memimpin mereka ke dalam suatu posisi yang sangat sulit sehingga mereka tak mampu menyelamatkan diri sendiri. Mereka harus bergantung sepenuhnya pada Tuhan.
"Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka... Dalam pembacaan kita, terlihat orang Israel dalam keadaan terjepit. Mau mundur kebelakang sudah dinantikan musuh yang mengejar, mau kedepan terbentang Laut Teberau yang dalam. Mereka sungguh tak berdaya, panik dan ketakutan. Jalan satu-satunya ialah berseru kepada Tuhan. Musa berkata: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikannya hari ini kepadamu, sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja." (ay. 13-14). Dengan mata rohani Musa dapat melihat keselamatan dari Tuhan walaupun saat itu belum terlihat. Untuk memperoleh keselamatan itu, mereka harus sepenuhnya bersandar pada Tuhan.
Sering Tuhan mengijinkan persoalan yang sulit, sehingga kita tak berdaya. Akhirnya harus lari bersimpuh di bawah kaki Tuhan Yesus, berdoa mohon pertolongan. Demikianlah Tuhan mengajar kita berserah dan merendahkan diri karena hanya pada Yesus ada jawaban bagi semua problem kita.
 

Back to Top


Menjadi Terlalu Sibuk

"Marta, Marta, engkau kuatir... dengan banyak perkara. Tetapi hanya satu saja yang perlu."
( Luk. 10:41,42 )

Tanggal :

20 Oktober 1998

Bacaan :

Luk. 10:38-42

Refleksi :

Martin luter pernah berkata bahwa semakin ia sibuk semakin banyak ia berdoa. Artinya, semakin kita banyak pekerjaan sesungguhnya kekuatan yang kita butuhkan dari Tuhan harus lebih besar.

Doakan Bersama :

• Pertobatan oknum-oknum yang memicu kerusuhan agar terus dipelihara oleh Tuhan, dan boleh menjadi kesaksian bagi yang lainnya.

    Orang Kristen seharusnya terikat dalam pekerjaan Tuhan tetapi tidak mengorbankan hubungan pribadinya dengan Tuhan. Marta begitu "kuatir dan cemas dengan banyak perkara" dalam melayani Yesus sehingga dia tidak memiliki waktu untuk bercakap-cakap dengan Dia. Oleh sebab itu Yesus menyatakan bahwa Maria, saudara Marta telah memilih bagian yang terbaik, yaitu mendengarkan pangajaran Yesus. Dalam hal ini bukan berarti bahwa Marta salah, tetapi sama halnya dengan kebanyakan dari orang Kristen zaman ini Marta melakukan prioritas yang keliru. Dia mendahulukan pekerjaannya dari beribadah pada Tuhan.
Bila Anda sedang jatuh cinta dan ditanya, "Anda lebih suka berbicara tentang kekasih Anda atau berada bersama dia?" Pertanyaan yang mudah untuk dijawab, dan Anda pasti tahu jawabannya. Pasti Anda akan menjawab, saya lebih suka berada bersama dia. Kitapun perlu bertanya pada diri kita masing-masing, "Apakah kita lebih suka menghabiskan waktu melayani Tuhan atau berkomunikasi dengan Tuhan?" Jawaban kita akan ditentukan oleh keadaan kita, apakah kita terlalu sibuk atau tidak!
Banyak kesibukan untuk melayani Tuhan tetapi apakah kita sudah memilih bagian yang terbaik yaitu bersekutu secara pribadi dengan Tuhan. Jikalau seorang pelayan Tuhan sudah kehilangan persekutuan secara pribadi dengan Tuhan maka kita harus sadar bahwa kita berada dalam ambang kehancuran. Melayani Tuhan itu penting tapi ada yang lebih penting yaitu persekutuan secara pribadi dengan Tuhan. Saat melayani Kristus membutuhkan saat teduh untuk pembaharuan setiap hari.
 

Back to Top


Bangunlah

"Itulah sebabnya dikatakan: Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."
( Ef. 5:14 )

Tanggal :

21 Oktober 1998

Bacaan :

Ef. 5:1-14

Refleksi :

Terjagalah terus dalam rohanimu, karena iblis siap menerkam mereka yang tidur rohaninya.

Doakan Bersama :

• Berdirinya partai-partai baru, bukan malah memecah belah bangsa ini, tetapi mengakomodasikan segenap aspirasi rakyat Indonesia.

    Kebanyakan orang walaupun mereka tidak sadar, mereka sedang tertidur. Mereka dilahirkan dalam keadaan tertidur. Mereka hidup dalam keadaan tertidur, mereka menikah dalam keadaan tertidur, mereka membesarkan dan mengasuh anak dalam keadaan tertidur. Pendeknya kita suka tertidur, tanpa pernah terjaga atau bangun dari tidur kita.
Memang bangun dari tidur tidak menyenangkan. Anda tahu itu. Anda merasa lebih nyaman dan enak di tempat tidur. Merupakan hal yang menjengkelkan jika kita dibangunkan dari tidur kita, meski sebelum tidur kita sudah berpesan untuk dibangunkan oleh pembantu kita, misalnya.
Itulah sebabnya adalah bijak kalau firman Tuhan menegur kecenderungan kita yang hobinya tidur rohani. Paulus mengakhiri perikopnya dengan sebuah sajak/ kidung Kristen kuno, yang biasanya dipakai dalam upacara baptisan. Isi sajak itu mengungkapkan keadaan mereka yang sudah tertidur dalam penyembahan berhala untuk kemudian dibangunkan masuk dalam kehidupan cahaya terang Kristus.
Petunjuk itu, kata beberapa komentator Alkitab sebenarnya adalah bagian dari nyanyian malaikat sorgawi menjelang akhir zaman, pada saat peniupan serunai terakhir ke atas bumi. Nyanyian itu adalah panggilan kepada orang-orang kudusNya untuk memasuki kerajaanNya yang kekal.
Adakah kita mendengar suaraNya agar sebagai anak Tuhan kita selalu terjaga. Bahwa sesungguhnya iblis suka kalau kita terus tertidur, sampai akhirnya kita kaget kalau kita sudah berada di neraka bersama dia!
 

Back to Top


Sampah Dibait Allah

"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?"
( I Kor. 6:19 )

Tanggal :

22 Oktober 1998

Bacaan :

Yoh. 2:13-22

Refleksi :

Apa yang sering terbawa dalam pikiran Anda? Apakah sampah-sampah itu telah tuntas dikeluarkan dari dalam diri Anda?

Doakan Bersama :

• Para orang tua agar memberikan waktu dan perhatian dalam kebenaran kepada anak-anaknya dengan lebih bertanggung jawab.

    Ada sebuah fakta yang unik terjadi di Amerika, ada sekelompok pengemudi truk yang kadang-kadang mengangkut sampah di dalam truk-truk pendingin mereka yang juga untuk makanan. Alasan mereka melakukan itu adalah bahwa truk-truk yang digunakan untuk perjalanan jauh mengirim makanan itu tidak mungkin kembali dalam keadaaan kosong. Maka kemudian mereka mulai memikirkan jalan keluarnya, akhirnya mereka menganggap sampah sebagai komoditi yang menguntungkan. Mereka dibayar untuk mengangkut sesuatu dengan tidak perlu menanggung resiko kerusakannya.
Peristiwa ini dikenal dengan skandal "polusi demi keuntungan", bahkan ada orang yang mengilustrasikannya dengan menghidangkan makanan dalam piring makanan kucing. Apa yang kita baca hari ini jauh lebih mengerikan. Yesus mengusir para penukar uang dari Bait Allah karena maksud mereka untuk mencari keuntungan dengan mengotori rumah Bapa. Dan yang jauh lebih buruk lagi adalah bila kita mengotori tubuh kita yang merupakan bait Roh Kudus dengan pikiran dan perbuatan yang kotor.
Selama ini mungkin kita mengira bahwa kita dapat hidup baik dengan membawa sampah pemikiran dunia di dalam pikiran kita. Padahal kita tidak lebih baik dari para pengemudi truk dan pedagang di bait Allah itu. Berdoalah agar Tuhan mengampuni dan membersihkan kita. Menolong kita agar dapat bertindak tegas seperti yang diperbuat Yesus dan mengusir atau membuang semua yang mengotori bait di mana sesungguhnya hanya Dia yang berhak mendiaminya.
 

Back to Top


Bila Nasehat Tak Lagi Diindahkan

"Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah bersuka masa mudamu, turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah Allah akan membawa engkau ke pengadilan!"
( Pkh. 11:9 )

Tanggal :

23 Oktober 1998

Bacaan :

Pkh. 11:9-10

Refleksi :

Kalau kita berlaku seolah-olah di bawah pengadilan Allah, tidak hanya membuat kita takut berbuat jahat, tetapi juga menguatkan kita berbuat benar, karena di pengadilan Allah kebenaran selalu diberi upah sorgawi.

Doakan Bersama :

• Pelaksanaan Sidang Umum MPR agar sesuai dengan waktu dan kehendak Tuhan dan dapat terlaksana dengan baik.

    "Tiga gadis korban pil gedhek diseruduk bus". "Duapuluh delapan ABG di sebuah taman kota terciduk karena keluyuran lewat tengah malam". "Tim buser menahan beberapa anak muda pemakan dan pengedar Xtasy" dan masih banyak lagi. Berita seperti ini sudah menjadi biasa buat kita. Tak ada lagi keterkejutan, keprihatinan ataupun keperdulian. Rasanya kekisruhan hidup kaum muda itu tak akan mungkin ditangani secara tuntas sebab yang satu diberantas yang lain muncul dan merambah pesat.
Salomo menyadari bahwa kehidupan anak muda itu penuh pesona, penuh gelitik kenikmatan untuk mempelajari, mengetahui dan mengalami apa yang selama ini mungkin "tabu" ataupun "belum waktunya" ketika mereka belum cukup umur. Karena itu rasa keingintahuan yang besar membuat mereka suka bertualang, mencoba banyak hal yang baru, tanpa menyadari bahwa mereka telah tergelincir dalam kubangan dosa dan jerat neraka yang mengenaskan.
Salomo dalam catatan menjelang akhirnya bukan mempromosikan kehidupan dalam gelimang pemuasan hawa nafsu belaka, namun justru memaparkan fakta yang sering diabaikan: pengadilan Allah. Ini bukan dialami saat orang sudah ada di alam baka tapi juga konsekuensi selama seseorang hidup.
Karena ini marilah dengan arif menjalani hidup ini bukan dalam keduniawian tapi dalam maknanya yang hakiki agar ketika pengadilan Allah digelar, kita mampu mempertanggungjawabkan hidup yang telah dititipkanNya kepada kita. Hidup itu singkat, namun walaupun singkat akan berarti bila apa yang kita lakukan dibawah kesadaran akan pengadilan Allah.
 

Back to Top


Keinginan Atau Kebutuhan

"Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar."
( I Tim. 6:6 )

Tanggal :

24 Oktober 1998

Bacaan :

I Tim. 6:1-10

Refleksi :

Apa yang menjadi prioritas hidup Anda? Bisakah Anda bersyukur untuk apa yang Anda miliki sekarang?

Doakan Bersama :

• Orang-orang yang duduk di Komnas HAM, agar dengan keberanian dan ketulusan hati memperjuangkan Hak Asasi Manusia di Indonesia.

    Saat ini kita hidup di era yang serba materialistis. Arti dan kebahagiaan hidup sangat ditentukan oleh banyaknya uang dan materi yang bisa kita miliki. Tidak heran banyak mahasiswa mengambil bidang studi yang diyakini bisa cepat menghasilkan uang banyak setelah lulus nanti.
Prioritas hidup orang Kristenpun banyak yang dibangun di atas tuntutan dan keinginan duniawi. Tidak heran bila dewasa ini banyak orang percaya yang hidupnya tidak melimpah dengan ucapan syukur namun dipenuhi kekuatiran dan kegelisahan karena banyak yang ia inginkan tidak dapat terpenuhi.
Rasul Paulus dengan tegas mengingatkan kita agar bisa memakai perspektif yang benar dalam menilai harta/ kekayaan. Bila Tuhan mengaruniakan kekayaan kepada kita itu tentu dengan maksud agar kita bisa menikmatinya dengan sewajarnya dan penuh tanggung jawab dan terlebih lagi bisa digunakan untuk melaksanakan rencanaNya melalui kita.
Kekayaanpun tidak bersifat kekal karenanya tidak perlu dijadikan "sesuatu yang harus dikejar dan dimiliki" dalam hidup ini bila tidak kita akan diperbudak dan berani menghalalkan segala cara untuk mengejar kekayaan (ay. 9-10).
Kita bisa menikmati hidup dengan damai sejahtera Allah bila kita bisa bersyukur untuk apa yang kita miliki sekarang (ay. 6-8), Tuhan Yesuspun mengingatkan kita agar tidak terlalu memfokuskan diri pada kekuatiran hari esok secara berlebihan tapi yang terpenting adalah mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannNya pada hari ini dan semuanya nanti akan ditambahkan pada waktuNya (Mat. 6:33).
 

Back to Top


Memerangi Kebiasaan Buruk

"Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya."
( Ef. 4:23-24 )

Tanggal :

25 Oktober 1998

Bacaan :

Ef. 5:17-32

Refleksi :

Kita tidak dapat mengatakan bahwa kita benar-benar mengasihi Allah bila saja kita belum pernah dengan gigih melawan setiap cobaan dalam hidup kita dan kita terbebas dari kebiasaan-kebiasaan yang berdosa.

Doakan Bersama :

• Kebijaksanaan Pemerintah dalam menanggapi kasus di Aceh; dan ketabahan para keluarga yang mengalami musibah.

    Banyak yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk berkebiasaan. Banyak tindakan kita terjadi otomatis, tanpa kita sadari kita melakukan sesuatu dengan cara yang sama. Celakanya banyak pula kebiasaan buruk/ berdosa yang kita miliki yang belum benar-benar kita akui dan menangkan.
Kebiasaan-kebiasaan berdosa pada mulanya memang cukup tulus, terjadi karena kelengahan dan kekurangsiapan kita, namun bila tidak cepat dikuasai, kebiasaan ini yang akan menguasai kita. Kita mungkin pernah mengalami suatu siklus ini: menikmati suatu kesenangan yang terlarang, merasa berdosa, bertekad untuk tidak mengulangi lagi, sanggup bertahan beberapa saat, kemudian jatuh lagi.
Rasul Pauluspun sadar betapa berat pergumulan yang dialaminya: "Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang kubenci, itulah yang aku perbuat." (Rm. 7:15). Adakah jalan keluar bagi kita?
Syukur pada Tuhan bahwa tak seorangpun yang tak mungkin dapat diubah oleh Injil, karena pekerjaan Injil khususnya adalah merubah "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru... (Kor. 5:17). Persoalannya, sudahkah kita dibaharui di dalam roh dan pikiran dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya."
Hanya bersandar anugerah dan terang Firman Tuhan yang kita timba terus menerus dari Kristus; ada kekuatan besar yang bisa memberi kemenangan bagi kita untuk mengalahkan kebiasaan-kebiasaan berdosa.
 

Back to Top


Perubahan
"Katanya kepada orang itu: dan engkau, kuasailah lima kota."
( Luk. 19:9 )
Tanggal :

26 Oktober 1998

Bacaan :

Luk. 19:1-10

Refleksi :

Apakah Kristus telah mengubah hidup Anda? Dapatkah Anda sungguh-sungguh bekata, "Saya tidak sama seperti yang dulu?"

Doakan Bersama :

• Daerah-daerah dan suku-suku terasing yang belum terjangkau oleh peradaban, mohon Tuhan mengirim pekerjaanNya agar mereka boleh mendengar Injil.

    Hal yang paling indah sebuah reuni adalah bagaimana kita mendengarkan pengalaman-pengalaman yang indah dari teman-teman kita yang telah lama tidak bertemu.
Ada seorang teman pria yang menceritakan bagaimana saat ini dia memiliki 5 hal yang berbeda dari dulu, kepala botak, kacamata, gigi palsu, keriput dan bengkak di kaki. Ada juga seorang wanita yang dengan bercanda berkata, "Kalau saya sekarang dua kali lipat beratnya dari saya yang dulu." Dan semua orang yang mendengarkan akan tertawa membandingkan dalam bayangan bagaimana dulu dan sekarang.
Tetapi mungkin ada juga seorang yang menceritakan bagaimana dia berubah, "Saya benar-benar telah berubah. Di SMA dulu saya adalah anak nakal. Tetapi beberapa tahun setelah lulus saya menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Hidup saya diubah, karena Kristus saya tidak sama seperti yang dulu, dan saya ingin menceritakan hal ini pada teman-teman sekalian." Dan teman-temannya pun melihat perbedaan yang indah dan dia menjadi kesaksian bagi teman-temannya.
Menerima Kristus menandai mulainya kehidupan yang baru, kemudian sementara kita bertumbuh dalam anugerah dan pengenalan akan Tuhan, sikap dan perbuatan dosa kita digantikan dengan hidup yang kudus. Keegoisan diubah menjadi perhatian pada orang lain, keserakahan diubah menjadi kemurahan hati, hawa nafsu diubah menjadi kekudusan. Kekasaran diubah menjadi kesamaan. Seharusnya perubahan kualitas-kualitas itulah yang terjadi dalam hidup kita. Bagaimana dengan keadaan kita sekarang?
 

Back to Top


Ketika Kasih Punya Nilai Lebih
"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."
( Ams. 17:17 )
Tanggal :

27 Oktober 1998

Bacaan :

Ams. 17:17

Refleksi :

Janganlah kasih kita menjadi hambar, karena kasih itu hanya menjadi lip's service
semata.

Doakan Bersama :

• Orang-orang yang menjadi korban pemerkosaan, agar Tuhan memberikan damai sejahtera di hati mereka, mengampuni dan semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

    Dalam salah satu tayangan talk-show Ricki Lake (Anteve) digelar kaum hawa yang mencoba menunjukkan bahwa mereka bisa dengan mudah mendapatkan para petualang cinta, yang bahkan mau merogoh kocek untuk kesenangan yang mereka bisa reguk bersama. Andalan mereka cuma pameran tubuh yang seronok atau rayuan gombal penuh kepornoan.
Salomo justru menunjukkan dasar berkualitas untuk sebuah hubungan yaitu kasih yang sejati, bukan sekedar cinta erotis. Di sini kasih yang dimaksud adalah kasih yang tidak sebatas ucapan bibir belaka namun berwujud dalam tindakan nyata. Kasih yang penuh pengertian dan pengorbanan. Kasih yang berani membayar harga dan tak tererosi oleh adanya "badai" yang coba menggoyahkannya. Bukan tak mungkin kita memiliki kasih sedemikian sebab Yesus Kristus sudah memberikan teladan dalam hal ini. Masalahnya adalah maukah kita mewujudkannya?
Banyak orang mengobral kata "cinta" atau "kasih". Orang Barat lebih mudah untuk mengucapkan "I Love You" karena sudah menjadi kebiasaan yang tak bermakna lagi. Bagi kita mengucapkan hal itu belumlah biasa. Namun celakanya kitapun tak bisa untuk mengungkapkannya lewat wujud yang nyata. Ungkapan itu hanya menjadi kalimat klise yang menggantung di awan-awan. Seolah sesuatu yang indah untuk dipandang namun tak terjangkau untuk dijamah. Mari membiasakan diri untuk hidup dalam kasih. Lakukan sesuatu yang kecil namun berarti bagi seseorang satu hari demi satu hari untuk melatih kepekaan hati kita bukan hanya berujar kasih tapi mempraktekkannya.
 

Back to Top


Pertolongan Sang Raja

"Berserulah kepadaKu pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku."
( Mzm. 50:15 )

Tanggal :

28 Oktober 1998

Bacaan :

Mzm. 20

Refleksi :

Mintalah pertolonganNya sekarang juga, dan turuti perintahNya, sehingga dapat menghindari kesulitan-kesulitan hari esok yang lebih besar.

Doakan Bersama :

• Orang-orang yang dengan sengaja merekayasa kerusuhan, kiranya melalui hati nurani, mereka di tegur dan bertobat.

    Sebuah legenda kuno menceritakan tentang seorang raja yang mengupah beberapa orang untuk membuat permadani dan pakaian untuknya. Di antara mereka ada seorang anak yang sangat terampil menenun. Sang raja memberikan sutra dan pola kepada para pekerja sambil berpesan agar mereka segera minta bantuannya kalau mengalami kesulitan. Si anak kecil terus bekerja dengan tenang dan tampak jelas kemajuannya, sementara para pekerja yang lain merasa putus asa karena kegagalan-kegagalannya.
Suatu hari mereka berkumpul mengelilingi anak itu dan bertanya, "Mengapa kamu begitu berhasil dan gembira, sedangkan kami selalu menemui kesulitan? Sutra kami kusut dan hasil tenunan kami menyimpang dari pola yang diberikan raja." Anak itu menjawab, "tidakkah kalian ingat kata-kata raja ketika beliau menyuruh kita minta bantuannya kapan saja kita memerlukannya? Kami akhirnya memang minta bantuan beliau," jawab para pekerja itu, "tapi pekerjaan kami sudah terlanjur kacau sehingga kami menghabiskan waktu berhari-hari untuk memperbaiki kesalahan kami. Tidakkah kalian lihat betapa sering saya datang kepada beliau?" tanya anak itu. "Ya, tetapi dia sangat sibuk dan kami pikir kamu keliru karena sering menggang-gunya." Anak itu menjawab, "saya hanya menuruti ucapannya dan beliau selalu senang membantu saya."
Tuhan mendorong kita untuk berseru kepadaNya pada waktu kesesakan. Jika kita segera menyerahkan setiap kesulitan kita kepadaNya, Dia akan menolong kita sebelum "benang sutra" kita kusut dan pola hidup kita menyimpang jauh dari kehendakNya.
 

Back to Top


Kejujuran

"Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu."
( Tit. 2:7 )

Tanggal :

29 Oktober 1998

Bacaan :

Yoh. 1:20

Refleksi :

Bagaimana integritas iman kita?

Doakan Bersama :

• Pengertian doa yang benar sesuai dengan Firman Tuhan dan kerinduan berdoa bagi semua orang.

    Kejujuran, adalah unsur utama dalam mencapai kebahagiaan hidup, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. Kejujuran menghasilkan rasa aman dalam hubungan antar manusia.Sebaliknya tanpa kejujuran, hubungan antar manusia menjadi penuh dengan tipu daya, kepalsuan dan kemunafikan. Kejujuran begitu penting, tapi sayang, pada kenyataannya kejujuran menjadi langka dalam kehidupan.
Orang seringkali berdalih bahwa sudah tidak mungkin lagi bisa hidup jujur dalam tatanan masyarakat seperti sekarang ini. Contoh kehidupan Yohanes Pembaptis adalah jawaban atas penyimpangan tersebut. Yohanes adalah seorang hamba Allah yang jelas akan status iman dan panggilan hidupnya. Dengan penuh dedikasi dia mengabdikan dirinya untuk panggilan tersebut, meskipun untuk itu dia telah menempatkan dirinya menjadi musuh masyarakat Yahudi pada waktu itu. Dia sering diinterogasi. Posisi Yohanes begitu terjepit. Satu jawaban yang salah dari dia, dapat menjerat dirinya ke dalam posisi yang sangat berbahaya. Tapi dicatat dalam Alkitab bahwa dia menjawab semua pertanyaan mereka dengan jujur. Dia mengaku dan tidak berdusta.
Dia bisa memberi jawaban yang lebih meringankan resiko yang bisa terjadi, tapi dia tidak melakukan hal itu. Dia tetap dengan integritas imannya.
Dunia membutuhkan orang seperti Yohanes, dunia membutuhkan kesaksian orang-orang Kristen yang memiliki integritas iman seperti Yohanes, yang berani mengambil resiko apapun demi mempertahankan keyakinannya.
 

Back to Top


Paduan Musik Yang Indah

"Ketetapan-ketetapanMu adalah nyanyian mazmur bagiku di rumah yang kudiami sebagai orang asing."
( Maz. 119:54 )

Tanggal :

30 Oktober 1998

Bacaan :

Maz. 119:49-56

Refleksi :

Apa yang Anda rasakan pada waktu Anda menjalani kehidupan keKristenan? Demikian berat dan monotonkah? Mulailah suatu kehidupan yang lain yang dinamis dan ada damai sejahtera bersama Dia!

Doakan Bersama :

• Lembaga-lembaga pendidikan Kristen dan staf pengajar Kristen agar menjadi kesaksian nyata dalam membina kerohanian untuk kiprahnya bagi negara.

    Sejak kecil saya senang mencoba memainkan alat musik, khususnya piano yang hanya tinggal menekan tuts-tutsnya. Saya membaca partitur suatu lagu yang menunjukkan not-not yang harus saya mainkan, kemudian saya mulai menekan tuts yang ada sesuai dengan partitur itu. Setelah itu mulailah keluar alunan suatu lagu yang sesuai dengan yang tertulis.
Orang yang mendengarkan akan tahu lagu itu karena not yang saya mainkan sudah benar, dan tuts yang saya tekan sudah tepat. Saya cukup senang kalau sudah melakukannya, tetapi bagaimanapun saya sadar bahwa saya tidak memainkan suatu paduan musik yang bagus.
Kehidupan Kristen mestinya menghasilkan 'musik' yang indah. Tetapi musik itu tidak akan tercipta bila hanya menjalankan hukum-hukum Kristen sebagai suatu kebiasaan saja. Kita tahu bahwa pergi ke Gereja, memberi persembahan, menghindari pembunuhan, perzinahan, pencurian dan penipuan adalah baik. Kita harus patuh pada Allah meskipun mungkin sesungguhnya kita tidak ingin melakukannya. Tetapi sejalan dengan pertumbuhan kita dalam menghayati kebijaksanaan standar moral Allah, dan dalam kasih kita padaNya, sedikit demi sedikit kita akan mengerti bahwa menjalankan hukumNya membawa kebahagiaan, kedamaian dan kegembiraan. Kita dapat menikmati perasaan yang sama seperti yang dirasakan para pemain musik dalam suatu orkestra sewaktu memainkan simfoni Beethoven. Melakukan kehendak Allah menjadi kesukaan kita seperti kata pemazmur, "Ketetapan-ketetapanMu adalah nyanyian mazmur bagiku di rumah yang kudiami sebagai orang asing." Hidup kita akan menghasilkan 'musik' yang indah.
 

Back to Top


Teladan Yang Sepadan

"Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus."
( I Kor. 11:1 )

Tanggal :

31 Oktober 1998

Bacaan :

I Ptr. 2:21-23

Refleksi :

Sudahkah kita menjadi manusia sebelum kita menjadi sama seperti Kristus?

Doakan Bersama :

• Kebahagiaan yang kita miliki membuat kita tetap bersyukur pada Tuhan dan tetap memiliki kepekaan, kasih, dan empati kepada orang lain.

    Pernahkan Anda mempunyai saudara yang kecewa dengan Pendeta atau warga gereja? Biasanya dengan gampang Anda menasehati "Kalau ke gereja sih jangan lihat manusia, namun lihat saja Tuhan. Jika Anda lihat manusia akan kecewa lagi."
Saya kuatir nasihat itu lahir dari hati yang ingin menghindar dari tanggung jawab manusia untuk menjadi teladan, dalam arti rela menjadi pengikut Kristus sejati. Orang seperti itu biasanya juga sering mengecewakan orang lain. Atau paling tidak cuek terhadap kekecewaan orang lain.
Anda tahu bahwa kadang-kadang orang ingin meniru apa yang dilakukan oleh Kristus, tetapi seandainya seekor monyet dapat memainkan saksofon, monyet itu tidak dengan sendirinya menjadi pemain musik.
Anda tidak dapat meniru Kristus hanya dengan meniru tingkah laku luarNya saja. Anda sebagai orang Kristen harus bisa menjadi Kristus mini baru sesudah itu anda mengetahui tepat apa yang harus anda lakukan dalam situasi tertentu. Dengan mempraktekkan karakter anda dan temperamen yang sepadan dalam Kristus anda akan menjadi seperti Kristus dan orang-orang akan mencontohinya. Tetapi bagaimana kita menjadi seperti Kristus kalau menjadi manusia saja belum? Menjadi manusia, paling tidak mempraktekkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Meniru yang nampak saja tidak menghasilkan apa-apa, bahkan seringkali membuat orang tambah kecewa. Sekarang beranikah kita berucap pada orang lain: ikutlah teladanku, sama seperti aku mengikut teladan Kristus.
 

Back to Top

Webmaster